vaksin DNA

Top PDF vaksin DNA:

Inovasi Vaksin DNA Heat Shock Protein 65 (hsp65) dengan Ubiquitin Terenkapsulasi Nanopartikel PLGA sebagai Terapi Preventif dan Kuratif Tuberkulosis

Inovasi Vaksin DNA Heat Shock Protein 65 (hsp65) dengan Ubiquitin Terenkapsulasi Nanopartikel PLGA sebagai Terapi Preventif dan Kuratif Tuberkulosis

Indonesia merupakan salah satu negara dengan masalah tuberkulosis yang masih tinggi (high burden countries). Terapi preventif saat ini, yaitu vaksin Bacillus Calmette-Guerin, menunjukkan efikasi yang bervariasi dan penurunan kemampuan proteksi, sedangkan terapi kuratif obat anti- tuberkulosis menghadapi tingginya resistensi. Oleh karena itu, dibutuhkan pilihan terapi baru. Penulisan karya tulis ini menggunakan metode kajian pustaka dari sumber terpercaya. Beberapa penelitian menemukan vaksin DNA heat shock protein (hsp) 65 memiliki potensi tinggi dapat memicu respons imun adaptif terhadap bakteri Mtb sebagai terapi preventif dan kuratif penyakit TB. Kelemahannya adalah hasilnya tidak tetap dan efektivitasnya masih rendah. Penelitian lain mengungkapkan bahwa vaksin DNA hsp65 yang dikombinasikan dengan ubiquitin dapat memicu respons imun yang lebih efektif. Selain itu, polylactic polyglycolic acid (PLGA) sering digunakan sebagai carrier obat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. Berdasarkan temuan tersebut, penulis mengajukan inovasi vaksin baru menggunakan DNA hsp65 yang dikombinasikan dengan ubiquitin dan dienkapsulasi dalam PLGA. Vaksin kombinasi ini diharapkan dapat menjadi terapi preventif dan kuratif penyakit TB.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Deteksi antibodi human immunodeficiency virus type=1(HIV-1) pada macaca nemestrina yang diimunisasi dengan vaksin DNA HIV-1 menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

Deteksi antibodi human immunodeficiency virus type=1(HIV-1) pada macaca nemestrina yang diimunisasi dengan vaksin DNA HIV-1 menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

Seperti halnya vaksin virus lain, usaha pengembangan vaksin HIV selama ini mengacu pada stimulasi antibodi. Vaksin HIV selal u diusahakan untuk “aman” dengan tidak menginfeksi sel, namun ternyata tidak diperoleh hasil yang memuaskan. Meskipun transfer pasif antibodi dosis tinggi dari individu terinfeksi kepada hewan model terbukti dapat mencegah transmisi HIV, kenyata annya antibodi yang mampu menetralisir HIV tetap sulit diinduksi melalui vaksinasi (Joy et al. 1999; Kent 2001). Suatu fakta yang menarik adalah vaksin yang menginduksi respon kebal seluler terutama sel limfosit T spesifik HIV (bukan antibodi) ternyata mampu menghambat replikasi HIV pada hewan model. Vaksin yang menginduksi respon ini mengharuskan adanya infeksi HIV pada sel inang guna menstimulir respon kebal tersebut (Kent et al. 1998; Kent 2001). Untuk menginduksi respon kebal seluler yang aman dan efisien terhadap HIV, dicoba jenis vaksin baru berupa vaksin DNA dan vaksin yang memanfaatkan live-virus sebagai vektornya (Joy et al . 1999; Kent 2001; Baltimore 2002).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Deteksi Transmisi Vaksin Dna Anti-Khv Pada Bakteri Di Media Budidaya Ikan Mas

Deteksi Transmisi Vaksin Dna Anti-Khv Pada Bakteri Di Media Budidaya Ikan Mas

Alternatif penggunaan bahan kimia dan antibiotik untuk mencegah infeksi penyakit KHV dalam budidaya ikan mas adalah vaksin DNA. Selain mudah disimpan dan dibawa serta lebih murah dibandingkan dengan vaksin konvensional, vaksin DNA sangat stabil bahkan pada suhu ruang (Kumalagurubaran & Kaliaperumal 2013). Vaksin DNA juga memiliki capaian yang relatif tinggi dalam merangsang kekebalan spesifik dan kekebalan yang timbul relatif tinggi (Nuryati et al. 2010a). Vaksin DNA anti-KHV telah dikembangkan oleh Nuryati et al. (2010a) menggunakan gen glikoprotein KHV ORF 25 (GP 25) yang disisipkan ke dalam plasmid dan ditransformasikan ke dalam Escherichia coli. GP25 bersifat imunogenik dan ekspresinya dapat meningkatkan kekebalan ikan mas terhadap infeksi KHV (Nuryati et al. 2010b). Kelangsungan hidup ikan mas yang diberi vaksin DNA GP25 dengan dosis 12,5 µg/100 µL melalui injeksi, dan ditantang selama 30 hari dapat mencapai 96,67% (Nuryati et al. 2010b).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Uji keamanan lingkungan vaksin DNA anti-KHV: uji in vivo dengan bakteri Aeromonas hydrophila pada periode interaksi berbeda

