(2) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen ditinjau dari KAM

Top PDF (2) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen ditinjau dari KAM:

 this  file 7694 15308 1 PB

this file 7694 15308 1 PB

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan penelitian terdahulu yang menujukkan masih terindikasinya pembelajaran IPA yang tidak memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran IPA hanya sebatas menghafal teori, penyampaian materi dalam bentuk permasalahan jarang diberikan, dan siswa kurang terlibat dalam pembelajaran. Ini menyebabkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran learning cycle 7e terhadap kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA materi cahaya dan sifatnya. Metode penelitian yang dipilih adalah kuasi eksperimen dengan the nonequivalent control group design. Sampel yang digunakan sejumlah 71 siswa yang terdiri dari siswa kelas VB dan VC di satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Cikampek Karawang. Penelitian ini menggunakan instrumen tes berbentuk essay, lembar observasi aktivitas siswa dan guru. Hasil uji beda rata – rata skor pretest menunjukkan sig.(2-tailed) > α (0,05), artinya bahwa kelas eksperimen dan kontrol memilik kemampuan yang setara sebelum adanya perlakuan. Sedangkan hasil uji beda rata – rata skor posttest menunjukkan sig.(2-tailed) < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara siswa yang belajar IPA dengan menerapkan model learning cycle 7e dan siswa yang belajar IPA tanpa menerapkan model learning cycle 7e. N-gain kelas eksperimen menujukkan rata – rata peningkatan dengan kategori sedang. Sedangkan n-gain kelas kontrol menujukkan rata – rata peningkatan dengan kategori rendah. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran IPA dengan menerapkan model learning cycle 7e lebih efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan pembelajaran IPA tanpa menerapkan model learning cycle 7e.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

T MTK 1404586 Chapter5

T MTK 1404586 Chapter5

1. Pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi secara signifikan dibanding siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Namun, pencapaian yang diperoleh pada kelompok PBM masih tergolong sedang. Walaupun belum mencapai hasil yang diharapkan namun pencapaian siswa yang tergolong dalam kategori KAM sedang di kelas PBM mempunyai hasil yang dapat menyamai siswa yang berada pada kategori KAM tinggi pada kelas PB. 2. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

T MAT 1402189 Chapter5

T MAT 1402189 Chapter5

2. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan Accelerated Learning ditinjau lebih rinci berdasarkan masing-masing kategori KAM, hanya siswa dengan kategori KAM sedang dan rendah peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada kelas yang memperoleh pembelajaran dengan Accelerated Learning lebih baik daripada kelas yang memperoleh pembelajaran konvensional, sedangkan pada kategori KAM tinggi peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Accelerated Learning tidak lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN LOGIS MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP MELALUI LEARNING CYCLE 5E DAN DISCOVERY LEARNING : Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas VIII SMPN 4 Cimahi.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN LOGIS MATEMATIS SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP MELALUI LEARNING CYCLE 5E DAN DISCOVERY LEARNING : Studi Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas VIII SMPN 4 Cimahi.

This research aims to know the ability of critical thinking and logical thingking mathematic and self regulated of students’ who were taught by learning cycle 5e and discovery learning. This research is quasi-experiment. The research instrument is test of critical thinking and logical thinking mathematic and non-test (aptitude scale of self regulated learning). The research population is VIII grade students of SMPN 4 Cimahi. The samples taken were two classes out of nine available classes. The instrument used in this research is test of critical thinking and logical thinking mathematic in essay and questionnaires for self regulated learning. Based on the result of the research, it is found that (1) there is no different improvement of students’ critical t hinking and logical thingking mathematic between students taught by using Learning Cycle 5e model and students taught by using discovery learning model; (2) there is no different improvement of students’ critical thinking and logical thingking mathematic between students taught by using Learning Cycle 5e model and students taught by using discovery learning model in viewed in each KAM (high, medium and low); (3) there is different improvement of critical thinking and logical thingking mathematic of stude nts’ taught by using Learning Cycle 5e model viewed in KAM (high, medium and low); (4) there is different improvement of critical thinking and logical thingking mathematic of students’ taught by using discovery learning model viewed in KAM (high, medium and low); (5) there is different self regulated learning of students’ between students taught by using Learning Cycle 5e model and students taught by using discovery learning model
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA SMP: Suatu Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII di Salah Satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung.

