uji jalan 6 menit

Top PDF uji jalan 6 menit:

KORELASI KAPASITAS FUNGSIONAL UJI JALAN 6 MENIT DENGAN TAMPILAN HEMODINAMIK NON INVASIF PADA GAGAL JANTUNG.

KORELASI KAPASITAS FUNGSIONAL UJI JALAN 6 MENIT DENGAN TAMPILAN HEMODINAMIK NON INVASIF PADA GAGAL JANTUNG.

Hasil Penelitian: Sebanyak 67 pasien gagal jantung, pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi terdapat sebanyak 22 pasien. Data Dasar dan demografi memperlihatkan bahwa usia rerata subjek penelitian adalah 58.36 ± 8.37 tahun. Uji jalan 6 menit yang dilakukan pada subjek penelitian memperlihatkan bahwa rerata jarak tempuh uji jalan 6 menit adalah 328.09 ± 55.85 meter, dengan rerata kapasitas fungsional 5.70 ± 1.03 mets. Analisis bivariat memperlihatkan hasil korelasi fraksi ejeksi ventrikel kiri, volume sekuncup, curah jantung, cardiac index, dan resistensi vaskular sistemik dengan kapasitas fungsional uji jalan 6 menit tidak bermakna secara statistik, dengan nilai koefisien korelasi masing-masing sebesar -0.368 (p 0.092), 0.134 (p 0.552), -0.011 (p 0.962), -0.082 (p 0.718), dan -0.054 (p 0.812). Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi kapasitas fungsional uji jalan 6 menit dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri, volume sekuncup, curah jantung, cardiac index, dan resistensi vaskular sistemik pada gagal jantung.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TESIS ANALISIS KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS SETELAH MENGIKUTI PROGRAM REHABILITASI PARU YANG DINILAI DENGAN COPD ASSESSMENT TEST (CAT) DAN UJI JALAN 6 MENIT OCTARIANY

TESIS ANALISIS KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS SETELAH MENGIKUTI PROGRAM REHABILITASI PARU YANG DINILAI DENGAN COPD ASSESSMENT TEST (CAT) DAN UJI JALAN 6 MENIT OCTARIANY

Hasil : Dari 14 sampel dijumpai penderita keseluruhannya berjenis kelamin laki – laki (100%) dan berdasarkan umur penderita didapati kelompok usia rata- rata >66 tahun. Riwayat merokok sampel pada penelitian ini merupakan bekas perokok dengan rata – rata nilai Indeks Brinkman >600 (derajat berat). Dari hasil spirometri, penderita PPOK yang terbanyak adalah penderita PPOK derajat berat dengan nilai 30% < VEP1 < 50% nilai prediksi. Didapati peningkatan yang bermakna terhadap rerata jarak jalan 6 menit sebesar 81,21 meter setelah mengikuti program rehabilitasi paru. Dalam hal penilaian kualitas hidup didapati penurunan yang bermakna pada nilai CAT yaitu sebesar 7,07 poin.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Efek latihan pernafasan terhadap faal paru, derajat sesak nafas dan kapasitas fungsional penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik stabil

Efek latihan pernafasan terhadap faal paru, derajat sesak nafas dan kapasitas fungsional penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik stabil

latihan pernafasan pada 16 pasien PPOK dalam waktu yang singkat (5 minggu) di dapati hasil tidak ada perubahan dalam faal paru diantara dua kelompok, peningkatan uji jalan 6 menit sebesar 13% pada kelompok perlakuan dan tidak ada perubahan dalam kelompok kontrol dan pengurangan derajat sesak nafas pada kelompok perlakuan (3±1 vs 2±1, p<0.01) tetapi tidak pada kelompok kontrol (2±2 vs 2±1). Menurut Mota dkk latihan pernafasan dapat mengurangi sesak nafas karena dapat mengurangi hiperinflasi melalui 2 cara, yaitu memodifikasi keseimbangan antara paru dan dinding dada (meningkatkan otot inspirasi dan mengangkat diafragma untuk mengurangi volume udara yang terperangkap di rongga dada) dan meningkatkan aktivitas otot ekspirasi untuk mengkompensasi aktivitas otot inspirasi. 54
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

