Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999

Top PDF Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999:

PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 T

PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 T

Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, telah menimbulkan ketidakpastian hukum dalam berusaha di bidang pertambangan di kawasan hutan terutama bagi pemegang izin atau perjanjian sebelum berlakunya Undang-undang tersebut. Ketidakpastian tersebut terjadi, karena dalam ketentuan Undang-undang tersebut tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa perizinan atau perjanjian di bidang per- tambangan yang berada di kawasan hutan yang telah ada sebelum berlakunya Undang- undang tersebut tetap berlaku. Tidak adanya ketentuan tersebut mengakibatkan status dari izin atau perjanjian yang ada sebelum berlakunya Undang-undang tersebut menjadi tidak jelas dan bahkan dapat diartikan menjadi tidak berlaku lagi. Hal ini diperkuat ketentuan Pasal 38 ayat (4) yang menyatakan secara tegas bahwa pada kawasan hutan lindung dilarang melaku-kan penambangan dengan pola pertambangan terbuka. Ketentuan tersebut semestinya hanya berlaku sesudah berlakunya Undang-undang tersebut dan tidak diberlakukan surut.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PP Pengganti UU No 1 th 2004 PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN

PP Pengganti UU No 1 th 2004 PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN

c. bahwa dalam rangka terciptanya kepastian hukum dalam berusaha di bidang pertambangan yang berada di kawasan hutan, dan mendorong minat serta kepercayaan investor untuk berusaha di Indonesia, dipandang perlu untuk melakukan perubahan terhadap Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang;

5 Baca lebih lajut

undang undang nomor 41 tahun 1999 ttg kehutanan

undang undang nomor 41 tahun 1999 ttg kehutanan

Sejalan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional yang mewajibkan agar bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, maka penyelenggaraan kehutanan senantiasa mengandung jiwa dan semangat kerakyatan, berkeadilan dan berkelanjutan. Oleh karena itu penyelenggaraan kehutanan harus dilakukan dengan asas manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbu-kaan dan keterpaduan dengan dilandasi akhlak mulia dan bertanggung-gugat. Penguasaan hutan oleh Negara bukan merupakan pemilikan, tetapi Negara memberi wewenang kepada Pemerintah untuk mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan; menetapkan kawasan hutan dan atau mengubah status kawasan hutan; mengatur dan menetapkan hubungan hukum antara orang dengan hutan atau kawasan hutan dan hasil hutan, serta mengatur perbuatan hukum mengenai kehutanan. Selanjutnya Pemerintah mempunyai wewenang untuk mem-berikan izin dan hak kepada pihak lain untuk melakukan kegiatan di bidang kehutanan. Namun demikian untuk hal-hal tertentu yang sangat penting, berskala dan berdampak luas serta bernilai strategis, Pemerintah harus mem-perhatikan aspirasi rakyat melalui persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Index of /ProdukHukum/kehutanan

Index of /ProdukHukum/kehutanan

4. Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang Undang (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4412); 5. Undang Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

APBI-ICMA  Undang-undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan uu no 41 th 1999

APBI-ICMA Undang-undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan uu no 41 th 1999

h. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan. (3) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya kepada penuntut umum, sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

27 Baca lebih lajut

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999

(1) Set iap perbuat an melanggar hukum yang diat ur dalam undang-undang ini, dengan t idak mengurangi sanksi pidana sebagaimana diat ur dalam Pasal 78, mewaj ibkan kepada penanggung j awab perbuat an it u unt uk membayar gant i rugi sesuai dengan t ingkat kerusakan at au akibat yang dit imbulkan kepada Negara, unt uk biaya rehabilit asi, pemulihan kondisi hut an, at au t indakan lain yang diperlukan.

24 Baca lebih lajut

T1__Daftar Pustaka Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tanggungjawab Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana Pembakaran Hutan T1  Daftar Pustaka

T1__Daftar Pustaka Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tanggungjawab Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana Pembakaran Hutan T1 Daftar Pustaka

Muladi, Dwidja, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi , Edisi Revisi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010. Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum , Edisi Revisi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2005. R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana , Politeia, Bogor, 1996.

