Tingkat keseriusan kecurangan

Top PDF Tingkat keseriusan kecurangan:

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus - Repositori Universitas Muria Kudus

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus - Repositori Universitas Muria Kudus

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh sikap whistle-blowing , komitmen organisasi, personal cost , tingkat keseriusan kecurangan dan sensitivitas etis terhadap minat untuk melakukan tindakan whistle-blowing . Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan penyebaran kuesioner kepada subbagian keuangan yang bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI). Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 responden. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda dengan program SPSS 22. Penelitian ini menggunakan uji kualitas data, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap whistle-blowing , komitmen organisasi, tingkat keseriusan kecurangan dan sensitivitas etis berpengaruh positif secara signifikan terhadap minat untuk melakukan tindakan whistle-blowing . Personal cost tidak berpengaruh terhadap minat untuk melakukan tindakan whistle-blowing .
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu - Analisis faktor-faktor pengaruh intensi whistleblowing - Perbanas Institutional Repository

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu - Analisis faktor-faktor pengaruh intensi whistleblowing - Perbanas Institutional Repository

Penelitian ini bertujuan untuk menguji ethical climate, komitmen organisasional, personal cost, dan tingkat keseriusan kecurangan pada intensi whistleblowing yang sampel penelitiannya adalah pegawai yang bekerja di Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah bahwa variabel komitmen organisasional dan personal cost tidak berpengaruh signifikan, sedangkan tingkat keseriusan kecurangan berpengaruh signifikan terhadap niat untuk melakukan whistleblowing.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Analisis faktor-faktor pengaruh intensi whistleblowing - Perbanas Institutional Repository

Analisis faktor-faktor pengaruh intensi whistleblowing - Perbanas Institutional Repository

Whitecotton (2007) yang menyatakan bahwa tingkat keseriusan kecurangan tidak berpengaruh terhadap intensi whistleblowing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa niat pegawai pemerintah dalam melakukan pelaporan kecurangan dapat terdorong dengan adanya tingkat keseriusan kecurangan. Hal ini diduga karena adanya rasa ketidakadilan yang hinggap dalam individu yang mengetahui adanya kecurangan yang terjadi di dalam organisasinya. Sehingga individu tersebut akan merasa bahwa jika kecurangan tersebut semakin dibiarkan maka ketidakadilan akan semakin dirasakan di dalam lingkungan organisasi. Tidak dapat dipungkiri akan terjadi kerugian yang menimpa baik pada diri individu maupun lingkungan organisasi. Maka dari itu individu tersebut semakin termotivasi untuk melakukan
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

DETERMINAN INTENSI AUDITOR MELAKUKAN TINDAKAN WHISTLE-BLOWING DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI VARIABEL MODERASI

DETERMINAN INTENSI AUDITOR MELAKUKAN TINDAKAN WHISTLE-BLOWING DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM SEBAGAI VARIABEL MODERASI

Tindakan whistle-blowing juga dapat dikaitkan dengan prosocial organizational behavior theory. Tindakan whistle-blowing me- rupakan salah satu bentuk tindakan pro- sosial anggota organisasi untuk menyampai- kan arahan, prosedur, atau kebijakan yang menurutnya mungkin tidak etis, ilegal atau membawa bencana bagi tujuan jangka panjang organisasi kepada individu atau badan lainnya yang memiliki posisi untuk melakukan tindakan korektif. Prosocial organizational behavior theory menegaskan bahwa tindakan whistle-blowing seorang pegawai menunjukkan bentuk komitmen pegawai tersebut untuk melindungi organi- sasinya dari ancaman hal-hal yang tidak etis atau ilegal. Faktor komitmen organisasi tersebut telah digunakan pula dalam pe- nelitian terdahulu (Ahmad et al., 2012). Ber- dasarkan uraian masalah di atas maka pe- nelitian ini mengangkat 4 (empat) determi- nan intensi whistle-blowing dengan perlindu- ngan hukum sebagai variabel moderasi yaitu, komitmen organisasi, personal cost of reporting, tingkat keseriusan kecurangan, dan sikap profesionalisme.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Pengaruh Profesionalisme Auditor Internal terhadap Pencegahan Kecurangan (Studi Kasus pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Bandung).

