tindak pidana abortus kriminalis

Top PDF tindak pidana abortus kriminalis:

TINJAUAN KRIMINOLOGIS PADA ABORSI (ABORTUS PROVOCATUS KRIMINALIS) DI KOTA MALANG ( STUDI KASUS DI POLRESTA KOTA MALANG )

TINJAUAN KRIMINOLOGIS PADA ABORSI (ABORTUS PROVOCATUS KRIMINALIS) DI KOTA MALANG ( STUDI KASUS DI POLRESTA KOTA MALANG )

Yaitu diperoleh dengan mencatat dan menyalin data – data yang diperlukan dari berbagai sumber dan arsip – arsip yang ada ditempat penelitian yang berkaitan dengan tindak pidana aborsi yaitu dalam rumusan Pasal 346, 347, 348, dan 349 KUHP. Selain itu juga diambil dari undang – undang Kesehatan karena berkaitan dengan Aborsi, yaitu Pasal 75, 76, 77 UU NO.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

22 Baca lebih lajut

Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberantasan Kejahatan Perdagangan Orang (Trafficing) Sidqi Ferin Diana

Kebijakan Hukum Pidana Dalam Pemberantasan Kejahatan Perdagangan Orang (Trafficing) Sidqi Ferin Diana

Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor: 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, menyatakan bahwa ketentuan mengenai larangan perdagangan orang pada dasarnya telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 297 KUHP menentukan mengenai larangan perdagangan wanita dan anak laki-laki belum dewasa dan mengkualifikasikan tindakan tersebut sebagai kejahatan. Pasal 83 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, (Penulis) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, menentukan larangan memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual. Namum ketentuan KUHP dan Undang-undang Perlindungan Anak tersebut tidak merumuskan pengertian perdagangan orang yang tegas secara hukum. Di samping itu, Pasal 297 KUHP memberikan sanksi yang terlalu ringan dan tidak sepadan dengan dampak yang diderita korban akibat kejahatan perdagangan orang. 6
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pers 9 Recent site activity  teeffendi

Pers 9 Recent site activity teeffendi

Pelanggaran Kode Etik dan Tindak Pidana Jika melihat rumusan tindak pidana yang diatur dalam RUU KUHPidana 2008, tindak pidana tersebut hanya berkaitan dengan percetakan dan penerbit[r]

12 Baca lebih lajut

TINJAUAN FIQH JINAYAH TERHADAP PENCURIAN ALIRAN LISTRIK NEGARA MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN - eprint UIN Raden Fatah Palembang

TINJAUAN FIQH JINAYAH TERHADAP PENCURIAN ALIRAN LISTRIK NEGARA MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN - eprint UIN Raden Fatah Palembang

Sehingga menciptakan pencurian aliran listrik yang berupa bentuk-bentuk tindak pidana pencurian listrik atau pelanggaran pemakaian tenaga listrik yang dilakukan oleh masyarakat. Pertama (PI), memperbesar pembatas antara lain pada MCBMini Circuit Breakeryang ada pada meter maupun pada N H Fuse(Sekering) sehingga mereka bisa menggunakan daya yang melebihi dari pada yang ditetapkan (kerugian pada bea beban). Kedua (PII), mempengaruhi kWh Kilo Watt Houryang merupkan satuan ukur meter, dengan jalan menyambung langsung dari sambungan atas (tofor) yang disambungkan langsung pada terminal kWh dari sisi masuk ke keluar (beban konsumen) hal ini akan mempengaruhi putaran kWh atau pun juga pada peralatan yang ada pada kWh sehingga sebagian terukur atau sama sekali tidak terukur. Ketiga (PIII), memperbesar pembatas antara lain pada MCB Mini Circuit Breaker yang ada pada meter maupun pada NH Fuse (Sekering) dan mempengaruhi kWh meter dengan jalan menyambung langsung dari sambungan atas (tofor) yang disambungkan langsung pada terminal KWH dari sisi masuk ke keluar (beban konsumen). Bentuk ketiga merupakan gabungan antara pertama dan kedua. Ke empat (PIV), pelanggaran yang dilakukan oleh bukan pelanggan. 22
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi ( Studi Putusan Nomor 1731 Pid.Sus 2015 PN.Medan dan Nomor 124 Pid.Sus 2016 PN.Mdn)

