SPASIAL HUJAN BULANAN

Top PDF SPASIAL HUJAN BULANAN:

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul : Aplikasi Statistik (ESDA) untuk Analisis Variabilitas Spasial Hujan Bulanan di Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

APLIKASI ESDA UNTUK STUDI VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

APLIKASI ESDA UNTUK STUDI VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

A rtik el memapark an variabilitas spasial hujan-bulanan di Jawa Timur. Data hujan bulanan diperoleh dari 943 lok asi stasiun hujan yang tersebar merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. A nalisa spasial dilak uk an menggunak an tool E SDA (E xploratory Spatial Data A nalysis) yang ada pada A rcGIS Geostatistical A nalyst. Tool yang digunak an mencak up: Histogram, V oronoi Map, QQ-Plot dan Trend A nalysis. Hasil analisa menunjuk k an histogram dan normal QQPlot untuk hujan bulanan relatif condong k e k anan dibandingk an dengan distribusi normal. Nilai statistik hujan bulanan yang diperoleh, minimal = 54 mm/ bulan, mak simal = 386 mm/ bulan, rerata dari seluruh stasiun untuk semua periode = 155,5 mm/ bulan, dan nilai median = 150 mm/ bulan. Histogram juga menampilk an nilai standar deviasi = 44,2; k oefisien sk ewness = 0,95; dan k oefisien curtosis sebesar (5,09). Selanjutnya, peta hujan bulanan diproduk si dengan menginterpolasi data hujan tersebut menggunak an metode interpolasi IDW. Penelitian menunjuk k an bahwa aplik asi: histogram, V oronoi Map, QQPlot dan interpolasi IDW dapat menggambark an variabilitas spasial hujan pada suatu wilayah lebih detail.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Tertulis dengan judul : Karakteristik Spasial Hujan Bulanan Pada musim Kemarau Dan Musim Penghujan di Jawa Timur . Karya Ilmiah Tertulis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.

17 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Tertulis dengan judul : Karakteristik Spasial Hujan Bulanan Pada musim Kemarau Dan Musim Penghujan di Jawa Timur . Karya Ilmiah Tertulis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.

17 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

KARAKTERISTIK SPASIAL HUJAN BULANAN PADA MUSIM KEMARAU DAN MUSIM PENGHUJAN DI JAWA TIMUR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, karunia dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Tertulis dengan judul : Karakteristik Spasial Hujan Bulanan Pada musim Kemarau Dan Musim Penghujan di Jawa Timur . Karya Ilmiah Tertulis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember.

17 Baca lebih lajut

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul : Aplikasi Statistik (ESDA) untuk Analisis Variabilitas Spasial Hujan Bulanan di Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

APLIKASI STATISTIK (ESDA) UNTUK ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul : Aplikasi Statistik (ESDA) untuk Analisis Variabilitas Spasial Hujan Bulanan di Jawa Timur adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

APLIKASI ESDA UNTUK STUDI VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

APLIKASI ESDA UNTUK STUDI VARIABILITAS SPASIAL HUJAN BULANAN DI JAWA TIMUR

A rtik el memapark an variabilitas spasial hujan-bulanan di Jawa Timur. Data hujan bulanan diperoleh dari 943 lok asi stasiun hujan yang tersebar merata di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. A nalisa spasial dilak uk an menggunak an tool E SDA (E xploratory Spatial Data A nalysis) yang ada pada A rcGIS Geostatistical A nalyst. Tool yang digunak an mencak up: Histogram, V oronoi Map, QQ-Plot dan Trend A nalysis. Hasil analisa menunjuk k an histogram dan normal QQPlot untuk hujan bulanan relatif condong k e k anan dibandingk an dengan distribusi normal. Nilai statistik hujan bulanan yang diperoleh, minimal = 54 mm/ bulan, mak simal = 386 mm/ bulan, rerata dari seluruh stasiun untuk semua periode = 155,5 mm/ bulan, dan nilai median = 150 mm/ bulan. Histogram juga menampilk an nilai standar deviasi = 44,2; k oefisien sk ewness = 0,95; dan k oefisien curtosis sebesar (5,09). Selanjutnya, peta hujan bulanan diproduk si dengan menginterpolasi data hujan tersebut menggunak an metode interpolasi IDW. Penelitian menunjuk k an bahwa aplik asi: histogram, V oronoi Map, QQPlot dan interpolasi IDW dapat menggambark an variabilitas spasial hujan pada suatu wilayah lebih detail.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis pemanenan hujan dari atap bangunan: studi kasus gedung-gedung dikampus IPB Dramaga Bogor

Analisis pemanenan hujan dari atap bangunan: studi kasus gedung-gedung dikampus IPB Dramaga Bogor

