umbi bawang merah

Top PDF umbi bawang merah:

Teknologi Pembibitan Bawang Merah (Allium ascalonicum L) melalui Teknik In Vitro, Umbi Udara, Biji Botani, dan Stek Mini Umbi Untuk Memperoleh Bibit Bermutu.

Teknologi Pembibitan Bawang Merah (Allium ascalonicum L) melalui Teknik In Vitro, Umbi Udara, Biji Botani, dan Stek Mini Umbi Untuk Memperoleh Bibit Bermutu.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran utama yang tergolong ke dalam kelompok lima besar sayuran penting di Indonesia. Pada umumnya bahan tanam bawang merah adalah umbi hasil panen yang telah disimpan 7-8 minggu. Propagasi vegetatif menggunakan umbi terus-menerus dalam waktu sangat lama berdampak terhadap penurunan produktivitas, karena terjadi akumulasi patogen terutama virus di dalam umbi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Infeksi virus pada umbi bawang merah ini tidak dapat dihentikan jika siklus penggunaan umbi dari sumber yang sama terus berlangsung. Berdasarkan uraian tersebut maka untuk mendapatkan bahan tanam berupa umbi yang mempunyai mutu tinggi perlu dilakukan pengkajian. Informasi teknologi pembibitan baik secara in vitro, penggunaan biji botani, umbi udara, maupun stek mini umbi konsumsi masih terbatas. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan memperoleh teknologi yang tepat dalam memproduksi umbi bibit bawang merah yang bermutu tinggi.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Penyimpanan Benih Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Pada Suhu Rendah Untuk Memperpanjang Masa Simpan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan

Penyimpanan Benih Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Pada Suhu Rendah Untuk Memperpanjang Masa Simpan Dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan

Penyimpanan umbi bawang merah pada suhu 10 °C, baik untuk umbi ukuran besar, sedang, dan kecil memiliki bentuk yang semakin lama akan semakin mengecil dan mengeriput disertai dengan tumbuhnya tunas yang semakin besar dan panjang. Berbeda dengan awal penyimpanan yang menunjukkan umbi bawang merah masih bulat mengkilat dan keras. Pada penyimpanan suhu 10 o C tingkat kerusakan tertinggi ditandai dengan pertumbuhan tunas. Hal ini disebabkan oleh hormon dan enzim giberelin yang aktif pada suhu 10 o C. Pada suhu tersebut karbohidrat terhidrolisis menjadi gula-gula sederhana yang digunakan untuk proses respirasi dan pembentukan karbon struktural untuk tunas yang baru. Kandungan gula dan enzim yang memetabolisme karbohidrat meningkat dengan pesat sedangkan kandungan pati menurun. Hal ini disebabkan karena pati didegradasi oleh α−amilase menjadi gula sederhana dan digunakan sebagai energi kemudian diangkut menuju titik tumbuh (Fasidi et al. 1995). Selama pertunasan, kadar protein dan lipid mengalami peningkatan. Peningkatan ini kemungkinan berhubungan dengan konversi karbohidrat dan lipid menjadi protein proteoplasma untuk tunas yang baru tumbuh. Hal ini juga diperkuat oleh Onwoeme (1978), yang menyatakan bahwa senyawa bermolekul besar dan kompleks seperti pati, protein, dan lemak dipecah menjadi kurang kompleks, larut air, dan mudah diangkut melalui membran dan dinding sel. Proses ini dibantu oleh aktivitas enzim dalam umbi.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar Gamma

Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Aksesi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Humbang Hasundutan Pada Berbagai Dosis Iradiasi Sinar Gamma

Pengaruh iradiasi sinar gamma pada tanaman bawang merah dalam peubah amatan bobot segar umbi dan bobot kering umbi, pertumbuhan dan hasil umbi tanaman kontrol lebih baik jika dibandingkan dengan tanaman yang diiradiasi pada generasi pertama, hal ini dikarenakan pada generasi pertama terjadi kerusakan fisiologis umbi bawang merah yang diradiasi sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman tanpa iradiasi lebih baik dibandingkan tanaman dengan iradiasi (Sunarjono, dkk., 1984).

