STATUS KEBERSIHAN MULUT

Top PDF STATUS KEBERSIHAN MULUT:

STATUS KEBERSIHAN MULUT MAHASISWA FKG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH.

STATUS KEBERSIHAN MULUT MAHASISWA FKG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH.

Hasil penelitian menunjukan bahwa status kebersihan mulut berdasarkan golongan darah pada mahasiswa FKG Unpad Reguler Angkatan 2008 dengan distribusi frekuensi OHI-S terbaik (94,29%) adalah golongan darah O dan distribusi frekuensi OHI-S terburuk (6,25%) adalah golongan darah B.

4 Baca lebih lajut

PERBEDAAN STATUS KEBERSIHAN MULUT PADA ORANG YANG MEMAKAI ALAT ORTODONTIK CEKAT DAN TIDAK MEMAKAI ALAT ORTODONTIK

PERBEDAAN STATUS KEBERSIHAN MULUT PADA ORANG YANG MEMAKAI ALAT ORTODONTIK CEKAT DAN TIDAK MEMAKAI ALAT ORTODONTIK

Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan di SMP N 4 Surakarta. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII, VIII, IX SMP N 4 Surakarta. Sampel yang digunakan sebanyak 34 siswa yang terdiri dari 17 siswa yang menggunakan alat ortodontik cekat dan 17 siswa yang tidak memakai alat ortodontik. Penetapan sampel dilakukan dengan cluster random sampling . Hasil penilaian status kebersihan mulut didapat dari nilai OHIS dengan pengukuran indeks debris dan indeks kalkulus. Data yang diperoleh diuji dengan uji chi-square tabel 2x3 melalui SPSS version 17 for Windows .
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUI MEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candras

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUI MEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candras

Penyandang tunanetra sering memiliki status kebersihan mulut yang lebih buruk daripada masyarakat umum. Mereka cenderung memiliki prevalensi karies yang lebih tinggi karena hambatan untuk mengkases perawatan dan informasi menganai kesehatan gigi dan mulut. Penyandang tunanetra seharusnya diberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan kebersihan gigi dan mulut seperti orang pada umumnya sesuai dengan kemampuan daya tangkap informasi yang dimiliki agar mencapai kebersihan mulut yang baik. Oleh karena itu, diperlukan media khusus dalam proses pendidikan kesehatan gigi dan mulut agar penyandang tunanetra mampu memahami materi yang disampaikan secara maksimal. Media yang efektif digunakan untuk penyandang tunanetra dalam menerima informasi adalah media audio taktil karena untuk menerima informasi mereka memaksimalkan pendengaran dan untuk menerima keterampilan baru mereka memanfaatkan sensasi taktil. Tujuan penelitian ini adalah untuk pengaruh pendidikan kesehatan gigi dan mulut melalui media audio taktil terhadap status kebersihan mulut penyandang tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT  MELALUIMEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS KEBERSIHAN  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bha

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUIMEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS KEBERSIHAN Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bha

Penyandang tunanetra sering memiliki status kebersihan mulut yang lebih buruk daripada masyarakat umum. Mereka cenderung memiliki prevalensi karies yang lebih tinggi dan Penyandang tunanetra dan low vision tidak dapat mendeteksi dan mengenali tanda-tanda awal dari penyakit tersebut yaitu plak (Sami, dkk, 2009). Plak adalah lapisan tipis, tidak berwarna, mengandung kumpulan bakteri, melekat pada permukaan gigi dan selalu terbentuk di dalam mulut dan bila bercampur dengan gula yang ada dalam makanan akan membentuk asam (Bigitta, dkk, 2014).

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.

PENDAHULUAN Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.

Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa Surakarta yang terletak Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah adalah salah satu Balai Rehabilitasi Sosial untuk penyandang tunanetra yang belum pernah diberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan oleh penulis, diketahui bahwa dari beberapa orang yang dilakukan pengecekan kebersihan mulutnya mempunyai kebersihan mulut yang buruk. Kebersihan mulut yang buruk pada penyandang tunanetra dikarenakan keterbatasan informasi mengenai cara memelihara kebersihan mulut termasuk pemilihan sikat dan teknik menyikat gigi yang benar. Berdasarkan latar belakang di atas penulis ingin mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan gigi dan mulut melalui media audio taktil terhadap status kebersihan mulut penyandang tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

GAMBARAN KEBERSIHAN MULUT DAN KARIES GIGI PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SDLB NEGERI PATRANG DAN SLB BINTORO JEMBER (Penelitian Deskriptif)

