Teknik Latihan Asertif

Top PDF Teknik Latihan Asertif:

IMPLEMENTASI TEKNIK LATIHAN ASERTIF DALAM MENGATASI PERILAKU PASIF : STUDI KASUS SISWA “X” PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA.

IMPLEMENTASI TEKNIK LATIHAN ASERTIF DALAM MENGATASI PERILAKU PASIF : STUDI KASUS SISWA “X” PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA.

yang baik tentu akan berdampak pada kehidupannya kelak. Apabila klien belum bisa memecahkan masalah yang ia hadapi tentang pelajaran matematika konselor menyarankan agar klien ikut les privat matematika agar ada yang membimbing jika menemmui kesulitan. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari semangat siswa itu sendiri, untuk bisa bangkit dan percaya diri bahwasaannya ia mampu dan bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Usaha klien tersebut dapat dibuktikan melalui wawancara dan observasi langsung dari klien pada saat pembelajaran matematika berlangsung, setelah diberikannya terapi untuk membantu mengatasi perilaku pasif siswa “X” dengan teknik latihan asertif.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK LATIHAN ASERTIF TERHADAP PENYESUAIAN DIRI SISWA KELAS VII MTS. MIFTAHUSSALAM MEDAN T.A 2015/2016.

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK LATIHAN ASERTIF TERHADAP PENYESUAIAN DIRI SISWA KELAS VII MTS. MIFTAHUSSALAM MEDAN T.A 2015/2016.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif terhadap penyesuaian diri siswa diperoleh nilai rata-rata pre-test = 53 dan Standart Deviasi (SD) = 9,498 sedangkan nilai rata-rata post-test = 78,5 dan Standar Deviasi (SD) = 10,07 dengan demikian pemberian layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif dapat meningkatkan penyesuaian diri siswa. Hai ini dapat dilihat dari hasil uji wilcoxon yang menunjukkan bahwa pada uji jumlah jenjang wilcoxon diperoleh hasil perhitungan jumlah jenjang bertanda positif = 55 dan jumlah jenjang bertanda negative = 0. Jadi, nilai J= 0 yaitu jumlah jenjang yang lebih kecil. Dari tabel nilai kritis J untu k uji jenjang bertanda wilcoxon untuk n= 10, α = 0,05 penguji dua arah J 0,05 = 6,5. Oleh karena J 0,05 (6,5) > J (0) maka H 0 ditolak. Ini berarti bahwa
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Efektivitas Terapi Tingkah Laku dengan Teknik Latihan Asertif dalam Rangka Menurunkan Derajat Stres Kerja (Studi Kasus pada Karyawan Departemen QMS dan Divisi Lingkungan di PT “X” Bandung).

Efektivitas Terapi Tingkah Laku dengan Teknik Latihan Asertif dalam Rangka Menurunkan Derajat Stres Kerja (Studi Kasus pada Karyawan Departemen QMS dan Divisi Lingkungan di PT “X” Bandung).

Pertama-tama, saya sebagai peneliti dengan penuh kerendahan hati ingin memanjatkan puji syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat, rahmat, bimbingan dan juga cinta kasih yang telah Ia berikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul “Efektivitas Terapi Tingkah Laku dengan Teknik Latihan Asertif dalam Rangka Menurunkan Derajat Stres Kerja (Studi Kasus pada Karyawan Departemen QMS dan Divisi Lingkungan PT “X” Bandung)” ini.

41 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK LATIHAN ASERTIF TERHADAP PENINGKATAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA KELAS X SMK SWASTA HARAPAN STABAT TAHUN AJARAN 2015/2016.

PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK LATIHAN ASERTIF TERHADAP PENINGKATAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISWA KELAS X SMK SWASTA HARAPAN STABAT TAHUN AJARAN 2015/2016.

Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi experiment dengan One Group pre-test post-test Design. Subjek penelitian ini adalah 10 siswa kelas X SMK Swasta Harapan Stabat yang ditentukan dari hasil screening (penyaringan) dengan langkah-langkah sebagai berikut : (1). bertanya kepada guru BK atau guru bidang studi , (2) member angket kepada siswa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik latihan asertif, (3) melihat hasil siswa yang mengalami penyesuaian diri rendah dari hasil angket (4) jika sampel lebih dari 10 orang, maka dilakukan random sampling. Namun jika ada 10 siswa maka tidak perlu dilakukan random sampling. Instrument yang digunakan adalah angket peningkatan komunikasi interpersonal untuk menjaring data tentang komunikasi interpersonal siswa yang sebelumnya diuji cobakan untuk mengetahui validitas dan reabilitas angket. Instrumen diberikan sebelum dan sesudah pemberian layanan bimbingan kompok teknik latihan asertif. Teknik analisis data menggunakan uji tanda wilcoxon.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PROGRAM KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK LATIHAN ASERTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN INTERPERSONAL SISWA.

