suhu dan waktu aging

Top PDF suhu dan waktu aging:

Sintesis ZSM-5 Mesopori Dari Kaolin Dan Silika Koloid Dengan Dua Tahap Kristalisasi : Pengaruh Suhu Dan Waktu Aging - ITS Repository

Sintesis ZSM-5 Mesopori Dari Kaolin Dan Silika Koloid Dengan Dua Tahap Kristalisasi : Pengaruh Suhu Dan Waktu Aging - ITS Repository

Campuran nukleasi biasanya ditemukan menjadi amorf, potensi pembibitan sangat tergantung waktu, yang mana menunjukkan pengembangan komponen terstruktur. Perubahan komposisi kimia yang terjadi selama aging dari prekursor hidrogel faujasit adalah penelitian awal yang dilakukan oleh Polak dan Cichocki. Efek pembentukan produk dengan aging dikaitkan dengan kinerja dari reaksi polikondensasi pada pembentukan kristalisasi. Studi pertama yang menghubungkan efek yang tergantung waktu dengan kontrol ukuran kristal adalah Freund dan Zhdanov. Penelitian ini menunjukkan bahwa aging pada suhu kamar dari gel aluminosilikat Na-A dan Na-X menghasilkan percepatan dari kristalisasi dan penurunan ukuran kristal dari produk, sehingga dapat menghubungkan proses aging secara langsung ke dalam jumlah inti yang terbentuk. Contoh terbaru untuk zeolit A yang berkaitan dengan efek aging pada sintesis menggunakan media microwave, ditemukan bahwa produk dari waktu aging yang singkat (5 menit) adalah amorf, setelah 5 menit pemanasan microwave pada 100 °C, sedangkan zeolit A dapat mengkristal dalam 1 menit pada 120 °C setelah aging semalam dari campuran yang disintesis.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

S FIS 1104927 Abstract

S FIS 1104927 Abstract

magnetik baik. Barium heksaferit juga terkenal dengan material magnet permanen kualitas tinggi, hal tersebut disebabkan barium heksaferit memiliki nilai anisotropik yang besar, temperatur Curie tinggi, magnetisasi yang relatif besar, stabilitas kimia yang baik, dan tahan terhadap korosi sehingga barium heksaferit sering digunakan sebagai bahan untuk pembuatan magnet permanen. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan magnet nano barium heksaferit menggunakan metode sol gel dengan kitosan sebagai surfaktan diikuti waktu aging dan pemanasan larutan tapioka untuk melihat pengaruhnya terhadap morfologi dan struktur kristal dan pengaruhnya pada sifat magnetik dari magnet nano barium heksaferit. Karakterisasi yang dilakukan pada pembuatan magnet nano barium heksaferit adalah X-Ray Diffractometry (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk melihat karakterisasi strutur kristal dan morfologinya serta Vibrating Sample Magnetometer (VSM) untuk melihat sifat magnetnya. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa peningkatan waktu aging pada pemanasan larutan tapioka pada suhu 45 0 C mengakibatkan peningkatan fasa barium heksaferit dan penurunan ukuran partikel terkecil magnet nano barium heksaferit dari 211,8 nm menjadi 192,2 nm untuk waktu aging 2 jam dan 4 jam, sedangkan untuk ukuran partikel magnet nano barium heksaferit tanpa waktu aging adalah 382,5 nm. Hasil yang sama terlihat pada peningkatan waktu aging pada pemanasan larutan tapioka pada suhu 75 0 C dengan ukuran partikelnya menurun dari 144 nm menjadi 106,7 nm untuk waktu aging 2 jam dan 4 jam, dan 158,5 nm untuk ukuran partikel tanpa waktu aging.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU AGING TERHADAP OPTIMALISASI KADAR AIR PRODUK BREADCRUMB PT CHAROEN POKPHAND INDONESIA Food Division Unit Salatiga

PENGARUH WAKTU AGING TERHADAP OPTIMALISASI KADAR AIR PRODUK BREADCRUMB PT CHAROEN POKPHAND INDONESIA Food Division Unit Salatiga

