sumber daya genetik

Top PDF sumber daya genetik:

Perlindungan Sumber Daya Genetik Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten

Perlindungan Sumber Daya Genetik Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten

Keanekaragaman hayati (biological diversity) merupakan tumpuan hidup manusia, karena setiap orang membutuhkannya untuk menopang kehidupan, sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri, farmasi maupun obat-obatan. Tingginya tingkat keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia maka potensi keanekaragaman sumber daya genetik pun berlimpah, dimana persebarannya meliputi berbagai daerah. Setiap daerah di Indonesia memiliki beberapa sumber daya genetik yang khas, yang sering berbeda dengan yang ada di daerah lain.Perlindungan atas sumber daya genetik menjadi urgent, demikian juga untuk Indonesia.Karena kekayaan sumber daya hayati termasuk juga genetik rentan pencurian atau pembajakan (biopiracy) ataupun juga pemanfaatan yang terus menerus, tidak tepat dan tidak sah (illegal utilization).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah- buahan Lokal di Kabupaten Badung.

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah- buahan Lokal di Kabupaten Badung.

Buah lokal adalah semua spesies buah-buahan yang dikembangkan dan dibudidayakan di Bali, sedangkan produk buah lokal adalah semua hasil dan turunan hasil yang berasal dari tanaman buah lokal yang masih segar atau yang telah diolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies sumber daya genetik buah- buahan lokal yang ada di Kabupaten Badung, menyusun profil sumber daya genetik buah-buahan lokal menyangkut karakter morfologi, kegunaan, gambar sumber daya genetik, buah unggulan, musim panen, dan menyusun peta geografis sebaran sumber daya genetik buah-buahan lokal. Penelitian ini dilakukan di seluruh Kecamatan di Kabupaten Badung yakni; Kecamatan Petang, Mengwi, Abiansemal, Kuta Utara, Kuta, dan Kuta Selatan. Penelitian dilaksanakan dari Bulan Pebruari sampai September 2015. Pelaksanaan penelitian terdiri atas enam tahap yaitu, pengumpulan data sekunder, pengumpulan data primer, survei spesies sumber daya genetik dan sebarannya, identifikasi karakter morfologi spesies sumber daya genetik, penentuan buah unggulan, dan menyusun peta geografis. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 34 spesies dan 51 sub-spesies buah-buahan lokal yang tersebar di enam kecamatan. Berdasarkan nilai LQ (Location Quotient) Kabupaten Badung memiliki 8 komoditas buah unggulan yaitu alpukat, durian, jambu biji, nangka, nenas, pisang, sawo, dan semangka.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah-buahan Lokal di Kabupaten Klungkung.

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah-buahan Lokal di Kabupaten Klungkung.

Indonesia merupakan negara tropik yang berada di wilayah khatulistiwa terbentang antara 06˚04 '30'' Lintang Utara - 11˚00 '36'' Lintang Selatan (Sunarjo, 2013). Di Indonesia pola persebaran buah-buahan dan berbagai jenis tumbuhan umumnya mengikuti pola persebaran iklim. Wilayah Indonesia tergolong beriklim basah, sehingga berbagai jenis tumbuh-tumbuhan terutama buah-buahan dapat tumbuh dengan subur. Ciri tersebut menandakan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama sumber daya hayati. Indonesia memiliki potensi besar sebagai penghasil buah tropis yang mampu bersaing di pasar ekspor mancanegara, namun harus didukung dengan kualitas dari sumber daya genetik buah- buahan lokal yang di hasilkan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Pembentukan Core Collection untuk Sumber Daya Genetik Padi Toleran Kekeringan

Pembentukan Core Collection untuk Sumber Daya Genetik Padi Toleran Kekeringan

Koleksi sumber daya genetik padi di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) berjumlah lebih dari 4.000 aksesi, terdiri atas varietas lokal, varietas unggul, galur-galur elit, dan introduksi. Koleksi ini berupa padi sawah, gogo, rawa, dan pasang surut yang telah dikumpulkan dari seluruh provinsi di Indonesia. Pengelolaan koleksi yang meliputi kegiatan konservasi, rejuvenasi, karakterisasi, dan evaluasi terhadap cekaman biotik, abiotik, serta mutu, dokumentasi, dan distribusi me- merlukan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak se- dikit. Namun kegiatan karakterisasi dan evaluasi belum diidentifikasi secara detail dan dikelompok- kan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

