TRIPLE BOTTOM LINE (TBL)

Top PDF TRIPLE BOTTOM LINE (TBL):

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Triple Bottom Line as Sustainable Corporate Performance A Proposition for the Future

Abstract: Based upon a review of corporate performance, corporate financial performance and corporate social performance, we propose that the concept of ― triple bottom line ‖ (TBL) as ― sustainable corporate performance ‖ (SCP) should consist of three measurement elements, namely: (i) financial, (ii) social and (iii) environmental. TBL as SCP is proposed to be derived from the interface between them. We also propose that the content of each of these measurement elements may vary across contexts and over time. Furthermore, TBL as SCR should be interpreted to be a relative concept that is dynamic and iterative. Continuous monitoring needs to be performed, adapting the content of the measurement elements to changes that evolve across contexts and over time in the marketplace and society. TBL as SCP may be seen as a function of time and context.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, UMUR PERUSAHAAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE PERUSAHAAN

Triple Bottom Line (TBL) merupakan konsep pengungkapan yang dicetuskan John Elkington pada tahun 1997 dalam buku Cannibals with Forks: the Triple Bottom Line of 21st Century Business, yang secara garis besar menyatakan bahwa dalam pengungkapan terdapat tiga dimensi penting yang perlu diungkapkan oleh perusahaan dalam laporannya agar perusahaan dapat bertahan, yaitu kinerja keuangan, kinerja sosial, dan kinerja lingkungan atau dapat disebut juga profit, people, and planet. Pada dasarnya, pengungkapan TBL ini sama dengan

60 Baca lebih lajut

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE (TBL) DI INDONESIA

juga menghubungkan antara laba yang dihasilkan perusahaan dengan pengungkapan triple bottom line. Jika perusahaan memiliki laba yang tinggi, manajemen juga harus memberikan akstifitas sosial dan lingkungannya sebagai perwujudan kontrak sosial yang terjadi dalam interaksi dimasyarakat. Sandra (2011) menyatakan bahwa, entitas dengan kinerja ekonomi yang rendah cenderung tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengungkapkan informasi lebih lanjut. Beberapa penelitian mendukung adanya hubungan yang positif antara profitabilitas perusahaan dan tingkat pengungkapan TBL yaitu Yanti dan Rasmini (2015), Ho dan Taylor (2007), dan Nur & Priantinah (2012) Berdasarkan penelitian diatas maka hipotesis untuk menguji penelitian ini adalah: H2: Profitabilitas perusahaan berpengaruh positif dengan luasnya pengungkapan triple bottom line.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Aktualitas Carbon Emission Disclosure: Sebagai Dasar dan Arah Pengembangan Triple Bottom Line

Fenomena nasional dan internasional ini mengimplikasikan bahwa perusahaan masa kini tidak bisa sekadar memperhatikan profit lagi. Konsep Triple Bottom Line (TBL atau 3BL) sekarang ini memang harus dijalankan. Singkat kata, ketiganya merupakan pilar yang mengukur nilai kesuksesan suatu perusahaan dengan tiga kriteria: ekonomi, lingkungan, dan sosial. Konsep TBL mengimplikasikan bahwa perusahaan harus lebih mengutamakan kepentingan stakeholder (semua pihak yang terlibat dan terkena dampak dari kegiatan yang dilakukan perusahaan) daripada kepentingan shareholder (pemegang saham).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA.

Triple Bottom Line memiliki konsep pembangunan Profit, People, dan Planet. Profit berarti keuntungan yang akan diperoleh perusahaan, People berarti tanggung jawab dengan sosial, dan Planet berarti tanggung jawab terhadap lingkungan, sehingga dengan terpenuhinya tanggung jawab sosial dan lingkungan akan lebih memudahkan tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Sebab sumber-sumber produksi yang sangat penting bagi aktivitas perusahaan dapat lebih terjaga. Dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line (SBL), yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi ekonomi (financial) saja. Tapi lebih berpijak pada triple bottom lines (TBL) yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. (Aulia dan Kartawijaya, 2011).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

GLOBAL REPORTING INITIATIVE INDEX: SEBAGAI MODEL PENGUKURAN TRIPLE BOTTOM LINE PADA INDUSTRI KATEGORI ENVIRONMENT HIGH RISK (STUDI KOMPARASI INDONESIA DAN MALAYSIA)

Segala puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT pencipta alam semesta yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya, dengan dibekali sebuah akal untuk menjalankan amanah-Nya sebagai khalifah dimuka bumi. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Global Reporting Initiative Index: Sebagai Model Pengukuran Triple Bottom Line pada Industri Kategori Environment High Risk (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia)”. skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dalam program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

ANALISIS PENGUNGKAPAN TRIPLE BOTTOM LINE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI.

