TRIPLE BOTTOM LINE (TBL)

Top PDF TRIPLE BOTTOM LINE (TBL):

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

Triple Bottom Line (TBL) merupakan konsep pengungkapan yang dicetuskan John Elkington pada tahun 1997 dalam buku Cannibals with Forks: the Triple Bottom Line of 21st Century Business, yang secara garis besar menyatakan bahwa dalam pengungkapan terdapat tiga dimensi penting yang perlu diungkapkan oleh perusahaan dalam laporannya agar perusahaan dapat bertahan, yaitu kinerja keuangan, kinerja sosial, dan kinerja lingkungan atau dapat disebut juga profit, people, and planet. Pada dasarnya, pengungkapan TBL ini sama dengan

60 Baca lebih lajut

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

juga menghubungkan antara laba yang dihasilkan perusahaan dengan pengungkapan triple bottom line. Jika perusahaan memiliki laba yang tinggi, manajemen juga harus memberikan akstifitas sosial dan lingkungannya sebagai perwujudan kontrak sosial yang terjadi dalam interaksi dimasyarakat. Sandra (2011) menyatakan bahwa, entitas dengan kinerja ekonomi yang rendah cenderung tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengungkapkan informasi lebih lanjut. Beberapa penelitian mendukung adanya hubungan yang positif antara profitabilitas perusahaan dan tingkat pengungkapan TBL yaitu Yanti dan Rasmini (2015), Ho dan Taylor (2007), dan Nur & Priantinah (2012) Berdasarkan penelitian diatas maka hipotesis untuk menguji penelitian ini adalah: H2: Profitabilitas perusahaan berpengaruh positif dengan luasnya pengungkapan triple bottom line.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif yang bersifat developmental karena data yang diperoleh dibandingkan dengan kriteria yang sudah ditetapkan yaitu Peraturan Direktur Jendral Perbendaharaan Nomor 34/PB/2014 tanggal 28 Oktober 2014 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Badan Layanan Umum bidang Layanan Kesehatan. Indikator-indikator penilaian kinerja dalam peraturan tersebut dikelompokkan ke dalam konsep triple bottom line yang terdiri dari aspek keuangan, sosial dan lingkungan. Untuk kelayakan klasifikasi RSU data dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 56 Tahun 2014, tetapi hanya dilakukan untuk persyaratan pelayanan dan sumber daya manusia. Penilaian kinerja dan kelayakan klasifikasi RSU dilakukan untuk periode tahun 2015.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

Rismawan Yuda Prasetya. E0013351. 2017. PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (Studi PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO)). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.

15 Baca lebih lajut

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Kegiatan PKMM dengan judul “ Pertanian Berkelanjutan Melalui Konsep Triple Bottom Line (Planet, People, Profit) Berbasis Optimalisasi System Of Rice Intensification Bagi Gabungan Kelompok Tani SEGIMUKTI” ditujukan pada para petani khususnya yang tergabung pada gabungan kel. Tani SEGIMUKTI Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan melakukan penyuluhan terhadap para petani dengan didampingi bp3k selaku pengawas, tentang metode bertani dengan menggunakam SRI yang menitikberatkan pada konsep triple P.

20 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

Saat ini dalam mempertahankan keberlangungan suatu perusahaan tidak cukup dengan memperhatikan aspek ekonomi (Single Bottom Line) tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan (Triple Bottom Line). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan Triple Bottom Line. Pengungkapan triple bottom line adalah pengungkapan pada laporan perusahaan yang merefleksikan kinerja perusahaan secara kedalam tiga aspek yaitu, ekonomi, sosial dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan sepuluh variabel yaitu ukuran perusahaan, jenis industri, status kepemilikan, negara asal perusahaan, reputasi auditor, dewan komisaris independen, umur perusahaan, leverage, likuiditas, dan profitabilitas.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

The triple bottom line is disclosure of company's accounts that reflect overall company performance both from the economic, social, and environmental. This resea rch was conducted at the companies listed in Singapore Stock Exchange (SGX) and Indonesia Stock Exchange(IDX) period 2012, the number of samples taken 100 annual reports of companies. Multiple linear regression is used as analysis techniques. Profitability, foreign ownership, and characteristic of country in this research significantly influence the disclosure by the triple bottom line of the company in Indonesia and Singapore. While leverage and liquidity does not significantly influence the triple bottom line disclosure. Keywords: Triple bottom line, leverage, profitability, liquidity, foreign ownership, characteristic of country.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

