Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodontik

Top PDF Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodontik:

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Pada Peserta Didik SDK 6 BPK Penabur Bandung Kelompok Usia 11 - 12 Tahun.

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Pada Peserta Didik SDK 6 BPK Penabur Bandung Kelompok Usia 11 - 12 Tahun.

Penelitian terdahulu mengenai tingkat kebutuhan perawatan ortodontik dengan menggunakan IOTN telah dilakukan di negara-negara Eropa seperti Spanyol (Manzanera et al., 2004), Inggris (Chestnutt et al., 2006), Prancis (Souames et al., 2006), Itali (Nobile et al., 2007) dan Swedia (Josefsson et al., 2007). 3 Penelitian mengenai kebutuhan perawatan ortodontik pada anak usia 11- 12 tahun dengan menggunakan IOTN telah dipublikasi di Inggris pada tahun 1994, hasilnya adalah sepertiga dari anak usia 11-12 tahun membutuhkan perawatan orthodontik. 9
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mengenai Perawatan Ortodontik Cekat pada Siswa SMA "X".

Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mengenai Perawatan Ortodontik Cekat pada Siswa SMA "X".

Gigi yang tidak beraturan, irregular, dan protrusi merupakan masalah bagi beberapa individu sejak zaman dahulu dan usaha untuk memperbaiki kelainan ini sudah dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi yaitu dengan perawatan ortodontik. Tujuan perawatan ortodontik modern adalah memperoleh hubungan oklusi dan gigi yang baik, estetik wajah, dan hasil perawatan yang stabil dalam jangka panjang. 1 Perawatan ortodontik saat ini mulai diminati oleh masyarakat Indonesia. Tingkat kebutuhan perawatan ortodontik semakin tinggi karena meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut dan juga cukup tingginya tingkat maloklusi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Djokosalamoen, Koesoemahardja, dan Desi Fitri mengatakan prevalensi maloklusi di Indonesia 70,27 – 99,89%. 2
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED DI SMP NEGERI 1 SALATIGA

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED DI SMP NEGERI 1 SALATIGA

JIKG Vol. 1 No. 1 Januari 2017 21 mengakomodasi tempat untuk molar pertama erupsi perlu di perhatikan. Penyesuaian tempat erupsi secara alami gigi geligi cenderung bergerak kearah mesial. Pergerakan ini untuk menghindari gigi geligi agar tidak berjejal. Pertumbuhan gigi geligi saat usia 12 tahun ini jika tidak diperhatikan dan dalam pengewasan dokter gigi dapat mengakibatkan posisi gigi geligi menjadi tidak beratur. Faktor lain yang bisa menambah ketidak beraturan gigi antara lain terjadinya premature lost pada gigi decidui. Akibatkan dari kurangya tingkat kepedulian orang tua terhadap kesehatan gigi dan mulut serta kuranganya pengetahuan orang tua. Premature lost pada gigi decidui bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua, sehingga tidak tahu waktu yang tepat gigi-gigi decidui harus tanggal dan waktu yang tepat gigi decidui belum boleh tanggal. Kepedulian orang tua terhadap kesehatan gigi dan mulut anak juga berperan dalam terjadinya premature lost, pemeriksanan rutin 6 bulan sekali sangat di perlukan saat periode pergantian gigi decidui, orang tua yang kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut kurang, jarang memeriksakan gigi dan mulut anak ke dokter gigi, sehingga saat pergantian gigi decidui menjadi gigi permanen tidak terkontrol dengan baik. Pergantian gigi decidui yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan jalur pertumbuhan gigi permanen terhalang atau bisa berbelok kearah yang tidak semestinya untuk erupsi gigi, sehingga mempengaruhi letak gigi permanen serta bisa menyebabkan kekurangan ruang karena tidak beraturnya letak gigi permanen 2.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN SUDUT INTERINSISAL DENGAN PERUBAHAN OVERBITE DAN OVERJET PADA MALOKLUSI ANGLE KLAS II DIVISI 1 SESUDAH PERAWATAN ORTODONTIK TEKNIK BEGG

HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN SUDUT INTERINSISAL DENGAN PERUBAHAN OVERBITE DAN OVERJET PADA MALOKLUSI ANGLE KLAS II DIVISI 1 SESUDAH PERAWATAN ORTODONTIK TEKNIK BEGG

Perawatan ortodontik saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat umum yang mementingkan penampilan dan keharmonisan wajah. Beberapa ahli meneliti bahwa perubahan dan perbaikan jaringan keras pada wajah termasuk gigi geligi akan memperbaiki profil jaringan lunak (Yogosawa,1989). Oklusi yang optimal merupakan salah satu tujuan perawatan ortodontik. Andrew (1972 sit. Sangcharearn dan Ho, 2007) menyatakan bahwa inklinasi mahkota gigi insisivus yang tepat pada bidang sagital merupakan salah satu kunci oklusi ideal dari 6 kriteria yang disyaratkannya sebagai tujuan akhir dari perawatan ortodontik. Overjet merupakan jarak tepi insisal gigi insisivus atas terhadap gigi insisivus bawah yang diukur pada bidang sagital, sedangkan jarak pada bidang vertikal disebut overbite. Besar overbite dan overjet dipengaruhi besar inklinasi dari gigi-gigi insisivus atas-bawah, hubungan antero-posterior lengkung basal gigi serta tingkat perkembangan vertikal segmen dentoalveolar anterior (Foster,1999). Overbite dan overjet berperan penting pada analisis kasus untuk mencapai kestabilan hasil akhir perawatan ortodontik, keseimbangan serta harmonisasi profil wajah. Beberapa peneliti mengatakan bahwa keharmonisan wajah dalam arah vertikal dan sagital ditentukan oleh besar sudut interinsisal dan tinggi wajah anterior bagian bawah (lower anterior face height/ LAFH) (Johnston dkk., 2005). Menurut Foster (1999) adanya diskrepansi rahang pendukung gigi dalam arah vertikal dan sagital akan mempengaruhi besarnya sudut interinsisal, overjet dan overbite. Suatu maloklusi gigi- geligi dapat dinilai dengan analisis sefalometri.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Pengaruh Perawatan Ortodontik Cekat Terhadap Tingkat Kepercayaan Diri Pelajar Sekolah Menengah Atas Yayasan Pendidikan Al-Ma'Soem, Jatinangor-Sumedang Tahun 2012.

Pengaruh Perawatan Ortodontik Cekat Terhadap Tingkat Kepercayaan Diri Pelajar Sekolah Menengah Atas Yayasan Pendidikan Al-Ma'Soem, Jatinangor-Sumedang Tahun 2012.

Pada tahun 1962, WHO (World Health Organisation) melaporkan mengenai pernyataan dari International Expert Committee on Dental Health, bahwa segala bentuk anomali harus diperlakukan sebagai kebutuhan perawatan jika kecacatan atau gangguan fungsi yang dimiliki mengganggu kesehatan/kesejahteraan fisik dan emosi seseorang. Jika anomali tersebut adalah kasus maloklusi, maka memungkinkan untuk dilakukan perawatan ortodontik, dengan harapan dapat meningkatkan kesehatan seseorang. 14,15,16

33 Baca lebih lajut

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN  Frekuensi Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Di Smp Negeri 1 Salatiga.

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN Frekuensi Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Di Smp Negeri 1 Salatiga.

