Timor Leste

Top PDF Timor Leste:

T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Kerjasama Bilateral Indonesia dan Timor Leste dalam Pembangunan Ekonomi di Timor Leste T1  BAB V

T1__BAB V Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Kerjasama Bilateral Indonesia dan Timor Leste dalam Pembangunan Ekonomi di Timor Leste T1 BAB V

dari kerjasama ekonomi Indonesia dan Timor Leste di dalam meningkatkan pembangunan ekonomi di Timor Leste. Hasil dari MoU ini sendiri adalah sebuah kerjasama yang nantinyaakanbergerak di bidang tata ruang, pengelolaan sampah, pengelolaan tanah, perubahan iklim, manajemen bencana, pengembangan regulasi dan penegakan lingkungan.Selain itu juga kerjasama dalam bidang manajemen terpadu zona pesisir dan laut, keanekaragaman hayati dan laboratorium lingkungan.Kerjasama ini dilakukan dengan cara pertukaran ahli teknis, informasi dan praktik terbaik, penelitian dan pelatihan 22 .Implementasinya adalah Pemerintah dan kalangan wirausaha Republik Demokratik Timor Leste sepakat membangun kerjasama dengan Universitas Udayana Bali, Indonesia. MoU dilakukanoleh UNUD dan Timor Leste. MoU bidang lingkungan yang ditandatanganitersebut menyangkut kesiapan Unud untuk memberikan pelatihan bidang lingkungan terkait perubahan iklim (climate change) yang diikuti oleh partisipan dari Timor Leste. Pelatihan akan melibatkan pengajar dan instruktur dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Unud dan institusi lingkungan lainnya. Selain itu ada juga kesepakatan yang di lakukan oleh kedua negara untuk menginisiasi penyusunan Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) lintas negara. 10 DAS lintas negara di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, yaitu Talau, Ekad, Babulu, Tafara, Oebase, Besi, Daikain Oepotis, Meto, Mina, dan Kobalima. kompleksitas permasalahan dalam pengelolaan DAS, khususnya DAS lintas negara tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu negara yang berada di hulu atau hilir saja melainkan harus bersifat bilateral. Untuk memperoleh keterpaduan pengelolaan DAS yang optimal dibutuhkan persepsi dan komitmen bersama yang tinggi dari dua negara ini baik Indonesia maupun Timor Leste dan seluruh stakeholders (yang membidangi Pekerjaan Umum, LHK, Pertanian, Perikanan, Pertambangan, Pemerintahan Dalam Negeri, dan Pemerintahan Daerah).Selain pengelolaan DAS, kedua negara ini juga akan melakukan patroli bersama untuk mengantisipasi terjadinya perdagangan ilegal kayu maupun tumbuhan dan satwa liar 23 .
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Development Partner spending by sector in 2009 can be seen in Chart 2. The majority of Development Partner spending is attributed to 5 main sectors: Education (17%), Health (14%), Agriculture (11%), Public Sector Management (11%) and Security (11%). Chart 3 shows that Development Partners are implementing 50 projects, with the largest number focused in the capital Dili, followed by Oecusse with 37 projects and Baucau with 36 projects. However, it should be noted that the existing data does not allow for a breakdown of amounts within the 13 districts of Timor-Leste. NDAE intends to collect more detailed information on spending from Development Partners in the future to compile a more comprehensive data base.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kehendak-Nya, maka karya tulis skripsi yang berjudul “Diplomasi Timor Leste - Indonesia dalam Penyelesaian Permasalahan Hak Asasi Manusia: dari Multilateral ke Bilateral” dapat diselesaikan dengan baik. Adapun tujuan dari penyusunan skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata 1 (S1) pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.