The crucial question is whether TBL as SCP is possible to implement from a managerial perspective. The answer to this question is both ― yes ‖ and ― no ‖ . Our proposition may not be feasible on a broad corporate scale at the moment, but the current concerns regarding factors contributing to the climate change as indicated by the UN-report — the IPCC WGI Fourth Assessment Report [77] — provide an indication of its importance to managerial practices. The research findings from science presented in this report regarding the projected future climate change on Earth will, if appropriate counter-measures are not applied, sooner or later force the global society and its political unions/governments to impose anti-climate change agreements and regulations across private and public sectors worldwide [78]. It will not be an easy adaptation, but it may be a matter of saving the stakeholders of the planet Earth (i.e., the human, animal and vegetable kingdoms) from an irreversible vicious circle and disastrous future. We argue that this UN-report should support and guide the efforts of TBL as SCP. Subsequently, taking into account the conclusions of the UN-report, concerns about the appropriateness of current managerial practices may be raised.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Teori Triple bottom line memberi pandangan bahwa, apabila sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka perusahaan tersebut harus memperhatikan 3P . Selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) oleh Wibisono 2007. Pertama, Profit atau keuntungan menjadi tujuan utama dan terpenting dalam setiap kegiatan usaha. Tidak heran bila fokus utama dari seluruh kegiatan dalam perusahaan adalah untuk mengejar profit dan mendongkrak harga saham setinggi-tingginya. karena inilah bentuk tanggung jawab ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efiisensi biaya. Kedua, People atau masyarakat merupakan stakeholders yang sangat penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka dari itu perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dan perlu juga menyadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberi dampak kepada masyarakat. Karenanya perusahaan perlu melakukan kegiatan yang dapat menyentuh kebutuhan masyarakat (Wibisono, 2007). Ketiga, Planet atau Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Karena semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup selalu berkaitan dengan lingkungan misal; air yang diminum, udara yang dihirup dan seluruh peralatan yang digunakan, semuanya berasal dari lingkungan. Namun sebagaian besar dari manusia masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung yang bisa diambil didalamnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

Segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT pencipta alam semesta yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, dengan dibekali sebuah akal untuk menjalankan amanah-Nya sebagai khalifah dimuka bumi. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Global Reporting Initiative Index: Sebagai Model Pengukuran Triple Bottom Line pada Industri Kategori Environment High Risk (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia)”. skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

Kajian sebelumnya lebih pada penero- pongan berbagai fenomena dari konsep triple bottom line (lingkungan, sosial dan ekono- mi), kajian berikut me nambahkan dimensi spiritual ke dalam nya. Perlunya dimensi ini didasarkan pada pemikiran bahwa, tujuan utama dari keberadaan manusia dan semua bentuk eksistensi di alam adalah dalam perjalanan spiritual nya menuju penyatuan diri-nya dengan Pencipta. Perlunya dimensi spiritual adalah upaya melihat ketercapa- ian konsep triple bottom line ke konsep Quardrangle bottom line (QBL) secara utuh. Re fl eksi nilai-nilai sosioreligius, deep ecology dan etika eko sentrisme, penyatuan diri pada alam dan Pencipta menjadi lebih bermakna, dimana tindak-tanduk dan perilaku manu- sia (entitas) terhadap alam akan lebih di- dasarkan pada ketaatan dan kepatutan yang terbimbing. Untuk mencapainya diperlukan ‘kesadaran spiritual’ dan peng kondisian sos- ial yang memung kin kan terciptanya frekue- nsi spiritual sesama manusia, manusia den- gan alam (hablumminannas/ horizontal), dan manusia dengan dimensi spiritual nya yakni Pencipta (hablumminallah/ vertikal).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Since a notion of Triple Bottom Line (TBL) had been coined by Elkington (1997) and the trend of business considering the interest of stakeholder groups had been increasingly common, the term corporate performance is extended to include not only financial aspect, but also social and environmental dimensions. Thus, the extended corporate performance, often called sustainable corporate performance will include components of financial, social, and environmental performance. The inclusion of the two more dimensions in the corporate performance can be understood that the responsibility of corporation is not only to generate economic welfare (profit) but also to save people (society) and planet (environmental), a place
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Potensi Antikanker Metformin pada Kanker Kolorektal cell line WiDr melalui Studi Ekspresi p21 dan Bax: in vitro.