Dukungan pendidikan orang tua pada tingkat sedang, mempengaruhi pola pikir anak terhadap kepedulian kesehatan, serta kerapian dari gigi geligi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sample yang berdasarkan hasil indeks AC penampilan gigi geliginya terlihat baik namun berdasarkan hasil pengukuran indeks DHC mereka membutuhkan perawatan. Kebutuhan perawatan ortodontik dapat dipengaruhi oleh latar belakang tingkat pendidikan orang tua. Pengetahuan orang tua terhadap kesehatan dan estetik gigi dan mulut seara tidak langsung menentukan pandangan anak terhadap kesehatan dan estetik gigi geligi, karena didikan orang tua adalah pendidikan pertama yang diterima oleh anak sebelum pendidikan selanjutnya, segala hasil didikan orang tua akan melekat pada anak. Tingkat pendidikan terakhir orang tua yang pada tingkatan sedang dapat menimbulkan kesadaran orang tua melakukan kunjungan ke dokter gigi bersama anak dalam hal perawatan gigi dan pemberian pengetahuan anak terhadap kesehatan dan estetik gigi dan mulut kurang, sehingga menimbulkan pandangan anak terhadap tingkatan estetik gigi kurang dan sampel saat memandang giginya sendiri cukup bagus dan tidak membutuhkan perawatan ortodontik 7 .
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED DI  Frekuensi Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Di Smp Negeri 1 Salatiga.

FREKUENSI KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTIK BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED DI Frekuensi Kebutuhan Perawatan Ortodontik Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Di Smp Negeri 1 Salatiga.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat frekuensi perawatan ortodontik berdasarkan IOTN di SMP Negeri 1 Salatiga.Penelitian ini merupakan penelitian descriptive observational study.Digunakan sampel 84sampel dari siswa-siswi di SMP Negeri 1 Salatiga.Gigi-geligi sampel dicetak dan dilakukan foto dari sisi anterior sejajar dengan oklusi. Hasil cetakan dilakukan pengukuran dan pengklasifikasian dilakukan sesuai grade DHC. Hasil foto gigi-geligi dilakukan analisis wawancara dengan sample sesuai grade AC.

15 Baca lebih lajut

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA TAHUN 2016  Tingkat Kebutuhan Perawatan Periodontal Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Tahun 2016.

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA TAHUN 2016 Tingkat Kebutuhan Perawatan Periodontal Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Tahun 2016.

Penuaan merupakan suatu proses alami yang terjadi pada manusia. Proses penuaan akan menimbulkan berbagai masalah fisik-biologik, psikologik dan sosial. Lansia mengalami proses penuaan secara biologis yang berlangsung terus- menerus yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik dan semakin rentan terhadap penyakit antara lain penyakit periodontal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kebutuhan perawatan periodontal pada lansia berdasarkan indeks CPITN di panti Wredha Dharma Bhakti kota Surakarta tahun 2016. Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan pendekatan Study Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan di panti Wredha Dharma Bhakti kota Surakarta dengan sampel berusia >45 tahun sebanyak 84 orang. Pemeriksaan status periodontal dilakukan dengan menggunakan indeks dari WHO yaitu Community index of periodontal treatment needs (CPITN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan periodontal sehat dan perdarahan pada saat probing sebanyak 41.8% terdapat kalkulus sub-supragingiva (skor 2), sebanyak 34.5% memiliki poket sedalam 3.5-5.5 mm (skor 3) dan sebanyak 23.6% memiliki poket >6 mm (skor 4).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KAJIAN TINGKAT KEMAMPUAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN DI RUMAH PADA PASIEN STROKE DI RSUD CIBABAT CIMAHI.

KAJIAN TINGKAT KEMAMPUAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN DI RUMAH PADA PASIEN STROKE DI RSUD CIBABAT CIMAHI.

Pasien stroke memerlukan perawatan lanjutan di rumah akibat penurunan kemampuannya yang dipersiapkan melalui discharge planning. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan perawatan di rumah pada pasien stroke di RSUD Cibabat.

2 Baca lebih lajut

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA TAHUN 2016  Tingkat Kebutuhan Perawatan Periodontal Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Tahun 2016.

TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PERIODONTAL PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA TAHUN 2016 Tingkat Kebutuhan Perawatan Periodontal Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta Tahun 2016.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat kebutuhan perawatan periodontal berdasarkan skor CPITN pada lansia di Panti Wreda Dharma Bhakti Kota Surakarta tahun 2016, maka dapat disimpulkan bahwa frekuensi tingkat kebutuhan perawatan periodontal pada lansia di Panti Wreda Dharma Bhakti Kota Surakarta tahun 2016, kebutuhan perawatan periodontal paling banyak yaitu perawatan edukasi instruksi kesehatan mulut dan scalling untuk menghilangkan kalkulus supra maupun subgingiva sebanyak 42 (76.4%). Sebanyak 13 (23.6%) lansia membutuhakan perawatan periodontal Edukasi instruksi kesehatan mulut dan scalling serta root planing dari total sampel di Panti Wreda Dharma Bhakti Kota Surakarta tahun 2016.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Reposisi Gigi Kaninus Impaksi Palatal pada Perawatan Ortodontik Cekat Teknik Begg | Wirasatyawan | MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM 11975 23413 1 SM

Reposisi Gigi Kaninus Impaksi Palatal pada Perawatan Ortodontik Cekat Teknik Begg | Wirasatyawan | MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM 11975 23413 1 SM

Pasien perempuan, usia 15 tahun datang ke klinik Ortodonsi RSGM Prof. Soedomo. Pemeriksaan subjektif menunjukkan pasien merasa terganggu dengan keadaan gigi depan yang maju dan bercelah atas maju sehingga mengurangi rasa percaya diri. Riwayat pertumbuhan gigi diketahui gigi susu tersusun rapi, beberapa gigi berlubang dibiarkan tanpa perawatan sedangkan gigi bercampur diketahui bahwa gigi depan atas sebelah kiri gigi pengganti tumbuh tidak pada tempatnya

4 Baca lebih lajut

Identifikasi Perawatan Ortodontik Spesialistik dan Umum | Ardhana | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 8193 14483 1 SM

Identifikasi Perawatan Ortodontik Spesialistik dan Umum | Ardhana | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 8193 14483 1 SM

Kolegium Ortodonsia Indonesia mene-tapkan alat cekat full braces sebagai piranti perawatan yang bersifat spesialistik karena beberapa alasan: (1) Perawatan bersifat komprehensif, bertujuan untuk merawat maloklusi secara menyeluruh (2) Kesalahan perawatan menimbulkan kerusakan gigi yang sangat sukar untuk diperbaiki (3) Diperlukan pemahaman secara utuh tentang preskripsi braket yang akan dipakai, sistem kerja kekuatan (diferensial forces), biomekanika, penjangkaran dan tahapan perawatan untuk masing-masing teknik yang berbeda. (4) Membutuhkan penguasaan skill melalui bimbingan merawat beberapa pasien (kasus), pada pendidikan progaram studi spesialis ortodonsia dibutuhkan tiga tahun pendidikan merawat sekurang-kurangnya 20 pasien dalam pelbagai kasus. (5) Setelah luluspun masih dibutuhkan pengalaman kerja klinik menerapkan satu sistem perawatan cekat agar dapat menghasilkan perawatan yang memuaskan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

CASE REPORT ORTHODONTICS REMOVABLE FIXED APPLIANCES IN MANAGING TREATMENT OF DENTAL CLASS I MALOCCLUSION WITH MAXILLARY MIDLINE DIASTEMA RELATED TO MESIODENS AND BIMAXILLARY DENTAL PROTRUSION

CASE REPORT ORTHODONTICS REMOVABLE FIXED APPLIANCES IN MANAGING TREATMENT OF DENTAL CLASS I MALOCCLUSION WITH MAXILLARY MIDLINE DIASTEMA RELATED TO MESIODENS AND BIMAXILLARY DENTAL PROTRUSION

