SOLID STATE FERMENTATION (SSF)

Top PDF SOLID STATE FERMENTATION (SSF):

BIO-DEGRADASI SELULOSA HASIL BIO-PRETREATMENT JERAMI PADI SECARA FERMENTASI PADAT MENGGUNAKAN ISOLAT ACTINOMYCETES AcP-1 DAN AcP-7 (BIODEGRADATION OF CELLULOSE IN SOLID STATE FERMENTATION PRE-TREATED RICE STRAW BY ACTINOMYCETES AcP-1 AND AcP-7 ISOLATE

BIO-DEGRADASI SELULOSA HASIL BIO-PRETREATMENT JERAMI PADI SECARA FERMENTASI PADAT MENGGUNAKAN ISOLAT ACTINOMYCETES AcP-1 DAN AcP-7 (BIODEGRADATION OF CELLULOSE IN SOLID STATE FERMENTATION PRE-TREATED RICE STRAW BY ACTINOMYCETES AcP-1 AND AcP-7 ISOLATE

Fermentasi fase padat atau sering disebut Solid State Fermentation (SSF) pertama kali dikenalkan oleh Takagi et al., (1977), yang telah berhasil mengkombinasikan enzim selulase dan yeast Sacharomyces cerevisiae untuk fermentasi gula menjadi etanol. Fermentasi fase padat dapat didefinisikan sebagai proses fermentasi yang melibatkan zat padat dalam suatu fasa cair (Moo-Young et al., 1983). Proses SSF sebenarnya hampir sama dengan proses hidrolisis dan proses fermentasi, tetapi proses hidrolisis dan fermentasi pada SSF dilakukan dalam satu tempat. Proses SSF membutuhkan bahan mentah alami sebagai sumber karbon dan bahan inert sebagai matriks padatan. Substrat padat (matrik) harus cukup akan kelembaban dan memiliki area permukaan substrat yang lebar.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ENZIM KITINASE DARI ISOLAT ACTINOMYCETES SELAMA PROSES SOLID STATE FERMENTATION KITIN DENGAN METODE SOMOGYI-NELSON

UJI AKTIVITAS ENZIM KITINASE DARI ISOLAT ACTINOMYCETES SELAMA PROSES SOLID STATE FERMENTATION KITIN DENGAN METODE SOMOGYI-NELSON

Enzim kitinase dapat diproduksi oleh mikroorganisme kitinolitik, salah satunya adalah actinomycetes, karena actinomycetes ini mampu untuk mensintesis metabolit senyawa yang memiliki aktivitas biologis dan spora dari actinomycetes sangat esensial untuk biokonversi (Xu et al., 1996). Actinomycetes merupakan mikroorganisme yang paling efisien dalam menggunakan substrat bagi kelangsungan hidupnya. Substrat kitin mudah dihidrolisis oleh actinomycetes menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, selanjutnya karbohidrat ini akan digunakan dalam memproduksi etanol dengan bantuan fermentasi (Samsuri, 2007). Proses hidrolisis dan fermentasi ini dapat dilakukan dalam satu tempat, dimana proses ini disebut sebagai proses fermentasi keadaan padat atau disebut Solid State Fermentation (SSF).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DALAM BENTUK SLURRY MENGGUNAKAN Zymomonas Mobilis DENGAN METODE SOLID STATE FERMENTATION(SSF)

PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DALAM BENTUK SLURRY MENGGUNAKAN Zymomonas Mobilis DENGAN METODE SOLID STATE FERMENTATION(SSF)

telahmemberikankesehatan, rahmatdankarunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Laporan Akhir yang berjudul “Pembuatan Bioetanol dari Limbah Kulit Nanas dalam Bentuk Slurry dengan Menggunakan Zymomonas Mobilis dengan Metode Solid State Fermentation (SSF) ” dengan baik dan tepat pada waktunya.Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW.

