Tarekat Qodiriyah

Top PDF Tarekat Qodiriyah:

PERANAN KH. ACHMAD ASRORI AL ISHAQI DALAM PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH DI DESA DOMAS KECAMATAN MENGANTI GRESIK TAHUN 1988-2000.

PERANAN KH. ACHMAD ASRORI AL ISHAQI DALAM PENDIRIAN DAN PERKEMBANGAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH AL UTSMANIYAH DI DESA DOMAS KECAMATAN MENGANTI GRESIK TAHUN 1988-2000.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah, banyak pengikut KH. Utsman yang menolak mengakui KH. Achmad Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen Jawa Barat untuk melakukan bai’at kepada Kiai Sonhaji, namun Kiai Asrori tak surut semangatnya untuk mendirikan Pondok Pesantren Al- Fitrah Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikanya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning, beliau juga menggagas Al Khidmah sebuah jama’ah yang sebagian anggotanya adalah pengamalan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

METODE DAKWAH JAMAAH TAREKAT QODIRIYAH AL ANFASIYAH DESA KEPUNTEN KECAMATAN TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO.

METODE DAKWAH JAMAAH TAREKAT QODIRIYAH AL ANFASIYAH DESA KEPUNTEN KECAMATAN TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO.

Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Jamaah Tarekat Qodiriyah Al Anfasiyah ketika berdakwah menggunakan metode dakwah bil Hikmah melalui zikir dan doa yang di wujudkan melalui pembacaan manakib, sholawat, istigasah, tahlil, dan kegiatan lainnya yang menjadi rutinitas kegiatan dakwah Jamaah Tarekat Qodiriyah Al Anfasiyah. Sedangkan faktor yang melatar belakangi penggunaan metode tersebut adalah Zikir merupakan salah satu cara atau metode untuk mengajak para Jamaah kembali kepada Allah, karena dengan zikir manusia bisa mengingat Allah, menyebut asma Allah, dapat menumbuhkan rasa malu dan takut ketika akan melakukan kemaksiatan. Dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar pada zaman sekarang, zaman yang banyak permusuhan, kemaksiatan, hati yang memanas, sehingga hati manusia saat ini membutuhkan sesuatu yang bisa meredamkan hati, menyejukkan hati, yaitu dengan berzikir.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

this PDF file SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH PIJI KUDUS | Mu'min | FIKRAH 1 PB

this PDF file SEJARAH TAREKAT QODIRIYAH WAN NAQSABANDIYAH PIJI KUDUS | Mu'min | FIKRAH 1 PB

Setelah jama’ah atau muridin diajarkan aqidah (tauhid), syari’at (fikih), dan tarekat (tasawuf), selanjutnya mereka dibimbing mengamalkan tazkiyah al-Nafs dan tashiyah al-Nafs. Setelah Kyai Shiddiq merasa yakin semua peserta pengajian tersebut menguasai ketiga ajarannya tersebut, barulah mereka dibai’at menjadi anggota Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Piji, yang dilaksanakan di Masjid al-Wustho. Untuk mempelajari dan memperdalam masalah-masalah ketasawufan, Kyai Shiddiq juga menggunakan rumah kediamannya sebagai tempat kegiatan pengajian, seperti konsultasi masalah agama, membahas masalah tarekat, terapi ilmu hikmah, dan bimbingan keagamaan Islam. 44
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Gerakan Dakwah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Grobogan

Gerakan Dakwah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Grobogan

liti tentang Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia survei historis, geogra- fis, dan sosiologis. Ia menjelaskan tentang Tarekat Naqsayabandiyah di Indonesia dari metodologinya. Karya ini merupakan studi literatur yang menggunakan sumber-sumber Barat dan juga dari bahan-bahan dari warga pribumi. Selanjutnya adalah penelitian M. Muhsin Jamil (2005). Ia memaparkan adanya dialektika hubungan yang beraneka macam. Tarekat bisa menjadi mediasi logis pendukung partai sampai basis pertahanan terhadap proses reorganisasi dan menjadi pendukung serta pembela bagi kemuliaan seorang presiden. Zaenal Adzfar (2002) menyimpulkan bahwa aktualisasi Tarekat Qodiriyah wa Naqsyaban- diyah di Suralaya membawa dampak positif yaitu adanya dinamisasi, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi dan sosial. Ahmad Syafi’i Mufid (2006) menyimpulkan bahwa akulturasi antara kebudayaan Jawa dengan Islam melalui sufisme atau tarekat merupakan bentuk Islam yang tidak murni dan sinkretis.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Peran “komunitas “orong-orong” dalam pengembangan tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah al-ustmaniyah di Kecamatan Gresik tahun 1988-2005 M.