dari sanksi yang di berikan terhadap pelaku tindak pidana kejahatan satwa dan pelaku tindak pidana kelalaian tersebut antara lain penggunaan sanksi pidana pidana pokok (penjara, kurungan, dan denda). Pidana yang disebutkan dalam ketentuan di atas juga hanyalah menyebutkan pidana maksimal. Sehingga memungkinkan para pelaku tindak pidana tersebut mendapatkan pidana yang ringan. Pasal 40 ayat (1) dan ayat (2) merupakan tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja, yang dimaksud “dengan sengaja” 64 (opzettelijk) adalah sama dengan “willens en wetwn” (dikehendaki dan diketahui). Ini berarti pada waktu melakukan perbuatan pelaku mengkehendaki perbuatan dan atau akibat dari perbuatannya. Sedangkan pasal 40 ayat (3) dan ayat (4) adalah tindak pidana yang dilakukan karena kelalaian. 65
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

PERBANDINGAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA DITINJAU DARI HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

Kewajiban orang tua pula untuk mendidiknya hingga berprilaku sebagaimana yang dituntun agama. Jika terjadi penyimpangan dalam tingkah laku anak, islam dalam keadaan tertentu masih member kelonggaran seperti di isyaratkan sebuah hadis yang menyatakan “ketidak bosanan” seorang anak hingga akil baligh di tandai dengan timbulnya “mimpi” pada laki -laki dan haid bagi perempuan (raf ul qalam). Bila seorang anak mencuri, atau membunuh sekalipun ia tidak bisa dikenai hukuman apapun. Bahkan, wahbah zuhaili, dalam bukunya al-fiqh al- islamy, mencatat, status perbuatan anak tersebut, dalam kategori fiqh, belum termasuk tindakan criminal jinayah. Dalam hukum pidana islam, dipertanggung jawabkan pidana dapat terhapus karena adanya sebab-sebab tertentu baik yang berkaitan dengan perbuatan si pelaku tindak pidana maupun sebab-sebab yang berkaitan dengan keadaan pembuat delik.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Analisis Hukum Mengenai Penerapan Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Terhadap Pelaku Perusakan Hutan (Studi Putusan No : 21 Pid.Sus 2015 PN.Tkn)

Analisis Hukum Mengenai Penerapan Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan Terhadap Pelaku Perusakan Hutan (Studi Putusan No : 21 Pid.Sus 2015 PN.Tkn)

hingga orang pada umumnya memandang bahwa pelaku-pelakunya itu memang pantas dihukum, walaupun tindakan tersebut oleh pembentuk undang-undang telah tidak dinyatakan sebagai tindakan yang terlarang di dalam undang-undang. Kejahatan (rechtsdelicten) merupakan perbuatan yang tidak adil menurut filsafat, yaitu yang tidak tergantung dari suatu ketentuan hukum pidana, tetapi dalam kesadaran batin manusia dirasakan bahwa perbuatan itu tidak adil, dengan kata lain kejahatan merupakan perbuatan tercela dan pembuatnya patut dipidana (dihukum) menurut masyarakat tanpa memperhatikan undang-undang pidana.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

RASIONALISASI BATAS NILAI KERUGIAN PADA TINDAK PIDANA RINGAN DALAM KUHP

RASIONALISASI BATAS NILAI KERUGIAN PADA TINDAK PIDANA RINGAN DALAM KUHP

Mr. J.E. Jonkers 41 menjelaskan dalam bukunya Buku Pedoman Hukum Pidana Hindia Belanda bahwa lembaga kejahatan ringan berasal dari Hindia- Belanda sendiri. Timbulnya lembaga ini disebabkan oleh keperluan untuk mengajukan kejahatan-kejahatan tertentu yang banyak terdapat pada hakim yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya, berhubung dengan jarak-jarak yang jauh. Juga pekerjaan hakim sehari-hari yang terlalu banyak turut menimbulkan lembaga ini. Hukum pidana negeri Belanda tidak mengenal kejahatan-kejahatan ringan ini. Kejahatan (Pasal 314 KUHP Belanda) merupakan suatu bentuk pencurian yang lebih ringan yang meliputi pencurian tanah, krikil, buah-buahan yang belum dipetik atau rontok, buah masih di ladang, yang termasuk kekuasaan hakim sedaerah. Mirip dengan kejahatan ringan itu. Lembaga ini terbatas pada kejahatan yang dimasukkan dalam KUHP, semuanya berjumlah sembilan, disamping bentuk biasa ada pula berbentuk ringan. Undang-undang membedakan antara: penganiayaan hewan ringan (Pasal 302), penghinaan sederhana (Pasal 315) penganiayaan ringan (Pasal 352), pencurian ringan (Pasal 352), pencurian ringan (Pasal 379) dan penadahan ringan (Pasal 482). Dua bentuk yang terahir tidak ditentukan sifatnya, tetapi hanya diterangkan. Kita dapatkan bentuk-bentuk itu dalam
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