GAMBARAN KEBERSIHAN MULUT DAN KARIES GIGI PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SDLB NEGERI PATRANG DAN SLB BINTORO JEMBER (Penelitian Deskriptif)

pada jaringan periodontal. Plak dapat dikontrol dengan tindakan dan penggunaan alat- alat mekanis dan kimiawi seperti menggosok gigi, tusuk gigi, dan lain-lain. Pembersihan secara mekanis dimaksudkan untuk menghilangkan plak oleh tindakan psikomotor pasien (Houwink, dkk, 1993). Berdasarkan hasil yang telah tercantum pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa 9 anak penderita down syndrome mempunyai kriteria klinis baik, sedangkan 6 anak mempunyai kriteria sedang. Tabel 4.2 menunjukkan bahwa 6 anak penderita down syndrome mempunyai kriteria klinis baik, sedangkan 3 anak mempunyai kriteria sedang. Walaupun menurut beberapa referensi menyebutkan bahwa pasien dengan down syndrome mempunyai status kebersihan mulut yang buruk seperti yang digambarkan bahwa pasien dengan down syndrome mempunyai susunan geligi yang tidak beraturan, dan ini merupakan faktor predisposisi dari retensi plak dan mempersulit upaya menghilangkan plak, namun dari penelitian yang dilakukan telah menunjukkan gambaran bahwa status kebersihan mulut pada anak penderita down syndrome secara garis besar ialah baik. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa kebersihan mulut pada anak down syndrome saat ini sudah baik. Keadaan itu dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya keberhasilan orang tua dalam mendidik anak tersebut untuk sejak dini menjaga kesehatan giginya. Sitepu (2006) menyatakan bahwa perawatan sejak awal dokter gigi dan perawatan sehari-hari di rumah dapat memungkinkan individu dengan down syndrome merasakan manfaat mulut yang sehat.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi dengan judul: Perbedaan Pengetahuan Mengenai Kesehatan dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut antara Mahasiswa Kedokteran dan Ekonomi

PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi dengan judul: Perbedaan Pengetahuan Mengenai Kesehatan dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut antara Mahasiswa Kedokteran dan Ekonomi

Latar Belakang : Penyakit di rongga mulut saat ini dianggap sebagai permasalahan ksesehatan masyarakat yang besar di seluruh dunia. Pendidikan kesehatan bisa mempengaruhi pengetahuan dan perilaku mengenai masalah kesehatan yang dimiliki seseorang. Perilaku dalam menjaga kebersihan mulut bisa dilihat pada status kebersihan mulut seseorang. Di sisi lain, pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang dimiliki mahasiswa kedokteran perlu diperhatikan mengingat berbagai penyakit periodontal yang berhubungan dengan penyakit sistemik. Perlunya mengetahui apakah ada perbedaan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut serta status kebersihan gigi dan mulut antara mahasiswa di bidang kesehatan dan selain kesehatan menjadi landasan penulis untuk melakukan penelitian antara mahasiswa kedokteran dan ekonomi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

THE RELATIONSHIP BETWEEN DENTAL PLAQUE AND THE SEVERITY OF DENTAL CARIES AMONG PRESCHOOL CHILDREN

THE RELATIONSHIP BETWEEN DENTAL PLAQUE AND THE SEVERITY OF DENTAL CARIES AMONG PRESCHOOL CHILDREN

Karies gigi pada anak-anak selama ini belum bisa dieradikasi, akan tetapi hanya bisa dikontrol pada tingkat yang sangat rendah. Peran orang tua dalam membimbing dan mengajarkan perilaku dan pola kebersihan gigi dan mulut merupakan faktor yang sangat penting dalam mengurangi tingkat keparahan karies gigi anak usia prasekolah, terutama status kebersihan mulut anak 7.

10 Baca lebih lajut

Gambaran status gingiva, kebersihan mulut, PH, dan volume saliva pada pemakai kontrasepsi hormonal di Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar

Gambaran status gingiva, kebersihan mulut, PH, dan volume saliva pada pemakai kontrasepsi hormonal di Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar

Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak ada perbedaan yang berarti mengenai status kebersihan mulut berdasarkan metode penggunaan kontrasespi hormonal namun pengguna kontrasepsi implant memiliki skor OHI-s dan skor indeks gingival yang paling tinggi karena dosis yang diterima oleh tubuh selama penggunaanya lebih besar daripada dosis kontrasepsi pil dan suntik yaitu sebesar 216 mg levonorgestrel.

5 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Efektivitas Penggunaan Bahasa Jawa Dalam Promosi Kesehatan Gigi Dan Mulut Untuk Menurunkan Skor Plak Gigi Pada Anak Usia 6-8 Tahun Di Mim Klaseman Gatak Sukoharjo.

DAFTAR PUSTAKA Efektivitas Penggunaan Bahasa Jawa Dalam Promosi Kesehatan Gigi Dan Mulut Untuk Menurunkan Skor Plak Gigi Pada Anak Usia 6-8 Tahun Di Mim Klaseman Gatak Sukoharjo.