Peranti ortodontik lepasan atau biasa disebut peranti lepasan adalah peranti ortodontik yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Ada juga yang menyebut peranti ini sebagai peranti lepasan aktif untuk membedakan dengan peranti fungsional. Peranti lepasan dapat memberikan hasil yang maksimal apabila dipakai terus-menerus. Keberhasilan perawatan dengan peranti lepasan tidak hanya tergantung pada kemauan pasien untuk memakai peranti, tetapi juga pada kemampuan operator untuk mendesain dan membuat peranti yang dapat ditoleransi pasien. Peranti yang digunakan pada kasus adalah busur labial, flat button dan wrap around (Rahardjo, 2009).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Penatalaksanaan  Sindrom Pierre Robin Dengan Prosedur Bedah Ortognatik

Penatalaksanaan Sindrom Pierre Robin Dengan Prosedur Bedah Ortognatik

Pengetahuan tentang bedah ortognatik telah berkembang selama dua dekade terakhir. Diagnosa dan rencana perawatan telah menjadi lebih berpengalaman, sehingga teknik bedah dapat digunakan untuk memperbaiki kelainan rahang. Bedah ortognatik tidak hanya teknik bedah yang memerlukan pengalaman dan keakuratan, tetapi juga memperhatikan jaringan keras dan lunak. Namun bedah ortognatik bukanlah merupakan suatu perawatan pengganti, melainkan suatu rangkaian multidisiplin yang dikombinasikan dengan perawatan lainnya untuk mencapai hasil estetis yang memuaskan. 5

66 Baca lebih lajut

Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg | Nainggolan | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 8192 14482 1 PB

Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg | Nainggolan | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 8192 14482 1 PB

Perawatan ortodontik teknik Begg pada umumnya terdiri dari tiga tahap, tahap I biasanya digunakan archwire dengan vertical loop pada interproksimal dari gigi anterior akan memperpanjang kawat, meningkatkan kelentingan hingga archwire dapat terpasang hampir di semua gigi berjejal, dengan kekuatan yang ringan menggerakkan gigi ke segala arah secara bersamaan. 1,4 Levelling dan unraveling

8 Baca lebih lajut

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti Berdasarkan Dental Health Component pada Siswa SMAN 8 Medan

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti Berdasarkan Dental Health Component pada Siswa SMAN 8 Medan

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan disain cross sectional study. Subjek penelitian berjumlah 100 siswa yang terdiri atas 56 siswa laki-laki dan 44 siswa perempuan. Hasil tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Dental Health Component pada siswa SMAN 8 Medan menunjukkan bahwa 46% siswa tidak/membutuhkan perawatan ringan (DHC 1-2), membutuhkan perawatan sedang (DHC 3) sebanyak 20%, dan 34% sangat membutuhkan perawatan ortodonti (DHC 4-5). Sebagai kesimpulan, distribusi terbesar tingkat kebutuhan perawatan perawatan ortodonti berdasarkan Dental Health Component pada siswa SMAN 8 Medan adalah tingkat 1-2 yaitu tidak/membutuhkan perawatan ringan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Hubungan Sikap dan Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti (IOTN) Pada Siswa SMA N 3 Medan

Hubungan Sikap dan Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti (IOTN) Pada Siswa SMA N 3 Medan

The World Health Organization (1962) memasukkan topik maloklusi di bawah judul Anomali Dento-Facial yang mengganggu fungsi, didefenisikan sebagai suatu anomali yang menyebabkan cacat atau gangguan fungsi, dan memerlukan perawatan jika cacat atau gangguan fungsi menyebabkan atau kemungkinan akan bisa menyebabkan rintangan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien. Salzmann (1968) mendefenisikan maloklusi yang berdampak merugikan sebagai suatu maloklusi yang memberikan pengaruh merugikan terhadap estetik, fungsi, maupun bicara. Defenisi yang umum seperti ini terutama digunakan dalam menilai kebutuhan perawatan bagi pasien secara individual, dan melibatkan sejumlah besar ukuran penilaian subjektif. 18
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Perawatan Maloklusi Kelas III dengan Hubungan Skeletal Kelas III disertai Makroglosia Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg | Setyowati | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 7963 14427 1 PB

