Systemic Lupus Erythematosus

Top PDF Systemic Lupus Erythematosus:

KUAlITAS HIDUP PeNDeRITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) BeRDASARKAN LUPUSQOL

KUAlITAS HIDUP PeNDeRITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) BeRDASARKAN LUPUSQOL

Saat ini jumlah penderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit SLE ini diketahui banyak menyerang wanita dengan usia antara 15–45 tahun. Pengobatan untuk penderita SLE saat ini hanya berguna untuk meredakan atau menghilangkan gejala yang muncul, namun belum dapat menyembuhkan sepenuhnya, sehingga suatu saat gejala dapat kembali muncul. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kualitas hidup yang dimiliki oleh 13 penderita SLE ditinjau dari kesehatan fisik, kesehatan emosional, citra diri, rasa sakit, perencanaan, kelelahan, hubungan intim dan ketergantungan pada orang lain. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancang bangun studi kasus pada 13 orang penderita SLE yang bertempat tinggal di Surabaya dan merupakan anggota dari Yayasan Lupus Indonesia cabang Surabaya. Data primer diperoleh dari wawancara kepada responden dengan bantuan kuesioner LupusQol dan pengukuran berat badan dengan bantuan timbangan berat badan digital. Pada penelitian ini terdapat 13 orang penderita SLE dengan jenis kelamin wanita yang berusia antara 15–40 tahun, berpendidikan tinggi dengan status gizi yang normal, memiliki pekerjaan dan berpendapatan Rp > 1.740.000, telah menderita SLE > 5 tahun dan memiliki pengetahuan yang baik mengenai Lupus dan SLE. Kualitas hidup yang dimiliki oleh penderita SLE menunjukkan nilai yang baik di 3 aspek yakni pada aspek kesehatan fisik, kesehatan emosional, dan citra diri. Pada aspek kelelahan, rasa sakit dan ketergantungan pada orang lain masih ditemukan pasien yang memiliki kualitas buruk. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah responden yang merupakan penderita SLE mayoritas memiliki kualitas hidup yang cukup baik kecuali aspek rasa sakit, kelelahan dan ketergantungan pada orang lain.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR DAN BACKWARD CHAINING SKRIPSI DWI SEPTIANA SARI 131421044

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR DAN BACKWARD CHAINING SKRIPSI DWI SEPTIANA SARI 131421044

Sistem pakar (expert system) adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Masalah yang dapat diselesaikan dengan menggunakan sistem pakar salah satunya adalah mendiagnosis penyakit systemic lupus erythematosus (SLE) pada diri seseorang dengan menggunakan metode certainty factor untuk menghitung derajat kepastian dari masing-masing gejala yang di dapat langsung dari pakar dan backward chaining sebagai mesin penalarannya yang digunakan user untuk mengasumsikan kemungkinan lupus yang mereka derita. Lupus disebut juga penyakit otoimun karena sistem imun tubuh kita akan menyerang sistem jaringan dan organ tubuh kita sendiri dan lupus memiliki gejala yang hampir sama dengan penyakit biasa pada umumnya dan banyak orang yang tidak tahu akan penyakit ini bahkan sebagian dari mereka hanya menduga- duga saja. Pada penelitian ini user memilih salah satu dari tiga jenis lupus sebagai asumsi mereka antara lain: systemic lupus erythematosus, discoid lupus erythematosus dan drug induced lupus erythematosus. Sistem akan memberikan pertanyaan- pertanyaan seputar gejala dari penyakit lupus. Nilai certainty factor terhadap ketiga jenis lupus berdasarkan input-an user adalah 97% terhadap systemic lupus erythematosus, 37% terhadap discoid lupus erythematosus dan 28% terhadap drug induced lupus erythematosus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan menunjukkan kemungkinan user menderita systemic lupus erythematosus sebesar 97%. Untuk selanjutnya sistem akan memberikan solusi penanganannya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Menggunakan Metode Certainty Faktor dan Backward Chaining

Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Menggunakan Metode Certainty Faktor dan Backward Chaining

The expert system is a computer based application that used to solve the problems as thought by expert. The problems that can be solved by using an expert system are diagnosing systemic lupus erythematosus (SLE) disease using certainty factor method to calculate certainty degree of each symptoms that can directly from the expert and backward chaining as reasoning engine that used by user to assume the possibility of lupus that they suffered. Lupus is also called autoimmune disease because the system of body’s immune will attack the tissue and organ systems of our own and lupus have symptoms similar to common disease in general and many people don’t know about this disease and some of them just assumed. In this research, user selects one of three types of lupus as their assumptions, they are systemic lupus erythematosus, discoid lupus erythematosus and drugs induced lupus erythematosus. The system will provide the questions about symptoms of lupus disease. Certainty factor value of the three types of lupus is based on user input is 97% of systemic lupus erythematosus, 37% of discoid lupus erythematosus and 28% of drugs induced lupus erythematosus. It can be concluded that the results of calculations indicate the possibility that user with systemic lupus erythematosus by 97%. For the next system will provide handling solutions.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Jejaring Sosial untuk Orang dengan Penyakit Systemic Lupus Erythematosus Menggunakan R4 Framework

Analisis Jejaring Sosial untuk Orang dengan Penyakit Systemic Lupus Erythematosus Menggunakan R4 Framework

Choosing components of a social network for a specific and vague user target is a complex task. This study is focused on analyzing daily life components of people with Systemic Lupus Erythematosus (SLE). The aim of this study is to provide a guideline for developing a social network for people with SLE. This study uses Lean and Mean method complementing with R4 framework as a specific conceptual social web development framework. The guideline which has been made then compared to the popular social network, Facebook, to measure its implementation potential. It summarizes the potential with percentage of 78% for nine privacy and policy set, 33% for three unique user aspects, and 55% for ten objects with its 88 features. To accurate the estimations, the multi-criteria component object are analyzed using the Analytic Hierarchy Process by 9.38% of consistency ratio. It prioritizes the three most important objects needed by people with SLE such as medicine corner by 17.8%, spaces 15%, and medical history 13.7%.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Autoimmune Hemolytic Anemia in Systemic Lupus Erythematosus Patient

Autoimmune Hemolytic Anemia in Systemic Lupus Erythematosus Patient

From our examination, we diagnosed the patient with Autoimmune Hemolytic Anemia + Systemic Lupus Erythematosus. Patient was treated with transfusion of 350 mL washed red cells and injection Methylprednisolone 125 mg/12 hours iv. After being transfused washed red cells we did routine blood examination Hb 6,8 g/dl, Leukosit: 2550 /mm3, Ht: 19%, Trombosit: 197.000/mm3. After being hospitalized for 10 days, the patient got clinical improvement with Hb 9,0 g/dl, Leukosit: 8200 /mm3, Ht: 19%, Trombosit: 329.000/mm3, and than patient was discharged with treatment Methylprednisolone 50mg/day (4-4-4) and Cyclosporin (sandimun) 2 x 100mg and we advised the patient to have medical control routinely.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Prevalensi Manifestasi Oral pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Komunitas Lupus (Cinta Kupu) Sumatera Utara

Prevalensi Manifestasi Oral pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Komunitas Lupus (Cinta Kupu) Sumatera Utara

Lupus erythematosus (LE) terdiri dari Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dan Discoid Lupus Erythematosus (DLE). Berbeda dengan DLE yang hanya akan menunjukkan manifestasi pada kulit, SLE merupakan tipe LE yang juga dapat menunjukkan manifestasi pada organ tertentu selain pada kulit. 13 Menurut para ahli reumatologi Indonesia, SLE adalah penyakit autoimun sistemik yang ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap autoantigen, pembentukan kompleks imun, dan disregulasi sistem imun, sehingga terjadi kerusakan pada beberapa organ tubuh. Perjalanan penyakit SLE bersifat eksaserbasi yang diselingi periode sembuh. Pada setiap penderita, peradangan akan mengenai jaringan dan organ yang berbeda. Beratnya penyakit SLE dapat bervariasi, mulai dari penyakit yang ringan sampai penyakit yang menimbulkan kecacatan, tergantung dari jumlah dan jenis antibodi yang muncul dan organ yang terlibat. 14
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

