Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun

Top PDF Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun:

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan optimasi enzim amylase telah dilakukan dari isolate bakteri amilolitik yang berasal dari tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Medan. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan sampel tanah yang diambil dari tiga titik pada kedalaman ± 15 cm. Isolat-isolat yang ditemukan lalu ditumbuhkan pada media selektif amylase dan dilakukan uji kualitatif dengan meneteskan larutan iodine kedalam media. Isolat positif amilolitik ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar koloni bakteri pada media seleksi. Zona bening yang terbentuk diukur dengan penggaris lalu dipilih tiga isolat untuk dilakukan optimasi produksi enzim amilase. Kondisi optimum yang ditentukan antara lain pH inkubasi, suhu inkubasi, dan waktu inkubasi. Variasi pH inkubasi yang digunakan adalah 6,0 ; 6,5 ; 7,0 ; 7,5 ; dan 8,0. Suhu inkubasi divariasikan dari 25 ℃ , 30 ℃ , 35 ℃ , 40 ℃ , dan 45 ℃ . Inkubasi selama 60 jam dengan pengamatan dilakukan setiap 12 jam. Aktivitas amilase ditentukan dengan metode Bernfeld pada panjang gelombang 540 nm. Hasil isolasi diperoleh 12 isolat berpotensi menghasilkan amilase dan setelah uji kualitatif dipilih tiga isolate yaitu FM 133, FM 134, dan FM 3022. Hasil optimasi produksi enzim untuk isolate FM 133 adalah pH inkubasi 6 pada pada suhu 40 ℃ selama 12 jam. Isolat FM 134 memiliki nilai optimum pada suhu 40 ℃ dengan pH 8 selama 60 jam. Sedangkan untuk isolat 3022 memiliki kondisi optimum setelah inkubasi selama 36 jam pada pH 6 dan suhu 40 ℃ .
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan optimasi enzim amylase telah dilakukan dari isolate bakteri amilolitik yang berasal dari tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Medan. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan sampel tanah yang diambil dari tiga titik pada kedalaman ± 15 cm. Isolat-isolat yang ditemukan lalu ditumbuhkan pada media selektif amylase dan dilakukan uji kualitatif dengan meneteskan larutan iodine kedalam media. Isolat positif amilolitik ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar koloni bakteri pada media seleksi. Zona bening yang terbentuk diukur dengan penggaris lalu dipilih tiga isolat untuk dilakukan optimasi produksi enzim amilase. Kondisi optimum yang ditentukan antara lain pH inkubasi, suhu inkubasi, dan waktu inkubasi. Variasi pH inkubasi yang digunakan adalah 6,0 ; 6,5 ; 7,0 ; 7,5 ; dan 8,0. Suhu inkubasi divariasikan dari 25 ℃ , 30 ℃ , 35 ℃ , 40 ℃ , dan 45 ℃ . Inkubasi selama 60 jam dengan pengamatan dilakukan setiap 12 jam. Aktivitas amilase ditentukan dengan metode Bernfeld pada panjang gelombang 540 nm. Hasil isolasi diperoleh 12 isolat berpotensi menghasilkan amilase dan setelah uji kualitatif dipilih tiga isolate yaitu FM 133, FM 134, dan FM 3022. Hasil optimasi produksi enzim untuk isolate FM 133 adalah pH inkubasi 6 pada pada suhu 40 ℃ selama 12 jam. Isolat FM 134 memiliki nilai optimum pada suhu 40 ℃ dengan pH 8 selama 60 jam. Sedangkan untuk isolat 3022 memiliki kondisi optimum setelah inkubasi selama 36 jam pada pH 6 dan suhu 40 ℃ .
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan optimasi enzim amylase telah dilakukan dari isolate bakteri amilolitik yang berasal dari tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun Medan. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan sampel tanah yang diambil dari tiga titik pada kedalaman ± 15 cm. Isolat-isolat yang ditemukan lalu ditumbuhkan pada media selektif amylase dan dilakukan uji kualitatif dengan meneteskan larutan iodine kedalam media. Isolat positif amilolitik ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar koloni bakteri pada media seleksi. Zona bening yang terbentuk diukur dengan penggaris lalu dipilih tiga isolat untuk dilakukan optimasi produksi enzim amilase. Kondisi optimum yang ditentukan antara lain pH inkubasi, suhu inkubasi, dan waktu inkubasi. Variasi pH inkubasi yang digunakan adalah 6,0 ; 6,5 ; 7,0 ; 7,5 ; dan 8,0. Suhu inkubasi divariasikan dari 25 ℃ , 30 ℃ , 35 ℃ , 40 ℃ , dan 45 ℃ . Inkubasi selama 60 jam dengan pengamatan dilakukan setiap 12 jam. Aktivitas amilase ditentukan dengan metode Bernfeld pada panjang gelombang 540 nm. Hasil isolasi diperoleh 12 isolat berpotensi menghasilkan amilase dan setelah uji kualitatif dipilih tiga isolate yaitu FM 133, FM 134, dan FM 3022. Hasil optimasi produksi enzim untuk isolate FM 133 adalah pH inkubasi 6 pada pada suhu 40 ℃ selama 12 jam. Isolat FM 134 memiliki nilai optimum pada suhu 40 ℃ dengan pH 8 selama 60 jam. Sedangkan untuk isolat 3022 memiliki kondisi optimum setelah inkubasi selama 36 jam pada pH 6 dan suhu 40 ℃ .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kajian Air Lindi Di Tempat Pembuangan Akhir Terjun Menggunakan Metode Thornthwaite

