Triple Bottom Line

Top PDF Triple Bottom Line:

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Triple bottom line adalah Konsep pengukuran kinerja suatu usaha secara “holistik” dengan memperhatikan ukuran kinerja ekonomis berupa perolehan profit, ukuran kepedulian sosial, danpelestarian lingkungan (People-Planet-Profit) (Elkington, 1998). Dengan pendekatan ini, pemilik usaha (petani) diharapkan mampu meningkatkan keuntungan secara optimal dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan mampu mensejahterakan masyarakat sekitar.

20 Baca lebih lajut

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

Triple Bottom Line (TBL) merupakan konsep pengungkapan yang dicetuskan John Elkington pada tahun 1997 dalam buku Cannibals with Forks: the Triple Bottom Line of 21st Century Business, yang secara garis besar menyatakan bahwa dalam pengungkapan terdapat tiga dimensi penting yang perlu diungkapkan oleh perusahaan dalam laporannya agar perusahaan dapat bertahan, yaitu kinerja keuangan, kinerja sosial, dan kinerja lingkungan atau dapat disebut juga profit, people, and planet. Pada dasarnya, pengungkapan TBL ini sama dengan

60 Baca lebih lajut

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

Perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi beresiko memiliki biaya monitoring yang tinggi pula (Jensen dan Meckling, 1976). Sehingga manajemen secara konsisten mengungkapkan untuk tujuan monitoring agar memastikan kepada kreditor kemampuan untuk membayar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya agensi. Jika perusahaan mempunyai tingkat utang yang tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk melakukan kegiatan dalam rangka penungkapan triple bottom line menjadi sulit. Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki tingkat leverage yang tinggi cenderung untuk menurunkan pelaporan pengungkapan triple bottom line. Seperti penelitian Belkaoui dan Karpik (1989), Yanti dan Rusmini (2015), Ho dan Taylor (2007), Nur dan Priantinah (2012) dan Rawi dan Muchlish (2010) menyatakan bahwa faktor tingkat leverage berpengaruh negatif terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

Segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT pencipta alam semesta yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, dengan dibekali sebuah akal untuk menjalankan amanah-Nya sebagai khalifah dimuka bumi. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Global Reporting Initiative Index: Sebagai Model Pengukuran Triple Bottom Line pada Industri Kategori Environment High Risk (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia)”. skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

aspects. Not only does the corporate performance imbalance the financial aspect and non-financial aspect, but the performance also does not accommodate other parties outside the market system. Therefore, the concept of corporate performance needs to be extended to consider the aspects of people (social) and planet (environment) as important parts of a company’s performance . This paper focuses on an extended corporate performance labeled as ― triple bottom line ‖ as ― sustainable corporate performance ‖ (SCP) including three interlinked measurement elements, namely: (i) financial, (ii) social, and (iii) environmental. For this purpose, this paper reviews ― corporate financial performance ‖ and ― corporate social performance ‖ leading to ― triple bottom line ‖ as ― sustainable corporate performance ‖ ending with a proposition for the future. Initially, ― corporate financial performance ‖ is briefly reviewed in the next section.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

Triple bottom line merupakan konsep pengungkapan laporan perusahaan yang merefleksikan kinerja perusahaan secara keseluruhan baik dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Singapore Stock Exchange (SGX) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012 dengan sampel sebanyak 100 laporan tahunan emiten. Regresi linear berganda digunakan sebagai teknik analisis dalam penelitian ini. Variabel profitabilitas, kepemilikan asing, dan karakteristik negara dalam penelitian ini menunjukan pengaruh signifikan pada pengungkapan triple bottom line di perusahaan Singapura dan Indonesia. Sedangkan variabel leverage dan likuiditas dalam penelitian ini tidak berpengaruh pada pengungkapan triple bottom line.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena atas berkat Rahmat -Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan hukum (skripsi) yang berjudul “ Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan Pada Badan Usaha Milik Negara Sebagai Implementasi Prinsip Triple Bottom Line (Studi PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO)) ”. Penulisan hukum ini merupakan tugas wajib yang harus diselesaika sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Penulisan hukum ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dikaitkan dengan prinsip triple bottom line, dan kendala- kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan tersebut serta bagaimana solusi mengatasinya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