4 Baca lebih lajut

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

b. bahwa hal tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dalam berusaha di bidang pertambangan di kawasan hutan terutama bagi investor yang telah memiliki izin atau perjanjian sebelum berlakunya Undang-undang tersebut, sehingga dapat menempatkan Pemerintah dalam posisi yang sulit dalam mengembangkan iklim investasi;

10 Baca lebih lajut

SK 319 Thn 2017 ttg Perubahan IL.PT.AW 2.363 Ha

SK 319 Thn 2017 ttg Perubahan IL.PT.AW 2.363 Ha

Menimbang : a. bahwa dalam rangka untuk menindaklanjuti Arahan Perubahan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Bidang Perkebunan terhadap Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan dalam Izin Lingkungan sesuia dengan Surat Kementerian Lingkungan Hidup Nomor : B- 344/Dep.I/LH/PDAL/1/2015 tanggal 15 Januari 2015,maka Keputusan Bupati Barito Kuala Nomor : 188.45/490/KUM/2014 tentang Izin Lingkungan Atas Kegiatan Perkebunan Karet PT. Anugerah Wattiendo di Desa Danau Karya, Banyiur, Mentaren, Gandaria dan Gandaraya, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, merupakan kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL), maka perlu dilakukan penyesuaian dan penyempurnaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan melalui perubahan;
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004

Sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu untuk mengubah Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Perubahan tersebut adalah menambah ketentuan bahwa semua perizinan atau perjanjian di bidang pertambangan yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan tetap berlaku sampai berakhirnya izin atau perjanjian dimaksud. Karena jenis dan jumlah perizinan dan perjanjian tersebut masih memerlukan penelitian oleh para Menteri terkait, maka pelaksanaan lebih lanjut dari kebijakan tersebut ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

T1__BAB III Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: PrinsipPrinsip Pengaturan tentang Pencegahan dan  Kebakaran Hutan T1  BAB III

T1__BAB III Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: PrinsipPrinsip Pengaturan tentang Pencegahan dan Kebakaran Hutan T1 BAB III

Pada Pasal 7 undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemeberantasan Kerusakan Hutan dan Pasal 3 Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan/atau Lahan sama-sama mengatur tentang setiap orang baik itu masyarakat, badan hukum, dan koporasi yang memperoleh izin pemanfaatan hutan wajib mencegah terjadinya kebakaran hutan.

11 Baca lebih lajut

SK  305 Thn 2017 ttg IL.PT.ASIH HUTLA

SK 305 Thn 2017 ttg IL.PT.ASIH HUTLA

. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 147, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5056);

7 Baca lebih lajut

ProdukHukum MENKOKESRA

ProdukHukum MENKOKESRA

b. b. bahwa hal tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dalam berusaha di bidang pertambangan di kawasan hutan terutama bagi investor yang telah memiliki izin atau perjanjian sebelum berlakunya Undang-undang tersebut, sehingga dapat menempatkan Pemerintah dalam posisi yang sulit dalam mengembangkan iklim investasi;

1 Baca lebih lajut

Index of /ProdukHukum/kehutanan

Index of /ProdukHukum/kehutanan

4. Kegiatan yang sudah dilaksanakan berdasarkan SK Menhut Nomor 8205/ Kpts-I I / 2002 tentang Pedoman Rehabilitasi di Kawasan Taman Nasional, serta Petunjuk Teknis Rehabilitasi Habitat di Kawasan Konservasi selanjutnya disesuaikan dengan Peraturan Menteri Kehutanan ini.

8 Baca lebih lajut

ANALISA KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (APBD) PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN MALANG PERIODE 2010 - 2014

ANALISA KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (APBD) PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN MALANG PERIODE 2010 - 2014

Tujuan dari penelitian dengan judul Analisa Kinerja pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Malang Periode 2010-2014 adalah untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah daerah Kabupaten Malang selama lima tahun terakhir (2010-2014) dengan analisis rasio kemandirian, efektifitas dan efisiensi PAD, rasio belanja rutin terhadap total belanja, rasio belanja pembangunan terhadap total belanja, rasio pertumbuhan dan analisis laporan arus kas.

