Toba Batak (Indonesian People)

Top PDF Toba Batak (Indonesian People):

KEDUDUKAN WANITA SUKU BATAK TOBA YANG MELAKUKAN PERKAWINAN DENGAN PRIA SUKU DILUAR SUKU BATAK TOBA DALAM HUKUM ADAT BATAK TOBA

KEDUDUKAN WANITA SUKU BATAK TOBA YANG MELAKUKAN PERKAWINAN DENGAN PRIA SUKU DILUAR SUKU BATAK TOBA DALAM HUKUM ADAT BATAK TOBA

A woman in the toba batak is aligned with men.Equality in terms of heirship and in performing legal action.In performing mating by male batak, outside of the tribe can inflict gord law.Marriage performed batak not a woman to man batak means she citizenry batak, removing custom because man from the outside cannot be batak continuer offspring batak.Mating with men outside the citizenry batak can eliminate customs batak but not eliminate the family woman with his family.Besides the child marriage is entered in customs tribe of her husband.The child is not entitled to the genera batak existing in her mother.But if the man, given genera hence the genera can be passed on to offspring.In it, heirship no effect because basically women have no inheritance.But also can be granted to a woman in compliance with agreement.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERILAKU MARTAROMBO DENGAN KEPEDULIAN SUKU BATAK TOBA TERHADAP SESAMA SUKU BATAK TOBA SKRIPSI

HUBUNGAN PERILAKU MARTAROMBO DENGAN KEPEDULIAN SUKU BATAK TOBA TERHADAP SESAMA SUKU BATAK TOBA SKRIPSI

Toba Batak people are known to be preserving their culture and identity. Customs, language, traditional clothing, and even personalitymaintained by the Batak Toba wherever they are. Solidarity of Batak Toba demonstrated by participation in preparing custom event joy and sorrow events.Batak Toba people do caring and help each other in a variety of situations.Caring is how to maintain a relationship with another person who is accompanied by a commitment and responsibility (Swanson, 1991).Caring is driven by bond Dalihan Na Tolu underlying each of kindship among Batak Toba so can embed alliance between society of Batak Toba. One important thing to do to maintain alliance is martarombo.Martarombo is questioning for consanguinity point nearest to determine kinship (Vergouwen, 2004).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

MAKNA PEMBERIAN MARGA DALAM ADAT BATAK TOBA (Studi Kasus kepada Perantau Batak Toba di Surabaya)

MAKNA PEMBERIAN MARGA DALAM ADAT BATAK TOBA (Studi Kasus kepada Perantau Batak Toba di Surabaya)

concept, culture and characteristics such as intermarriage among youths in Surabaya become no ethnic boundaries, regional system, over the island nation even to make them choose to marry bylocal tribe where they wander to live. All of the thesis is qualitative, so the process of elaboration of the meaning, value and interpretation in a ceremony highlighting the clan based on typical Batak culture that will never leave their culture although not married to a tribal it is taboo for the Batak’s region. However , through the provision of this genus of Toba Batak people who live in Surabaya still believe that in a traditions is carried out believed to a major impact in their mind and bodysoul. As a result of these differences in mind also environment which they live to experience the process of granting indigenous clans to gain recognition in the Toba Batak family. This is all have to be done because in addition to inheritance rights also requires the involvement of indigenous is a role in the rights and obligations on the basis of DalihanNa Tolu . Marga (clan) also become an important reference in the basic marriage and to the point in deciding the most respected, so theHamoraon ,Hasangapon , andHagabeon in their life can be realized. This is the only hope of every person Batak Toba overseas .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Peranan Persatuan Batak Toba Dalam Mewariskan Adat Perkawinan Masyarakat Batak Toba Di Sebanga Duri