PROGRAM KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK LATIHAN ASERTIF UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN INTERPERSONAL SISWA.

Bersandar pada fakta bahwa program Bimbingan Konseling di SMK Bina Budi belum secara khusus mencantumkan aspek yang dapat menjadikan siswa mampu meningkatkan keterampilan interpersonalnya, perlu dimunculkan layanan yang memungkinkan untuk pencapaian hal tersebut. Dengan kata lain, perlu disusun program layanan bimbingan dan konseling yang dapat meningkatkan keterampilan interpersonal siswa. Dalam tataran inilah layanan latihan asertif layak untuk dikedepankan. Hal ini dimungkinkan karena latihan asertif biasanya diterapkan pada situasi-situasi interpersonal yang di dalamnya individu kesulitan menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan layak dan benar.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

A. BUSTHOMI MAGHROBI NPM: 1211080132 JURUSAN : Bimbingan dan Konseling - EFEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEMBANTU MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMP NEGERI 8 BANDAR LAMP

A. BUSTHOMI MAGHROBI NPM: 1211080132 JURUSAN : Bimbingan dan Konseling - EFEKTIVITAS LAYANAN KONSELING KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEMBANTU MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK KELAS VIII DI SMP NEGERI 8 BANDAR LAMP

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan tahap ini secara umum berjalan dengan lancar, hal ini terlihat dari antusias peserta didik yang dapat memahami maksud dari kegiatan dan tujuan layanan konseling kelompok teknik latihan asertif, namun pada awal tahapan masih terdapat peserta didik yang malu- malu dan belum berani mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapi tetapi setelah peneliti menunjukkan penerimaan yang hangat berupa memberikan umpan balik, penguatan serta menjelaskan manfaat yang akan diperoleh setelah melakukan kegiatan layanan konseling kelompok dengan teknik latihan asertif, sebagian besar peserta didik mulai dapat terbuka dan mengganggap kegiatan ini sebagai kegiatan yang berarti untuk menangani peserta didik yang mengalami masalah percaya diri.
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK ASSERTIVE TRAINING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK TEKNIK ASSERTIVE TRAINING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Teknik latihan asertif ini dipilih oleh peneliti karena pada dasarnya individu memiliki komunikasi interpersonal yang baik apabila mampu mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain dalam berkomunikasi diperlukan sikap asertif. Purwanta (2012:166) menjelaskan asertivitas atau sikap asertif adalah kemampuan dan kemauan untuk menyatakan secara langsung berdasarkan kondisi interpersonalnya. Sehingga diperlukan suatu upaya untuk dapat menumbuhkan sikap asertif agar seorang individu mampu berkomunikasi dengan baik. Menurut Goldstein (1986) latihan asertif merupakan rangkuman yang sistematis dari keterampilan, peraturan, konsep atau sikap yang dapat mengembangkan dan melatih kemampuan individu untuk menyampaikan dengan terus terang pikiran, perasaan, keinginan dan kebutuhannya dengan penuh percaya diri sehingga dapat berhubungan baik dengan lingkungan sosialnya.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus  Repositori Universitas Muria Kudus

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus Repositori Universitas Muria Kudus

Laksemi, Dwi, Sri, Gede, Ayu, Ida. 2014. Penerapan Konseling Behavioral Dengan Teknik Latihan Asertif Untuk Meningkatkan Self Adjusment Siswa Kelas X Iis 3 SMA Negeri 2 Singaraja. [online]. (http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJBK/article/view/3683, diakses tanggal 1 Juli 2017)

3 Baca lebih lajut

Efektivitas Teknik Penapasan Buteyko Terhadap Penurunan Gejala Asma pada Penderita Asma di Kota Medan.

Efektivitas Teknik Penapasan Buteyko Terhadap Penurunan Gejala Asma pada Penderita Asma di Kota Medan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillah, puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat, karunia dan hidayah-Nya yang tiada terhitung sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Efektivitas Teknik Pernapasan Buteyko terhadap Penurunan Gejala Asma pada Penderita Asma di Kota Medan”, untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada Uswatun Hasanah, Rasulullah Muhammad SAW, semoga mendapat syafaat beliau di yaumul akhir kelak.

