STATUS KEBERSIHAN MULUT

Top PDF STATUS KEBERSIHAN MULUT:

PERBEDAAN STATUS KEBERSIHAN MULUT PADA ORANG YANG MEMAKAI ALAT ORTODONTIK CEKAT DAN TIDAK MEMAKAI ALAT ORTODONTIK

PERBEDAAN STATUS KEBERSIHAN MULUT PADA ORANG YANG MEMAKAI ALAT ORTODONTIK CEKAT DAN TIDAK MEMAKAI ALAT ORTODONTIK

Kebersihan mulut jelas sangat dipengaruhi bagaimana seseorang menjaga kebersihannya. Salah satu cara seseorang menjaga kebersihan mulut yaitu dengan menyikat gigi. Frekuensi penyikatan gigi yang baik adalah dua kali sehari, dengan durasi minimal 2 menit setiap penyikatan gigi (Carranza, 2002). Status kebersihan mulut kedua kelompok sampel ini tidak menunjukan perbedaan kemungkinan dikarenakan cara menyikat gigi antara kedua kelompok sampel ini hampir sama. Ditinjau dari segi kualitas, kuantitas maupun frekuensi menyikat gigi kedua kelompok sampel hampir sama sehingga perbedaan kebersihan mulutnya tidak terlihat jelas.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT  MELALUIMEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS KEBERSIHAN  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bha

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUIMEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS KEBERSIHAN Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bha

Latar belakang: Penyandang tunanetra sering memiliki status kebersihan mulut yang lebih buruk daripada masyarakat umum. Mereka cenderung memiliki prevalensi karies yang lebih tinggi karena hambatan untuk mengkases perawatan dan informasi menganai kesehatan gigi dan mulut. Penyandang tunanetra seharusnya diberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan kebersihan gigi dan mulut seperti orang pada umumnya sesuai dengan kemampuan daya tangkap informasi yang dimiliki agar mencapai kebersihan mulut yang baik. Oleh karena itu, diperlukan media khusus dalam proses pendidikan kesehatan gigi dan mulut agar penyandang tunanetra mampu memahami materi yang disampaikan secara maksimal. Media yang efektif digunakan untuk penyandang tunanetra dalam menerima informasi adalah media audio taktil karena untuk menerima informasi mereka memaksimalkan pendengaran dan untuk menerima keterampilan baru mereka memanfaatkan sensasi taktil. Tujuan: penelitian ini adalah untuk pengaruh pendidikan kesehatan gigi dan mulut melalui media audio taktil terhadap status kebersihan mulut penyandang tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan rancangan pretest and posttest only design. Subjek penelitian merupakan 31 penyandang tunanetra kategori blind. Subjek dilakukan pemeriksaan dan pengukuran skor plak sebelum dilakukan intervensi dengan menggunakan PHP-M, kemudian dilakukan intervensi berupa pendidikan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio taktil selama satu minggu, satu kemudian dilakukan pemeriksaan dan pengukuran skor plak di akhir. Hasil: penelitian menghasilkan rerata sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio taktil yaitu 17,29 dan 9,42. Terjadi penurunan rerata skorplak antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio taktil. Nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05) antara skor plak sebelum dan skor plak sesudah diberi pendidikan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio taktil. Kesimpulan: pendidikan kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio taktil berpengaruh terhadap peningkatan status kebersihan mulut penyandang tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUI MEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candras

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUI MEDIA AUDIO TAKTIL TERHADAP STATUS Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candras

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah atas ridha Allah SWT sehingga penulis mampu menyelesaikan rangkaian dan penulisan skripsi dengan judul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat kelulusan guna memperoleh sarjana di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

15 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.

PENDAHULUAN Pengaruh Pendidikan Kesehatan Gigi Dan Mulut Melalui Media Audio Taktil Terhadap Status Kebersihan Mulut Penyandang Tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.

Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa Surakarta yang terletak Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah adalah salah satu Balai Rehabilitasi Sosial untuk penyandang tunanetra yang belum pernah diberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan oleh penulis, diketahui bahwa dari beberapa orang yang dilakukan pengecekan kebersihan mulutnya mempunyai kebersihan mulut yang buruk. Kebersihan mulut yang buruk pada penyandang tunanetra dikarenakan keterbatasan informasi mengenai cara memelihara kebersihan mulut termasuk pemilihan sikat dan teknik menyikat gigi yang benar. Berdasarkan latar belakang di atas penulis ingin mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan gigi dan mulut melalui media audio taktil terhadap status kebersihan mulut penyandang tunanetra Balai Rehabilitasi Sosial Bhakti Candrasa.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

STATUS KEBERSIHAN MULUT MAHASISWA FKG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH.

STATUS KEBERSIHAN MULUT MAHASISWA FKG BERDASARKAN GOLONGAN DARAH.

Status kebersihan mulut seseorang diukur dengan OHI (Oral Hygiene Index) yang dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu faktor lingkungan, perilaku, herediter dan pelayanan kesehatan. Plak dan kalkulus menjadi indikator OHI, dimana OHI yang buruk merupakan salah satu penyebab penyakit periodontal. Golongan darah sebagai faktor herediter dapat menjadi faktor risiko penyakit periodontal. Selain itu pendidikan kesehatan mulut yang baik akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjaga kebersihan mulutnya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran status kebersihan mulut berdasarkan golongan darah pada Mahasiswa FKG sebagai faktor risiko penyakit periodontal.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

THE RELATIONSHIP BETWEEN DENTAL PLAQUE AND THE SEVERITY OF DENTAL CARIES AMONG PRESCHOOL CHILDREN

THE RELATIONSHIP BETWEEN DENTAL PLAQUE AND THE SEVERITY OF DENTAL CARIES AMONG PRESCHOOL CHILDREN

Karies gigi pada anak-anak selama ini belum bisa dieradikasi, akan tetapi hanya bisa dikontrol pada tingkat yang sangat rendah. Peran orang tua dalam membimbing dan mengajarkan perilaku dan pola kebersihan gigi dan mulut merupakan faktor yang sangat penting dalam mengurangi tingkat keparahan karies gigi anak usia prasekolah, terutama status kebersihan mulut anak 7.

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Perilaku Kesehatan Orang Tua Terhadap Tingkat Keparahan Karies Anak Usia 4-6 Tahun Tk Karang Asem.

PENDAHULUAN Hubungan Perilaku Kesehatan Orang Tua Terhadap Tingkat Keparahan Karies Anak Usia 4-6 Tahun Tk Karang Asem.

berhubungan yaitu makanan, host dan bakteri (Behrman, 2002). Karies pada pertumbuhan gigi primer anak sangat dikaitkan dengan faktor orang tua, termasuk status sosial, ekonomi, dan perilaku yang berkaitan dengan kebersihan mulut. Perilaku orang tua, derajat pendidikan, dan akses tenaga kesehatan mungkin adalah faktor predisposisi karies pada anak (Heloisa C.B et al., 2012).

5 Baca lebih lajut

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Perawatan penyakit periodontal komprehensif adalah penyingkiran inflamasi gingiva dan koreksi kondisi yang menyebabkan atau memperparah inflamasi tersebut. Kebutuhan perawatan periodontal meliputi perbaikan kebersihan rongga mulut, skeling professional dan penyerutan akar. Status kebersihan rongga mulut pasien dinilai berdasarkan banyak atau sedikit penumpukan plak, debris makanan, materi alba dan stein pada permukaan gigi. Perbaikan kebersihan rongga mulut dapat dilakukan dengan memberi edukasi cara menyikat gigi yang tepat dan benar. Skeling professional adalah proses penyingkiran kalkulus dan plak dari permukaan gigi, baik supragingival maupun subgingival. Penyerutan akar adalah prosedur untuk menyingkirkan sisa kalkulus yang tertinggal dan sebagian sementum yang tercemar toksin bakteri sehingga didapatkan permukaan akar gigi yang rata, keras dan bersih. 22-
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Status Kebersihan Rongga Mulut dan Kebutuhan Perawatan Periodontal pada Anak Sindrom Down Usia 6-18 Tahun di SLB-C Kota Medan

