Tanah Sawah

Top PDF Tanah Sawah:

Kenampakan Pedologi Tanah Sawah Yang Ber

Kenampakan Pedologi Tanah Sawah Yang Ber

Pengolahan tanah sawah terbagi menjadi 2 yaitu pengolahan tanah untuk pesemaian dan pengolahan tanah untuk pertanaman padi. Pengolahan untuk pesemaian dibedakan menjadi dua yaitu pesemaian basah dan kering dimana yang membedakan adalah kondisi tanah dalam pesemaian tersebut. Sedangkan pengolahan untu pertanaman padi dilakukan dengan dua macam cara yaitu tradisional dan modern. Pengolahan dengan cara tradisional dilakukan dengan menggunakan peralatan pertanian sederhana seperti cangkul, sabit, bajak, serta garu yang semuanya itu dilakukan oleh tenaga manusia atau hewan. Berbeda dengan cara tradisional, pengolahan tanah yang modern dilakukan dengan mesin traktor dan peralatan pengolahan tanah yang lain. Tahapan pengerjaan pengolahan tanah yang basah terdiri dari pembersihan, perbaikan saluran dan galengan, pencangkulan, pembajakan, serta penggaruan. Semua tahapan tersebut harus dilakukan secara berurutan dalam rangka memperoleh tanah sawah yang baik dan berkualitas sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KAJIAN GEOKIMIA TANAH SAWAH BERBAHAN INDUK VULKANIS DI NAGARI SARIAK KEC. SUNGAI PUA KAB.AGAM SUMATERA BARAT.

KAJIAN GEOKIMIA TANAH SAWAH BERBAHAN INDUK VULKANIS DI NAGARI SARIAK KEC. SUNGAI PUA KAB.AGAM SUMATERA BARAT.

Kajian Geokimia Tanah Sawah Berbahan Induk Vulkanis membahas perubahan sifat kimia tanah sawah akibat penggenangan yang menyebabkan sifat kimia tanah berbeda dari sifat tanah aslinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji sifat geokimia tanah sawah berbahan induk vulkanis dan menyajikan informasi geokimia tanah sawah kedalam bentuk tabel, grafik, dan peta sehingga informasi dapat dipahami oleh pengguna lahan dan pengambil kebijakan penggunaan lahan dengan mudah. Dari penelitian yang telah dilakukan, tanah sawah pada lereng Barat Gunung Marapi telah kehilangan sifat penciri tanah andik yaitu Al o +½ Fe o ≥ 2% dan P retensi ≥ 85 %. Hal ini menunjukkan bahwa
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI KUALITAS TANAH SAWAH PADA BEBERAPALOKASI DI LEMBAH PALU DENGAN METODE SKORING LOWERY | Lantoi | AGROLAND 8323 27303 1 PB

IDENTIFIKASI KUALITAS TANAH SAWAH PADA BEBERAPALOKASI DI LEMBAH PALU DENGAN METODE SKORING LOWERY | Lantoi | AGROLAND 8323 27303 1 PB

Hasil Skoring Kualitas Tanah. Berdasarkan hasil skoring kualitas tanah yang disajikan dalam bentuk tabel menunjukkan bahwa tanah sawah di Lembah Palu memiliki kualitas tanah dengan kriteria tidak sehat dan kurang sehat. Pada tabel diatas dapat pula dilihat bahwa pada Desa Sidera, Sidondo, dan Kaleke memiliki hasil niali skoring yang sama yaitu 0,8 dengan kriteria kurang sehat, sedangkan pada Desa Pantoloan dan Wombo memiliki nilai skoring yang sama pula yaitu 1,6 dengan kriteria kurang sehat. Hal yang paling mendasari perbedaan hasil skoring kualitas tanah pada semua sampel tanah sawah ini yaitu sifat kimia tanah diantaranya perbedaan yang paling jelas terlihat pada nilai pH dan KTK tanah, dimana Desa Sidera, Sidondo, dan Kaleke memiliki pH kategori masam sampai agak masam, dengan nilai KTK kategori sangat rendah sampai rendah. Sedangkan pada Desa Pantoloan dan Wombo memiliki nilai pH kategori agak masam sampai netral, dengan nilai KTK kategori rendah sampai dengan sedang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Karakteristik dan optimalisasi tanah sawah di sentra produksi beras solok, Sumatera Barat