Puji dan syukur kepada Allah Tritunggal Maha Kudus yang selama ini melimpahkan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Tradisional, sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

14 Baca lebih lajut

UU 4 2006 perngesahan sumber daya genetik untuk tanaman

UU 4 2006 perngesahan sumber daya genetik untuk tanaman

Gejala erosi terhadap keanekaragaman genetik disadari oleh CGIAR, sehingga pacta bulan Juni tahun 1974 CGIAR membentuk Dewan Internasional untuk Sumber Daya Genetik Tanaman (International Board on Plant Genetic Resources - IBPGR). Pacta tahun 1983, FAO melalui Resolusi 8/83 mengeluarkan Upaya Internasional mengenai Sumber Daya Tanaman untuk Pangan dan Pertanian (The International Undertaking on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture-IUPGRFA). Upaya Internasional ini menerapkan akses terbuka bebas, yang menimbulkan kontroversi antara pemilikan dan pemanfaatan sumber daya genetik. Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1991 FAO mengeluarkan Resolusi 3/91 mengenai pengakuan terhadap kedaulatan negara atas sumber daya genetiknya. Resolusi ini telah membuka jalan untuk dikembangkannya penyempurnaan terhadap IUPGRFA.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Dalam simposium diusulkan beberapa penelitian agrobiodiver- sity, kerangka kerja pengembangan dan pengelolaan pada region Asia Pasifik bertujuan memberikan tun- tunan untuk negara yang berbeda dalam hal kemungkinan pendekat- an strategis, area penelitian, pe- ngembangan dan pengelolaan, dan kerja sama regional sehingga agro- biodiversity akan dapat mendukung pengembangan pertanian berkelan- jutan bagi region. Kontribusi dari agrobiodiversity dalam menjamin pertanian yang produktif dan ber- kelanjutan tetap merupakan hal vital bagi ketahanan pangan. Terse- dianya sumber daya genetik meru- pakan hal paling penting dalam pe- ningkatan produktivitas. Sebagai- mana pentingnya biodiversity untuk meningkatkan hasil dalam meng- amankan ketahanan pangan, de- mikian juga sama pentingnya untuk meningkatkan kualitas ketersediaan dalam hal produksi yang berkelan- jutan, nutrisi, kualitas hasil, diversifi- kasi produk, dan keamanan pa- ngan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

Pemanfaatan SDG dan pengetahuan tradisional ini sesuai dengan prinsip adil dan berimbang betujuan agar setiap masyarakat hukum adat dan komunitas lokal itu atas sumber daya genetik tersebut mendapat manfaat yang adil. Hal ini sesuai dengan teori kedilan sosial yang dikemukakan John Rawls dalam bukunya A Theory Of Justice. Menurut Rawls, situasi ketidaksamaan harus diberikan aturan yang sedemikian rupa sehingga paling menguntungkan golongan masyarakat yang paling lemah. Hal ini terjadi kalau dua syarat dipenuhi (Rawls, 1973: 89). Pertama, situasi ketidaksamaan menjamin maximum minimorum bagi golongan orang yang paling lemah, artinya situasi masyarakat harus sedemikian rupa sehingga dihasilkan untung yang paling tinggi yang mungkin dihasilkan bagi golongan orang-orang kecil. Kedua, ketidaksamaan diikat pada jabatan-jabatan yang terbuka bagi semua orang, maksudnya supaya kepada semua orang diberikan peluang yang sama besar dalam hidup.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik Kalimantan Tengah

Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah memiliki luas wilayah 15,38 juta ha yang terdiri dari 61,1 ribu ha daerah pantai, 1,53 juta ha daerah per- airan umum, dan 17,79 juta ha daratan. Wilayah daratan yang luas ini terdiri atas berbagai tipologi lahan seperti lahan sulfat masam, gambut, dan lahan kering. Untuk menggali potensi dan melestarikan plasma nutfah tanaman obat spesifik Kalimantan Tengah telah dilaksanakan kegiatan eksplorasi dan karakteri- sasi. Dari kegiatan ini dapat disusun deskripsi berbagai jenis tanaman tersebut untuk inventarisasi, karakterisasi, dan koleksi tanaman obat secara ex situ dalam bentuk kebun pembibitan. Metode kegiatan meliputi (1) eksplorasi, (2) konservasi ex situ, (3) karakterisasi, dan (4) dokumentasi. Hasil kegiatan adalah koleksi secara ex situ tanaman obat sebanyak 15 aksesi. Kata kunci: Sumber daya genetik tanaman, eksplorasi, karak-
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber daya Genetik Tanaman Buah-buahan Lokal di Kabupaten Tabanan.

