topeng malang

Top PDF topeng malang:

PEMANFAATAN NILAI BUDAYA LOKAL TARI TOPENG MALANG SEBAGAI BAHAN AJAR UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

PEMANFAATAN NILAI BUDAYA LOKAL TARI TOPENG MALANG SEBAGAI BAHAN AJAR UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

Produk bahan ajar IPS yang telah dikembangkan dapat digunakan secara maksimal jika guru dan siswa mempelajari terlebih dahulu agar memudahkan dalam proses pembelajaran. Produk ini juga dapat dimanfaatkan untuk kalangan lebih luas dengan penyesuaian terutama penyesuaian pada karakteristik siswa sebagai pengguna. Lebih lanjut bahan ajar ini dapat dikembangkan bersumber pada nilai-nilai Tari Topeng Malang dari wilayah lain di Malang serta bahan ajar yang sudah dikembangkan dapat diintegrasikan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selain itu, dalam implementasi kurikulum 2013 bahan ajar ini perlu dilakukan penyesuaian agar dapat digunakan melalui pendekatan multi – disipliner dan inter – disipliner.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI SENI BERBASIS SIKAP ESTETIK PADA SENI TRADISI TARI TOPENG MALANG DI SMAK ST. ALBERTUS MALANG.

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN APRESIASI SENI BERBASIS SIKAP ESTETIK PADA SENI TRADISI TARI TOPENG MALANG DI SMAK ST. ALBERTUS MALANG.

Dalam proses apresiasi seni, hadirnya karya seni sebagai objek apresiasi seni menunjukkan bahwa estetika dalam karya seni tidak berkaitan dengan suatu kebenaran (logika), tetapi berkaitan dan disebabkan oleh perhatian khusus yang terbentuk oleh sikap estetik maupun sikap artistik dari pengamat terhadap objek karya seni (Soehardjo, 2005: 181). Karena itulah dalam prosedur pembelajaran apresiasi seni yang terpapar dalam Buku Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Seni Tradisi Tari Topeng Malang ini, kegiatan apresiasi seni diawali dengan kegiatan proses pengkajian dengan membaca buku petunjuk pelaksanaan pembelajaran apresiasi seni. Demikian juga menurut Jazuli (2008: 78), bahwa agar siswa bisa mengalami pengalaman estetik, perlu dibekali dengan pemahaman mengenai berbagai aspek tentang seni, sehingga mereka mampu mengembangkan perasaan, hati, serta berpikir reflektif dan kritis. Penanaman pemahaman ini juga tidak harus dilaksanakan secara terpisah, melainkan dapat menyatu dan terintegrasi dengan pemberian pengalaman estetik. Karena tanpa integrasi semacam itu, maka alokasi waktu belajar yang disediakan hanya akan habis dipakai untuk pembelajaran yang bersifat kognitif (pengetahuan teoritis), sehingga pemberian pengalaman estetik sebagai esensi pendidikan seni tidak terlaksana.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

PERANCANGAN FILM DOKUMENTER SENI PERTUNJUKKAN TOPENG MALANG | Lawrence | Jurnal DKV Adiwarna 2201 4154 1 SM

PERANCANGAN FILM DOKUMENTER SENI PERTUNJUKKAN TOPENG MALANG | Lawrence | Jurnal DKV Adiwarna 2201 4154 1 SM

Perancangan film dokumenter ini secara garis besar dimulai dengan opening (pembukaan)-content (isi)– closing (penutup). Film dokumenter ini dimulai dengan suasana kota Malang yang menampilkan Tugu Malang sebagai ikon kota Malang serta menunjukkan budaya apa saja yang ada di kota Malang, salah satunya adalah Topeng Malang. Kemudian dilanjutkan dengan suasana padepokan seni Topeng Asmoro Bangun, digambarkan pula singkat arti dari beberapa karakter dalam Topeng Malang. Ditampilkan pula video wawancara dengan Bapak Handoyo, selaku pemilik padepokan seni Topeng Asmoro Bangun diselingi dengan moving picture, rekaman adegan latihan tari, persiapan- persiapan yang dilakukan sebelum pertunjukkan. Selanjutnya ditampilkan potongan-potongan adegan pertunjukkan Topeng Malang yang kemudian juga menjadi akhir dari film dokumenter ini.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