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INTEGRATIF DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA SMP: Suatu Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII di Salah Satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis dan pentingnya kemampunan berpikir kritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran integratif lebih baik atau tidak lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional 2)Kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran integratif dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional 3)Sikap siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran integratif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian matching pretest-postest control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposif sampel dengan tujuan ingin mengetahui pengaruh model pembelajaran integratif terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, berdasarkan pertimbangan guru Matematika di sekolah diambil dua kelas masing-masing sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan model pembelajaran integratif dan kelas kontrol melalui model pembelajaran konvensional. Materi pokok dalam penelitian ini adalah segiempat. Data diperoleh dari hasil pre-test dan pos-test kemampuan berpikir kritis matematis, angket sikap siswa dan lembar observasi. Hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian adalah: 1)Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan model pembelajaran integratif lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional2)Kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan model pembelajaran integratif tergolong sedang dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional tergolong rendah 3)Sikap siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran integratif secara umum adalah positif.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA MADRASAH TSANAWIYAH MELALUI PEMBELAJARAN GENERATIF

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA MADRASAH TSANAWIYAH MELALUI PEMBELAJARAN GENERATIF

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan disain kelompok kontrol tidak ekivalen karena tidak adanya pengacakan dalam menentukan subjek penelitian. Peneliti tidak membentuk kelas baru berdasarkan pemilihan sampel secara acak. Subjek sampel diambil dua kelas dari kelas VII siswa MTs Negeri Cikembar Kabupaten Sukabumi, satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan pembelajaran generatif dan satu kelas sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan adalah tes dan non tes. Hasil studi penelitian ini adalah: 1) peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang mengikuti pembelajaran generatif lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional ditinjau dari pencapaian hasil belajar dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif kelas eksperimen termasuk pada kategori sedang sedangkan kelas kontrol termasuk kategori rendah.2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik antara siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah yang mendapat pembelajaran generatif, 3) disposisi matematik siswa yang mengikuti pembelajaran matematika melalui pembelajaran generatif lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran matematika secara konvensional, disposisi matematik siswa pada kelas eksperimen termasuk pada kategori sedang, sedangkan pada kelas kontrol disposisi matematik termasuk pada kategori rendah. 4) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kemampuan awal siswa dalam menghasilkan kemampuan berpikir kreatif. 5) terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kreatif matematik dengan disposisi matematik, kategori asosiasinya tinggi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

T MTK 1303198 Abstract

T MTK 1303198 Abstract

Tujuan utama penelitian ini untuk menyelidiki pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis serta pencapaian self confidence siswa, sebagai akibat dari pembelajaran dengan pendekatan Differentiated Instruction dan pembelajaran biasa. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan pretest-posttest control grup design. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa (1) Secara keseluruhan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran DI lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran biasa. Namun berdasarkan kategori KAM (atas, tengah, dan bawah), untuk kategori KAM atas dan tengah peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapat pembelajaran DI lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran biasa, sedangkan untuk kategori KAM bawah tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis, (2) Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa yang mendapat pembelajaran DI dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa. Begitu juga berdasarkan kategori KAM (atas, tengah, bawah), tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara siswa yang mendapat pembelajaran DI dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa, (3) Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan self confidence antara siswa yang mendapat pembelajaran DI dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa. Begitu juga berdasarkan kategori KAM (atas, tengah, bawah), tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan self confidence antara siswa yang mendapat pembelajaran DI dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa, (4) Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan KAM terhadap pencapaian kemampuan berpikir kreatif dan self confidence siswa. Sedangkan untuk kemampuan berpikir kritis matematis, terdapat interaksi antara pembelajaran dan KAM siswa, (5) Terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis serta antara kemampuan berpikir kritis dan self confidence siswa. Sedangkan antara kemampuan berpikir kreatif dan self confidence siswa tidak terdapat asosiasi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MA

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MA

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat mana yang lebih baik peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan kemampuan disposisi matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran konflik kognitif dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan mix method dengan strategi embedded konkuren, merupakan metode penelitian yang mengkombinasikan penggunaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara simultan/ bersama-sama (atau sebaliknya), tetapi bobot metodenya berbeda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI Multimedia SMK Pelita Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Instrumen yang digunakan meliputi soal tes kemampuan berpikir kritis matematis, skala angket kemampuan disposisi matematis siswa, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konflik kognitif dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, 2) Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konflik kognitif lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajarankonvensiona dilihat dari kemampuan awal matematika (tinggi, sedang, dan rendah), 3) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konflik kognitif dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, dan 4) Peningkatan kemampuan diposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran konflik kognitif lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional dilihat dari hasil skor angket.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

T MTK 1303363 Abstract

T MTK 1303363 Abstract

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas CPS lebih tinggi daripada kelas PK; (2) peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas CPS lebih tinggi daripada kelas PK; (3) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis kelas CPS antara seluruh siswa KAM sedang dengan rendah, KAM tinggi dengan rendah, namun tidak terdapat perbedaan pada KAM tinggi dengan sedang; (4) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas PCPS dan PK berdasarkan kemampuan awal matematika siswa seluruhnya; (5) Peningkatan Self-Efficacy matematis siswa yang memperoleh pembelajaran CPS lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran Konvensional; (6) terdapat perbedaan peningkatan self-efficacy matematis siswa kelas PCPS ditinjau berdasarkan KAM (tinggi, sedang, dan rendah).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S MAT  1102216 Abstract

