suhu penyeduhan

Top PDF suhu penyeduhan:

View of PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TEH BUAH SALAK BONGKOK PADA VARIASI SUHU PENYEDUHAN

View of PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TEH BUAH SALAK BONGKOK PADA VARIASI SUHU PENYEDUHAN

senyawa-senyawa yang berada dalam air seduhan teh buah salak bongkok sehingga ada pengaruh dari suhu penyeduhan terhadap aktivitas antioksidannya. Menurut Swasono [5],antioksidan dapat berbentuk gizi seperti Vitamin E dan C, non-gizi (pigmen karoten, likopen, flavonoid dan klorofil) dan enzim (glutation peroksidase, koenzim Q10 atau ubiquinon). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Afrianti [3], penapisan fitokimia terhadap simplisia buah salak Bongkok menunjukkan adanya senyawa flavonoid, alkaloid, terpenoid, tannin katekat dan kuinon yang berpotensi sebagai antioksidan. Berdasarkan isolasi senyawa yang dilakukan Afrianti [3] terhadap ekstrak buah salak, diperoleh senyawa metil pirol-2,4 dikarboksilat yang diduga kuat bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan karena strukturnya memiliki ikatan rangkap yang terkonjugasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EVALUASI KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIAWI TEH ROSELLA (Hibiscus sabdariffa linn) PADA BERBAGAI BENTUK DAN SUHU PENYEDUHAN EVALUATION CHARACTERISTIC OF PHYSICOCHEMICAL PROPERTIES OF ROSELLA TEA (Hibiscus Sabdariffa linn) IN SOME SHAPES AND TEMPERATURE SKRIPSI

EVALUASI KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIAWI TEH ROSELLA (Hibiscus sabdariffa linn) PADA BERBAGAI BENTUK DAN SUHU PENYEDUHAN EVALUATION CHARACTERISTIC OF PHYSICOCHEMICAL PROPERTIES OF ROSELLA TEA (Hibiscus Sabdariffa linn) IN SOME SHAPES AND TEMPERATURE SKRIPSI

Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan skripsi dan penyusunan laporan yang berjudul: “EVALUASI KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIAWI TEH ROSELLA (Hibiscus sabdariffa linn) PADA BERBAGAI BENTUK DAN SUHU PENYEDUHAN”. Laporan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi kelengkapan akademis guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pangan. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

11 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR TANIN PADA SEDUHAN TEH

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR TANIN PADA SEDUHAN TEH

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpakan Rahmat, Taufik serta Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “ Pengaruh Suhu Penyeduhan terhadap Kadar Tanin pada Seduhan Teh ” tepat pada waktunya. Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan jenjang pendidikan Program Studi D3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

12 Baca lebih lajut

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KLORIN PADA TEH CELUP

KARYA TULIS ILMIAH PENGARUH SUHU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KLORIN PADA TEH CELUP

Tabel 2.1 : Kandungan Kimia dalam Teh ........................................................... 6 Tabel 2.2 : Sifat Fisik Klorin ............................................................................ 27 Tabel 3.1 : Tabulasi Data .................................................................................. 37 Tabel 4.1 : Hasil Kadar Klorin pada Teh Celup terhadap Suhu Penyeduhan ... 38 Tabel 4.2 : Distribusi Hasil Kadar Klorin pada Teh Celup Terhadap Suhu

17 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

Kebanyakan masyarakat Indonesia membuat satu cangkir teh dengan formulasi 5-10 gram teh yang diseduh dalam 200 ml air panas dengan lama penyeduhan 5 menit (Somantri, 2011). Akan tetapi, beberapa negara Eropa, penyeduhan teh dilakukan selama 20 menit. Hal tersebut tidak mengakibatkan peningkatan dalam kandungan flavonoid yang dihasilkan. Teh yang diseduh dengan menuang 500 ml air mendidih pada 5 gram daun teh dengan lama penyeduhan lima menit mengandung flavonoid sebesar 30-40 mg/l (Afriansyah, 2006). Hampir semua senyawa yang terkandung di dalam teh mudah larut dalam air, kecuali tanin. Sebagai contoh, ketika teh diseduh selama 1-2 menit pertama, semua kafein akan larut tanpa tanin. Tanin merupakan senyawa yang larut dalam air tidak dalam waktu yang cepat akan tetapi tanin dapat bertahan di suhu tinggi. Menurut Astill et al. (2001), senyawa-senyawa kimia seperti polifenol, kafein, tanin, dan theaflavin semakin menurun jumlahnya seiring meningkatnya suhu dan waktu penyeduhan teh.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

