Tarekat Qadiriyah

Top PDF Tarekat Qadiriyah:

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Objek Penelitian - TELAAH HUBUNGAN MURSYID-SALIK DALAM TAREKAT (STUDI KASUS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH KEMURSYIDAN KAJEN MARGOYOSO PATI) - STAIN Kudus Repository

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Objek Penelitian - TELAAH HUBUNGAN MURSYID-SALIK DALAM TAREKAT (STUDI KASUS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH KEMURSYIDAN KAJEN MARGOYOSO PATI) - STAIN Kudus Repository

Sebagaimana sudah disinggung pada uraian di atas, bahwa adab tidak hanya berkaitan dengan murid, akan tetapi juga mursyid. Berikut ini kualifikasi dan adab-adab Mursyid menurut Muhammad Amin al Kurdi dalam salah satu kitab pedoman tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, Tanwir al-Qulub, yang secara ringkas adalah sebagai berikut: (1) Alim dan ahli dalam bidang agama dan penyakit-penyakit hati. (2) Arif dengan segala sifat macam penyakit dan kesempurnaan hati. (3) Menyayangi semua orang Islam, terutama terhadap muridnya. (4) Pandai menyimpan rahasia para muridnya.(5) Tidak menyalahgunakan amanah dengan menggunakan kesempatan mendapat keuntungan dan fasilitas dari murid. (6) Tidak menyuruh murid suatu perbuatan kecuali hal itu pantas dilakukan oleh dirinya sendiri. (7) Tidak terlalu banyak bergaul, bercengkerama dan bersenda gurau dengan murid. (8) Segala perkataannya bersih dari pengaruh nafsu. (9) Bijaksana, lapang dada dan ikhlas. (10) Murid yang karena selalu bersama-sama dan berhubungan dengannya lalu menampakkan ketinggian hatinya, maka hendaknya segera dia perintahkan si murid tersebut pergi ber- khalwat (menyendiri). (11) Berinisiatif mencegah munculnya rasa tidak percaya dan sikap tidak hormat seorang murid. (12) Memberikan petunjuk tertentu pada kesempatan tertentu kepada murid untuk memperbaiki ahwal (perilaku dan keadaan) mereka. (13) Memperhatikan secara khusus pada murid yang memiliki kebanggaan ruhani selama masih dalam bimbingan. (14) Melarang murid banyak berbicara tentang karamah-karamah atau wirid-wirid yang istimewa kecuali yang bermanfaat. (15) Menyediakan tempat ber-khalwat (i’tikaf/suluk) khusus bagi para murid dan bagi dirinya. (16) Menghindarkan murid melihat segala gerak-geriknya, misalnya cara tidurnya, makan-minumnya dan lain sebagainya. (17) Mencegah para murid memperbanyak makan. (18) Melarang murid berhubungan aktif dengan Mursyid tarekat lain jika berakibat kurang baik bagi mereka. (19) Melarang
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Pengaruh Tasauf Bagi Pengikut Tarekat : Studi Kasus Terhadap Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah Yayasan Aqabah Sejahtera Rawamangun Jakarta Timur

Pengaruh Tasauf Bagi Pengikut Tarekat : Studi Kasus Terhadap Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah Yayasan Aqabah Sejahtera Rawamangun Jakarta Timur

3. Kemahabbahan dan kema’rifatan kepada Allah swt.. Rasa cinta dan ma’rifat terhadap Allah “dzat laisa kamitslihi syaiun” yang dalam mahabbah itu mengandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati. Kalau telah tumbuh mahabbah, timbullah berbagai macam hikmah di antaranya membiasakan diri dengan selurus-lurusnya dalam hak dlohir dan bathin, dapat pula mewujudkan “keadilan” yakni dapat menetapkan sesuatu dalam haknya dengan sebenar-benarnya. Pancaran dari mahabbah datang pula belas kasihan ke sesama makhluk di antaranya cinta pada nusa bangsa beserta agamanya. Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah ini adalah salah satu jalan buat membukakan diri supaya tercapai arah tujuan tersebut. 69 Setelah Syaikh Sambas belajar pendidikan agama dasar di kampungya, untuk meneruskan studinya beliau berangkat ke Mekah pada usia sembilan belas tahun dan menetap di sana hingga wafatnya pada tahun 1289 H./1872 M. Di Mekah beliau belajar ilmu-ilmu Islam termasuk tasawuf, dan mencapai posisi yang sangat dihargai di antara teman-temannya, dan kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di Indonesia. Di antara gurunya adalah Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (w.1812 M.), dan Ahmad Khatib Sambas merupakan murid yang sudah sampai tingkat tinggi dan diangkat sebagai Mursyid Kammil Mukammil. 70
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Amalan Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Sebagai Proses Pendidikan Jiwa Di Masjid Babul Muttaqin Desa Kradenan Jetis Ponorogo