Uji keamanan lingkungan vaksin DNA anti-KHV: uji in vivo dengan bakteri Aeromonas hydrophila pada periode interaksi berbeda

Peluang integrasi dan uptake plasmid pada kenyataannya sangat kecil. Plasmid vaksin yang disuntikkan akan mengalami beberapa proses sebelum akhirnya bertahan di dalam tubuh organisme target. Proses tersebut antara lain (i) plasmid di-uptake oleh sel di lokasi penyuntikan, (ii) plasmid tetap berada di luar sel yang berada di lokasi penyuntikan, (iii) plasmid mengalami degradasi oleh enzim endonuklease, (iv) plasmid terdistribusi melalui darah, sel, dan limfoid pada beragam jaringan (Gillund et al. 2008; Dolter et al. 2011). Sebagian besar plasmid (sekitar 95-99%) akan didegradasi dalam rentang waktu 90 menit pascavaksinasi (Barry et al. 1999). Namun demikian, sisa plasmid vaksin yang tersisa tetap bisa memberikan efek imunitas yang diharapkan (Gillund et al. 2008). Sementara itu menurut Nuryati et al . (2010) keberadaan plasmid vaksin DNA anti-KHV masih dapat diidentifikasi sampai dengan hari ke-14 pascainjeksi. Hal ini terjadi karena sifat promotor yang digunakan yaitu β-aktin aktif di semua jaringan. Hal serupa didukung juga oleh Dolter et al. (2011) yang menyampaikan hasil bahwa residu plasmid vaksin pada hari ke-60 pascavaksinasi sudah tidak ditemukan lagi. Selain itu, mekanisme masuknya plasmid ke dalam bakteri umumnya terjadi dengan proses konjugasi yang melibatkan dua sel bakteri hidup. Pada kenyataannya, vaksin DNA anti-KHV yang diinjeksikan adalah plasmid murni yang tidak disisipkanke dalam sel bakteri hidup. Oleh karena itu, diduga vaksin DNA anti-KHV menggunakan pemurnian plasmid sangat aman untuk diaplikasikan di lapangan ditinjau dari aspek keamanan lingkungan dan perlindungan keragaman genetika alam.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Persistensi vaksin DNA penyandi glikoprotein 25 yang diberikan melalui pakan buatan pada ikan mas (Cyprinus carpio)

Persistensi vaksin DNA penyandi glikoprotein 25 yang diberikan melalui pakan buatan pada ikan mas (Cyprinus carpio)

Hasil analisis PCR menunjukkan bahwa DNA GP25 dapat terdeteksi setelah hari ke-1(Gambar 2a) dan hari ke-3 (Gambar 2b) setelah pemberian pakan perlakuan. Padaginjal setelah H+1 dan H+3 dengan frekuensi 1 minggu sekali pemberian, dihasilkan pita DNA yang lebih tipis dibandingkan frekuensi pemberian 1 minggu 2 kali pemberian. Selanjutnya, pada hari ke-7 setelah pemberian pakan perlakuan (Gambar 2c), gen GP25 tidak terdeteksi pada semua organ target. Hal ini mungkin disebabkan karena semua atau hampir semua plasmid DNA telah terpotong-potong oleh enzim restriksi endogenus. Dengan demikian, pemberian pakan bervaksin 2 kali seminggu diduga dapat menginduksi sistem imun ikan mas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Gillund et al. (2008) yang menyatakan bahwa vaksin DNA yang diberikan ke ikan akan mengalami beberapa kemungkinan antara lain: a) DNA akan masuk (uptake) ke dalam sel yang ada di lokasi injeksi; b) DNA akan tertinggal di bagian luar sel (ekstraseluler); c) DNA akan didegradasi oleh enzim endonuklease di jaringan tempat injeksi, dan d) DNA terdistribusi melalui darah ke jarungan lain. Target yang diharapkan dari pemberian vaksin DNA ini adalah munculnya respons imun pada ikan yang diberi vaksin. Nuryati (2010) menyatakan bahwa vaksin DNA yang terdistribusi ke jaringan lain dan terekspresi maka vaksin DNA tersebut akan mentranslasikan glikoprotein virus KHV. Glikoprotein virus harus dipastikan tidak menginfeksi inangnya sendiri (ikan).
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Efikasi Vaksin Dna Khv Gp 11 Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio Haematopterus) Skala Laboratorium