KARAKTERISASI TEH BERBAHAN DASAR TEH HIJAU, KULIT LIDAH BUAYA DAN JAHE DENGAN VARIASI KOMPOSISI DAN SUHU PENYEDUHAN

Kebanyakan masyarakat Indonesia membuat satu cangkir teh dengan formulasi 5-10 gram teh yang diseduh dalam 200 ml air panas dengan lama penyeduhan 5 menit (Somantri, 2011). Akan tetapi, beberapa negara Eropa, penyeduhan teh dilakukan selama 20 menit. Hal tersebut tidak mengakibatkan peningkatan dalam kandungan flavonoid yang dihasilkan. Teh yang diseduh dengan menuang 500 ml air mendidih pada 5 gram daun teh dengan lama penyeduhan lima menit mengandung flavonoid sebesar 30-40 mg/l (Afriansyah, 2006). Hampir semua senyawa yang terkandung di dalam teh mudah larut dalam air, kecuali tanin. Sebagai contoh, ketika teh diseduh selama 1-2 menit pertama, semua kafein akan larut tanpa tanin. Tanin merupakan senyawa yang larut dalam air tidak dalam waktu yang cepat akan tetapi tanin dapat bertahan di suhu tinggi. Menurut Astill et al. (2001), senyawa-senyawa kimia seperti polifenol, kafein, tanin, dan theaflavin semakin menurun jumlahnya seiring meningkatnya suhu dan waktu penyeduhan teh.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TERHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Teh merupakan minuman paling banyak dikonsumsi didunia dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Teh mengandung antioksidan yang bermanfaat dalam mencegah penyakit degeneratif seperti kanker sistem pencernaan, paru-paru, dan prostat. Teh juga mengandung zat yang tidak dikehendaki, yaitu kafein. Zat ini menimbulkan gejala insomnia, pernapasan meningkat, dan gelisah. Khasiat dan dampak berbahaya teh tergantung pada cara menyeduh teh. Semakin lama teh direndam, maka kafein dalam teh akan semakin terekstrak sehingga terjadi oksidasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar kafein dalam teh celup dengan berbagai perlakuan suhu dan waktu. Analisa kadar kafein menggunakan Spektrofotometer UVmini-1240, dengan proses ekstraksi menggunakan kloroform. Rancangan penelitian dengan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor yaitu; faktor 1: suhu penyeduhan 70°C (A1), 85°C (A2), 100°C (A3) dan faktor 2: waktu penyeduhan 5 menit (B1), 10 menit (B2), 15 menit (B3). Hasil penelitian menunjukkan kadar kafein tertinggi pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 10 menit yaitu, 0,124% dan kadar kafein terendah pada suhu penyeduhan 70°C dan waktu penyeduhan 15 menit, yaitu 0,001%.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEH HIJAU DAN TEH HITAM BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN - Unika Repository

EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEH HIJAU DAN TEH HITAM BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN - Unika Repository

