umbi bawang merah

Top PDF umbi bawang merah:

KUALITAS UMBI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) VARIETAS LEMBAH PALU PADA BERBAGAI PAKET PERLAKUAN MEDIA TANAM DI DESA MAKU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI | Hulzana | AGROTEKBIS 3649 11509 1 PB

KUALITAS UMBI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) VARIETAS LEMBAH PALU PADA BERBAGAI PAKET PERLAKUAN MEDIA TANAM DI DESA MAKU KECAMATAN SIGI BIROMARU KABUPATEN SIGI | Hulzana | AGROTEKBIS 3649 11509 1 PB

Semakin tinggi pemberian pupuk N maka semakin tinggi kadar protein yang ada pada bawang merah (Sapto Husodo, 2000). Untuk meningkatkan kadar protein pada tanaman bawang merah maka pemberian pupuk N pada harus sesuai dosis yang dianjurkan 250 kg/ha. Sedangkan dalam penelitian ini dosis pupuk N yang diberikan hanya 170 kg/ha. Sehingga kadar protein yang dihasilkan tidak mencapai standar yang ditentukan. Mineral umbi Bawang Merah Varietas Lembah Palu. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mineral umbi bawang merah varietas lembah Palu mempunyai nilai terendah 5,25 dan nilai rata-rata tertinggi 6,20. Melalui analisis keragaman diperoleh bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap mineral umbi bawang merah varietas Lembah Palu. Hal ini disebabkan karena penggunaan pupuk dalam penelitian tidak seimbang atau tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan sehingga tidak mempengaruhi kadar mineral bawang merah. (Tisdale, 1993) bahwa mineral sangat dipengaruhi oleh penggunaan pupuk yang seimbang antara pupuk anorganik, pupuk organik serta mulsa yang diberikan pada saat pengolahan tanah mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu sebagai pembentuk kesuburan fisik tanah, sehingga dapat memperbaiki struktur tanah, drainase, aerasi, daya simpan air, stabilitas suhu tanah, kegemburan tanah, daya serap air, penghambatan erosi permukaan dan pengikat partikel tanah.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Deteksi Dan Eliminasi Virus Pada Umbi Bawang Merah

Deteksi Dan Eliminasi Virus Pada Umbi Bawang Merah

OYDV, LYSV dan SLV dapat ditularkan oleh serangga M. persicae, M. ascalonicum dan Aphis fabae secara non persisten (Blackman dan Eastop 1995; Walkey 1990). Belum banyak informasi mengenai keberadaan serangga Myzus dan Aphis pada tanaman bawang merah di Indonesia. Wulandari et al. (2001) melaporkan terjadinya infeksi virus pada tanaman bawang bombai yang berasal dari biji mungkin disebabkan oleh vektor kutudaun yang berasal dari pertanaman di sekitarnya. Duriat (1985) melaporkan bahwa dinamika populasi kutudaun pada tanaman kentang telah diteliti selama 4 tahun (1979-1982) di empat lokasi di Jawa Barat. Di daerah tropis, kutudaun akan menjadi masalah dalam penularan virus. Hal ini terjadi karena di daerah tropis, kutudaun selalu aktif dan berkembang biak sepanjang waktu karena ketersediaan tanaman inang selalu ada sepanjang waktu. Tabel 5 Rata-rata infeksi virus pada sampel umbi bawang merah
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

S KIM 1003086 chapter3

S KIM 1003086 chapter3

Uji fitokimia ini dimaksudkan untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak umbi bawang merah. Uji fitokimia dilakukan dengan mendeteksi golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuhan, yaitu golongan senyawa alkaloid, terpenoid, steroid, saponin, tanin dan flavonoid. Adapun prosedur kerja yang dilakukan yaitu sebagai berikut:

11 Baca lebih lajut

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap  Pemberian Pupuk Fosfat  Dan Asam Humat.

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Pupuk Fosfat Dan Asam Humat.

Umbi yang digunakan adalah umbi bawang merah varietas lokal Samosir aksesi Bakkara yang diusahakan memiliki ukuran seragam. Umbi terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran yang menempel. Dilakukan pemotongan ¼ bagian dari ujung umbi dengan tujuan merangsang pembentukan tunas. Umbi bibit kemudian direndam dalam larutan fungisida Dithane M-45 selama 5 menit untuk menghindari serangan cendawan pathogen.