Udara tersebut mengandung oksigen yang digunakan dengan tujuan masuk untuk membantu nyala api tetap terjaga, kemudian terjadi perpindahan panas secara radiasi dari nyala api kompor tersebut menyebar ke seluruh ruangan silinder dan produk roti. Suhu dan kecepatan putar yang digunakan tergantung dari beban kadar air roti setelah keluar dari ruang aging jika kadar air masih terlalu tinggi maka suhu dinaikan, kecepatan putaran disesuaikan dan feeding berupa roti yang masuk dari mesin grinding diperlambat. Semakin lama mesin rotary dryer beroperasi suhu didalam silinder semakin panas maka berpengaruh pada kecepatan putar yang harus ditingkatkan untuk mencegah kegosongan. Komponen umum yang ada pada mesin rotary dryer diantaranya adalah burner yang berfungsi sebagai titik daerah dimana api dinyalakan, combustor yang merupakan daerah dimana selama rotary dryer berputar nyala api yang dihasilkan burner dipertahankan, blower yang berfungsi membantu tersebarnya aliran udara panas dan mengurangi serbuk yang berukuran terlalu kecil supaya terbuang, rotator yang merupakan penggerak pada tabung rotary, dan rotary valve yang berupa katup untuk mengatur produk hasil rotary dryer keluar dan akan berpindah ke tempat pengayakan .
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU AGING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PADUAN Al-Cu

PENGARUH WAKTU AGING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PADUAN Al-Cu

Penambahan unsur Cu ( 3 – 5 %) pada paduan AL-Si dapat juga meningkatkan sifat-sifat mekanis paduan. Paduan AL-Si-Cu, dengan komposisi Si mendekati komposisi eutektik, dapat digunakan pada suhu tinggi dengan koefisien muai panjang relatif kecil. Paduan ini banyak digunakan untuk bahan piston mesin motor bakar (internal combustion engine). Duralumin merupakan salah satu paduan popular dari Al dengan komposisi standar Al – 4 % Cu – 0,5 % Mg – 0,5 % Mn. Bila kandungan unsur Mg ditingkatkan sehingga komposisi standarnya berubah menjadi Al – 4,5 % Cu – 1,5 % Mg – o,5 % Mn dinamakan paduan duralumin super.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TER

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TER

detik, sedangkan perlakuan penyimpanan pada suhu kamar sebagai faktor S, terdiri atas 8 taraf, yaitu berturut-turut 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, dan 21 jam, dengan ulangan 3 kali. Parameter yang diukur meliputi: uji alkohol, kadar air, kadar lemak, kadar protein, dan jumlah mikroba susu pasteurisasi selama penyimpanan. Analisis data menggunakan analisis varian dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, kadar lemak, dan jumlah mikroba pada perlakuan suhu pasteurisasi tidak berbeda nyata (P>0,05), tetapi berbeda nyata (P<0,05) pada perlakuan lama penyimpanan. Sementara itu, kadar protein berbeda nyata (P<0,05) baik pada perlakuan suhu pasteurisasi maupun lama penyimpanan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa susu pasteurisasi masih baik dikonsumsi sampai umur penyimpanan 15-21 jam, sedangkan kadar proteinnya cenderung lebih baik apabila dipasteurisasi pada suhu 65 0 C.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat

Daya Tahan Hidup Toxoplasma gondii dalam Susu Kambing pada Pasteurisasi Suhu Rendah Waktu Lama dan Suhu Tinggi Waktu Singkat

Susu kambing segar sebanyak 250 ml dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan di dalam penangas air dengan suhu 63 ºC selama 30 menit dan 72 °C selama 15 detik serta diamati. Parameter yang diamati setelah pasteurisasi adalah uji mikrobiologi dengan metode angka lempeng total, agar darah dan uji Storch. Cara uji angka lempeng total yaitu dipindahkan 1 ml suspensi dari susu pasteurisasi yang ada dalam erlenmeyer dengan pipet steril ke dalam larutan 9 ml BPW 0.1% untuk dibuat pengenceran 10 -1 , 10 -2 dan 10 -3 . Masing-masing 1 ml diambil dari larutan tersebut ke cawan petri secara duplo, ditambahkan 15-20 ml Plate Count Agar dan setelah beku inkubasikan pada suhu 37 ºC selama 24-48 jam. Cawan petri dipilih yang jumlah angka koloninya antara 25-250 cfu/gram, lalu ditentukan rata-rata yang merupakan jumlah kuman per 1 gram. Pengujian dengan menggunakan agar darah yaitu diambil susu yang telah dipasteurisasi dengan menggunakan jarum inokulasi lalu digoreskan pada agar darah, selanjutnya diinkubasi dalam suhu 37 °C selama 18-24 jam. Keesokan harinya dilakukan pengamatan. Prosedur uji Storch yaitu diisi 5 ml susu ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 0.5 ml HCl paraphenylene diamine 2% dan juga ditambahkan 4 tetes H 2 O 2 0.5%, Campuran tersebut dikocok dan diamati warnanya. Hasil uji ditandai
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN SATUAN SUHU, WAKTU, KECEPATAN, DAN DEBIT