Karakteristik dan optimalisasi tanah sawah di sentra produksi beras solok, Sumatera Barat

Petani dengan modal cukup, menggunakan pupuk kimia dalam jumlah besar. Hasil pengamatan di lapang, pemberian pupuk kimia dalam jumlah besar memang dapat menghasilkan produksi tinggi, namun secara ekonomi belum tentu menghasilkan keuntungan yang tinggi pula. Bahkan pemberian pupuk secara berlebihan dapat menggangu keseimbangan hara, menurunkan kualitas tanah sawah dan munculnya dampak negatif pada lingkungan yang pada akhirnya mengancam keberlanjutan usahatani padi sawah. Dengan pengelolaan yang bervariasi, produksi yang dihasilkan bervariasi pula, pada tanah sawah dari endapan danau rata-rata produksi Cisokan 3.37 ton/ha, tanah sawah dari endapan sungai 4.46 ton/ha dan tanah sawah dari bahan induk volkanik 4.39 ton/ha GKG, sementara hasil tertinggi yang dapat dicapai adalah 7.08 ton/ha GKG. Selain masalah pengelolaan, perbedaan produksi Cisokan juga disebabkan sifat-sifat tanah yang mengontrol produksi Cisokan di masing-masing bahan induk berbeda. Rekomendasi pemupukan disusun berdasarkan faktor pengontrol produksi dan telah diuji di lapang guna mendapatkan rekomendasi pengelolaan lahan yang optimal, yaitu mampu berproduksi tinggi dan secara ekonomi menguntungkan, sehingga layak diusahakan. Pengelolaan yang diberikan pada TPL yang ada saat ini (existing) menciptakan suatu TPL baru yang berbeda dengan TPL sebelumnya yang disebut TPL expected. Berikut disajikan TPL expected di masing-masing bahan induk pada tanah sawah Sentra Produksi Beras Solok.
Baca lebih lanjut

304 Baca lebih lajut

Fraksionasi Fosfor Pada Tanah-tanah Sawah di Pulau Jawa

Fraksionasi Fosfor Pada Tanah-tanah Sawah di Pulau Jawa

Data BPS pada tahun 2008 menunjukkan bahwa Pulau Jawa dengan luas panen 5.74 juta ha mampu menyumbang 55% dari produksi gabah kering giling (GKG) di Indonesia (BPS 2009). Ditinjau dari penyebarannya lebih dari 60% tanah sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa (Kawaguchi dan Kyuma 1976; Rayes 2000). Peningkatkan produksi padi merupakan hal yang harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan gabah kering giling Indonesia. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi padi adalah dengan penggunaan pupuk termasuk pupuk Fosfor (P). Pada umumnya pupuk P yang diaplikasikan ke dalam tanah akan ditransformasikan menjadi bentuk P yang tersedia dan tidak tersedia bagi tanaman. Pengetahuan mengenai fraksionasi bentuk-bentuk P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa belum banyak dilaporkan. Informasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah sawah di Pulau Jawa dibutuhkan untuk manajemen pemupukan P. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi distribusi fraksi-fraksi P pada tanah-tanah sawah di Pulau Jawa.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Perubahan Beberapa Sifat Fisika Tanah Sawah Melalui Pemberian Bahan Organik Pada Lahan Pertanaman Semangka

Perubahan Beberapa Sifat Fisika Tanah Sawah Melalui Pemberian Bahan Organik Pada Lahan Pertanaman Semangka

Prasetyo, H.P., J.S. Adiningsih, K. Subagyono, dan R. D.M. Simanungkalit.2004. Mineralogi,Kimia, Fisika, dan Biologi Lahan Sawah. dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian.Saptana., I.W. Rusastra., H.P. Saliem., Supriati.2004. Prospek Pengembangan Pola Tanam dan Diversifikasi Tanaman Pangan di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