Baca lebih lajut

BLOK MENTAL HEALTH NURSING MAKALAH ANALI

BLOK MENTAL HEALTH NURSING MAKALAH ANALI

perlakuan maupun kelompok kontrol berada dalam kondisi akut / intensif (skor mGAF-R < 30), hampir semua pasien yang dijadikan responden masuk rumah sakit dengan alasan melakukan tindakan kekerasan terutama yang diarahkan kepada orang lain atau lingkungan. Skor mGAF-R 11 – 20 merupakan kondisi dimana pasien menunjukkan menderita akibat pengabaian atau dalam bahaya mencederai diri sendiri dan orang lain. Skor mGAF-R 21 – 30 merupakan kondisi dimana pasien menunjukkan ketidakmampuan fungsional pada hampir seluruh area (Vylder, 2012 ; Werbeloff, 2015). Fase intensif pasien setelah pemberian AT dan SAK PK pada kelompok perlakuan dan setelah pemberian SAK PK pada kelompok kontrol Skor mGAF-R setelah diberikan latihan asertif dan standar asuhan keperawatan perilaku kekerasan mengalami peningkatan nilai p 30 menunjukkan pasien sudah tidak berada dalam fase intensif / fase akut sehingga pasien dapat dipindahkan ke sub akut / ruang perawatan non intensif. (Pokjakep.RSJ.RW. Lawang, 2011).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

LAPORAN INDIVIDU PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) LOKASI SMP N 1 TURI.

LAPORAN INDIVIDU PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) LOKASI SMP N 1 TURI.

Secara umum, pengajaran mikro bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan kompetensi dasar mengajar sebagai bekal praktik mengajar (real-teaching) di sekolah/lembaga pendidikan dalam program PPL. Pengajaran mikro dilaksanakan diprogram studi (prodi) masing-masing fakultas oleh dosen pembimbing pengajaran mikro. Pelaksanaan pengajaran mikro dilakukan pada semester VI. Pelaksanaan pengajaran mikro melibatkan unsur-unsur dosen pembimbing pengajaran mikro, staf LPPMP, dan mahasiswa/siswa. Kegiatan kuliah pengajaran mikro lebih menekankan pada latihan, yang meliputi orientasi pengajaran mikro yang dilaksanakan sebelum perkuliahan pengajaran mikro, observasi pembelajaran dan kondisi sekolah/lembaga, dan praktik pengajaran mikro. Dalam pelaksanaan praktik pengajaran mikro, mahasiswa dilatih keterampilan dasar mengajar yang meliputi keterampilan dasar mengajar terbatas dan keterampilan dasar mengajar terpadu.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL LATIHAN TEKNIK SMASH DALAM OLAHRAGA BOLA VOLI

PENGEMBANGAN MODEL LATIHAN TEKNIK SMASH DALAM OLAHRAGA BOLA VOLI

Dalam penelitian ini uji coba produk dilakukan sebanyak dua kali, yaitu uji coba produk dan uji coba pemakaian. Sebelum dilaksanakan uji coba di lapangan, produk penelitian berupa draf divalidasi terlebih dahulu. Dalam tahap tersebut, selain validasi para expert judgment juga akan diberikan penilaian terhadap draf yang telah disusun, sehingga akan diketahui apakah model latihan yang disusun layak untuk diujicobakan di lapangan. Kemudian dalam tahap uji coba di lapangan peran dari expert judgment adalah untuk mengobservasi kelayakan draf yang telah tersusun dengan kenyataan di lapangan. Akhirnya setelah uji pemakaian maka akan menghasilkan sebuah model latihan yang benar-benar valid.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Survey Perilaku Asertif Mahasiswi Teknik Sipil yang Sedang atau Telah Mengikuti Kerja Praktek Lapangan Universitas "X" Kota Bandung.

Survey Perilaku Asertif Mahasiswi Teknik Sipil yang Sedang atau Telah Mengikuti Kerja Praktek Lapangan Universitas "X" Kota Bandung.

Menurut Rathus dan Nevid (1977), asertivitas adalah tingkah laku yang menampilkan keberanian untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan, perasaan dan pikiran-pikiran apa adanya tanpa menyakiti orang lain. Tingkah laku asertif paling mudah dimengerti sebagai lawan dari tingkah laku cemas atau bertahan. Mahasiswi Teknik Sipil yang sedang atau telah mengikuti kerja praktek lapangan yang asertif adalah yang bersikap aktif terhadap hidupnya, berani secara langsung mengekspresikan pikiran dan perasaannya, berani dalam mengemukakan ‘siapa dirinya’. Rathus dan Nevid (1980) mengemukakan bahwa seseorang yang asertif mempunyai ciri mampu menyatakan perasaannya dengan baik kepada semua orang (dosen, mandor, dan kuli bangunan), karena mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Mahasiswi Teknik Sipil yang sedang atau telah mengikuti kerja praktek lapangan yang asertif juga mampu menghargai hak-hak orang lain selain tetap memperhatikan hak-haknya sendiri.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

