Tes Pemahaman Konsep (Khusus Extrapolation)

Top PDF Tes Pemahaman Konsep (Khusus Extrapolation):

40 PENGARUH BUTIR SOAL DALAM FORMAT ANIMASI TERHADAP HASIL TES PEMAHAMAN KONSEP PEMBIASAN CAHAYA

40 PENGARUH BUTIR SOAL DALAM FORMAT ANIMASI TERHADAP HASIL TES PEMAHAMAN KONSEP PEMBIASAN CAHAYA

bahwa persentase skor rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa kelas eksperimen adalah sebesar 81 % dari skor ideal, sementara persentase skor rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa kelas kontrol sebesar 56 % dari skor ideal. Hasil uji statistik dengan menggunakan Independent Samples Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata skor tes pemahaman konsep antara siswa yang mendapatkan tes dengan bentuk soal dalam format animasi dengan siswa yang mendapatkan tes dengan bentuk soal dalam format paper and pencil test. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil tes pemahaman konsep siswa yang mendapatkan tes dengan butir soal dalam format animasi secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata skor hasil tes siswa yang mendapatkan tes dengan butir soal dalam format paper and pencil test. Hasil ini sejalan dengan hasil yang diperoleh oleh Dancy, M., dan Beichner, R. (2006), dalam penelitiannya tentang penggunaan tes dengan format soal animasi dalam mengevaluasi pemahaman siswa terhadap konsep gaya dan gerak. Hasil studinya menunjukkan bahwa dengan butir soal yang dikemas dalam format animasi, hasil tes pemahaman konsep gaya dan gerak dapat lebih meningkat dibanding penggunaan tes dengan bentuk soal dalam format statis.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH BIOLOGI BERDASARKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS XI SMA AL-AZHAR 3 BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH BIOLOGI BERDASARKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS XI SMA AL-AZHAR 3 BANDAR LAMPUNG - Raden Intan Repository

11. F H Subjek penelitian yang ke-11 ini merupakan peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis sedang. Ia mampu mengerjakan dengan baik tes pemahaman konsep materi sistem peredaran darah dengan jawaban bervariasi di setiap indikatornya. Terdapat 7 indikator, indikator pertama yaitu menafsirkan, ia mampu menjawab dengan persentase 25% ia kesulitan membaca tabel dan memberikan penafsiran atau kesimpulan dari tabel tersebut. Indikator yang ke dua yaitu mencontohkan, ia menjawab dengan persentase 25% ia kesulitan dalam memberikan contoh-contoh lain dari kelainan atau penyakit pada sistem peredaran darah. Indikator ketiga yaitu mengklasifikasikan, ia mampu menjawab dengan persentase 100% dengan mudah ia menggolongkan darah berdasarkan aglutinin dan aglutinogen. Indikator yang keempat yaitu merangkum, ia mampu menjawab dengan persentase 25% ia kesulitan mengambil inti sari dengan baik dari wacana yang telah diberikan. Indikator yang kelima yaitu menyimpulkan, ia menjawab dengan persentase 25% ia kurang dalam mengambil kesimpulan dari permasalahan-permasalahan sistem peredaran darah. Indikator yang keenam yaitu membandingkan, ia menjawab dengan persentase 75% ia mampu mengaitkan hubungan antara dua gambar tentang sistem peredaran darah. Inikator terakhir yaitu menjelaskan makna konsep, ia menjawab dengan persentase 25% ia kesulitan menemukan kejanggalan lalu menjelaskan makna konsep dari kejanggalan tersebut.
Baca lebih lanjut

243 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS PROYEK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS PROYEK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH.