AKUNTANSI BANTENGAN: PERLAWANAN AKUNTANSI INDONESIA MELALUI METAFORA BANTENGAN DAN TOPENG MALANG

AKUNTANSI BANTENGAN: PERLAWANAN AKUNTANSI INDONESIA MELALUI METAFORA BANTENGAN DAN TOPENG MALANG

Penuturan Putra (2011) menegaskan kembali karakter kesenian Bantengan yang lebih dekat ke rakyat ketimbang kesenian Topeng Malang. Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat Organ Persepsi Ketiga, yaitu Aspirasi Bisu dan Perlawanan Rakyat Le- wat Bantengan atas Penindasan Kuasa. Bisa dilihat bahwa bahkan Bantengan muncul di daerah pinggiran yang tidak ditinggali kaum ningrat. Bantengan juga tidak pernah hilang “ruh”-nya (Organ Persepsi Keempat) ketika beradaptasi di era demokratisasi seperti saat ini. Bantengan masih mewakili perlawanan bisu. Kesenian ini muncul karena rakyat membutuhkan penyaluran aspirasi bisu karena tidak (mau) didengar oleh pengua- sa. Terlepas dari ketidakpedulian penguasa atas perlawanan bisu ini, kesenian Banteng- an memberikan eksistensi rakyat. Kesenian bantengan melawan (bisu) melalui simbol, namun secara konkrit membebaskan rakyat untuk mengekspresikan dirinya. Kesenian Bantengan dibutuhkan dan dinikmati rak- yat, walaupun diacuhkan penguasa. Apakah itu kemudian yang akan muncul dalam ben- tuk perlawanan dari munculnya keberadaan Masyarakat Akuntansi Multiparadigma In- donesia (MAMI)?
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perancangan Komik Panji Asmorobangun Berdasarkan Tari Topeng Malang

Perancangan Komik Panji Asmorobangun Berdasarkan Tari Topeng Malang

Dari hasil quesioner yang dilakukan kepada 100 responden di kota Malang, hanya 10% dari 100 responden yang memiliki pengetahuan tentang tari topeng Malang. Demikian pula dengan pengetahuan responden terhadap 6 macam Topeng Malang yang baku. Setelah melakukan penelitian tersebut, hanya 6% dari 100 responden yang mengetahui 6 macam Topeng Malang yang sudah baku. Dan terbukti pula, hanya 4% dari 100 responden yang mengetahui cerita Panji dalam Tari Topeng Malang. Dari penelitian ini, membuktikan bahwa Tari Topeng Malang kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya informasi mengenai Tari Topeng ini kepada masyarakat khususnya generasi muda.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

View of ANALISIS STRUKTUR CERITA PANJI DALAM PERTUNJUKAN DRAMA TARI WAYANG TOPENG MALANG LAKON PANJI RENI

View of ANALISIS STRUKTUR CERITA PANJI DALAM PERTUNJUKAN DRAMA TARI WAYANG TOPENG MALANG LAKON PANJI RENI

yang gagah berani dengan bertempur melawan Raden Panji Asmara Bangun karena membela Raja Klana Jayeng Tilam. Semar: pembantu Panji Asmara Bangun, bijak- sana, lemah lembut, tenang dalam perkataan, titisan dewa dan setia dengan tuannya, penuh kesederhanaan, pemberi petunjuk terhadap kesulitan Raden Panji Asmara Bangun, suka menolong dan memiliki kesaktian dewa, tubuh gemuk dan agak bongkok ke depan. Bagong: bertubuh pendek (cebol) dengan tubuh gemuk, wajah agak cacat, kecerdasan di bawah rata-rata, perhatian dan patuh terhadap tuannya. Keberadaan tokoh Semar dan Bagong dalam pertunjukan drama tari wayang topeng Malang lakon Panji Reni adalah perembesan tokoh Semar dan Bagong dari wayang kulit. Terkait dengan dua tokoh ini, M. Sholeh Adi Pramono menyatakan bahwa Semar dan Bagong itu merupakan ciri khas tokoh dalam cerita Panji sejak jaman Singasari. Segala pertunjukan di Jawa Timur jika tanpa dua tokoh ini terasa kurang pas sebab pada relief Candi Jago ada topeng abdi yang bernama Purna Wijaya pada jaman Gundara karma. 11 Kedua tokoh ini merupakan tokoh netral yang mungkin ada dalam semua seni pertunjukan, tanpa terkecuali drama tari wayang topeng Malang.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