This research was conducted with descriptive quantitative developmental method because the data were compared with pre-set criteria that the Director General of Treasury Regulation Number 34 / NT / 2014 dated October 28, 2014 on Guidelines for Performance Assessment Agency Public Service Health Care field. Indicators of performance assessment in these regulations are grouped into the concept of the triple bottom line consists of the financial aspects, social and environmental. For hospitals eligibility classification of data were compared with the Minister of Health Regulation No. 56 of 2014, but it’s just made for conditions of service and human resources. Assessment of performance and feasibility of hospitals classification were done in the period of 2015.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Teori Triple bottom line memberi pandangan bahwa, apabila sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan 3P . Selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) oleh Wibisono 2007. Pertama, Profit atau keuntungan menjadi tujuan utama dan terpenting dalam setiap kegiatan usaha. Tidak heran bila fokus utama dari seluruh kegiatan dalam perusahaan adalah untuk mengejar profit dan mendongkrak harga saham setinggi-tingginya. karena inilah bentuk tanggung jawab ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efiisensi biaya. Kedua, People atau masyarakat merupakan stakeholders yang sangat penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka dari itu perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dan perlu juga menyadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberi dampak kepada masyarakat. Karenanya perusahaan perlu melakukan kegiatan yang dapat menyentuh kebutuhan masyarakat (Wibisono, 2007). Ketiga, Planet atau Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Karena semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup selalu berkaitan dengan lingkungan misal; air yang diminum, udara yang dihirup dan seluruh peralatan yang digunakan, semuanya berasal dari lingkungan. Namun sebagaian besar dari manusia masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung yang bisa diambil didalamnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

Triple Bottom Line memiliki konsep pembangunan Profit, People, dan Planet. Profit berarti keuntungan yang akan diperoleh perusahaan, People berarti tanggung jawab dengan sosial, dan Planet berarti tanggung jawab terhadap lingkungan, sehingga dengan terpenuhinya tanggung jawab sosial dan lingkungan akan lebih memudahkan tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Sebab sumber-sumber produksi yang sangat penting bagi aktivitas perusahaan dapat lebih terjaga. Dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line (SBL), yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi ekonomi (financial) saja. Tapi lebih berpijak pada triple bottom lines (TBL) yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. (Aulia dan Kartawijaya, 2011).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Strategi Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Menjadi Produk Souvenir Museum Sangiran melalui Model Triple Bottom Line untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi kasus Dusun Jatisari, Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen).

Strategi Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Menjadi Produk Souvenir Museum Sangiran melalui Model Triple Bottom Line untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi kasus Dusun Jatisari, Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen).

Pari 2002 menyatakan bahwa di Indonesia ada tiga macam industri kayu yang secara dominan mengkonsumi kayu dalam jumlah relatif besar, yaitu: penggergajian, vinir/kayu lapis, dan pulp/ker[r]

2 Baca lebih lajut

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG GUGAT DALAM PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM RANGKA IMPLEMENTASI TRIPLE BOTTOM LINE DI INDONESIA

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG GUGAT DALAM PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM RANGKA IMPLEMENTASI TRIPLE BOTTOM LINE DI INDONESIA

Beberapa program t ang-gung j awab sosial perusahaan yang berpij ak pada prinsip ini biasanya berupa penghij auan ling-kungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan permukiman, p[r]

11 Baca lebih lajut

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

Kajian sebelumnya lebih pada penero- pongan berbagai fenomena dari konsep triple bottom line (lingkungan, sosial dan ekono- mi), kajian berikut me nambahkan dimensi spiritual ke dalam nya. Perlunya dimensi ini didasarkan pada pemikiran bahwa, tujuan utama dari keberadaan manusia dan semua bentuk eksistensi di alam adalah dalam perjalanan spiritual nya menuju penyatuan diri-nya dengan Pencipta. Perlunya dimensi spiritual adalah upaya melihat ketercapa- ian konsep triple bottom line ke konsep Quardrangle bottom line (QBL) secara utuh. Re fl eksi nilai-nilai sosioreligius, deep ecology dan etika eko sentrisme, penyatuan diri pada alam dan Pencipta menjadi lebih bermakna, dimana tindak-tanduk dan perilaku manu- sia (entitas) terhadap alam akan lebih di- dasarkan pada ketaatan dan kepatutan yang terbimbing. Untuk mencapainya diperlukan ‘kesadaran spiritual’ dan peng kondisian sos- ial yang memung kin kan terciptanya frekue- nsi spiritual sesama manusia, manusia den- gan alam (hablumminannas/ horizontal), dan manusia dengan dimensi spiritual nya yakni Pencipta (hablumminallah/ vertikal).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Milne, M. and Ball, A. „From soothing palliatives and towards ecological literacy: A critique of the Triple Bottom Line.‟ Paper prepared for presentation at the 16th International Conference on Social and Environmental Accounting Research (4th Australasian CSEAR), 30 March – 1 April 2005, Deakin Management Centre, Deakin University, Geelong,Victoria, Australia.