Di beberapa negara ternyata pemanenan hujan sudah lama dilakukan dan sampai sekarang masih terus dikembangkan. Kegiatan pemanenan hujan tersebut sudah tersebar di banyak lokasi di Filipina di tempat yang tidak mungkin diperoleh air tawar dengan cara lain. Di India, terdapat advokasi yang kuat melalui kampanye air oleh CSE (Center for Science and Technology), yang menganjurkan menghentikan fokus pada masalah dan beralih pada solusinya. Di Amerika Serikat kegiatan pemanenan hujan masih terus dikembangkan di Hawaii dan California. Air hujan dari atap rumah yang ditampung dalam suatu bak dapat dijadikan sember air utama bagi keperluan rumah tangga. Bahkan terdapat peraturan bahwa pembangunan rumah baru tidak akan
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

FORDA - Jurnal

FORDA - Jurnal

Hutan mempunyai peran yang penting dalam proses hidrologi karena kemampuannya sebagai pengatur tata air. Hutan dapat menyerap dan menyimpan air pada musim penghujan dan melepaskannya pada musim kemarau. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui proses hidrologi dalam DAS dengan berbagai tipe penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan curah hujan dan debit (limpasan dan debit sedimen) di sub sub DAS Ngatabaru, Sulawesi Tengah dengan vegetasi hutan sebagai penutup lahan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan dapat menyerap banyak air hujan pada musim hujan dan melepaskannya secara perlahan pada musim kemarau. Koefisien rejim sungai (rasio debit maksimum dan minimum) dalam penelitian ini adalah 2,5, menunjukkan bahwa air mengalir sepanjang tahun. Namun demikian, koefisien aliran (rasio debit dan hujan) sebesar 0,15, menunjukkan bahwa sebagian besar hujan hilang karena tingginya evapotranspirasi hutan. Pada kejadian hujan yang sangat tinggi, kecenderungan debit sedimen lebih dipengaruhi oleh curah hujan daripada debit sungai.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan Metode USLE di Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir. Chapter III V

Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan Metode USLE di Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Balian Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir. Chapter III V

Berdasarkan masalah yang terjadi dan kerugian yang dialami maka PT. Mutiara Bunda Jaya – Kebun IPBD lebih memilih melakukan tindakan konservasi berupa pembuatan tapak timbun yang terletak di blok 54 petak A dibandingkan melakukan penyisipan tanaman setiap tahunnya. Tapak timbun bertujuan untuk menaikkan permukaan tanah tanaman agar tidak tergenang pada saat musim hujan sehingga dapat mencegah kematian pada tanaman.Hal ini sesuai literatur Simangunsong (2011) yang menyatakan bahwa pembuatan tapak timbun bertujuan untuk menaikan permukaan tanah pada piringan kelapa sawit.Selain pada penurunan tanah, tapak timbun juga diaplikasikan pada kondisi piringan yang tergenang air. Kondisi piringan yang tergenang akan mempersulit proses panen serta pemupukan. Selain itu, genangan dalam jangka waktu lama akan menyebabkan akar tanaman kelapa sawit busuk sehingga menghambat pertumbuhan serta mengurangi produksi kelapa sawit.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Prediksi Potensi Debit Berdasarkan Data Curah Hujan Maksimum Bulanan Dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropogation di Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli

Prediksi Potensi Debit Berdasarkan Data Curah Hujan Maksimum Bulanan Dengan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropogation di Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli

Hujan yang mempunyai hubungan yang erat terhadap debit sehingga perlu kiranya melakukan penelitian untuk memprediksi potensi debit berdasarkan data hujan maksimum bulanan dengan metode jaringan syaraf tiruan. Untuk pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur serta jaringan sungai, perlu diketahui seberapa besar potensi debit yang akan terjadi di masa yang mendatang. Indonesia mempunyai banyak pulau dan daerah aliran sungai (DAS). Daerah aliran sungai tidak sepenuhnya mempunyai stasiun debit sehingga perlu dilakukan pendekatan teknis untuk mengatasi pengabsahan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack.) Berumur 5, 10 dan 15 Tahun di Kebun Begerpang Estate PT.PP. London Sumatra Indonesia Tbk

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack.) Berumur 5, 10 dan 15 Tahun di Kebun Begerpang Estate PT.PP. London Sumatra Indonesia Tbk

Curah hujan merupakan faktor iklim yang selalu berubah-ubah dan sulit diramalkan. Setiap daerah memiliki pola curah hujan yang berbeda sehingga baik jumlah curah hujan sepanjang tahun berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Ketersediaan air merupakan faktor utama yang membatasi tingkat produksi tanaman. K ekurangan air akan berpengaruh negatif terhadap produksi TBS sampai dengan dua tahun ke depannya. Penurunan produksi tahun pertama berkisar antara 6-10% dari produksi normal per 100 mm defisit air dan tahun kedua berkisar antara 2-5% dari produksi normal per 100 mm defisit air. Besarnya pengaruh defisit air terhadap produksi dipengaruhi banyak faktor, diantaranya umur tanaman, tingkat produksi saat terjadi kekeringan, fisiologis tanaman dan sebagainya. Pengaruh negatif umumnya dimulai 6 bulan setelah terjadi defisit air, misalnya aborsi janjang. Akibat adanya defisit air yang besar, ada kemungkinan akan terjadinya perubahan pola produksi (Prihutami, 2011).
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Karet Berumur 7, 10 dan 13 Tahun di Kebun Sei Baleh Estate PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Karet Berumur 7, 10 dan 13 Tahun di Kebun Sei Baleh Estate PT. Bakrie Sumatera Plantations Tbk

Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum. Oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama, mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim (Situmorang, 2010).
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Peramalan Curah Hujan Bulanan Di Kota Medan Dengan Metode Box-Jenkins

Peramalan Curah Hujan Bulanan Di Kota Medan Dengan Metode Box-Jenkins

Dari plot curah hujan dengan menggunakan pembedaan pertama terlihat bahwa ada 1 koefisien korelasi diri berbeda nyata dari nol sehingga diduga ordo dari proses MA adalah 1 (q = 1). Dari plot fungsi korelasi diri parsial, ditentukan ordo dari proses regresi diri. Dari plot tersebut dilihat bahwa ada 1 koefisien korelasinya berbeda nyata dari nol, sehingga diduga bahwa ordo dari AR adalah 1 (p = 1). Sesuai dengan plot curah hujan tersebut, model sementara data yang dibedakan adalah ARIMA (1,1,1). Plot data diatas masih memperlihatkan deret data yang tidak stasioner, maka perlu diadakan pembedaan kedua dengan persamaan:
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan terhadap Produksi Kelapa Sawit Berumur 8, 12 dan 20 Tahun di Kebun Rambutan PT. Perkebunan Nusantara III Persero

Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan terhadap Produksi Kelapa Sawit Berumur 8, 12 dan 20 Tahun di Kebun Rambutan PT. Perkebunan Nusantara III Persero

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curah hujan dan hari hujan secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi TBS di kebun Rambutan pada tanaman berumur 12 tahun. Hal ini diduga disebabkan karena curah hujan terlalu rendah. Curah hujan yang rendah dapat menyebakan terjadinya kekeringan yang akan berakibat pada proses fotosintesis dan pembentukan bungga. Hal ini sesuai dengan litelatur Manalu (2008) yang menyatakan bahwa curah hujan rendah juga menyebabkan cekaman kekeringan sehingga dalam mempertahankan kandungan air, terjadi penutupan stomata pada siang hari yang pada akhirnya berpengaruh pula pada fotosintesis dan transpirasi yang mengakibatkan terjadinya aborsi bunga betina dan menunda pembukaan daun muda (pupus) atau dengan kata lain terjadi pengurangan bunga betina. Penurunan produksi pada musim kering juga disebabkan gugurnya tandan bunga yang telah mekar dan berpengaruh terhadap pembentukan jenis kelamin bunga.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

OPTIMASI PARAMETER MODEL MOCK UNTUK MENGHITUNG DEBIT ANDALAN SUNGAI MIU | Tunas | SMARTek 452 1585 1 PB

OPTIMASI PARAMETER MODEL MOCK UNTUK MENGHITUNG DEBIT ANDALAN SUNGAI MIU | Tunas | SMARTek 452 1585 1 PB

Model Mock merupakan model hidrologi yang digunakan untuk mengananalisis sistem DAS dalam memprediksi respon hidrologi dari suatu masukan kejadian hujan dan iklim. Model Mock perlu dioptimasi/kalibrasi untuk memperoleh nilai parameter optimal dengan cara menyesuaikan parameter model hingga hasil optimasi menghampiri data historis. Penyesuaian parameter model dilakukan dengan memaksimalkan koefisien korelasi dan volume error dari debiit pengukuran dan debit optimasi. Hasil optimasi menunjukkan bahwa nilai parameter optimal selama 24 periode yang dinyatakan dengan fungsi tujuan memiliki koefisien korelasi sebesar 0.75 dan volume error sebesar 0.00095.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENENTUAN ONSET MONSUN DI WILAYAH INDO A

PENENTUAN ONSET MONSUN DI WILAYAH INDO A

Indonesia memiliki iklim yang khas disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada di wilayah tropis dan merupakan negara kepulauan sehingga biasa disebut sebagai Benua Maritim Indonesia. Daerah tropis menyimpan energi Matahari lebih besar sepanjang tahunnya jika dibandingkan dengan daerah lintang tinggi. Surplus energi ini selanjutnya menjadi pendorong terjadinya peristiwa konveksi sehingga konveksi ini akan lebih sering terjadi di benua maritim. Awan konveksi yang tumbuh didominasi oleh awan cumulonimbus yang dicirikan oleh hujan-hujan lebat.

11 Baca lebih lajut

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan untuk Pemodelan Prakiraan Curah Hujan Bulanan

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan untuk Pemodelan Prakiraan Curah Hujan Bulanan

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Shalawat serta salam tidak lupa penulis curahkan kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam , keluarganya, sahabatnya serta umatnya hingga akhir zaman. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2014 ini ialah prakiraan curah hujan bulanan, dengan judul Penerapan Jaringan Saraf Tiruan untuk Pemodelan Prakiraan Curah Hujan Bulanan.

43 Baca lebih lajut

Show all 6811 documents...