Usaha Sapi Perah

Top PDF Usaha Sapi Perah:

Peluang Pengembangan Usaha Sapi Perah di Daerah Dataran Rendah Kabupaten Cirebon

Peluang Pengembangan Usaha Sapi Perah di Daerah Dataran Rendah Kabupaten Cirebon

Selama ini usaha sapi perah masih ter- konsentrasi pada daerah-daerah berdataran tinggi, seperti Garut, Pangalengan, dan Lem- bang (Jawa Barat), serta Batu, Pujon, dan Nongkojajar di Jawa Timur. Daerah ini merupakan konsentrasi usaha sapi perah yang relatif padat. Namun demikian bukanlah ber- arti, bahwa usaha sapi perah tidak mempunyai peluang untuk berkembang di daerah-daerah dataran rendah. Peluang untuk mengembangan usaha sapi perah di daerah dataran rendah akan terbuka apabila berbagai kendala yang meng- hambatnya dapat ditanggulangi. Salah satu ken- dala yang menonjol dalam pengembangan usaha sapi perah di daerah dataran rendah adalah faktor suhu udara dan kelembaban. Suhu udara yang relatif panas dengan kelembaban udara yang relatif rendah umumnya berdampak negatif terhadap kemampuan berproduksi susu sapi perah.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANAL Analisa Kelayakan Investasi Terhadap Usaha sapi Perah, Breeding Sapi Potong dan Penggemukan Sapi Potong.

ANAL Analisa Kelayakan Investasi Terhadap Usaha sapi Perah, Breeding Sapi Potong dan Penggemukan Sapi Potong.

Alhamdulillahhirrobil’alamin, penulis panjatkan puji syykur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI TERHADAP USAHA SAPI PERAH, BREEDING SAPI POTONG DAN PENGGEMUKAN SAPI POTONG”. Tugas Akhir ini disusun dengan maksud untuk memenuhi salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan program pendidikan strata 1 pada Jurusan Teknik Induksti Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisa Kelayakan Investasi Terhadap Usaha sapi Perah, Breeding Sapi Potong dan Penggemukan Sapi Potong.

PENDAHULUAN Analisa Kelayakan Investasi Terhadap Usaha sapi Perah, Breeding Sapi Potong dan Penggemukan Sapi Potong.

Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis menemukan garis pokok permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu mengenai kelayakan usaha peternakan di masa depan dengan rujukan perkembangan situasi saat ini serta proyeksi di tahun yang akan datang. Maka melalui penelitian ini penulis berusaha menganalisis “Bagaimanakah kelayakan investasi terhadap usaha sapi perah, breeding sapi potong dan penggemukan sapi potong.”

4 Baca lebih lajut

Analisis Biaya Transaksi Pada Usaha Sapi Perah Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah

Analisis Biaya Transaksi Pada Usaha Sapi Perah Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah

15 Kemitraan antara KUD Batu dengan para peternak sapi perah, yaitu dengan mengadakan program kredit sapi perah, program pemberian penyuluhan secara teknis, dan pemberian bantuan permodalan. Setelah memberikan program kepada para peternak KUD juga memberikan pelayanan kepada para peternak yaitu penampungan air susu, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan ternak sapi perah pelaksanaan inseminasi buatan dan kemudahan untuk mendapatkan makanan ternak, ini semua merupakan wujud untuk meningkatkan perkembangan usaha perter-nakan sapi perah masyarakat, dan agar masyarakat lebih berdaya dan dapat terus memacu usaha peternakan sapi perahnya, sehingga usaha peternakan ini bisa menyokong kehidupan masyarakat dengan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha berternak sapi perah. Di sini selain KUD pemerintah juga memberikan bantuan yaitu bantuan program KKP-E yang bertujuan membantu KUD untuk mendapatkan permodalan yang selanjutnya diberikan kepada para peternak, dan pemerintah juga memberian bantuan pelatihan kepada para karyawan KUD agar karyawan bisa memberikan penyuluhan kepada para peternak, jadi disini sangat terlihat kerjasama atau kemitraan antara KUD pemerintah dan masyarakat peternak yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian para perter-nak sapi perah. Setelah terjadi kemitraan, peternak merasakan manfaat seperti: (1) mampu meningkatkan taraf pendidikan putra dari para peternak, (2) terwujudnya peningkatan kemampuan pembangunan secara individu, seperti: pembangunan perumahan dan pemilikan sarana berupa kendaraan bermotor maupun elektronik, (3) terwujudnya pembangunan secara gotong royong, seperti seluruh jalan desa telah diaspal dan pembangunan musolah. Selain itu, terdapat manfaat yang dirasakan oleh KUD Batu,yaitu: (1) Meningkatkan jumlah produksi susu, (2) meningkatkan populasi sapi perah, (3) dapat melakukan pemupukan modal terus menerus dan meningkatkan pelayanan pada peternak, dan (4) dengan kemampuan modal yang terus meningkat, KUD dapat memperbaiki perangkat management dan proses produksi ke arah yang lebih profesional.
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

