Tumbuhan Beracun

Top PDF Tumbuhan Beracun:

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Penelitian tentang tumbuhan beracun di Cagar Alam Dolok Tinggi Raja yaitu analisis identifikasi, metabolit sekunder, dan potensi pengembangan jenis- jenis tumbuhan beracun. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ada 3 tahap. Pertama aspek pengetahuan lokal dengan survei pengetahuan lokal, kedua aspek keanekaragaman dengan pengumpulan data analisis vegetasi, ketiga aspek fitokimia dengan mendeteksi kandungan metabolit sekunder. Eksplorasi tumbuhan beracun telah dilakukan di Cagar Alam Martelu Purba mendapatkan enam belas jenis tumbuhan beracun yang memiliki peluang yang lebih besar di budidayakan sebagai sumber biopestisida yaitu adalah Latong andosari (Alstonia scholaris L.R. Br), Birah (Alocasia arifolia Hallier. F), Langge (Homalonema propinqua Ridl), Hau palu-palu ni ogung (Canarium album Raeusch), Andor hutdali (Dioscorea sp.), Flacourtia rukam Zoll. & Mortizi, Lang-lang habungan (Coleus scutellariodes (I). Benth), Latong anduri (Litsea sp.), Baringtonia sp, Silambau (Clidemia hirta Bl), Rube (Ficus lowii King), Rube-rube (Ficus sinuata Thunb), Sitorhom (Eugenia sp.), Tomu ring-ring (Saurauia pendula Blume), Dosih (Rubus moluccanus eelkek), dan Tabar-tabar (Costus speciosus Sm.).
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Konsumen I (herbivora) adalah obyek lain selain manusia yang lebih berpotensi terserang racun alami. Obyek lain ini akan menjadi perhatian dalam kehidupan bermasyarakat kalau mereka adalah ternak atau peliharaan milik manusia karena pasti akan diupayakan agar ternak itu tidak terkena racun. Tumbuhan beracun pun secara umum jadi dihindari, dikhawatirkan dan dinilai memiliki sifat tidak menyenangkan oleh masyarakat (Rejesus, 1986).

8 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Desa Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara”. Skripsi ini merupakan satu diantara beberapa syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

12 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

2002. Two New Triterpenoids from Azadirachta indica and Their Insecticidal Activity. Journal of Natural Products No. 65, pp. 1216-1218. American Chemical Society and American Society of Pharmacognosy. Silitonga, Y. 2015. Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Cagar Alam Martelu Purba

4 Baca lebih lajut

Identifikasi Jenis dan Pemetaan Penyebaran Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung Sibayak II TAHURA Bukit Barisan, Kabupaten Karo

Identifikasi Jenis dan Pemetaan Penyebaran Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung Sibayak II TAHURA Bukit Barisan, Kabupaten Karo

Gambar 11. Grafik indeks keanekaragaman Shannon- Winner tumbuhan beracun. Menurut Waluya (2013) bahwa kondisi suhu udara tentunya sangat berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu lingkungan hidup ideal atau optimum serta tingkat toleransi yang berbeda satu sama lain. Ditinjau dari segi kehadiran pada suatu komunitas tumbuhan dapat dikatakan bahwa semakin tinggi suatu tempat maka semakin sedikit pula tumbuhan yang tumbuh. Suhu dan intensitas cahaya akan semakin kecil dengan semakin tingginya tempat tumbuh. Berikut adalah tabel Indeks Keanekaragaman Shannon- Winner (H’) tumbuhan beracun di Hutan Lindung Sibayak II pada setiap kategori ketinggian.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun pada Kawasan Hutan Lindung Simandar Desa Tanjung Beringin I Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi

Eksplorasi Tumbuhan Beracun pada Kawasan Hutan Lindung Simandar Desa Tanjung Beringin I Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Kawasan Hutan Lindung Simandar Desa Tanjung Beringin I Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi”. Skripsi ini merupakan

13 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Pada Kawasan Hutan Lindung Simancik IiDi Taman Hutan Raya Bukit Barisan.. Soerianegara dan Indrawan.[r]