Efikasi Vaksin Dna Khv Gp 11 Pada Ikan Koi (Cyprinus Carpio Haematopterus) Skala Laboratorium

DNA vaksin yang ditranskripsi dan ditranslasi oleh sel inang dibuktikan berdasarkan analisis mRNA dari vaksin DNA GP-11 yang teramati pada 24 jam pascavaksinasi, dan 14 hari pascavaksinasi. Hasil ekspresi gen tersebut menunjukkan bahwa promoter keratin ikan flounder Jepang Paralichthys olivaceus dapat aktif pada ikan koi. Ekspresi gen pada tiap perlakuan teramati aktif pada waktu yang berbeda-beda (Gambar 5). Namun demikian, ekspresi gen dari vaksin DNA dalam waktu singkat (short-term expression) sudah cukup untuk membangkitkan respons imunitas baik seluler maupun humoral, sehingga mampu memberikan proteksi terhadap infeksi KHV. Respons imun dimulai oleh sel-sel APC (antigen precenting cells) yaitu sel-sel dendrit maupun makrofag setelah glikoprotein virus KHV di ekspresikan oleh sel tubuh dengan up-take DNA vaksin. Plasmid DNA yang masuk ke dalam sel akan ditranskripsi dan ditranslasi sehingga menghasilkan protein imunogenik yang berikutnya akan dipresentasikan sebagai protein asing (antigen) di permukaan sel oleh MHC kelas I dan MHC kelas II. Sel TCR (T cell receptor) mengenali antigen yang dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I dan II masing-masing melalui molekul CD8+ yang ada di sel T (cytotoxic T cell), dan CD4+ dari sel T (T helper) (Tonheim et al. 2008). Antigen endogenus diproses melalui jalur sitosolik (cytosolic pathway) dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas I. Antigen eksogenus diproses melalui jalur endositik (endocytic pathway) dan dipresentasikan oleh molekul MHC kelas II (Rawat et al. 2007).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Efektivitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui Pakan terhadap Kelangsungan Hidup Relatif Ikan Mas yang Diinfeksi Koi Herpesvirus

Efektivitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui Pakan terhadap Kelangsungan Hidup Relatif Ikan Mas yang Diinfeksi Koi Herpesvirus

Usaha budidaya ikan mas saat ini terkendala oleh serangan penyakit viral, yaitu koi herpesvirus (KHV) yang dapat menyebabkan kematian masal pada ikan sehingga dapat menyebabkan gagal panen atau panen dini. Infeksi KHV terjadi pada saat musim hujan atau pada suhu dingin berkisar 17-24 o C. Karakter penyakit ini adalah sangat menular, menyerang semua stadia ikan mas, dan bersifat ganas sehingga dapat menyebabkan kematian massal hingga 80-100%. Menurut Hendrik et al. (2005), infeksi KHV ditandai dengan adanya bercak merah atau kerusakan pada insang serta kematian masal pada ikan yang terserang penyakit tersebut. Selain itu biasanya diikuti oleh infeksi sekunder berupa luka atau bercak putih di permukaan tubuh yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan/atau Flexibacter columnaris (Mudjiutami et al., 2006). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit tersebut, di antaranya adalah vaksinasi dengan menggunakan vaksin DNA.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Efikasi Vaksin Dna Khv Terhadap Infeksi Koi Herpesvirus Pada Budidaya Ikan Mas (Cyprinus Carpio) Skala Lapang Dengan Kepadatan Berbeda

Efikasi Vaksin Dna Khv Terhadap Infeksi Koi Herpesvirus Pada Budidaya Ikan Mas (Cyprinus Carpio) Skala Lapang Dengan Kepadatan Berbeda