9 Baca lebih lajut

Deteksi Dan Eliminasi Virus Pada Umbi Bawang Merah

Deteksi Dan Eliminasi Virus Pada Umbi Bawang Merah

OYDV, LYSV dan SLV dapat ditularkan oleh serangga M. persicae, M. ascalonicum dan Aphis fabae secara non persisten (Blackman dan Eastop 1995; Walkey 1990). Belum banyak informasi mengenai keberadaan serangga Myzus dan Aphis pada tanaman bawang merah di Indonesia. Wulandari et al. (2001) melaporkan terjadinya infeksi virus pada tanaman bawang bombai yang berasal dari biji mungkin disebabkan oleh vektor kutudaun yang berasal dari pertanaman di sekitarnya. Duriat (1985) melaporkan bahwa dinamika populasi kutudaun pada tanaman kentang telah diteliti selama 4 tahun (1979-1982) di empat lokasi di Jawa Barat. Di daerah tropis, kutudaun akan menjadi masalah dalam penularan virus. Hal ini terjadi karena di daerah tropis, kutudaun selalu aktif dan berkembang biak sepanjang waktu karena ketersediaan tanaman inang selalu ada sepanjang waktu. Tabel 5 Rata-rata infeksi virus pada sampel umbi bawang merah
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

S KIM 1003086 chapter3

S KIM 1003086 chapter3

cm, dengan batas atas 1,5 cm dan batas bawah 2 cm. Ekstrak umbi bawang merah hasil maserasi maupun soxhletasi juga hasil fraksinya kemudian diteteskan pada lempeng KLT dengan bantuan pipa kapiler. Lempeng KLT yang telah siap dimasukkan ke dalam chamber yang sebelumnya telah dijenuhkan dengan eluen n-hexan: etil asetat : metanol dengan perbandingan 3 : 7 : 1. Setelah noda sampai pada batas atas lempeng kemudian diambil dan dibandingkan hasilnya dari ekstrak dengan teknik soxhletasi dan maserasi juga hasil fraksinasinya dibawah sinar UV.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pembelahan Umbi pada Beberapa Jarak Tanam

Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pembelahan Umbi pada Beberapa Jarak Tanam

Bawang merah adalah salah satu komoditi unggulan di beberapa daerah di Indonesia, yang digunakan sebagai bumbu masakan dan memiliki kandungan beberapa zat yang bermanfaat bagi kesehatan, dan khasiatnya sebagai zat anti kanker dan pengganti antibiotik, penurunan tekanan darah, kolestrol serta penurunan kadar gula darah. Menurut penelitian, bawang merah mengandung kalsium, fosfor, zat besi, karbohidrat, vitamin seperti A dan C (Irawan, 2010).

Baca lebih lajut

PENGARUH VARIETAS BAWANG MERAH DAN METODE PEMBUATAN TERHADAP KARAKTERISTIK BAWANG MERAH GORENG (Allium ascalonicum L.) - repo unpas

PENGARUH VARIETAS BAWANG MERAH DAN METODE PEMBUATAN TERHADAP KARAKTERISTIK BAWANG MERAH GORENG (Allium ascalonicum L.) - repo unpas