this PDF file Early Detection of Suspected Systemic Lupus Erythematosus in CommunityDwellings in West Java Indonesia | Ghassani | Althea Medical Journal 1 PB

this PDF file Early Detection of Suspected Systemic Lupus Erythematosus in CommunityDwellings in West Java Indonesia | Ghassani | Althea Medical Journal 1 PB

Background: Prevalence of systemic lupus erythematosus (SLE) has been known in almost all countries around the world. Contrary to this, in Indonesia, neither a national epidemiologic study on SLE nor any direct study on SLE in the general population has been conducted. Early detection of SLE is needed as a first step to determine prevalence of SLE in Indonesia as well as to prevent further complications. This study aimed to obtain the prevalence of suspected SLE in community-dwellings.

5 Baca lebih lajut

Hubungan Kualitas Tidur dengan Tingkat Aktivitas Penyakit SLE (Systemic Lupus Erythematosus) di RSUD Dr.Moewardi SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Hubungan Kualitas Tidur dengan Tingkat Aktivitas Penyakit SLE (Systemic Lupus Erythematosus) di RSUD Dr.Moewardi SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Ratna Ningsih, G0014197, 2017. Correlation Between Sleep Quality With SLE (Systemic Lupus Erythematosus) Disease Activity Level at Dr.Moewardi Hospital. Mini Thesis. Faculty of Medicine , Sebelas Maret University, Surakarta. Background : Systemic Lupus Erythematosus is a disease in which tissue and cell are destroyed by autoantibodies. The cause of this disease is unknown. This disease more often attacks women. There is no proper treatment for this disease. Treatment is focused only on stopping the inflammatory process. Poor sleep quality can also disrupt the self tolerance system that will lead to autoimmunity. This research is aimed to find out whether there is correlation between sleep quality and activity level of SLE disease in RSUD Dr.Moewardi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Systemic Lupus Erythematosus: Correlation between Sensory Knowledge, Self-efficacy, Preventive Action towards Trigger Factors, Self-care Practice and Quality of Life - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Systemic Lupus Erythematosus: Correlation between Sensory Knowledge, Self-efficacy, Preventive Action towards Trigger Factors, Self-care Practice and Quality of Life - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Introduction: Systemic Lupus Erythematosus (lupus) and its complications could lower individual’s health-related quality of life (HRQOL). Self-care is highly needed for sustaining self-involvement in lupus management. People with lupus need to have proper sensory knowledge and high self-efficacy for implementing preventive action towards trigger factors and self-care practice. This study aims to explain the correlation between sensory knowledge, self-efficacy, preventive action towards trigger factors, self-care practice and HRQOL in lupus patients. Method: This is a cross-sectional study mixing the model of Self-Care and Precede Proceed. Population was all lupus patients doing regular check up in Rheumatology Unit of Dr. Soetomo Hospital in October-December 2014. Sample size was 36 chosen by total sampling. Independent variables: sensory knowledge, self-efficacy, preventive action towards trigger factors and self-care practice; dependent variable: HRQOL. Instruments: ODAPUS-HEBI and LUPUSPRO. Data analysis: regression te st; α≤0.05. Result: 36 females respondents participated; suffered disease for 0.5 – 12 years.. Age range: 20-44 years old. Mostly were high school graduates, married and actively working. Most respondents have high sensory knowledge and self-efficacy; optimum preventive action and self-care practice, but HRQOL was not optimal. All data were normally distributed. Only sensory knowledge proved to be linear with HRQOL. There was a weak significant correlation identified between sensory knowledge and HRQOL (r=0.344, p=0.040); while self-efficacy, preventive action and self-care practice proved to have no correlation with HRQOL (p>α). Conclusion: Sensory knowledge is correlated with HRQOL in people with lupus. Self- efficacy, preventive action towards trigger factors and self-care practice were proved to have no correlation.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Hubungan antara Daya Dukung Keluarga terhadap Depresi Pasien SLE (Systemic Lupus Erythematosus) di Surakarta SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Hubungan antara Daya Dukung Keluarga terhadap Depresi Pasien SLE (Systemic Lupus Erythematosus) di Surakarta SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Family support itself has a supporting component of Instrumental support and emotional support that can guide someone when getting a problem in life. This study aimed to find out whether there is a relationship between family support and depression in SLE (Systemic Lupus Erythematosus) patients in Surakarta.