Pengaruh Profesionalisme Auditor Internal terhadap Pencegahan Kecurangan (Studi Kasus pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Bandung).

Seperti menangani penyakit, lebih baik mencegah daripada mengobatinya. Para ahli memperkirakan bahwa kecurangan yang terungkap merupakan bagian kecil dari seluruh kecurangan yang sebenarnya terjadi. Upaya utama yang harus dilakukan adalah pencegahan kecurangan. Upaya mencegah kecurangan tersebut dimulai dari pengendalian internal. Disamping pengendalian internal, dua konsep penting lainnya dalam pencegahan kecurangan, yakni menanamkan kesadaran tentang adanya fraud (fraud awareness) dan upaya menilai risiko terjadinya fraud (fraud risk assessment) (Tuanakotta, 2007).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

SKEPTISISME PERSONAL DAN SKEPTISISME SITUASIONAL TERHADAP KEPUTUSAN AUDIT

SKEPTISISME PERSONAL DAN SKEPTISISME SITUASIONAL TERHADAP KEPUTUSAN AUDIT

lebih dari lima tahun dan anda hampir mengetahui seluruh tim manajemen klien. Anda memahami bahwa hampir seluruh tim akuntan di XYZ masih sangat muda dan anda merasa tidak nyaman dengan tingkat pergantian pegawai profesional keuangan yang tinggi di XYZ. Pada tahun lalu, Anda menemukan kesalahan pada beberapa akun dan manajemen beragumen bahwa kesalahan tersebut tidak material dan tidak perlu disesuaikan. Anda tidak pernah merasa yakin bahwa salah saji tersebut merupakan murni dari kesalahan semata dan manajemen menggunakan materialitas sebagai alasan untuk penyesuaian kecil mereka buat. Anda tidak setuju dengan perlakuan atas transaksi tersebut. Sebagai hasilnya anda mempertimbangkan mengenai kejujuran dari tim manajemen.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Akuisisi - Neliti

Akuisisi - Neliti

Gambaran tentang Profesionalisme seorang auditor menurut Hall (1968) dalam Herawati dan Susanto, (2009) tercermin dalam lima hal yaitu: pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, kepercayaan terhadap peraturan profesi dan hubungan dengan rekan seprofesi. Dengan profesionalisme yang tinggi, kebebasan auditor akan terjamin. Selain dituntut memiliki tingkat profesionalisme, seorang auditor juga harus mampu menganalisa situasi mencakup karakteristik-karakteristik yang merupakan perluasan dari isu-isu yang terkait dengan isu moral utama dalam sebuah situasi yang akan mempengaruhi persepsi mereka dalam menentukan keputusan, hal ini biasa dikenal dengan intensitas moral. Profesionalisme audit dan intensitas moral merupakan dua aspek yang penting dalam pekerjaan seorang auditor, tidak hanya dalam mengungkapkan kewajaran suatu laporan keuangan tetapi juga dalam mengungkap kecurangan dalam laporan keuangan. Salah satu cara mengungkapkan pelanggaran akuntansi sehingga dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat adalah dengan melakukan whistleblowing. Whistleblowing adalah pelaporan yang dilakukan oleh anggota organisasi (aktif maupun non-aktif) mengenai pelanggaran, tindakan ilegal atau tidak bermoral kepada pihak di dalam maupun di luar organisasi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Lampiran 2 Tabel Masalah, Penyebab dan Tindakan

Lampiran 2 Tabel Masalah, Penyebab dan Tindakan

Tabel L-6 Penentuan Prioritas dan Peringkat M asalah No Prioritas Masalah Urgensi Sosial Tingkat Keseriusan Potensi Tumbuh Kembang Score Peringkat 1 Menurunnya Kesadaran dan Par[r]