The correlation between the obstructive pulmonary and VO

The correlation between the obstructive pulmonary and VO

didiagnosis PPOK sebelumnnya (dari Catatan Medis), jenis kelamin laki-laki, FEV1 < 80% prediksi normal, tidak sedang eksaserbasi akut saat penelitian, tidak ada perubahan obat-obatan selama 4 minggu terakhir dan tetap minum obat sesuai advis dokter Spesialis Paru, umur 50-75 tahun, kooperatif dan bersedia ikut dalam penelitian serta sanggup melakukan uji jalan 6 menit dengan menandatangani informed consent setelah diberi pengertian dan penjelasan, serta dapat berjalan secara mandiri tanpa alat bantu. Sedangkan kriteria eksklusi adalah: menderita kelainan kardiovaskuler (dari catatan medik Klinik Paru dr Priyadi. SpP), menderita gangguan neuromuskuloskeletal, sedang dalam pengobatan spesifik, dan subyek menolak mengikuti penelitian. Pasien yang mengundurkan diri atau tidak sanggup melanjutkan uji jalan selama 6 menit akan di drop out menjadi sampel penelitian.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kebugaran Lansia Di Posyandu Lanjut Usia Tegalsari Dan Posyandu Lanjut Usia Lodalang Siswodipuran Boyolali.

PENDAHULUAN Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kebugaran Lansia Di Posyandu Lanjut Usia Tegalsari Dan Posyandu Lanjut Usia Lodalang Siswodipuran Boyolali.

Tingkat kebugaran dapat dievaluasi dengan mengawasi kecepatan denyut jantung waktu istirahat, yaitu denyut nadi sewaktu istirahat. Sehingga untuk menjadi lebih bugar, kecepatan pada waktu istirahat harus menurun. (Powel, 2000). Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aidil et al (2014). Hasil tes pada saat dilakukan uji jalan 6 menit menunjukkan pada

6 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek program rehabilitasi paru terhadap kapasitas fungsional dan juga kualitas hidup penderita PPOK dengan menjalankan rehabilitasi paru selama 8 minggu. Dilihat apakah program rehabilitasi paru yang diberikan dapat meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup penderita PPOK dengan melakukan penilaian uji jalan 6 menit dan dan CAT (COPD Assessment Test) sebelum dan pada setiap tahapan latihan yang telah diselesaikan oleh penderita.

6 Baca lebih lajut

Dampak Penambahan Digoksin terhadap Kapasitas Fungsional Penyakit Jantung Bawaan Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung

Dampak Penambahan Digoksin terhadap Kapasitas Fungsional Penyakit Jantung Bawaan Pirau Kiri ke Kanan yang Mengalami Gagal Jantung

Tampilan klinis dapat diketahui dengan menilai kapasitas fungsional seseorang. Kapasitas fungsional seseorang adalah kemampuan individu untuk melakukan kerja aerobik ( aerobic work) yang dinyatakan dengan penyerapan oksigen maksimal (VO 2 max). Salah satu uji klinis yang banyak digunakan untuk menilai kapasitas fungsional tubuh melalui aktivitas fisik adalah dengan uji jalan 6 menit. 11,12 Uji jalan 6 menit adalah tes sub-

6 Baca lebih lajut

Kejadian Hipotensi pada Pasien Sesar dengan Anestesi Spinal Tahun 2014 di RSUP Haji Adam Malik Medan

Kejadian Hipotensi pada Pasien Sesar dengan Anestesi Spinal Tahun 2014 di RSUP Haji Adam Malik Medan

Dari pengukuran tekanan darah dalam 6 waktu, yaitu pre-operasi, 0 menit, 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit setelah tindakan anestesi didapati kejadian hipotensi pada pasien sesar dengan teknik spinal terjadi pada waktu 0 menit hingga 15 menit anestesi spinal. Yaitu pada penurunan tekanan darah sistol pada 22,7% sampel (17 orang) dan penurunan tekanan darah diastol pada 28% (21 orang) sampel. Hal ini berhubungan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa waktu penurunan tekanan darah yang berarti yaitu pada menit 0 hingga 15 (Sari, 2012). Penurunan tekanan darah ini terjadi karena blokade neuroaksial dari anestesi spinal memblokade saraf T5-L1 yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah, pengumpulan darah (pooling).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH OLAHRAGA JALAN CEPAT 30 MENIT TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH    Pengaruh Olah Raga Jalan Cepat 30 Menit Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II.