19 Baca lebih lajut

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

Kendala terbesar dalam hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste adalah masalah penyelesaian pelanggaran Hak Asasi Manusia di Timor Timur pada tahun 1999. Awalnya, Timor Leste menuntut permasalahan hak asasi manusia di Timor Timur diselesaikan melalui Mahkamah Pengadilan Internasional. Namun pada perkembangan selanjutnya, Indonesia dan Timor Leste menyepakati bentuk penyelesaian pelanggaran Hak Asasi manusia di Timor Timur diselesaikan secara bilateral melalui dibentuknya penyelesaian bersama Komisi Kebenaran dan Persahabatan. Perubahan bentuk penyelesaian permasalahan hak asasi manusia di Timor Timur akibat kepentingan Timor Leste dan Indonesia untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

“ The economic vision of the SDP is that by 2030, Timor-Leste will be part of the group of the middle-upper income countries, extreme poverty will be eradicated and a non-oil sustainable and diversified economy will be established. (in SDP 2011-2030) ”

12 Baca lebih lajut

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor -Leste currently lacks the core infrastructure necessary to support a modern and productive country and our job in Public Works, Transport and Communications is to build and maintain core and productive infrastructures”

26 Baca lebih lajut

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

38. In late May 2006, the Alkatiri Government requested an Australian led stabilization force (ISF) to deploy to restore security. This deployment was followed by a new United Nations Integrated Mission in Timor-Leste (UNMIT) arriving in August that same year. 39. On 26 June 2006, Prime Minister Mari Alkatiri resigned amidst popular protest, yet tension persisted with local rebel leader Major Alfredo Reinado escaping from Becora Prison in Dili and armed clashes between youth gangs, some of which were significant enough to force the closure of Presidente Nicolau Lobato International Airport, the country’s only functioning airport, in October of that year.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Timor-Leste and Development Partners Meeting | Timor-Leste Ministry of Finance

Since  December  2002,  the  TLDPM  has  sought  to  highlight  the  significance  of forging  development  partnerships  among  bilateral  and  multilateral  donors  and  other  key  development  stakeholders,  including  civil  society,  operating  in  this  country.  In  2009  civil  society  were  again  encouraged  to  participate and  convey  their  unique  development  experiences. Participants  heard  voices  representing  the aims of youth, academia and for the first time, that of the private sector,  a voice that will no doubt  become stronger as Timor‐Leste’s economy continues to strengthen and expand. 
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

“KERJASAMA BILATERAL ANTARA TIMOR LESTE DAN INDONESIA DI BIDANG PENDIDIKAN PASCA DEKLARASI TIMOR LESTE”.

“KERJASAMA BILATERAL ANTARA TIMOR LESTE DAN INDONESIA DI BIDANG PENDIDIKAN PASCA DEKLARASI TIMOR LESTE”.

Pengakuan langsung Indonesia terhadap kedaulatan RDTL, partisipasinya Indonesia dalam perayaan kemerdekaan pada 20 Mei 2002, dibukanya hubungan diplomatik, saling kunjung pejabat tinggi kedua negara dan sejumlah perjanjian serta kerjasama yang telah ditandatangani oleh kedua pemerintah di Jakarta dan Dili, merupakan refleksi nyata dari semangat rekonsiliasi dan komitmen hubungan baru mereka. Hubungan kedua negara memperoleh fondasi yang semakin kukuh ketika Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan kunjungan ke Timor-Leste pada 8-9 April 2005. Dalam kunjungannya, Presiden SBY menggaris bawahi pentingnya hubungan bilateral RI dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang menurut pandangannya hanya akan bisa berhasil baik apabila kedua negara mampu menghasilkan hubungan komprehensif. Artinya, hubungan bilateral kedua Negara harus mencakup banyak bidang, yakni sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan bahkan pendidikan itu sendiri.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