Amalan Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Sebagai Proses Pendidikan Jiwa Di Masjid Babul Muttaqin Desa Kradenan Jetis Ponorogo

Sebelum membahas tentang metode dan materi amalan tarekat sebagai sarana pendidikan jiwa, perlu di sini dipaparkan secara singkat tentang tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Tarekat ini didirikan oleh seorang sufi besar Masjid al-Haram Makkah al-Mukarramah bernama Ahmad Khathib ibn Abd. Ghaffar al-Sambasi al-Jawi, wafat di Makkah pada tahun 1878 M. Beliau adalah seorang mursyid Tarekat Qadiriyah, tetapi ada yang menyebutkan bahwa beliau juga mursyid dalam Tarekat Naqsabandiyah. Namun beliau hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Tarekat Qadiriyah. Sampai sekarang belum diketemukan, dari sanad mana beliau menerima bai’at Tarekat Naqsabandiyah (Martin Van Bruinessen, 1998:90). Sebagai seorang mursyid yang sangat ‘alim dan ‘arif billah, beliau memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri dari tarekat yang dipimpinnya, karena dalam Tarekat Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu, bagi yang telah mencapai derajat mursyid. Untuk itu beliau menggabungkan inti ajaran kedua tarekat, yaitu Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan mengajarkan pada murid-muridnya, khusus yang berasal dari Indonesia (Martin Van Bruinessen, 1998, hal. 91).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI MAJELIS TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH TERHADAP PENGENDALIAN STRESS : STUDI EKSPLORASI JAMA'AH TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH DI PONDOK PESANTREN AL FITHRAH KELURAHAN KEDINDING KECAMATAN KENJERAN SURABAYA.

KONTRIBUSI MAJELIS TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH TERHADAP PENGENDALIAN STRESS : STUDI EKSPLORASI JAMA'AH TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH DI PONDOK PESANTREN AL FITHRAH KELURAHAN KEDINDING KECAMATAN KENJERAN SURABAYA.

Seperti pada masa mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah, yaitu KH. Ahmad Asrori, yang disetiap memberikan siraman rohani, KH. Ahmad Asrori menggunakan rujukan Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, Al-Hikam karya Imam Ibnu Atha ‟ illah dan lain lain. Di dalam kitab-kitab tersebut sangat banyak mengupas tasawuf, juga termasuk didalamnya menegenai akhlak kepada Allah, kepada manusia dan bahkan makhluk Allah. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas soal tasawuf, KH. Ahmad Asrori juga sering menyisipkan masalah fiqih sebagai materi penunjang dalam hal ini mengenai syari’ah islam. Lalu sepeninggal beliau pada masa sekarang yang dilakukan dalam memberikan penjelasan-penjelasan keagamaan, dalam hal ini juga mengenai akhlak terpuji, diisi dengan pengajian yang merujuk pada kitab karya beliau sang mursyid tarekat yaitu KH Asrori kitab yang berjudul “Al-Muntakhabat…” .
Baca lebih lanjut

179 Baca lebih lajut

Tarekat qadiriyah naosabandiyah dan peningkatan kesalehan sosial ikhwan (Studi Analitis Terhadap Ikhwan TQN di Ciomas )

Tarekat qadiriyah naosabandiyah dan peningkatan kesalehan sosial ikhwan (Studi Analitis Terhadap Ikhwan TQN di Ciomas )