ANALISA USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DI DUSUN WATU GONG DESA PUJON LOR KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG

ANALISA USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DI DUSUN WATU GONG DESA PUJON LOR KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG

Kesimpulan dari penelitian ini, berdasarkan analisa usaha sapi perah di Dusun Watu Gong, Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon menguntungkan, semakin besar jumlah ternak sapi perah yang dipelihara maka semakin besar modal usaha yang dikeluarkan, maka semakin tinggi pula penerimaan dan keuntungan.

1 Baca lebih lajut

TINGKAT PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PEREMPUAN PADA PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT DI KECAMATAN PAKEM KABUPATEN SLEMAN (Productivity on Women Labour at Dairy Cattle Farmers in Pakem Sub District, District of Sleman) | Mardiningsih | JURNAL SOSIAL EKONOMI PETE

TINGKAT PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PEREMPUAN PADA PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT DI KECAMATAN PAKEM KABUPATEN SLEMAN (Productivity on Women Labour at Dairy Cattle Farmers in Pakem Sub District, District of Sleman) | Mardiningsih | JURNAL SOSIAL EKONOMI PETE

diwujudkan dari kegiatan tata laksana beternak hanya sedikit waktu dan jenis yang dapat dilakukan karena terbentur dengan kegiatan yang banyak memerlukan fisik. Dalam hal pendidikan beternak melalui penyuluhan dari Dinas terkait jarang ikut serta karena waktu kegiatan banyak dilakukan pada malam hari. Usaha sapi perah merupakan tanggung jawab kepala keluarga / suami sedangkan perempuan / istri sekedar membantu kegiatan sehingga pengambilan keputusan ada pada suami, walaupun demikian para perempuan selalu diajak pertimbangan didalam pengambilan keputusan seperti kredit bibit, modal dan lain-lain.Dalam keanggotaan kelompok ternak sapi perah dan koperasi susu adalah kepala keluarga, sedangkan perempuan (istri) tidak diikutsertakan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Usaha Peternakan Sapi Perah CV. Pramono Farm Boyolali.

Analisis Usaha Peternakan Sapi Perah CV. Pramono Farm Boyolali.

Seiring dengan perkembangan penduduk yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi maka kebutuhan susu sebagai salah satu sumber protein hewani turut meningkat. Masyarakat yang semakin maju, kini telah meyadari arti dari peningkatan nilai gizi dalam makanan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan susu, terutama susu sapi maka peluang usaha sapi perah akan semakin banyak.

3 Baca lebih lajut

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA TERNAK SAPI PERAH

induk-induk yang produksinya jelek. Hasil penelitian diketahui induk sapi perah yang digunakan kurang berkualitas. Hal ini akan mempengaruhi kualitas sapi perah yang dihasilkan. Peternak tidak membeli bibit dari pasar maupun tempat lain, karena petani peternak merasa sapi perah sendiri dapat menghasilkan bibit. Bibit sapi perah yang berkualitas memiliki syarat-syarat tertentu. Menurut Anonim c , (2009) Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa yang berkualitas baik adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak. c. Pemeliharaan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI  Analisis Usaha Ternak Sapi Perah Di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.

ANALISIS USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI Analisis Usaha Ternak Sapi Perah Di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.