PENGARUH OLAHRAGA JALAN CEPAT 30 MENIT TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH Pengaruh Olah Raga Jalan Cepat 30 Menit Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II.

Jalan cepat adalah bentuk latihan yang terbaik untuk pasien diabetes mellitus tipe 2 (Nayak, 2005). Mekanisme jalan cepat dalam menurunkan kadar glukosa darah sama halnya dengan mekanisme olahraga jenis aerobik lainnya dimana dengan berolahraga teratur dapat memfasilitasi kontrol glikemi dengan merangsang aktifitas insulin dan jumlah Glut 4 transporter glukosa dalam membran plasma sehingga terjadi peningkatan sensitifitas insulin, meningkatkan sintesis dan penyimpanan glikogen otot. Insulin adalah hormon dominan yang mempengaruhi regulasi metabolisme glukosa dalam tubuh manusia. Pada otot yang bekerja lebih sensitif terhadap kerja insulin dibandingkan otot yang tidak bergerak aktif. Jumlah reseptor insulin pada otot yang bekerja lebih sensitif dan lebih banyak daripada otot yang istirahat sehingga penyerapan glukosa lebih banyak. Sensitifitas meningkat dari otot terhadap insulin dan meningkatnya aliran darah ke otot yang bekerja, ukuran kapiler perfusi, jumlah reseptor insulin (Glut 4 faktor) dan sensitifitasnya juga meningkat sehingga akhirnya pada penderita DM tipe 2 ini otot dapat memanfaatkan glukosa selama latihan meskipun produksi insulin di pankreas menurun (Palley, 1997).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH OLAHRAGA JALAN CEPAT 30 MENIT TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH    Pengaruh Olah Raga Jalan Cepat 30 Menit Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II.

PENGARUH OLAHRAGA JALAN CEPAT 30 MENIT TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH Pengaruh Olah Raga Jalan Cepat 30 Menit Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II.

Hasil Penelitian: Berdasarkan data nilai kadar GDS responden pre dan post test yang telah diuji hipotesis dengan bantuan computer SPSS 15.00 maka diperoleh hasil bahwa ada pengaruh olahraga jalan cepat 30 menit dengan treadmill dan tanpa treadmill terhadap penurunan kadar glukosa darah terhadap penderita diabetes mellitus tipe 2(p=0,028)dan (p=0,027) dan terdapat beda pengaruh diantara kedua kelompok tersebut (p=0,006).

Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dokter Gigi Terhadap Pasien Kegawatdaruratan Medis di Praktek Dokter Gigi Kota Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dokter Gigi Terhadap Pasien Kegawatdaruratan Medis di Praktek Dokter Gigi Kota Medan

Nadi merupakan refleksi perifer dari kerja jantung dan penjalaran gelombang dari proksimal (pangkal aorta) ke distal. Gelombang nadi tidak bersamaan dengan aliran darah tetapi menjalar lebih cepat. Nadi dapat dirasakan selama midsistole, saat konstraksi jantung dan saat ejeksi darah intrakardia sedang berlangsung. Kecepatan penjalaran nadi dapat menurun pada beberapa penyakit jantung, darah atau pembuluh darah, tetapi dapat meningkat pada kondisi lain. Intensitas nadi dapat berhubungan dengan karakteristik pembuluh darah dan tekanan nadi. Kecepatan denyut nadi normal pada dewasa yang sehat berkisar dari 50-100 denyut/menit dan anak berusia dibawah 10 tahun berkisar 60-90 denyut/menit. 38,39
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Data uji swelling power pH Waktu ( menit ) Uji Swelling Power Berat ( gr ) Sampel Tabung Tabung + pasta

Data uji swelling power pH Waktu ( menit ) Uji Swelling Power Berat ( gr ) Sampel Tabung Tabung + pasta

Menit ke-30 : Berat pasta = 54,0400 gr – 53,6294 gr = 0,4106 gr Menit ke-60 : Berat pasta = 54,1550 gr – 53,6702 gr = 0,3848 gr Menit ke-90 : Berat pasta = 55,1070 gr – 54,7382 gr = 0,3688 gr Menit ke-120 : Berat pasta = 55,1461 gr – 54,8144 gr = 0,3317 gr