Peran “komunitas “orong-orong” dalam pengembangan tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah al-ustmaniyah di Kecamatan Gresik tahun 1988-2005 M.

munculnya jama’ah tersebut hingga berkembang diberbagai pulau di Indonesia maupun luar negri seperti Singpura, Malaysiah, Thailand, Makkah dll, banyak sekali upaya yang dilakukannya dalam pengembangan jama’ah, agar dapat diterima oleh masyarakat di satu sisi, dan memenuhi kehausan masyarakat akan spiritualitas di sisi lain. Agar dapat menjadi sumbangan pemikiran keagamaan guna menambah wawasan khasanah ketasawufan, maka peneliti melakukan penelitian lanjut dengan judul, ”PERAN KOMUNITAS “ORONG - ORONG” Dalam Pengembangan Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Al-Usmaniyah Di kecamatan Gresik Tahun 1988 M - 2005 M) ”. J ama’ah yang dikomandoi oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang mengalami perkembangan cukup pesat dalam waktu yang relatif singkat (1988 M – 2009 M), yang gerakannya nampak hampir ada di seluruh provinsi di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, ini sungguh menarik.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGAMALAN AJARAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DENGAN PERILAKU IHSAN (Bagi Jamaah Sewelasan Dusun Sumber, Desa Timpik, Kec. Susukan, Kab. Semarang Tahun 2015) - Test Repository

HUBUNGAN PENGAMALAN AJARAN TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSABANDIYAH DENGAN PERILAKU IHSAN (Bagi Jamaah Sewelasan Dusun Sumber, Desa Timpik, Kec. Susukan, Kab. Semarang Tahun 2015) - Test Repository

Pada perkembangannya, kata tarekat mengalami pergeseran makna. Jika pada mulanya tarekat berarti jalan yang ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah maka pada tahap selanjutnya istilah tarekat digunakan untuk menunjukan pada suatu metode psikologis yang dilakukan oleh guru tasawuf (mursyid) kepada muridnya untuk mengenal Tuhan secara mendalam, melalui metode psikologis tersebut, murid dilatih mengamalkan syariat dan latihan-latihan keruhanian secara ketat sehingga ia mencapai pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan (Huda, 2008:62).
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

NILAI-NILAI PERILAKU SOSIAL PADA AKTIVITAS JAMA’AH TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN NURUL ALI SEMPU, SECANG, MAGELANG TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

NILAI-NILAI PERILAKU SOSIAL PADA AKTIVITAS JAMA’AH TAREKAT QODIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH DI PONDOK PESANTREN NURUL ALI SEMPU, SECANG, MAGELANG TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah merupakan salah satu tarekat di Indonesia. Secara umum tarekat dipahami sebagai upaya secara kusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amalan-amalan tertentu. Sehingga tarekat kerap sekali diassosiasikan dengan upaya memperbaiki hubungan secara vertikal kepada Allah. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui adanya nilai-nilai perilaku sosial (secara horisontal) dalam aktivitas tarekat tersebut. Pokok masalah penelitian ini sebagai berikut: (1) Apa motivasi jama‟ah mengikuti tarekat qodiriyah wa naqsabandiyah di Pondok Pesantren Nurul Ali Sempu, Secang, Magelang?. (2) Bagaimana d eskriptif aktivitas jama‟ah tarekat qodiriyah wa naqsbandiyah di Pondok Pesantren Nurul Ali Sempu, Secang, Magelang. Adakah nilai-nilai perilaku sosial dalam kegiatan tersebut?.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Key Words: Tarekat Akmaliyah as-Sholihiyah, sanad, dan