KUPT Sido Maju dan pengepul tidak terlalu jauh dari rumah peternak karena berada di Desa Samiran. Selanjutnya adanya perbedaan hasil dari rata-rata produksi susu, yang mana rata-rata produksi susu di Desa Lencoh adalah 14 liter sedangkan di Desa Samiran rata-ratanya hanya 10,98 liter. Untuk faktor non fisik meliputi modal, tenaga kerja, penyakit dan pemasaran. Modal peternak didapatkan dari menabung dan mengangsur di KUPT Sido Maju, untuk tenaga kerja lebih banyak menggunakan tenaga sendiri sedangkan untuk penyakit paling banyak terkena mastitis yang mana sapi perah sangat rentan terhadap penyakit ini. Dan untuk pemasaran peternak hanya menjual pada KUPT Sido Maju dan Pengepul
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

ANALISIS USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI  Analisis Usaha Ternak Sapi Perah Di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.

ANALISIS USAHA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI Analisis Usaha Ternak Sapi Perah Di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.

Dari data tersebut maka diketahui karakteristik peternak di daerah penelitian bervariasi dimana dari umur peternak lebih banyak diantara usia produktif, untuk pendidikan di daerah penelitian paling banyak lulusan tamat SD, untuk matapencahrian didaerah penelitian selain menjadi peternak juga sebagai petani dan untuk jumlah anggota keluarga peternak terdiri dari 3-5. Motivasi melakukan usaha peternakan di daerah penelitian adalah untuk meningkatkan pendapatan. Faktor fisik yang menjadi kendala adalah kesulitan air dan non fisik kendalanya adanya perbedaan harga antara pengepul dan KUPT Sido Maju. Adanya penambahan pendapatan dari usaha ternak sapi perah.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Reference Pemanfaatan Pelepah Kelapa Sawit Terolah Secara Amoniasi dan Fermentasi Terhadap Performans Sapi Aceh

Reference Pemanfaatan Pelepah Kelapa Sawit Terolah Secara Amoniasi dan Fermentasi Terhadap Performans Sapi Aceh

Bamualim. 1994. Usaha Peternakan Sapi Perah di Nusa Tenggara Timur. Prosiding Seminar Pengolahan dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian Peternakan dan Aplikasi Paket Teknologi Pertanian. Sub Balai Penelitian Ternak Lili/Balai Informasi Pertanian Noelbalki Kupang 1-3 Februari 1994..

Baca lebih lajut

ANALISIS KESESUAIAN WILAYAH USAHA REARING SAPI PERAH.

ANALISIS KESESUAIAN WILAYAH USAHA REARING SAPI PERAH.

Penelitian mengenai Analisis Kesesuaian Wilayah Usaha Rearing Sapi Perah telah dilaksanakan pada Bulan April 2013 di wilayah Kecamatan Cisalak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kesesuaian dan daya tampung wilayah Kecamatan Cisalak untuk usaha rearing sapi perah. Penelitian dilakukan di Sembilan desa yang berada di wilayah Kecamatan Cisalak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Untuk keperluan analisis, dikumpulkan data primer berupa hasil wawancara dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder berupa data agroekosistem dan hasil studi literatur. Analisis dilakukan untuk mendapatkan indeks kesesuaian wilayah, estimasi potensi produksi pakan, daya dukung wilayah, dan penentuan wilayah prioritas untuk pengembangan rearing sapi perah. Hasil penelitian menujukkan bahwa kecamatan Cisalak memiliki kondisi yang sesuai untuk wilayah usaha rearing sapi perah. Potensi produksi pakan yang dihasilkan sebesar 8.834,29 ton BK/tahun, dan daya tampung yang tersedia sebesar 2.659,73 ST/tahun. Sisa daya tampung yang dapat digunakan untuk rearing sebesar 1.629,29 ST/tahun, dan wilayah prioritas utama meliputi Desa Cupunagara, Mayang, Cimanggu, Gardusayang dan Sukakerti.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH SUPLEMENTASI KOLIN KLORIDA DALAM PAKAN TERHADAP GAMBARAN HEMATOLOGIS PADA SAPI PERAH LAKTASI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH SUPLEMENTASI KOLIN KLORIDA DALAM PAKAN TERHADAP GAMBARAN HEMATOLOGIS PADA SAPI PERAH LAKTASI - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Sapi perah merupakan bangsa ternak yang dimanfaatkan sebagai ternak penghasil susu. Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah adalah kecukupan nutrien pakan, terutama pada sapi perah laktasi. Hal ini dikarenakan kebutuhan nutrien pada sapi perah laktasi mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan produktivitasnya. Kolin merupakan salah satu nutrien yang meningkat kebutuhannya pada saat ternak laktasi. Defisiensi kolin sulit untuk diidentifikasi pada ternak karena kolin dapat disintesis di dalam tubuh dengan memanfaatkan vitamin B12 dan asam folat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PROSEDUR BAKU PELAKSANAAN PRODUKSI BIBIT PADA USAHA PEMBIBITAN SAPI PERAH