Status Kebersihan Rongga Mulut dan Kebutuhan Perawatan Periodontal pada Anak Sindrom Down Usia 6-18 Tahun di SLB-C Kota Medan

Perawatan penyakit periodontal komprehensif adalah penyingkiran inflamasi gingiva dan koreksi kondisi yang menyebabkan atau memperparah inflamasi tersebut. Kebutuhan perawatan periodontal meliputi perbaikan kebersihan rongga mulut, skeling professional dan penyerutan akar. Status kebersihan rongga mulut pasien dinilai berdasarkan banyak atau sedikit penumpukan plak, debris makanan, materi alba dan stein pada permukaan gigi. Perbaikan kebersihan rongga mulut dapat dilakukan dengan memberi edukasi cara menyikat gigi yang tepat dan benar. Skeling professional adalah proses penyingkiran kalkulus dan plak dari permukaan gigi, baik supragingival maupun subgingival. Penyerutan akar adalah prosedur untuk menyingkirkan sisa kalkulus yang tertinggal dan sebagian sementum yang tercemar toksin bakteri sehingga didapatkan permukaan akar gigi yang rata, keras dan bersih. 22-
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Sekolah Luar Biasa Chennai menunjukkan anak sindrom Down mempunyai status kebersihan rongga mulut serta status periodontal yang cenderung jelek dibandingkan dengan anak normal. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan kemampuan kognitif dan mobilitas, gangguan perilaku dan otot, refleks muntah dan gerakan tubuh tidak terkontrol. Selain itu, secara praktis anak sindrom Down memiliki keterbatasan dalam mengerti dan menuruti instruksi menjaga kebersihan rongga mulut serta memiliki kelainan bentuk dan struktur gigi yang mengakibatkan kebersihan rongga mulut mereka tidak dapat dijaga dengan baik. Jika kebersihan rongga mulut tidak baik maka akan menimbulkan berbagai penyakit di rongga mulut seperti karies gigi dan penyakit periodontal. 9,17-18
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

NILAI KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA KAR

NILAI KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA KAR

Pada penelitian ini, analisis multivariat yang digunakan adalah uji regresi logistik. Analisis regresi logistik adalah salah satu pendekatan model matematis yang digunakan untuk menganalisis hubungan satu atau beberapa variabel independen dengan sebuah variabel dependen katagori yang bersifat dikotomi. Variabel independen, jenis kelamin, dan usia, menggunakan regresi logistik. Yang berperan pada variabel dependen OHIS adalah variabel usia dan jenis kelamin, namun yang paling besar pengaruhnya adalah variabel usia, hal ini terbukti dengan nilai exp (B)/OR paling besar yaitu 1,975. Hal ini sesuai dengan pendapat para pakar, yang menyatakan bahwa usia berpengaruh terhadap status kesehatan gigi khususnya kebersihan gigi-mulut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT DAN STATUS KARIES GIGI PADA SISWA KELAS IV - VI SD NEGERI PALEBON 3 KOTA SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN STATUS KEBERSIHAN RONGGA MULUT DAN STATUS KARIES GIGI PADA SISWA KELAS IV - VI SD NEGERI PALEBON 3 KOTA SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi otomatis memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut yang tinggi pula, hal tersebut juga mempengaruhi dari perilakunya untuk hidup sehat (Basuni, 2014). Status kesehatan gigi dan mulut anak-anak yang buruk dipengaruhi oleh beberapa hal, yang salah satunya ialah tingkat pengetahuan yang rendah serta kebiasaan membersihkan rongga mulut yang kurang (Doichinova, 2014).