Key Words: Tarekat Akmaliyah as-Sholihiyah, sanad, dan

fahum la yarji’un (buta tuli bisu dan tidak pernah kembali). Lisan dan hatinya suka berkeliaran terus tidak pernah mau pulang kepada Allah; Ketiga, orang yang berdzikir dengan hatinya saja, tanpa dengan lisan; Keempat, orang yang berdzikir dengan lisan dan hatinya, akan tetapi masih dimilikinya sendiri tidak diserahkan kepada Allah; dan Kelima, orang yang berdzikir dengan lisan dan hatinya dengan hudurul qolbi dan dia tidak merasa memiliki dzikir itu baik lisan atau hatinya. Dia mengerti bahwa menyebut dengan lisan itu perbuatan Allah atau hati yang mengingat itu juga perbuatan Allah. Tingkatan yang terakhir inilah yang diajarkan Tarekat Akmaliyah kepada seluruh anggotanya. Dan perlu diingat, dzikir boleh dilakukan dimana saja, pada saat apa saja, kapan saja, dan tanpa dibatasi pada waktu-waktu tertentu.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Motivasi Menjalani Ajaran Tarekat Syadziliyah Pada Remaja Di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Penelitian dalam skripsi ini di latar belakangi oleh sebuah fenomena tentang remaja yang memiliki minat tentang ajaran tasawuf yakni dengan menjalani salah satu ajaran tarekat. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui tentang motivasi pada remaja yang menjalani ajaran Tarekat Syadziliyah di Pondok Pesulukan Tarekat Agung (PETA) Tulungagung.

16 Baca lebih lajut

Prinsip prinsip Dasar Tarekat Muktabarah

Prinsip prinsip Dasar Tarekat Muktabarah

tarekat Syâdziliyah ini, sebenarnya al- Syâdzili sendiri tidak menuliskan ajaran-ajarannya dalam kitab karya tulis, karena kesibukannya mengajar murid-muridnya yang sangat banyak. Ajaran al- Syâdzili baru dapat diketahui dari para muridnya, misalnya tulisan Ibn 'Athaillah al- Sakandari dalam kitab Lathaiful Minan. Diantara ajarannya yaitu lebih menekankan pada riyadhah al-qulub, seperti menekankan senang (al- farh), rela (al-ridha), dan selalu bersukur atas nikmat Allah. Ajarannya ini berbeda dengan ajaran al-Ghazali yang lebih menekankan riyadhah al-'abdan (berhubungan dengan fisik) yang mengharuskan adanya musyaqqah, misalnya bangun malam, lapar, dan lain-lain. 9
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) | Mu'min | QUALITY 2116 7406 2 PB

SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN TASAWUF (Studi Atas Tariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kudus Jawa Tengah) | Mu'min | QUALITY 2116 7406 2 PB

Setelah jama‟ah atau muridin diajarkan aqidah (tauhid), syari‟at (fikih), dan tarekat (tasawuf), selanjutnya mereka dibimbing mengamalkan tazkiyah al-Nafs dan tashfiyah al-Nafs. Setelah Kyai Shiddiq merasa yakin semua peserta pengajian tersebut menguasai ketiga ajarannya tersebut, barulah mereka dibai‟at menjadi anggota Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah Piji, yang dilaksanakan di Masjid Al-Wustho. Untuk mempelajari dan memperdalam masalah-masalah ketasawufan, Kyai Shiddiq juga menggunakan rumah kediamannya sebagai tempat kegiatan pengajian, seperti konsultasi masalah agama, membahas masalah tarekat, terapi ilmu hikmah, dan bimbingan keagamaan Islam (Wawancara dengan Kyai Haji Muchtar Amin Shiddiq, 19 Oktober 2015).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Tarekat Syâdziliyah Dan Hizbnya

Tarekat Syâdziliyah Dan Hizbnya

terdapat pada kain wol bertambal dan terbuat dari bahan kasar, yang seringkali dikenakan sebagai simbol lahiriah oleh kalangan sufi pada umumnya. Mereka tidak hidup mengembara atau mengasingkan diri sebagai orang fakir. Sebaliknya mereka berpakaian seperti masyarakat umum, bahkan sebagian dari mereka seperti halnya pendiri tarekat ini sering mengenakan pakaian yang indah. Inilah yang mengakibatkan orang sering bertanya, apakah sang Syaikh ini benar-benar seorang sufi. Pakaian yang mereka pakai merefleksikan strata sosialnya, apakah seorang guru, pedangang, pegawai atau yang lainnya. 34 Pada tingkat ini, dapat di mengerti kesimpulan yang dibuat Annemari Schimmel, bahwa tarekat ini mempunyai pendekatan pragmatis untuk kenyamanan duniawi. Seorang faqih kepada Tuhan tidak harus miskin harta, begitu pula tidak harus menyendiri, malah dianjurkan untuk merealisasikan ajaran tarekat ini kepada masyarakat di tengah- tengah kesibukannya. 35
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Tarekat syadziliyah dan hizbnya