Triple bottom line merupakan konsep pengungkapan laporan perusahaan yang merefleksikan kinerja perusahaan secara keseluruhan baik dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Singapore Stock Exchange (SGX) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012 dengan sampel sebanyak 100 laporan tahunan emiten. Regresi linear berganda digunakan sebagai teknik analisis dalam penelitian ini. Variabel profitabilitas, kepemilikan asing, dan karakteristik negara dalam penelitian ini menunjukan pengaruh signifikan pada pengungkapan triple bottom line di perusahaan Singapura dan Indonesia. Sedangkan variabel leverage dan likuiditas dalam penelitian ini tidak berpengaruh pada pengungkapan triple bottom line.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA SEBAGAI IMPLEMENTASI PRINSIP TRIPLE BOTTOM LINE (STUDI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)) - UNS Institutional Repository

Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena atas berkat Rahmat -Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan hukum (skripsi) yang berjudul “ Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan Pada Badan Usaha Milik Negara Sebagai Implementasi Prinsip Triple Bottom Line (Studi PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO)) ”. Penulisan hukum ini merupakan tugas wajib yang harus diselesaika sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Penulisan hukum ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dikaitkan dengan prinsip triple bottom line, dan kendala- kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Program Kemitraan Dan Bina Lingkungan tersebut serta bagaimana solusi mengatasinya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Pertanian berkelanjutan melalui konsep “triple bottom line” (planet, people, profit) berbasis optimalisasi system of rice intensification bagi gabungan kelompok tani “segimukti”

Dalam upaya mengimplementasikan tujuan triple bottom line, penulis menerapkan System of Rice Intensification (SRI).System of Rice Intensification (SRI) merupakantehnik budidaya padi yang mampumeningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Sistem ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1983 di Madagaskar oleh pastor sekaligus agrikulturis asal Perancis, Fr. Henri de Laulanie,yang menjadi salah satu cara untuk mencapai produktifitas pertanian secara efisien, seimbang, dan berkelanjutan.System of Rice Intensification (SRI)memiliki enam prinsip utama yang dijadikan pedoman dalam pengaplikasiannya.Enam prinsip tersebut antara lain:bibit umur muda, tanam tunggal, jarak tanam lebar, penggunaan pupuk organik, pengaturan air, dan pengendalian gulma dan hama dengan metode organik.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Penilaian Kinerja BLUD RSUD di Eks Karesidenen Kedu (Perspektif Triple Bottom Line).

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga penelitian dan penulisan skripsi dapat diselesaikan dengan judul “PENILAIAN KINERJA BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) DI EKS KARESIDENAN KEDU (PERSPEKTIF TRIPLE BOTTOM LINE)”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Stakeholder Scorecard Approach to Defining Implementing CSR An Indonesia Case abstrak

Since a notion of Triple Bottom Line (TBL) had been coined by Elkington (1997) and the trend of business considering the interest of stakeholder groups had been increasingly common, the term corporate performance is extended to include not only financial aspect, but also social and environmental dimensions. Thus, the extended corporate performance, often called sustainable corporate performance will include components of financial, social, and environmental performance. The inclusion of the two more dimensions in the corporate performance can be understood that the responsibility of corporation is not only to generate economic welfare (profit) but also to save people (society) and planet (environmental), a place
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Strategi Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Menjadi Produk Souvenir Museum Sangiran melalui Model Triple Bottom Line untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi kasus Dusun Jatisari, Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen).

Strategi Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji Menjadi Produk Souvenir Museum Sangiran melalui Model Triple Bottom Line untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi kasus Dusun Jatisari, Karangjati, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen).

Pari 2002 menyatakan bahwa di Indonesia ada tiga macam industri kayu yang secara dominan mengkonsumi kayu dalam jumlah relatif besar, yaitu: penggergajian, vinir/kayu lapis, dan pulp/ker[r]

2 Baca lebih lajut

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG GUGAT DALAM PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM RANGKA IMPLEMENTASI TRIPLE BOTTOM LINE DI INDONESIA

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG GUGAT DALAM PELAKSANAAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM RANGKA IMPLEMENTASI TRIPLE BOTTOM LINE DI INDONESIA

Beberapa program t ang-gung j awab sosial perusahaan yang berpij ak pada prinsip ini biasanya berupa penghij auan ling-kungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan permukiman, p[r]

11 Baca lebih lajut

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

KONSEP QUARDRANGLE BOTTOM LINE (QBL) DALAM PRAKTIK SUSTAINABILITY REPORTING DIMENSI “SPIRITUAL PERFORMANCE”

keberadaan manusia dan semua bentuk eksistensi di alam adalah dalam perjalan- an spiritualnya menuju penyatuan diri-nya dengan Pencipta. Upaya pen capaian dalam konsep triple bottom line belum lengkap tanpa menempat kan dimensi kedekatan diri pada alam dan Pencipta, dimasukkan- nya dimensi spiritual adalah dalam upaya melihat ketercapaian konsep Quard rangle bottom line. Bagi mereka yang ter bimbing bekerja tidak sekedar mendapatkan materi, sebalik nya bekerja dimaknai sebagai ibadah, dengan makna tersebut yang didapat tidak hanya materi namun juga pahala bila yang diupa yakan sesuai syariat-Nya. Merujuk 3 dimensi Khalid Baig (2002), maka falsa- fah kerja dan bisnis harus diarahkan pada tauhid uluhiyah dimana dalam setiap men- jalankan usaha, setiap pribadi muslim ha- rus mengkaitkan diri pada keesaan Allah, per tolongan hanya datang dari-Nya, dunia fana milik-Nya manu sia hanya peme gang amanah. Kemudian untuk me mahami bah- wa mencari rezeki adalah tugas dalam ber- agama, maka falsafah bekerja juga harus be- rada dalam frame manu sia sebagai khalifah, di mana manusia berfungsi sebagai agent of development.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Evaluasi Tanggung Jawab Sosial Pt Holcim Indonesia Tbk