Peran seorang Mursyid merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa seorang ikhwan hanya akan meraih kegagalan spiritual apabila tidak dibimbing oleh mursyid. Kekhawatiran-kekhawatiran yang timbul akibat tidak adanya bimbingan mursyid bisa saja muncul karena jebakan-jebakan jalan sufi akan terus bermunculan dan bertambah banyak. Hal utama yang paling dikhawatirkan adalah apabila seorang ikhwan tidak dibimbing oleh mursyid dalam mendalami dunia tarekat, maka dia tidak dapat membedakan tanda-tanda yang datang dari Allah, malaikat, syetan, atau jin. Tentunya tidak sembarang guru dapat disebut mursyid, karena untuk mencapai maqomat dalam tarekat yang dibutuhkan adalah mursyid yang kamil mukammil. Karena itulah seharusnya pengikut
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Tarekat yang berkembang di Indonesia Naq

Tarekat yang berkembang di Indonesia Naq

perdagangan dan kegiatan dakwah. Meskipun begitu, kegiatan dakwah sudah ada dan bangkit sejak awal abad 8 H/14 M dan terus berkembang di pelopori oleh kaum sufi. Tarekat yang berkembang di Indonesia cukup banyak diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al- jailani (470 - 561H/ 1077 – 1166) yang berasal dari daerah Jilandi Persi dan hidup di Baghdad. Kedua, tarekat Khalwatiyah dinisbatkan dengan nama pendirinya oleh Syekh Yusuf Al-Khalwati yang dibawakan dan disebarkan pada tahun 1670. Terakhir, Tarekat Naqsyabandiyyah mula-mula muncul di Indonesia dalam paruh kedua abad ketujuh belas dan orang pertama yang diketahui mengamalkan tarekat ini ialah Syekh Yusuf Makassar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KOMUNIKASI AGAMA DAN BUDAYA Studi atas B

KOMUNIKASI AGAMA DAN BUDAYA Studi atas B

Analisis data yang digunakan adalah teknik simbolik interpretatif dengan analisis verstehen atau analisis emik, yang bertumpu pada pemahaman terhadap kebudayaan suatu entitas dalam sudut pandang pelaku budaya atau subyek penelitian (Richard C. Martin, 1985). Dalam penelitian ini, teori yang akan digunakan adalah simbolik interpretatif. Perspektif simbolik memang menjadi wacana baru di tengah berbagai aliran yang sudah ada sebelumnya dan dirasakan mengalami kejenuhan. Akan tetapi, sebagai kelanjutan tidak langsung dari perspektif fenomenologi-interpretatif di dalam kajian-kajian agama, perspektif simbolik ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama ingin memahami apa yang ada di balik fenomena. Ia tidak berhenti pada fenomena saja, tetapi bergerak menatap lebih mendalam pada dunia noumena yang sering dikonsepsikan sebagai pemahaman interpretatif (Nur Syam 2011, 89). Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mengamati adanya komunikasi agama dan budaya di balik fenomena sosial Kompolan Sabellesen berdhikir khataman Tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah yang dilakukan oleh masyarakat desa Bluto, tapi lebih mendalam lagi kepada pengamatan sistem nilai pemaknaan dan varian motivasi di balik ritual dhikir tarekat dalam Kompolan Sabellesen tersebut.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Tarekat syadziliyah dan hizbnya

Tarekat syadziliyah dan hizbnya

Tarekat Syâdziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti al-Muwahhidûn, yakni Hafsiyyah di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang di Mesir dan Timur Dekat di bawah kekuasaan dinasti Mamluk. Dalam hal ini yang menarik, sebagaimana dicatat Victor Danner, peneliti Tarekat Syâdziliyah, meskipun terekat ini berkembang pesat di daerah Timur (Mesir), namun awal perkembangannya adalah dari Barat (Tunisia). Dengan demikian, peran daerah Maghribi dalam kehidupan spiritual tidak sedikit. Menurut Danner, perannya sejak abad ke-7H/13M sangatlah jelas. Banyak tokoh sufi yang sezaman dengan al-Syâdzilî menetap di Barat, misalnya Abû Madyan Syu’aib al-Maghribi (w. 594 H/1197M), Ibn al- Άrabi (w. 638H/1240M), Άbd. Al -Salâm ibn Masyîsy (w. 625H/1228M), Ibn Sab’in (w. 669H/1271M) dan al -Syusyturî (w. 688H/1270M). Walaupun dasar-dasar tasawuf Maghribi itu berasal dari Timur sebagai asal muasal Islam itu sendiri, namun kecerdasan Muslim daerah Barat, gaya hidupnya, seni kaligrafinya, arsitektur masjidnya, juga mazhab Malikinya, telah ada sejak generasi Islam awal. Ciri umum ini mendapat penguatan bersamaan dengan berdirinya dinasti Abbasiyah pada abad ke-2H/8M dan mulai mengembangkan
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Kekuasaan Spiritual dalam Kerajaan Tuhan