PENGUSUTAN, PENUNTUTAN DAN PERADILAN TINDAK PIDANA EKONOMI

PENGUSUTAN, PENUNTUTAN DAN PERADILAN TINDAK PIDANA EKONOMI

Hukuman perampasan (pasal 7 sub c dan d) adalah penting sekali dalam peradilan tindak-pidana ekonomi. Hukuman itu di samping sifat hukuman, mempunyai tujuan besar untuk mengakhiri pelanggaran dan membawa kembali barang-barang yang bersifat ekonomi dalam masyarakat. Titik berat terutama terletak pada hal yang terakhir itu. Berhubung dengan itu maka hukuman perampasan sebagai diuraikan dalam pasal 39 Kitab Undang-undang Hukum Pidana diperluas dalam Undang-undang Darurat ini: perampasan dapat dilakukan pada segala kejahatan ekonomi dan hampir segala pelanggaran ekonomi. Lagi pula perampasan itu tidak dibatasi sampai "benda", yakni barang bergerak yang berujud, akan tetapi dapat dilakukan juga terhadap barang tak bergerak dan yang tak berujud, misalnya hisab bank. Untuk menghindarkan kemungkinan, bahwa perampasan itu akan salah dipergunakan, maka ditentukan, bahwa perampasan itu hanya dapat dilakukan setelah diperoleh persetujuan dari jaksa yang bersangkutan (bandingkanlah pasal 18 ayat 2). Selanjutnya dianggap baik, apabila perampasan dapat dilakukan juga terhadap barang yang bukan kepunyaan atau milik si terhukum. Hal ini misalnya terjadi, jika tindak-pidana ekonomi itu dilakukan oleh seorang direktur dari suatu badan hukum, sedang barang yang harus dirampas adalah barang dari badan hukum itu.
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

UU Nomor 9 Tahun 2013 (UU Nomor 9 Tahun 2013)

UU Nomor 9 Tahun 2013 (UU Nomor 9 Tahun 2013)

pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, terutama hak untuk hidup. Rangkaian tindak pidana terorisme yang terjadi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mengakibatkan hilangnya nyawa tanpa memandang korban, ketakutan masyarakat secara luas, dan kerugian harta benda sehingga berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan hubungan internasional.

15 Baca lebih lajut

11e44c4e8772c7e0ae42313231343439

11e44c4e8772c7e0ae42313231343439

5. Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.

39 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Sinkronisasi Regulasi Penyidikan Dan Penuntutan Terhadap Tindak Pidana Korupsi.

PENDAHULUAN Sinkronisasi Regulasi Penyidikan Dan Penuntutan Terhadap Tindak Pidana Korupsi.

Proses peradilan tindak pidana korupsi sebenarnya sama dengan tindak pidana yang lain yaitu dimulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan sidang pengadilan dan tahap pelaksanaan putusan. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah diatur mengenai tugas dan wewenang serta masing-masing lembaga yang harus melaksanakannya, namun perselisihan dan ketidak harmonisan tugas dan kewewenangan antar lembaga dalam sistem peradilan pidana masih kerap terjadi. Perselisihan itu bahkan sangat meruncing sehingga menimbulkan sinisme di masyarakat. Misalnya saja masyarakat mengkritik tentang adanya rebutan kewenangan menyidik perkara tindak pidana korupsi antara polisi dan KPK dalam kasus cicak dan buaya, bahwa dua lembaga penegak hukum tersebut oleh sebagian masyarakat dinilai merupakan wujud perebutan kekuasaan dalam memberantas tindak pidana korupsi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

TINJAUAN TENTANG PIDANA PENJARA SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN ANAK.