Kajian Air Lindi Di Tempat Pembuangan Akhir Terjun Menggunakan Metode Thornthwaite

Gerak air lindi sampah dapat diperkirakan melalui satu kejadian hujan atau satu periode hujan dengan tebal relative besar. Kaitan antara banyaknya hujan dan timbulan lindi perlu ditentukan dalam merancang kapasitas pengolahan lindi (leacheate). Lindi yang timbul dapat diperkirakan dengan menggunakan suatu metoda yang disebut Metoda Neraca Air (Water Balance Method). Metoda ini didasari oleh asumsi bahwa lindi hanya dihasilkan dari curah hujan yang berhasil meresap masuk ke dalam timbunan sampah (perkolasi). Metode yang sering digunakan pakar geofisika dan meteorologi, geohidrologi, geografi dan geologi adalah metode Thornthwaite, selain metode Penman dan rumus Truck. Keunggulan menggunakan rumus Thornthwaite adalah kesederhanaan data yang diperlukan dan kesederhanaan cara perhitungannya (Nugroho, 1989). Perkiraan produksi timbulan lindi dengan menggunakan neraca thornthwaite berguna untuk menentukan pengolahan lindi dan jaringan pengumpul lindi sebagai acuan instalasi pengolahan lindi di TPA Terjun.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Profil Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo (Studi Kasus Di Tpa Cempo Mojosongo).

PENDAHULUAN Profil Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo (Studi Kasus Di Tpa Cempo Mojosongo).

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo terdapat pemulung aktif dan pasif. Pemulung aktif yaitu pemulung yang langsung terjun ke dalam TPA dan pemulung pasif yaitu yang hanya menerima hasil pencarian barang-barang bekas dari pemulung aktif. Waktu bekerja mereka tidak tentu, kadang sehari penuh pagi sampai dengan sore, dan kadang hanya setengah hari. Pendapatan mereka juga tidak tentu, rata-rata dalam sehari pendapatan pemulung berkisar antara 30 hingga 50 ribu. Tingkat pendidikan mereka juga berbeda-beda, ada yang mencapai STM/SMK, ada yang hanya SD, bahkan tidak pernah sekolah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Kandungan Kadmium (Cd) Dalam Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Yang Berada Di Tambak Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Sampah Paluh Nibung Kelurahan Terjun Kota Medantahun 2016

Analisis Kandungan Kadmium (Cd) Dalam Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Yang Berada Di Tambak Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Sampah Paluh Nibung Kelurahan Terjun Kota Medantahun 2016

Hariyanto S. Ruaeny TA. Soegianto Agus. 2012. Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb), Tembaga (Cu) dan Seng (Zn) pada Lima Jenis Ikan yang di Konsumsi yang di Ambil dari Tempat Pelelangan Ikan Muncar, Banyuwangi. Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam:Vol 15 No. 2, Juli 2012.11 Agustus 2015.

4 Baca lebih lajut

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, makin besar konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi apabila konsentrasi enzim tetap. Kompleks enzim substrat akan terbentuk apabila ada kontak antara enzim dengan substrat. Kontak ini terjadi pada suatu tempat atau bagian enzim yang disebut bagian aktif. Pada konsentrasi substrat rendah, bagian aktif enzim ini hanya menampung sedikit substrat. Bila konsentrasi substrat diperbesar, makin banyak substrat yang dapat berhubungan dengan enzim pada bagian aktif tersebut. Konsentrasi kompleks enzim substrat makin besar dan hal ini menyebabkan makin besarnya kecepatan reaksi. Pada keadaan bertambah besarnya konsentrasi substrat tidak menyebabkan bertambah besarnya konsentrasi kompleks enzim substrat, sehingga jumlah hasil reaksinya pun tidak bertambah besar (Wuryanti, 2004).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan

Limbah domestik merupakan salah satu habitat yang sesuai bagi bakteri, karena mengandung bahan organik sebagai sumber nutrisinya. Kemampuan bakteri dalam menghidrolisis suatu senyawa dapat diketahuidengan cara mengukur indeks hidrolisisnya (Nurhariyati, 2012 dalam Kartika, 2013). Nurhariyati, T dkk. (2012) telah melakukan penelitian Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Amilolitik, Proteolitik, dan Lipolitik dari Limbah Domestik. Perwitasari, Y. A (2014) telah melakukan penelitian Isolasi dan Uji Amilolitik Bakteri Penghasil Amilase dari Tanah Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Kota Padang. Dari penelitian ini diperoleh tiga isolat penghasil amilase dengan indeks amilolitik terbesar. Dari Gusnayetty (2014) dengan Identifikasi Bakteri Penghasil Amilase Yang Berasal Dari Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kota Padang diketahui bahwa ketiga isolat tersebut tergolong kedalam bakteri dari genus Enterobacter dan genus Bacillus.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan Chapter III V

Isolasi dan Optimasi Enzim Amilase dari Isolat Bakteri Amilolitik Tanah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terjun, Medan Chapter III V

terus mengalami peningkatan aktivitas enzim dari awal inkubasi hingga akhir inkubasi. Sesuai dengan kurva pertumbuhan bakteri maka isolat FM 134 telah memasuki fase eksponensial pada jam ke-12 inkubasi dan fase stasioner pada jam ke-60. Karena pengamatan pengaruh waktu inkubasi terhadap produksi enzim hanya dilakukan hingga jam ke-60, maka tidak ditemukan fase kematian populasi pada isolat FM 134. Berbeda dengan dua isolat sebelumnya, isolat FM 3022 memiliki fase pertumbuhan yang lengkap. Dimana pada awal inkubasi hingga jam ke-24 merupakan fase lag. Hal ini ditandai dengan aktivitas enzim yang lambat. Dari jam ke-24 hingga jam ke-36 isolat FM 3022 mengalami fase eksponensial dengan kenaikan aktivitas yang sangat besar. Pada jam ke-36 isolat FM 3022 memiliki aktivitas enzim optimum menandakan fase ini merupakan fase stasioner. Dari jam ke-36 hingga jam ke-60 aktivitas enzim terus mengalami penurunan menandakan isolat mulai mengalami fase kematian populasi.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015

Sampah merupakan segala sesuatu yang dianggap tidak berguna lagi yang bersumber dari dan di sekeliling kegiatan manusia. Sampah yang timbul di lingkungan tidak hanya mengganggu estetika, namun juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat serta lingkungan. Untuk itu, keberadaan pemulung saat ini sebagai salah satu pengendali sampah di Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) sangat diperhitungkan.

7 Baca lebih lajut

PENDAPATAN PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DI GAMPONG JAWA BANDA ACEH

PENDAPATAN PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DI GAMPONG JAWA BANDA ACEH

Hasil penelitian menunjukkan Pemulung yang ada di TPA Gampong Jawa dengan pendapatan rata-ratanya perbulan Rp 796.000 tidak bisa menjanjikan untuk mereka, kehidupan pemulung di di TPA Gampong Jawa masih sangat memprihatinkan, karena dengan pendapatan bersih setiap bulannya sebesar Rp796.000 belom bisa membuat pemulung makmur dan sejahtera dalam keluarganya.

Baca lebih lajut

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Lestari, P., Zusfahair, Ningsih, D. R. dan Widyaningsih, S. 2008. Pemanfaatan Bakteri hasil Isolasi dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Gunung Tugel Kabupaten Banyumas Sebagai Agen Biodegradasi Polimer Polieugenol. Molekul. 3 (2) : 53-62.

Baca lebih lajut

ANALISIS KERUANGAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) PUTRI CEMPO KOTA SURAKARTA.

ANALISIS KERUANGAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) PUTRI CEMPO KOTA SURAKARTA.

Keberadaan TPA Putri cempo menjadikan sebagian masyarakat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tak terkecuali bagi pemulung dan penadah barang bekas. Mereka memanfaatkan berbagai jenis sampah yang memiliki nilai jual di TPA Putri Cempo untuk dikumpulkan kemudian di jual, sehinga sampah-sampah yang semula di anggap tidak bisa digunakan dapat didaur ulang kembali. Keberagaman dan keanekaragaman daerah asal baik daerah asal pemulung, penadah barang bekas serta asal sampah akan menggambarkan keterkaitan antar wilayah atas keberadaan TPA Putri Cempo di Kota Surakarta.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PROFIL PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) CEMPO MOJOSONGO  Profil Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo (Studi Kasus Di Tpa Cempo Mojosongo).

PROFIL PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) CEMPO MOJOSONGO Profil Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo (Studi Kasus Di Tpa Cempo Mojosongo).