Analisis Potensi Antikanker Metformin pada Kanker Kolorektal cell line WiDr melalui Studi Ekspresi p21 dan Bax: in vitro.

Saat ini banyak bermunculan penelitian in vitro pada cell line kanker maupun in vivo model kanker untuk melihat pengaruh terapi yang lebih spesifik. Salah satu obat yang kerap diuji memiliki aktivitas antikanker adalah metformin, suatu obat antihiperglikemik golongan Biguanide yang digunakan sebagai farmakoterapi pada pasien DMT2. Metformin menurunkan produksi glukosa atau glukoneogenesis di hepar serta meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel yaitu Adenosine Monophosphate-activated Protein Kinase (AMPK) oleh Liver Kinase B1 (LKB1), suatu Tumor Suppressor Gene (TSG). Hubungan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

d ipa 949810 chapter5

d ipa 949810 chapter5

Kesembilan; Perbedaan kelompok TBL (Konkret dan Formal) tidak menunjukkan pengaruh berarti terhadap peningkatan PK. Demikian pula, perbedaan kelompok TBL (Konkret dan Formal) dan perbedaan model pembelajaran (KKS dan NKK) tidak menunjukkan adanya interaksi yang berarti terhadap PK mahasiswa. Meskipun tidak ada interaksi, sejalan dengan kesimpulan Kedelapan di atas, perbedaan model pembelajaran (KKS dan NKK) ternyata lebih berpengaruh daripada perbedaan kelompok TBL (Konkret dan Formal) terhadap peningkatan PK mahasiswa. Kesimpulan ini didasarkan pada jumlah PK mahasiswa kelompok TBL Konkret pada pembelajaran dengan model pembelajaran KKS lebih baik daripada Jumlah PK mahasiswa kelompok TBL Formal pada pembelajaran dengan model pembelajaran NKK.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

C# Database Basics  Moving from Visual Basic and VBA to C# pdf  pdf

C# Database Basics Moving from Visual Basic and VBA to C# pdf pdf

In this case, you are adding a line up top showing using getData; , which is setting a reference to the service that you added. You should notice that the way you create a reference to the service is slightly different in that you are referencing the SoapClient . But, other than those two changes, the rest of the code is identical. Also, please be aware that you have to have both projects running in order for this code to work. Typically, you won’t be referencing your own web services in this manner. But, you will run into situations where you want to consume other web services, and I think it is much easier to add a service reference than it is to write your own SOAP or HTTP POST requests. The code for the web service used was broken up into multiple pieces, so I’m showing the full code for the web service below. If you have a web service with multiple opera- tions like this one, take notice of how the [WebMethod] line of code needs to appear above each. If you remove that line, there will be no errors in the code; it is just that an operation without [WebMethod] above it won’t show up or be available on the web service.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar Perusahaan

Analisis Manfaat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Tingkat PendidikanMasyarakat Desa Sekitar Perusahaan

ekonomi, namun juga memasukkan sosial dan lingkungan untuk mencapai suistainable society. Di lanjutkan pada tahun 1970-an terbitlah “The Limit of Growth” yang hingga saat ini terus mengalami pembaharuan karya para cendekiawan yang tergabung dalam Club Of Rome.Sejalan dengan semakin berkembangnya CSR, kegiatan kedermawanan perusahaan telah mencapai Philantrhopy serta Community Development. Dalam hal ini terjadi perpindahan penekanan dari fasilitasi dan dukungan pada sektor-sektor produktif ke sektor sosial yang dilatarbelakangi oleh kesadaran perusahaan. Pada tahun 1980-an mulai bergeser dari Philantrhopy ke Community Development. Pada masa ini mulai muncul pola-pola pemberdayaan masyarakat. Dasawarsa 1990-an adalah dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan seperti stakeholder dan Civil Society yang tentu saja mempengaruhi Community Development. KKT Bumi yang diadakan Rio de Jenairo Brazil pada tahun 1992 menegaskan konsep pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial. Terobosan terbari dalam CSR dikenal dengan istilah Tripple Bottom Line yang dikenalkan oleh John Elkington. Inti dari buku yang dibuatnya adalah bahwa jika perusahaan ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P yaitu Profit, People, dan Planet. Selanjutnya Gaung CSR mulai bergema diselenggarakan World Summit on Suistainable Development (WSSD) pada tahun 2002 di Johannesburg Afrika Selatan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 4144 documents...