19 Baca lebih lajut

3.UU .19 20004 PERPPU PENGGANTI UU .41 1999 KEHUTANAN

3.UU .19 20004 PERPPU PENGGANTI UU .41 1999 KEHUTANAN

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-undang;

5 Baca lebih lajut

PERMENHUT NO 10 TAHUN 2012 TENTANG Pedoman Prilaku PNS dilingkungan Kementerian Kehutanan

PERMENHUT NO 10 TAHUN 2012 TENTANG Pedoman Prilaku PNS dilingkungan Kementerian Kehutanan

2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 3874) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik I ndonesia Tahun 2001 Nomor 134 Tambahan Lembaran Negara Republik I ndonesia Nomor 4150);
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENJELASAN ATAS UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999

PENJELASAN ATAS UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999

Sej alan dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konst it usional yang mewaj ibkan agar bumi, air dan kekayaan alam yang t erkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan unt uk sebesar-besar kemakmuran rakyat , maka penyelenggaraan kehut anan senant iasa mengandung j iwa dan semangat kerakyat an, berkeadilan dan berkelanj ut an. Oleh karena it u penyelenggaraan kehut anan harus dilakukan dengan asas manf aat dan lest ari, kerakyat an, keadilan, kebersamaan, ket erbukaan dan ket erpaduan dengan dilandasi akhlak mulia dan bert anggung-gugat .
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

 RPJMN Kehutanan 2015 2019

RPJMN Kehutanan 2015 2019

Diera ’70 an saat eksploitasi kayu dengan modal besar mulai dilakukan posisi kayu terletak ditepi sungai atau pantai, sehingga begitu ditebang kayu segera bisa dirakit dan segera bisa dikirim ke saw-mill maupun ply-mill . Namun saat ini kondisinya sudah berbeda sama sekali karena jarak antara hutan penghasil kayu dan log-pond bisa mencapai jarak > 100 km, sehingga biaya transportasi dan loading sangat tinggi. Sementara itu harga kayu dipasaran sangat rendah. Sebagai misal harga 1 m 3 log meranti hanya dihargai Rp 800.000, yang setara dengan harga 1 m 3 log sengon di Jawa. Oleh karena itu target produksi kayu pemerintah dari hutan alam yang sudah kecil (5 juta m 3 ) di tahun 2012 dalam kenyataannya juga tidak dapat terpenuhi. Hal ini bukan berarti sudah tidak ada kayu di hutan, tetapi lebih karena biaya operasional untuk mengeluarkannya dari hutan sudah tidak menguntungkan. Demikian pula harga kayu sebagai bahan baku pulp juga sangat rendah (Rp 200.000-Rp 300.000/ m 3 ), sehingga usaha di bidang perkayuan sudah tidak menarik. Oleh karena itu perlu ada kemauan dan rembug politik (Kemenhut, Kemenperindag dan Kemen-industri) agar harga kayu ( wood- price ) dapat dikendalikan sedemikian rupa, sehingga dapat menggairahkan dunia usaha perkayuan di Indonesia.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB NEGARA AKIBAT PENCEMARAN UDARA LINTAS BATAS DISEBABKAN OLEH KEBAKARAN HUTAN (STUDI PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA)

TANGGUNG JAWAB NEGARA AKIBAT PENCEMARAN UDARA LINTAS BATAS DISEBABKAN OLEH KEBAKARAN HUTAN (STUDI PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA)

Asap akibat kebakaran hutan telah mengganggu kesehatan masyarakat, terutama masyarakat rentan seperti orang lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak dibawah lima tahun (balita). Gangguan kesehatan antara lain, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma bronkial, bronkhitis, pnemonia (radang paru), iritasi mata, dan kulit. Selain itu beberapa bandar udara ditutup sementara Bandara Sultan Thaha (Jambi), Supadio (Kalimantan Barat), dan Tjilikriwut (Kalimantan Tengah). Jarak pandang di tiga bandar udara ini kurang dari 500 meter, padahal jarak pandang aman untuk penerbangan 800 meter (www.tempointeraktif.com diakses 27 Desember 2007).
Baca lebih lanjut

164 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...