Ikan mas merupakan komoditas budidaya yang menghadapi epidemi serius dari kemunculan koi herpesvirus. Penyakit ini disebabkan oleh cyprinid herpesvirus-3 (CyHV-3) atau dikenal sebagai carp interstitial nephritis and gill necrosis virus (CNGV). KHV pertama kali dilaporkan pada 1998 di Israel, kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dan menjadi masalah global. Penyakit ini bersifat sangat virulen dengan ciri penyebaran yang cepat dan mortalitas tinggi. Uji skala laboratorium pada ikan yang diinfeksi dengan KHV menunjukkan hasil lebih dari 80% mengalami kematian. Wabah KHV di Indonesia terjadi pada awal Maret 2002 kemudian dengan cepat menyebar dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar pada industri budidaya. Sampai saat ini langkah pencegahan KHV masih dilakukan mengingat sifat virus yang mampu bertahan dalam jangka waktu lama. Vaksinasi menjadi langkah strategis dalam upaya pecegahan KHV, mengingat tidak adanya terapi/pengobatan yang efektif dan spesifik terhadap virus ini. Vaksin DNA dapat dijadikan sebagai alternatif solusi karena mampu memperbaiki beberapa kelemahan vaksin konvensional (vaksin hidup dan vaksin mati). Oleh karena itu penelitian mengenai aplikasi vaksin DNA melalui metode perendaman dengan pendekatan skala produksi (berbagai kepadatan ikan) perlu dilakukan untuk memperoleh informasi kepadatan optimal vaksinasi dan sejauh mana vaksin tersebut efektif terhadap infeksi KHV.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Efektivitas vaksin DNA anti-KHV pada benih ikan mas Cyprinus carpio melalui metode perendaman dan perlakuan hiperosmotik

Efektivitas vaksin DNA anti-KHV pada benih ikan mas Cyprinus carpio melalui metode perendaman dan perlakuan hiperosmotik

Vaksinasi merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit. Vaksin adalah antigen buatan yang berasal dari suatu jasad patogen yang tidak bersifat patogen lagi karena sudah dilemahkan ataupun dimatikan, sehingga merangsang sistem imun dengan cara meningkatkan kekebalan ikan dari infeksi patogen (Ellis 1988). Dalam perkembangannya, terdapat empat jenis vaksin yaitu vaksin yang dimatikan (killed vaccine), vaksin yang dilemahkan (attenuated vaccine), vaksin protein rekombinan dan vaksin DNA. Vaksin DNA diprediksi akan menjadi vaksin di masa yang akan datang, disebabkan vaksin DNA yang memiliki banyak keunggulan, di antaranya proses produksi yang relatif murah, kemudahan penyimpanan karena plasmid DNA memiliki stabilitas kimia yang tinggi, modifikasi yang cepat dari vaksin DNA untuk melawan patogen mutan, tidak membutuhkan vaksinasi ulang untuk memperoleh kekebalan dan efektif dalam memacu sistem imun humoral serta aman digunakan bagi semua stadia ikan (Zheng et al. 2006).
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Koiprotector : protector ikan koi berbasis vaksinasi melalui injeksi vaksin dna sebagai pencegahan terhadap penyakit koi herpes virus

Koiprotector : protector ikan koi berbasis vaksinasi melalui injeksi vaksin dna sebagai pencegahan terhadap penyakit koi herpes virus

Ikan koi adalah salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis karena memiliki daya tarik tersendiri pada corak tubuhnya sehingga bernilai jual tinggi. akan tetapi kegiatan budidaya ikan koi tak lepas dari serangan hama dan penyakit, salah satunya adalah penyakit KHV (koi herpes virus) yang dapat menyebabkan kematian massal. Upaya penanggulangan wabah KHV telah dilakukan dengan menggunakan bahan kimia, tetapi kurang efektif karena hanya mengatasi infeksi sekunder oleh bakteri, fungi, atau parasit. Upaya yang lebih tepat untuk dilakukan pencegahan dengan menggunakan vaksin DNA. Sebuah konstruksi vaksin DNA untuk KHV dibuat dan telah diuji aktivitasnya melalui injeksi pada ikan mas. Adapun kelebihan vaksin DNA adalah vaksin DNA dapat dilakukan diberbagai jaringan koi. Hal ini berkaitan isu GMO (genetically modified organism) yang sedang berkembang dimasyarakat. Penelitian ini diharapkan membuktikan bahwa DNA asing (vaksin DNA) yang dimasukkan kedalam ikan akan mengalami degradasi setelah waktu tertentu dan hilang dalam tubuh ikan itu sendiri sehingga aman untuk dikonsumsi. 2. Rumusan Masalah
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis Gambaran Darah terhadap Kelangsungan Hidup Relatif iiIkan Mas yyang Diberi Vaksin DNA aAnti-KHV melalui Pakan i dengan fFrekuensi Berbeda

Analisis Gambaran Darah terhadap Kelangsungan Hidup Relatif iiIkan Mas yyang Diberi Vaksin DNA aAnti-KHV melalui Pakan i dengan fFrekuensi Berbeda