Salah satu minuman fungsional yang banyak dikonsumsi karena kandungan antioksidannya adalah teh. Jenis teh dapat dibedakan berdasarkan proses fermentasinya, yaitu teh hijau dan teh hitam. Teh juga dapat dibedakan lagi berdasarkan bentuknya, yaitu teh celup dan teh curah. Dalam proses penyiapannya, keduanya memerlukan proses penyeduhan yang dapat mempengaruhi warna hasil seduhan teh dan kandungan antioksidannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh durasi waktu dan suhu penyeduhan teh terhadap aktivitas antioksidan teh hijau dan teh hitam dalam bentuk curah dan celup, serta pengaruh proses penyeduhan terhadap warna teh. Adapun suhu yang digunakan untuk penyeduhan, yaitu pada suhu 90 o C dan suhu 100 o C dengan waktu penyeduhan 1 menit, 3 menit, dan 5 menit. Hasil menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dimiliki oleh teh hijau curah yang diseduh pada suhu 100 o C selama 5 menit, yaitu 97,20 ± 0,96%. Aktivitas antioksidan terendah terdapat pada teh hitam celup yang diseduh pada suhu 90 o C selama 1 menit yaitu 80,51 ± 0,74%. Berdasarkan bentuk tehnya, ternyata warna pada teh curah lebih gelap dibandingkan teh celup. Selain itu, semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu penyeduhan, maka warna teh hasil seduhan akan semakin gelap. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat direkomendasikan penyeduhan yang baik pada suhu 100 o C dengan waktu penyeduhan selama 5 menit.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu dan Waktu Penyeduhan Teh Hitam (Camellia sinensis) serta Proses Pencernaan In Vitro terhadap Aktivitas Inhibisi Lipase

Pengaruh Suhu dan Waktu Penyeduhan Teh Hitam (Camellia sinensis) serta Proses Pencernaan In Vitro terhadap Aktivitas Inhibisi Lipase

Penelitian ini menunjukkan bahwa suhu penyeduhan, waktu penyeduhan, dan kombinasi keduanya selama penyeduhan teh hitam memengaruhi besarnya inhibisi enzim lipase, total fenol, dan kadar tanin terkondensasi. Setelah melewati simulasi pH pencernaan, ekstrak teh hitam menunjukkan adanya penurunan daya inhibisi enzim lipase, kandungan total fenol, dan kadar tanin terkondensasi yang signifikan. Daya inhibisi enzim lipase pada ekstrak awal dilakukan untuk memberikan informasi awal sebelum ekstrak teh melewati simulasi pH pencernaan secara in vitro. Nilai inhibisi paling tinggi dihasilkan oleh ekstrak awal teh hitam yang diseduh pada suhu 70 o C selama 5 menit (62.44%) dan 100 o C selama 15 menit (63.21%), namun nilainya lebih rendah dari kontrol positif Orlistat (71.64%). Besarnya inhibisi enzim lipase oleh ekstrak teh hitam setelah melewati simulasi pH sistem pencernaan secara in vitro akan memberikan gambaran inhibisi yang terjadi di dalam usus halus. Daya inhibisi enzim lipase setelah melewati proses pencernaan secara in vitro paling tinggi secara statistik dihasilkan oleh teh hitam yang diseduh pada suhu 70 o C selama 5 menit (47.91%), 70 o C selama 10 menit (46.38%), dan 100 o C selama 15 menit (54.23%), namun masih lebih rendah dari Orlistat (62.00%). Ekstrak teh hitam yang dihasilkan mengandung jumlah total fenol berkisar 35.50-43.51 mg GAE/g berat kering. Total fenol tertinggi diperoleh dari ekstrak teh yang diseduh pada suhu 100 o C selama 5 dan 15 menit, yaitu sebesar 43.51 dan 42.22 mg GAE/g berat kering. Kandungan kadar tanin terkondensasi pada ekstrak teh hitam yang dihasilkan sebesar 0.352-0.429 g LE/100 g berat kering. Ekstrak hasil penyeduhan 100 o C 15 menit menghasilkan kadar tanin terkondensasi tertinggi dan berbeda nyata dari ekstrak lainnya, yaitu 0.429 g LE/100 g berat kering. Berdasarkan uji korelasi, komponen fenolik dan tanin terkondensasi diduga memiliki peran dalam menghambat enzim lipase pada perlakuan suhu awal penyeduhan 70 o C, sedangkan pada perlakuan suhu awal penyeduhan 85 o C dan 100 o C diduga yang berperan adalah tanin terkondensasi.
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN LAMA WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN SENYAWA ALKALOID PADA TEH CELUP DAUN SIRSAK(Annona muricata L.) - Unika Repository