Baca lebih lajut

Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan

Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan

Pengumpulan data dengan melakukan observasi (pengamatan) langsung terhadap subjek penelitian yaitu mengukur kebersihan gigi dan mulut serta status karies gigi, cara pelaksanaan pengukuran adalah: 1) status kebersihan gigi dan mulut, pertama dilakukan pengolesan disclosing solution untuk melihat adanya pewarnaan, kemudian dilakukan penilaian skor debris, dilanjutkan dengan penilaian skor kalkulus yang mengacu kepada teori dari Carranza dan Odont yaitu dengan indeks dari Greene dan Vermilion. 2) Status karies dilakukan dengan cara memeriksa semua permukaan gigi dengan menggunakan alat diagnostik set, apabila terdapat gigi dengan karies yang masih dapat ditambal, tambalan sementara, gigi dengan skunder karies dan masih dapat ditambal maka gigi tersebut dimasukan pada komponen Decayed (D). Apabila hanya terdapat sisa akar atau gigi dengan indikasi dicabut serta gigi yang sudah dicabut karena karies maka gigi tersebut termasuk pada komponen Missing (M). Sementara gigi yang sudah ditambal permanen dan tambalannya masih baik atau sehat maka gigi tersebut dikategorikan pada komponen Filling (F).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

Hubungan antara kebersihan rongga mulut dan penyakit gusi (gingiva) sudah ditemukan sejak zaman purba. Dewasa ini sudah banyak bukti yang mendukung teori tersebut. Bukti-bukti berasal dari penelitian klinis, epidemiologis, dan mikrobiologi serta penelitian imunologi. Penelitian epidemiologis terhadap kelompok populasi di berbagai belahan dunia menunjukkan hubungan langsung antara jumlah deposit bakteri yang diukur dengan indeks kebersihan mulut dan keparahan radang gingiva. Keparahan radang gingiva dapat diukur dengan status gingiva. Percobaan klinis dilakukan Loe dkk (1965) pada 12 pelajar yang diinstruksikan menghentikan pembersihan rongga mulut dan gigi geliginya, sehingga plak gigi leluasa berkumpul di sekitar tepi gingiva, dan keradangan gingiva selalu timbul. Bila pembersihan dilakukan kembali dan plak dihilangkan, keradangan akan mereda (Manson dan Eley, 2004: 45).
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

GAMBARAN KEBERSIHAN MULUT DAN KARIES GIGI PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SDLB NEGERI PATRANG DAN SLB BINTORO JEMBER (Penelitian Deskriptif)

GAMBARAN KEBERSIHAN MULUT DAN KARIES GIGI PADA ANAK PENDERITA DOWN SYNDROME DI SDLB NEGERI PATRANG DAN SLB BINTORO JEMBER (Penelitian Deskriptif)

Ditinjau dari segi ilmu kedokteran gigi, pasien down syndrome umumnya ditemukan kelainan karniofasial, brachicephalic, mikrodonsia, agenisi gigi, keterlambatan erupsi, gigitan terbuka, gigitan silang anterior, maloklusi klas III Anlge, makroglosia dan lidah menjulur dengan mulut terbuka ( Suharsini, 1997). Pasien down syndrome mempunyai susunan geligi yang tidak beraturan, dan ini merupakan faktor predisposisi dari retensi plak dan mempersulit upaya menghilangkan plak. Mereka juga menyatakan bahwa bila bibir terbuka maka gingiva bagian depan tidak akan terbasahi oleh saliva sehingga keadaan ini mempunya efek antara lain: aksi pembersihan oleh saliva berkurang sehingga memudahkan timbunan plak bertambah. Serta terjadi dehidrasi dari jaringan yang akan mengganggu retensinya.
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN TINGKAT KEBERSIHAN RONGGA MULUT DENGAN STATUS GINGIVA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI KECAMATAN SUMBERSARI KABUPATEN JEMBER

Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kebersihan rongga mulut ibu hamil pada semua trimester sebagian besar adalah sedang; untuk status gingivanya pada trimester 1 sebagian besar mengalami inflamasi ringan 2 sedangkan pada trimester 2 dan 3 sebagian besar mengalami inflamasi sedang. Hasil uji Korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kebersihan mulut dan status gingiva pada ibu hamil yaitu semakin buruk tingkat kebersihan mulut maka status gingivanya juga semakin buruk meskipun kekuatan hubungannya berbeda pada tiap trimester. Pada trimester 1 dan 3 tingkat kebersihan mulut dan status gingiva ibu hamil memiliki hubungan yang kuat, sedangkan pada trimester 2 tingkat kebersihan mulut dan status gingiva ibu hamil memiliki hubungan yang sedang.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Status kebersihan rongga mulut dan kebutuhan perawatan periodontal pada anak sindrom Down usia 6-18 tahun di SLB-C Kota Medan