DIPLOMASI TIMOR LESTE - INDONESIA DALAM PERMASALAHAN PENYELESAIAN HAK ASASI MANUSIA: DARI MULTILATERAL KE BILATERAL

Awal ketertarikan penulis dalam membahas hak asasi manusia di Timor Timur karena negara kecil seperti Timor Leste memiliki perjuangan yang gigih untuk dapat lepas dari Indonesia. Kegigihan dan perjuangan rakyat Timor Timur tidak terlepas dari dukungan dunia Internasional. Kemudian ketertarikan tersebut berkembang untuk mempelajari bentuk dan upaya penyelesaian Hak Asasi Manusia yang telah diupayakan oleh masing-masing pihak. Untuk menghindari sebuah pengadilan internasional, Indonesia-Timor Leste menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia secara diplomatik yaitu melalui Komisi Kebenaran dan Persahabatan. Pembentukan KKP menjadi tonggak sejarah dalam suatu penyelesaian bersama tindak pelanggaran Hak Asasi Manusia di dunia, terutama pada hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste. Pembentukan KKP merupakan bentuk negosiasi Indonesia-Timor Leste dalam memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing. Timor Leste menghadapi pilihan yang dilematis dalam menentukan kepentingan nasionalnya antara berjuang untuk penegakan keadilan dalam penyelesaian pelanggaran Hak Asasi Manusia, dan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dari Indonesia, sehingga diperlukan peninjauan ulang terhadap hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste. Bagi Indonesia, penyelesaian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bentuk pembersihan reputasi (vindication) Indonesia di kancah pergaulan Internasional, yang sempat tercoreng akibat tindakan pelanggaran
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

MDG Timor Leste 2004

MDG Timor Leste 2004

In a relatively short span of just three years, Timor-Leste has been able to restore the basic infrastructure that was either severely dam- aged or destroyed by the militias following the 1999 violence, put in place governance struc- tures and institutions, establish and staff a civil service, and formulate and begin to implement the first National Development Plan. Significant external support, through among others, the UN and bilateral and multilateral institutions as well as NGOs, has been critical in this process. While the achievements are significant, it is recognised that a lot more needs to be done for the country to sustain itself. Continued external assistance at current levels may be necessary for at least the next four to five years before the country could draw upon substantial oil/gas revenues from the Timor Sea to finance its development.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

LNG Sunrise di Timor-Leste

LNG Sunrise di Timor-Leste

Manfaat apa yang akan diperoleh jika kita membawa gas alam ke daratan Timor-Leste dan membangun konstruksi dan mengoperasikan kilang dan pengapalan LNG? Seperti diterangkan dalam bagian ini, jawabannya adalah “tergantung.” Untuk membawa gas dari Greater Sunrise ke daratan di Timor-Leste, pemerintah harus mengamankan kesepakatan dengan pemerintah Australia dan perusahaan patungan (joint venture) (lihat Gambar 2) dan memilih perusahaan yang dapat membangun konstruksi, mengoperasikan, dan melakukan penonaktifan jaringan pipa dan kilang LNG. Jika semuanya berjalan dengan baik, fasilitas semacam itu akan dapat menyediakan lapangan kerja dan pelatiahan bagi para pekerja Timor-Leste, menggairahkan ekonomi negara dan daerah di sekitar proyek, yang pada gilirannya dapat digunakan bagi kemaslahatan semua rakyat. Tetapi situasinya bisa lebih menyulitkan. Fasilitas LNG dapat menjadi sebuah enclave, yang secara fisik berada di pantai Timor-Leste, tetapi sedikit sekali menyediakan lapangan kerja bagi warga Timor- Leste, tidak ada aliran uang kepada masyarakat lokal, dan tidak terjadi integrasi sedikit pun dengan masyarakat sekitar—baik secara ekonomi, sosial, atau dalam hal pemanfaatan infrastruktur seperti jalan raya. Pendeknya, fasilitas semacam itu dapat berada “di dalam” Timor-Leste, tetapi tidak “bersama dengan” Timor-Leste. Skenario terburuk terjadi jika fasilitas LNG yang dibangun justru menggusur penduduk lokal, tempat-tempat yang dianggap sakral, dan merusak lingkungan, dan dikelola oleh warga asing yang hidup
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

Kerjasama pendidikan antara Timor Leste

Kerjasama pendidikan antara Timor Leste

Timor Leste adalah negara dengan bagian pulau kecil di antara Indonesia yang pernah diduduki oleh Portugal selama 450 tahun dan pernah merasakan ganasnya okupasi Jepang selama Perang Dunia ke II. Selain itu, saat Portugal hendak meninggalkan Timor Leste, atas dukungan dari Australia dan Amerika Serikat, Indonesia masuk dan menjadikan Timor Leste sebagai salah satu bagian dari NKRI selama 24 tahun.