Tarekat syadziliyah dan hizbnya

terdapat pada kain wol bertambal dan terbuat dari bahan kasar, yang seringkali dikenakan sebagai simbol lahiriah oleh kalangan sufi pada umumnya. Mereka tidak hidup mengembara atau mengasingkan diri sebagai orang fakir. Sebaliknya mereka berpakaian seperti masyarakat umum, bahkan sebagian dari mereka seperti halnya pendiri tarekat ini sering mengenakan pakaian yang indah. Inilah yang mengakibatkan orang sering bertanya, apakah sang Syaikh ini benar-benar seorang sufi. Pakaian yang mereka pakai merefleksikan strata sosialnya, apakah seorang guru, pedangang, pegawai atau yang lainnya. 34 Pada tingkat ini, dapat di mengerti kesimpulan yang dibuat Annemari Schimmel, bahwa tarekat ini mempunyai pendekatan pragmatis untuk kenyamanan duniawi. Seorang faqih kepada Tuhan tidak harus miskin harta, begitu pula tidak harus menyendiri, malah dianjurkan untuk merealisasikan ajaran tarekat ini kepada masyarakat di tengah- tengah kesibukannya. 35
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

TASAWUF DAN TAREKAT: Komparasi dan Relasi

TASAWUF DAN TAREKAT: Komparasi dan Relasi

positif bagi peningkatan kualitas kesalehan individual utamanya, tidak bisa dipungkiri bahwa tasawuf juga menebar benih-benih negatif karena dalam perkembangannya banyak terjadi pengkultusan terhadap guru-guru tasawuf oleh para pengikutnya sehingga muncul khurafat dan tahayul, klenik, hidup tak senonoh dan memalukan, mengabaikan syariat, bicara tak karuan menuju ketenaran. Saat inilah kritik tajam atas tasawuf disampaikan oleh Ibn. Taimiyyah (w.728H) sehingga masa ini disebut juga masa pemurnian tasawuf, yaitu sekitar abad ke-8H. Menurut Ibn. Taimiyyah mengikuti yang pernah diajarkan Nabi Muhammad, tanpa harus mengikuti tarekat, tidak selalu harus hidup mengasingkan diri dari masyarakat. 13
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

MEKANISME PERTAHANAN DIRI KAUM TAREKAT

MEKANISME PERTAHANAN DIRI KAUM TAREKAT

Namun lebih dari itu, dalam kerangka berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain, ordo tarekat menyiapkan diri untuk bersaing memperebutkan peluang hidup dan kelangsungannya. Dalam konteks ini, tampaknya, tarekat bukanlah merupakan fenomena tunggal dan sederhana, tetapi memiliki suprastruktur yang kompleks terkait dengan ideologi dan aliran-aliran sufistik yang mendasari tarekat tersebut, sehingga dalam realitasnya terdapat tarekat-tarekat yang berbeda dalam ideologi sufistiknya yang dapat saja menjurus pada suatu sikap egoisme teologis dalam bentuk truth claim . Oleh karena itu, dalam interaksi antar-tarekat, bukan tidak mungkin, kalau terjadi perselisihan yang bersifat sosiologis, yakni saling menolak kehadiran satu sama lain yang berujung pada sebuah permusuhan fisik destruktif. Sebagai contoh dalam hal ini adalah tarekat-tarekat yang berkembang di Aceh pada abad ke-16 dan ke-17 M., dan di Jawa pada abad yang sama hingga abad ke-20 M. Di Aceh, terjadi konflik antara Tarekat Qa> diri> yah yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Tarekat Rifa> ‘i> yah yang diajarkan oleh Nuruddin al-Raniri. 46 Dalam mengembangkan tarekatnya, Fansuri mendasarkan pada
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Bagaimana Asal-Usul Tarekat Sufi?

Bagaimana Asal-Usul Tarekat Sufi?

Sebagai bentuk organisasi sufi, tarekat ialah sebuah perkumpulan yang menjalankan kegiatan latihan rohani menggunakan metode tertentu. Biasanya metode itu disusun oleh seorang guru tasawuf yang juga ahli psikologi. Tarekat kadang disebut madzab, ri`aya dan suluk. Dalam tarekat seorang guru sufi (pir) membimbing seorang murid (talib) dalam cara berpikir dan berzikir; merasakan pengalaman keagamaan dan berbuat di jalan agama; serta bagaimana mencapai maqam (peringkat rohani) tertinggi seperti makrifat, fana dan baqa`, serta faqir.