12 Baca lebih lajut

Pengobatan Imunologik Dengan Terapi Sel Target Terhadap Systemic Lupus Erythematosus (Studi Pustaka).

Pengobatan Imunologik Dengan Terapi Sel Target Terhadap Systemic Lupus Erythematosus (Studi Pustaka).

Sampai saat ini pengobatan untuk Systemic Lupus Erythematosus masih terus diteliti, tetapi dengan berkembangnya teknologi biologi molekuler tidak tertutup harapan ditemukannya terapi yang lebih efektif dan lebih aman untuk penyakit Systemic Lupus Erithematosus (SLE), walaupun penelitian masih dilakukan, hasil

13 Baca lebih lajut

Stevens Johnson Syndrome in a patient with systemic lupus erythematosus on tuberculostatic treatment

Stevens Johnson Syndrome in a patient with systemic lupus erythematosus on tuberculostatic treatment

A 22-year-old woman was admitted to the hospital because of 5-days history of redness and itch on her face. Additional complains were swelling on her feet, sore throat, and cough. Patient was on treatment for systemic lupus erythematosus and pulmonary tuberculosis (since 12 days). On physical examination, patient was alert, stable hemodynamic, anasarca edema, multiple purpuric macules lesion spread on her body, conjunctivitis of both eyes, multiple oral ulcers, erythema on genital mucosa. Laboratory results were anemia, leucopenia, hypoalbuminemia, proteinuria. We suspected this patient as Stevens Johnson syndrome due to tuberculostatic drugs. During treatment, we stopped the tuberculostatic drugs, and gave her parenteral methylprednisolone, with other supportive treatments. The patient was discharge after improvement of clinical condition and capable of self mobilization. (Med J Indones. 2012;21:235-9)
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) pada pasien Autoimmune Hemolytic anemia (AIHA) dengan komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di instalasi rawat inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode tahun 2009-2014.

Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) pada pasien Autoimmune Hemolytic anemia (AIHA) dengan komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di instalasi rawat inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode tahun 2009-2014.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit gangguan autoimun yang mempengaruhi beberapa sistemorgan termasuk kulit, ginjal, dan otak. Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang berpengaruhyaitu genetik, asal etnis, faktor lingkungan, dan obat-obatan(Sweet, Mahdavian, Singh, Ghazivini, McKinnon, and Jones, 2013).Systemic Lupus Erythematosus (SLE) ditandai dengan adanya peradangan, vaskulitis, deposisi kompleks imun, dan vasculopathy (Mok and Lau, 2003). Pengobatan pasien AIHA dengan komplikasi SLE harus efektif dan diperhatikan untuk mencegah faktor risiko yang dapat memperparah kondisi pasien sehingga diperlukan pemantauan salah satunya dengan evaluasi DRPs. Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu peristiwa atau keadaan yang melibatkan terapi obat, dimana dapat menghambat ataupun berpotensi mengganggu pasien dalam mencapai hasil optimum suatu terapi (Shareef and Shastry, 2014).
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Strategi kopling pada wanita penyandang systemic lupus erythematosus (SLE) - USD Repository

Strategi kopling pada wanita penyandang systemic lupus erythematosus (SLE) - USD Repository