Perawatan Maloklusi Kelas III dengan Hubungan Skeletal Kelas III disertai Makroglosia Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg | Setyowati | Majalah Kedokteran Gigi Indonesia 7963 14427 1 PB

Maloklusi merupakan penyimpangan letak gigi dari keadaan normal. Maloklusi dapat terjadi karena penyimpangan dental, skeletal atau kombinasi keduanya yang dapat mengakibatkan fungsi dan estetika wajah terganggu. Maloklusi kelas III muncul apabila gigi-gigi rahang bawah beroklusi lebih ke mesial dari relasi normalnya. Kasus kelas III dapat dikategorikan sebagai akibat dari maksila yang retrusi dari mandibula. Maloklusi kelas III skeletal dibagi menjadi dua yaitu maloklusi pseudo kelas III dengan mandibula normal namun maksila kurang berkembang dan maloklusi skeletal kelas III dengan mandibula yang besar. Perawatan ortodontik teknik Begg dapat digunakan untuk merawat semua jenis kasus maloklusi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik dengan teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas III dengan hubungan skeletal klas III disertai makroglosia. Pasien laki-laki umur 21 tahun mengeluhkan gigi depan yang tidak rapi dan renggang. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III, hubungan skeletal klas III; retrognatik maxilla dan protrusif mandibula; bidental protrusif; spacing anterior; edge to edge bite; cup to cup bite 15 terhadap 45; open bite; cross bite 12, 13 terhadap 42, 43; pergeseran garis tengah rahang atas ke kiri sebesar 2,2 mm; makroglosia. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan jarak gigit, tumpang gigit, cup to cup bite, cross bite, dan open bite terkoreksi. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 184-191.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti Berdasarkan Aesthetic Component pada Murid SMP Putri Cahaya di Medan

Tingkat Kebutuhan Perawatan Ortodonti Berdasarkan Aesthetic Component pada Murid SMP Putri Cahaya di Medan

Ada banyak indeks yang dikembangkan oleh para ahli dalam pencatatan keadaan maloklusi. Metode pengukuran/pencatatan keadaan maloklusi ini secara luas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Yang termasuk dalam metode kualitatif adalah Angle, Fisk, dan WHO/FDI. Sedangkan yang termasuk dalam metode kuantitatif adalah Dental Aesthetic Index (DAI), Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), dan Index of Complexity Outcome and Need (ICON). Tujuan dari penelitian menggunakan indeks ini adalah untuk menilai kebutuhan akan perawatan ortodonti pada populasi sekolah. 7 World Health Organization (WHO) pada tahun 1995 mengukur prevalensi kebutuhan perawatan ortodonsi di 10 negara industri, dimana kebutuhan perawatan ortodonsi berkisar 21- 64% sebelum dilakukan pengukuran menggunakan IOTN. Hasil yang diperoleh setelah melakukan pengukuran dengan IOTN komponen AC adalah 95% tidak membutuhkan perawatan atau membutuhkan sedikit perawatan, 4,2% membutuhkan perawatan sedang, dan 0,7% sangat membutuhkan perawatan. 6 Hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negri 1 Tarean desa Rumoong pada bulan Maret 2014 menyatakan dari komponen DHC 16,39% tidak atau butuh perawatan ringan, 18,04% butuh perawatan borderline dan 65,57% sangat butuh perawatan. Sedangkan pada komponen AC didapati 73,77% tidak atau butuh perawatan ringan, 22,95% butuh perawatan borderline dan 3,28% sangat butuh perawatan. 4 Penelitian dengan menggunakan komponen AC juga dilakukan pada SMAN 16 Kota Banda Aceh dengan sample sebanyak 385 orang, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang tidak membutuhkan perawatan berjumlah 331 orang (86,0%), subjek yang membutuhkan perawatan ortodonti sedang adalah 47 orang (12,2%) sedangkan subjek yang sangat membutuhkan perawatan ortodonti adalah 7 orang(7%). 8
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...