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran darah terhadap kelangsungan hidup relatif ikan mas yang diberi vaksin DNA anti-KHV melalui pakan komersial dengan frekuensi berbeda. Tahapan penelitian yang digunakan adalah kultur bakteri pembawa vaksin (Escherichia coli DH5 α ) pada media cair LB tripton + ampisilin, vaksinasi dengan dosis 7,6 ng (setara dengan kepadatan bakteri 10 8 cfu/mL) pada ikan mas dengan bobot 10,22±1,88 gram, dan uji tantang dengan injeksi virus KHV sebanyak 0,1 mL/ekor ikan (pengenceran 10 -2 ) secara intramuskular. Penelitian menggunakan lima kelompok perlakuan vaksinasi berbeda, yaitu pemberian pakan bervaksin dengan frekuensi satu kali pemberian (perlakuan A), dua kali pemberian (perlakuan B), tiga kali pemberian (perlakuan C), kontrol positif, dan kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekalipun terjadi peningkatan jumlah total leukosit, eritrosit, limfosit, serta penurunan jumlah monosit dan trombosit pada perlakuan A, B, dan C, akan tetapi perlakuan terbaik ditunjukkan oleh perlakuan C yang menghasilkan kelangsungan hidup relatif sebesar 84,6%.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

RESPON IMUN SELULER DAN HUMORAL MENCIT YANG DIIMUNISASI KANDIDAT VAKSIN DNA DENGUE BERBASIS GEN preM-E SEROTIPE 4 STRAIN INDONESIA

RESPON IMUN SELULER DAN HUMORAL MENCIT YANG DIIMUNISASI KANDIDAT VAKSIN DNA DENGUE BERBASIS GEN preM-E SEROTIPE 4 STRAIN INDONESIA

Infeksi virus dengue (DENV) terkadang tanpa gejala atau dapat menunjukkan gejala klinis yang luas, berkisar dari sindrom flu ringan (dengue fever/DF), dengue haemorrhagic fever (DHF), hingga syok hipovolemik (dengue shock syndrome/DSS). Hipotesis yang berkaitan dengan tingkat keparahan infeksi DENV meliputi mekanisme antibody-dependent enhancement (ADE) dan keterlibatan sitokin. Hingga kini, belum ada obat antiviral yang efektif untuk mengeradikasi dan mencegah infeksi DENV, sehingga pencegahan berupa vaksin perlu dikembangkan. Kandidat vaksin DNA berbasis gen preM-E serotipe 4 strain Indonesia yang dikembangkan pada penelitian terdahulu disuntikkan ke mencit ddY, kemudian diuji tantang dengan DENV. Pada hari ke-4 dan ke-21 pascauji tantang, keberadaan sitokin IL-2 dalam serum dideteksi dengan metode ELISA. Serum hari ke-21 digunakan dalam uji ADE menggunakan sel K562. Sel limpa diambil pada hari ke-21 pascauji tantang, kemudian keberadaan IL-2 dan antibodi in vitro dideteksi dengan metode ELISA. Tingkat IL-2 tertinggi terdapat pada serum hari ke-4 pada kelompok mencit yang tidak diimunisasi namun diuji tantang, yaitu sebesar 69,83 pg/ml. Konsentrasi IL-2 terendah ditunjukkan oleh kelompok mencit yang diimunisasi namun tidak diuji tantang, yaitu 0 pg/ml. Pengukuran IL-2 pada serum dan supernatan sel limpa hari ke-21 tidak mendapatkan konsentrasi IL-2. Titer antibodi tertinggi terdapat pada kelompok sel limpa mencit yang diimunisasi, diuji tantang, dan diinduksi in vitro dengan DENV. Hasil uji ADE menunjukkan tingkat pengenceran serum berpengaruh terhadap jumlah sel yang terinfeksi oleh DENV, namun tidak ditemukan kondisi netralisasi dan enhancing. Berdasarkan metode yang digunakan, kandidat vaksin DNA tersebut dapat memicu respon imun seluler dan humoral.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Vaksinasi Ikan Koi Menggunakan Vaksin DNA Anti- KHV dengan Dosis Berbeda