Telah dilakukan studi eksperimen tentang penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek dalam pembelajaran materi Pesawat Sederhana pada siswa SMP. Tujuan studi ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah siswa sebagai impak penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek. Masalah yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah siswa SMP sebagai impak penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek?”. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experiment dengan desain one group pretest-posttest. Subyek penelitian adalah 30 orang siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di kab. Bandung Barat, Prov. Jawa Barat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan model, tes pemahaman konsep berbentuk tes tertulis jenis pilihan ganda dan tes keterampilan pemecahan masalah berbentuk tes tertulis jenis uraian terkait materi Pesawat Sederhana, serta skala sikap tanggapan guru dan siswa terhadap penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah secara umum dengan kategori sedang, setelah dilakukan penerapan model pembelajaran fisika berbasis proyek . Hal ini diindikasikan oleh rata-rata skor gain yang dinormalisasi <g> pemahaman konsep sebesar 58%. Rata-rata skor gain yang dinormalisasi <g> pada setiap indikator pemahaman konsep dari yang tertinggi terjadi pada indikator mencontohkan sebesar 72%, mengklasifikasikan 67%, menafsirkan 65%, menjelaskan 55%, membandingkan 46% dan yang paling rendah pada indikator menyimpulkan 29%. Sedangkan rata-rata skor gain yang dinormalisasi <g> keterampilan pemecahan masalah meningkat 60% dengan kategori sedang. Dengan rata-rata skor gain yang dinormalisasi <g> pada indikator memberi alasan strategi yang digunakan sebesar 65%, memberi alasan solusi sebesar 61%, mengidentifikasi masalah sebesar 58%, dan indikator memecahkan masalah berdasarkan data dan masalah sebesar sebesar 55%. Hasil analisis skala sikap menunjukkan bahwa semua guru setuju dengan persentase sebesar 100% dan hampir semua siswa setuju dengan persentase sebesar 95% terhadap penerapan model pembelajaran fisika yang dilaksanakan. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran fisika berbasis proyek merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah siswa.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

S IPS 1002051 Chapter5

S IPS 1002051 Chapter5

kembali tes pemahaman konsep siswa, dan hasil pemahaman konsep siswa pada siklus III mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari siklus II, sehingga peneliti dengan guru mitra menyimpulkan siklus ke III ini berada pada parameter baik. Setelah dilakukannya beberapa siklus dalam penelitian ini ternyata peneliti dengan guru mitra tidak berhenti pada siklus ke III. Peneliti dengan guru mitra merencanakan kembali untuk melaksanakan siklus ke IV karena peneliti dengan guru mitra ingin melihat secara konsisten dari hasil pemahaman konsep siswa, selanjutnya dilakukan pelaksanaan siklus ke IV untuk melihat penigkatan pemahaman konsep siswa dan penyempurnaan dari siklus III. Pada pelaksanaan siklus ke IV ini pembelajaran IPS dilakukan dengan menggunakan metode yang sama seperti di siklus ke I yaitu model Problem Based Learning dengan diawali metode ceramah mengenai materi pajak sebelum berdiskusi kembali dengan kelompok masing-masing. Selanjutnya siswa melakukan presentasi di depan kelas dari hasil pengamatan grafis komik secara bergiliran, dan pada tindakan selanjutnya peneliti melakukan tes pemahaman konsep terhadap seluruh siswa. Tes ini dilakukan untuk melihat apakah pemahaman konsep ini meningkat atau sebaliknya yaitu menurun dari siklus III. Dari hasil tes pemahaman konsep pada siklus ke IV ternyata masih mengalami kenaikan dari siklus III walaupun tidak terlalu signifikan, sehingga peneliti dengan guru mitra menyimpulkan pada siklus ke IV ini berada pada parameter penilaian baik. Dari hasil pemahaman konsep siswa pada siklus ke IV peneliti dengan guru mitra mengambil kesimpulan untuk menghentikan pelaksanaan tindakan siklus ini di siklus ke IV.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PEMAHAMAN KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANTARA SISWA BINA LINGKUNGAN DENGAN NON BINA LINGKUNGAN DI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG

PERBANDINGAN PEMAHAMAN KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANTARA SISWA BINA LINGKUNGAN DENGAN NON BINA LINGKUNGAN DI SMA NEGERI 2 BANDAR LAMPUNG

Berbagai upaya pemerintah kota Bandar Lampung dalam memperluas akses pendidikan salah satu diantaranya dengan diberlakukannya PPDB Jalur Bina Lingkungan sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 1 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Jalur bina lingkungan adalah jalur penerimaan peserta didik baru pada sekolah negeri tanpa seleksi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase perbandingan pemahaman konsep Pendidikan Agama Islam antara siswa jalur bina lingkungan dengan non bina lingkungan pada materi prinsip dan praktik ekonimi Islam. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah metode angket. Sampel sebanyak 60 siswa dari kelas XI diambil dengan teknik simple random sampling. Instrument yang digunakan adalah tes pemahaman konsep materi prinsip dan praktek ekonomi Islam. Data yang digunakan adalah persentase pemahaman konsep siswa materi prinsip dan praktek ekonomi Islam berdasarkan CRI (Certainty of Responde Index). Berdasarkan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, data berdistribusi normal dan homogen. Uji hipotesis dengan menggunakan uji t diperoleh t Hitung = 2.962. Nilai
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

S PGSD 1003269 Chapter3

S PGSD 1003269 Chapter3

Sebelum penyusunan lembar tes kemampuan pemahaman konsep, terlebih dahulu dibuat kisi-kisi sesuai dengan indikator pemahaman konsep yang diukur dalam penelitian. Kisi-kisi tersebut terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Setelah itu, disusun menjadi lembar tes kemampuan pemahaman konsep dan dinyatakan valid menurut hasil expert judgement dari dosen pembimbing.