PENGARUH SUHU DAN LAMA WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KANDUNGAN SENYAWA ALKALOID PADA TEH CELUP DAUN SIRSAK(Annona muricata L.) - Unika Repository

Daun sirsak (Annona muricata L.) kaya akan kandungan senyawa antioksidan seperti tannin, flavonoid, annonaceuous acetogenius(alkaloid), polifenol, dan saponin yang mampu menghambat dan mereduksi radikal bebas. Pengolahan daun sirsak dengan perebusan membutuhkan waktu yang lama dansuhu yang tinggi dapat merusak senyawa antioksidan. Pengolahan daun sirsak menjadi teh celup dapat mengatasi kendala ini, namun dibutuhkan penelitian untuk mengetahuivariasi suhu dan lama waktu penyeduhan teh untuk mendapatkan kandungan antioksidan dan alkaloid yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisisaktivitas antioksidan dan kandungan senyawa alkaloid dari teh celup daun sirsak. Metode yang dilakukan adalah denganmemberikan variasiwaktu penyeduhanselama 1, 3, dan 5 menitserta variasi suhu penyeduhan yang digunakan adalah 80 o C, 90 o C, dan 100 o Cdengandilakukan pengulangan sebanyak 3 kali pada setiap sampel seduhan teh daun sirsak. Pengukuran aktivitas antioksidan dan kandungan alkaloidini menggunakan metode UV- Visspektrofotometri(λ 517 dan 430 nm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel teh daun sirsak dengan suhu penyeduhan 100 o C selama 5 menit memiliki aktivitas antioksidan yang optimal yaitu 81,951%. Sedangkan pada pengujian alkaloid, penyeduhan dengan suhu 100 o C selama 5 menit memiliki hasil kandungan alkaloid yang optimal juga
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Batang Teh Hijau (Camelia Sinensis L.) Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Penentuan Suhu dan Waktu Optimum Penyeduhan Batang Teh Hijau (Camelia Sinensis L.) Terhadap Kandungan Antioksidan Kafein, Tanin dan Katekin - Repositori UIN Alauddin Makassar

Teh merupakan salah satu minuman yang banyak disukai dan dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia setelah air putih, bahkan sebagian besar masyarakat memanfaatkan teh sebagai minuman yang menyehatkan karena mengandung antioksidan. Antioksidan dapat melindungi sel-sel dari kerusakan yang disebabkan oleh molekul tidak stabil. Penentuan suhu dan waktu optimum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan antioksidan kafein, tanin dan katekin. Dalam suatu bahan pangan diharapkan mengandung kadar kafein rendah dengan polifenol yang tinggi. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode ekstraksi yang dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil yang diperoleh yaitu kadar kafein terendah pada suhu 70 o C selama 15 menit sebesar 0,5183 %, kadar tanin tertinggi pada penyeduhan suhu 70 o C selama 5 menit yaitu 4,783 %, kadar katekin tertinggi yaitu pada suhu penyeduhan 85 o C dengan waktu penyeduhan 5 menit sebesar 1,1427 %. Sehingga diperoleh optimum pada suhu 70 o C penyeduhan 5 menit, yang memiliki aktivitas antioksidan sebesar 56,75 %.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu dan Lama Penyeduhan Teh Hijau (Camellia sinensis) serta Proses Pencernaan secara In vitro terhadap Penghambatan Aktivitas Enzim Alfa Amilase dan Alfa Glukosidase secara In vitro

Pengaruh Suhu dan Lama Penyeduhan Teh Hijau (Camellia sinensis) serta Proses Pencernaan secara In vitro terhadap Penghambatan Aktivitas Enzim Alfa Amilase dan Alfa Glukosidase secara In vitro