Vaksinasi Ikan Koi Menggunakan Vaksin DNA Anti- KHV dengan Dosis Berbeda

Pengamatan terhadap nilai kelangsungan hidup benih ikan koi dilakukan mulai dari awal masa vaksinasi hingga akhir masa uji tantang. Selama masa vaksinasi kondisi ikan terlihat baik dan memberikan nilai kelangsungan hidup 100% untuk semua perlakuan, hal ini membuktikan bahwa pemberian vaksin DNA aman untuk ikan. Sedangkan untuk pengamatan selama masa uji tantang (28 hari) perlakuan A, B, dan C menunjukkan nilai kelangsungan hidup yang sama dan tidak berbeda nyata, yaitu sebesar 97,22% lebih tinggi dibandingkan kontrol positif yang hanya sebesar 33,33%. Selain nilai kelangsungan hidup diamati pula nilai RPS, yaitu nilai kelangsungan hidup ikan-ikan yang divaksin yang dibandingkan dengan ikan kontrol positif. Nilai RPS untuk tiga perlakuan yang berbeda menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata, yaitu sebesar 95,83±0,58%. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan vaksin DNA dapat meningkatkan sistem imun ikan sehingga mempengaruhi pula daya hidupnya. Hal ini sesuai pendapat Naim (2004), yang menyatakan bahwa vaksin dapat menginduksi antibodi yang merupakan agen terpenting dari proteksi imun terhadap kebanyakan virus dan bakteri.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Pengembangan Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Virus KHV (Koi Herpesvirus) Menggunakan Isolat Lokal

Pengembangan Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Virus KHV (Koi Herpesvirus) Menggunakan Isolat Lokal

Vaksin virus untuk ikan jarang dijual secara komersial. Di Amerika Serikat sendiri agak sulit untuk mendapatkan lisensi peredaran karena prosesnya panjang dan biayanya mahal serta efikasi vaksin yang tidak konsisten. Kendala yang lain adalah masalah keamanan vaksin virus yang diatenuasi masih dipertanyakan karena memiliki potensi untuk bangkit kembali dan menginfeksi inang yang divaksinasi (Leong et al. dalam www.nps.ars.usda.gov). Berkembangnya penyediaan vaksin untuk menanggulangi penyakit yang diakibatkan oleh viral haemorrhagic septicaemia virus (VHSV), infectious haematopoietic necrosis virus (IHNV), infectious pancreatic necrosis virus (IPNV) dan infectious salmon anemia virus (ISAV) cukup memberikan perlindungan bagi budidaya ikan salmon. Di sisi lain, penumbuhan virus bakal vaksin di sel kultur ikan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk efisiensi biaya budidaya maka vaksin DNA perlu dikembangkan lebih lanjut. Pada level eksperimen vaksin ini dapat melawan virus dengan tingkat paling efisien. Vaksin ini berbasis pada plasmid DNA yang membawa sisipan gen misalnya glikoprotein dan disertai dengan promoter dan terminator/polyA untuk keperluan ekspresi di ikan (Lorenzen & LaPatra 2005).
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Pengembangan Vaksin DNA dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza

Pengembangan Vaksin DNA dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza

Kelebihan vaksin DNA dibandingkan dengan vaksin inaktif (konvensiaonal) adalah dapat menginduksi respon kebal Cell Mediated Immmunity (CMI) yang berperan dalam mengontrol infeksi viral, berbeda dengan vaksin inaktif yang menginduksi respon humoral. Preparasi vaksin tidak memerlukan inokulasi virus yang bersifat infeksius, sehingga pembuatan vaksin DNA lebih aman dan sederhana dibandingkan vaksin inaktif. Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam 3 tahap penelitian yang berlangsung selama 3 tahun. Tahap pertama adalah membuat konstruksi DNA plasmid pCR-HA, tahap berikutnya dilakukan konstruksi DNA plasmid yang menyandi DNA-HA (pVak-HA) sebagai bakal vaksin Avian Influenza yang akan diuji baik secara in vitro maupun in vivo. . Selanjutnya dilakukan transformasi pada E coli untuk perbanyakan plasmid rekombinan. Beberapa kegiatan pada tahap pertama ini adalah isolasi dan inokulasi pada Telur Embryo Tertunas (TAB), dilanjutkan dengan identifikasi virus menggunakan teknik uji Aglutinasi cepat dan RT-PCR. Full-length gen-HA diamplifikasi dengan teknik PCR dan dimasukkan ke dalam vektor plasmid-TA. Hasil seleksi plasmid rekombinan diverifikasi untuk mengetahui keberhasilan reaksi ligasi dengan teknik PCR, dilanjutkan dengan reaksi sekuensing untuk mengetahui susunan basanya. Sebanyak 7 isolat telah diperoleh dari wabah Avian Influenza di Sukabumi dan 1 isolat berasal dari Cirebon yang merupakan koleksi tahun 2006.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Pengujian Efektivitas Dosis Vaksin DNA Dan Korelasinya Terhadap Parameter Hematologi Secara Kuantitatif.

