Sosial Budaya Masyarakat Madura

Top PDF Sosial Budaya Masyarakat Madura:

GAMBARAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MADURA PADA ANTOLOGI CERPEN KARAPAN LAUT KARYA MAHWI AIR TAWAR: TINJAUAN SOSIOLOGI KARYA

GAMBARAN KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MADURA PADA ANTOLOGI CERPEN KARAPAN LAUT KARYA MAHWI AIR TAWAR: TINJAUAN SOSIOLOGI KARYA

Pandangan hidup masyarakat Madura tidak akan bisa lepas dari pengaruh agama Islam yang dianutnya. Hampir seluruh masyarakat Madura menganut agama Islam. Ketaatan terhadap agama Islam merupakan penjatidirian yang penting bagi masyarakat Madura. Hal ini juga terlihat pada pakaian-pakaian adat mereka, yakni samper (kain panjang) kebaya dan burgo'(kerudung). Pernyataan ini juga diperkuat oleh Amin Rais (dalam Wiyata, 2013:4) mengatakan " Sejak masa kecil sudah diceritakan orang padanya bahwa tidak orang Madura yang baik saja yang bakal sangat marah jika dikatakan tidak muslim, sebab yang jahatpun akan bersikap serupa". Pernyataan tentang keislaman Madura juga diungkapkan oleh De Jounge (1989: 240) yang menyatakan “Lima kali sehari bisa melihat dan mendengar orang-orang mukmin itu melakukan salat dengan dorongan dari azan, yang diserukan denga n pengeras suara ke seluruh kampung.” Kutipan tersebut merupakan penggambaran yang terjadi di Madura yang taat menjalankan sholat lima waktu yang merupakan kewajiban pemeluk agama Islam.
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Gambaran Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Madura pada Antologi Cerpen Karapan Laut Karya Mahwi Air Tawar

Gambaran Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Madura pada Antologi Cerpen Karapan Laut Karya Mahwi Air Tawar

Berdagang juga merupakan mata pencaharian masyarakat Madura. Berdagang bisa dilakukan oleh laki-laki atau wanita baik di dalam pulau Madura maupun di rantau. Pedagang Madura terkenal ulet. Hal ini senada dengan pernyataan Rifai (2007:82) " Sebagai pedagang mereka terkenal ulet, yang mau memperdagangkan apa saja mulai dari besi tua sampai baju bekas. Penjual sate Madura, soto Madura, serta bubur kacang hijau dan ketan hitam Madura tersebar luas di kota-kota Indonesia. ” Pernyataan mengenai mata pencarian orang Madura sebagai pedagang juga diungkapkan De Jounge (1989: 132) yang mengatakan “Untuk pemeliharaan hidup keluarga, sepenuhnya atau sebagian terg antung pada hasil perdagangan. Pria dan wanita , muda- mudi maupun yang tua, berdagang.” Pernyataan di atas menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya masyarakat Madura melakukan kegiatan perdagangan bahkan kegiatan berdagang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Perancangan Buku Fotografi Budaya Adat Pengantin Madura | Tjahjono | Jurnal DKV Adiwarna 623 1119 1 SM

Perancangan Buku Fotografi Budaya Adat Pengantin Madura | Tjahjono | Jurnal DKV Adiwarna 623 1119 1 SM

Perkawinan merupakan upacara paling sakral dalam perjalanan kehidupan manusia. Suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beberapa suku bangsa, agama, adat istiadat yang berbeda, dengan latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah mempunyai tata cara tersendiri tak terkecuali dalam adat prosesi perkawinannya, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Madura pada umumnya. Pada upacara perkawinan biasanya kedua mempelai dirias berbusana secara khusus. Berbeda apa yang mereka pakai pada pesta-pesta resepsi sehari-hari. Tata rias dan busana pengantin menjadi pusat perhatian masyarakat dan khususnya menarik perhatian para tamu yang hadir dalam pesta itu. Oleh karena itu, hal yang demikian tersebut ternyata juga dilakukan oleh suku bangsa Madura pada umumnya dan khususnya Desa Kwanyar, Bangkalan dan kota Sumenep.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Menelusuri Akar Konflik Antaretnik | Arkanudin | MediaTor (Jurnal Komunikasi)

Menelusuri Akar Konflik Antaretnik | Arkanudin | MediaTor (Jurnal Komunikasi)