S MAT 1102216 Abstract

Penelitian ini berjudul Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP melalui Model Problem-Based Learning dan Project-Based Learning . Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan model problem-based learning atau model project-based learning . Untuk mengetahui besar perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa melalui penerapan kedua model tersebut, maka perlu diteliti mengenai perbandingan kemampuan berpikir kritis matematis melalui penerapan kedua model tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis antara siswa yang mendapatkan pembelajaran model problem-based learning dan siswa yang mendapatkan pembelajaran model project-based learning . Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran melalui model problem-based learning dan pembelajaran melalui model project-based learning . Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMP negeri di Bandung dengan sampel penelitian adalah kelas VII. Data penelitian diperoleh dari hasil tes kemampuan berpikir kritis matematis, angket sikap siswa, lembar observasi, dan jurnal harian siswa dengan pengolahan data menggunakan software SPSS versi 20 for windows . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang pembelajarannya melalui model problem-based learning dan siswa yang pembelajarannya menggunakan model project-based learning ; (2) Kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran model problem-based learning dan kualitas peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran model problem-based learning tergolong sedang; (3) Secara umum, sikap siswa terhadap model problem-based learning adalah positif (91,47%) dan sikap siswa terhadap model project-based learning adalah positif (86,27%).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

T MTK 1402510 Abstract

T MTK 1402510 Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan berpikir kritis, penalaran, dan disposisi matematis siswa SMP yang masih rendah sementara tujuan pendidikan itu sendiri antara lain membekali siswa berpikir kritis dan menggunakan penalaran. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, penalaran, dan disposisi matematis siswa, dilakukan pembelajaran dengan strategi abduktif-deduktif (PSAD). Pembelajaran ini erat kaitannya dengan kemampuan berpikir kritis dan penalaran sehingga diharapkan penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan penalaran serta menumbuhkan disposisi matematis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP. Sementara sampel penelitian ini adalah kelas VII A dan VII B SMP Labschool. Pokok bahasan yang dijadikan bahan ajar adalah bangun datar meliputi luas daerah dan keliling segitiga dan segiempat. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kritis matematis yang disusun berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Ennis, dan instrumen tes kemampuan penalaran matematis yang disususn berdasarkan indikator kemampuan penalaran menurut Sumarmo, instrumen non tes yang disusun berdasarkan indikator disposisi menurut Polking, serta lembar observasi pembelajaran PSAD. Berdasarkan analisis pada seluruh tahapan penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Secara keseluruhan pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. 2) Seluruh Kategori KAM (atas, tengah, bawah) menunjukkan pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) lebih baik daripada yang memperoleh pembelajaran konvensional. Sedangkan untuk
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

 this  file 3033 5510 1 PB

this file 3033 5510 1 PB

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan motivasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional maupun pendekatan kontekstual, 2) mengetahui ada tidaknya perbedaan antara penggunaan pembelajaran konvensional dengan pendekatan kontekstual terhadap kemampuan berpikir kritis matematis dan motivasi belajar siswa. Metode yang digunakan yaitu eksperimen dengan desain kelompok kontrol pretes-postes. Populasinya adalah seluruh siswa SDN 3 Karangsembung Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon. Sementara, sampelnya adalah siswa kelas IVA (kelas eksperimen) dan siswa kelas IVB (kelas kontrol). Instrumen yang digunakan berupa soal tes kemampuan berpikir kritis matematis, lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa, angket dan jurnal harian siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan motivasi belajar siswa yang menggunakan pendekatan kontekstual lebih baik secara signifikan dengan konvensional. Selain itu, kinerja guru yang optimal dan aktivitas siswa yang baik menjadi faktor pendukung pembelajaran kontekstual. siswa merespon positif terhadap pembelajaran.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