PEMBELAJARAN SATUAN SUHU, WAKTU, KECEPATAN, DAN DEBIT

Untuk mengawali pembelajaran kecepatan di sekolah dasar, tanyakan kepada siswa apakah mereka sudah pernah mendengar kata cepat, atau kecepatan, dan kapan kata cepat atau kecepatan itu digunakan. Mungkin siswa akan menjawab bahwa kata-kata itu mereka gunakan pada saat meperhatikan mobil yang sedang melaju, atau pesawat terbang yang sedang diangkasa, dan lain-lain. Sampaikan kepada siswa sebuah kalimat yang ada kaitannya dengan kecepatan, misalnya, “Sebuah mobil menempuh jarak 60 km dalam waktu 1 jam. Mobil itu dikatakan mempunyai kecepatan rata-rata 60 km per jam dan ditulis 60 km/jam”. Berikan beberapa pertanyaan lagi yang berkaitan dengan penggunaan kecepatan rata-rata dalam km/jam.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

DAFTAR ISI - Enung Nurlia semnas 2013 RETROGRESI DAN REAGING PADUAN ALUMINIUM 7075 DAN EVALUASI PROSEDUR YANG DIGUNAKAN 411 419

DAFTAR ISI - Enung Nurlia semnas 2013 RETROGRESI DAN REAGING PADUAN ALUMINIUM 7075 DAN EVALUASI PROSEDUR YANG DIGUNAKAN 411 419

Untuk paduan-paduan aluminium seri 7xxx, kekuatan yang lebih tinggi, perbaikan ketahanan korosi, dan laju pertumbuhan retakan fatik yang lebih rendah dapat diperoleh melalui aging pada temperatur tinggi. Karena sifat-sifat yang dimiliki oleh presipitat penguat, banyak variabel yang harus dipertimbangkan pada saat aging paduan 7xxx diantaranya interval waktu pada temperatur kamar antara quenching dan dimulainya aging. Alasan bagaimana pengaruh penundaan terhadap sifat paduan yang dihasilkan belum sepenuhnya dipahami, akan tetapi terlihat berhubungan dengan derajat supersaturasi yang ada dalam keadaan quench sampai terjadinya reversi GP-zones selama natural aging.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PEMETAAN KUALITAS UDARA DAN PENGAMATAN U

PEMETAAN KUALITAS UDARA DAN PENGAMATAN U

Perubahan iklim global yang menjadi perhatian masyarakat dunia adalah gejala global warming (panas dunia) yang diketahui terjadi sebagai akibat dari penipisan lapisan ozon di lapisan stratosfer. Lapisan ozon berfungsi menyerap radiasi surya terutama sinar ultraviolet sebelum mencapai permukaan meningkatnya suhu udara di permukaan bumi,dan menimbulkan gejala global warming (panas dunia). Suhu udara permukaan adalah salah satu unsur cuaca yang merupakan besaran fisis terukur dan dapat menerangkan keadaan cuaca di suatu tempat. Hal tersebut dikarenakan suhu udara bersifat dinamis dan sangat di pengaruhi oleh unsur-unsur cuaca lainnya seperti curah hujan, kelembaban udara, intensitas radiasi dan tekanan udara.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TER

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PASTEURISASI TER

Pasteurisasi adalah pemanasan susu dengan suhu dan waktu tertentu. Pemanasan pada suhu pasteurisasi dimaksudkan untuk membunuh sebagian kuman patogenik yang ada dalam susu, dengan seminimum mungkin kehilangan gizinya dan mempertahankan semaksimal mungkin sifat fisik dan cita rasa susu segar (P URNOMO dan A DIONO , 1987). Metode pasteurisasi