STRUKTUR SIMBOLIK TARI TOPENG PATIH PADA PERTUNJUKAN DRAMATARI WAYANG TOPENG MALANG DI DUSUN KEDUNGMONGGO DESA KARANGPANDAN KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG

STRUKTUR SIMBOLIK TARI TOPENG PATIH PADA PERTUNJUKAN DRAMATARI WAYANG TOPENG MALANG DI DUSUN KEDUNGMONGGO DESA KARANGPANDAN KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG

Di sisi lain, di dalam ruang persiapan atau ruang ganti yang sering disebut rombongan atau krombongan, semenjak gending giro pertama dibunyikan, dalang melakukan ritual dengan peralatan sajen (sesajian). Isi sesajian tersebut berupa nasi dengan lauk pauknya, gedang setangkep (dua sisir pisang), telor ayam, tape ketan hitam, jajan pasar (kue khas di pasar Jawa), sebutir kelapa beserta tempurungnya, tembakau, rokok klobot (rokok yang terbuat dari tembakau yang dibungkus kulit jagung), kendi (moci terbuat dari gerabah) berisi air putih dan sebatang dupa Cina (yuswa/hio), serta semua topeng yang akan dimainkan ditata di atas meja. Dalang membakar kemenyan sambil membaca mantera yang ditujukan kepada makhluk halus penguasa desa yang sering disebut sing mbau reksa desa untuk meminta ijin serta membantu menyelamatkan hajad ini dari gangguan roh jahat pengganggu desa. Disamping itu juga ditujukan kepada yang punya hajad, yang main, yang nonton serta seluruh desa dimintakan selamat kepada Tuhan, agar tidak terjadi gangguan yang berarti, slamet gak ana apa-apa. Ritual ini menunjukkan hubungan transcendental antara dalang, mbahureksa desa (“roh moyang” yang menjaga dan menguasai desa), pemain wayang topeng (anak wayang, pengrawit, sinden dan pekerja panggung),
Baca lebih lanjut

404 Baca lebih lajut

t psn 080891 chapter5

t psn 080891 chapter5

Dalam proses apresiasi seni, hadirnya karya seni sebagai objek apresiasi seni menunjukkan bahwa estetika dalam karya seni tidak berkaitan dengan suatu kebenaran (logika), tetapi berkaitan dan disebabkan oleh perhatian khusus yang terbentuk oleh sikap estetik maupun sikap artistik dari pengamat terhadap objek karya seni (Soehardjo, 2005: 181). Karena itulah dalam prosedur pembelajaran apresiasi seni yang terpapar dalam Buku Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Apresiasi Seni Tradisi Tari Topeng Malang ini, kegiatan apresiasi seni diawali dengan kegiatan proses pengkajian dengan membaca buku petunjuk pelaksanaan pembelajaran apresiasi seni. Demikian juga menurut Jazuli (2008: 78), bahwa agar siswa bisa mengalami pengalaman estetik, perlu dibekali dengan pemahaman mengenai berbagai aspek tentang seni, sehingga mereka mampu mengembangkan perasaan, hati, serta berpikir reflektif dan kritis. Penanaman pemahaman ini juga tidak harus dilaksanakan secara terpisah, melainkan dapat menyatu dan terintegrasi dengan pemberian pengalaman estetik. Karena tanpa integrasi semacam itu, maka alokasi waktu belajar yang disediakan hanya akan habis dipakai untuk pembelajaran yang bersifat kognitif (pengetahuan teoritis), sehingga pemberian pengalaman estetik sebagai esensi pendidikan seni tidak terlaksana.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

t psn 080891 chapter1

t psn 080891 chapter1

1.4.2.3 Model pembelajaran apresiasi seni berbasis sikap estetik pada seni tradisi tari topeng Malang ini tidak berupaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran apresiasi seni di SMAK St Albertus Malang, yang relatif cukup baik; melainkan untuk memberikan alternatif kepada guru dan siswa dalam pencapaian kompetensi dasar apresiasi seni tradisi daerah setempat, pemanfaatkan variasi model pembelajaran apresiasi seni yang lain, memenuhi idealisme pembelajaran apresiasi seni, dan sebagai upaya untuk lebih mendekatkan belajar pada pemanfaatan media belajar berupa potensi lingkungan dan seni tradisi daerah setempat, sehingga kondisi belajar akan lebih menarik dan tidak membosankan, serta lebih mendekatkan siswa dengan seni-budaya di lingkungannya.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

“Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dalam Pelestarian Kesenian Budaya Lokal Topeng Malangan” ( Studi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang )

“Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dalam Pelestarian Kesenian Budaya Lokal Topeng Malangan” ( Studi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang )

Namun dewasa ini hanya tinggal beberapa kelompok wayang topeng yang masih bertahan dan banyak diantaranya didesak mundur oleh tontonan - tontonan baru yang lebih digemari oleh masyarakat setempat. Beberapa pecinta budaya muncul kekawatiran akan kepunahan wayang topeng ini. Oleh karena itu penulis juga berusaha ikut mengambil peran dalam pelestarian kesenian topeng Malang-an dengan mengambil salah satu gaya wayang topeng Malang -an yang masih dipertahankan secara turun temurun yakni wayang topeng Karangpandan untuk dijadikan obyek penelitian.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

PERANCANGAN BUKU KESENIAN TENTANG TOPENG MALANGAN DI KOTA MALANG | Salim | Jurnal DKV Adiwarna 5596 10560 1 SM

PERANCANGAN BUKU KESENIAN TENTANG TOPENG MALANGAN DI KOTA MALANG | Salim | Jurnal DKV Adiwarna 5596 10560 1 SM

Topeng Malangan merupakan seni pertunjukan drama kuno khas Malang, dengan media penutup muka. Seiring perkembangan jaman, kesenian ini telah tergusur oleh budaya modern. Melalui perpaduan unsur-unsur rupa dan nilai perlambangannya, topeng Malang mencerminkan tipologi perwatakan manusia dengan menggambarkan tokoh-tokoh Panji. Latar belakang sejarah, sosial dan budaya masyarakatnya membuat topeng Malang menampakkan perbedaannya dari topeng daerah lain sebagai ciri khasnya. Oleh karena itu perancangan buku ini sebagai sarana memberikan informasi mengenai sejarah dan pementasan topeng Malangan. Desain menggunakan fotografi digital dengan tujuan memperkenalkan topeng Malangan kepada masyarakat Kota Malang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Di Antara Kita Topeng Blantek Seni yang

Di Antara Kita Topeng Blantek Seni yang

Belum banyak orang yang mengenal kesenian Betawi yang satu ini, “topeng blantek”. Asal penamaan ‘blantek’ ini berasal dari kata blind–text, yang artinya tanpa naskah. Seni teater rakyat Betawi ini memang tak bernasib sama dengan kesenian lain, seperti ondel-ondel, tanjidor dan gambang kromong. Jika dulu topeng blantek kerap kali menjadi hiburan masyarakat saat hajatan pernikahan, sunatan, dan syukuran lainnya, seiring berkembangnya zaman, topeng blantek justru semakin dilupakan. Kini, keberadaan grup “topeng blantek” tak lebih dari 5 grup di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu yang masih terus bertahan adalah Grup Topeng Blantek ”Fajar Ibnu Sena” yang dipimpin oleh Bang Nashir, di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Keluarga Bang Nashir memang memiliki darah seni Betawi. Adik kandungnya yang bernama Fauzi pun memiliki keahlian membuat karya seni betawi, seperti ondel-ondel, pernak-pernik khas Jakarta dan juga membuat topeng. Yang menjadi unik, Fauzi membuatnya dengan menggunakan kertas bekas yang kemudian diolah menjadi bubur kertas, hingga akhirnya siap dibentuk menjadi beragam karya indah khas Jakarta. Dalam episode kali ini, Intan Erlita menyambangi grup topeng blantek Fajar Ibnu Sena. Tidak hanya melihat proses latihan teater rakyat, ia juga ikut jadi lakon dalam salah satu pertunjukkan di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Tari Topeng Menor Cinunagara :(melalui media buku fotografi Tari Topeng Menor)

Tari Topeng Menor Cinunagara :(melalui media buku fotografi Tari Topeng Menor)