10 Baca lebih lajut

BAB III skripsi zuli

BAB III skripsi zuli

Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman siswa terhadap konsep bangun ruang kubus dan balok, dengan begitu dapat dilihat prestasi belajar siswa pada materi tersebut (tes awal), dan pembelajaran akhir tindakan tes awal (pre-test) dilakukans sebelum tindakan diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa yang berhubungan dengan materi kubus dan balok / atau materi prasyarat untuk memilih subyek wawancara dan sebagai pedoman pembentukan kelompok. Tes dilakukan pada proses pembelajaran yaitu pada saat turnamen untuk mengetahui tim yang berkriteria tim baik, tim sangat baik dan tim super kemudian tes akhir (post-test) dilakukan setelah pemberian tindakan untuk melihat peningkatan prestasi belajar siswa pada materi bangun ruang kubus dan balok dalam mengikuti pembelajaran, dan refleksi untuk tindakan berikutnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MITIGASI BENCANA PESERTA DIDIK KELAS X SMA NEGERI 1 PEUSANGAN SELATAN Cucut Satria Barona

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MITIGASI BENCANA PESERTA DIDIK KELAS X SMA NEGERI 1 PEUSANGAN SELATAN Cucut Satria Barona

JIPSA. VOL. 3. No. 1. Desember 2016 27 menggunakan video sebelum dan sesudah perlakuan; (2) pembelajaran menggunakan video mengalami peningkatan pemahaman konsep mitigasi bencana. Akan tetapi peningkatan tersebut hanya pada konsep sedang; (3) Peserta didik memberikan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran, hal ini terlihat dari sikap antusias peserta didik dalam proses belajar mengajar.;(4) Penggunaan video dalam proses pembelajaran dapat menghemat waktu dan lebih ekonomis terkait jarak sumber belajar. (5) Kelemahan pembelajaran dengan menggunakan video meliputi. (a) penayangan video hanya selama 10:01 menit sehingga perlu penayangan kembali. (b) pada waktu penayangan video mengalami pemutusan arus listrik sehingga perlu waktu jeda untuk menayangkan kembali. (c) pengisian LKS berdasarkan kelompok mengakibatkan sebahagian kelompok hanya mengandalkan beberapa peserta didik saja, tidak semua anggota kelompok aktif.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DASAR PECAHAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR.

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DASAR PECAHAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian ini ada dua kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen melakukan pembelajaran matematika melalui pembelajaran matematika realistik dan kelompok kontrol melakukan pembelajaran konvensional. Kedua kelompok diberikan pretes dan postes, dengan menggunakan instrumen tes yang sama. Menurut Sudjana (2004) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel tidak bebas. Variabel bebas yaitu implementasi pembelajaran matematika realistik, sedangkan variabel tidak bebasnya yaitu kemampuan pemahaman konsep dasar pecahan dan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DASAR PECAHAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR.

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP DASAR PECAHAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada penelitian ini ada dua kelompok sampel yaitu kelompok eksperimen melakukan pembelajaran matematika melalui pembelajaran matematika realistik dan kelompok kontrol melakukan pembelajaran konvensional. Kedua kelompok diberikan pretes dan postes, dengan menggunakan instrumen tes yang sama. Menurut Sudjana (2004) menyatakan bahwa penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel tidak bebas. Variabel bebas yaitu implementasi pembelajaran matematika realistik, sedangkan variabel tidak bebasnya yaitu kemampuan pemahaman konsep dasar pecahan dan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KAJIAN TENTANG KOMPETENSI MAHASISWA DALAM MEREKONSTRUKSI PEMBELAJARAN TERPADU : Studi Inkuiri Naturalistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS FKIP - Universitas Islam Riau.

KAJIAN TENTANG KOMPETENSI MAHASISWA DALAM MEREKONSTRUKSI PEMBELAJARAN TERPADU : Studi Inkuiri Naturalistik pada Mahasiswa Semester Enam Jurusan Pendidikan IPS FKIP - Universitas Islam Riau.