22 Baca lebih lajut

Analisis Metode Fuzzy Analytical Network Process untuk Sistem Pengambilan Keputusan Pemeliharaan Jalan

Analisis Metode Fuzzy Analytical Network Process untuk Sistem Pengambilan Keputusan Pemeliharaan Jalan

Metode FANP tepat digunakan pada sistem penngambilan keputusan. Hal ini dibuktikan dengan kecocokan pada nilai dan proses perhitungan manual yang dijelaskan. Akurasi pada metode ini terhadap data Dinas PU Bina Marga mencapai 66,67%. Hal ini dapat terjadi karena pemberian tingkat kepentingan dari tiap kriteria bersifat subyektif. Dari hasil uji sensitivitas dapat disimpulkan bahwa kriteria kerusakan jalan dan kriteria kepadatan jalan mempunyai nilai yang lebih berpengaruh untuk mendapatkan bobot prioritas pemeliharaan jalan. Terlihat bahwa jika kedua nilai kriteria itu diubah dengan penambahan atau pengurangan, hasil yang didapatkan juga berubah cukup signifikan. Hal itu tidak terjadi pada kriteria tata guna lahan, dan terbukti jika nilai pada kriteria tata guna lahan dilakukan penambahan atau pengurangan, hasil prioritas yang didapat adalah sedikit adanya perubahan yang signifikan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) - Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) - Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

PLB akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi. Hal ini akan menurunkan volume residu, kapasitas vital meningkat dan distribusi ventilasi merata pada paru sehingga dapat memperbaiki pertukaran gas di alveol. Selain itu PLB dapat menurunkan ventilasi semenit, frekuensi napas, meningkatkan volume tidal, PaO2 saturasi oksigen darah, menurunkan PaCO2 dan memberikan keuntungan subjektif karena mengurangi rasa sesak napas pada penderita. PLB akan menjadi lebih efektif bila dilakukan bersama-sama dengan pernapasan diafragma. Ventilasi alveolar yang efektif terlihat setelah latihan berlangsung lebih dari 10 menit. 36
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

  PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KEBUGARAN LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA TEGALSARI DAN POSYANDU  Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kebugaran Lansia Di Posyandu Lanjut Usia Tegalsari Dan Posyandu Lanjut Usia Lodalang Siswodipuran Boyolali.

PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP KEBUGARAN LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA TEGALSARI DAN POSYANDU Pengaruh Senam Lansia Terhadap Kebugaran Lansia Di Posyandu Lanjut Usia Tegalsari Dan Posyandu Lanjut Usia Lodalang Siswodipuran Boyolali.

Hasil penelitian rata-rata berat badan subyek kelompok perlakuan pada pre test sebesar 56.40 ±7.57 kg dan pada post test 56.10 ±6.40kg, Rata-rata berat badan subyek kelompok kontrol pada pre test sebesar 61 ±7.27kg dan pada post test 56.40 ±7.38kg. data tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan berat badan subyek terutama pada kelompok perlakuan yang melakukan senam lansia selama 12 kali pertemuan dengan frekuensi 2 kali satu minggu dan intensitas 60 menit. Menurut Suharso (2007) berat badan lebih sesseorangg dapat berpengaruh pada kemampuan dan kecepatan berjalan. Orang dengan berat badan lebih akan lebih lambat berjalan dibanding dengan orang yang mempunyai berat badan normal. Hasil penelitian Arif (2015) menjelaskan ada hubungan antara kekuatan otot quadriceps femoris dengan kecepatan berjalan pada lanjut usia di Posyandu Dahlia Boyolali.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

UJI UJI KEMAMPUAN DIRI 6 (PENYELESAIAN) sulisriyanto196ymail.com

UJI UJI KEMAMPUAN DIRI 6 (PENYELESAIAN) sulisriyanto196ymail.com

4x – 3y = 23 x2 8x – 6y = 46 3x + 2y = -4 x3 9x + 6y = -12 17x = 34 x = 2 x = 2 3x + 2y = -4 3(2) + 2y = -4 6 + 2y = -4 2y = -4 – 6 2y = -10 y = -5 Nilai x – 2y = 2 – 2(-5) = 2 + 10 = 12 ( D )