3 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ANTIBIOTIK DARI TANAH SAWAH Fitriani, Lisna Meylina, Laode Rijai

ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PENGHASIL ANTIBIOTIK DARI TANAH SAWAH Fitriani, Lisna Meylina, Laode Rijai

Salah satu habitat terbesar bakteri penghasil antibiotik adalah tanah. Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah baik secara terus-menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik isolat bakteri yang didapatkan dari tanah sawah Samarinda dan berpotensi sebagai penghasil antibiotik. Sampel tanah sawah diambil dengan kedalaman sekitar 15 cm dari permukaan tanah. Isolasi dilakukan dengan memilih isolat yang memiliki zona bening disekitarnya apabila berdekatan dengan koloni bakteri lain. Karakterisasi dilakukan dengan pengamatan secara langsung yaitu pengamatan secara makroskopis, mikroskopis dan uji reaksi biokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 isolat bakteri dengan hasil makroskopis sebagian besar berbentuk irregular. Isolat bakteri ini diujikan terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Salah satu isolat dengan kode 2CT memiliki aktivitas terhadap Escherichia coli yang merupakan bakteri gram negatif dan memiliki morfologi basil.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Pengolahan Tanah Sawah

Laporan Praktikum Pengolahan Tanah Sawah

Pengolahan tanah adalah suatu usaha untuk manipulasi tanah dengan menggunakan tenaga mekanis untuk menciptakan kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman (Latiefuddin, 2013). Pengolahan tanah sawah untuk tanaman padi dilakukan dengan melembekkan tanah sawah menggunakan alat-alat tertentu baik yang bersumber dari tenaga manusia, hewan maupun tenaga mesin. Pengelolaan tanah yang tepat berguna untuk meningkatkan kualitas tanah dan agregat tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan (Harrys dkk., 2014). Pengelolaan tanah juga dilakukan untuk maksud tertentu, bukan hanya sekedar dilakukan. Sebab kesalahan dalam pengolahan tanah dapat merusak struktur tanah, mempercepat terjadinya erosi, terjadinya perombakan bahan organik dengan cepat dan memadatkan tanah (Al Hadi dkk., 2012).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

makalah kesuburan tanah sawah id

makalah kesuburan tanah sawah id

Menurut Greenland (1997) karakteristik utama tanah sawah yang menentukan keberlanjutan sistem budidaya padi sawah sebagai berikut: (1) Penggunaan tanah secara kontinue tidak menyebabkan reaksi tanah menjadi masam. Hal ini berkaitan dengan sifat fisik, kimia tanah tergenang, dimana penggenangan menyebabkan terjadinya konvergensi pH tanah menuju netral. (2) Kondisi permukaan tanah sawah memungkinkan hara tercuci lebih cenderung tertampung kembali ke lahan bawahnya daripada keluar dari sistem tanah (3) Fosfor lebih mudah tersedia bagi padi sawah (4) Populasi aktif mikroorganisme penambat nitrogen mempertahankan oksigen organik. Faktor penting dalam pembentukan profil tanah sawah adalah genangan air di permukaan, penggenangan dan pengeringan yang bergantian. Proses pembentukan tanah sawah meliputi berbagai proses, yaitu (a) proses utama berupa pengaruh reduksi-oksidasi (redoks) yang bergantian; (b) penambahan dan pemindahan bahan kimia atau partikel tanah; (c) perubahan sifat fisik, kimia dan mikrobiologi tanah akibat penggenangan pada tanah kering yang disawahkan, atau perbaikan drainase pada tanah rawa yang disawahkan (Prasetyo et al., 2004).
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Pengaruh Aplikasi Biochar Sekam Padi Dan Kulit Biji Kopi Terhadap Hara P Dan Zn Serta Pertumbuhan Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Di Tanah Sawah Jenuh P

Pengaruh Aplikasi Biochar Sekam Padi Dan Kulit Biji Kopi Terhadap Hara P Dan Zn Serta Pertumbuhan Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Di Tanah Sawah Jenuh P

Dari uraian diatas, maka perlu diteliti bagaimana pengaruh biochar sekam padi dan kulit biji kopi terhadap hara P dan Zn serta pertumbuhan tanaman padi (Oryza sativa L.) di tanah sawah jenuh P serta berapa dosis yang optimal untuk memperbaiki keseimbangan hara P dan Zn di tanah sawah jenuh P.