18 15 menit mempunyai nilai total fenol yang berada pada posisi ketiga. Untuk sampel dengan nilai total fenol terkecil adalah sampel dengan interaksi suhu penyeduhan 100 o C selama 30 menit (Lampiran 25). Hal ini menunjukkan pada suhu 100 o C selama 5 menit komponen bioaktif dapat terekstrak dengan baik dan semakin lamanya waktu pengekstrakan nilai total fenol akan semakin menurun karena teroksidasi oleh panas, sehingga pada penyeduhan 100 o C selama 30 menit menunjukkan nilai total fenol terkecil. Telah diyakini sebelumnya bahwa waktu ekstraksi yang terlalu lama akan memicu pemaparan oksigen lebih banyak yang akan meningkatkan peluang terjadinya oksidasi senyawa fenolik (Shahidi dan Naczk 2004). Menurut Marostica et al. (2010) beberapa komponen fenol bersifat termosensitif dan semakin tinggi suhu ekstraksi maka harus ditangani dengan hati-hati. Menurut Pardo et al. (2010) procyanidin yang merupakan salah satu komponen fenol, banyak terdegradasi pada pemanasan dengan suhu 98 o C selama 90 menit dan suhu 120 o C selama 20 menit. Fenol teroksidasi menghasilkan produk hasil oksidasi berupa p-benzokuinon, asam dikarboksilat, dan karbondioksida. (Volgina et al. 2005). Geldenhuys (2009) mengukur dan membandingkan total fenol pada wine belum teroksidasi dan wine yang sudah teroksidasi (telah diberi penambahan oksigen) dengan metode folin- ciocalteau. Hasil penelitian tersebut memberikan informasi bahwa kandungan fenol pada wine yang diberi penambahan oksigen mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. Telah diketahui bahwa pada pengukuran total fenol dengan metode folin ciocalteau, fosfotungstat-fosfomolibdat tereduksi oleh gugus OH pada senyawa fenol menghasilkan molibdenum-tungsten. Produk fenol teroksidasi telah kehilangan atom hidrogen sehingga sebagian dari fosfotungtat-fosfomolibdat tidak dapat tereduksi sehingga mengurangi intensitas warna biru yang terukur pada spektrofotometer.
Baca lebih lanjut

169 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KAFEIN DARI KOPI BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS.

penyeduhan yang baik adalah pada 10 menit. Dan hasil sidik ragam yang diperoleh menunjukkan suhu air seduhan dan lama waktu penyeduhan berpengaruh nyata terhadap kadar kandungan kimia (kafein, dan polifenol). Selanjutnya penelitian tentang pengaruh suhu dan waktu dilakukan oleh Widyotomo (2012), dengan memvariasikan suhu penyeduhan, waktu, dan konsentrasi pelarut yang digunakan pada kopi Robusta. Dari hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan adanya pengaruh suhu,waktu dan pelarut yang digunakan yaitu pada suhu optimum 90 o C
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TRHADAP KADAR KAFEIN  Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYEDUHAN TEH CELUP TRHADAP KADAR KAFEIN Pengaruh Suhu Dan Waktu Penyeduhan Teh Celup Terhadap Kadar Kafein.

Secara umum semakin tinggi suhu dan lama ekstraksi suatu zat, maka kadar suatu zat tersebut juga akan semakin tinggi. Namun, berdasarkan hasil penelitian ini, dengan analisa Mann-Whitney Test menyimpulkan bahwa suhu dan waktu pada perlakuan ini belum bisa mempengaruhi kadar kafein dalam teh celup merk 'S'. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain produk teh celup merk 'S' ini mungkin tidak mengandung kafein atau jumlah kafein dalam teh celup yang sangat sedikit sehingga oleh analisa Mann-Whitney Test tidak dianggap berpengaruh. Faktor lain mengapa suhu dan waktu tidak mempengaruhi kadar kafein teh celup adalah waktu menyeduh teh yang masih kurang lama serta suhu penyeduhan yang kurang tinggi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