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Racun dapat diidentifikasi pada tumbuhan beracun dan kemungkinan dapat disebabkan oleh hasil metabolisme sekunder yang terkandung di dalam tumbuhan beracun tersebut. Setiap jenis tumbuhan beracun pada umumnya mengandung zat-zat atau senyawa kimia yang berbeda-beda. Senyawa racun yang bersifat alami dalam tumbuhan beracun belum sepenuhnya diketahui dan belum semuanya dimanfaatkan secara aplikatif. Beberapa jenis tumbuhan beracun mengandung dua atau lebih senyawa racun yang berbeda komponen kimianya satu dengan lainnya. Hanenson (1980) menyatakan bahwa komponen-komponen kimia yang dihasilkan tumbuhan beracun melalui metabolit sekunder terbagi atas beberapa macam seperti alkoloid, glikosida, tanin, saponin, asam oksalat, phytotoxin, resin, polipeptida dan asam amino serta mineral lainnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Manfaat dari penelitian ini adalah observasi awal untuk memberi informasi mengenai jenis-jenis tumbuhan beracun yang terdapat di Cagar Alam Dolok Saut. dengan adanya informasi jenis-jenis tanaman yang berpotensi sebagai bahan penghasil biopestisida dan pemanfaatannya akan membantu masyarakat dan pihak lain dalam mengenal dan memanfaatkan jenis-jenis tersebut dalam pengendalian hama dan penyakit pada tanaman.

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Hasil penelitian menunjukan terdapat 9 jenis tumbuhan beracun yang di temukan yaitu Apus Tutung (Clidemia hirta), Modang lalisiak (Ficus sinuata Thunb), Sitanggis ) Dongdong (Laportea stimulans Gaud) Antaladan (Xanthosoma sp) Birah (Alocasia arifolia), Tahul-tahul (Nephentes renwartiana), Bedi-bedi (Callicarpa dichotoma) dan Langge (Homalonema javanica.). Semua sampel yang diidentifikasi berpotensi dapat dijadikan sebagai bahan biopestisida karna mengandung senyawa metabolit sekunder yakni alkoloid, saponin, tanin terpen dan flavonoid.

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

Eksplorasi Potensi Tumbuhan Beracun Sebagai Bahan Biopestisida di Cagar Alam Dolok Saut

1. Jenis tumbuhan beracun di Cagar Alam Dolok Saut .......................................... 20 2. Analisis tumbuhan beracun di Hutan Cagar Alam Dolok Saut ................... 22 3. Tumbuhan hasil uji fitokimia di laboratorium fitokimia ............................. 25 4. Data hasil Uji Fitokimia Tumbuhan Beracun di Hutan Cagar Alam

11 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

PRISKA DEVIKA. Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida Di Hutan Lindung Desa Habincaran Dan Desa Hutagodang Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara. Di bawah bimbingan YUNUS AFIFUDDIN dan LAMEK MARPAUNG.

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Tumbuhan beracun merupakan tumbuhan yang mengandung racun yang dapat menyebabkan kita mengalami rasa sakit ataupun kematian dan keberadaannya cukup tinggi di wilayah Sumatera Utara secara khusus di kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan beracun, menganalisis kandungan metabolik sekunder, dan mengetahui potensi pengembangan tumbuhan beracun di hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2014. Jenis tumbuhan beracun yang diketahui dicatat dan diidentifikasi. Metode yang dilakukan adalah metode sampling plot berbentuk lingkaran dengan luasan lingkaran sebesar 0,05 ha.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

EKSPLORASI TUMBUHAN BERACUN SEBAGAI BIOPESTISIDA PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG SIMANCIK II DI TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BARISAN

EKSPLORASI TUMBUHAN BERACUN SEBAGAI BIOPESTISIDA PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG SIMANCIK II DI TAMAN HUTAN RAYA BUKIT BARISAN