Kekuasaan Spiritual dalam Kerajaan Tuhan

Persamaan yang dapat disebut sebagai fungsi kedua khalifah ini bahwa keduanya merupakan “pendamping” mursyid dalam menjalankan tugas kepemimpinan dalam menjaga tradisi dan melangsungkan ritual dalam tarekat. Oleh sebab itu, kedua khalifah ini walaupun berbeda dalam pelaksanaan tugas berdasarkan tempat “pengabdian”, tetapi pada prinsipnya keduanya merupakan bagian terpenting dalam TNKB. Sebab, fungsi khalifah ini sebagai struktur kedua setelah mursyid, maka tanpa kedua ini hampir dapat dipastikan TNKB tidak akan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itu, khalifah menjadi bagian terpenting dalam kelangsungan tarekat karena khalifah memiliki peran signifikan dalam upaya penyebarluasan jaringan TNKB, khususnya khalifah kubra yang menjadi “agen” di daerah yang memperkuat TNKB di tengah masyarakat.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) | Mu'min | QUALITY 2116 7406 2 PB

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) | Mu'min | QUALITY 2116 7406 2 PB

This paper is a summary of the results of my thesis research at the Faculty of Humanities Postgraduate Program at Diponegoro University by 2013 and then it was developed, particularly on the data that is more up to date. The main purpose of writing this article is to examine the history of the Sufism education, with focus on the education development history of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research used the historical method and phenomenological approach of Edmund Husserl to understand the meaning of education development history of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus and the Sufism ideas of Kyai Haji Muhammad Siddiq as a Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah in Piji Kudus. This research reveals the mysticism education and Sufism thought development of Kyai Siddiq in Piji Kudus. Some of the research results that can be described in this paper are: first, the education development of Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus begins with the formation of a small mosque which was built in 1837 on the initiative of Mantri Sutowijoyo (1835-1870), in 1920 was developed into al- Aqsa Mosque as of now. Second, in 1956 Kyai Siddiq built an Islamic primary school, in 1970 built an Islamic Junior High School, in 1972 established an Islamic Boarding School of Manba'ul Falah, and in 2009 established a vocational education. Third, in 1972 Kyai Shiddiq established Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus after doing a bai'at for Murshid of the Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Rejoso Peterongan Jombang, Kyai Haji Tamim Romli. Fourth, the education institution that taught by Kyai Siddiq, namely tawheed education (monotheism), Sharia (Shari'ah), thariqat (congregations) and ma'rifat. Fifth, after the death of Kyai Siddiq (2011) Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji Kudus led by Kyai Haji Abdul Latif Siddiq, Kyai Haji Affandi Siddiq, and Kyai Haji Siddiq Muchtar Amin.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

NILAI-NILAI PERILAKU SOSIAL PADA AKTIVITAS JAMA’AH TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN NURUL ALI SEMPU, SECANG, MAGELANG TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

NILAI-NILAI PERILAKU SOSIAL PADA AKTIVITAS JAMA’AH TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN NURUL ALI SEMPU, SECANG, MAGELANG TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat di Indonesia. Secara umum tarekat dipahami sebagai upaya secara kusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan-amalan tertentu. Sehingga tarekat kerap sekali diassosiasikan dengan upaya memperbaiki hubungan secara vertikal kepada Allah. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui adanya nilai-nilai perilaku sosial (secara horisontal) dalam aktivitas tarekat tersebut. Pokok masalah penelitian ini sebagai berikut: (1) Apa motivasi jama‟ah mengikuti tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah di Pondok Pesantren Nurul Ali Sempu, Secang, Magelang?. (2) Bagaimana d eskriptif aktivitas jama‟ah tarekat qodiriyah wa naqsbandiyah di Pondok Pesantren Nurul Ali Sempu, Secang, Magelang. Adakah nilai-nilai perilaku sosial dalam kegiatan tersebut?.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN TAUBAT DALAM AYAT AYAT AL QUR’AN PADA PIMPINAN JAMAAH TARIQOH QODIRIYYAH NAQSYABANDIYAH DI DUSUN WEKAS DESA KAPONAN KECAMATAN PAKIS SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