Berdasarkan faktor-faktor sebagaimana dikemukakan pada tabel 1, akar terjadinya konflik antara etnik Dayak dan Madura di Kalimantan Barat adalah masalah perbedaan budaya. Kluckhohn dan Strodtbec (1961), Koentjaraningrat (1985), dan Suparlan (1999) mengemukakan bahwa faktor perbedaan budaya yang tercermin dalam perbedaan sistem nilai budaya dan sistem orientasi budaya suatu masyarakat potensial menimbulkan konflik sosial. Perbedaan sistem nilai dan orientasi budaya inilah yang selanjutnya muncul dalam setiap sikap, mental, perilaku, dan perbuatan anggota atau masyarakat etnik tertentu yang bertentang dengan kelompok etnik lain. Konflik budaya ini akan menjadi hal yang sangat menakutkan karena dapat menjurus pada tindak kekerasan yang tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga harta. Menurut Crawford (1998), hal ini terjadi dikarenakan institusi-institusi yang bertugas melakukan kontrol, seperti institusi hukum, militer, serta kepolisian tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi potensi-potensi yang cenderung mendiskreditkan etnis atau kultur tertentu, sehingga potensi tersebut berkembang menjadi konflik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kajian desain lanskap permukiman tradisional Madura

Kajian desain lanskap permukiman tradisional Madura

Permukiman terbentuk karena adanya proses pembentukan hunian yang dipengaruhi oleh aktifitas manusia dan setting lanskap (Rapoport 1993). Permukiman secara fisik tidak terbatas pada tempat tinggal saja, tetapi merupakan satu kesatuan sarana dan prasarana lingkungan terstruktur. Sedangkan permukiman tradisional didefinisikan sebagai tempat yang masih memegang nilai- nilai adat dan budaya tertentu (Sasongko 2005). Menurut Habraken dalam Fauzia (2006), permukiman tradisional adalah suatu produk komunitas yang merupakan hasil dari kesepakatan sosial sehingga setiap komunitas akan memiliki bentuk permukiman yang berbeda-beda satu sama lain. Oleh sebab itu permukiman tradisional dapat menjadi salah satu pembentuk identitas suatu masyarakat. Adanya identitas dalam suatu masyarakat menunjukkan adanya fungsi keteritorialan yang memungkinkan masyarakat mengontrol lingkungannya. Permukiman merupakan salah satu unit keteritorialan yang dapat memberikan keamanan, identitas, dan stimulasi bagi penghuninya dalam bentuk home base behaviour (Porteous 1977).
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

BUDAYA  asing terhadap budaya in (16)

BUDAYA asing terhadap budaya in (16)

Pada suku Madura, tindakan kekerasan mendapat pembenaran secara budaya dan bahkan mendapat persetujuan sosial jika tindakan itu bertujuan mempertahankan harga diri dan kehormatan, Di era modernisasi seperti sekarang "Carok" digunakan sebagai jalan terakhir yang di tempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah. Carok biasanya terjadi jika menyangkut masalahmasalah yang menyangkut kehormatan/harga diri bagi orang Madura (sebagian besar karena masalah perselingkuhan dan harkat martabat/kehormatan keluarga).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HAJI MADURA (KAJIAN KONSTRUKSI SOSIAL BUDAYA MENGENAI HAJI PADA MASYARAKAT MADURA DI KELURAHAN SIDOTOPO, KECAMATAN SEMAMPIR, KOTA SURABAYA) Repository - UNAIR REPOSITORY

HAJI MADURA (KAJIAN KONSTRUKSI SOSIAL BUDAYA MENGENAI HAJI PADA MASYARAKAT MADURA DI KELURAHAN SIDOTOPO, KECAMATAN SEMAMPIR, KOTA SURABAYA) Repository - UNAIR REPOSITORY

Islam di Indonesia merupakan agama dengan pemeluk terbanyak yang tersebar dari Sabang hingga Merauke yang persentasenya mencapai 87,18% dengan jumlah 207.176.172 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010). Dengan jumlah sebesar itu maka agama Islam di Indonesia menjadi agama mayoritas dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Dari berbagai provinsi di Indonesia, provinsi yang berada di pulau jawa menempati tiga besar dalam jumlah masyarakat yang memeluk agama Islam yaitu Jawa Barat sebagai peringkat pertama terbanyak dengan total 41.763.592 jiwa, lalu Jawa Timur dengan 36.113.396 jiwa, dan kemudian Jawa Tengah dengan 31.328.341 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010). Dari ketiga provinsi yang menduduki peringkat teratas dengan pemeluk Islam terbanyak di Indonesia, Jawa Timur memiliki pulau dengan hampir seluruh masyarakatnya memeluk agama Islam, pulau tersebut adalah pulau Madura. Menurut Rifai
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TRADISI OTO’-OTO’; INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT URBAN MADURA DI SURAB