Peranan Persatuan Batak Toba Dalam Mewariskan Adat Perkawinan Masyarakat Batak Toba Di Sebanga Duri

causes various problems arise in the marriage customs of the Batak Toba community. Such amendment adds or reduces the obligations in marriage customs. The implementation of the marriage customs of the Batak Toba community was carried out in a long time and process, now shortened by the customary term ulaon realize (a feast that was completed for a day). In addition, the indigenous Batak Toba people in Sebanga were rarely / not intermarried but the Toba Batak community in Sebanga allowed their children to marry other tribes because the average Batak Toba community in Sebanga wandered and married with local women, and supported by women Toba Batak used to be rare in Sebanga, Duri. By having feelings and love for Toba Batak culture, Batak Toba society in Sebanga Duri founded a community named Perbato (Batak Toba Association). The purpose of this study is to determine the factors behind the formation of Perbato in Sebanga Duri, knowing how the role of Perbato in inheriting the marriage customs of the Batak Toba community in Sebanga Duri, knowing how the Toba Batak people in Sebanga Duri look at the existence of Perbato, knowing how the role of Perbato as a mediator for Completion of Toba Batak marriage customary problem in Sebanga Duri. The method used is Qualitative Approach. The research location was Sebanga, Duri. The time of study from the start of the proposal seminar to the thesis examination. The results of this study indicate that the role of Perbato in inheriting the marriage customs of Batak Toba community is something that can not be separated during the marriage ceremony which is legitimate according to the tradition of Batak Toba community in Sebanga Duri.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pemarkah Keaspekan Dalam Bahasa Batak Toba

Pemarkah Keaspekan Dalam Bahasa Batak Toba

This research is dealing with aspectuality marking in Toba Batak Language. The data was collected through informants in the form of spoken data and through library study in the form of written data. The data was analyzed based on distributional method with permutation technics, substitution, deletion, repetition, and paraphrasing. The research findings have shown that the aspectuality of particles in Toba Batak language together with a lingual unit of predicate marker (verb) can describe the situation of events, behaviour, or condition as well as functioning to support the kinds of meaning aspectuality. In general, the aspectuality particles are distributive to the left of the verbs through there are some aspectuality particles are normally have monomorphonemic structure, nevertheless there are still some particles with polymorphemic structure with affixation and reduplication processes.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

BAB I PENDAHULUAN - Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku dan budaya. Hingga kini tercatat Indonesia mempunyai 1.123 suku bangsa (Pujiati, 2009). Tentunya suku-suku tersebut memiliki adat dan kebudayaan yang khas. Adat dan kebudayaan tersebut bisa berupa bahasa, kesenian, norma, dan sebagainya. Begitu juga dengan suku Batak Toba. Batak Toba merupakan salah satu sub bagian dari suku bangsa Batak (Vergouwen, 2004). Batak Toba memiliki bahasa tradisional, kesenian, norma hidup, pakaian adat, dan sebagainya. Suku Batak Toba sangat menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang dimilikinya. Khususnya nilai budaya sebagai identitas, seperti bahasa, adat istiadat dan marga. Hingga saat ini suku Batak Toba masih menggunakan bahasa dan pakaian tradisional di berbagai kegiatan adat. Mereka juga masih menjalani adat istiadat Batak Toba di dalam kehidupan mereka. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian budayanya (Sibarani, 2007).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

REDUPLICATION LANGUAGE BATAK TOBA

REDUPLICATION LANGUAGE BATAK TOBA

Abstract: This study aimed to describe reduplicated form Batak Toba language and describe the meaning of reduplication language Batak Toba. Reduplicated forms contained in Toba Batak language is (1) reduplications dwilingga, (2) partial reduplication, (3) dwipura, (4) reduplications dwilingga berimbuha. Meaning reduplication Toba Batak language consists of (1) reduplications that contains the meaning 'many', 'all', 'whole' do against a common noun, (2) the reduplication which implies assortment, (3) reduplications which implies resemble , (4) reduplication which implies somewhat, (5) reduplications which implies intensity, (6) reduplications which implies mutual, (7) which implies collective reduplications
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kontinuitas Gorga Batak Toba

Kontinuitas Gorga Batak Toba

Pertama, artefak gorga tradisional su- dah tidak ditemukan lagi pada rumah adat Batak Toba. Ini merupakan konsekuensi dari memudarnya keyakinan masyarakat Batak Toba terhadap kepercayaan ‘kuno’. Dalam hal ini, sikap masyarakat Batak Toba terhadap gorga tradisional juga lam- bat-laun berubah. Mereka semakin kurang menghormati, kurang menghargai, dan kurang merawat gorga tradisional, sehing- ga pada akhirnya material kayunya meng- alami pelapukan dan kerusakan. Sikap mereka yang berubah, pasti ada penyebab- nya. Besar kemungkinan karena mendapat masukan, pengalaman, pengetahuan baru dari luar, atau bahkan berupa ‘tekanan- tekanan’. Dalam kasus gorga ini, perubahan sikap masyarakat Batak Toba mungkin su- dah terjadi sejak dulu kala secara berang- sur-angsur; sejak zaman pra-Hindu, zaman pengaruh agama dari India (Hindu-Budha), zaman pengaruh agama dan kebudayaan Barat, dan zaman kemerdekaan Indonesia sampai sekarang.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Representasi Budaya Batak Toba Dalam Film Toba Dreams