Pengujian Efektivitas Dosis Vaksin DNA Dan Korelasinya Terhadap Parameter Hematologi Secara Kuantitatif.

Ikan mas adalah ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, sedangkan ikan koi adalah jenis ikan hias yang memiliki nilai ekonomis penting yang dibudidayakan di Indonesia karena banyak menarik perhatian para peminat ikan hias. Namun sejak Maret 2002, pembudidaya ikan mas dan koi di Indonesia menghadapi wabah penyakit yang serius akibat koi herpesvirus (KHV) Upaya penanggulangan wabah KHV telah dilakukan salah satu cara efektif adalah membuat kekebalan spesifik pada ikan dengan pemberian vaksin. Hal ini karena vaksin dapat merangsang kekebalan spesifik dan kekebalan yang timbul relatif tinggi. Vaksin DNA menawarkan suatu metoda imunisasi yang menanggulangi beberapa kelemahan vaksin tradisional (vaksin hidup dan vaksin mati) seperti resiko infeksi dan biaya yang mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dosis vaksin DNA 2.5, 7.5 dan 12.5 µg/100µl terhadap parameter gambaran darah ikan mas pada saat vaksinasi maupun ketika diuji tantang dengan virus KHV. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2009, bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Ikan mas yang digunakan berasal dari Cianjur, prosedur penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu: 1) persiapan wadah dan ikan uji; 2) vaksinasi melalui penyuntikan vaksin DNA secara intramuskular dengan tiga tingkatan dosis yaitu 2.5 µg/100µ l, 7.5 µg/100µl dan 12.5 µg/100µ l; 3) uji tantang dilakukan pada hari ke-43 dengan menginjeksi virus aktif dosis pengenceran 10 -3 , sebanyak 0,1 ml melalui intramuskular (otot punggung) ke semua ikan uji. Paramater yang diamati adalah gambaran darah ikan meliputi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, hematokrit, leukosit total, hitung jenis (diferensial) leukosit, aktivitas fagositik dan identifikasi bakteri. Pengamatan dilakukan selama masa vaksinasi (hari ke-7 – 42) dan masa setelah uji tantang (hari ke-49 – 70).
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Uji potensi Artemia sp. sebagai vektor pembawa vaksin DNA untuk benih ikan mas Cyprinus carpio

Uji potensi Artemia sp. sebagai vektor pembawa vaksin DNA untuk benih ikan mas Cyprinus carpio

Pada ikan mas salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus adalah Koi Herpes Virus (KHV). Penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya sulit untuk disembuhkan karena virus merupakan parasit intraseluler, yaitu virus hanya dapat hidup, bertahan hidup, memperbanyak diri, dan berdiam diri jika berada di dalam sel inang. Metode pemberian vaksin DNA secara oral melalui Artemia sp. merupakan salah satu alternatif pengobatan yang diharapkan dapat menangani permasalahan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh virus. Pada penelitian ini dilakukan uji ekspresi vaksin DNA yang menyandikan glikoprotein 11 pada ikan mas. Bakteri yang mengandung plasmid Krt-GP11 sebagai vaksin diberikan melalui Artemia sp. sebagai pembawa vaksin. Pemberian Artemia sp. mengandung vaksin DNA dilakukan satu kali dan dua kali seminggu pada ikan mas usia 3 minggu. Keberadaan DNA vaksin di usus, ginjal, dan insang dianalisis menggunakan metode PCR. Organ diambil setiap 3 hari setelah pemberian vaksin. Ekspresi gen GP11 juga diamati pada organ ginjal di setiap perlakuan dengan menggunakan metode RT-PCR. Organ diambil 10 hari setelah pemberian vaksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DNA vaksin yang diberikan dengan dosis 10 6 cfu pada perlakuan satu dan dua kali seminggu dapat terdeteksi pada ketiga organ. Hasil RT-PCR menunjukkan bahwa ekspresi GP11 dapat terdeteksi pada semua organ uji di setiap perlakuan. Dengan demikian Artemia sp. dapat digunakan sebagai vektor pembawa vaksin plasmid GP11 dengan frekuensi pemberian vaksin satu kali atau dua kali seminggu.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Efficacy of DNA Vaccine Encoding Koi Herpesvirus Glycoprotein on Common Carp Fingerling by Immersion

Efficacy of DNA Vaccine Encoding Koi Herpesvirus Glycoprotein on Common Carp Fingerling by Immersion