16 Baca lebih lajut

PERANAN AUDITOR INTERNAL DALAM PENCEGAHAN KECURANGAN (Studi Kasus Pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Tbk. Kota Bandung)

PERANAN AUDITOR INTERNAL DALAM PENCEGAHAN KECURANGAN (Studi Kasus Pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Tbk. Kota Bandung)

Peranan Pengendalian Internal dalam Pendeteksian Kecurangan Penyalahgunaan Aset.. 2004, Pencegahan dan Pedeteksian kecurangan oleh internal auditor.[r]

4 Baca lebih lajut

Pengaruh Kompetensi Independensi, Dan Profesionalisme Auditor Internal Pada Pencegahan Kecurangan Pada Bank Perkreditan Rakyat Di Kabupaten Badung.

Pengaruh Kompetensi Independensi, Dan Profesionalisme Auditor Internal Pada Pencegahan Kecurangan Pada Bank Perkreditan Rakyat Di Kabupaten Badung.

Belakangan ini perhatian auditor diarahkan terutama untuk mencegah terjadinya kesalahan dan transaksi kecurangan. Davia et al. (2000) dalam Soepardi (2009) menyatakan bahwa diperkirakan 40 persen dari keseluruhan kasus kecurangan tidak pernah terungkap, atau dikenal dengan fenomena gunung es. Oleh karena itu diperlukan tindakan strategi represif dan preventif dalam menangani kecurangan. Tujuannya adalah untuk membantu pemimpin perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penelitian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diauditnya. Menurut Amrizal (2004) internal audit adalah suatu penilaian yang dilakukan oleh pegawai perusahaan yang terlatih mengenai ketelitian, dapat dipercayainya, efisiensi, kegunaan catatan- catatan (akuntansi) perusahaan serta pengendalian internal yang terdapat dalam perusahaan.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Pengaruh Pengendalian Internal dan E Procurement Terhadap Fraud (Studi Kasus pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan Inspektorat Kabupaten Bandung Barat)

Pengaruh Pengendalian Internal dan E Procurement Terhadap Fraud (Studi Kasus pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dan Inspektorat Kabupaten Bandung Barat)

Non- management fraud merupakan tindakan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan berupa ketidakjujuran, manipulasi, pencurian. Kecurangan itu pada umumnya melibatkan aktivitas perpindahan kekayaan seperti pengelapan atau pencurian, mark-up pembelian, mark-up biaya operasional, pengeluaran fiktif, penggelapan penerimaan, pencairan cek pembayaran ke pemasok yang dibawa, pemalsuan dokumen, penjualan yang tidak dicatat, pemakaian uang penjualan baik yang dibayarkan tunai maupun melalui cek (kitting) walaupun manajemen telah menciptakan langkah-langkah dan usaha-usaha tertentu untuk mencegahnya.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perancangan Aplikasi Android Pencatatan Pesanan Makanan pada Restoran SEMES Kudus

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perancangan Aplikasi Android Pencatatan Pesanan Makanan pada Restoran SEMES Kudus

Pada saat implementasi sistem reservasi dapat menyelesaikan masalah yang ada seperti mengurangi tingkat kecurangan kasir dalam pengelolaan uang, membantu kasir dalam pembuatan nota, membantu menyelesaikan nota yang hilang, membantu waitress dalam melayani pelanggan dan pengambilan pesanan yang sudah jadi, membantu admin dalam laporan – laporan penjualan, update stok barang.