4 Baca lebih lajut

PENGARUH pH DAN WAKTU AGING DALAM SINTESIS SILIKA XEROGEL BERBASIS SEKAM PADI

PENGARUH pH DAN WAKTU AGING DALAM SINTESIS SILIKA XEROGEL BERBASIS SEKAM PADI

silika semakin besar seiring dengan meningkatnya pH dan rendemen terbesar diperoleh di sekitar pH 7. Selain itu, menurut penelitian Affandi [4] yang mempelajari tentang sintesis silika xerogel dari abu bagasse tebu dengan variasi waktu pematangan gel (aging) 10, 18, 28, 38 dan 48 jam menemukan waktu aging optimum adalah 18 jam dan silika xerogel yang dihasilkan memiliki kapasitas adsorpsi sebesar 1,68 mL/g serta kemurnian mencapai 99% berat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH dan waktu aging terhadap sintesis silika xerogel dan mengetahui hasil karakterisasi silika xerogel.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh suhu dan lama proses aging terhadap sifat fisikokimia surfaktan MESA jarak pagar

Pengaruh suhu dan lama proses aging terhadap sifat fisikokimia surfaktan MESA jarak pagar

Selanjutnya dilakukan dengan proses transesterifikasi. Proses transesterifikasi dilakukan dengan mereaksikan minyak jarak pagar hasil proses esterifikasi dengan 15%-v/v metanol. Reaksi transesterifikasi dipercepat dengan penambahan katalis KOH sebanyak 1%-v/v. Pengadukan dilanjutkan kembali selama 1 jam dengan suhu dipertahankan 60 o C sampai terbentuk warna kecoklatan yang menandai telah terbentuknya gliserol sebagai produk samping. Pada akhir reaksi akan diperoleh dua lapisan. Komponen-komponen yang bersifat polar seperti sisa katalis KOH dan metanol bercampur dengan gliserol menempati bagian bawah hasil reaksi, sedangkan metil ester akan menempati bagian atas hasil reaksi. Setelah diendapkan beberapa saat sampai terpisah sempurna, maka kedua lapisan tersebut dipisahkan. Metil ester selanjutnya dicuci menggunakan air untuk melarutkan dan memisahkan komponen polarnya. Sisa air yang terkandung kemudian diuapkan melalui proses pengeringan sehingga diperoleh hasil metil ester yang mengandung kadar air yang sangat kecil.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (5)

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (5)

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan tiga kali ulangan. Perlakuan terdiri dari dua faktor; faktor pertama yaitu perlakuan suhu air perendaman yang terdiri dari tiga taraf yaitu 30+2 0 C, 40+2 0 C dan 50+2 0 C, dan faktor kedua yaitu lama perendaman yang terdiri dari empat taraf yaitu 1, 3, 5 dan 7 menit. Setelah produk mengalami perendaman maka segera di dinginkan dalam refrigerator dengan suhu 5 ± 2 o C selama 12 jam sebelum ditempatkan pada show case untuk display dengan suhu 10 ± 2 o C. Sebagai control, saturan penelitian tidak mengalami perendaman dan dibiarkan disimpan pada suhu kamar dan yang lainnya disimpan pada suhu display. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda rataan dengan uji jarak berganda Duncan (Gomez dan Gomez, 1976)
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Teh merupakan minuman paling banyak dikonsumsi didunia dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Teh mengandung antioksidan yang bermanfaat dalam mencegah penyakit degeneratif seperti kanker sistem pencernaan, paru-paru, dan prostat. Teh juga mengandung zat yang tidak dikehendaki, yaitu kafein. Zat ini menimbulkan gejala insomnia, pernapasan meningkat, dan gelisah. Khasiat dan dampak berbahaya teh tergantung pada cara menyeduh teh. Semakin lama teh direndam, maka kafein dalam teh akan semakin terekstrak sehingga terjadi oksidasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar kafein dalam teh celup dengan berbagai perlakuan suhu dan waktu. Analisa kadar kafein menggunakan Spektrofotometer UVmini-1240, dengan proses ekstraksi menggunakan kloroform. Rancangan penelitian dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor yaitu; faktor 1: suhu penyeduhan 70°C (A1), 85°C (A2), 100°C (A3) dan faktor 2: waktu penyeduhan 5 menit (B1), 10 menit (B2), 15 menit (B3). Hasil penelitian menunjukkan kadar kafein tertinggi pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 10 menit yaitu, 0,124% dan kadar kafein terendah pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 15 menit, yaitu 0,001%.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (1)

