terapi radiasi

Top PDF terapi radiasi:

Akibat Terapi Radiasi | Wisman | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia 2 PB

Akibat Terapi Radiasi | Wisman | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia 2 PB

Pemantauan yang dapat dilakukan pada lima tahun setelah terpapar radiasi salah satunya adalah B-type natriureic pepide (BNP) dan pemeriksaan enzim troponin yang berfungsi sebagai penanda kerusakan jaringan jantung. Pemeriksaan proil lipid dan glukosa darah juga perlu untuk dievaluasi secara berkala. Pemeriksaan EKG merupakan pemeriksaan sederhana yang sebaiknya dilakukan pada pemantauan efek kardiotoksisitas setelah terapi radiasi. Pada kasus-kasus tertentu, seperi adanya gangguan konduksi, maka pemeriksaan Holter dapat dilakukan. Echocardiography juga memiliki peran pening dalam pemantauan pasca radiasi, pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai fungsi sistolik ventrikel kiri, fungsi diastolik, katup-katup jantung, integritas perikardial, kelainan pada dinding jantung, dan kelainan lainnya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Efek Radiasi pada Penurunan Estrogen yang Disertai Konsumsi Isoflavon untuk Mencegah Menopause Dini pada Terapi Radiasi

Efek Radiasi pada Penurunan Estrogen yang Disertai Konsumsi Isoflavon untuk Mencegah Menopause Dini pada Terapi Radiasi

Menopause terjadi karena berkurangnya kadar estrogen. Estrogen merupakan hormon yang mempengaruhi tingkat kesuburan wanita [20]. Estrogen dalam tubuh dapat ditingkatkan dengan isoflavon yang terdapat pada kedelai. Isoflavon merupakan fitoestrogen dan merupakan sumber antioksidan [4]. Antioksidan dari isoflavon akan menghambat timbulnya radikal bebas yang merusak sel biologis [13]. Makanan yang mengandung isoflavon dapat digunakan sebagai makanan tambahan untuk pasien yang melakukan terapi radiasi, selain itu dapat meniru peran estrogen [20], dan dapat diketahui efek radiasi pada penurunan estrogen dan konsumsi isoflavon untuk mencegah menopause dini pada terapi radiasi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Metode: Penelitian analitik dengan rancangan case control dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK USU RSUP H. Adam Malik dan Departemen Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Januari sampai Februari 2017. Sebanyak 15 blok parafin yang terdiri dari 15 blok parafin kanker serviks respon tidak komplit sebagai kasus dan 15 blok parafin kanker serviks respon komplit sebagai kontrol yang belum menjalani terapi radiasi dikumpulkan secara konsekutif dan dilakukan penilaian imunohistokimia ekspresi p53 dinilai terhadap jumlah apoptosis dan respon radiasi. Respon radiasi dinilai berdasarkan pemeriksaan klinis dan kriteria RECIST dan untuk jumlah apoptosis dilakukan dengan pewarnaan Hematoxylin - Eosin dan dihitung jumlah sel apoptosis per 5 LPB dengan menggunakan mikroskop cahaya. Analisa data menggunakan uji Kruskal – Wallis. Interval kepercayaan 83.5% dan p<0.05 bermakna secara statistik.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

P53 berhubungan dengan radiosensitifitas pada terapi radiasi. Apabila terjadi degradasi fungsi p53 maka proses karsinogenesis berjalan tanpa kontrol. P53 yang mengalami mutasi ini (p53 mutan) juga akan kehilangan fungsinya sebagai tumor supresor dalam proses apoptosis, sehingga respon radiasi yang terjadi menjadi jelek dan mengakibatkan suatu keadaan radioresisten.