PEMAHAMAN TAUBAT DALAM AYAT AYAT AL QUR’AN PADA PIMPINAN JAMAAH TARIQOH QODIRIYYAH NAQSYABANDIYAH DI DUSUN WEKAS DESA KAPONAN KECAMATAN PAKIS SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Demikian pentingnya agama, yakni sebagai instrument budaya. Dengan demikian maka Study Sosial Dalam Perspektif Islam Pada Komunitas ṭ āriqah qadiriyah naqsyabandiyah Di Dusun Wekas Desa Kaponan menjadi penting untuk dilakukan. Study ini di harapkan menjadi sebuah diskripsi atas kontribusi agama dengan teks-teksnya yang berkaitan dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Akan dapat wacana baru dalam kehidupan masyarakat perdesaan ditengah pulau jawa yang nota benennya mengalami transformasi agama dari abangan ke sufi (ahli ṭ āriqah ahli tingkat pemahaman seberapapun ) dan bukan sekedar dari abangan ke santri.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN TAUBAT DALAM AYAT AYAT AL QUR’AN PADA PIMPINAN JAMAAH TARIQOH QODIRIYYAH NAQSYABANDIYAH DI DUSUN WEKAS DESA KAPONAN KECAMATAN PAKIS SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

PEMAHAMAN TAUBAT DALAM AYAT AYAT AL QUR’AN PADA PIMPINAN JAMAAH TARIQOH QODIRIYYAH NAQSYABANDIYAH DI DUSUN WEKAS DESA KAPONAN KECAMATAN PAKIS SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Berawal dari perbincangan antara santri Pondok Pesantren ṭ āriqah asuhan Bapak.KH. Achmad Muh. Da‟ i AG. Kedokan Ngablak Magelang bernama Bapak. Mujari dengan salah seorang yang bernama Bapak H.Subari dalam sebuah pengajian tentang tasyawuf di dusun Daseh dibawah asuhan KH. Toha Mahasin. Dari perbincangan yang mengungkapkan akan keberadaan dan kegiatan Jama‟ah ahli Ṭ āriqah Qadiriyah Naqsyabandiyyah yang berada di dusun Kedokan Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak Dibawah Asuhan seorang guru mursyidut ṭ āriqah KH. Ahmad Muda‟i AG. yang merupakan aliansi atau cabang dari ṭ āriqah yang telah tersohor di Jawa Tengah yaitu Ṭ āriqah Qadiriyah Naqsyabandiyyah bimbingan atau asuhan seorang masayih terkenal KH.Achmad Chalwani Nawawi Berjan Purworejo, dari hasil pembicaraannya akhirnya dibawa oleh H. Subari kerumahnya di Dusun Wekas Desa Kaponan untuk dijadikan bahan renungan guna mengikuti kegiatan- kegiatan j ama‟ah ahli ṭ āriqah di bawah bimbingan masyayih dari Kedokan Ngablak tersebut, dalam sebuah kegiatan di Wekas, yang nota benenya Wekas adalah Dusun yang sebelumnya telah mengembangkan ṭ āriqah dari pondok pesantren Payaman yang memiliki metode-metode dzikir atau ṭ āriqah yang dikembangkan oleh Syaikh Umar Payaman kala itu.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Penelitian dalam skripsi ini di latar belakangi oleh sebuah fenomena tentang remaja yang memiliki minat tentang ajaran tasawuf yakni dengan menjalani salah satu ajaran tarekat. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui tentang motivasi pada remaja yang menjalani ajaran Tarekat Syadziliyah di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung.