12 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ENZIM KITINASE DARI ISOLAT ACTINOMYCETES SELAMA PROSES SOLID STATE FERMENTATION KITIN DENGAN METODE SOMOGYI-NELSON

UJI AKTIVITAS ENZIM KITINASE DARI ISOLAT ACTINOMYCETES SELAMA PROSES SOLID STATE FERMENTATION KITIN DENGAN METODE SOMOGYI-NELSON

Enzim kitinase dapat diproduksi oleh mikroorganisme kitinolitik, salah satunya adalah actinomycetes, karena actinomycetes ini mampu untuk mensintesis metabolit senyawa yang memiliki aktivitas biologis dan spora dari actinomycetes sangat esensial untuk biokonversi (Xu et al., 1996). Actinomycetes merupakan mikroorganisme yang paling efisien dalam menggunakan substrat bagi kelangsungan hidupnya. Substrat kitin mudah dihidrolisis oleh actinomycetes menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, selanjutnya karbohidrat ini akan digunakan dalam memproduksi etanol dengan bantuan fermentasi (Samsuri, 2007). Proses hidrolisis dan fermentasi ini dapat dilakukan dalam satu tempat, dimana proses ini disebut sebagai proses fermentasi keadaan padat atau disebut Solid State Fermentation (SSF).
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

AKTIVITAS KERATINOLITIK Aspergillus niger PADA TEPUNG BULU AYAM MENGGUNAKAN SOLID STATE FERMENTATION (SSF)

AKTIVITAS KERATINOLITIK Aspergillus niger PADA TEPUNG BULU AYAM MENGGUNAKAN SOLID STATE FERMENTATION (SSF)

untuk mendapatkan konsentrasi nutrisi esensial maupun non-esensial dari substrat selama proses fermentasi (Bhargav et al, 2008). Keuntungan utama menggunakan substrat ini adalah bahwa bahan limbah kaya nutrisi dapat dengan mudah didaur ulang sebagai substrat. Dalam teknik fermentasi ini, substrat yang digunakan sangat lambat dan kuat, sehingga substrat yang sama dapat digunakan untuk waktu yang lama dalam proses fermentasi. Oleh karena itu, teknik ini mendukung pengendalian dalam hal pelepasan nutrisi. SSF ini paling cocok untuk teknik fermentasi yang melibatkan jamur dan mikroorganisme yang membutuhkan lingkungan minim kadar air . Namun, tidak dapat digunakan dalam proses fermentasi yang melibatkan organisme yang membutuhkan a w tinggi (aktivitas air), seperti bakteri. (Babu dan
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

INVERTASE DARI Aspergillus niger DENGAN METODE SOLID STATE FERMENTATION DAN APLIKASI DI INDUSTRI: KAJIAN PUSTAKA Invertase of Aspergillus niger With Solid State Fermentation Method And The Application In Industry: A Review

INVERTASE DARI Aspergillus niger DENGAN METODE SOLID STATE FERMENTATION DAN APLIKASI DI INDUSTRI: KAJIAN PUSTAKA Invertase of Aspergillus niger With Solid State Fermentation Method And The Application In Industry: A Review

Invertase merupakan salah satu enzim yang dapat menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Invertase dapat diperoleh dari Aspergillus niger. Aspergillus niger dipilih karena mikroorganisme jenis ini mudah ditumbuhkan, aman untuk penggunaannya, dan aktivitas enzim yang dihasilkan tinggi. Metode fermentasi yang sering digunakan ada dua jenis,Solid State Fermentation (SSF) dan Submarged Fermentation (SmF). SSF jauh lebih unggul dari SmF. Keuntungan dari sisi ekonomi diantaranya adalah medium fermentasi yang lebih murah (berasal dari limbah pertanian), peralatan dan pengaturan operasi sederhana, jumlah produk yang dihasilkan lebih tinggi, kebutuhan energi yang rendah, proses scaling up yang lebih mudah, stabilitas produk yang lebih tinggi dan pengendalian kontaminasi lebih mudah karena rendahnya kadar air saat fermentasi berlangsung. Invertase juga banyak diaplikasikan di industri, terutama industri pangan untuk pembuatan gula invert dan HFS.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DALAM BENTUK SLURRY MENGGUNAKAN Saccharomyces Cereviae DENGAN METODE (SOLID STATE FERMENTATION)SSF

PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DALAM BENTUK SLURRY MENGGUNAKAN Saccharomyces Cereviae DENGAN METODE (SOLID STATE FERMENTATION)SSF

Laporan Akhir dengan judul ” Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Kulit Nanas Dalam Bentuk Slurry Menggunakan Saccharomyces Cereviae dengan Metode SSF ” merupakan salah satu persyaratan untuk memenuhi kurikulum perkuliahan di Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya.