Jika meninjau kebijakan tersebut maka pembelajaran terpadu pada jurusan IPS dapat dijadikan mata kuliah jurusan. Walaupun mahasiswa kuliah di program studi pendidikan ekonomi, mereka dapat belajar tentang pembelajaran terpadu secara khusus agar mampu untuk menyusun dan merencanakan pembelajaran yang bersifat terpadu. Mereka harus mampu memadukan konsep ekonomi dengan bidang keilmuan lainnya dalam ilmu sosial ketika menemukan suatu permasalahan sosial dan berusaha memecahkannya berdasarkan pola pikir yang majemuk, tidak hanya dilihat dari ilmu ekonomi saja. Hal tersebut kelak dapat teraplikasikan ketika mereka menjadi pendidik jika mahasiswa mampu merekonstruksikan pembelajaran yang bersifat terpadu.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI ALJABAR DI KELAS VIII SMP KARYA BUNDA MEDAN TAHUN AJARAN 2014/2015.

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI ALJABAR DI KELAS VIII SMP KARYA BUNDA MEDAN TAHUN AJARAN 2014/2015.

Menurut Sanjaya (2009) pemahaman konsep matematika adalah kemampuan siswa untuk mengenal, memahami, menerangkan atau menjelaskan serta menggunakan konsep, prosedur dan ide matematika berdasarkan pembentukan pengetahuan sendiri bukan sekedar menghapal. Dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 5 Maret 2014 berupa tes diagnostik yang berkaitan dengan pemahaman konsep pada materi aljabar khususnya operasi hitung aljabar kepada 31 siswa kelas VIII-A SMP Karya Bunda Medan, terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa untuk setiap nomor soal. Kesalahan yang dilakukan meliputi kesalahan yang berkaitan dengan pemahaman konsep pada materi aljabar, diantaranya :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Peningkatan Pemahaman Konsep Bangun Datar Melalui Pendekatan Konstruktivisme Berbasis Teori Van Hiele | Cintang | Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran 1144 2831 1 PB

Peningkatan Pemahaman Konsep Bangun Datar Melalui Pendekatan Konstruktivisme Berbasis Teori Van Hiele | Cintang | Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran 1144 2831 1 PB

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap siklus meliputi kegiatan perencanaan (plan) , pelaksanaan (act) , pengamatan (observe) dan refleksi (reflect) . Kegiatan pembelajaran pada siklus 1 memusatkan pada kondisi pembelajaran untuk mempelajari konsep kongkret. Pada siklus 1, siswa sudah dapat membedakan contoh suatu konsep dan non contoh suatu konsep. Upaya memperbaiki kesalahan konsep dilakukan dengan cara : 1) membandingkan persamaan unsur yang dimiliki kelompok bangun segitiga dan segi empat. Hingga siswa memahami konsep yang benar bahwa kelompok bangun segi tiga memiliki tiga ruas garis (sisi) dan kelompok bangun segi empat memiliki empat ruas garis (sisi); 2) Menanamkan konsep segi empat melalui bangun segi empat sembarang; 3) guru
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN HASIL BELAJAR  SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN CHALK AND TALK   Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Chalk And Talk Dengan Berbantu Alat Peraga (PTK P

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN CHALK AND TALK Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Dan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi Pembelajaran Chalk And Talk Dengan Berbantu Alat Peraga (PTK P

Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Tujuan umum dalam penelitian adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika dan hasil belajar siswa. (2) Tujuan khusus dari penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa dengan indikator : siswa dapat menyatakan ulang sebuah konsep; siswa dapat menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu; siswa dapat mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah; serta meningkatkan hasil belajar melalui strategi pembelajaran Chalk and Talk dengan berbantu alat peraga pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Satu Atap Jatipurno. Indikator pencapaian hasil belajar diukur dengan tes tertulis tentang materi yang diajarkan dengan KKM (>68).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Penilaian Autentik pada Matakuliah Analisa Kompleks

Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Penilaian Autentik pada Matakuliah Analisa Kompleks

pada pemahaman yang mendalam tentang konsep matematika yang telah dipelajarinya. Menurut Driver (1993) pemahaman adalah kemampuan untuk menjelaskan suatu situasi atau suatu tindakan. Dari pengertian ini terdapat tiga hal pokok dalam pemahaman, yaitu kemampuan mengenal, kemampuan menjelaskan dan kemampuan menarik kesimpulan. Pengetahuan guru tentang pengajaran dan pembelajaran merupakan faktor penentu yang penting dalam keberhasilan siswa (Greenwald, Hedges & Laine, 1996). Namun, perlu diperhatikan juga bahwa pemahaman konsep matematika yang dimiliki guru mempengaruhi pembelajaran matematika di kelas, yang memungkinkan siswa untuk terlibat atau tidak terlibat aktif dalam belajar matematika (Bishop, Clarke, Corrigan & Gunstone 2006). Pemahaman konsep dasar dan ide-ide dalam matematika sangat penting untuk menguasai berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan matematika. Memiliki dasar yang kuat dalam matematika bagi mahasiswa program studi pendidikan matematika sangatlah penting untuk mengukur keberhasilannya kelak dalam mengajar matematika. Dengan demikian, upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan berpikir matematika mahasiswa khususnya kemampuan pemahaman konsep perlu mendapat perhatian dan usaha yang serius dari dosen sebagai objek sentral dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi yang mendidik mahasiswa sebagai calon guru. Dosen sebagai salah satu faktor penting penentu keberhasilan pembelajaran berperan dalam merencanakan, mengelola, mengarahkan dan mengembangkan materi pembelajaran termasuk di dalamnya pemilihan model, pendekatan atau metode yang digunakan sangat menentukan jenis interaksi pembelajaran yang dilakoni mahasiswa sekaligus keberhasilan pengajaran matematika.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