PROSEDUR BAKU PELAKSANAAN PRODUKSI BIBIT PADA USAHA PEMBIBITAN SAPI PERAH

Dalam upaya peningkatan penyediaan bibit ternak di dalam negeri dalam jumlah dan mutu yang memadai serta mengurangi ketergantungan impor, maka perlu terus didorong usaha pembibitan sapi perah. Berkaitan dengan pengembangan dan keberlanjutan usaha pembibitan tersebut, diperlukan pula dukungan proses manajemen dan pemuliabiakan ternak yang terarah dan berkesinambungan. Hal ini dimaksudkan agar mampu memproduksi bibit yang memenuhi Persyaratan Teknis Minimal dan persyaratan kesehatan hewan yang telah ditetapkan.

Baca lebih lajut

Kajian Koperasi Persusuan Di Jawa Barat.

Kajian Koperasi Persusuan Di Jawa Barat.

Belum lagi selesai permasalah di atas, muncul era perdagangan bebas khususnya di kawasan ASEAN (AFTA= Asian Free Trade Association) di mana Indonesia mau tidak mau atau suka tidak suka harus ikut dalam kancah global tersebut. Dalam perdagangan bebas tersebut, restriksi perdagangan terutama tarif bea masuk setahap demi setahap harus dikurangi sampai mencapai 0 %. Dengan adanya perdagangan bebas ini, produk susu segar impor dapat memasuki pasaran Indonesia dengan mudah. Satu sisi, hal ini dapat memberikan peluang dan kesempatan pada konsumen untuk memilih produk susu yang mereka inginkan sesuai dengan kualitas dan harga yang dapat mereka jangkau. Tapi di sisi lain, hal ini dapat menyebabkan keterpurukan bagi para peternak sapi perah karena ketidakmampuan bersaing dalam sisi harga, kualitas, dan produksi susu dibandingkan dengan susu impor. Kondisi inilah yang menyebabkan para peternak sapi perah kembali tidak bergairah untuk meneruskan usaha peternakan sapi perahnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DI KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus Terhadap Eksistensi Usaha Susu Sapi Perah dalam Menunjang Program Swasembada Susu Nasional.

ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH DI KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus Terhadap Eksistensi Usaha Susu Sapi Perah dalam Menunjang Program Swasembada Susu Nasional.

Tabel 1.1 Produk Domestik Bruto Indonesia Atas Dasar Harga Konstan 2000, Tahun 2002 - 2014 Siklus Enam Tahunan (dalam milyar rupiah) ........ 1 Tabel 1.2 Volume Net Export Menurut Golongan Standard International Trade Classification (SITC) , dengan Berat Bersih dalam Ribuan Ton, 2010 - 2013. ...................................................................................................... 4 Tabel 1.3 Banyaknya Ternak Sapi Perah, Produksi Susu, Jumlah Penduduk Indonesia, Permintaan Susu Nasional dan Permintaan Susu yang Tidak Bisa Dipenuhi dari Dalam Negeri Pada Tahun 2000 - 2015 ...... 8 Tabel 1.4 Populasi Sapi Perah Menurut Provinsi pada Tahun 2011 - 2015 ........ 10 Tabel 1.5 Populasi Ternak Sapi Perah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah pada Tahun 2015 (ekor) ................................................ 13 Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ........................................................................... 43 Tabel 3.1 Daftar Nama-nama Informan .............................................................. 57 Tabel 4.1 Luas Wilayah dan Penggunaan Tanah (Ha) di Kecamatan Cepogo Tahun 2015 .......................................................................................... 74 Tabel 4.2 Banyaknya Dukuh, Dusun, RT, dan RW di Kecamatan Cepogo Tahun 2015 ..................................................................................................... 75 Tabel 4.3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Cepogo Tahun 2015
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Income Optimization of Dairy Farm to Increase National Milk Production