Evaluasi Tanggung Jawab Sosial Pt Holcim Indonesia Tbk

Komponen Variabel Indikator Masukan Kebijakan  Triple Bottom Line  Enam pilar pembangunan berkelanjutan PT Holcim Indonesia Tbk Dana tersalurkan  Dana untuk pembangunan infrastrukt[r]

121 Baca lebih lajut

Kebijakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pt Nnt Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Lokal Masyarakat Sekongkang Menyongsong Pasca Tambang.

Kebijakan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pt Nnt Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Lokal Masyarakat Sekongkang Menyongsong Pasca Tambang.

1 Makna partisipasi dalam CSR atau TJSP perusahaan 9 2 Keterkaitan integratif triple bottom line 9 3 Pergeseran paradigma pembangunan dari production center development ke people cent[r]

125 Baca lebih lajut

CSR dalam Perspektif Pancasila. docx

CSR dalam Perspektif Pancasila. docx

Sebaliknya konsep triple bottom line profit, planet, people yang digagas oleh John Elkington makin masuk ke dalam mainstream etika bisnis.4 Defenisi CSR menurut Edi Suharto, adalah “kep[r]

18 Baca lebih lajut

ANALISIS SUSTAINABILITY REPORT YANG TERDAFTAR DALAM SUSTAINABILITY REPORT AWARD PADA TAHUN 2013-2015 - Perbanas Institutional Repository

ANALISIS SUSTAINABILITY REPORT YANG TERDAFTAR DALAM SUSTAINABILITY REPORT AWARD PADA TAHUN 2013-2015 - Perbanas Institutional Repository

Teori Triple bottom line adalah teori ini memberikan sebuah wawasan atau pandangan jika sebuah perusahaan dapat bertahan untuk kelangsungan hidupnya.Perusahaan tersebut harus memiliki 3[r]

17 Baca lebih lajut

Triple helix program.

Triple helix program.

The two-day programme, Entrepreneurial Networking in Industrial Linkages University- Industry Triple-Helix was organised from 3 th until 4 th September, 2012 at Kampus AKEPT, Bandar Enstek, Negeri Sembilan. The programme was conducted as a two days programme that filling with Talk, Workshop and Forum session. With general aim to provide a platform for the sharing of knowledge and experience among academics, researchers, entrepreneurs, government agencies and industrialists (SMEs and MNCs) in an effort to enhance innovation and entrepreneurship in the country via smart collaboration (Triple-Helix), this programme was organised by AKEPT Centre for Leadership Research and Innovation (ACLRI) in collaboration with Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM). There were four speakers with each of them was given one hour thirty minutes during the talk session. The workshop session and forum session were taken one hour and two hours thirty minutes, respectively. The participants were from policy makers, academics, researchers, entrepreneurs, government agencies and industrialists (SMEs and MNCs).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

THE IMPLEMENTATION OF TRIPLE HELIX MODEL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT IN YOGYAKARTA PROVINCE

THE IMPLEMENTATION OF TRIPLE HELIX MODEL FOR LOCAL ECONOMIC DEVELOPMENT IN YOGYAKARTA PROVINCE

The number of poor people by the year 2013 based on BPS data DIY Province decreased 17.2 thousand or 2.71% to 616.3 thousand people, from his position in 2012 is 633.5 thousand inhabitants. The number of poor by BPS is calculated based on the individual’s basic needs are assessed in the form of dollars. In December 2013, the poverty line is based on food expenditure is Rp141.597,00 per capita per month, while the poverty line is Rp194.830,00 total per capita per month (BPS Prov. DIY, 2014). Based on the poor data processing which can be produced poverty gap index (poverty gap index, P1) and poverty severity index (poverty severity index, P2) which can show the other side of the problem of poverty? P1 is the gap between the average standard of living of the population is under the poverty line to the poverty line. P2 is a gap between the poor. In 2013, the rate of P1 and P2 is relatively low, compared to the conditions in 2012, respectively 3.35 and 0.92 (December 2012: 3.80 and 1.12). This means that the level of the gap decreases, so that eforts can be said to be relatively successful eradication. Based on spatial distribution, poor population in 2013 is spread almost evenly, ie 52.60% in urban areas and 47.40% in rural areas (BPS Prov. DIY, 2014). Most of them are the poor farmers from 472 082 farming households in the province in 2012, 80.29% of whom are small farmers, that farmers with small and micro enterprises scale land holdings of less than half a hectare. When compared with the conditions of poverty at the national level, the poverty rate in the province is still higher than the national poverty level.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 4144 documents...