Melihat fenomena kesenian tari tradisi saat ini dapat dikatakan sangat memprihatinkan, hal ini dikarenakan semakin berkurangnya ketertarikan masyarakat menyaksikan seni tari tradisi. Akibatnya membuat kesenian tari tradisi mengalami berbagai masalah seperti menjadi sulit berkembang, tidak ada regenerasi, bahkan mengakibatkan kepunahan dikarenakan kurangnya apresiasi dari masyarakat yang beralih kekesenian lain yang lebih modern seperti orgen tunggal. Maka sangat perlu jika kebudayaan tari ini diangkat kembali dan dipertontonkan sehingga dapat menjadi nilai jual serta membantu proses pelestariannya. Langkah awal yang dilakukan untuk membantu pelestarian tari tradisi ini dengan melakukan riset dan pengumpulan data baik yang bersifat data tekstual dan data visual. Riset dan pengumpulan data dilakukan di Dinas Periwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, dengan seniman tari, dan akademisi tari di STSI Bandung. Proses riset dan pengumpulan data dilakukan dengan berbagai cara yaitu, dengan penyebaran kuesioner, wawancara, literatur visual, data dari buku tari, melihat panggung serta kostum penari. Setelah data terkumpul maka barulah proses perancangan media informasi yang berupa buku dilakukan dengan mempertimbangkan impresi buku dengan kesesuaian tarian. Pemilihan media informasi berupa buku karena buku memiliki kelebihan secara non fisik adalah buku termasuk kedalam bukti peradaban dan sejarah, indikasi serta bukti nyatanya adalah dari zaman dahulu mesir kuno hingga saat ini masih ada bahkan terus berkembang sehingga dapat berarti buku terkait erat dengan kehidupan atau aktivitas manusia. Sementara kelebihan sebuah buku secara fisik adalah dapat dibaca berkali-kali, mudah disimpan dan dibawa kemana saja, tanpa memerlukan media tambahan tidak seperti media elektronik, harganya lebih terjangkau, serta lebih mampu menjelaskan hal-hal yang bersifat kompleks. Media ini dipilih juga karena belum adanya buku yang secara lengkap membahas mengenai tari Topeng Menor.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

KESENIAN TOPENG MONYET

KESENIAN TOPENG MONYET

Topeng Monyet (the performance of a dancing monkey) is one of the folk arts commonly found in the island of Java. The purpose of this paper is to analyse the Topeng Monyet as a form of culture using the perspective of Marxist Feminism. This perspective is combined with three steps of giving meaning to a certain phenomenon, namely “reading the text”, “reading beyond/behind the text” and reading off the text”. The step of “reading the text” observes in details the performance of the Topeng Monyet. In the step of “reading beyond/behind the text”, the perspective of Marxist Feminism is applied to dig out the patterns of relation found in the episodes of the Topeng Monyet, namely the relation of power and gender role. The use of “reading off the text” discovers that the three findings refer to idea of patriarchy, the society’s commonly used system.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perubahan Visual Topeng Menor Antara Visual Dan Kesakralan

Perubahan Visual Topeng Menor Antara Visual Dan Kesakralan

topeng cukup sulit dalam mengembangkan kreasinya ketika membuat sebuah topeng, sementara pada saat ini peralatan yang dipergunakan untuk mengukir sudah cukup modern dan menggunakan teknologi yang tinggi sehingga si pembuat topeng dapat berkreasi semaksimal mungkin dalam membuat topeng. Dari segi bahan seperti cat dan kayu juga mengalami perubahan, pada zaman dahulu si pembuat topeng terbiasa membuat cat untuk topeng dibuat dari bahan-bahan tradisional Cairannya berasal dari bahan organik yang terbuat dari tulang ikan (ancur). Serbuk pewarnanya berasal dari berbagai bahan. Tulang binatang yang dibakar, lalu ditumbuk halus akan menghasilkan warna putih, serbuk dari jelaga menghasilkan warna hitam, dan batu- batuan atau buah-buahan menghasilkan warna coklat, kuning, dan ungu. Di samping itu, terdapat pula serbuk impor alami seperti gincu untuk warna merah, dan warna lain buatan pabrik (water colour). Dengan membuat warna sendiri pembuat topeng lebih mudah menentukan warna, sedangkan cat yang dipergunakan dalam membuat topeng pada saat ini adalah berasal dari cat pabrikan sehingga si pembuata topeng sulit untu menentukan warna yang ia inginkan. Selain cat, kayu sebagai bahan pokok pembuatan topeng juga mempengaruhi proses pembuatan. Awalnya pembuat topeng menggunakan kayu jaran karena di anggap lebih kuat dan tahan namun sedikit berat, namun karena semakin sulit untuk di dapat akhirnya pembuat topeng beralih ke kayu lamek atau kayu sengon yang lebih mudah di dapat serta lebih ringan.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