TRADISI OTO’-OTO’; INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT URBAN MADURA DI SURAB

Indonesia adalah bangsa majemuk, ditandai oleh keanekaragaman suku bangsa Indonesia. Masyarakat di masing-masing tempat atau suku memiliki tradisi yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi tertentu dalam masyarakat berdasarkan kesadaran kolektif yang timbul dalam pikirannya. Perbedaan itu disebabkan oleh perbedaan sejarah perkembangan kebudayaan masing-masing dan oleh adaptasi terhadap lingkungannya. 1 Perbedaan tradisi budaya antar etnis dapat dibedakan atas dua macam, pertama, dilihat dari tanda atau gejala yang tampak, bentuk budaya khas yang menentukan identitas seseorang atau kelompok, misalnya bentuk pakaian, bahasa, gaya hidup dan lain-lain, kedua, nilai-nilai dasar, misalnya standar moral yang digunakan untuk menilai perilaku seseorang. 2 Kelompok etnis menurut Fredrik Barth merupakan kelompok masyarakat yang secara biologis mampu berkembang dan bertahan, mempunyai nilai-nilai yang sama dan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri, dan menentukan ciri kelompoknya sendiri yang berbeda dengan kelompok lainnya. 3
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mobilitas Penduduk 1. Pengertian Mobilitas penduduk - Eka Puji Lestari Bab II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mobilitas Penduduk 1. Pengertian Mobilitas penduduk - Eka Puji Lestari Bab II

Menurut rumusan Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial pasal 2 ayat 1 kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban sesuai dengan pancasila.Kesejahteraan menggambarkan situasi kerja yang menunjukan kesuksesan, kemakmuran, dan meliputi juga kebahagiaan karena terdapatnya nasib yang baik.Dengan demikian sejahtera adalah kehidupan yang mendapat limpahan nikmat Allah yang bersifat materill, sehingga terpenuhinya kebutuhan jasmani (Solih, 1991:14).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

aRTIKEL Islam dan Budaya Madura

aRTIKEL Islam dan Budaya Madura

Astro (2006: 1) mengemukakan contoh dalam sebuah artikel tentang stereotip kelompok etnik manusia Madura oleh komunitas etnik lain, yaitu: berkulit hitam legam, berpostur tubuh tinggi besar, berkumis lebat, dan berbusana garis selang-seling merah- hitam yang dibalut oleh baju dan celana longgar serba hitam, serta menakutkan. Pencitraan kurang tepat lainnya, bahwa orang Madura itu memiliki sosok yang angker, tidak kenal sopan santun, kasar, beringas, dan mudah membunuh. Pelabelan demikian mengjadi hilang atau berkurang jika realitas budaya yang dijumpainya tidak sedikit pun menggambarkan persepsi sebagaimana yang telah tertanam-kuat dalam pikirannya. Untuk memberi pemahaman yang relatif efektif tentang gambaran nyata, utuh, dan lengkap tentang bagaimana sesungguhnya sosok etnik Madura dengan segala ─ kekurangan dan kelebihannya dapat dilakukan upaya yang memungkinkan. Di antara ─ upaya itu adalah ta’aruf (saling mengenal atau memperkenalkan jatidiri etnografi masing-masing) dalam segala jenis dan bentuknya. pengenalan kulturan demikian diharapkan mampu menghilangkan sekurang-kurangnya mereduksi kesan dan ─ ─ pencitraan subjektif atas dasar persepsi sepihak yang tertanam begitu kuat dalam pikiran kelompok-kelompok etnik masing-masing.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Madura Masyarakat Budaya Media dan Polit