pengaruh suhu terhadap laju respirasi ke

pengaruh suhu terhadap laju respirasi ke

Hasil yang diperoleh dalam percobaan yaitu pada suhu rendah (dalam lemari es) diperlukan volume HCl sebesar 138,2 ml, pada percobaan suhu kamar diperlukan volume HCl sebesar 94,55 ml sedangkan pada percobaan suhu tinggi diperlukan volume HCl sebesar 98,2 ml. Sedangkan, hasil untuk suhu kontrol memerlukan volume HCl masing- masing sebagai berikut : suhu rendah 131 ml, suhu kamar 74,5 ml, suhu tinggi 131,45 ml. Jika diperhatikan diperoleh perbandingan volume HCl pada perlakuan kontrol yaitu volume HCl pada suhu kamar lebih kecil dari volume HCl pada suhu rendah, dan volume HCl pada suhu rendah lebih kecil dari volume HCl pada suhu tinggi (suhu kamar < suhu rendah < suhu tinggi).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGAWETAN PADA SUHU RENDAH

PENGAWETAN PADA SUHU RENDAH

berkurang.Pembekuan menyebabkan terjadinya :? perubahan tekstur? pecahnya emulsi lemak? perubahan fisik dan kimia dari bahanPerubahan yang terjadi tergantung dari komposisi makanan sebelum dibekukan. Konsentrasi padatan terlarut yang meningkat, akan merendahkan kemampuan pembekuan. Bila dalam larutan mengandung lebih banyak garam, gula, mineral, dan protein, akan menyebabkan titik beku lebih rendah dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membeku.Dibandingkan dengan pemanasan dan pengeringan, maka pembekuan dalam pengawetan sebenarnya lebih berorientasi pada usaha penghambatan tumbuhkembangnya mikroba serta pencegahan kontaminasi yang akan terjadi. Oleh karena itu jumlah mikroba dan kontaminasi atau kerusakan awal bahan pangan sangat penting diperhitungkan sebelum pembekuan. Jadi sanitasi dan higiene pra-pembekuan ikut menentukan mutu makanan beku. Produk pembekuan yang bahan asalnya mempunyai tingkat kontaminasi tinggi, akan lebih cepat rusak atau lebih cepat turun mutunya dibandingkan dengan bahan yang pada awalnya lebih rendah kadar kontaminasinya.Teknik-teknik Apakah yang Dilakukan pada Pembekuan ?Teknik-teknik Pembekuan :1. Penggunaan udara dingin yang diiupkan atau gas lain dengan suhu rendah kontak langsung dengan makanan. Contohnya alat pembeku terowongan (?tunnel freezer ? ).2. Kontak tidak langsungMakanan atau cairan yang telah dikemas kontak dengan permukaan logam (lempengan silindris) yang telah didinginkan dengan cara mensirkulasikan cairan pendingin. Contohnya alat pembeku lempeng ( ?plate freezer ? ) .3. Perendaman langsung makanan ke dalam cairan pendingin atau menyemprotkan cairanpendingin di atas makanan, misalnya nitrogen cair, freon, atau larutan garam.Dalam sistem pendingin diperlukan suatu medium pemindahan panas yang disebut ?refrigeran ?. Yang dimaksud dengan refrigeran yaitu suatu bahan yang dapat menghilangkan atau memindahkan panas dari suatu ruang tertutup atau benda yang didinginkan.Sifat-sifat refrigeran dalam sistem pendingin, a.l. :? Titik didih rendah? Titik kondensasi rendah? Tidak menimbulkan karat pada logam? Tidak mudah menimbulkan iritasi / luka? Harganya relatif murah? Mudah dideteksi dalam jumlah kecilRefrigeran yang sering digunakan, a. l. :? Ammonia ( NH3 )? Metil khlorida ( CH3Cl )? Freon 12 atau dichlorofluorometana ( CCl2F2)? Karbon dioksida ( CO2 )? Sulfur dioksida ( SO2 )? Propane ( C3H8 )Sirkulasi udara dalam lemari es perlu dijaga untuk mencegah pengeringan dari produk dan menghilangkan panas dari produk dan dari dinding lemari es. Sebagian besar makanan mengandung air dalam kadar yang tinggi, karena itu jangan dibiarkan bahan terbuka terhadap sirkulasi udara yang cepat. Kelembaban dalam ruang es perlu dikontrol karena perbedaan uap diantara lemari es dan makanan menyebabkan hilangnya air dari makanan yang tidak
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Efek Analgesik Ekstrak Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Roxb. Var. Rubrum) pada Mencit Putih jantan dengan metode Pododolorimetri - Ubaya Repository