Adapun ketidaknyamanan yang dialami dalam prosedur penelitian yaitu anak membuka mulut sedikit lebih lama untuk memeriksa keadaan rongga mulut dan tidak menimbulkan efek samping. Namun keuntungan menjadi objek penelitian yaitu memperoleh data mengenai kondisi rongga mulut anak secara spesifik dan saran dalam upaya pemeliharaan kebersihan rongga mulut pada anak sindrom Down. Pemeriksaan yang dilakukan tidak dikenakan biaya apapun.

Baca lebih lajut

Efek Obat Kumur dengan Kandungan Minyak Esensial terhadap Status Kesehatan Rongga Mulut Ditinjau dari Indeks Plak pada Pasien Ortodonti Cekat

Efek Obat Kumur dengan Kandungan Minyak Esensial terhadap Status Kesehatan Rongga Mulut Ditinjau dari Indeks Plak pada Pasien Ortodonti Cekat

Akumulasi plak pada pasien ortodonti cekat tidak dapat dihindarkan karena pasien mengalami kesulitan saat membersihkan rongga mulut karena adanya bracket, wire, bands, dan ligature . Peneliti menginstruksikan kepada subjek penelitian menggunakan obat kumur 2 kali sehari pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur sesudah menyikat gigi. Subjek penelitian diinstruksikan menyikat gigi dengan metode Bass. Metode Bass ini dapat digunakan sehari-hari dan sangat efektif dalam menghilangkan plak. Setelah itu, subjek akan kembali diperiksa pada hari ke- 14.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Tingkat Keparahan Gingivitis pada Tunanetra dan Tidak Tunanetra Usia 9-14 Tahun.

Perbedaan Tingkat Keparahan Gingivitis pada Tunanetra dan Tidak Tunanetra Usia 9-14 Tahun.

Hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi tunanetra di Indonesia sebesar 0,4%, lebih rendah dibandingkan prevalensi tunanetra pada tahun 2007 (0,9%). Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 juga melaporkan bahwa sebesar 25,9% penduduk Indonesia mempunyai masalah gigi dan mulut, salah satunya penyakit pada gingiva yakni gingivitis. 3

Baca lebih lajut

PENGARUH SELF CARE TERHADAP STATUS KEBERSIHAN  GIGI DAN MULUT SISWA TUNANETRA   Pengaruh Self Care Terhadap Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Siswa Tunanetra Di SLB-A Ykab Surakarta.

PENGARUH SELF CARE TERHADAP STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT SISWA TUNANETRA Pengaruh Self Care Terhadap Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Siswa Tunanetra Di SLB-A Ykab Surakarta.

Penyakit karies gigi disebabkan oleh derajat kebersihan gigi dan mulut yang masih rendah dan merupakan penyakit terbesar pada sebagian penduduk Indonesia. Upaya kesehatan gigi dan mulut perlu ditinjau dari aspek lingkungan serta kesadaran siswa terhadap derajat kebersihan gigi dan mulut. Faktor lingkungan, distribusi penduduk dan perilaku siswa terhadap kebersihan gigi dan mulut merupakan faktor yang mempengaruhi dalam peningkatan upaya kesehatan gigi dan mulut (19) . Indikator derajat kebersihan gigi dan mulut yang di Indonesia memiliki status derajat kebersihan gigi dan mulut dengan rata-rata OHI-S <1,2 (7) . Indikator kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) didapatkan dari menjumlahkan angka debris indeks dan kalkulus indeks. Indeks OHI-S adalah keadaan kebersihan gigi dan mulut dari responden yang dinilai dari adanya sisa makanan (debris) dan kalkulus (karang gigi) pada permukaan gigi (14) .
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...