t ipa 0808934 chapter3

t ipa 0808934 chapter3

Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dan satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Anastasi (Surapranata, 2004) menyatakan suatu tes dapat dikatakan memiliki taraf reliabililas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap yang dihitung dengan koefesien reliabilitas. Menghitung reliabilitas soal untuk pilihan ganda dengan rumus Arikunto (2008):

14 Baca lebih lajut

T BIO 1302825 Chapter3

T BIO 1302825 Chapter3

1. Kesulitan belajar pada konsep sistem hormon diidentifikasi dengan menggunakan tes pemahaman konsep berupa three tier test yaitu suatu instrumen yang dapat membedakan siswa yang paham konsep dengan baik, siswa yang tidak tahu konsep dan siswa yang mengalami miskonsepsi berdasarkan alasan dan tingkat keyakinan yang diberikan dalam jawaban pertanyaan. Three tier test terdiri dari 15 soal pilihan ganda, disertai alasan dan tingkat keyakinan.

18 Baca lebih lajut

S BIO 1205720 Chapter3

S BIO 1205720 Chapter3

Tes penalaran logis (TOLT) terdiri atas sepuluh soal. Setiap jawaban dan alasan benar diberi skor satu. Jawaban benar tidak disertai alasan benar atau sebaliknya diberi skor nol. Pada nomer 9 dan 10, skor 1 diberikan pada jawaban yang lengkap dan 0 untuk jawaban yang tidak lengkap. Menurut Valanides (1996: 101) hasil TOLT siswa dikelompokkan menjadi tiga kategori menurut perolehan skor. Kategori konkrit untuk peroleh skor 0- 1, transisi untuk 2-3 dan termasuk kategori formal untuk perolehan skor 4-10.

Baca lebih lajut

Peningkatan kemampuan mahasiswa

Peningkatan kemampuan mahasiswa

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa pada konsep pendahuluan fisika inti dan partisipasi mahasiswa selama proses perkuliahan dengan model group investigation. Mata kulah pendahuluan fisika inti termasuk mata kuliah keahlian yang wajib diambil mahasiswa dengan bobot 3 SKS disediakan pada semester VII. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini harus sudah mengikuti mata kuliah fisika modern sebagai mata kuliah prasyarat. Pelaksanaan perkuliahan pada tahun ajaran 2011/2012 dengan model kooperatif STAD, hasil yang diperoleh mahasiswa untuk nilai A dan B 47 % dan keaktifan mahasiswa masih rendah, sehingga untuk tahun ajaran 2012/2013 pengampu mata kuliah menerapkan model group investigation. Prosedur penelitian dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari empat tahap, hasil yang diperoleh mahasiswa untuk nilai A dan B pada siklus satu 12 %, sedangkan pada siklus dua 57 %. Hasil observasi untuk aktivitas sangat baik, untuk memantau aktivitas diterapkan metode ask whit the cards (metode kartu).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ( Studi pada Kelas XI Semester Genap SMP Negeri 3 Terbanggi Besar Tahun Pelajaran 2012/2013)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ( Studi pada Kelas XI Semester Genap SMP Negeri 3 Terbanggi Besar Tahun Pelajaran 2012/2013)

TPS dapat digunakan sebagai alternatif bagi guru untuk mengajar matematika. Siswa akan diberi suatu permasalahan matematika untuk dapat diselesaikan secara mandiri terlebih dahulu. Setelah itu siswa akan berpasangan untuk berdiskusi. Siswa akan lebih bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan matematika yang umumnya sulit oleh para siswa terlihat lebih muda. Setiap pasangan terdiri dari siswa dengan kemampuan bervariasi, ada yang ber- kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Siswa yang paling lemah diharapkan sangat antusias dalam pembelajaran. Sehingga pembelajaran yang berlangsung dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...