16 Baca lebih lajut

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Syadziliyah di pondok PETA tidak hanya memberikan amalan-amalan saja, tetapi juga diajarkan tentang kehidupan sosial bahkan ada beberapa kegiatan sosial yang harus diikuti, seperti halnya mengembangkan kewirausahaan bagi para pengikut tarekat ini, ro’an, dan lain sebagainya. Pondok PETA juga memiliki beberapa program, diantaranyayaitu: Sultan Agung 78 yang bertugas untuk melakukan pendataan/ dharma, Sultan Fatah 81 yang bertugas pada bidang tarekat, yakni mengurusi bidang kelompok dan khususiyah, Sultan Panjalu Saka Nagara yang bertugas untuk mengurusi di bidang politik, Sultan Safir, yang bertugas untuk mengembangkan wirausaha para jamaah, Panjalu Eping yang bertugas dibidang trevel untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, dan BMT PETA.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Tarekat Syâdziliyah Dan Hizbnya

Tarekat Syâdziliyah Dan Hizbnya

terdapat pada kain wol bertambal dan terbuat dari bahan kasar, yang seringkali dikenakan sebagai simbol lahiriah oleh kalangan sufi pada umumnya. Mereka tidak hidup mengembara atau mengasingkan diri sebagai orang fakir. Sebaliknya mereka berpakaian seperti masyarakat umum, bahkan sebagian dari mereka seperti halnya pendiri tarekat ini sering mengenakan pakaian yang indah. Inilah yang mengakibatkan orang sering bertanya, apakah sang Syaikh ini benar-benar seorang sufi. Pakaian yang mereka pakai merefleksikan strata sosialnya, apakah seorang guru, pedangang, pegawai atau yang lainnya. 34 Pada tingkat ini, dapat di mengerti kesimpulan yang dibuat Annemari Schimmel, bahwa tarekat ini mempunyai pendekatan pragmatis untuk kenyamanan duniawi. Seorang faqih kepada Tuhan tidak harus miskin harta, begitu pula tidak harus menyendiri, malah dianjurkan untuk merealisasikan ajaran tarekat ini kepada masyarakat di tengah- tengah kesibukannya. 35
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

METODE ZIKIR TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH PONDOK PESANTREN AL-MANSHUR KLATEN  Metode Zikir Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Pondok Pesantren Al-Manshur Klaten.

METODE ZIKIR TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH PONDOK PESANTREN AL-MANSHUR KLATEN Metode Zikir Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Pondok Pesantren Al-Manshur Klaten.

Karena pembentukan dari ajaran ini tergantung juga pada sejauh manapengamalan mereka terhadap ilmu yang diterima dan dzikir yang dikerjakan.Zikir dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Pondok Al Manshur bertujuan untuk mendekatkan diri (taqrrub) kepada Allah Swt. Dan sarana penyucian diri seorang muslim, sebagai bukti kesalehannya dan penghambaannya kepada Allah.Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang ada di Pondok Pesantren Al-ManshurPopongan merupakan salah satu komunitas tarekat yang menggunakanmetode dzikir sirri, dengan banyak menyebut kalimat Allahu ( ها ). Tujuan dari zikir iniberupa harapan dari upaya untuk mencapai kedekatan dengan Allah sebagai tujuan akhir.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sejarah Tarekat dan Tasawuf PERAN TAREKA (1)

Sejarah Tarekat dan Tasawuf PERAN TAREKA (1)

Pada tahun 1978 al-Tijani pindah ke Fez, dan kemungkinan ini dilatarbelakangi oleh pengembangan dakwahnya. Di sana, Syekh Ahmad al-Tijani dan Maulay Sulaiman (1793-1822 M) sebagai penguasa Maroko bersekutu dalam memerangi khurafat yang menimbulkan kebodohan, kejumudan, dan kemalasan. Pada saat itu, al-Tijani dan ulama-ulama besar lainnya berpendapat bahwa keadaan umat Islam saat ini dalam keadaan lemah. Kelemahan ini dilatarbelakangi oleh kemerosotan bidang akidah dan ibadah serta timbulnya paham-paham sesat, diantaranya melakukan upacara ziarah kubur dengan tujuan yang tidak sesuai dengan syari’at Islam,4 contohnya ziarah kubur dengan tujuan mengharap kekayaan/syirik. Pada fase pengembangan dakwahnya, al-Tijani memberikan beberapa wasiat diantaranya beliau senantiasa aktif memberikan tausiyah dan bimbingan baik secara lisan ataupun tulisan kepada seluruh ummat Islam, khususnya yang ada di Kota Fez, Maroko dan negara-negara tetangganya.5 Tarekat Tijaniyah termasuk tarekat yang dasar pembentukannya menggunakan sistem barzakhi. Makna barzakhi dalam Tarekat Tijaniyah, sebagaimana tergambarkan dalam proses pembentukannya, bahwa ajaran- ajaran itu tidak diperoleh melalui pengajaran dari guru-guru sebelumnya, tetapi diperoleh langsung oleh Syaikh Ahmad al-Tijani dari Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam, dalam perjumpaan secara yaqzhah (dalam keadaan terjaga). Perjumpaan dengan melihat Rasu lullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam adalah peristiwa yang menurut tradisi tarekat merupakan hal yang biasa dan bisa terjadi terutama dialami oleh wali-wali besar. Bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan jaga merupakan bagian dari kekaramatan.6
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