83 Baca lebih lajut

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar Gamma

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar Gamma

Tanaman bawang merah memiliki batang sejati (discus), yang merupakan bagian seperti kayu yang berada pada dasar umbi bawang merah, sebagai tempat melekatnya perakaran dan mata tunas. Pangkal daun akan bersatu dan membentuk batang semu (Sinclair, 1998). Pada bagian tengah cakram terdapat mata tunas utama yang memunculkan bunga. Tunas yang memunculkan bunga ini disebut tunas apikal, sedangkan tunas lain yang berada diantara lapisan kelopak daun dan dapat tumbuh menjadi tanaman baru disebut tunas lateral (Brewster, 2008).

9 Baca lebih lajut

Teknologi Pembibitan Bawang Merah (Allium ascalonicum L) melalui Teknik In Vitro, Umbi Udara, Biji Botani, dan Stek Mini Umbi Untuk Memperoleh Bibit Bermutu.

Teknologi Pembibitan Bawang Merah (Allium ascalonicum L) melalui Teknik In Vitro, Umbi Udara, Biji Botani, dan Stek Mini Umbi Untuk Memperoleh Bibit Bermutu.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran utama yang tergolong ke dalam kelompok lima besar sayuran penting di Indonesia. Pada umumnya bahan tanam bawang merah adalah umbi hasil panen yang telah disimpan 7-8 minggu. Propagasi vegetatif menggunakan umbi terus-menerus dalam waktu sangat lama berdampak terhadap penurunan produktivitas, karena terjadi akumulasi patogen terutama virus di dalam umbi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Infeksi virus pada umbi bawang merah ini tidak dapat dihentikan jika siklus penggunaan umbi dari sumber yang sama terus berlangsung. Berdasarkan uraian tersebut maka untuk mendapatkan bahan tanam berupa umbi yang mempunyai mutu tinggi perlu dilakukan pengkajian. Informasi teknologi pembibitan baik secara in vitro, penggunaan biji botani, umbi udara, maupun stek mini umbi konsumsi masih terbatas. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan memperoleh teknologi yang tepat dalam memproduksi umbi bibit bawang merah yang bermutu tinggi.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

View of PENGARUH ORGANIC SOIL TREATMENT (OST) DAN SELANG WAKTU APLIKASI LARUTAN LANDETO TERHADAP HASIL BAWANG MERAH PADA REGOSOL

View of PENGARUH ORGANIC SOIL TREATMENT (OST) DAN SELANG WAKTU APLIKASI LARUTAN LANDETO TERHADAP HASIL BAWANG MERAH PADA REGOSOL

Untuk meningkatkan produksi bawang merah, diperlukan ekstensifikasi maupun intensifikasi. Ekstensifikasi pada jenis tanah regosol memberikan peluang yang besar karena tanah ini memiliki konsistensi yang menguntungkan untuk pertumbuhan umbi bawang merah, namun tanah ini memiliki kekurangan sehingga diperlukan pengelolaan yang intensif melalui usaha perbaikan kesuburan tanah yaitu dengan memberikan bahan organik, karena bahan ini memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah juga dapat menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kehidupan mikroorganisme tanah yang menguntungkan (Larson & Clapp, 1984; De Datta & Hundel, 1984).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Bawang merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Samosir Generasi M1V5 Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Dataran Rendah

Pertumbuhan dan Produksi Bawang merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Samosir Generasi M1V5 Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Dataran Rendah

Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis. Umbi bawang merah terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Semakin banyak daun maka pelepah daunnya juga akan semakin banyak sehingga modifikasi pelepah daun menjadi lapisan penyusun umbi juga akan semakin banyak. Semakin banyak lapisan penyusun umbi maka akan semakin besar umbi yang akan dihasilkan (Hervandi et al ., 2009).

5 Baca lebih lajut

Penyimpanan Benih Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Pada Suhu Rendah Untuk Memperpanjang Masa Simpan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan

Penyimpanan Benih Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Pada Suhu Rendah Untuk Memperpanjang Masa Simpan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan

Penyimpanan umbi bawang merah pada suhu 10 °C, baik untuk umbi ukuran besar, sedang, dan kecil memiliki bentuk yang semakin lama akan semakin mengecil dan mengeriput disertai dengan tumbuhnya tunas yang semakin besar dan panjang. Berbeda dengan awal penyimpanan yang menunjukkan umbi bawang merah masih bulat mengkilat dan keras. Pada penyimpanan suhu 10 o C tingkat kerusakan tertinggi ditandai dengan pertumbuhan tunas. Hal ini disebabkan oleh hormon dan enzim giberelin yang aktif pada suhu 10 o C. Pada suhu tersebut karbohidrat terhidrolisis menjadi gula-gula sederhana yang digunakan untuk proses respirasi dan pembentukan karbon struktural untuk tunas yang baru. Kandungan gula dan enzim yang memetabolisme karbohidrat meningkat dengan pesat sedangkan kandungan pati menurun. Hal ini disebabkan karena pati didegradasi oleh α−amilase menjadi gula sederhana dan digunakan sebagai energi kemudian diangkut menuju titik tumbuh (Fasidi et al. 1995). Selama pertunasan, kadar protein dan lipid mengalami peningkatan. Peningkatan ini kemungkinan berhubungan dengan konversi karbohidrat dan lipid menjadi protein proteoplasma untuk tunas yang baru tumbuh. Hal ini juga diperkuat oleh Onwoeme (1978), yang menyatakan bahwa senyawa bermolekul besar dan kompleks seperti pati, protein, dan lemak dipecah menjadi kurang kompleks, larut air, dan mudah diangkut melalui membran dan dinding sel. Proses ini dibantu oleh aktivitas enzim dalam umbi.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Penentuan Karakteristik Termofisik Bawang Merah (Allium cepa var.ascalonicum)

Penentuan Karakteristik Termofisik Bawang Merah (Allium cepa var.ascalonicum)

Informasi tentang karakteristik termofisik bawang merah perlu diketahui untuk mengoptimalkan pasca panen bawang merah baik perlakuan pendinginan maupun pemanasan, serta untuk mengoptimalkan penggunaan energi selama pasca panen. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan karakteristik termofisik dari bawang merah (daun dan umbi) yang terdiri atas kadar air, nilai difusivitas panas, konduktivitas panas, massa jenis, dan panas jenis serta mendapatkan model persamaan matematis hubungan kadar air terhadap nilai termofisik bawang merah. Pengeringan daun dan umbi bawang merah selama 6 hari menghasilkan nilai panas jenis, konduktivitas panas dan massa jenis yang berbanding lurus dengan perubahan kadar air dalam bahan terutama pada pengeringan daun bawang merah. Difusivitas panas bawang merah ditentukan menggunakan metode numerik dari data suhu pendinginan umbi bawang merah yang menghasilkan data difusivitas 1.433 x 10 -8 m 2 /s dengan ketepatan rata-rata sebesar 93.37 %.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah

Pengaruh Varietas dan Ukuran Umbi terhadap Produktivitas Bawang Merah

ABTRAK. Peningkatan areal pertanaman bawang merah mendorong peningkatan pemanfaatan varietas unggul dan ketersediaan umbi berkualitas sebagai sumber benih. Studi varietas dan ukuran umbi bawang merah terhadap produktivitas hasil telah dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Agustus sampai November 2009. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh varietas dan ukuran umbi terhadap produktivitas bawang merah. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola factorial dengan enam ulangan. Tiga varietas yaitu: Bima, Maja, dan Sumenep dan ukuran umbi, yaitu: kecil (1,04 - 1,29 cm), sedang (1,47-1,67 cm), dan besar (1,93-2,05 cm) diuji dalam penelitian ini. Parameter yang diamati ialah jumlah umbi, diameter umbi, bobot basah, dan bobot kering umbi per rumpun dan per umbi serta per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bawang merah menggunakan umbi ukuran sedang tidak berbeda nyata dengan umbi ukuran besar. Penggunaan umbi ukuran sedang dalam sistem produksi bawang merah dapat mengurangi biaya produksi sebesar 33-40% tanpa mengurangi tingkat produktivitasnya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Identifikasi Morfologi Dan Molekuler Antar Generasi Pada Bawang Merah (Allium Cepa L. Aggregatum Group).

Identifikasi Morfologi Dan Molekuler Antar Generasi Pada Bawang Merah (Allium Cepa L. Aggregatum Group).