Representasi Budaya Batak Toba Dalam Film Toba Dreams

Setiap budaya mempunyai ciri-ciri khas tertentu, mulai dari acaranya atau ritual yang terjadi pada saat proses upacara berlangsung. Budaya menjadi sangat penting karena merupakan identitas yang menunjukkan karakter setiap orang yang memilikinya. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-SUDNWLN NRPXQLNDVL ³%XGD\D DGDODK keseluruhan perilaku kehidupan suatu bangsa/masyarakat yang berproses dari kegiatan sehari-hari dan saling mempengaruhi dengan kemampuan daya pikir, daya cipta dan akal budi si pelaku; berlangsung terus- menerus dan menjadi kaidah yang baku sebagai pedoman hidup. Perilaku dalam pembentukan karakter masyarakat itu dikemudian hari, misalnya; budaya hidup dalam kebersamaan (persatuan), budaya menghormati orang lain (bersopan santun), budaya mencipta seni tari, seni ukir, seni suara, dan lain-ODLQ´ 0DODX 3DGD penelitian ini, peneliti akan terfokus dalam membahasa Budaya Batak dalam berbagai aspek sesuai dengan yang digambarkan dalam film Toba Dreams.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

Suku Batak Toba merupakan salah satu sub bagian dari suku bangsa Batak (Vergouwen, 2004). Suku Batak adalah salah satu dari ratusan suku yang terdapat di Indonesia, suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara. Menurut legenda yang dipercayai sebagian masyarakat Batak bahwa suku batak berasal dari pusuk buhit daerah sianjur Mula Mula sebelah barat Pangururan di pinggiran danau toba. Kalau versi ahli sejarah Batak mengatakan bahwa si Raja Batak dan rombonganya berasal dari Thailand yang menyeberang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya sampai ke Sianjur Mula mula dan menetap disana. Sedangkan dari prasasti yang ditemukan di Portibi yang bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof. Nilakantisari seorang Guru Besar ahli kepurbakalaan yang berasal dari Madras, India menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai daerah Barus.pasukan dari kerajaan Cola kemunggkinan adalah orang-orang Tamil karena ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yang bermukim di Barus pada masa itu.Tamil adalah nama salah satu suku yang terdapat di India (Sibarani, 2007).
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK TOBA DENGAN

LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK TOBA DENGAN

Terakhir, dari setiap argumentasi dan usulan DPRD dan Bupati Toba Samosir, usulan ini diakomodir dengan keluarnya terbentuknya Samosir sebagai kabupaten baru merupakan langkah awal untuk melalui percepatan pembangunan menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Tujuan pembentukannya adalah untuk menegakkan kedaulatan rakyat dalam rangka perwujudan sosial, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk merespon serta merestrukturisasi jajaran pemerintahan daerah dalam rangka mempercepat proses pembangunan sehingga dalam waktu yang cukup singkat dapat sejajar dengan kabupaten lainnya, sehingga secara langsung akan mengangkat harkat hidup masyarakat yang ada di kabupaten Samosir pada khususnya, Provinsi Sumatera Utara pada umumnya.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Arsitektur Tradisional Batak Toba

Arsitektur Tradisional Batak Toba

Perkampungan suku Batak Toba mengikuti pola berbanjar dua, yaitu suatu tata ruang lingkungan dengan komunitas yang utuh dan mantap. Desanya disebut lumban/ huta yang dilengkapi 2 pintu gerbang (bahal) di sisi utara dan selatan huta. Sekeliling kampong dipagar batu setinggi 2.00 m, yang disebut parik. Di setiap sudut dibuat menara untuk mengintai musuh. Menurut sejarahnya, antar sesama suku Batak sering sekali berperang. Itu sebabnya bentuk kampungnya menyerupai benteng, Huta masih dapat disaksikan di Kabupaten Tapanuli Utara di desa-desa Tomok, Ambarita, Silaen, dan Lumban Nabolon Parbagasan. Desa-desa tersebut merupakan daya tarik wisata budaya yang banyak dikunjungi wisatawan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ADAT PERKAWINAN BATAK TOBA