5 Baca lebih lajut

Faktorfaktor Risiko Terjadinya Proktitis Radiasi Kronik pada Pasien Kanker Leher Rahim yang Mendapatkan Terapi Radiasi | Mulia | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia 1 SM

Faktorfaktor Risiko Terjadinya Proktitis Radiasi Kronik pada Pasien Kanker Leher Rahim yang Mendapatkan Terapi Radiasi | Mulia | Jurnal Penyakit Dalam Indonesia 1 SM

karena masalah domisili, 2 pasien belum bersedia untuk dilakukan pemeriksaan diagnosik kolonoskopi karena pasien dalam pengobatan herbal dan merasakan perbaikan, dan pada 2 pasien lainnya pemeriksaan diagnosik kolonoskopi belum dapat dilakukan karena kondisi pasien yang memburuk akibat progresiitas KLR yang diderita. Sejumlah 78 pasien (33,3%) didapatkan telah meninggal dunia, 27 pasien (34,6%) diantaranya meninggal dunia sebelum kasus PRK pertama terjadi pada subjek peneliian ini yakni dibawah 7 bulan setelah terapi radiasi selesai. Penyebab kemaian pada pasien-pasien ini idak berhubungan dengan komplikasi PRK, tetapi antara lain dikarenakan progresiitas KLR, penyakit ginjal kronik akibat komplikasi uropai obstruksi, dan sepsis. Alur subjek peneliian selama pengamatan sampai dengan akhir masa follow-up terangkum dalam gambar 2.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium II B, III, IV ditatalaksanakan dengan radiasi. Metode radioterapi disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya dan atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosis kuratif hanya akan diberikan pada stadium II sampai III B. Bila sel kanker sudah keluar rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang diberikan
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Efek samping terapi radiasi penderita kanker kepala dan leher pada kelenjar saliva

Efek samping terapi radiasi penderita kanker kepala dan leher pada kelenjar saliva

Kanker kepala dan leher mempunyai jenis keganasan yang berbeda, tergantung lokasi terjadinya. Jenis kanker kepala dan leher yang paling umum terjadi adalah karsinoma sel squamous yang terjadi pada sel di dalam hidung, mulut dan tenggorokan. Jenis yang sedikit terjadi, antara lain tumor kelenjar saliva, limpoma dan sarkoma. Ada tiga jenis terapi utama untuk menangani kanker kepala dan leher, yaitu terapi radiasi, pembedahan dan kemoterapi. Perawatan yang utama adalah terapi radiasi atau pembedahan dan kemoterapi atau kombinasi keduanya. Kemoterapi sering dilakukan sebagai perawatan tambahan. Perawatan kombinasi ketiga cara di atas secara optimal dapat digunakan untuk pasien kanker kepala dan leher tergantung lokasi terjadinya dan stadium penyakit. Terapi radiasi pada kepala dan leher dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti mukositis, disfungsi kelenjar saliva, disfungsi indera pengecap dan malnutrisi, gangguan gigi geligi, perubahan pada tulang, berubahan kutaneus, kerusakan saraf, penurunan intelektual, hilangnya pendengaran, terjadinya kanker ganas akibat radiasi dan perdarahan otak.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Prognostic Significance Of Human Papillomavirus HPV Status And Expression Of Selected Markers HER2/neu, EGFR, VEGF, CD34, p63, p53 and Ki67/MIB-1 on Outcome After Chemo- Radiotherapy [r]

7 Baca lebih lajut

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Perbedaan Ekspresi Protein 53 Terhadap Respon Terapi Radiasi Pada Kanker Serviks

Wiryanto, M.S., Apt., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Bapak Aldrin Rungkat selaku Head of Industrial Affair, Ibu Me[r]