Bawang merah (Allium cepa L. Aggregatum group) di wilayah tropis lebih populer dibandingkan bawang bombai. Bawang bombai dapat ditumbuhkan di dataran tinggi wilayah tropis, tetapi bawang merah yang menghasilkan kluster umbi yang kecil lebih banyak ditanam petani di dataran rendah (Currah 2002). Bawang merah menjadi komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Harga bawang merah sangat fluktuatif dan kebutuhan bawang merah hampir selalu dipenuhi oleh bantuan impor (Kementan 2013). Permasalahan utama bawang merah disebabkan produksinya yang tidak merata sepanjang tahun. Bawang merah di Indonesia kebanyakan ditanam di lahan sawah. Pada musim basah petani lebih memilih untuk menanam padi daripada bawang merah sehingga di pasaran tidak terdapat pasokan bawang merah yang cukup, kemudian pada musim kering produksi bawang merah meningkat kembali. Terlepas dari hal tersebut, sistem produksi bawang merah di Indonesia juga belum terprogram dengan baik. Perbanyakan bawang merah di Indonesia dilakukan secara vegetatif. Aturan mengenai batas generasi umbi bawang merah yang dapat digunakan sebagai bahan tanam belum jelas, padahal perbanyakan secara vegetatif dapat menimbulkan penurunan produktivitas akibat degenerasi klonal. Degenerasi pada kultivar klonal utamanya terjadi karena asal perbanyakan tanaman telah terinfeksi bakteri atau virus, dan degenerasi lain disebabkan mutasi alami (Brown dan Caligari 2008).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Karya tulis ilmiah bawabg merah

Karya tulis ilmiah bawabg merah

lapisan-lapisan daun yang membesar dan bersatu. Umbi bawang merah bukan merupakan umbi sejati seperti kentang atau talas. Bawang merah merupakan sayuran umbi yang multiguna, dapat digunakan sebagai bumbu masakan, sayuran, penyedap masakan, di samping sebagai obat tradisional karena efek antiseptik senyawa anilin dan alisin yang dikandungnya (Rukmana, 1994). Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional (Deptan, 2005). Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin (Muhlizah dan Hening-S, 2000).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap   Pemberian Pupuk Fosfat  Dan Asam Humat.

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Pupuk Fosfat Dan Asam Humat.

Umbi yang digunakan adalah umbi bawang merah varietas lokal Samosir aksesi Bakkara yang diusahakan memiliki ukuran seragam. Umbi terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran yang menempel. Dilakukan pemotongan ¼ bagian dari ujung umbi dengan tujuan merangsang pembentukan tunas. Umbi bibit kemudian direndam dalam larutan fungisida Dithane M-45 selama 5 menit untuk menghindari serangan cendawan pathogen.

83 Baca lebih lajut

Reference Sebaran Lokasi Penanaman Bawang Merah Lokal Samosir Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Daerah Tangkapan Air Danau Toba

Reference Sebaran Lokasi Penanaman Bawang Merah Lokal Samosir Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Daerah Tangkapan Air Danau Toba

Pertumbuhan Hasil dan Kualitas Umbi Bawang Merah pada Kadar Air Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda.. Bertanam Bawang Merah Secara Organik.[r]

2 Baca lebih lajut

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Susut bobot selama penyimpanan merupakan salah satu parameter mutu yang menunjukkan tingkat kesegaran. Perubahan susut bobot yang terjadi seiring dengan waktu penyimpanan, yang dimana semakin lama bawang merah disimpan maka susut bobot yang terjadi akan semakin meningkat. Kenaikan susut bobot tidak lepas dari kelembaban (RH) lingkungan dan suhu serta lama umbi bawang disimpan (BPTP 2011). Selama penyimpanan bawang merah mengalami susut bobot sebagai akibat dari proses penguapan, kebusukan dan kerusakan dari umbi bawang merah. Hutabarat (2008) menyatakan meningkatnya susut bobot sebagian besar disebabkan oleh kehilangan air akibat transpirasi dan terurainya glukosa menjadi CO 2 dan H 2 O selama proses respirasi walaupun dalam jumlah kecil. Gas
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Alternatif Bahan Tanam Selain Umbi Pada Budidaya Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)

Alternatif Bahan Tanam Selain Umbi Pada Budidaya Bawang Merah (Allium Ascalonicum L)

Percobaan ini dilakukan di rumah kaca kebun percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor dari bulan Maret hingga Agustus 2014. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh media tanam terbaik pada masing-masing bahan tanam. Tunas diperoleh dari umbi yang telah bertunas selama masa penyimpanan. Percobaaan ini merupakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah bahan tanam yang terdiri atas umbi dan tunas. Faktor ke dua yaitu media tanam yang terdiri atas campuran tanah dan arang sekam (1:1), campuran tanah dan pupuk kandang (1:1) dan campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1). Masing- masing kombinasi perlakuan diulang empat kali. Campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang (1:1:1) menghasilkan bobot umbi kering per petak tertinggi yaitu 755.43 g m 2 . Persentase tanaman yang dapat dipanen dari tunas sebesar 73.3%. Penanaman tunas sebagai bahan tanam dapat meningkatkan bobot per umbi namun menurunkan bobot per satuan luas. Tanaman asal tunas memberikan hasil yang cenderung sama pada setiap media tanam yang diujikan.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...