6 Baca lebih lajut

MDG Timor Leste 2009

MDG Timor Leste 2009

Poverty is not only measured based on the proportion of the population being poor, but also through the disparity between expenditure of the poor against the poverty line. There are four sources of data for this indicator: HDR Timor-Leste 2006, World Bank 2003 report, Timor-Leste MDG Report 2004 and TLSLS 2007. The first three sources of data for this indicator reported the same figure for 2001 and calculated the poverty gap ratio in Timor-Leste at 12%. Only the World Bank 2003 report provides a figure for 2002, and shows an increase in the poverty gap ratio to 21%. In 2007 it decreased to 14.9%. The HDR Timor-Leste 2006 reports a 2015 target of 8%. Despite an increase in the percentage population of the poor, Timor-Leste has nevertheless been fairly successful in reducing the poverty gap ratio. This reduction demonstrates that the income of the poor has actually increased, albeit marginally, if comparing 2007 to 2002. The increase, however, was not enough to lift them out of poverty. With the government's efforts focusing on income generation for the poor, it is expected that the poverty gap ratio target of 8% by 2015 will be achieved.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Hukum Adat Timor Leste

Hukum Adat Timor Leste

 Decretos do Govemo (keputusan-keputusan Pemerintah). Decretos do Governo berfungsi sebagai instrument-instrumen hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan. Instrumen hukum dalam bentuk keputusan maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste ada yang bersifat umum, abstrak dan berlaku terus-menerus (dauerhaftig). Selain itu ada juga keputusan yang bersifat individual, konkrit, final dan menimbulkan akibat hukum yang dalam praktek pemerintahan dikenal dengan istilah penetapan

27 Baca lebih lajut

T1  Lampiran Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Kerjasama Bilateral Indonesia dan Timor Leste dalam Pembangunan Ekonomi di Timor Leste

T1 Lampiran Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peran Kerjasama Bilateral Indonesia dan Timor Leste dalam Pembangunan Ekonomi di Timor Leste

Jawaban : Timor-Leste merupakan sebuah negara kecil yang berdiri di abad ke-21 setelah mendapatkan kemerdekaanya melalui Jajak Pendapat yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 1999 dan secara resmi diakui sebagai negara berdaulat pada tanggal 20 Mei 2002 dan menduduki poisi ke 191 negara yang diakui oleh PBB. Sebelumnya Timor-Leste merupakan Propinsi ke-27 negara Republik Indonesia, selama 24 tahun (1975-1999) dan merupakan bekas wilayah Jajahan Portugis selama kurang lebih 445 tahun. Timor-Leste dalam sistem pemerintahannya dikenal dengan nama Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), dengan luas wilayah adalah 14.874 km 2 dengan total penduduk adalah 1.212.107 jiwa. Secara administrative Timor- Leste terbagi ke dalam 13 Distrik (Municipality), 65 Subdistrik dan 442 desa dengan kurang lebih 400 dialek bahasa daerah. Pada umumnya masyarakat Timor-Leste dikenal ramah, dengan kultur budaya yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia khususnya wilayah Timur Indonesia di Nusa Tenggara Timur.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  KEBIJAKAN PEMERINTAH REPÚBLICA DEMOCRATICA DE TIMOR-LESTE ATAS PEMBERIAN GANTI RUGI TERHADAP ASET TANAH DAN BANGUNAN MILIK WARGA NEGARA ASING SEJAK PASCA REFERENDUM UNTUK MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN HUKUM.

PENDAHULUAN KEBIJAKAN PEMERINTAH REPÚBLICA DEMOCRATICA DE TIMOR-LESTE ATAS PEMBERIAN GANTI RUGI TERHADAP ASET TANAH DAN BANGUNAN MILIK WARGA NEGARA ASING SEJAK PASCA REFERENDUM UNTUK MEWUJUDKAN PERLINDUNGAN HUKUM.