4 Baca lebih lajut

Tarekat syadziliyah dalam pemberdayaan pendidikan dan ekonomi: studi kasus tarekat syadziliyah di Kabupaten Blitar.

Tarekat syadziliyah dalam pemberdayaan pendidikan dan ekonomi: studi kasus tarekat syadziliyah di Kabupaten Blitar.

Mustaqim.Adapun bentuk ijazah yang diterima kiai Abdul Razaq dari kiai Mustaqim ada tiga pendapat, pendapat pertama adalah ijazah khizib Autad (Kafi), pendapat kedua ijazah Asma’ Baladiyah sedangkan pendapat yang ketiga adalah ijazah Bismillahi laa yadhurru (ilaa akhirihi) dan al Ghoniyyul Maani’u (ilaa akhirihi) yang dibaca dalam jumlah tertentu.Sedangkan kiai Mustaqim mendapat ijazah dari kiai Abdul Razaq berupa tarekat Syadziliyah dan sekaligus beliau berpesan untuk mengembangkan dan mensyiarkan tarekat Syadziliyah.Oleh karena amanat kiai Abdul Razaq inilah diantara tiga tarekat yang dianjurkan di pondok PETA, tarekat Syadziliyah merupakan tarekat yang lebih banyak diajarkan kepada murid-murid pondok PETA.Bahkan sampai sekarang pondok PETA lebih dikenal sebagai pondok tarekat Syadzililiyah dibanding dengan kedua tarekat lainya. Selain mendapat ijazah tarekat Syadziliyah dari kiai Abdul Razaq, beliau juga menerima ijazah beberapa khizib terutama yang diambil dari khazanah ajaran tarekat Syadziliyah antara lain khizib Bahr, khizib Nashr, khizib Barr, khizib Khujub, khizib Khafidhah dan shalawat Nuuruz Zati.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

BAB III TAREQAT DI DUNIA ISLAM. doocx (1)

BAB III TAREQAT DI DUNIA ISLAM. doocx (1)

Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al- Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

Dari defenisis tentang mistik, ataupun pokok-pokok ajaran tasawuf yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyah dan al-Ghazali bahwa tujuan utama yang menjdi pusat ideal orang-orang yang menjalankan laku mistik atau tasawuf adalah mendapatkan penghayatan ma’rifat langsung pada zat Allah atau zat mutlak. Para sufi lebih sering menamakan Zat Allah sebagai a-haqq atau Haqiqah Zat Yang Nyata (the Reality). Yakni realitas Mutlak yang bias dihayatinya. Hanya saja mata manusia menurut al-Ghazali tidak akan bias menangkap cahaya Tuhan lantaran terlalu terang. Maka yang bia menangkap dan menghayati Zat Tuhan dan alam gaib adalah kalbu (mata hati), yakni jiwa manusia. Dengan demikikian yang menjadi pusat dalam ajaran tasawuf adalah penghayatan kasyaf. Yaitu penghayatan ecstasy atau istilah tasawufnya fana’ dan ma’rifat. Yakni berarti kajiwaan. Oleh karena itu jalan yang harus ditempuhnya adalah meditasi konsentrasi di dalam zikir pada Allah. Dalam tasawuf manuju Tuhan ini dinamakan dengan tarekat. Yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan the path , menurut . R.A. Nicholson
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN TAREKAT PERSPEKTIF KH. ACHMAD ASRORI AL ISHAQY DAN RELEVANSINYA TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL.

PENDIDIKAN TAREKAT PERSPEKTIF KH. ACHMAD ASRORI AL ISHAQY DAN RELEVANSINYA TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL.

Pada dasarnya, aneka ragam pengertian tarekat di atas mengarah pada dua hal pokok, yaitu pertama , esensi tarekat, yakni pengamalan syariat secara mendalam dan kontinyu, dan dalam hal ini tidak harus menggunakan metode atau tuntunan dari seorang guru murshid. kedua adalah sistem pengamalan tarekat, atau yang disebut organisasi tarekat sufi yang dipimpin oleh seorang guru murshid dalam mengamalkan ritual atau wirid dan dhikir tertentu, dan dalam sistem ini pengamalannya harus mengikuti ketentuan dan tatacara yang telah diracik dan ditetapkan oleh guru murshidnya. Karena dalam tarekat model ini, biasanya saliknya telah berjanji atau yang disebut dengan istilah bay’at dan memasrahkan segala urusan batinnya kepada guru murshidnya untuk dibimbing menuju menghadap Allah Swt.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Show all 226 documents...