13 Baca lebih lajut

Print this article 156 736 1 PB

Print this article 156 736 1 PB

Indonesian people have local wisdom in processing cassava. Various traditional processing process commonly done by the community is making cassava tape, growol, tiwul, gatot, kabuto, etc. Some of the traditional processing is a fermentation process involving various microbes such as bacteria, yeasts, and molds. One of the local isdo of processi g is gadu ga pohu g processing. Gadu ga pohu g processi g consists of soaking cassava chips followed by solid fermentation (solid state fermentation). This processing produces a white cassava product. Cassava bitter can be processed through gadu ga pohung so it is safe for consumption (Harijono and Wulan, 2008).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

The Production of Tannin Acyl Hydrolase from Aspergillus niger

The Production of Tannin Acyl Hydrolase from Aspergillus niger

Solid medium was found to be better than liquid medium. This could be due to effect of catabolite repression is less significant in solid medium. The present study showed that solid state fermentation can increase tannase activity about 1.5 folds. In addition, tannase production was affected by concentration of inducer in the medium. The highest tannase activity was found in solid state fermentation with tannic acid concentration of 5% (wt/vol). Tannase activity was lower at lower (3%, wt/vol) tannic acid concentration. Similarly, at higher (7%, wt/vol) tannic acid concentration the tannase activity decreased indicating that the optimum tannic acid concentration was 5% (wt/vol). Excessive tannic acid was reported to act as repressor and prevents synthesis mRNA. In addition, the increased of tannic acid causes an increased of heat build up and reduced aeration which in turn decreased productivity of tannase (Banerjee et al. 2005). Similar results were reported previously by Lekha and Lonsane (1994) and Aguilar (2001).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Tropical wood-decaying fungi as a means of conversion of agricultural plant residues: Influence of the incubation temperature on the activities of ligninolytic enzymes

Tropical wood-decaying fungi as a means of conversion of agricultural plant residues: Influence of the incubation temperature on the activities of ligninolytic enzymes

ligninolytic microorganisms in a solid state fermentation process may help to overcome this problem. The aim of this work was to determine the influence of the incubation temperature on the production of extracellular ligninolytic enzymes and the degradation of lignocellulose by selected tropical fungi. Four wood-inhabiting fungi, Auricularia sp., Coriolus versicolor, Lentinus edodes and Polyporus sp., were grown on wheat straw for five weeks at 18°C, 25°C or 30°C, respectively. The activities of extracellular

6 Baca lebih lajut

PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS SAGU (Metroxylon Sp) MELALUI PROSES PRETREATMENT DAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS SAGU (Metroxylon Sp) MELALUI PROSES PRETREATMENT DAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

enzyme activity from Trichoderma viride strain T1 sk by 0.1% CMC is 0,1144 unit and the highest glucose yield is 921,25 µg/mL from 0,9 grams substrate of sago waste while the optimum time for the saccharification process obtained in 75 minutes. Ethanol content was analyzed by GC/MS resulted 12.99% (% area) or equal with 0,38 mL ethanol yield for 168 hours of fermentation .

Baca lebih lajut

Characterization of Aspergillus Niger 65i6 lipase from solid-state fermentation using Jatropha seed cake medium | Hidayat | Indonesian Journal of Biotechnology 24195 48078 1 SM

Characterization of Aspergillus Niger 65i6 lipase from solid-state fermentation using Jatropha seed cake medium | Hidayat | Indonesian Journal of Biotechnology 24195 48078 1 SM

Jatropha curcas seed cake contains a high amount of protein, and consequently has very high potential as a medium for lipase production. The objective of this research was to characterize lipase from Aspergillus niger 6516, which was produced by solid-state fermentation on Jatropha curcas seed cake as the medium. The effects of pH and temperature on enzyme activity were evaluated, along with substrate speciicity and enzyme stability. Fermentation was performed at a water concentration of 63% and temperature of 30 °C for 7 days. The results showed that the optimum pH and temperature for Aspergillus niger 6516 lipase activities were 8.0 and 40 °C, respectively. The lipase had the substrate speciicity to hydrolyze long-chain fatty acids and was stable in polar organic solvents. The lipase had a molecular weight, Km and v max about 19 kDa, 0.27 µmol/ml, and 52.63 µmol/ml/min, respectively. The results also suggested that the produced lipase from Aspergillus niger 6516 was an alkaline lipase. Based on these results, we conclude that Jatropha seed cake is a suitable medium for lipase production.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS SAGU (Metroxylon sp) MELALUI PROSES PRETREATMENT DAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS SAGU (Metroxylon sp) MELALUI PROSES PRETREATMENT DAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