LATIHAN ASERTIF

LATIHAN ASERTIF

Inti dari perilaku asertif adalah kejujuran, yaitu cara hidup atau bentuk komunikasi yang berl skan kepada kejujuran dari hati yang paling dalam sebagai bentuk penghargaan pada orang lain, dalam cara-cara yang positif dan menetap, yang dicirikan dengan kemampuan untuk mengekspresikan diri tanpa menghina, melukai, mencerca, menyingung, atau menyakiti perasaan orang lain, mampu mengntrol perasaan diri sendiri tanpa rasa takut dan marah. Dalam kehidupan atau komunikasi sehari-hari, orang yang asertif akan lebih memilih pola interaksi I’ oka , ou’ e oka atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang lebih mencermintan tangungjawab pribadi, seperti penggunaan kata- kata sa a da i pada atau ka u . Misal a, sa a sedih, a ah, dan malu ketika saya tahu ... da i pada ka u pe oho g, tidak disipli , da tidak dapat dipercaya karena .... . Dengan demikian, orang yang asertif akan memiliki kebebasan untuk meluapkan perasaan apa pun yang dirasakan, dan berani mengambil tanggung jawab terhadap perasaan yang dialaminya dan menerima orang lain secara terbuka. Memiliki keberanian untuk tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari perasaan yang dialaminya, tetapi orang lain pun memiliki kebebasan untuk mengungkap apa yang dirasakannya.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

metode melatih fisik renang

metode melatih fisik renang

› Proses latihan harus teratur dan bersifat progresif. Teratur maksudnya latihan harus dilakukan secara ajeg, maju, dan berkelanjutan (kontinyu). Sedang bersifat progresif maksudnya materi latihan diberikan dari yang mudah ke yang sukar, dari yang sederhana ke yang lebih sulit (kompleks), dan dari yang ringan ke yang lebih berat.

39 Baca lebih lajut

PJOK Kelas 8. Bab 2. Permainan dan Olah Raga Bola Kecil

PJOK Kelas 8. Bab 2. Permainan dan Olah Raga Bola Kecil

Bermain tenis tidaklah mudah. Beberapa orang membutuhkan latihan, kesabaran, dan pada beberapa kasus membutuhkan petunjuk-petunjuk profesional. Berikut ini beberapa teknik dasar yang harus dikuasai siswa dalam permainan tenis. Dengan demikian siswa dapat mempraktikkan teknik dasar, melakukan variasi dan kombinasi teknik dasar permainan tenis dengan nilai kerja sama, toleransi, percaya diri, menghargai lawan, serta bersedia berbagi tempat dan peralatan.

24 Baca lebih lajut

S KOR 0900856 Chapter1

S KOR 0900856 Chapter1

Dalam permainan atau pertandingan, penggunaan aplikasi keterampilan teknik dasar sangat dibutuhkan, karena teknik dasar permainan adalah pondasi yang dapat menentukan kalah atau menangnya permainan tersebut. Oleh karena itu sebuah trik atau cara harus dilakukan oleh pelatih dan kemudian diajarkan atau didemonstrasikan kepada pemain untuk meningkatkan keterampilan.setiap pelatih senantiasa selalu ingin berusaha untuk meningkatkan prestasi atlet-atletnya semaksimal mungkin, untuk itu pelatih harus selalu meningkatkan pengetahuanya dalam melatih. Sebagaimana dijelaskan Harsono (1988:99) :” pelatih dengan sendirinya harus senantiasa berusaha untuk meningkatkan pengetahuanya di dalam teori dan metodologi latihanya ” .
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa SMP Negeri 1 Bawen Kabupaten Semarang Melalui Konseling Kelompok T1 132007083 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa SMP Negeri 1 Bawen Kabupaten Semarang Melalui Konseling Kelompok T1 132007083 BAB II

Menurut Corey (1993) konseling behavioral merupakan bentuk tertentu dari modivikasi perilaku. Walaupun perubahan perilaku berhubungan dengan penggunaan umum asumsi-asumsi, konsep dan teknik yang berhubungan dengan perilaku yang mengendalikan, mengubah atau memodifikasi perilaku, konseling behavioral secara khusus mencoba menghapus perilaku yang salah dan membantu konseli untuk memperoleh ketrampilan baru serta terdapat terapi behavioral yang menekankan dimensi kognitif manusia dan berbagai macam metode yang diorintesikan pada tindakan.

45 Baca lebih lajut

S KOR 0704006 Chapter3

S KOR 0704006 Chapter3

Metode eksperimen merupakan rangkaian kegiatan percobaan dengan tujuan untuk menyelidiki suatu hal atau masalah sehingga diperoleh hasil. Jadi dalam metode eksperimen harus ada faktor yang dicobakan, dalam hal ini faktor yang dicobakan dan merupakan variabel bebas adalah metode latihan kecepatan yang menerapkan latihan S-A-Q (speed, agility,dan quickness) dan kelompok kontrol atau metode latihan kecepatan tanpa menerapkan latihan S-A-Q (speed, agility,dan quickness) untuk diketahui pengaruh dan perbedaannya terhadap peningkatan kecepatan melakukan teknik dribbling pada cabang olahraga futsal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...