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (1)

Salah satu penyebab terjadinya pelayuan adalah karena adanya proses transpirasi atau penguapan air yang tinggi melalui bukaan-bukaan alami seperti stomata, hidatoda dan lentisel yang tersedia pada permukaan dari produk sayuran daun tersebut (Kays, 1991). Kadar air (85-98%) dan rasio antara luas permukaan dengan berat yang tinggi dari produk memungkinkan laju penguapan air berlangsung tinggi sehingga proses pelayuan dapat terjadi dengan cepat. Selain faktor internal produk, faktor eksternal seperti suhu, kelembaban serta kecepatan aliran udara berpengaruh terhadap kecepatan pelayuan. Mekanisme membuka dan menutupnya buakaan-buakaan alami pada permukaan produk seperti stomata adalah dipengaruhi oleh suhu dari produk. Pada kondisi dimana suhu produk relatif tinggi maka buakaan-buakaan alami cenderung membuka dan sebaliknya pada keadaan suhunya relative rendah maka buakaan alami mengalami penutupan (PMA, 1988).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENGGORENGAN TERHADAP KOMPOSISI PROKSIMAT PADA TEMPE KEDELAI  Pengaruh Waktu Dan Suhu Penggorengan Terhadap Komposisi Proksimat Pada Tempe Kedelai.

PENGARUH WAKTU DAN SUHU PENGGORENGAN TERHADAP KOMPOSISI PROKSIMAT PADA TEMPE KEDELAI Pengaruh Waktu Dan Suhu Penggorengan Terhadap Komposisi Proksimat Pada Tempe Kedelai.

Pendahuluan: Pengolahan pangan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan berbagai reaksi kimia yang bersifat menguntungkan atau merugikan. Analisis proksimat adalah analisis komponen mayor dari bahan pangan, seperti air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat. Protein merupakan salah satu zat gizi penting yang mudah bereaksi pada pengolahan dengan panas. Tempe mengandung berbagai nutrisi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat dan mineral. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh waktu dan suhu penggorengan terhadap komposisi proksimat pada tempe kedelai.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (2)

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (2)

Persentase penurunan berat sayuran bawang prei dan sawi cina setelah satu hari pemajangan menunjukkan suhu air perendaman 50 o C pada proses crisping memberikan penurnan berat secara umum lebih tinggi (Gambar 2). Satu kemungkinan yang terjadi adalah adanya peningkatan suhu akibat pencelupan ke dalam air hangat menyebabkan peningkatan suhu produk. Dengan karateristik morfologinya bawang prei dan sawi cina yang telah meningkat suhunya sulit untuk didinginkan dengan cepat sehingga proses respirasi dan transpirasi masih berlangsung tinggi yang berakibat pada penurunan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang hanya dicelup pada suhu 30 o C.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

S FIS 1104927 Chapter 5

S FIS 1104927 Chapter 5

Sintesis magnet nano barium heksaferit menggunakan metode sol gel dengan kitosan sebagai surfaktan diikuti waktu aging dan pemanasan larutan tapioka telah berhasil dilakukan. Dari hasil analisis dan pembahasan didapat bahwa peningkatan waktu aging dari 0 jam, 2 jam, dan 4 jam dapat meningkatkan fasa BaFe 12 O 19 dan mengurangi fasa hematite -Fe 2 O 3 yang

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (4)

Pengaruh Suhu Air dan Lama Waktu Perenda (4)

rendah dibandingkan dengan 30 dan 40 o C. Jelas ditunjukkan bahwa bahwa peningkatan suhu perendaman tidaklah selalu menyebabkan peningkatan difusi air ke dalam produk, hal ini kemungkinan disebabkan karena mekanisme terbukanya bukaan alami stomata tergantung pada suhu maksimum fisiologis metabolisme dari produk. Menurut Story dan Simons (1989) bahwa produk hortikultura secara umum suhu 45 o C adalah suhu maksimum kritis karena mulai pada suhu tersebut produk sangat mengalami kemunduran dimana laju respirasi turun drastis dan cenderung menuju pada pelayuan dan kematian bila suhu ditingkatkan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects