Teman sebaya

Top PDF Teman sebaya:

LAYANAN INFORMASI TENTANG HUBUNGAN TEMAN SEBAYA PADA SISWA KELAS VIII SMP N 21 PONTIANAK

LAYANAN INFORMASI TENTANG HUBUNGAN TEMAN SEBAYA PADA SISWA KELAS VIII SMP N 21 PONTIANAK

Masa remaja merupakan fase yang sangat potensial bagi tumbuh dan berkembangnya aspek fisik maupun psikis, baik secara kualitas maupun kuantitas.Karena mereka menganggap dirinya sudah bukan anak-anak lagi, tetapi orang-orang disekelilingnya masih mengaggap mereka belum dewasa. Akan tetapi, perilaku mereka seringkali masih bersifat implusif dan belum menunjukkan kedewasaan yang disebabkan dorongan yang kuat ingin menemukan dan menunjukkan jati dirinya, remaja sering kali melepaskan diri dari orang tuanya dan mengarahkan perhatian kepada lingkungan diluar keluarganya dan cenderung lebih senang bersama dengan teman-teman sebayanya.Menurut Santrock (2007:58) yaitu “Remaja memiliki motivasi yang kuat untuk berkumpul dengan kawan sebaya dan menjadi sosok yang mandiri”. Kebutuhan akan bimbingan dan konseling akan timbul karena adanya masalah dalam kehidupan masyarakat dalam hubungan teman sebaya. Semakin rumit keadaan individu itu sendiri, maka akan semakin banyak pulalah masalah yang dihadapi. Maka dari itu para remaja sangatlah butuh informasi tentang bagaimana kah hubungan dengan teman sebayanya itu sendiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI  Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dan interaksi teman sebaya dengan prokrastinasi akademik mahasiswa. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 8 keatas atau yang sedang menempuh skripsi di Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan jumlah 114 responden. Hipotesis yang diuji adalah ada hubungan antara konsep diri dan interaksi teman sebaya dengan prokrastimnasi akademik. Teknik pengambilan sampel dengan insidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga skala, yaitu skala prokrastinasi akademik, konsep diri dan interaksi teman sebaya. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitan ini adalah analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dan interaksi teman sebaya dengan prokrastinasi akademik. Sumbangan efektif konsep diri dan interaksi teman sebaya terhadap prokrastinasi akademik sebesar 15%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dan interaksi teman sebaya dengan prokrastinasi akademik. Kesimpulan hubungan konsep diri dan interaksi teman sebaya bersifat negatif terhadap prokrastinasi akademik. Artinya, semakin tinggi konsep diri dan interaksi teman sebaya maka prokrastinasi akademik mahasiswa akan turun. Implikasi penelitian ini dalam bidang pendidikan adalah prokrastinasi akademik dapat dikurangi dengan meningkatkan konsep diri dan interaksi teman sebaya. Konsep diri memberikan kerangka berfikir yang menentukan bagaimana mengolah informasi tentang diri sendiri baik dari aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek moral dan aspek keluarga, sehingga mahasiswa memiliki motivasi diri, kestabilan emosi dan percaya terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas akademik. Selain itu tingginya interaksi teman sebaya sebagai fungsi sumber informasi dan motivasi dapat memberikan pengaruh baik bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Keluarga dan Teman Sebaya Terha

Pengaruh Keluarga dan Teman Sebaya Terha

Dewasa ini, banyak sekali kendala dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas salah satunya adalah faktor motivasi dalam belajar pada siswa. Motivasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh diri sendiri ataupun di luar diri sendiri. Faktor di luar diri salah satunya adalah agen sosial. Seperti yag dijelaskan oleh Muin (2013: 119) ada empat agen sosialisasi yang utama yaitu keluarga, kelompok bermain, lembaga pendidikan sekolah, dan media massa. Agen-agen sosial ini bisa berperan aktif dalam hal merangsang motivasi seseorang dalam belajar ataupun sebaliknya, yaitu menekan motivasi belajar sehingga daya tarik dan keinginan untuk belajar menurun. Pada penelitian ini, peneliti lebih menitikberatkan kepada keluarga dan teman sebaya yang bisa mempengaruhi motivasi belajar siswa di kelas.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH KONSEP DIRI TEMAN SEBAYA DAN BU

PENGARUH KONSEP DIRI TEMAN SEBAYA DAN BU

Menurut Tirtarahardja (2005) lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseorang peranan lingkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut. Teman sebaya adalah sebagai dua atau lebih banyak orang yang berinteraksi untuk mencapai baik tujuan-tujuan individual atau timbal balik. (Kiriinya, dkk 2014). Dalam kelompok sebaya itu anak belajar memberi dan menerima dalam pergaulannya dengan sesama temannya. Partisipasi di dalam kelompok sebayanya memberikan kesempatan yang besar bagi anak mengalami proses belajar sosial (social learning). Bergaul dengan teman sebaya merupakan persiapan penting dalam kehidupan seseorang setelah dewasa. Kelompok sebaya anak mempelajari kebudayaan masyarakat. Bahwa melalui kelompok sebaya itu anak belajar bagaimana menjadi manusia yang baik sesuai dengan gambaran dan cita-cita masyarakatnya, tentang kejujuran, keadilan, kerja sama, dan tanggung jawab..
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH TEMAN SEBAYA DAN PRESTASI BELAJ

PENGARUH TEMAN SEBAYA DAN PRESTASI BELAJ

Lebih lanjut, dari angket terbuka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X SMA Khad- ijah memiliki uang saku yang bervariasi dengan besaran uang saku yang terbilang cukup tinggi bagi ukuran uang saku siswa SMA. Selain dikonsumsikan untuk memenuhi kebu- tuhannya uang saku siswa tersebut sebagian juga ada yang disisihkan/ditabung. Dari data yang diperoleh diketahui bahwa jumlah siswa yang menabung jauh lebih tinggi diband- ingkan jumlah siswa yang tidak menabung. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas X SMA Khadijah Surabaya gemar menabung. Kondisi ini menunjukkan positif- nya pengaruh teman sebaya dalam perilaku konsumsi siswa di SMA Khadijah Surabaya. Karena teman yang gemar menabung memberi pengaruh baik terhadap teman sebayanya. Selain itu, hasil angket juga menunjukkan bahwa siswa SMA Khadijah suka men- coba membeli berbagai macam produk dari berbagai macam merk. Demi memenuhi kes- enangan untuk mencoba membeli berbagai macam merk, mereka berbelanja di beberapa toko yang berbeda dan memilih merk yang berbeda pula. siswa juga memiliki kecender- ungan untuk merencanakan kegiatan belanjanya dengan lebih berhati-hati, dan mereka biasanya bisa menghemat uang dengan berkeliling mencari barang di toko dengan harga termurah. Selain itu uang saku siswa SMA Khadijah yang diatas rata-rata uang saku siswa SMA pada umumnya dan adanya pengaruh teman sebaya yang suka jalan-jalan ke mall juga mempengaruhi mereka untuk melakukan hal yang sama. Jalan-jalan ke mall tersebut mereka lakukan untuk mengetahui trend dan mode yang terbaru sekaligus sebagai sarana bersosialisasi dengan teman sebaya mereka. Dengan demikian, jelas bahwa teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku konsumsi siswa SMA Khadijah Surabaya. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Schiffman dan Kanuk (2008: 308) yang menegaskan bahwa para remaja yang berusia belasan tahun mungkin menjadikan teman sebaya mereka seb- agai model perilaku konsumsi yang dapat diterima. Jadi bagi remaja yang berusia belasan tahun, perilaku konsumsi mereka akan lebih mengacu pada teman-teman sebayanya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Halaman 1. Blue Print Skala Konsep Diri ................................................................. 32 2. Blue Print Skala Penerimaan Kelompok Teman Sebaya ....................... 33 3. Susunan Aitem Skala Konsep Diri Berdasarkan Validitas .................... 41 4. Susunan Aitem Skala Penerimaan Kelompok Teman Sebaya

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Seperti yang diungkapkan oleh Seperti yang diungkapkan oleh Hurlock (1993) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah teman- teman sebaya (peergroup) tanggapan mengenai dirinya. jika individu tersebut menganggap bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu maka individu tersebut akan berusaha untuk mencapai apa yang diinginkannya. Oleh karena itu teman- teman sebaya memegang peran dalam memunculkan atau membentuk konsep diri. Hal ini didorong pula dengan pendapat yang diungkapkan oleh Havighurts mengenai kelompok teman sebaya yang disebut sebagai geng atau kelompok. Anak-anak menjadi anggota suatu kelompok teman sebaya yang secara bertahap menggantikan keluarga dalam mempengaruhi perilakunya. Horrock dan Benimoff (dalam Hurlock, 2002) kelompok teman sebaya merupakan dunia nyata kawula muda yang menyiapkan panggung dimana mereka dapat menguji, menjerumuskan dan memperbaiki konsep dirinya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial siswa SMPN 2 Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial siswa SMPN 2 Surakarta.

Penyesuaian sosial merupakan kemampuan seseorang untuk dapat bereaksi secara sehat dan efektif dalam kehidupan sosial agar dapat sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan Interaksi teman sebaya adalah interaksi sosial individu dengan individu lain yang memiliki usia hampir sama atau sepadan untuk memahami, memberikan perhatian, bermusyawarah, serta berbagi perasaan satu dengan yang lainnya. Didalam perkembangannya remaja banyak mengalami permasalahan penyesuian sosial seperti ketidakdisiplinan, perilaku membolos, kumpulan geng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Interaksi teman sebaya dengan Penyesuaian sosial siswa SMP N 2 Surakarta. Hipotesis pada penelitian ini ada 2 yaitu “ada hubungan positif antara Interaksi teman sebaya dengan Penyesuaian sosial ” dan “ada perbedaan Penyesuaian sosial berdasarkan urutan kelahiran” . Teknik sampling dalam penelitian ini adalah teknik cluster sampling dimana populasi penelitian tergabung dalam kelompok- kelompok. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan random dengan cara undian. Subjek yang digunakan untuk penelitian adalah siswa SMP N 2 Surakarta kelas VII dan VIII yang berjumlah 793 siswa, adapun sampel yang digunakan untuk penelitian berjumlah 134 siswa. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah skala yang terdiri dari skala Interaksi teman sebaya dan skala Penyesuaian sosial. Berdasarkan analisis data menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson dan teknik anava, diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,508 sign =0,001 <0,05 yang artinya bahwa ada korelasi positif yang sangat signifikan antara Interaksi teman sebaya dengan Penyesuaian sosial siswa SMP N 2 Surakarta. Semakin tinggi Interaksi teman sebaya siswa maka semakin tinggi pula Penyesuaian sosial yang dilakukan, demikian pula sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis Interaksi teman sebaya siswa tergolong sedang dilihat dari rerata empirik sebesar 43,01 dan Penyesuaian sosial siswa juga tergolong sedang dilihat dari nilai rata-rata empirik sebesar 78,05. Sumbangan efektif variable Interaksi teman sebaya terhadap Penyesuaian sosial 25,8 % dan 74,2 % dipengaruhi variabel lain. Penyesuaian sosial berdasarkan urutan kelahiran dengan perolehan sign 0,001 (p < 0,05) . yang artinya adanya perbedaan penyesuian sosial berdasarkan urutan kelahiran.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGARUH INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN PENALARAN MORAL TERHADAP KONTROL DIRI PADA SISWA KELAS XI SMKN 1 KASIHAN BANTUL TAHUN AJARAN 2014/2015.

PENGARUH INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN PENALARAN MORAL TERHADAP KONTROL DIRI PADA SISWA KELAS XI SMKN 1 KASIHAN BANTUL TAHUN AJARAN 2014/2015.

instrumen sekaligus pula menjadi objek penelitian. Pada penelitian ini, instrumen penelitian diuji cobakan kepada 32 siswa di SMKN 1 Kasihan yaitu pada siswa kelas XI Tari 3 dengan jumlah siswa 22 orang, XI Teater berjumlah 6 siswa, dan XI Pedalangan dengan jumlah 4 siswa. Setelah data diperoleh, selanjutnya diuji validitasnya dengan menggunakan Corrected Item-Total Corelation yang terdapat pada program komputer IBM SPSS Statistics 22. Hasil uji validitas menunjukkan rentang skor variabel interaksi teman sebaya 0,188 sampai dengan 0,639. Pada variabel penalaran moral rentang skor validitasnya yaitu antara -0,075 sampai 0,724. Sementara untuk variabel kontrol diri rentang skor validitasnya adalah 0,166 sampai 0,633. Syarat suatu faktor dapat menjadi konstruk yang kuat dan memiliki validitas yang baik adalah apabila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,3 keatas (Sugiyono, 2007: 178).
Baca lebih lanjut

209 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

sebaya dengan perilaku pacaran pada remaja.Namun, ada beberapa keterbatasan pada penelitian ini, antara lain: a) Generalisasi dari hasil-hasil penelitian ini terbatas pada subjek tempat penelitian dilakukan sehingga penerapan pada ruang lingkup yang lebih luas dengan karakteristik yang berbeda kiranya perlu dilakukan penelitian lagi dengan menggunakan atau menambah variabel-variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini ataupun dengan menambah dan memperluas ruang lingkup penelitian. b) Hanya melihat kondisi interaksi teman sebaya dengan perilaku pacaran pada remaja tanpa melihat faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi perilaku pacaran pada remaja.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA   Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU PACARAN PADA REMAJA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

Masalah pacaran tidak bisa lepas dari dunia remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai “naksir” lawan jenisnya. Dikalangan remaja, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Salah satu yang mempengaruhi perilaku pacaran pada remaja adalah Interaksi teman sebaya. Interaksi yang dilakukan remaja dengan lingkungannya, baik itu dengan kelompok teman sebayanya dalam kehidupan sehari-harinya dapat memberikan dampak negatif. Interaksi negatif yang dibangun remaja dengan kelompok teman sebayanya dapat membawa remaja terlibat dalam kenakalan remaja seperti pacaran.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

2 berani ambil resiko, karena bosan dan supaya kelihatan seperti orang dewasa (Nainggolan,2009) akan tetapi lama- kelamaan hal tersebut menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk dihindari dan dihentikan, hal tersebut disebabkan karena dampak ketergantungan yang ditimbulkan oleh rokok. Selain itu remaja yang merokok biasanya demi diterimanya dalam suatu kelompok teman sebaya, usia remaja merupakan usia yang masih memiliki emosi yang labil sehingga demi diterimanya dalam suatu kelompok teman sebaya ia akan melakukan apapun meskipun menyimpang. Seperti yang diungkapkan Hurlock (2012) Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman- teman sebayanya, tetapi sering kali diperoleh dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab salah satunya perilaku merokok. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chotidjah (2012) Sebagian besar perokok remaja pertama mengenal rokok dari teman- teman mereka (63,63%), orangtua (16,36%) dan keluarga (12,72%) yang
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

Perilaku merokok saat ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, akan tetapi para remaja juga banyak yang melakukan kegiatan yang merusak tubuh tersebut. Bagi sebagian remaja merokok dapat menjadikan individu lebih tenang ketika menghadapi suatu masalah, merasa percaya diri, dianggap sebagai orang dewasa, serta sebagai simbol kejantanan. Perilaku merokok pada remaja cenderung dilatarbelakangi oleh interaksi teman sebaya. Remaja selalu berusaha untuk menyamai dengan teman sebayanya dan menerima semua pengaruh dari teman sebaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja, untuk mengetahui tingkat interaksi teman sebaya, untuk mengetahui tingkat perilaku merokok pada remaja, dan untuk mengetahui peran interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja. Hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan positif antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN HARGA DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA  DENGAN KEPERCAYAAN DIRI   Hubungan Harga Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Kepercayaan Diri Remaja Awal.

HUBUNGAN HARGA DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI Hubungan Harga Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Kepercayaan Diri Remaja Awal.

Tabel 4.4. Uji Linieritas Harga Diri dengan Kepercayaan Diri …………………………….. 62 Tabel 4.5. Uji Linieritas Interaksi Teman Sebaya dengan Kepercayaan Diri ……….. 62 Tabel 4.6. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda ……………………………………………….. 63 Ta el . . Hasil A alisis Deter i asi……………………………………………………………… 65 Ta el . . Hasil A alisis Korelasi………………………………………………………………………… 66

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN INTERAKSI TEMAN  SEBAYA DENGAN STRES  BELAJAR   Hubungan Antara Harga Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Stres Belajar.

HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN STRES BELAJAR Hubungan Antara Harga Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Stres Belajar.

sikap. Dalam hal ini, seorang siswa misalnya diharapkan selalu memiliki motivasi yang tinggi untuk berprestasi, memiliki nilai- nilai yang positif dan sikap yang baik, yang mencerminkan sebagai seorang kaum terpelajar. Ini berarti bahwa harapan meliputi semua aspek formal dari belajar dan harapan informal, seperti harapan dari teman, masyarakat, dan orangtua. Semua harapan peran ini dapat menjadi salah satu sumber stres bagi siswa, terutama ketika ia merasa tidak mampu memenuhi harapan- harapan peran tersebut. Selanjutnya ada faktor interpersonal demands (tuntutan interpersonal). Dimensi keempat dari tuntutan sekolah yang dapat menjadi sumber stres bagi siswa adalah tuntutan interpersonal. Di lingkungan sekolah, siswa tidak hanya dituntut untuk dapat mencapai prestasi akademis yang tinggi, melainkan sekaligus harus mampu melakukan interaksi sosial atau menjalin hubungan baik dengan orang lain. Bahkan keberhasilan siswa di sekolah banyak ditentukan oleh kemampuannya mengelola interaksi sosial ini. Hal ini adalah karena sebagian besar waktunya dihabiskan bersama orang-orang di luar lingkungan keluarganya, seperti teman sebaya dan guru-guru.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Kepatuhan Santri di Pondok Pesantren Modern

Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Kepatuhan Santri di Pondok Pesantren Modern

Teman sebaya tidak hanya memberikan pengaruh negatif bagi santri, namun teman sebaya juga dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang positif. Dukungan yang diberikan teman sebaya merupakan kontributor penting bagi siswa sekolah menengah dalam membantu penyesuaian psikologis siswa dan membantu meningkatkan prestasi akademik di sekolah (Buchanan dan Bowen, 2008). Lingkungan teman sebaya positif dan dukungan yang diberikan teman sebaya dapat membantu santri untuk berperilaku patuh dan disiplin terhadap aturan di pondok pesantren, selain itu dukungan teman sebaya mampu meningkatkan kepatuhan santri terhadap aturan. Hasil penelitian Fiana, Daharnis dan Ridha (2013) menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan teman sebaya membuat siswa mampu untuk menghindari pengaruh negatif teman sebaya. Dukungan teman sebaya mampu membuat siswa tidak terpengaruh oleh ajakan teman untuk cabut, tidak takut diolok-olok teman lain apabila menaati peraturan dan tidak takut dikucilkan oleh teman lain apabila menaati aturan sekolah sehingga siswa dapat menolak pengaruh negatif dari teman sebaya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Penyesuaian Diri di Sekolah pada Siswa Baru di SMK Kristen Salatiga Tahun Ajaran 2015/2016

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Interaksi Teman Sebaya dengan Penyesuaian Diri di Sekolah pada Siswa Baru di SMK Kristen Salatiga Tahun Ajaran 2015/2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa baru di SMK Kristen Salatiga tahun ajaran 2015/2016. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Kristen Salatiga. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 95 siswa, pengambilan dengan menggunakan teknik ninprobability sampling. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan metode angket berupa skala likert untuk interaksi teman sebaya dan penyesuaian diri. Analisa data penelitian ini menggunakan teknik korelasi, dengan bantuan SPSS versi 16.0 forWindows. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa r = 0,384, p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian diri pada siswa, semakin tinggi interaksi yang dengan teman sebaya maka, semakin tinggi penyesuaian diri.Hasil analisa menunjukkan interaksi teman sebaya berada dalam kategori sedang dengan jumlah prosentase 72,63% sebanyak 69 siswa. Hasil analisa penyesuaian diri berada dalam kategori tinggi dengan jumlah prosentase 69,47% sebanyak 66 siswa.Sumbangan efektifnya 14,75%, yang berarti 85,25% penyebab penyesuaian diri di sekolah dapat disebabkan oleh fator lain seperti motif, harga diri, persepsi, sikap, intelegensi dan minat, kepribadian, keluarga, kondisi sekolah, prasangka sosial, hukum dan norma sosial.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hubungan Dan Teman Sebaya (1)

Hubungan Dan Teman Sebaya (1)

berinteraksi dengan sebaya (Collins & Steinberg, 2006). Satu studi menemukan bahwa orang tua yang sering memulai kontak sebaya untuk anak mereka yang berusia prasekolah memiliki anak-anak yang lebih diterima oleh teman sebaya mereka dan memiliki tingkat perilaku prososial yang lebih tinggi (Ladd &Hart, 1992). Lebih jauh, keputusan gaya hidup dasar oleh orang tua-pilihan lingkungan tetangga mereka, gereja, sekolah, dan teman mereka sendiri-banyak menentukan tempat anak mereka memilih teman (Cooper & Ayers-Lopez, 1985). Sebagai contoh, sekolah yang dipilih menentukan kegiatan akademis dan ekstrakurikuler tertentu, yang dapat mempengaruhi anak seperti apakah yang ditemui anak mereka, tujuan anak berinteraksi, dan akhirnya anak mana yang menjadi teman mereka. Sekolah yang dipilih mungkin juga memiliki kebijakan yang
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA, KINERJA MENGAJAR GURU, PERHATIAN ORANG TUA, DAN LINGKUNGAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG SISWA KELAS XI SMK YPKK 3 SLEMAN TAHUN AJARAN 2016/2017.

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA, KINERJA MENGAJAR GURU, PERHATIAN ORANG TUA, DAN LINGKUNGAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG SISWA KELAS XI SMK YPKK 3 SLEMAN TAHUN AJARAN 2016/2017.

Uji coba terhadap instrumen penelitian perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian yang valid dapat menunjukkan derajat ketepatan yaitu ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dilaporkan peneliti, sedangkan instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Uji coba instrumen ini dilakukan terhadap 35 Siswa Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 2 Sleman Tahun Ajaran 2016/2017. Uji coba dilakukan di kelas XI AK 4 dan XI AK 5 SMK YPKK 2 Sleman Tahun Ajaran 2016/2017 karena uji coba instrumen harus dilakukan pada responden yang memiliki karakteristik yang sama yaitu: Motivasi Belajar Siswa, Kinerja Mengajar Guru, Perhatian Orang Tua, dan Lingkungan Teman Sebaya .
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI  Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

Kebutuhan agar dapat diterima oleh lingkungan bagi setiap individu atau mahasiswa merupakan suatu hal yang sangat mutlak sebagai makhluk sosial. Berbagai permasalahan penyesuaian sosial akan muncul, diantaranya adalah problematika penerimaan teman sebaya. Mahasiswa yang kurang mampu menyesuaikan diri atau mengalami penolakan terhadap teman sebaya akan cenderung menarik diri dari lingkungan sehingga mahasiswa tersebut kurang dalam interaksi teman sebaya. Penerimaan atau penolakan dalam interaksi teman sebaya ini dapat mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa (Chairunnisa,2010)
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Show all 5901 documents...