Madura Masyarakat Budaya Media dan Polit

Kerasnya perempuan Madura dalam bekerja juga tergambar jelas dari beberapa perempuan yang menjadi pedagang mljhe (sebutan untuk para perempuan Madura yang berprofesi sebagai penjual sayur keliling) yang menjajakan sayur dari rumah ke rumah dengan menyunggi dagangannya dan berjalan kaki. Bahkan tidak saja di Madura, di beberapa tempat dipulau jawa –menurut hasil pengamatan penulis-, profesi mljhe banyak djalankan oleh perempuan Madura. Pekerjaan mereka dimulai sejak tengah malam, saat mereka berangkat ke pasar untuk akola’an sayur yang akan mereka jual. Setelah subuh mereka mulai berkeliling kampung dengan berjalan kaki. Para mljhe ini akan pulang ke rumahnya setalah dagangannya habis, sekitar jam 09.00 WIB. Tidak berhenti disitu saja, di rumahpun, pekerjaan rumah tangga sudah menunggu. Selain mljhe, pemandangan kerja keras perempuan Madura juga akan banyak kita temui di kapal Ferry dalam penyebrangan di selat Madura. Dari menjual nasi, jajanan pasar, sampai kopi, sebagian besar penjualnya adalah perempuan Madura. Inilah abantal ombak asapo’ angin yang sesungguhnya. Perempuan-perempuan itu begitu pemberani menghadapi semua tantangan dengan segala kemungkinan bahaya yang mungkin akan mereka temui diatas kapal.
Baca lebih lanjut

223 Baca lebih lajut

BAB 16. PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DI ERA GLOBAL

BAB 16. PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DI ERA GLOBAL

PERILAKU MASYARAKAT DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DI ERA GLOBAL  GLOBALISASI YANG MEMBAWA UNSUR ATAU BUDAYA BARU DALAM SUATU MASYARAKAT , MENYEBABKAN MASYARAKAT ADA YANG MENERIMA D[r]

16 Baca lebih lajut

Bahan Ajar PKn Powerpoint SMA kelas X, XI, XII 23 GLOBALISASI

Bahan Ajar PKn Powerpoint SMA kelas X, XI, XII 23 GLOBALISASI

Bidang Sosial-Budaya: Bidang Sosial-Budaya:  Masuknya pengaruh kebudayaan asingMasuknya pengaruh kebudayaan asing  Perubahan perilaku masyarakat Perubahan perilaku masyarakat  Peni[r]

13 Baca lebih lajut

GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

Ada empat pendekatan pokok untuk mengurai keganjilan-kegan- jilan G-30-S dan menetapkan semacam koherensi terhadapnya. Menurut penjelasan pihak militer Indonesia, sejak hari-hari pertama Oktober sampai sekarang, G-30-S merupakan siasat PKI sebagai sebuah institusi untuk merebut kekuasaan negara. Gerakan ini bukan sekadar sebuah pemberontakan atau kup, tapi awalan revolusi sosial secara menyelu- ruh untuk melawan semua kekuatan nonkomunis. Dua ilmuwan dari Cornell University, Anderson dan McVey, dalam analisis mereka pada Januari 1966, mengemukakan pembacaan alternatif terhadap G-30-S. Mereka menggarisbawahi pernyataan G-30-S sendiri, yaitu sebagai putsch intern Angkatan Darat yang dilakukan oleh perwira-perwira bawahan. Pendekatan ketiga, yang dikemukakan ilmuwan politik Harold Crouch, bermaksud membuktikan bahwa pada hakikatnya G-30-S merupakan kegiatan para perwira yang tidak puas tapi PKI juga memainkan peran pendukung yang kuat. Pendekatan keempat dipelopori seorang sosiolog Belanda, W.F. Wertheim, mengemukakan hipotesis bahwa Suharto dan para jenderal Angkatan Darat antikomunis mengorganisasikan G-30-S melalui agen ganda (khususnya Sjam) agar dapat menciptakan dalih untuk menyerang PKI dan menggulingkan Sukarno. Izinkanlah saya mengurai- kan keempat pendekatan tersebut secara rinci satu demi satu. 1
Baca lebih lanjut

420 Baca lebih lajut

Implementasi Nilai-nilai Demokrasi Pasca ReformasiI Dalam Pemikiran Amien Rais

Implementasi Nilai-nilai Demokrasi Pasca ReformasiI Dalam Pemikiran Amien Rais

7. Rekan-rekan di KAMMI Komisariat Sosial Universitas Lampung; Siska, Reni, Rani, Meta, Ayu, Caca, Mida, Estin, Balqis, Yuni, Irma, dan seluruh rekan-rekan baik akhwat maupun ikhwan yang telah memberikan keteladanan dan bimbingan bagi kemantapan aqidah dan perbaikan akhlak penulis hingga dapat mengerti bagaimana sesungguhnya Islam secara kaffah.