4 Baca lebih lajut

Pemetaan Status Hara P total, P tersedia dan C organik Tanah Sawah Di Desa Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias Chapter III IV

Pemetaan Status Hara P total, P tersedia dan C organik Tanah Sawah Di Desa Hilibadalu Kecamatan Sogaeadu Kabupaten Nias Chapter III IV

Dari hasil analisis diperoleh bahwa sebaran C organik di lahan sawah tadah hujan di desa Hilibadalu didominasi oleh kriteria rendah, yaitu mencapai 71,49 % dari luas wilayah keseluruhan. Rendahnya kadar C organik di lahan sawah ini dapat disebabkan karena kebiasaan petani yang selalu mengumpulkan/membakar jerami padi setelah panen dan tidak mengembalikannya lagi ke lahan sawah. Petani yang melakukan pengumpulan/pembakaran pada jerami sisa panen adalah sebesar 63,33% sedangkan yang mengembalikan (dibiarkan) jerami ke sawah sebanyak 36,67% (Tabel 5). Hal ini didukung oleh penelitian Sumarno et al (2009) yang menyatakan bahwa jerami padi yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk menambah kandungan bahan organik tanah, yang oleh petani lebih sering dibakar setelah panen, hal tersebut berakibat pada penurunan kandungan bahan organik tanah sawah. Sumarno et al manambahkan perilaku tersebut terjadi karena kesadaran dan pemahaman petani akan pentingnya peran bahan organik dalam tanah sawah masih rendah.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI KESUBURAN TANAH SAWAH DAN HUBUNGAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH DENGAN BEBERAPA FAKTOR PRODUKSI.

IDENTIFIKASI KESUBURAN TANAH SAWAH DAN HUBUNGAN PRODUKTIVITAS PADI SAWAH DENGAN BEBERAPA FAKTOR PRODUKSI.

Padi merupakan komoditas utama produk pertanian di Indonesia. Produksi padi sawah di Kabupaten Pati dari tahun 2012 sampai tahun 2014 mengalami fluktuasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi kesuburan tanah sawah dan mempelajari hubungan produktivitas padi sawah dengan faktor produksi di Kabupaten Pati.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pendekatan survey lapangan. Data sifat tanah dianalisis menggunakan pendekatan kandungan hara tanah yang ditetapkan oleh Balai Penelitian Tanah 2005.Data faktor produksi dianalisis dengan regresi linier berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesuburan tanah sawah di Kabupaten Pati termasuk kategori sedang. Faktor produksi yang berpengaruh cukup besar terhadap produktivitas padi sawah yaitu dosis pupuk SP36, pupuk urea, pupuk organik dan pupuk NPK.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

KADAR BAHAN ORGANIK TANAH PADA TANAH SAWAH DAN TEGALAN DI BALI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN TEKSTUR TANAH.

KADAR BAHAN ORGANIK TANAH PADA TANAH SAWAH DAN TEGALAN DI BALI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN TEKSTUR TANAH.

