Triple Bottom Line

Top PDF Triple Bottom Line:

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

The results showed that size of company, type of industry, ownership status, country of origin, audit type, board of commisssioner independence, age, leverage, liquidity, and profitability have significantly influence the disclosure of the triple bottom line simultaneously. Partial test results in this study showed only the size of the company and the ownership status that have significantly influence to the disclosure of the triple bottom line. Other factors examined in this study such as the industry, the company's home country, the reputation of auditors, independent board, the age of the company, leverage, liquidity, and profitability does not affect the disclosure of the triple bottom line.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

Triple bottom line merupakan konsep pengungkapan laporan perusahaan yang merefleksikan kinerja perusahaan secara keseluruhan baik dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Singapore Stock Exchange (SGX) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012 dengan sampel sebanyak 100 laporan tahunan emiten. Regresi linear berganda digunakan sebagai teknik analisis dalam penelitian ini. Variabel profitabilitas, kepemilikan asing, dan karakteristik negara dalam penelitian ini menunjukan pengaruh signifikan pada pengungkapan triple bottom line di perusahaan Singapura dan Indonesia. Sedangkan variabel leverage dan likuiditas dalam penelitian ini tidak berpengaruh pada pengungkapan triple bottom line.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

Triple Bottom Line (TBL) merupakan konsep pengungkapan yang dicetuskan John Elkington pada tahun 1997 dalam buku Cannibals with Forks: the Triple Bottom Line of 21st Century Business, yang secara garis besar menyatakan bahwa dalam pengungkapan terdapat tiga dimensi penting yang perlu diungkapkan oleh perusahaan dalam laporannya agar perusahaan dapat bertahan, yaitu kinerja keuangan, kinerja sosial, dan kinerja lingkungan atau dapat disebut juga profit, people, and planet. Pada dasarnya, pengungkapan TBL ini sama dengan

60 Baca lebih lajut

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “ PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA” tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka. Apabila ternyata dalam skripsi ini diketahui terdapat karya atau pendapat orang lain yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain maka saya bersedia karya tersebut dibatalkan.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Kegiatan PKMM dengan judul “ Pertanian Berkelanjutan Melalui Konsep Triple Bottom Line (Planet, People, Profit) Berbasis Optimalisasi System Of Rice Intensification Bagi Gabungan Kelompok Tani SEGIMUKTI” ditujukan pada para petani khususnya yang tergabung pada gabungan kel. Tani SEGIMUKTI Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan melakukan penyuluhan terhadap para petani dengan didampingi bp3k selaku pengawas, tentang metode bertani dengan menggunakam SRI yang menitikberatkan pada konsep triple P.

20 Baca lebih lajut

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul “Penilaian Kinerja Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Di Eks Karesidenan Kedu (Perspektif Triple Bottom Line)” adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam Daftar Pustaka.

17 Baca lebih lajut

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

Rismawan Yuda Prasetya. E0013351. 2017. PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (Studi PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO)). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