15 Baca lebih lajut

Ekspansi Ge­rakan Islam Transnasio­nal di Indo­ne­sia

Ekspansi Ge­rakan Islam Transnasio­nal di Indo­ne­sia

Gagasan ne­gara bangsa ini adalah buah dari pahit ge­tir pe­nga- laman se­jarah Nusantara se­ndiri. Pada satu sisi, se­jarah panjang Nusantara yang pe­rnah me­lahirkan dan me­ngalami pe­radaban- pe­radaban be­sar Hindu, Budha, dan Islam se­lama masa ke­rajaan Sriwijaya, Saile­ndra, Mataram I, Ke­diri, Singo­sari, Majapahit, De­- mak, Ace­h, Makasar, Go­a, Mataram II, dan lain-lain te­lah me­m- pe­rkuat ke­sadaran te­ntang siginifikansi me­le­starikan ke­kayaan dan ke­ragaman budaya dan tradisi bangsa. Se­me­ntara pada sisi yang lain, dialo­g te­rus-me­ne­rus antara Islam se­bagai se­pe­rangkat ajaran agama de­ngan nasio­nalisme­ yang be­rakar kuat dalam pe­ngalaman bangsa Indo­ne­sia, te­lah me­ne­gaskan ke­sadaran bahwa ne­gara bang- sa yang me­ngakui dan me­lindungi be­ragam ke­yakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indo­ne­sia me­rupakan pilihan te­pat bagi bangunan ke­hidupan be­rbangsa dan be­rne­gara. Pe­patah Mpu Tantular, ajar- an dan ge­rakan Sunan Kalijo­go­, se­rta ke­te­ladanan lain se­macam- nya, de­ngan te­pat me­ngungkapkan ke­sadaran spiritual yang me­n- jadi landasan ko­ko­h Indo­ne­sia mo­de­rn dan me­lindunginya dari pe­rpe­cahan se­jak pro­klamasi ke­me­rde­kaan pada tahun 1945.
Baca lebih lanjut

324 Baca lebih lajut

Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

auliyaaurrahman dengan auliyaausysyaithan tentang masalah bangkai dan pengharamannya, dimana orang-orang musyrik berusaha meyakinkan kaum muslimin bahwa tidak ada perbedaan antara kambi[r]

72 Baca lebih lajut

Arti, ragam jenis, dan sebab akibatnya

Arti, ragam jenis, dan sebab akibatnya

Begitu juga tinggal bersama menjadi tabu bagi sebagian budaya tapi menjadi budaya di beberapa negara. Misalnya saja, di Inggris, adalah hal biasa tinggal bersama kekasih tanpa ada ikatan pernikahan. Jika Anda penggemar sepak bola, Anda pasti sering mendengar pemain-pemain bola yang baru menikah setelah bertahun-tahun hidup bersama dan bahkan memiliki anak. Tapi tidak di Yogyakarta. Kalau berani melakukannya, bakal di grebeg habis. Kalau cuma diusir masih mendingan, tidak jarang sampai dipukuli karena dipandang sebagai noda. Mereka yang tetap nekad tinggal bersama akan membekali diri dengan surat nikah palsu.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

DESAIN BUKU AJAR BAHASA MADURA BERBASIS BUDAYA: Sebagai Upaya Pemertahanan Bahasa dan Budaya Madura

DESAIN BUKU AJAR BAHASA MADURA BERBASIS BUDAYA: Sebagai Upaya Pemertahanan Bahasa dan Budaya Madura

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan Kontrastif. Metode kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan sistem bahasa Madura yang data-datanya akan diperoleh dari hasil observasi partisipatif dan wawancara.

7 Baca lebih lajut

Dampak Digital Media Terhadap Budaya Sos

Dampak Digital Media Terhadap Budaya Sos

Selain itu juga kebijakan pemerintah tetap memegang kuasa tertinggi dalam suatu pembentukan dan perkembangan moral bangsa. Bukan dengan menolak secara keras perkembangan dan penggunanaan media massa. Karena itu merupakan hal yang tidak mungkin terjadi di masa sekarang ini. Namun dengan adanya pengawasan-pengawasan atas apa yang disajikan media massa baik dari dalam negri maupun dari luar. Walaupun pada hakikatnya, itu semua kembali kepada sang pengguna media massa tersebut. selain berdampak pada perubahan sosia budaya tetapi digital media juga dapat memiliki peranan dalam mempertahankan budaya lokal INDONESIA.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...