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan pewarna Rhodamin B pada kue ku dan Methanyl yellow pada kue bika ambon serta kemungkinan penggunaan pewarna lainnya pada kedua kue tersebut. Manfaat dari penelitian ini adalah agar masyarakat lebih selektif lagi dalam memilih jajanan pasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sampling purposive. Sampel jajanan pasar diambil sebanyak 18 sampel, 9 sampel dari kue yang berwarna merah yaitu kue ku dan 9 sampel kue yang berwarna kuning yaitu kue bika ambon. Selanjutnya kue dianalisis dengan menggunakan metode spot test, apabila hasil positif mengandung Rhodamin B dan Methanyl yellow dilanjutkan dengan analisis kuantitatif menggunakan metode spektrofotometri. Jika, keseluruhan sampel dalam analisis kualitatif negatif mengandung Rhodamin B dan Methanyl yellow, maka untuk menentukan zat warna yang terkandung dalam kue ku dan kue bika ambon digunakan metode spot test dan kromatografi lapis tipis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel kue ku negatif mengandung Rhodamin B tetapi menggunakan pewarna Ponceau 4R dan semua sampel bika ambon negatif mengandung Methanyl yellow tetapi menggunakan pewarna kurkumin. Pengujian kualitatif terhadap kue ku yang mengandung Ponceau 4R dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis dengan Rf adalah 0,646 terhadap Rf standar Ponceau 4R adalah 0,677. Pengujian kualitatif terhadap bika ambon yang mengandung kurkumin dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis dengan Rf adalah 0,815 terhadap Rf standar kurkumin adalah 0,870.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penentuan Karakteristik Termofisik Bawang Merah (Allium cepa var.ascalonicum)

Penentuan Karakteristik Termofisik Bawang Merah (Allium cepa var.ascalonicum)

Bawang merah (Allium cepa var.ascalonicum) merupakan salah satu produk pertanian yang berguna sebagai bahan obat-obatan dan bahan penyedap rasa. Bawang merah, seperti bawang putih termasuk kelompok Alliaceae dan berasal dari Asia Tengah. Bawang merah di budidayakan oleh para petani di daerah Brebes, Jawa Tengah. Pada tahun 2004, konsumsi bawang merah penduduk Indonesia mencapai 725.00 ton, dan terus meningkat sekitar 5% setiap tahunnya sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan berkembangnya industri makanan (Kementan 2006). Namun peningkatan konsumsi bawang merah ini tidak setara dengan peningkatan produksi bawang merah yang dihasilkan oleh petani. Penanganan teknologi pascapanen bawang merah oleh petani masih dilaksanakan secara tradisional sehingga kehilangan hasil cukup tinggi. Penanganan pasca panen tersebut menghasilkan mutu dan kuantitas yang rendah dibandingkan dengan bawang merah impor.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pembelahan Umbi pada Beberapa Jarak Tanam

Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pembelahan Umbi pada Beberapa Jarak Tanam

Bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi (0-900 m dpl) dengan curah hujan 300-2500 mm/th. Namun, pertumbuhan tanaman maupun umbi yang terbaik di ketinggian sampai 250 m dpl. Bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di ketinggian 800-900 m dpl, tetapi umbinya lebih kecil. Selain itu, umurnya lebih panjang dibanding umur tanaman di dataran rendah karena suhu di dataran tinggi lebih rendah (Rahayu dan Berlian, 1999).

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK KANDANG AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) VARIETAS LEMBAH PALU | Budianto,Nirwan Sahiri, Ichwan S.Madauna | AGROTEKBIS 5163 16878 1 PB

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK KANDANG AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) VARIETAS LEMBAH PALU | Budianto,Nirwan Sahiri, Ichwan S.Madauna | AGROTEKBIS 5163 16878 1 PB

sempurna pada umur 2, 4, 6, dan 8 MST terhadap 10 tanaman sampel dalam ubinan. Komponen Hasil . Jumlah umbi per rumpun dihitung setelah panen terhadap 10 tanaman sampel ubinan. Berat umbi basah/segar (g), ditimbang setelah panen terhadap semua umbi/bedeng. Berat umbi kering ditimbang setelah panen dan diangin-anginkan selama 10 hari terhadap semua umbi/bedeng. Produksi umbi/hektar (eskip) ditimbang setelah panen yang merupakan dari berat kering yang dianginkan selama 10 hari. Bobot eskip ton ha -1 dihitung dengan mengkonversi dari hasil umbi/bedeng perlakuan dengan rumus :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap  Pemberian Pupuk Fosfat  Dan Asam Humat.

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Pupuk Fosfat Dan Asam Humat.