1). Kebijakan pemerintah Timor-Leste terhadap hak kepemilikan atas tanah sudah dapat mewujudkan perlindungan hukum kepada warga negara Timor-Leste dengan melihat pada peraturan perundang- undangan sebanyak 6 buah yang berlaku sebagai hukum positif di Timor-Leste serta RUU hak kepemilikan atas tanah sebagai basil suatu kebijakan pemerintah Timor-Leste sudah membahas pada aspek-aspek, seperti: warga negara subjek hukum hak milik atas tanah, terdapat prosedur dalam hal pengurusan tanah serta terbentuknya lembaga yang mengurus masalah tanah, yakni : Direccao Nacional De Terras, Propriedades e Servicos Cadastrais berdasarkan pasal 17 Undang-Undang No 1 Tahun 2003 tentang Regulasi Hukum Bagian I : Harta Benda Tidak Bergerak dan publikasi pada jornal da República RDTL, tanggal 10 maret 2003. Peraturan perUndang- Undangan di Timor-Leste, sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Dinamika Konflik Sosial di Timor Leste A

Dinamika Konflik Sosial di Timor Leste A

Dalam memahami konflik yang terjadi di Timor Leste, terlihat bahwa Indonesia dan Timor Leste merupakan aktor utama yang sudah berpotensi konflik sejak invasi militer Indonesia tahun 1975. Australia baru terlibat dalam konflik di Timor Leste ketika memasuki masa referendum tahun 1999. Konflik yang terjadi di Timor Leste ini semakin meningkat eskalasinya yang dipengaruhi oleh faktor kondisi ekonomi yang buruk, degradasi sumber daya, dan sistem politik represif yang kecenderungannya bisa timbul dan tenggelam setiap saat. Oleh karena itu, upaya penyelesaian konflik di Timor Leste juga harus
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PERANAN GEREJA KATOLIK ROMA-TIMOR LESTE DALAM POLITIK SELF DETERMINATION TIMOR LESTE

PERANAN GEREJA KATOLIK ROMA-TIMOR LESTE DALAM POLITIK SELF DETERMINATION TIMOR LESTE

Graças à Deus meu Senhor Jesus Cristo, que ofereceu-me opurtunidade de intellectual que recebi, serta karunianya kepada peneliti, sehingga peneliti menyelasaikan skripsi ini. Penelitian ini berawal dari pengalaman pribadi selama masa kependudukan pemerintahan Indonesia di Timor Leste dan tujuh tahun lamanya bersama calon Imam/pastor di Seminário Balide, Dare dan Fatu-Meta di Dili Timor Leste mulai tahun 2000-2007. Serta ketertarikan peneliti mengenai Gereja Katolik Roma di Timor Leste, karena Gereja Katolik Roma di Timor Leste memiliki keistimewaan tersendiri daripada Gereja-gereja lain di Indonesia. Dengan alasan tersebut peneliti ingin memaparkan peranan dari Gereja Katolik Roma-Timor Leste dalam politik self determination. Seluruh proses perpolitikan yang dialami langsung sehingga membuat penulis harus kehilangan ayah tercinta tertembak mati dalam medan peran melawan hegemoni pendudukan pemerintahan Orde Baru Indonesia.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Cruz Vermelha de Timor-Leste 5-Year Report 2010-2014

Cruz Vermelha de Timor-Leste 5-Year Report 2010-2014

Dengue and malaria are other major health concerns in Timor-Leste and CVTL works closely with the Ministry of Health (MoH) to reduce the risk of contraction. From 2011-2014 CVTL distributed almost 2,500 mosquito nets to 2000 families in predominantly high-risk areas. The distribution of nets was coupled with an awareness raising campaign that highlighted practical solutions to safeguard against these potentially fatal diseases such as eradicating mosquito breeding grounds and avoiding bites. As part of the coordinated MoH program, and in conjunction with World Health Organization (WHO), CVTL played a significant role following the urban outbreak of dengue fever in 2013/14, with CVTL volunteers conducting a door-to-door campaign that provided timely information on how to contain the outbreak and prevent further cases.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Show all 1611 documents...