Gejala yang ada dibedakan menjadi gejala umum dan gejala pada organ tertentu. Gejala umum yang sering ditemukan meliputi penderita sering lemah dan merasakan kelelahan yang berlebihan. Gejala seperti itu berkaitan dengan rendahnya kadar haegmologbin sehingga terjadi anemia, demam yang tidak jelas penyebabnya, sakit kepala dan pegal-pegal. Pada kulit gejalanya berupa ruam merah yang bentuknya menyerupai kupu- kupu di kedua pipi dan hidung (butterfly rash). Di bagian tubuh yang lain juga terdapat bercak merah yang berbentuk cakram dan terkadang bersisik, kerontokan rambut dan sariawan yang sering dan terkadang dengan jumlah yang banyak (oral ulcerations), kaki bengkak, sakit otot atau persendian (Savitri, 2005 : 46). Heri juga menyatakan bahwa lupus juga dengan mudah dapat menyerang organ-organ tubuh seperti mata, saraf, ginjal, hati, paru-paru, jantung bahkan jiwa pun bisa terancam namun demikian serangan lupus jarang mengenai organ tubuh sekaligus (2004 : 14) ).
Baca lebih lanjut

429 Baca lebih lajut

Kelainan Darah Pada Systemic Lupus Erythematosus

Kelainan Darah Pada Systemic Lupus Erythematosus

Penyakit jantung katup adalah manifestasi jantung pada penyakit lupus yang paling dikenal. Paling sering mengenai katup mitral. Keterlibatan miokard ditemukan pada otopsi 50% pasien SLE, tetapi hal ini jarang ditemukan secara klinis. 1 Pasien SLE dapat mengalami sesak nafas akibat berbagai penyebab. Infeksi paru-paru merupakan komplikasi paru tersering pada penderita SLE. Pasien SLE memiliki gangguan sistem imun, termasuk gangguan hipersensitifitas tipe lambat, fungsi sel T, fungsi makrofag. Acute noninfectious parenchymal pathology yang terjadi pada SLE termasuk acute lupus pneumonitis (ALP), diffuse alveolar hemorrhage (DAH), dan acute respiratorydistress syndrome (ARDS). 1
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

INTERVENSI PSIKOLOGI POSITIF UNTUK MENURUNKAN GEJALA DEPRESI PADA PENDERITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

INTERVENSI PSIKOLOGI POSITIF UNTUK MENURUNKAN GEJALA DEPRESI PADA PENDERITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

Faktanya, di dunia diperkirakan ada sekitar 5 juta penderita lupus atau yang dikenal dengan sebutan odapus (orang dengan lupus). Di Amerika Serikat, terdapat 1,2 juta odapus. Data dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI) menyebutkan pertambahan jumlah odapus di Indonesia setiap tahun mencapai 1.000 orang. Jumlah ini diyakini sebagai puncak gunung es, karena banyak odapus tidak terdiagnosa (Peter, 2010 ). Sedangkan (dalam Sutriyanto, 2011) jumlah odapus di Indonesia pada September 2010 berdasarkan data YLI ada sekitar 10.314 odapus dengan rentang umur antara 15-45 tahun. 90 persen di antaranya adalah perempuan muda dan 10 persen sisanya di derita oleh laki-laki dan anak-anak. Oleh karena itu, berdasar data statistik pengidap lupus, lupus juga disebut sebagai “penyakit perempuan”. Menurut Tiara Savitri, ketua YLI (dalam Pratama, 2010), jumlah 10.314 odapus tersebut yang telah terdaftar di YLI. Sedangkan di beberapa daerah, YLI masih belum memiliki jaringan yang luas sehingga masih banyak odapus yang belum terdata dan tertangani.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) berat pada laki-laki