Dalam penelitian ini, kami mengembangkan suatu aplikasi dari vaksin DNA mengandung gen penyandi glikoprotein KHV melalui metode perendaman untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas terhadap infeksi KHV. Sebanyak 400 ekor benih ikan mas berusia 30 hari direndam dalam air yang mengandung 1,3 x 10 8 CFU/ml sel bakteri Eschericia coli mati membawa vaksin DNA. Perlakuan yang diberikan merupakan variasi dari durasi dan frekuensi perendaman vaksin DNA; yaitu: perlakuan perendaman selama 1x 30 menit, 1x 60 menit, 1x 90 menit, 2x 90 menit, dan 3x 90 menit. Analisis reverse transcription polimerase chain reaction (RT-PCR) menunjukkan bahwa vaksin DNA berhasil terekspresi pada ikan yang divaksin. Setelah 28 hari vaksinasi, ikan diuji tantang dengan menginjeksikan KHV 10 -4 ml/ikan. Hasilnya menunjukkan bahwa Vaksinasi benih ikan mas usia 30 hari melalui perendaman bakteri E. coli mengandung vaksin DNA GP-25 yang telah diinaktivasi terbukti dapat memberikan kekebalan terhadap infeksi virus KHV. Hal ini dibuktikan dengan nilai kelangsungan hidup berkisar 59-63%; 2,2-2,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kontrol tanpa divaksin (26,67%). Kelangsungan hidup ikan divaksin melalui perendaman 30 menit tidak berbeda (P>0,05) dengan 60 dan 90 menit. Dengan demikian vaksinasi DNA melalui perendaman untuk meningkatkan daya tahan ikan mas terhadap infeksi KHV cukup dilakukan selama 30 menit. Nilai kelangsungan hidup ikan yang divaksin 2 dan 3 kali adalah sama dengan yang divaksin sekali.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PRODUCTION AND APPLICATION OF Streptococcus iniae DNA VACCINE TO INCREASE IMMUNITY OF NILE TILAPIA (Oreochromis niloticus) | Sutanti | Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) 13049 67813 1 PB

PRODUCTION AND APPLICATION OF Streptococcus iniae DNA VACCINE TO INCREASE IMMUNITY OF NILE TILAPIA (Oreochromis niloticus) | Sutanti | Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) 13049 67813 1 PB

Vaksin DNA dikonstruksi melalui kloning gen yang mengkode bagian protein atau sub bagian dari organel organisme. Informasi mengenai gen yang berperan dalam proses virulensi bakteri sangat dibutuhkan untuk mendapatkan produk vaksin DNA yang efektif dan bersifat imunogenik. Potongan molekul DNA plasmid rekombinan sebagai vaksin DNA, terdiri atas basa-basa nitrogen. Basa-basa nitrogen tersebut membentuk kodon yang menyandi informasi, yang selanjutnya disebut gen. Keamanan dan fungsi mendasar dari pembuatan vaksin DNA adalah gen penyandi antigen harus terekspresi, mampu menimbulkan respon antibodi dan mampu melawan jasad tantangan (Donelly et al., 2000). Salah satu potensi pengembangan vaksin DNA bakteri pada bidang perikanan yang dapat diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan adalah vaksin DNA golongan Streptococcus. Penyakit streptococcosis merupakan penyakit berspektrum luas karena dapat menyerang ikan air tawar seperti ikan nila dan gurame maupun pada ikan air laut seperti ikan kakap serta ikan kerapu. Bakteri ini termasuk kelompok HPIK (Hama Penyakit Ikan Karantina). Menurut Austin & Austin (1999), S. iniae bersifat zoonosis (patogen terhadap manusia) yaitu menyebabkan selulitis. Pola penyerangan bakteri ini terutama pada ikan ukuran dewasa yang siap panen sehingga menimbulkan kerugian yang besar. S. iniae merupakan bakteri patogen pada lebih dari 30 spesies ikan air tawar dan air laut seperti tilapia, yellowtail (Locke et al., 2006 a ), trout (Locke et al., 2006 b ) dan kakap. Menurut
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Jenis-Jenis Bakteri Gram Positif Potensial Patogen Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Tambak Desa Tanjung Rejo Paluh Putri Percut Sei Tuan

Jenis-Jenis Bakteri Gram Positif Potensial Patogen Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Tambak Desa Tanjung Rejo Paluh Putri Percut Sei Tuan

Pengembangan Produksi Vaksin DNA Streptococcus iniae Untuk Pencegahan Penyakit Streptococcosis pada Ikan Nila.. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.[r]

3 Baca lebih lajut

Show all 2113 documents...