Korelasi C-organik tanah dengan fraksi liat, baik pada tanah sawah maupun pada tanah tegalan / kebun menunjukkan korelasi positif. Ini berarti bahwa semakin tinggi kadar liat semakin tinggi kadar C-organik tanah. Hal ini disebabkan karena liat berfungsi dalam memegang air yang berpengaruh terhadap pertukaran udara yang semakin tidak baik. Aerasi yang kurang baik berpengaruh terhadap aktivitas mikrobia tanah dalam melapukkan bahan organik menjadi terhambat. Foth (1998) juga mengatakan bahwa terdapat kecenderungan suatu korelasi antara kandungan liat tanah dengan kandungan bahan organik. Semakin besar kandungan liat maka semakin tinggi kandungan bahan organik, karena molekul-molekul organik yang diadsorpsi oleh liat dilindungi secara parsial dari perombakan oleh mikroorganisme. Hal yang hampir sama juga dikemukakan oleh Darmawijaya (1990) bahwa fraksi liat paling berpengaruh terhadap kadar bahan organik tanah karena fraksi liat mempunyai luas permukaan jenis paling besar yaitu mencapai 800 m2/g (Luas permukaan jenis yang besar sangat aktif dalam adsorpsi air. Oleh karena itu, tanah yang didominasi oleh fraksi liat mempunyai daya pegang air yang besar dan pori aerase yang rendah. Keadaan yang pertukaran udara tidak lancar atau semi anaerob akan berpengaruh terhadap dekomposisi bahan organik, yaitu bahan organik akan mengalami proses humifikasi sehingga dihasilkan senyawa-organik yang tahan terhadap pelapukan (Stevenson, 1982).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Validasi Metode Respirasi Tanah Pada Tanah Sawah Tasikmalaya Dan Gambut Riau

Validasi Metode Respirasi Tanah Pada Tanah Sawah Tasikmalaya Dan Gambut Riau

Pola laju respirasi tanah pada tanah sawah berdasarkan waktu (Tabel 2) menunjukkan rata-rata laju respirasi tertinggi terjadi pada periode ke-1 kemudian menurun sampai periode ke-3. Hal ini dikarenakan pengaruh perombakan bahan organik oleh mikrob yang berkaitan dengan komposisi dari bahan organik tersebut. Menurut Hakim et al. (1986) bahwa bahan organik seperti gula, protein sederhana dan protein kasar, merupakan senyawa yang cepat sekali di dekomposisi. Cepatnya senyawa organik sederhana tersebut terdekomposisi menyebabkan senyawa organik tersebut cepat habis, sehingga laju respirasi tanah juga mengalami penurunan karena menurunnya aktivitas mikrob. Namun senyawa- senyawa yang lambat terdekomposisi masih ada, sehingga masih tersedia senyawa organik penyedia energi bagi aktivitas mikrob selanjutnya. Lebih lanjut menurut Hakim et al. (1986) bahan organik seperti lignin, selulosa, hemi selulosa dan lemak dan lain-lain, merupakan bahan organik yang lambat sekali didekomposisi. Pola laju repirasi tanah pada tanah gambut berdasarkan waktu (Tabel 3) menunjukkan rata-rata laju respirasi tertinggi terjadi pada periode ke-3, hal ini dikarenakan pengeringan tanah gambut menyebabkan peningkatan aktivitas biologi tanah sehingga proses dekomposisi tanah gambut lebih dipercepat yang menyebabkan terjadinya peningkatan produk CO 2 .
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

ISOLASI ACTINOMYCETES DARI TANAH SAWAH SEBAGAI PENGHASIL ANTIBIOTIK

ISOLASI ACTINOMYCETES DARI TANAH SAWAH SEBAGAI PENGHASIL ANTIBIOTIK

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 35 isolat dari sampel tanah sawah. Ke-35 isolat tersebut dapat dikelompokkan menjadi 11 colour group berdasarkan hasil colour grouping. Hasil pewarnaan gram menunjukkan bahwa 11 isolat wakil dari ke-11 colour group mempunyai ciri-ciri sebagai anggota Actinomycetes yaitu bentuk sel batang, miselium bercabang dan berwarna biru atau ungu (gram positif). Berdasarkan hasil uji potensi isolat sebagai penghasil antibiotik, diketahui diantara 11 isolat sebanyak tiga isolat (27,27%) mampu menghambat Staphylococcus aureus ATCC 25923 (gram positif), yaitu isolat SS13 dengan diameter daerah hambatan sebesar 14,66 mm (sedang), isolat SR1 = 24,66 mm (kuat) dan isolat SR6 = 5,00 mm (lemah). Namun demikian tidak ada satupun isolat yang mampu menghambat Eschericia coli ATCC 35218 (gram negatif). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Actinomycetes dapat diisolasi dari tanah sawah yang berpotensi sebagai penghasil antibiotik dengan spektrum kerja menghambat bakteri gram positif.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Indeks Kualitas Tanah Sawah pada Sistem Pertanaman Padi dan Hubungannya dengan Produktivitas Padi Sawah di Kabupaten Karanganyar.