TINJAUAN TENTANG PIDANA PENJARA SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN ANAK.

Penerapan pidana kepada anak pelaku kejahatan diharapkan dapat memberikan pencegahan kepada anak-anak lain dan masyarakat secara umum untuk tidak berbuat kejahatan. Tujuan ini terkadang mengalami kegagalan, karena pelaku kejahatan cenderung akan mengulangi kembali kejahatan yang telah ia lakukan (residivis). Untuk itu pemidanaan harus mengandung unsur kemanusiaan yang berarti bahwa pemidanaan menjunjung tinggi harkat dan martabat seseorang, edukatif dan juga mengandung unsur keadilan yang dapat membuat pelaku sadar sepenuhnya atas perbuatan yang dilakukan dan dirasakan adil oleh korban ataupun masyarakat. 2
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK RI

Website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK RI

(1) Kesepakatan Diversi untuk menyelesaikan tindak pidana yang berupa pelanggaran, tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban, atau nilai kerugian korban tidak lebih dari nilai upah minimum provinsi setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dapat dilakukan oleh penyidik bersama pelaku dan/atau keluarganya, Pembimbing Kemasyarakatan, serta dapat melibatkan tokoh masyarakat.

39 Baca lebih lajut

PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

PEMBUKTIAN TERBALIK DALAM PEMERIKSAAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

Pada kasus tersebut dakwaan jaksa yang terkait dengan tindak pidana gratifikasi yang terdapat pada Pasal 12B 1 adalah tidak jelas apakah gratifikasi yang diatur pada Pasal 12B ayat 1 huruf a atau Pasal 12B ayat 1 huruf b. Kemudian dalam persidangan hakim memerintahkan kepada terdakwa untuk melakukan pembuktian terbalik. Seperti yang diuraikan pada pertimbangan hakim di atas bahwa ter- dakwa telah melakukan pembuktian terbalik tetapi pembuktian tersebut tidak mampu meyakinkan hakim bahwa terdakwa tidak melakukan tindak pidana gratifikasi sebagaimana yang didakwakan. Dalam hal ini hakim telah menggunakan teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim tidak menggunakan teori pem- buktian berdasarkan undang-undang secara positif maupun teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif. Namun apabila dianalisa secara seksama pembuktian terbalik yang dilakukan oleh terdakwa bukan terkait dengan pembuktian terbalik kasus tindak pidana gratifikasi sebagaimana yang terdapat pada pasal 12B ayat 1 huruf a tapi terkait dengan pembuktian terbalik yang terdapat pada Undang-undang tindak pidana pencucian uang sehingga teori yang berlaku pada pembuktian terbalik sebagaimana yang terdapat pada pasal 12B ayat 1 huruf a dan Pasal 37 ayat 2 tidak dapat diterapkan pada kasus tersebut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penerapan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Hasil Tindak Pidana Narkotika ( Studi Putusan No. 847 Pid.B 2013 PN.MDN)

Penerapan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Hasil Tindak Pidana Narkotika ( Studi Putusan No. 847 Pid.B 2013 PN.MDN)

Pemerintah Republik Indonesia mengkriminalisasikan pencucian uang (Money laundering) ini pada tahun 2002 dengan mengeluarkan Undang-undang Nomor 15 tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Penanganan tindak pidana pencucian uang atas dasar UU No. 15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 25 Tahun 2003, meskipun sudah menunjukkan arah yang positif, tetapi dirasa masih belum optimal, hal inilah yang kemudian memicu dibentuknya UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Tindak pidana pencucian uang mengenal nomenklatur sebagai tindak pidana lanjutan (predicate crime), atau dengan istilah kejahatan asal. Tindak Pidana Narkotika sendiri adalah salah satu dari kejahatan asal yang terdapat dalam Tindak Pidana Pencucian Uang, hal ini diatur dengan jelas dalam Pasal 2 angka (1) huruf c Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

data pilun satlantas polres lotim tahun 2017 1

data pilun satlantas polres lotim tahun 2017 1

Juklak dan Juknis : tentang proses penyidikan tindak pidana Juklak dan Juknis : tentang proses penyidikan tindak pidana Juklak dan Juknis, tentang proses penyidikan tindak pidana KUHA[r]

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...