T MTK 1402510 Chapter5

T MTK 1402510 Chapter5

2. Seluruh Kategori KAM (atas, tengah, bawah) menunjukkan pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapat pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) lebih baik daripada yang memperoleh pembelajaran konvensional. Sedangkan untuk peningkatan, hanya siswa dengan kategori KAM tengah dan bawah peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada kelas yang memperoleh pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) lebih baik daripada kelas yang memperoleh pembelajaran konvensional, sementara pada kategori KAM atas peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) tidak lebih baik dari siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis KAM atas siswa yang memperoleh pembelajaran dengan Strategi Abduktif-Deduktif (PSAD) mencapai kategori tinggi, sedangkan pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional mencapai kategori sedang.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VIII melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VIII melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen tentang peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis matematis siswa kelas VIII melalui pembelajaran berbasis masalah, dengan tujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis matematis siswa yang belajar dengan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dan siswa yang belajar dengan pembelajaran ekspositori. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII salah satu SMP Negeri Kota Bandung, dengan sampel dipilih dua kelas secara purposive sample dari dua belas kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran berbasis masalah dan kelas kontrol memperoleh pembelajaran ekspositori. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Untuk melihat adanya pencapain dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis matematis siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, dilakukan pengujian dengan menggunakan uji-t dan Mann-Whitney. Hasil pengujian dianalisis dengan menggunakan Minitab 17. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa (1) Pencapaian kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori; (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

s fis 0800509 chapter3

s fis 0800509 chapter3

Galton (Suherman, 2003 : 159) berasumsi bahwa suatu perangkat alat tes yang baik harus bisa membedakan antara siswa yang pandai, rata- rata, dan yang bodoh karena dalam suatu kelas biasanya terdiri dari ketiga kelompok tersebut. Daya Pembeda (DP) dari sebuah butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara testi yang mengetahui jawabannya dengan benar dengan testi yang tidak dapat menjawab soal tersebut (atau testi yang menjawab salah). Dalam Depdiknas, 2002 rumus yang digunakan untuk menentukan daya pembeda soal uraian (Dainah, 2012: 32), sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

d mtk 0706772 chapter5

d mtk 0706772 chapter5

1. Pembelajaran berbasis masalah hendaknya digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan pembelajaran matematika bagi guru untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis, komunikasi matematis dan representasi matematis siswa baik pada sekolah level tinggi maupun sedang. 2. Karena dalam pembelajaran berbasis masalah memerlukan waktu yang relatif

4 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING (GUIDED DISCOVERY) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V SD PADA MATERI GAYA GESEK (Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Parungjaya II dan SDN Ciparay I Kecamatan Leuwimunding Ka

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING (GUIDED DISCOVERY) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V SD PADA MATERI GAYA GESEK (Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Parungjaya II dan SDN Ciparay I Kecamatan Leuwimunding Ka

Dalam Kurikulum 2006 dijabarkan ruang lingkup yang dibahas dalam IPA, yaitu makhluk hidup dan proses kehidupan, benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya, energi dan perubahannya serta bumi dan alam semesta. IPA dapat melatih siswa untuk dapat mengasah dan mengembangkan kemampuan- kemampuan siswa antara lain kemampuan mengamati, kemampuan mengukur, kemampuan berhipotesis, kemampuan berpikir kritis, kemampuan menarik kesimpulan. Untuk memudahkan penguasaan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan pengalaman langsung, dimana siswa sendiri yang berperan sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator bagi siswa. Hal ini tercantum dalam kurikulum 2006:
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

t pd 0909951 chapter5

t pd 0909951 chapter5

1. Rekomendasi untuk Dinas Pendidikan, terkait dengan inovasi dan peningkatan mutu pendidikan, khususnya di Sekolah Dasar yang lebih luas menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan, perlu menyosialisasikan model pembelajaran STS yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam pelajaran IPS di kelas IV atau di kelas-kelas lainnya dengan beberapa penyesuaian khususnya pada topik yang berkenaan dengan perkembangan teknologi. 2. Bagi para guru, model pembelajaran STS merupakan salah satu model yang
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

S PEK 0807116 Chapter5

S PEK 0807116 Chapter5

2. Bagi pihak sekolah, diharapkan untuk terus mengikuti berbagai seminar, lokakarya, semiloka, dan diklat, yang dilaksanakan oleh institusi pendidikan, terutama berkenaan dengan proses pengajaran dan pembelajaran sehingga inovasi-inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang yang pada akhirnya hasil belajar siswa semakin meningkat. Serta agar meningkatkan monitoring khususnya mata pelajaran ekonomi dalam membahas kesulitan-kesulitan yang dihadapi selama kegitan belajar mengajar. Sehingga peningkatan standar bagi kompetensi guru juga perlu diperhatikan agar guru-guru di sekolah mampu menerapkan model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 3. Bagi peneliti selanjutnya, agar diadakan penelitian lanjutan dengan
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

t mtk 0909978 chapter5

t mtk 0909978 chapter5

Pembelajaran berpengaruh terhadap disposisi matematis, KAM siswa juga berpengaruh terhadap disposisi matematis, tetapi tidak terdapat pengaruh interaksi antar pembelajaran dan KAM siswa terhadap disposisi matematis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor pembelajaran dan KAM tidak bersama- sama berpengaruh terhadap disposisi matematis siswa.

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...