Efek Analgesik Ekstrak Rimpang Jahe Merah (Zingiber officinale Roxb. Var. Rubrum) pada Mencit Putih jantan dengan metode Pododolorimetri - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian uji efek analgesik ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber Officinale Roxb. Var. Rubrum) dan sebagai hewan coba digunakan mencit putih jantan (Mus muculus) yang diinduksi dengan pemberian stimulus elektrik pada bagian telapak kaki mencit. Pada penelitian ini digunakan 45 ekor mencit putih jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing 15 ekor untuk kelompok uji, 15 ekor untuk kelompok pembanding dan 15 ekor untuk kelompok kontrol. Untuk kelompok uji diberi ekstrak rimpang jahe merah (yang diperoleh dari penyeduhan serbuk rimpang jahe merah dengan dosis 52 mg/kg), kelompok pembanding diberi larutan asetosal dengan dosis 80mg/kg dan kelompok kontrol diberi aquadem 20 ml/kg dimana setiap kelompok diberikan secara oral. Parameter yang diamati berupa lamanya waktu (detik) tangisan atau jeritan yang dikeluarkan oleh mencit putih jantan selama diberi tegangan listrik 15 volt setiap 10 menit sebagai respon nyeri dari akibat stimulus nyeri yang diberikan oleh alat pododolorimeter. Berdasarkan analisis data secara statistik disimpulkan pada kelompok uji memiliki hasil yang berbeda bermakna dengan kelompok kontrol dan kelompok uji juga memiliki hasil yang berbeda bermakna dengan kelompok pembanding. Jadi dapat disimpulkan bahwa ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale Roxb. Var. Rubrum) mempunyai efek analgesik namun tidak sebaik asetosal (sebagai pembanding).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH SUHU TERHADAP SERAPAN INFRAMERAH DEKAT SENYAWA EUGENOL

PENGARUH SUHU TERHADAP SERAPAN INFRAMERAH DEKAT SENYAWA EUGENOL

Dari data spektrum hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa molekul-molekul senyawa eugenol sensitif terhadap suhu. Suhu mengubah panjang ikatan molekul-molekul eugenol. Hal ini terlihat dari perubahan jarak intensitas molekul eugenol. Semakin tinggi suhu, maka jarak antara intensitasnya akan semakin besar, getaran molekulnya semakin besar. Tetapi semakin rendah suhunya, jarak antara intensitas serapan semakin kecil, getaran molekulnya semakin kecil. Semua getaran hanya terjadi pada keadaan dasar saja. Hal ini disebabkan karena pengaruh perbedaan suhu yang besar antara suhu eugenol dan suhu lingkungan. Sehingga banyak panas yang terbuang dari molekul eugenol ke lingkungan dalam waktu yang cepat. Jadi, pada percobaan ini suhu hanya digunakan untuk mengubah panjang ikatan molekul eugenol. Selain itu jumlah molekul eugenolnya semakin berkurang karena molekul eugenol merupakan senyawa aromatik yang pada suhu ruang saja (25°C) mudah menguap.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Ilmu Bahan Makanan Min

Laporan Praktikum Ilmu Bahan Makanan Min

Dalam pengamatan ini, bubuk coklat yang telah tersedia dipisahkan menjadi bubuk coklat A dan B. Bubuk coklat A diseduh menggunakan air panas, sedangkan bubuk coklat B diseduh menggunakan air dingin yang kemudian keduanya diamati perbedaan aroma, rasa, gumpalan, dan warna dari setiap cara penyeduhan. Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat organoleptik hasil penyeduhan coklat dengan menggunakan air panas dan air dingin agar diketahui cara penyeduhan bubuk coklat secara optimal. Dalam pegamatan yang dilakukan digunakan gelas sebagai tempat hasil penyeduhan coklat, serta sendok untuk mengaduk larutan coklat
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Show all 9370 documents...

Related subjects