BAB I FITROH topeng

BAB I FITROH topeng

Topèng  Malang   merupakan   salah   satu   kesenian   rakyat (daerah Malang) yang sangat kental unsur kelokalannya. Ia juga dilatarbelakangi   oleh   unsur   budaya   masyarakat  agraris. Masyarakat   menyadari  bahwa  secara   kodrat   kehidupan  wayang Jawa   Timuran   (wayang   kulit  dan  wayang   topèng)   dan  wayang Jawa Tengah (wayang kulit dan wayang topèng) di Surakarta dan Yogyakarta sangat berbeda.  Wayang Jawa Timuran (wayang kulit dan wayang topèng) lahir dari kalangan rakyat bawah, seperti hal­ nya   perkembangan   wayang   pesisiran   lainnya.   Adapun  wayang gaya Surakarta maupun Yogyakarta dipelihara dan dikembangkan oleh kalangan atas (kraton). 14  
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KETIKA TOPENG KEBOHONGAN SEMAKIN TERPAKAI

KETIKA TOPENG KEBOHONGAN SEMAKIN TERPAKAI

Mencermati fenomena ini, saya kira tidak salah kalau saya katakan kepada para sahabat saya: “Ketika topeng -topeng kebohongan semakin terpakai oleh siapa pun yang ada di seputar kita, waspadalah!, agar ‘diri kita’ tak tertipu (lagi) oleh siapa pun yang – dengan kemampuannya untuk beretorika dan mencitrakan dirinya – sering membuat diri kita terpesona.”

1 Baca lebih lajut

Bahan membuat topeng

Bahan membuat topeng

Gunting kertas koran dengan ukuran kecil-kecil kemudian tempelkan pada bentuk dasar wajag topeng, maksudnya agar bentuk dasar topeng dari kertas karton menjadi keras.. Bentuk dasar topen[r]

3 Baca lebih lajut

makalah - TOPENG SIDHAKARYA SEBUAH SIMBOL DAN IKON ABSTRAKSI BRAHMANA KELING DARI JAWA TIMUR

makalah - TOPENG SIDHAKARYA SEBUAH SIMBOL DAN IKON ABSTRAKSI BRAHMANA KELING DARI JAWA TIMUR

Secara umum pertunjukan Topeng Sidhakarya merupakan simbol tercapainya tujuan melaksanakan kegiatan. Umat Hindu yang melaksanakan ritual akan merasa nyaman dan yakin kepada tercapainya tujuan ritual jika menghadirkan pertunjukan Topeng Sidhakarya. Makna itu mengacu dari arti nama topeng. Simbol itu merupakan satu kesatuan proses pertunjukan dari awal kehadiran Topeng Sidhakarya menari sampai anak kecil kembali ke area penonton. Semua penampilan dari gerak-gerak topeng, figur topeng yang mengacu pada nama sidhakarya, persembahan sajen, penaburan beras kuning, sampai anak kecil kembali ke area penonton adalah simbol yang memiliki makna “sidhakarya”.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

TOPENG SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN LUKISAN.

TOPENG SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN LUKISAN.

Keseimbangan dalam lukisan dicapai melalui penggambaran imaji topeng rangda dengan proporsi yang lebih besar sebagai objek utama sehingga menimbulkan keseimbangan asimetri serta menciptakan dominasi Center Of Interest dalam lukisan. Imaji bayi sebagai objek pendukung menggunakan warna burnt sienna dengan poporsi dibuat lebih kecil dimaksudkan untuk memunculkan dominasi pada objek utama. Sedangkan background dibuat tekstur semu dengan menggambarkan awan dengan komposisi yang hampir sama dan tak beraturan untuk memunculkan variasi serta ritme pada lukisan. Kemudian memadukan warna titanium white was blue pada background serta pewarnaan pada objek utama yang didominasi warna blue ultra marine was black dengan red scarlet pada wajah rangda yang menibulkan kesan harmoni dalam lukisan.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Show all 9856 documents...

Related subjects