Income Optimization of Dairy Farm to Increase National Milk Production

Manajemen harus pula mampu menyesuaikan jumlah sapi-sapi perah yang sudah berproduksi atau laktasi terhadap jumlah sapi-sapi perah induk yang sedang dalam keadaan tidak berproduksi susu atau kering. Dalam hal ini, jumlah atau persentase sapi-sapi perah laktasi tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit. Persentase pemeliharaan sapi-sapi perah laktasi yang terlalu banyak dalam komponen pemeliharaan sapi-sapi perah induk akan berdampak terhadap ketidakstabilan “cash flow” dari suatu periode produksi ke periode produksi berikutnya. Sebaliknya, apabila persentase sapi laktasi yang terlalu sedikit akan berakibat terhadap jumlah produksi susu yang relatif sedikit yang berdampak terhadap biaya produksi yang relatif tinggi, sehingga tidak ekonomis. Pengkajian di lapangan menyimpulkan bahwa usaha pemeliharaan sapi perah baru akan mencapai tingkat yang paling ekonomis apabila persentase sapi-sapi perah induk, berkisar antara 70 – 80% (S IREGAR , 1996). Kurang ekonomisnya usaha pemeliharaan sapi perah pada umumnya dikarenakan, persentase pemeliharaan sapi- sapi laktasi yang melebihi 80% dari keseluruhan sapi- sapi perah induk (S IREGAR dan K USNADI , 2004). Hal ini terjadi karena banyak peternak yang masih memerah sapi-sapi perah laktasinya terus menerus yang seharusnya kering untuk mengejar penerimaan yang lebih besar. Tindakan yang demikian ini tidak tepat karena akan sangat merugikan para peternak pada periode produksi berikutnya, karena akan memperpanjang ”Calving Interval”.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

aPR40 (31) Mukson undip seting

aPR40 (31) Mukson undip seting

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) kinerja usaha ternak sapi perah rakyat terutama dari aspek produksi susu dan kualitas susu yang dihasilkan dan 2) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja usaha ternak sapi perah rakyat di Kecamatan Getasan kabupaten Semarang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2009, di Kecamatan Getasan dengan pertimbangan merupakan salah satu wilayah yang mempunyai populasi ternak sapi perah terbanyak di Kabupaten Semarang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai. Penentuan lokasi desa ditentukan secara purposive diambil 2 (dua) desa dengan pertimbangan merupakan desa-desa yang populasi sapi perah cukup banyak dan sudah ada kelompok petani ternak sapi perah. Sampel peternak sapi perah diambil secara acak sederhana. Masing-masing desa diambil sebanyak 15 peternak sapi perah, sehingga secara keseluruhan ada sebanyak 30 sampel petani ternak sapi perah. Data primer dikumpulkan dengan cara wawancara berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan. Data sekunder dikumpulkan dari instansi yang terkait dengan penelitian seperti Dinas Peternakan dan Badan Statististik Kabupaten. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan statistik, dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Sebagai variabel dependen (Y) adalah produksi susu yang merupakan cerminan dari kinerja usaha sedangkan sebagai variabel independen adalah : umur peternak (x1), pendidikan (x2), JART (x3), lama usaha (x4), jumlah sapi laktasi (x5), jumlah pakan hijauan (x6), jumlah pakan konsentrat (x7), curahan tenaga kerja (x8) dan luas kandang (x9). Uji signifikasi model linier berganda digunakan uji F. Uji Kualitas susu dilakukan uji laboratorium terutama untuk mengetahui BJ, kadar lemak dan protein susu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu rata-rata per hari sebesar 21,87 lt/hari dengan kepemilikan sebesar 2,33 ekor sapi laktasi atau produksi per ekor rata-rata sebesar 9,38 lt/ekor per hari. Kualitas susu yang dihasilkan untuk BJ 1,025, kadar lemak susu 4,25 dan protein 3,67. Berdasarkan kualitas sudah memenuhi standar GKSI. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja usaha dihasilkan bahwa secara serempak faktor x1, x2, x3, x4, x5, x6, x7, x8 dan x9 secara bersama- sama berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kinerja usaha. Nilai R 2 sebesar 0,953, hal ini
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