15 Baca lebih lajut

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

Segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT pencipta alam semesta yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, dengan dibekali sebuah akal untuk menjalankan amanah-Nya sebagai khalifah dimuka bumi. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Global Reporting Initiative Index: Sebagai Model Pengukuran Triple Bottom Line pada Industri Kategori Environment High Risk (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia)”. skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Teori Triple bottom line memberi pandangan bahwa, apabila sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan 3P . Selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) oleh Wibisono 2007. Pertama, Profit atau keuntungan menjadi tujuan utama dan terpenting dalam setiap kegiatan usaha. Tidak heran bila fokus utama dari seluruh kegiatan dalam perusahaan adalah untuk mengejar profit dan mendongkrak harga saham setinggi-tingginya. karena inilah bentuk tanggung jawab ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efiisensi biaya. Kedua, People atau masyarakat merupakan stakeholders yang sangat penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka dari itu perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dan perlu juga menyadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberi dampak kepada masyarakat. Karenanya perusahaan perlu melakukan kegiatan yang dapat menyentuh kebutuhan masyarakat (Wibisono, 2007). Ketiga, Planet atau Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Karena semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup selalu berkaitan dengan lingkungan misal; air yang diminum, udara yang dihirup dan seluruh peralatan yang digunakan, semuanya berasal dari lingkungan. Namun sebagaian besar dari manusia masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung yang bisa diambil didalamnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Wood [41] proposed a renewed CSP-model that soon became an omnipresent yardstick in the concept ’s t heoretical development (e.g., [44,45]). In line with earlier studies, Wood ([41], p. 3) defines CSP as: ―a business organization’s configuration of principles of social responsibility, processes of social responsiveness, and policies, programs, and observa ble outcomes as they relate to the firm’s societal relationship‖ ([41], p. 3, 45). The second orientation was based on a more pragmatic observation of how hard it is to apprehend CSP using the preceding typologies, and suggested applying stakeholder theory as a framework to model CSP, which would then be defined as a company ’s ability to manage its stakeholders in a way that is satisfactory to them (e.g., [43,45]). Igalens and Gond [45] summarized the models, and their review is shown in Table 1.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Since a notion of Triple Bottom Line (TBL) had been coined by Elkington (1997) and the trend of business considering the interest of stakeholder groups had been increasingly common, the term corporate performance is extended to include not only financial aspect, but also social and environmental dimensions. Thus, the extended corporate performance, often called sustainable corporate performance will include components of financial, social, and environmental performance. The inclusion of the two more dimensions in the corporate performance can be understood that the responsibility of corporation is not only to generate economic welfare (profit) but also to save people (society) and planet (environmental), a place
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

keberadaan manusia dan semua bentuk eksistensi di alam adalah dalam perjalan- an spiritualnya menuju penyatuan diri-nya dengan Pencipta. Upaya pen capaian dalam konsep triple bottom line belum lengkap tanpa menempat kan dimensi kedekatan diri pada alam dan Pencipta, dimasukkan- nya dimensi spiritual adalah dalam upaya melihat ketercapaian konsep Quard rangle bottom line. Bagi mereka yang ter bimbing bekerja tidak sekedar mendapatkan materi, sebalik nya bekerja dimaknai sebagai ibadah, dengan makna tersebut yang didapat tidak hanya materi namun juga pahala bila yang diupa yakan sesuai syariat-Nya. Merujuk 3 dimensi Khalid Baig (2002), maka falsa- fah kerja dan bisnis harus diarahkan pada tauhid uluhiyah dimana dalam setiap men- jalankan usaha, setiap pribadi muslim ha- rus mengkaitkan diri pada keesaan Allah, per tolongan hanya datang dari-Nya, dunia fana milik-Nya manu sia hanya peme gang amanah. Kemudian untuk me mahami bah- wa mencari rezeki adalah tugas dalam ber- agama, maka falsafah bekerja juga harus be- rada dalam frame manu sia sebagai khalifah, di mana manusia berfungsi sebagai agent of development.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

LPPF Mampu Cetak Pertumbuhan 20181001 NHKS Company Report (Bahasa)

LPPF Mampu Cetak Pertumbuhan 20181001 NHKS Company Report (Bahasa)

Pada 2018E, kami menyesuaikan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah dari kinerja SSSG (SSSG 1H18: 4,6%), sesuai dengan ekspektasi manajemen. Meskipun demikian, LPPF tetap akan menggenjot kinerja top line melalui optimalisasi big data analytics, peluncuran home products di beberapa gerai di Jabodetabek, serta aplikasi mobile, Matahari App pada akhir 2018. Target Harga Rp9.270

Baca lebih lajut

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ASET PARIWISATA DARI MODEL TRIPLE HELIX Hubungan Akademia-Industri-Pemerintah

KERANGKA KERJA PENGEMBANGAN ASET PARIWISATA DARI MODEL TRIPLE HELIX Hubungan Akademia-Industri-Pemerintah