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) berat pada laki-laki

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit inflamasi autoimun dengan manifestasi klinis, perjalanan penyakit, dan prognosis yang beragam. Secara klinis, SLE merupakan suatu penyakit kambuhan, dan sulit diperkirakan awal manifestasi secara akut dan tersamar, dapat menyerang berbagai organ tubuh. Penyakit ini dapat menyerang kulit, ginjal, membran serosa, sendi, dan jantung. Secara imunologis, penyakit ini melibatkan susunan autoantibodi yang membingungkan. 1,4,5

Baca lebih lajut

Keywords : corticosteroid, Systemic Lupus Erythematosus (SLE), DRP

Keywords : corticosteroid, Systemic Lupus Erythematosus (SLE), DRP

Pada kasus pasien lupus di bangsal penyakit dalam RSUP Dr.M.Djamil Padang dapat dilihat dosis terapi obat kortikosteroid metil prednisolon parenteral yang digunakan adalah 62,5 mg/hari, 125 mg/hari, 250 mg/hari, 375 mg/hari, 500 mg/hari. Sesuai literatur metil prednisolon parenteral diberikan dosis 10-500 mg/hari (Sweetman, 2009), 500-1000 mg/hari (Dipiro et al., 2011), 1 gr/hari (standar RS), metil prednisolon dosis tinggi yang diberikan intravena dengan dosis 0,5-1gram ke dalam NaCl 0,9% 100cc selama 1 jam diberikan secara 3 hari berturut-turut (Anonim, 2011). Berdasarkan data diatas tidak ditemukan adanya Drug Related Problem untuk dosis terlalu rendah dan dosis terlalu tinggi pada pemberian metil prednislon parenteral dan pemakaiannya sudah sesuai dengan standar literatur.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dengan Anemia Aplastik

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dengan Anemia Aplastik

Wanita 16 tahun demam intermitten, muka pucat, nyeri semua sendi, berobat ke praktek umum di berikan NSAID namun tidak ada perbaikan, pemeriksaan fisik malar rash, diskoid rash, ulkus mulut, konjuntiva pucat, kesan pansitopenia, dan pada pemeriksaan darah tepi kesan hipokrom mikrositer, ANA test (+), Anti DS DNA (+), Comb test (-) dan biopsi sumsung tulang dijumpai hiposeluler .Diagnosa: Systemik lupus eytematosus dengan Anemia Aplastik dan diberikan terapi methilprednisolon 250 mg/12 jam (3 hari) di tapering ke metilprednisolon 1mg/kgbb, klorokuin 1x250 mg.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Regulasi Emosi Odapus (Orang dengan Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus)

Regulasi Emosi Odapus (Orang dengan Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus)

Permasalahan terkait emosi ini cegah emosi yang sesungguhnya terjadi; penting bagi Odapus saat berhadapan serta peniadaan perilaku ekspresif untuk dengan kenyataan penyakit lupusnya mencegah pengungkapan perilaku ekspresif khususnya riwayat penyakit dengan fase dengan mempertimbangkan beberapa kekambuhan saat odapus justru meng- kemungkinan dampak respon pilihannya. harapkan optimalisasi kesehatan dalam Berdasarkan uraian di atas, diperoleh hidupnya. Odapus dapat dikatakan merasa- gambaran pentingnya regulasi emosi agar kan berbagai gejolak pengalaman hidup odapus mampu hidup berdamai dengan termasuk emosi yang membutuhkan peng- lupusnya. Di samping itu, wacana peng- aturan saat dihadapkan pada situasi yang alaman hidup odapus yang ada cukup tidak menyenangkan dalam proses per- memperlihatkan pentingnya penerimaan juangan aktualisasi eksistensi manusia. lupus dan konsistensi emosi maupun perilaku Pertanyaan lanjutan yang muncul adalah sebagai bentuk upaya konstruktif pada diri adakah regulasi emosi ini dimiliki oleh odapus. Sebuah pertanyaan yang muncul Odapus? Regulasi emosi yang bagai- dalam penelitian ini adalah bagaimana manakah yang dimiliki odapus sehingga regulasi emosi yang dimiliki odapus?
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 444 documents...