TINGKAT PENDAPATAN PETERNAK SAPI PERAH ANGGOTA KUD “BATU” PENERIMA FASILITAS KREDIT SAPI PERAH

TINGKAT PENDAPATAN PETERNAK SAPI PERAH ANGGOTA KUD “BATU” PENERIMA FASILITAS KREDIT SAPI PERAH

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret sampai dengan tanggal 5 Mei 2009 di Kota  Batu.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  tingkat  pendapatan  peternak  sapi  perah  anggota  KUD  “BATU”  Desa  Gunung  Sari  Kecamatan  Bumiaji  dan  Desa  Songgokerto  dan  Temas Kecamatan Batu yang menerima fasilitas kredit sapi perah, untuk mengetahui pengaruh  skala  usaha  dan  perbedaan  jangka  waktu  pembayaran  kredit  sapi  perah  terhadap  tingkat  pendapatan peternak anggota KUD “BATU”. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah  31 orang responden peternak sapi perah anggota KUD ”BATU” yang mendapatkan kredit sapi  perah  yang  ditentukan  secara  acak  dengan  menggunakan  metode  survey,  pengamatan  dan  wawancara  secara  langsung.  Data  yang  diperoleh  dianalisis  secara  deskriptif  dan  Regresi  Sederhana dengan Dummy Varables kemudian dilanjutkan dengan uji statistik yang terdiri dari  uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata­rata tingkat pendapatan peternak sapi  perah  sebesar  Rp.  592.349,46/bulan  dengan  rata­rata  skala  usaha  sapi  perah  laktasi  3  ekor/peternak.  Hasil  analisis  regresi  sederhana  dengan  Dummy  variables  menunjukkan bahwa  skala usaha sapi perah berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat pendapatan peternak sapi perah  anggota KUD “BATU” penerima fasilitas kredit sapi perah (P < 0,01, nilai P = 0,000002) dan  jangka waktu pembayaran kredit sapi perah menunjukkan tidak berbeda nyata terhadap tingkat  pendapatan  peternak  sapi  perah  anggota  KUD  ”BATU”  (P  >  0,01,  nilai  P  =  0,15).  Selisih  tingkat pendapatan peternak anggota KUD “BATU” yang menerima fasilitas kredit sapi perah  antara  jangka  waktu  pembayaran  lima  tahun  dengan  tiga  tahun  adalah  Rp.  194.248,53/bulan.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang signifikan antara skala usaha sapi  perah  dengan  tingkat  pendapatan  yang dihasilkan peternak  peternak  sapi  perah  anggota  KUD  ”BATU”,  namun  untuk  jangka  waktu  pembayaran  kredit  sapi  perah  tidak  berpengaruh  nyata.  Dari  kedua  system  pembayaran  kredit  sapi  perah  jangka  panjang  (lima  tahun)  dengan  jangka  pendek  (tiga  tahun)  terdapat  selisih  tingkat  pendapatan  sebesar  Rp.  194.248,53/bulan.  Saran yang dapat diberikan sebagai rekomendasi dari hasil penelitian ini  kepada peternak sapi  perah penerima fasilitas kredit sapi perah adalah peternak harus meningkatkan skala usaha sapi  perah  yang dimilikinya,  baik  melalui modal  kredit  KUD maupun dari  modal sendiri.  Peternak  yang  menerima  bantuan  modal  kredit  sapi  perah  dari  KUD,  hendaknya  memilih  sistem  pembayaran jangka panjang (lima tahun). 
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...