40 Helix. Interaksi ketiga pihak yakni Akademia-Industry-Government masing-masing berkontribusi dalam kapasitas dan kapabilitas untuk memajukan pembangunan. Mowery dan Sampat (dalam Martin, 2011:16) menyatakan bahwa “universitas dan industri menjadi mitra yang sangat kuat untuk dapat mempengaruhi pemerintah dalam merumuskan kebijakan”. Berbagai program dapat dilakukan bersama untuk menciptakan keterpaduan antara tiga pihak tersebut antara lain penempatan siswa/mahasiswa, penempatan pengajar di industri dan pemerintah, penempatan staf dari industri di perguruan tingggi dan pemerintah, pertukaran pengalaman, mengadakan riset bersama, pengembangan produk yang diwadahi dalam program Research and Development atau R&D di antara tiga pihak dimaksud (Etzkowitz dan Loet, 2000:109., Martin, 2011). Aplikasi Triple Helix dapat dipilih satu di antara konfigurasi yang cocok dalam lingkungan negara atau daerah bersangkutan. Bentuk konfigurasi model kebijakan (policy model) yang tersedia yakni 1) An etatistic model of university–industry–government relations., 2) A “laissez-faire’’ model of university–industry–government relations, dan 3) The Triple Helix Model of University–Industry–Government Relations.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Potensi Antikanker Metformin pada Kanker Kolorektal cell line WiDr melalui Studi Ekspresi p21 dan Bax: in vitro.

Analisis Potensi Antikanker Metformin pada Kanker Kolorektal cell line WiDr melalui Studi Ekspresi p21 dan Bax: in vitro.

Saat ini banyak bermunculan penelitian in vitro pada cell line kanker maupun in vivo model kanker untuk melihat pengaruh terapi yang lebih spesifik. Salah satu obat yang kerap diuji memiliki aktivitas antikanker adalah metformin, suatu obat antihiperglikemik golongan Biguanide yang digunakan sebagai farmakoterapi pada pasien DMT2. Metformin menurunkan produksi glukosa atau glukoneogenesis di hepar serta meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel yaitu Adenosine Monophosphate-activated Protein Kinase (AMPK) oleh Liver Kinase B1 (LKB1), suatu Tumor Suppressor Gene (TSG). Hubungan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

 DISINI j3s2007

DISINI j3s2007

4. The graph is continuous and increasing throughout. It is a straight line up to the level of the first shoulder, a steeper straight line to the next shoulder, then an even steeper straight line to the bottom of the conical section. From there it starts off with the same slope, but the slope decreases steadily, so the graph is curved with the concave side down. [The slope of the graph at any given height is inversely proportional to the cross-sectional area of the container at that height.]

Baca lebih lajut

Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar Perusahaan

Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar Perusahaan

ekonomi, namun juga memasukkan sosial dan lingkungan untuk mencapai suistainable society. Di lanjutkan pada tahun 1970-an terbitlah “The Limit of Growth” yang hingga saat ini terus mengalami pembaharuan karya para cendekiawan yang tergabung dalam Club Of Rome.Sejalan dengan semakin berkembangnya CSR, kegiatan kedermawanan perusahaan telah mencapai Philantrhopy serta Community Development. Dalam hal ini terjadi perpindahan penekanan dari fasilitasi dan dukungan pada sektor-sektor produktif ke sektor sosial yang dilatarbelakangi oleh kesadaran perusahaan. Pada tahun 1980-an mulai bergeser dari Philantrhopy ke Community Development. Pada masa ini mulai muncul pola-pola pemberdayaan masyarakat. Dasawarsa 1990-an adalah dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan seperti stakeholder dan Civil Society yang tentu saja mempengaruhi Community Development. KKT Bumi yang diadakan Rio de Jenairo Brazil pada tahun 1992 menegaskan konsep pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial. Terobosan terbari dalam CSR dikenal dengan istilah Tripple Bottom Line yang dikenalkan oleh John Elkington. Inti dari buku yang dibuatnya adalah bahwa jika perusahaan ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P yaitu Profit, People, dan Planet. Selanjutnya Gaung CSR mulai bergema diselenggarakan World Summit on Suistainable Development (WSSD) pada tahun 2002 di Johannesburg Afrika Selatan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 4144 documents...