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat 17 jenis tumbuhan beracun yang diskrining fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya, diantaranya 10 jenis yang mengandung Flavonoid, 12 jenis yang mengandung Alkaloid, 10 jenis yang mengandung steroid-terpenoid, dan 11 jenis yang mengandung saponin. Berdasar kan analisis vegetasi, diketahui jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah jenis Kalincayo (Angelesia splendens Korth.) sedangkan jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting terendah adalah Takur-takur gara ( NephentesTobaica). Dari data analisis vegetasi tersebut juga diperoleh indeks keanekaragaman jenis sebesar 1,97 dari jenis tumbuhan bawah dan 1,39 dari jenis semai pohon. Tumbuhan beracun yang paling berpeluang dibudidayakan sebagai sumber biopestisida adalah yang memiliki kandungan metabolit sekunder kompleks seperti jenis Sanggubuh (Licania splendens Korth.), Rancang daluna (Rubia sp), Mbetung (Ficus grossularioides Burm.f.), Ingul kerangen (Smecarpus sp), dan Sukul-sukul (Macaranga depressa Mull.Arg.).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Racun dapat diidentifikasi pada tumbuhan beracun dan kemungkinan dapat disebabkan oleh hasil metabolisme sekunder yang terkandung di dalam tumbuhan beracun tersebut. Setiap jenis tumbuhan beracun pada umumnya mengandung zat-zat atau senyawa kimia yang berbeda-beda. Senyawa racun yang bersifat alami dalam tumbuhan beracun belum sepenuhnya diketahui dan belum semuanya dimanfaatkan secara aplikatif. Beberapa jenis tumbuhan beracun mengandung dua atau lebih senyawa racun yang berbeda komponen kimianya satu dengan lainnya. Hanenson (1980) menyatakan bahwa komponen-komponen kimia yang dihasilkan tumbuhan beracun melalui metabolisme sekunder terbagi atas beberapa macam seperti alkaloid, glikosida, asam oksalat, resin, phytotoxin, tanin, saponin, polipeptida dan asam amino serta mineral lainnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Tumbuhan beracun dapat digunakan masyarakat sebagai bahan pengendali hama karena mengandung racun. Kandungan senyawa yang ada dalam tumbuhan beracun bermacam-macam sehingga dapat digunakan pengendali bagi berbagai macam hama. Berdasarkan hasil penelitian Hamid dan Nuryani (1992) sebagian tumbuhan tersebut, interaksi antara tumbuhan dan serangga yang terjadi telah menyebabkan sejumlah senyawa kimia metabolit sekunder tumbuhan mempengaruhi perilaku, perkembangan, dan fisiologis serangga. Dengan strategi penggunaan yang tepat, metabolit sekunder ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengendali hama tertentu.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Judul dari penelitian ini adalah “Eksplorasi tumbuhan Beracun di Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike Kabupaten Dairi, Sumatera Utara” dan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tumbuhan beracun sehingga dapat memberikan masukan bagi pihak yang memerlukan.

12 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Eksplorasi Tumbuhan Beracun Sebagai Biopestisida pada Kawasan Hutan Lindung Simancik II di Taman Hutan Raya Bukit Barisan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat 17 jenis tumbuhan beracun yang diskrining fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya, diantaranya 10 jenis yang mengandung Flavonoid, 12 jenis yang mengandung Alkaloid, 10 jenis yang mengandung steroid-terpenoid, dan 11 jenis yang mengandung saponin. Berdasar kan analisis vegetasi, diketahui jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah jenis Kalincayo (Angelesia splendens Korth.) sedangkan jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting terendah adalah Takur-takur gara ( NephentesTobaica). Dari data analisis vegetasi tersebut juga diperoleh indeks keanekaragaman jenis sebesar 1,97 dari jenis tumbuhan bawah dan 1,39 dari jenis semai pohon. Tumbuhan beracun yang paling berpeluang dibudidayakan sebagai sumber biopestisida adalah yang memiliki kandungan metabolit sekunder kompleks seperti jenis Sanggubuh (Licania splendens Korth.), Rancang daluna (Rubia sp), Mbetung (Ficus grossularioides Burm.f.), Ingul kerangen (Smecarpus sp), dan Sukul-sukul (Macaranga depressa Mull.Arg.).
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan penelitian yang berjudul “Eksplorasi Tumbuhan Beracun Di Hutan Lindung Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir”. Penulisan usulan penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk menjadi Sarjana Kehutanan.

4 Baca lebih lajut

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Eksplorasi Tumbuhan Beracun di Hutan Lindung di Desa Lumban Julu Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Tobasa

Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk setempat yaitu Bapak Manurung dan Bapak Purba, maka diperoleh informasi bahwa beberapa jenis tanaman yang mengandung racun. Nama lokal tumbuhan beracun yang diperoleh antara lain Demban-demban, Si Ulat-ulat, Ria-ria, Gala-gala, Keladi, Gulun, Bulu- bulu, Sitorhom, Mesoyi, Latong andosari, Andor, Raso, Linggas dan Sijubbak. Ciri-ciri tanaman beracun yang diberikan oleh informan kunci dijelaskan kepada pemandu di Hutan Lindung Lumban Julu sehingga jenis ini dapat dikenali pada saat eksplorasi.

44 Baca lebih lajut

Show all 5967 documents...