ADAT PERKAWINAN BATAK TOBA

Ndang apala sude huria (gereja) patupahon partumpolon. Na deba, cukup ma holan mandaftar natoras ni pangoli dohot natoras ni boru muli tu kantor ni gereja na, dungi diting ‑tinghon huria (gereja) ima di parmingguon na mangihut. Di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di partumpolon i dipatupa do kebaktian na jempek/singkat somalna di botari manang di parnakkok ni mata ni ari. Molo di Parserahan on sai dipatupa doi di parnakkok ni mata ni ari, alana dilanjuthon do i annon tu na marhata sinamot.

25 Baca lebih lajut

Metafora Emosi dalam Bahasa Batak Toba

Metafora Emosi dalam Bahasa Batak Toba

Metode penelitian adalah kwalitatif diskriptif dengan memfokuskan pada analisis metafora emosi dalam Bahasa Batak Toba. Kajian yang dilakukan adalah kajian bidang bidang semantik dibantu oleh klassifikasi majas sepert yang diberikan oleh Moeliono (1989) 1.5 Sumber Data adalah kumpulan cerita rakyat Batak yakni Turi-Turian ni Halak Batak. Data adalah teks cerita rakyat Batak sebanyak lima belas ceritera. Alasan pemilihan sumber data ini adalah pertimbangan bahwa banyak ungkapan metafora Bahasa Batak Toba yang tidak lazim digunakan lagi di kalangan masyarakat Batak Toba di Medan. Ungkapan metafora emosi yang dapat dikumpulkan adalah sebanyak tiga puluh buah yang mencakup metafora emosi yang menggambarkaan perasaan sedih, senang, marah, sayang sabar dan takut.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kesantunan Imperatif Dalam Bahasa Batak Toba

Kesantunan Imperatif Dalam Bahasa Batak Toba

Telah dijelaskan di atas, untuk membentuk imperatif aktif transitif dalam bahasa Batak Toba, verbanya harus dibuat atau disertakan dalam tuturan tanpa menggunakan awalan (prefiks) ma-, seperti pada contoh tuturan (2a) sunsi baju i dan (2c) sunsi ma baju i, Jadi, sunsi termasuk kedalam imperatif aktif. Dari contoh tersebut, dapat juga dilihat penanda kesantunan yaitu; pada tuturan (2b) “ho manunsi baju i” disebut lebih santun dibandingkan tuturan (2a) sunsi baju i, karena kata ho termasuk penanda kesantunan dan menunjukkan kadar imperatif yang lebih rendah serta kadar kesantunan tinggi. Tetapi, dari tuturan-turan tersebut kesantunan yang lebih tinggi ditunjukkan pada tuturan (2c) Sunsi ma baju i karena tuturan tersebut disertai pertikal ma- yang berfungsi sebagai penanda kesantunan yang lebih halus dan sopan. Demikian juga, pada tuturan (3b) eda mangaloppa kue tu pesta i da lebih santun dibandingkan (3a) loppa kue tu pesta i, tetapi akan semakin santun, apabila tuturan tersebut disertai pertikel ma- pada tuturan (3c) loppa ma kue tu pesta i da.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Deiksis Eksofora Dalam  Bahasa Batak Toba

Deiksis Eksofora Dalam Bahasa Batak Toba

4. Dalam pembahasan dapat disimpulkan bahwa Deiksis dalam bahasa Batak Toba terdapat Referensi Eksofora yang dibagi atas : deiksis person, deiksis tempat, dan deiksis waktu. Deiksis person terbagi 3 kata tunggal dan jamak yaitu : deiksis person pertama tunggal seperti ; ahu, iba. Sedangkan, person jamak ; hami, hita. Deiksis person kedua tunggal seperti ; ho. Sedangkan, person jamak ; hamu. Deiksis person ketiga tunggal seperti ; ibana. Sedangkan, person jamak ; nasida. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Kata Sapaan Dalam Bahasa Batak Toba

Kata Sapaan Dalam Bahasa Batak Toba

Orang Batak harus hormat kepada hula-hula karena dianggap doa dari hula-hula akan membawa berkat. Kemudian boru dalam masyarakat Batak tidak boleh dimarahi. Boru memiliki bagian yang sangat penting dalam suatu pesta. Tanpa boru pesta tidak akan berjalan dengan lancar karena yang akan menyiapkan semua kebutuhan yang ada dalam pesta itu adalah tugas dari pihak boru. Selain sebagai pelayan boru juga sebagai penopang, misalnya ada masalah yang terjadi dalam suatu acara disinilah peranan boru untuk menengahi masalah tersebut supaya bisa selesai.