18 Baca lebih lajut

Evaluasi Tanggung Jawab Sosial Pt Holcim Indonesia Tbk

Evaluasi Tanggung Jawab Sosial Pt Holcim Indonesia Tbk

Komponen Variabel Indikator Masukan Kebijakan  Triple Bottom Line  Enam pilar pembangunan berkelanjutan PT Holcim Indonesia Tbk Dana tersalurkan  Dana untuk pembangunan infrastrukt[r]

121 Baca lebih lajut

Kebijakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pt Nnt Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Lokal Masyarakat Sekongkang Menyongsong Pasca Tambang.

Kebijakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pt Nnt Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Lokal Masyarakat Sekongkang Menyongsong Pasca Tambang.

1 Makna partisipasi dalam CSR atau TJSP perusahaan 9 2 Keterkaitan integratif triple bottom line 9 3 Pergeseran paradigma pembangunan dari production center development ke people cent[r]

125 Baca lebih lajut

CSR dalam Perspektif Pancasila. docx

CSR dalam Perspektif Pancasila. docx

Sebaliknya konsep triple bottom line profit, planet, people yang digagas oleh John Elkington makin masuk ke dalam mainstream etika bisnis.4 Defenisi CSR menurut Edi Suharto, adalah “kep[r]

18 Baca lebih lajut

ANALISIS SUSTAINABILITY REPORT YANG TERDAFTAR DALAM SUSTAINABILITY REPORT AWARD PADA TAHUN 2013-2015 - Perbanas Institutional Repository

ANALISIS SUSTAINABILITY REPORT YANG TERDAFTAR DALAM SUSTAINABILITY REPORT AWARD PADA TAHUN 2013-2015 - Perbanas Institutional Repository

Teori Triple bottom line adalah teori ini memberikan sebuah wawasan atau pandangan jika sebuah perusahaan dapat bertahan untuk kelangsungan hidupnya.Perusahaan tersebut harus memiliki 3[r]

17 Baca lebih lajut

Triple helix program.

Triple helix program.

The two-day programme, Entrepreneurial Networking in Industrial Linkages University- Industry Triple-Helix was organised from 3 th until 4 th September, 2012 at Kampus AKEPT, Bandar Enstek, Negeri Sembilan. The programme was conducted as a two days programme that filling with Talk, Workshop and Forum session. With general aim to provide a platform for the sharing of knowledge and experience among academics, researchers, entrepreneurs, government agencies and industrialists (SMEs and MNCs) in an effort to enhance innovation and entrepreneurship in the country via smart collaboration (Triple-Helix), this programme was organised by AKEPT Centre for Leadership Research and Innovation (ACLRI) in collaboration with Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM). There were four speakers with each of them was given one hour thirty minutes during the talk session. The workshop session and forum session were taken one hour and two hours thirty minutes, respectively. The participants were from policy makers, academics, researchers, entrepreneurs, government agencies and industrialists (SMEs and MNCs).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

THE IMPLEMENTATION OF TRIPLE HELIX MODEL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT IN YOGYAKARTA PROVINCE

THE IMPLEMENTATION OF TRIPLE HELIX MODEL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT IN YOGYAKARTA PROVINCE

The number of poor people by the year 2013 based on BPS data DIY Province decreased 17.2 thousand or 2.71% to 616.3 thousand people, from his position in 2012 is 633.5 thousand inhabitants. The number of poor by BPS is calculated based on the individual’s basic needs are assessed in the form of dollars. In December 2013, the poverty line is based on food expenditure is Rp141.597,00 per capita per month, while the poverty line is Rp194.830,00 total per capita per month (BPS Prov. DIY, 2014). Based on the poor data processing which can be produced poverty gap index (poverty gap index, P1) and poverty severity index (poverty severity index, P2) which can show the other side of the problem of poverty? P1 is the gap between the average standard of living of the population is under the poverty line to the poverty line. P2 is a gap between the poor. In 2013, the rate of P1 and P2 is relatively low, compared to the conditions in 2012, respectively 3.35 and 0.92 (December 2012: 3.80 and 1.12). This means that the level of the gap decreases, so that eforts can be said to be relatively successful eradication. Based on spatial distribution, poor population in 2013 is spread almost evenly, ie 52.60% in urban areas and 47.40% in rural areas (BPS Prov. DIY, 2014). Most of them are the poor farmers from 472 082 farming households in the province in 2012, 80.29% of whom are small farmers, that farmers with small and micro enterprises scale land holdings of less than half a hectare. When compared with the conditions of poverty at the national level, the poverty rate in the province is still higher than the national poverty level.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 4144 documents...