Sago waste is one of biomass lignocellulose that potential to produce bioethanol. Lignocellulose material consist of three major component such as cellulose, hemicellulose and lignin. The available of lignin become inhibitor for enzymatic process it must removed by pretreatment. Research for bioethanol production from sago waste through pretreatment process by using a variation of alkaline solution; 1% NaOH, 8% NH4OH, 1% NaOH + 4% NH4OH and 1% NaOH + 8% NH4OH with a ratio solid to liquid 1:10 (w/v) after that, followed by SSF method involved two kind of fungi like Trichoderma viride strain T1 sk for saccharification and Saccharomyces cerevisiae for fermentation process. The optimum conditions for the reduction of samples obtained after pretreatment at concentration of 1% NaOH + 8% NH4OH at 49,3017% with a long incubation period of 3 days with a temperature 50 0 C. Result of determination
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Artikel Abdullah UNDIP 8

Artikel Abdullah UNDIP 8

The liquid and solid pineapple wastes contain mainly sucrose, glucose, fructose and other nutrients. It therefore can potentially be used as carbon source for fermentation to produce organic acid. Recently, lactic acid has been considered to be an important raw material for production of biodegradable lactate polymer. The experiments were carried out in batch fermentation using the liquid and solid pineapple wastes to produce lactic acid. The anaerobic fermentation of lactic acid were performed at 40 o C, pH 6, 5% inocolum and 50 rpm. Initially results show that the liquid pineapple waste by using Lactobacillus delbrueckii can be used as carbon source for lactic acid fermentation. The production of lactic acid are found to be 79 % yield, while only 56% yield was produced by using solid waste.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

using steam explosion and alkaline peroxide (Cara, Ruiz, Ballesteros, Negro, & Castro, 2006), ozonolysis pretreatment (García-Cubero, González-Benito, Indacoechea, Coca, & Silvia, 2009; Lee, Jameel, & Venditti, 2010); alkaline pretreatment (Mcintosh & Vancov, 2010; Harun, Jason, Cherrington, & Danquah, 2010); and hydrothermal pretreatment (Thomsen, Thygese, & Thomsen, 2008). These technologies are usually implemented under severe reaction conditions with a large capital investment, high processing costs and great investment risks (Li, Kim, Jiang, Kang, & Chang, 2009). Some of these methods produce strong acidic, toxic residues in the treated lignocellulosic and inhibit compounds for saccharification and subsequent ethanol fermentation. Moreover, the use of strong acids has significant environmental risks. Meanwhile, alkaline pretreatment was shown to be more effective on agricultural residues than on wood materials (Taherzadeh & Karimi, 2008). Ozonolysis can effectively degrade lignin and part of hemicellulose. The pretreatment is usually carried out at room temperature, and does not lead to inhibitory compounds (Taherzadeh & Karimi, 2008). Based on the advantages of alkaline and ozonolysis pretreatment, this research studied the combination of alkaline-ozonolysis pretreatment to remove the lignin content in the rice straw. Pretreatment is the most expensive process in lignocellulosic biomass to be converted to fuels, but it has the huge potential for improving the efficiency and reducing of the costs through further research and development.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pokok Bahasan [Teknologi Solid State]

Pokok Bahasan [Teknologi Solid State]

• Mechanical waves are waves which propagate through a material medium (solid, liquid, or gas) at a wave speed which depends on the elastic and inertial properties of that medium. There are two basic types of wave motion for mechanical waves: longitudinal waves and transverse waves.

Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN NaOH-NH4OH UNTUK PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS TEBU DENGAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

PENGARUH PENAMBAHAN NaOH-NH4OH UNTUK PRODUKSI BIOETANOL DARI AMPAS TEBU DENGAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION FERMENTATION (SSF).

sakarifikasi ampas tebu dengan menggunakan ekstrak kasar enzim selulase dari Trichoderma viride strain T1 sk terhadap substrat murni CMC menunjukkan aktivitas enzim sebesar 0,188 unit. Sakarifikasi juga dilakukan terhadap variasi jumlah substrat ampas tebu 0,1 g s/d 1 g dan variasi lama sakarifikasi dari 30 s/d 120 menit. Konsentrasi glukosa maksimum adalah 1528,57 µg/mL yang diperoleh pada 0,6 g substrat ampas tebu dengan lama sakarifikasi 60 menit. Bioetanol yang diperoleh dengan metode SSF selama 84 jam dengan 30 mL inokulum Saccharomyces cerevisiae dan 10 mL ekstrak kasar enzim selulase ditentukan dengan menggunakan kromatografi gas, adalah sebesar 0,4278 mL dengan persen area 14,26%.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMBUATAN BIOETANOL DARI JERAMI PADI DENGAN METODE OZONOLISIS – SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF)