1 Baca lebih lajut

PERSEPSI AUDITOR ATAS TINGKAT EFEKTIVITAS RED FLAGS UNTUK MENDETEKSI KECURANGAN

PERSEPSI AUDITOR ATAS TINGKAT EFEKTIVITAS RED FLAGS UNTUK MENDETEKSI KECURANGAN

auditor tidak hanya memiliki kemampuan untuk menemukan kekeliruan (error) atau kecurangan (fraud) yang tidak lazim terdapat dalam laporan keuangan, tetapi juga auditor tersebut dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat terhadap temuannya dibandingkan dengan auditor yang masih memiliki sedikit pengalaman (Libby dan Frederick 1990). Tugas pendeteksian kecurangan merupakan tugas yang tidak terstruktur sehingga memaksa auditor untuk melakukan metode-metode alternatif dan mencari informasi tambahan dari berbagai sumber. Auditor yang memiliki pengalaman mendeteksi kecurangan pada penelitian sebelumnya tentu memiliki prosedur audit alternatif untuk mendeteksi kecurangan yang dilakukan manajemen. Hasil pene- litian Moyes dan Baker (2009) menunjukkan bahwa auditor dan kantor akuntan publik yang memiliki pengalaman dalam mende- teksi kecurangan menggunakan red flags akan meningkatkan efektivitas auditor dalam mendeteksi kecurangan. Smith et al. (2005) tidak menemukan adanya pengaruh pengal- aman mendeteksi kecurangan pada persepsi auditor atas penggunaan red flags .
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

T1 802011088 Full text

T1 802011088 Full text

Salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akademik adalah, a) individual, variabelnya merupaka usia, jenis kelamin, prestasi akademik, pendidikan orang tua dan aktivitas ekstra kulikuler. b) kepribadian, variabelnya merupakan moralitas, variabel yang berkaitan dengan pencapaian akademik, diri dan aktualisasi diri dimana Rogers (1959) mengajukan dua subsistem, yaitu konsep diri dan diri ideal. c) kontekstual, variabelnya adalah keanggotaan perkumpulan, perilaku teman sebaya, penolakan teman sebaya terhadap perilaku curang. d) faktor situasional, variabelnya adalah pelajar terlalu banyak dan lingkungan ujian (Riski, 2004).
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Identifikasi Kecurangan Keuangan mpdf

Identifikasi Kecurangan Keuangan mpdf

SYNCORE dihubungi manajemen perusahan tersebut untuk membantu memecahkan kasus. SYNCORE menggunakan pendekatan Audit Forensik dalam mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkap tindak kecurangan dan menangkap pelaku. Lewat serangkaian investigasi, tim SYNCORE berhasil membantu manajemen dalam mengidentifikasi tersangka serta besaran dana yang digelapkan. Masalah di selesaikan di luar jalur hukum, dengan pihak pelaku mengganti kerugian yang diderita perusahaan dan mendapatkan sanksi internal.

1 Baca lebih lajut

Pensinergian MDL dalam Pencegahan Kecurangan Akademik Mahasiswa Akuntansi(1)

Pensinergian MDL dalam Pencegahan Kecurangan Akademik Mahasiswa Akuntansi(1)

Abdullah Alhadza (2001) menjelaskan bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab kecurangan akademik yaitu: faktor individual atau pribadi, faktor lingkungan atau pengaruh kelompok, faktor sistem evaluasi dan faktor guru, dosen, atau penilai. Lebih lanjut Matindas (2010) menambahkan bahwa kecurangan akademik muncul sebagai interaksi berbagai faktor, baik yang bersifat internal (ada di dalam diri pelaku) maupun yang bersifat eksternal (berasal dari lingkungan). Alfindra Primaldi (Matindas, 2010) menyebutkan bahwa banyak sekali faktor yang berkaitan dengan kecurangan akademik. Faktor yang bersifat internal antara lain meliputi academic self-efficacy, indeks prestasi akademik, etos kerja, self-esteem, kemampuan atau kompetensi motivasi akademik (need for approval belief), sikap (attitude), tingkat pendidikan teknik belajar (study skill), dan moralitas. Selain itu, faktor yang bersifat eksternal antara lain meliputi pengawasan oleh pengajar, penerapan peraturan, tanggapan pihak birokrat terhadap kecurangan, perilaku siswa lain serta asal negara pelaku kecurangan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN Corporate Governance Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan.

KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN Corporate Governance Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji corporate governance dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Corporate governance dengan proksi kepemilikan asing, kepemilikan domestik, kepemilikan publik. Untuk mendeteksi kecurangan laporan digunakan Model Beinesh dimana dalam model tersebut tidak terjadi fraud financial statement apabila nilai < -2,22 dan sebaliknya > -2,22 terjadi fraud financial Statement. Dan variabel moderasi dengan firm size yang diukur menggunakan total asset. Sampel yang digunakan sebanyak 694 untuk perusahaan manufaktur dengan periode 2011-2015. Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Untuk menguji hipotesis digunakan analisis regresi logistik dengan model moderasi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN Corporate Governance Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan.

KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN Corporate Governance Dalam Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan.

Bukti empiris sebagai pendukung penelitian adalah penelitian Marsono (2014) foreign ownership tidak memliki keterkaitan yang erat dalam fraudulent financial statement. Sedangkan kepemilikan keluarga, kepemilikan asing memiliki keterkaitan yang erat dengan dampak yang negatif dalam kecurangan pelaporan keuangan (Mardiana, 2015). Pada hasil temuan Klai dan Omri (2011) yang memberikan kesimpulan mekanisme sistem pemerintahan akan mempengaruhi kualitas informasi keuangan dan kekuatan kepemilikan asing, dan keluarga akan memberikan dampak pada kualitas pelaporan keuangan. Sehingga dampak yang dihasilkan dari kualitas pelaporan akan mempengaruhi juga tingkat kecurangan pelaporan keuangan. Oleh
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES MATERI KOPERASI DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DI KELAS IV SD NEGERI 1 KARANGJENGKOL - repository perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN - PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES MATERI KOPERASI DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DI KELAS IV SD NEGERI 1 KARANGJENGKOL - repository perpustakaan

keseriusan dalam mempelajarinya karena materinya begitu luas dan merupakan pembahasan kehidupan masyarakat sekarang ataupun yang telah terjadi dimasa lalu atau merupakan sejarah, adanya anggapan dari peserta didik bahwa pembelajaran IPS kurang menarik bagi siswa karena mereka hanya menganggap pelajaran IPS khususnya pada sub materi sejarah hanya merupakan cerita masa lalu yang sudah dialami, padahal peristiwa sejarah di masa lalu harusnya menjadi cermin bagi generasi sekarang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, disini peran guru sangatlah penting dalam meningkatkan motivasi peserta didik supaya mendapatkan prestasi belajar yang baik dalam mengikuti proses belajar mengajar khususnya pembelajaran IPS yang berhubungan dengan ilmu sosial, seperti, sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Selain meningkatkan motivasi kepada peserta didik guru juga dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga dituntut untuk mampu menilai hasil kerjanya sendiri serta mampu melakukan perubahan pada proses pembelajarannya serta dituntut mampu mampu menggunakan metode – metode pembelajaran yang menarik sehingga mampu meningkatkan dan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi peserta didik karena dalam proses pembelajaran tidak monoton harus ada perubahan, Kartono (Hamdani:2011:144) guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar. Oleh sebab itu, guru harus menguasai bahan pelajaran yang disajikan dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

pedoman pengendalian kecurangan

pedoman pengendalian kecurangan

Dengan demikian seluruh peraturan, keputusan atau kebijakan yang dikeluarkan perusahaan sebagai standar dan pedoman dasar dalam pengelolaan perusahaan, seyogyanya memiliki keterkaitan antara aktivitas fungsi utama dan aktivitas lainnya sehingga dapat dihindari inkonsistensi dan benturan kebijakan yang dapat mendorong terjadinya kecurangan, seperti kebijakan manajemen risiko, kebijakan teknologi informasi, kebijakan pengembangan sumber daya manusia dan kebijakan pengendalian intern B. Maksud, Tujuan dan Manfaat

48 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...