Indeks Kualitas Tanah Sawah pada Sistem Pertanaman Padi dan Hubungannya dengan Produktivitas Padi Sawah di Kabupaten Karanganyar.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan karunia, nikmat dan kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Indeks Kualitas Tanah Sawah Pada Sistem Pertanaman Padi Dan Hubungannya Dengan Produktivitas Padi Sawah Di Kabupaten Karanganyar”. Skripsi disusun dan diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

12 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah, baik secara terus menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija.Tanah sawah di Indonesia saat ini umumnya ditemukan pada tanah yang cukup baik di daerah datar maupun perbukitan yang diteraskan. Umumnya tanah sawah terdapat di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Menurut data yang dikemukakan oleh Biro Pusat Statistik (BPS, 2001), luas lahan sawah di Indonesia pada tahun 2000 adalah 7.787.339 ha. Dari luas tersebut, sebagian besar berada di P. Jawa yaitu 3.34 juta ha, Sumatera 2.11 juta ha, kalimantan 0.97 juta ha dan Sulawesi 0.96 juta ha. Di Nusa Tenggara dan Bali luas lahan sawah hanya 0.4 juta ha dari laus total lahan sawah di Indonesia (Hardjowigeno dan Rayes, 2005).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah tidak bergerak ( immobile ), P terikat oleh liat, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pHnya rendah (tanah masam dengan pH 4-5,5) dan oleh Ca pada tanah yang pH-nya tinggi (tanah netral dan alkalin dengan pH 7-8). Tanah mineral yang disawahkan pada umumnya mempunyai pH netral antara 5,5-6,5 kecuali untuk tanah sawah bukaan baru, sehingga ketersediaan P tidak menjadi masalah (Adiningsih dan Agus, 2005). Fosfat didalam tanah dapat digolongkan pada beberapa bentuk yaitu P dalam bentuk organik, anorganik dan P yang ada dalam larutan tanah. P di dalam tanah dapat pula dibagi dalam bentuk terikatannya yaitu dalam bentuk Ca-P, Fe-P, dan Al-P. Ketersediaan P di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh perubahan pH tanah, artinya semakin naik pH sampai pada batas tertentu (netral) maka ketersediaan P akan meningkat pula. Senyawa P yang dapat diambil oleh tanaman terdapat dalam berbagai bentuk seperti H 2 PO 4 - , HPO 4 -2 dan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

TINJAUAN PUSTAKA Sifat dan Ciri Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk menanam padi sawah,

Fosfor (P) dalam tanah terdiri dari P-anorganik dan P-organik yang berasal dari bahan organik dan mineral yang mengandung P (apatit). Unsur P dalam tanah tidak bergerak ( immobile ), P terikat oleh liat, bahan organik, serta oksida Fe dan Al pada tanah yang pHnya rendah (tanah masam dengan pH 4-5,5) dan oleh Ca pada tanah yang pH-nya tinggi (tanah netral dan alkalin dengan pH 7-8). Tanah mineral yang disawahkan pada umumnya mempunyai pH netral antara 5,5-6,5 kecuali untuk tanah sawah bukaan baru, sehingga ketersediaan P tidak menjadi masalah (Adiningsih dan Agus, 2005). Fosfat didalam tanah dapat digolongkan pada beberapa bentuk yaitu P dalam bentuk organik, anorganik dan P yang ada dalam larutan tanah. P di dalam tanah dapat pula dibagi dalam bentuk terikatannya yaitu dalam bentuk Ca-P, Fe-P, dan Al-P. Ketersediaan P di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh perubahan pH tanah, artinya semakin naik pH sampai pada batas tertentu (netral) maka ketersediaan P akan meningkat pula. Senyawa P yang dapat diambil oleh tanaman terdapat dalam berbagai bentuk seperti H 2 PO 4 - , HPO 4 -2 dan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...