Pupuk fosfat bila ditambah ke dalam tanah, tidak semua fosfat dari pupuk tersebut dapat diserap oleh akar tanaman tetapi sebagian dari pupuk tersebut diikat oleh ion metal dan Ca. Asam humat dapat membantu penyerapan fosfat karena ion-ion organik dari asam humat dapat mengikat ion seperti metal dan Ca. Oleh karena itu, pemberian pupuk fosfat dan asam humat diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian dilaksanakan di lahan yang berlokasi di Jalan Pasar 1 Ringroad Medan, pada Agustus s/d November 2014, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor yaitu dosis pupuk fosfat (250, 200, 150, 100 kg/ha) dan asam humat (0, 2,5, 5 ton/ha). Parameter yang diamati adalah panjang tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan tanaman, bobot basah per sampel dan bobot kering per sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian asam humat nyata meningkatkan panjang tanaman 4 minggu setelah tanam (MST) dan jumlah daun pada 5,6 dan 7 MST. Interaksi antara pupuk fosfat dan asam humat berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada 4 MST jumlah daun terbanyak dihasilkan oleh kombinasi pupuk fosfat 100 kg/ha dan asam humat 5 kg/ha (P 4 A 3 ) yaitu 19,67 helai.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

APLIKASI KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL PADA BEBERAPA KOMPOSISI MEDIA TANAM BERBAHAN COCOPEAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L)

APLIKASI KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL PADA BEBERAPA KOMPOSISI MEDIA TANAM BERBAHAN COCOPEAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L)

Bawang merah (Allium ascalonicum L) termasuk dalam salah satu komoditas hortikultura yang memiliki potensi baik untuk dikembangkan di Indonesia. Selain itu, bawang merah merupakan tanaman yang mengandung banyak manfaat dan gizi serta senyawa yang tergolong zat non gizi dan enzim yang sangat bermanfaat untuk terapi kesehatan, serta dapat meningkatkan dan mempertahankan kesehatan tubuh manusia (Hamdani, 2008). Kebutuhan bawang merah di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan sebanyak 5%. Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah populasi penduduk di Indonesia setiap tahunya yang juga mengalami peningkatan (Yetti dan Evanani, 2008).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap   Pemberian Pupuk Fosfat  Dan Asam Humat.

Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Pupuk Fosfat Dan Asam Humat.

Produksi bawang merah provinsi Sumatera Utara pada tahun 2012 yang dikutip dari BPS (2014) adalah 14.158 ton, sedangkan kebutuhan bawang merah diperkirakan mencapai 34.395 ton. Dari data tersebut, produksi bawang merah Sumatera Utara masih jauh di bawah kebutuhan. Produktivitas bawang merah Sumatera Utara adalah 8,96 ton/ha, sedangkan produktivitas nasional adalah 9,69 ton/ha. Jadi produktivitas bawang Sumatera Utara masih dibawah produktivitas bawang merah nasional dan masih bisa ditingkatkan. Salah satu caranya yaitu dengan pemupukan yang berimbang antara pupuk kimia dengan bahan organik untuk meningkatkan efesiensi pemupukan terutama yang efesiensi pemupukannya rendah yaitu pupuk fosfat.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

Tanggap Pembungaan dan Pembentukan Biji Bawang Merah Terhadap Konsentrasi GA3 dan  Perendaman di Dataran Rendah

Tanggap Pembungaan dan Pembentukan Biji Bawang Merah Terhadap Konsentrasi GA3 dan Perendaman di Dataran Rendah

Sisworo. 2000. Biodekomposisi Beberapa Bahan Lignoselulosa dan Efektifitas Produknya Dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanam Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Steel, R. G. D., dan J. H. Torrie., 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika

Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Aplikasi Mulsa dan Perbedaan Jarak Tanam

Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Aplikasi Mulsa dan Perbedaan Jarak Tanam

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Semoga hasil skripsi ini bermanfaat bagi budidaya bawang merah serta bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Pemberian Beberapa Jenis Pupuk Organik di Tanah yang Terkena Abu Vulkanik Sinabung

Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Pemberian Beberapa Jenis Pupuk Organik di Tanah yang Terkena Abu Vulkanik Sinabung

Adapun judul dari skripsi ini adalah “ Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Pemberian Beberapa Pupuk Organik di Tanah yang Terkena Debu Vulkanik Sinabung ” . Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Baca lebih lajut

Identifikasi Morfologi Dan Molekuler Antar Generasi Pada Bawang Merah (Allium Cepa L. Aggregatum Group).