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber daya Genetik Tanaman Buah-buahan Lokal di Kabupaten Tabanan.

Propinsi Bali memiliki beragam jenis sumber daya genetik buah-buahan. Kabupaten Tabanan seperti pula daerah lainnya di Bali, mempunyai beraneka ragam jenis tanaman buah-buahan namun sumber daya buah-buahan masih kurang dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin sehingga perlu dilakukan identifikasi dan karakterisasi sumber daya genetik tanaman buah-buahan lokal di Kabupaten Tabanan guna untuk mendukung pengembangan sumber daya genetik tersebut.

20 Baca lebih lajut

Identifikasi Ketahanan Sumber Daya Genetik Kedelai terhadap Hama Pengisap Polong

Identifikasi Ketahanan Sumber Daya Genetik Kedelai terhadap Hama Pengisap Polong

Pengamatan dilakukan terhadap populasi ketiga jenis hama pengisap polong, skor ketahanan/persentase biji, dan polong terserang. Aksesi dengan persentase biji terserang (skor 1) di- golongkan pada aksesi tahan. Hasil penelitian menunjukkan, dari ketiga jenis hama pengisap polong, R. linearis ditemukan paling banyak, hampir pada setiap petak pengujian dengan tingkat serangan yang berbeda. Berdasarkan skor gejala kerusakan pada biji dan polong telah diidentifikasi 17 aksesi plasma nutfah kedelai yang tergolong tahan terhadap hama pengisap polong. Persentase biji dan polong rusak terendah di- temukan pada aksesi TGM 131-1-1-1B dan GM425Si. Kedua aksesi tersebut dapat digunakan sebagai sumber tetua persi- langan dalam program pemuliaan untuk ketahanan terhadap hama pengisap polong.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah- Buahan di Kabupaten Karangasem.

Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Buah- Buahan di Kabupaten Karangasem.

Menurut statistik dalam angka di Kabupaten Karangasem tidak hanya terdapat tanaman salak, tetapi juga tanaman buah lainnya seperti alpukat, sawo, mangga, pisang, manggis, dan lain sebagainya. Namun demikian, pada saat ini belum ada laporan secara rinci terkait karakter morfologi, karakter agronomi, dan tempat tumbuh (lingkungan tumbuh) buah yang diunggulkan, jenis buah yang dikelompokkan dalam tanaman buah komersial, tanaman buah langka, dan tanaman buah yang dipergunakan untuk bahan upakara dan obat-obatan. Disamping itu belum juga ada peta sebaran geografis keberadaan tanaman buah- buahan tersebut di Kabupaten Karangasem. Melalui identifikasi dan karakterisasi serta peta geografis sebaran tersebut sangat penting maknanya untuk pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya genetik buah-buahan yang ada di Kabupaten Karangasem.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

KEBIJAKAN BIOTEKNOLOGI DALAM KERJASAMA DI BIDANG MIKROBIOLOGI

KEBIJAKAN BIOTEKNOLOGI DALAM KERJASAMA DI BIDANG MIKROBIOLOGI

Negara yang akan mengambil sumber daya genetik dari negara lain harus mengakui negara asal dari sumber daya genetik tersebut. Selain itu, perjanjian yang dibuat harus saling menguntungkan dan disepakati semua pihak yang terlibat (bilateral maupun multilateral). Kerja sama saling menguntungkan tersebut mencakup: 1. Penyediaan fasilitas sarana dan prasarana untuk kemudahan akses ke sumber daya genetik yang telah disepakati, 2. Akses tersebut dibatasi hanya pada sumber daya genetik yang telah disepakati saja, 3. Semua pihak berusaha untuk membangun dan melaksanakan penelitian mengenai sumber daya genetik tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Identifikasi Sumber Daya Genetik Kedelai Tahan Penyakit Virus Kerdil Kedelai