8 Baca lebih lajut

SEJARAH SINGKAT TERAPI KANKER PAYUDARA

SEJARAH SINGKAT TERAPI KANKER PAYUDARA

mengambil risiko mastektomi atau setelah mastektomi untuk tahap awal kanker payudara dapat dilakukan bersamaan dengan mastektomi. Hal ini memungkinkan mastektomi yang hemat kulit dilakukan, yang menawarkan hasil kosmetik terbaik secara keseluruhan. Rekonstruksi dapat dilanjutkan dengan rekonstruksi ekspander / implan atau dengan jaringan autologous seperti lipatan myocutaneous pedicled atau flap bebas dengan menggunakan teknik mikrovaskular. Pada pasien dengan kanker payudara stadium lanjut, rekonstruksi sering tertunda sampai setelah selesai terapi radiasi ajuvan untuk memastikan bahwa pengendalian penyakit lokal-regional didapat. Penggunaan radioterapi postmastektomi yang diharapkan juga harus dipertimbangkan sebagai alasan untuk rekonstruksi yang tertunda karena radioterapi pada payudara yang telah direkonstruksi telah dilaporkan menghasilkan hasil kosmetik inferior. Pertimbangan dapat dilakukan untuk penempatan expander jaringan untuk membiarkan kulit tetap hemat tapi ini harus didiskusikan dengan ahli onkologi radiasi dan anggota tim pengobatan lainnya. Jika cakupan dinding dada diperlukan untuk menggantikan kulit besar atau defek jaringan lunak, banyak jenis flap myocutaneous digunakan, namun latisimus dorsi dan rektus abdominis flaps miokutan paling sering digunakan. Kelenturan latisimus dorsi myocutaneous terdiri dari dayung kulit berdasarkan otot latisimus dorsi yang mendasarinya, yang disuplai oleh arteri torakodorsal dengan kontribusi arteri posterior anterior. Flip rektum abdominis melintang myocutaneous (TRAM) terdiri dari kulit mendayung berdasarkan otot rektus abdominis yang mendasarinya, yang dipasok oleh pembuluh darah dari arteri epigastrik inferior yang dalam. Flap TRAM gratis menggunakan anastomosis microvascular untuk membentuk suplai darah ke flap. Saat dinding dada kurus dilibatkan dengan kanker,
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Kegel Exercise and Pain During Sexual Intercouse Related to Women Post- Cancer Treatment

Kegel Exercise and Pain During Sexual Intercouse Related to Women Post- Cancer Treatment

Latihan kegel terbukti dapat mengatasi masalah nyeri saat hubungan seksual pada perempuan pascaterapi kanker serviks. Manfaat latihan kegel yang lainnya adalah dapat meningkatkan kepuasan seksual (La Pera & Nicastro, 1996), membuat relaks otot vagina dengan membantu vagina menjadi basah, sehingga dapat mengurangi nyeri saat berhubungan seksual. Latihan kegel juga merupakan terapi bagi pasangan, dimana saat hubungan seksual, perempuan yang mempraktekkan latihan kegel dengan cara mengerutkan dan mengendurkan otot vaginanya, dapat dirasakan pergerakannya oleh suami dan membantu pasangan masuk tahap bergairah (Haefner, dkk., 2005 & Weijmar, dkk., 2005). Latihan kegel sebagai salah satu alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah dispareunia, sehingga kecemasan, ketakutan, dan keengganan untuk melakukan hubungan seksual dapat diatasi. Faktor kecemasan, ketakutan, dan keengganan melakukan hubungan seksual dapat menyebabkan masalah disfungsi seksual dan terjadinya perubahan struktur anatomi dari vagina yang semakin memendek, mengering, dan tidak fleksibel. Hal ini dapat menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis dan menurunnya kualitas hidup perempuan dengan kanker serviks yang dilakukan terapi radiasi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - AZKALIA RISQI ALFAROZY BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - AZKALIA RISQI ALFAROZY BAB II

Tingkat kejadian dan keparahan dari mual muntah pada pasien yang menjalani kemoterapi atau terapi radiasi (atau keduanya) dikarenakan beberapa faktor , di antaranya : (1) agen kemoterapi yang digunakan (2) dosis masing-masing agen kemoterapi (3) jadwal dan rute pemberian dari penggunaan kemoterapi (4) target dari terapi radiasi (sistemik atau hanya bagian tertentu) (5) individu pasien (usia, jenis kelamin, riwayat kemoterapi dan riwayat penggunaan alkohol). Lebih dari 90% pasien yang menerima kemoterapi dengan tingkat emetogenik yang tinggi akan beresiko mengalami muntah. Namun, hanya 30% dari pasien tersebut yang mengalami muntah apabila diberikan regimen pencegahan antiemetik sebelum pengobatan dengan agen kemoterapi yang memiliki tingkat emetogenik yang tinggi. Kejadian muntah dapat dicegah dengan pemberian regimen terapi entiemetik profilaksis, namun mual lebih sulit untuk dikontrol (NCCN, 2014).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 6832 documents...