penulis untuk menelitinya yaitu tarekat yang ada di desa Ampung Julu, Aek Nabara dan Hatupangan. Kemudian berdasarkan hasil wawancara guru tarekat yang bernama Bapak Ali Mukmin selaku warga Tombang Kaluang tarekat yang dijalankanya yaitu tarekat naqsabandiyah yang mana tempat tarekat ini dilaksanakan di desa Tombang Kaluang, Hatupangan dan di Banjar Maga. Tarekat ini dimulai pada 1982 gurunya Khalifah Muhammad Yusuf selaku warga Hatupangan, setelah beliau meninggal maka dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Ali Mukmin. Ali Mukmin sudah mengajarkan tarekat ini selama 10 tahun. Untuk tarekat ini sama saja dengan tarekat yang biasa yakni mengagungkan Allah dengan berdiam di mesjid semata- mata karena Allah dan berzikir menyebut asma Allah dengan khusyuk. Adapun untuk bacaannya yaitu menyebut asma Allah kemudian untuk ajaran yang lain yaitu sangat rahasia karena tidak diajarkan kepada orang yang belum mengikuti tarekat seperti penulis. Untuk syarat mengikuti tarekat ini cukup dengan mendaftar kemudian melaksanakan mandi taubat, untuk pelaksanaan mandi taubat ini dilaksanakan pada malam hari yaitu sekitar pukul 11.00 malam kemudian setelah mandi shalat hajat dan berzikir kepada Allah kemudian tidur seperti biasanya hingga menjelang waktu subuh. Kemudian untuk hari selanjutnya tarekat tersebut dilaksanakan yang mana cara duduknya melingkar dan seperti shalat tahiyat akhir namun kakinya sebelah kiri, peserta tarekat berdiam dan berzikir di masing- masing kelambu yang mana perempuan sama perempuan dan laki-laki sama laki-laki. Sebelum tarekat dilaksanakan gurunya memandu bagaimana cara untuk pelaksanaannya.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

ATHEISME NIETZCHE : DALAM PERSPEKTIF KETAUHIDAN ISLAM MENURUT KH.HASYIM ASY’ARI.

ATHEISME NIETZCHE : DALAM PERSPEKTIF KETAUHIDAN ISLAM MENURUT KH.HASYIM ASY’ARI.

Hasyim Asy`ari memperkenankan mengikuti tarekat yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad, dengan beberapa catatan, antara lain: qasd Shahîh (tujuan baik), artinya mengikuti tarekat harus disertai tujuan ibadah yang ikhlas, bukan karena atas dasar keuntungan material dan karâmah; shidq sharîh (percaya sepenuhnya kepada mursyid), artinya murid memiliki kepercayaan bahwa mursyid-nya mampu mengantarkannya dekat dengan Tuhan; adâb mardhiyah (tatakarama yang diridhai) artinya menjadi anggota tarekat tidak berarti lantas bersikap egoistik, tetapi konsisten welas asih dan menghargai orang lain; ahwâl zakiyah (tingkah laku yang bagus) artinya tarekat mengandaikan munculnya perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad; hifz al-hurmah (menjaga kehormatan); husn al-khidmah (pelayanan) artinya memasuki tarekat berarti memberikan pelayanan kepada guru dan kaum muslim; raf’u al-himmah (meluhurkan kemauan), tarekat bukan tempat untuk merengkuh dunia, melainkan sarana ma’rifat.; dan nufudh al-’azimah (melestarikan niat) membangun kontinuitas memasuki tarekat untuk ma’rifat.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Show all 221 documents...