PEMBUATAN BIOETANOL DARI JERAMI PADI DENGAN METODE OZONOLISIS – SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF)

menghasilkan enzim yang sesuai dengan jenis nutrien yang ada. Parameter lain yang mempengaruhi waktu fase lag adalah banyaknya inokulum. Apabila sel yang jumlah sedikit ditumbuhkan dalam media yang volumenya besar, sel akan mengalami fase lag yang lama. Untuk memproduksi biomasa skala besar tujuan yang akan dicapai adalah memperpendek fase lag oleh karena itu untuk memporoduksi sel dalam skala besar, diperlukan inokulasi yang relatif besar. Semakin besar konsentrasi ragi maka nutrient yang diperlukan oleh saccharomyces sereviceae untuk melewati fase lag semakin menurun dan akhirnya saccharomyces sereviceae mampu dengan cepat memproduksi bioetanol dari gula dan menyebabkan pembentukan kadar bioetanol yang semakin banyak karena pemanfaatan glukosa yang optimal. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa kondisi terbaik dari penelitian ini yaitu pada saat waktu SSF 7 hari dengan konsentrasi ragi 40% yang menghasilkan bioetanol sebanyak 5,65336 %.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENAMBAHAN NITROGEN PADA PRODUKSI BIOETANOL DENGAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) EFFECT of NITROGEN ADDITION IN BIOETHANOL PRODUCTION BY USING A SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION and FERMENTATION (SSF) METHOD

PENAMBAHAN NITROGEN PADA PRODUKSI BIOETANOL DENGAN METODE SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF) EFFECT of NITROGEN ADDITION IN BIOETHANOL PRODUCTION BY USING A SIMULTANEOUS SACCHARIFICATION and FERMENTATION (SSF) METHOD

Proses SSF yang menggabungkan proses hidrolisis dan fermentasi memberikan pengaruh terhadap gula reduksi yang dihasilkan. Satu diantara beberapa keuntungan dari proses SSF adalah hidrolisis dan fermentasi dilakukan dalam satu wadah atau reaktor sehingga dapat berlangsung secara efisien. Hidrolisis bertujuan untuk memecah polisakarida menjadi monosakarida sehingga dapat langsung difermentasi oleh yeast. Molase memiliki kandungan gula yang besar dalam bentuk sukrosa dan gula reduksi. Molase juga berfungsi sebagai substrat sekaligus nutrisi pertumbuhan mikroorganisme karena kandungan karbonnya (Sarris dkk., 2014). Sukrosa tidak dapat dengan mudah dikonversi menjadi bioetanol oleh mikroorganisme sehingga diperlukan hidrolisis. Sukrosa yang tinggi pada molase harus dihidrolisis menjadi gula reduksi berupa glukosa dan fruktosa, agar memudahkan proses konversi menjadi bioetanol.Hidrolisis secara enzimatik memanfaatkan enzim penghidrolisis sukrosa, yaitu invertase atau bisa juga langsung menggunakan mikroba penghasil invertase, misalnya A. Niger (Ghorbani dkk., 2011).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PRODUKSI BIOETANOL DARI SAMPAH DEDAUNAN SEKITAR KAMPUS UNAND DENGAN METODA SSF (SIMULTANEOUS SACHARIFICATION FERMENTATION).

PRODUKSI BIOETANOL DARI SAMPAH DEDAUNAN SEKITAR KAMPUS UNAND DENGAN METODA SSF (SIMULTANEOUS SACHARIFICATION FERMENTATION).

glucose concentration 933,75 µg/mL with immersion time for 72 hours on 50 0 C. After being pretreatmented, sample of 0,4 g waste leaves produce the highest glucose concentration. Measurement by GC/MS shows ethanol concentration 62,41% on fermentation time 96 hours with volume of ethanol 2,45 mL for 0,4 g sample.

Baca lebih lajut

Show all 5526 documents...