Status Kebersihan Mulut Anak Usia 9-11 Tahun dan Kebiasaan Menyikat Gigi Malam Sebelum Tidur di SDN Melonguane.. Menyikat Gigi Tindakan Utama Untuk Kesehatan Gigi.[r]

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul: Hubungan Tingkat Kebersihan Rongga Mulut dengan Status Gingiva Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sumbersari Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember (Penelitian Observasional Klinis) adalah benar-benar hasil karya saya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada instusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Anak sindrom Down memiliki kelainan bentuk dan struktur gigi yang mengakibatkan kebersihan rongga mulut mereka tidak dapat dijaga dengan baik. Ciri- ciri anomali gigi meliputi mikrodontia, hipodonsia, agenesis, parsial anodonsia, dan maloklusi. Terlambatnya erupsi gigi sulung juga terjadi pada anak sindrom Down. Diastema turut muncul karena adanya mikrodonsia dan bisa dikoreksi dengan restorasi gigi ataupun perawatan ortodonti. Anak-anak dan remaja sindrom Down sering mempunyai insidens penyakit periodontal. 13

11 Baca lebih lajut

Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan

Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan

Pengumpulan data dengan melakukan observasi (pengamatan) langsung terhadap subjek penelitian yaitu mengukur kebersihan gigi dan mulut serta status karies gigi, cara pelaksanaan pengukuran adalah: 1) status kebersihan gigi dan mulut, pertama dilakukan pengolesan disclosing solution untuk melihat adanya pewarnaan, kemudian dilakukan penilaian skor debris, dilanjutkan dengan penilaian skor kalkulus yang mengacu kepada teori dari Carranza dan Odont yaitu dengan indeks dari Greene dan Vermilion. 2) Status karies dilakukan dengan cara memeriksa semua permukaan gigi dengan menggunakan alat diagnostik set, apabila terdapat gigi dengan karies yang masih dapat ditambal, tambalan sementara, gigi dengan skunder karies dan masih dapat ditambal maka gigi tersebut dimasukan pada komponen Decayed (D). Apabila hanya terdapat sisa akar atau gigi dengan indikasi dicabut serta gigi yang sudah dicabut karena karies maka gigi tersebut termasuk pada komponen Missing (M). Sementara gigi yang sudah ditambal permanen dan tambalannya masih baik atau sehat maka gigi tersebut dikategorikan pada komponen Filling (F).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

Penyebab sekundernya dapat berupa faktor lokal atau sistemik. Beberapa faktor lokal pada lingkungan gingiva merupakan predisposisi dari akumulasi deposit plak dan menghalangi pembersihan plak; seperti restorasi under filling atau over filling, karies, tumpukan sisa makanan, geligi tiruan sebagian lepasan yang desainnya tidak baik, pemakaian alat ortodonsi, kebiasaan bernapas melalui mulut, merokok, terdapat groove perkembangan pada enamel servikal atau permukaan akar, dan susunan geligi yang tidak teratur. Faktor sistemik adalah faktor yang mempengaruhi tubuh secara keseluruhan, misalnya faktor genetik, nutrisional, hematologi, dan juga hormonal (Manson dan Eley, 2004: 41).
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Perilaku Kesehatan Orang Tua Terhadap Tingkat Keparahan Karies Anak Usia 4-6 Tahun Tk Karang Asem.

PENDAHULUAN Hubungan Perilaku Kesehatan Orang Tua Terhadap Tingkat Keparahan Karies Anak Usia 4-6 Tahun Tk Karang Asem.

Menurut Herijulianti (2001), tingkat sosial ekonomi juga mempengaruhi gaya hidup seseorang terutama dalam berperilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sebab anak-anak dengan kondisi sosial ekonomi orang tua yang lebih tinggi, maka akses dan intensitas untuk berkunjung ke dokter gigi guna melakukan perawatan rongga mulutnya akan lebih tinggi juga.

5 Baca lebih lajut

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Anak sindrom Down memiliki kelainan bentuk dan struktur gigi yang mengakibatkan kebersihan rongga mulut mereka tidak dapat dijaga dengan baik. Ciri- ciri anomali gigi meliputi mikrodontia, hipodonsia, agenesis, parsial anodonsia, dan maloklusi. Terlambatnya erupsi gigi sulung juga terjadi pada anak sindrom Down. Diastema turut muncul karena adanya mikrodonsia dan bisa dikoreksi dengan restorasi gigi ataupun perawatan ortodonti. Anak-anak dan remaja sindrom Down sering mempunyai insidens penyakit periodontal. 13

71 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...