50 Baca lebih lajut

TEANTEANAN DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN

TEANTEANAN DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN

Dalam penelitian ini penulis membahas tentang TEANTEANAN DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN SOSIAL BUDAYA. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembagian teanteanan, kedudukan anak perempuan Batak Toba, peranan Dalihan Na Tolu, nilai-nilai sosial budaya dalam pembagian teanteanan, pengembangan sistem nilai budaya, serta dampak sosial budaya dalam pembagian teanteanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembagian teanteanan, kedudukan anak perempuan Batak Toba, peranan Dalihan Na Tolu dalam pembagian teanteanan, nilai-nilai sosial budaya, serta dampak sosial budaya.Metode yang dipergunakan dalam menganalisis masalah penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik penelitian lapangan.Penelitian ini menggunakan teori sosial budaya. Adapun nilai sosial budaya dalam pembagian teanteanan ini meliputi: sistem kekerabatan yang merupakan nilai sosial budaya dalam pembagian teanteanan yang didalamnya terdapat peranan Dalihan Na Tolu, tanggung jawab penuh para ahli waris terhadap harta tersebut, kasih sayang sebagai bukti bahwa orangtua rela mewariskan harta bendanya kepada anaknya, saling menghormati sesama ahli waris baik anak sulung maupun anak bungsu, dan juga pertentangan para ahli waris dalam waktu pembagian teanteanan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perbedaan tingkat asertivitas antara mahasiswa Batak Toba yang ada di Yogyakarta dengan mahasiswa Batak Toba yang ada di Medan - USD Repository

Perbedaan tingkat asertivitas antara mahasiswa Batak Toba yang ada di Yogyakarta dengan mahasiswa Batak Toba yang ada di Medan - USD Repository

Masalah tersebut juga dihadapi oleh mahasiswa Batak Toba yang berdomisili di daerah Yogyakarta, sebab mereka cenderung berinteraksi dengan berbagai suku terutama suku Jawa yang sangat kuat pengaruhnya di Yogyakarta. Mereka kemungkinan lebih sulit mengutarakan pikiran dan perasaan secara langsung karena mereka merasakan adanya benturan antara kebudayaan yang mereka miliki dengan kultur budaya tempat tinggal mereka, yaitu daerah Yogyakarta. Achmad, Suseno & Reksosusilo menyatakan bahwa budaya Jawa tersebut senantiasa menekankan prinsip kerukunan dan keselamatan sosial (dalam Santosa, 1999). Oleh karena itu, membuka perasaan hati begitu saja dinilai negatif bagi orang Jawa (Suseno, 2001). Berlaku secara mendadak dan spontan dianggap sebagai tanda kekurangdewasaan. Hal tersebut dipandang sebagai usaha yang berlebihan karena reaksi-reaksi yang diterima terasa kurang mengenakkan, sehingga memperlihatkan adanya kekacauan batin atau kurangnya kontrol diri bagi orang Jawa (Mulder dan Geertz dalam Suseno, 2001).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

DIATESIS DALAM BAHASA BATAK TOBA

DIATESIS DALAM BAHASA BATAK TOBA

Dalam sebuah penelitian diperlukan sejumlah data baku untuk diteliti. Data yang dimaksud adalah fenomena lingual khusus yang berkaitan langsung dengan masalah yang dimaksud. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak, berupa penyimakan : dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133). Adapun teknik yang digunakan dalam metode ini yaitu teknik sadap sebagai teknik dasar. Teknik sadap digunakan dengan cara menyadap pembicaraan penutur bahasa Batak Toba. Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik catat sebagai teknik lanjutan dari metode simak. Teknik catat digunakan untuk mencatat kata-kata yang telah disadap dari suatu kalimat yang termasuk ke dalam diatesis bahasa Batak Toba.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Show all 3470 documents...