Baca lebih lajut

Studi Eksperimen Pengaruh Kecepatan Fluidisasi Terhadap Unjuk Kerja Swirling Fluidized Bed Coal Dryer

Studi Eksperimen Pengaruh Kecepatan Fluidisasi Terhadap Unjuk Kerja Swirling Fluidized Bed Coal Dryer

dikeringkan berbentuk granular dengan diameter rata-rata sebesar ± 6 mm. Beban awal pengeringan di setiap variasi kecepatan adalah 600 gram. Pada setiap menit pengeringan, dicatat temperature dan relative humidity dari udara pengering. Diambil pula sampel batubara sebanyak ±3 gram untuk menghitung moisture content batubara pada beberapa menit pengeringannya. Dari penelitian ini didapatkan bahwa drying rate rata-rata pada kecepatan 15.9 m/s, 21.21 m/s, dan 25.61 m/s berturut-turut adalah 5.63 gr/min, 7.17 gr/min, dan 7.714 gr/min. Berdasarkan waktu pengeringan, pada menit ke-1 hingga menit ke-6 drying rate terbesar dicapai oleh kecepatan fludisasi 25.61 m/s (125% U mf ), pada menit ke-6 hingga menit ke-14 drying rate
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

8. Wiyono WH, Riyadi J, Yunus F, Ratnawati A, Prasetyo S. The benefit of pulmonary rehabilitation againts quality of life alteration and functional capacity of chronic obstructive pulmonary disease (COPD) patient assessed using St George’s respiratory questionnaire (SGRQ) and 6 minute walking distance test (6 MWD). Med J Indones 2005; 15: 165-72. 9. Ikalius, Yunus F, Suradi, Rachma Noer. Perubahan kualitas hidup dan

5 Baca lebih lajut

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Selamat pagi/siang, Bapak/Ibu/Sdr/i, saya dr.Octariany, PPDS Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, saat ini sedang melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK SETELAH MENGIKUTI PROGRAM REHABILITASI PARU di RSUP H.ADAM MALIK MEDAN yang DINILAI DENGAN CAT dan UJI JALAN 6 MENIT” dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup penderita PPOK. Bacalah informasi ini sebelum anda memutuskan apakah anda akan turut berpartisipasi atau tidak. Janganlah ragu-ragu untuk bertanya bila ada hal-hal yang belum dimengerti. Bila anda memutuskan untuk berpartisipasi, kami berharap anda akan menjalankan instruksi yang diberikan.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Analisis Kualitas Hidup Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Setelah Mengikuti Program Rehabilitasi Paru Yang Dinilai Dengan COPD Assessment Test (CAT) dan Uji Jalan 6 Menit

Pada sistem International Classification of Impairment Disability and Handicap (ICIDH) WHO, penyakit paru diklasifikasikan menjadi empat tingkat yaitu patologi, impairment, disability dan handicap. Impairment saluran napas merupakan hilangnya atau abnormaliti psikologis, fisiologis, struktur anatomi atau fungsi akibat penyakit saluran napas. Impairment merupakan keadaan patologi dan dapat ditentukan dengan pengukuran laboratorium. Pada penyakit saluran napas impairment menunjukkan penurunan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan udara yang terperangkap pada uji faal paru atau penurunan kekuatan otot quadriceps pada uji fungsi otot. Disability saluran napas akibat penyakit paru menunjukkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas normal. Pada keadaan ini terjadi penurunan fungsi dinamis dan keterbatasan kerja fisik. Pada rehabilitasi paru keadaan disability ditentukan oleh uji lapangan seperti uji jalan dalam waktu yang ditentukan dan kuesioner indeks sesak untuk mengukur derajat sesak. Handicap saluran napas adalah suatu keadaan akibat impairment dan disability sehingga penderita tidak mampu berperan dalam masyarakat seperti yang diharapkan, misalnya penurunan kinerja latihan saat uji jalan dalam waktu yang ditentukan merupakan disability tetapi kumpulan ketidakmampuan untuk mempertahankan pekerjaan adalah handicap. 35
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...