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, Sholawat dan salam teruntuk bagi Nabi Muhammad SAW. penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan skripsi berjudul: Profil Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cempo Mojosongo (Studi Kasus Di TPA Cempo Mojosongo).

Baca lebih lajut

Analisis Kesesuaian Lahan  Untuk  Penentuan Tempat Pembuangan Aakhir ( TPA )  Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Penentuan Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul.

Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Penentuan Tempat Pembuangan Aakhir ( TPA ) Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Penentuan Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul.

Kelurahan Wonolelo, mempunyai lahan marginal dengan luas 391,50 hektar. Penggunaan lahan yang ada di Kelurahan Wonolelo sangat didominasi oleh lahan yang berupa tegalan, sisanya adalah semka belukar dan sawah tadah hujan. Kemiringan Lereng yang ada di Kelurahan Wonolelo tergolong bervariasi muali dari datar sampai curam (0-8%. 8-15%, >15%). Kerawanan banjir yang ada pada lahan tersebut tergolong sedang sampai tanpa.Kedalaman efektif tanah atau kedalaman sampai batas keras lahan kurang dari 100cm. Drainase, drainase pada lahan teridentifikasi baik, sedang dan buruk. Untuk permeabilitas lahan masuk dalam kategori cepat. Permeabilitas masuk dalam kategori cepat akan baik pada fungsi dan kondisi tertentu untuk digunakan selain tempat pembuangan akhir sampah, dan akan menjadi tidak baik jika digunakan menjadi TPA. Kedalaman muka air tanah yang sangat mendukung karena kedalaman muka air tanah lebih dari 150cm.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS PENENTUAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DI KABUPATEN TEMANGGUNG   Analisis Penentuan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Di Kabupaten Temanggung Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis.

ANALISIS PENENTUAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DI KABUPATEN TEMANGGUNG Analisis Penentuan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Di Kabupaten Temanggung Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hikmah dan kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan dan penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Penentuan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Di Kabupaten Temanggung Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografis”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata 1 Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakrta. Laporan ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan kemampuan yang ada, sehingga proses penulisan dan penyusunan skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dan turut mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan skripsi ini, yaitu:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan anugerahNya yang tidak pernah berhenti sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kemampuan Bakteri Dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene)”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sains pada Fakultas MIPA USU Medan.

Baca lebih lajut

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Low density polyethylene (LDPE) merupakan salah satu sumber utama polusi lingkungan dan biodegredasinya merupakan fokus dari penelitian ini. Uji biodegradasi LDPE telah dilakukan dengan bakteri yang diisolasi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang, Medan Tuntungan. Skrining bakteri pendegradasi LDPE didasarkan pada kemampuan bakteri untuk tumbuh dalam Mineral Salt Medium Broth (MSMB) yang mengandung 1% bubuk LDPE dan diperoleh dua isolat yang potensial dengan kode SP2 dan SP4. Degradasi LDPE dievaluasi dengan mengukur penurunan berat, analisis SEM dan FTIR setelah uji biodegradasi. Uji kemampuan isolat dalam mendegradasi lembar LDPE selama 4 minggu menunjukkan bahwa isolat SP2 dan SP4 mampu menurunkan berat LDPE masing-masing sebesar 10,16% dan 12,06% sedangkan penurunan berat pada kontrol adalah 0%. Hasil analisis SEM menunjukkan permukaan LDPE menjadi kasar, adanya gelombang, kerutan, dan koloni bakteri melekat pada permukaan LDPE. Penurunan intensitas bilangan gelombang pada analisis FTIR menunjukkan LDPE mengalami degradasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Kemampuan Bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam Mendegradasi Plastik (Low Density Polyethylene )

Beberapa penelitian sebelumnya telah membuktikan potensi bakteri indigenus dari tempat pembuangan sampah dari genus Brevibacillus, Pseudomonas dan Rhodococcus spp. telah mampu mendegradasi polietilen dengan persentase kehilangan berat masing-masing sebesar 37,5%, 40,5% dan 33% (Nanda & Sahu, 2010). Sejauh ini, penelitian tentang bakteri pendegrasi plastik LDPE belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian isolasi bakteri dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan melihat kemampuannya dalam mendegradasi plastik LDPE.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

 ANALISIS KESESUAIAN LAHAN  UNTUK PENENTUAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR ( TPA )  Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Penentuan Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul.

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENENTUAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR ( TPA ) Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Penentuan Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Di Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul.

Lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, flora dan fauna, serta bentukan hasil budaya manusia. Keterbatasan lahan merupakan salah satu faktor yang menghambat penentuan lokasi baru TPA yang memerlukan lahan yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah 1) Memetakan agihan yang sesuai untuk tempat pembuangan akhir (TPA), dan 2) Menganalisis kesesuaian lahan TPA dengan faktor-faktor wilayah.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...