Identifikasi Sumber Daya Genetik Kedelai Tahan Penyakit Virus Kerdil Kedelai

tanaman/pot). Seminggu setelah tanam, setiap tanaman diino- kulasi dengan SSV virulen (inokulum hasil uji virulensi pada kegiatan, pertama tingkat serangan SSV diamati secara visual sebulan setelah inokulasi. Pada tahap kedua sekitar 10% (84 aksesi) yang bereaksi sangat tahan hingga agak tahan (skor ketahanan 0-3) dievaluasi kembali ketahanannya terhadap SSV secara serologi menggunakan metode Dot-ELISA. Pada tahap ketiga, aksesi tahan terpilih pada penelitian tahap kedua diuji kofirmasi kembali dengan menggunakan teknik Dot-ELISA. Hasil penelitian menunjukkan di antara dua isolat SSV yang diuji, isolat J (Jakarta) lebih virulen dibandingkan dengan isolat B (Bogor). Isolat J digunakan sebagai sumber inokulum untuk evaluasi selanjutnya. Tujuh belas aksesi telah diidentifi- kasi sebagai aksesi tahan SSV, tiga di antaranya memperlihat- kan konsistensi ketahanan dan penampilan agronomis yang baik, yaitu MLG2521, B3570, dan Taichung. Ketiga aksesi diidentifikasi sebagai sumber gen/tetua tahan SSV.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

TINJAUAN PUSTAKA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

Pasal tersebut mengindikasikan bahwa akses pemanfaatan SDG juga dikaitkan dengan pengetahuan tradisional yang terkait dengan SDG tersebut. Pemanfaatan SDG dilakukan dengan memperhatikan hak kepemilikan atau penguasaan atas SDG, akses terhadap SDG, hak Kekayaan Intelektual atas hasil rekayasa genetik, keamanan atas hasil rekayasa genetik, dan kaidah-kaidah etika dan agama dalam rekayasa genetik. Dalam pengaturan pemanfaatan SDG salah satunya diatur dengan adanya benefit sharing. Terkait dengan persoalan benefit sharing ini, CBD telah membentuk working group khusus untuk mengembangkan pola-pola dan mencari bentuk yang paling tepat untuk benefit sharing yang dapat direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh negara-negara anggota. Kelompok kerja ini disebut dengan Ad hoc Open- Ended Working Group on Access and Benefit Sharing, yang telah berupaya mengumpulkan praktik-praktik yang pernah dilakukan negara- negara anggotanya baik itu dari negara yang telah maju maupun dari negara yang berkembang dalam rangka untuk menetapkan suatu guideline dalam pelaksanaan benefit sharing (Kantor HKI-IPB Kantor Hak Kekayaan Intelektual Institut Pertanian Bogor, 2005: 173).
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Idiotipa Tanaman Pisang dan Sumber Daya Genetik Pendukungnya

Idiotipa Tanaman Pisang dan Sumber Daya Genetik Pendukungnya

Indonesia merupakan salah satu asal penyebaran dan pusat keragaman tanaman pisang. Pemanfaatan kekayaan genetik tersebut dalam perakitan varietas unggul harus dirancang secara terarah pada idiotipa yang diinginkan yang disusun dengan mempertimbangkan efisiensi produksi, kemudahan dalam pengelolaan tanaman, produktivitas tinggi, preferensi konsumen, kemudahan dalam distribusi buah serta tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan informasi genetik yang diperoleh dari karakterisasi plasma nutfah maka idiotipa tanaman pisang adalah sebagai berikut: bentuk tajuk tegak, tinggi tanaman < 2 m, tangkai tandan panjang, posisi tandan menggantung vertikal, seludang bunga persisten, ujung buah membulat, tebal kulit buah > 3 mm, buah persisten, umur genjah (< 8 bulan), umur petik < 3 bulan, jumlah sisir > 14 sisir, bobot tandan > 18 kg, daging buah pulen (untuk buah meja) atau kenyal (untuk pisang olahan), ukuran buah 75–100 g/buah (untuk buah meja) atau > 200 g/buah (untuk pisang olahan), bentuk buah lurus dan kompak, daya simpan > 2 minggu, rasa manis, tahan terhadap organisme pengganggu tanaman, serta adaptif. Karakter-karakter tersebut dapat diperoleh dari pisang Lilin, Jari Buaya, Kole, Calcuta, Barangan, Kluthuk, Randah, Blugu,
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA GENETIK RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DI MASA DEPAN

PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA GENETIK RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DI MASA DEPAN

Persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin menipis dan suatu saat dapat habis sama sekali. Pemakaian energi dari BBM juga menghasilkan polusi dan berakibat pada pemanasan global. Diperlukan upaya pengadaan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar yang bersumber dari fosil, sehingga perlu dikembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan seperti biofuel. Akan tetapi, proses budidaya beberapa tanaman sebagai sumber biofuel memerlukan lahan cukup luas dan lahan yang tersedia lebih diprioritaskan terhadap lahan budidaya tanaman pangan. Perairan Indonesia sebagai wilayah tropika memiliki sumberdaya plasma nutfah rumput laut sebesar 6,42% dari total biodiversitas rumput laut dunia. Luas wilayah yang menjadi habitat rumput laut di Indonesia sekitar 1,2 juta hektar sehingga rumput laut memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber bietanol tanpa harus menggunakan lahan yang dapat digunakan untuk kebutuhan pangan. Teknik yang dilakukan adalah dengan proses hidrolisa, fermentasi, kemudian dilakukan pemurnian dengan distilasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK DAN PENGETAHUAN TRADISIONAL.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki aneka ragam hayati terbesar di dunia. Hal tersebut didukung dengan laporan yang disampaikan oleh Direktorat Lingkungan Hidup, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) tahun 2003 bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi ke-2 di dunia setelah Brazil. Data ini didasarkan pada nilai keanekaragaman flora dan fauna (diversity value) dan nilai endemis dari keberadaan flora dan fauna tersebut (endemism value) (BAPPENAS, 2003:19). The World Conservation Monitoring Center juga melaporkan bahwa Indonesia menempati urutan kedua setelah Brazil dalam keragaman dan kekayaan Sumber Daya Genetik (selanjutnya disebut SDG) di dunia.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

status dunia trkini Sumber Daya Genetik

status dunia trkini Sumber Daya Genetik

Keragaman genetik berpotensi terancam oleh berbagai macam faktor, yang efeknya mungkin terjadi dalam beberapa cara – sistem produksi yang merusak dimana SDGT menjadi bagiannya, secara fisik merusak populasi ternak, atau memancing tindakan respon dimana respon itu sendiri merupakan ancaman. Kekuasaan yang mendorong terjadinya erosi genetik juga beragam dalam hal sejauh mana dipengaruhi oleh intervensi kebijakan, atau apabila tidak bisa dicegah, dalam hal apakah dapat dilakukan tindakan untuk mengurangi pengaruhnya pada keragaman SDGT, dalam literatur kesepakatan berkaitan dengan tren umum dan faktor-faktor ancaman SDGT. Contohnya, Rege dan Gibson (2003) mengidentifikasi penggunaan plasma nutfah exotik, perubahan sistem produksi, perubahan kesukaan produsen karena faktor sosial ekonomi, dan berbagai macam bencana (kekeringan, kelaparan, epidemi penyakit, perang/perselisihan penduduk) sebagai penyebab utama dari erosi genetik. Tisdell (2003) menyebutkan intervensi pembangunan, spesialisasi (menekankan pada produksi sifat pembawaan tunggal), introgresi genetika, perkembangan teknologi dan bioteknologi, tidak stabilnya kondisi politik dan adanya bencana alam. Akan tetapi agak langka analisis dari ancaman spesifik yang dihadapi oleh breed ternak tertentu, dan alasan kepunahan breed sebelumnya. Untuk breed sapi yang terancam di Afrika, Rege (1999) mencatat penggantian oleh breed lain, perkawinan silang dengan breed exotik atau dengan breed asli lainnya, konflik, kehilangan habitat, penyakit, program breeding yang ceroboh dan kurang berkelanjutan juga merupakan faktor-faktor ancaman. Demikian
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Makalah Konservasi Sumber Daya Genetik

Makalah Konservasi Sumber Daya Genetik

Pada beberapa tanaman pisang yang telah di domestikasi telah memiliki susunan kromosom triploid dengan genotype AAA, AAB atau ABB. Berbagai tanaman telah dikumpulkan dari berbagai sumbersumber independen di alam liar, sehingga peristiwa hibridisasi atau mutasi memberikan peningkatan pada karakter tanpa biji dan partenokarpi. Artinya melalui peristiwa hibridisasi terus menghasilkan keragaman baru (Pollefeys et al., 2004) dan kombinasi antar tetua. ( Simmond,1962) Terdapat 5 karakteristik tanaman pisang yang menyebabkan petani memilih tanaman tersebut untuk dibudidayakan yaitu dinatranya tranaman memiliki vigor yang baik, tidak berbiji, buah berkualitas dan kesat dimana keseluruhan terkait dengan poliploidi (triploid).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...