Identifikasi Morfologi Dan Molekuler Antar Generasi Pada Bawang Merah (Allium Cepa L. Aggregatum Group).

Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT Pasir Kuda, Desa Pasir Mas, Kecamatan Ciomas, Bogor. Kebun berada pada ketinggian 260 mdpl. Suhu rata-rata bulanan selama percobaan berkisar 25.2 – 26.3 o C, sementara kelembapan relatif berkisar 45 – 87% (BMKG 2015). Bawang merah ditanam di bawah rumah plastik sehingga curah hujan dianggap kurang penting. Menurut Balitsa (2005) bawang merah sangat peka terhadap air, sehingga penyiraman dilakukan satu kali dalam dua hari. Di wilayah tropis bawang merah baik ditanam di daerah dengan kisaran suhu 25 – 32 o C dan kelembapan relatif 50 – 70%. Kelembapan relatif di kebun percobaan sedikit lebih tinggi, namun secara umum tanaman masih dapat tumbuh dengan baik. Tidak terdapat serangan hama ataupun penyakit yang berarti selama periode penelitian. Bawang merah generasi dua, dipanen lebih awal (72 hari setelah tanam), sementara bawang merah generasi nol dan satu dipanen lebih lama (77 hari setelah tanam).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Respon Kualitas Pascapanen Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terolah Minimal Pada Beberapa Suhu Penyimpanan.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Mutia et al. (2014), terlihat bahwa suhu ruang lebih memicu terjadinya kerusakan umbi busuk/jamur pada bawang merah selama penyimpanan dibandingkan suhu dingin. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat pertumbuhan mikroba pada suhu ruang yang menimbulkan busuk jamur pada bawang merah. Hal tersebut menunjukkan bawang merah terolah minimal sebelum penyimpanan perlu penambahan larutan anti mikroba atau busuk jamur untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh jamur. Penyakit busuk jamur pada bawang merah disebabkan oleh A.niger dan cendawan fusarium berupa miselia hitam pada permukaan umbi. A.niger dan cendawan fusarium berkembang cepat pada kondisi hangat. Sesuai dengan pendapat Nugraha et al. (2012) bahwa kerusakan busuk dan jamur pada bawang merah disebabkan oleh Penicillium spp., Aspergillus spp., Botrytis spp., Fusarium spp., Pseudomonas spp., dan Erwinia spp yang berkembang dengan cepat karena terlalu tingginya suhu dan kelembaban selama penyimpanan.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Pengaruh Teknik Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh dan Umur Pindah Tanam Bibit TSS (True Shallot Seeds) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascaloicum L.)

Pengaruh Teknik Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh dan Umur Pindah Tanam Bibit TSS (True Shallot Seeds) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascaloicum L.)

Sumarni, N dan Achmad, H. 2005. Budidaya Bawang Merah. Panduan teknis PTT bawang merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hortikultura. No.3. ISBN : 979-8304-49-7 Sumarni, N, Sumiati, E., dan Suwandi. 2005. Pengaruh kerapatan Tanaman dan

Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Bawang merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Samosir Generasi M1V5 Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Dataran Rendah

Pertumbuhan dan Produksi Bawang merah (Allium ascalonicum L.) Lokal Samosir Generasi M1V5 Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Dataran Rendah

Tanaman bawang merah tumbuh baik pada tanah berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, drainase/aerasi baik, mengandung bahan organik yang cukup. Tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang merah akan tetapi tanaman ini banyak membutuhkan air terutama dalam masa pembentukan umbi (Nani dan Hidayat, 2010).

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...