Volatile Fatty Acid (VFA)

Top PDF Volatile Fatty Acid (VFA):

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Proses asidognesis merupakan tahap pertama dalam proses digestasi anaerobik. Proses asidognesis menghasilkan volatile fatty acid (VFA) yang menjadi substrat untuk tahap metanognesis dalam memproduksi biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh variasi laju pengadukan serta mendapatkan kondisi laju pengadukan terbaik dengan menggunakan reaktor semi batch dalam proses asidogenesis menggunakan Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit (LCPKS) pada keadaan ambient. Proses dilakukan dengan memvariasikan laju pengadukan fermentor Reaktor Semi Batch, yaitu 200 rpm, 250 rpm dan 300 rpm dengan kondisi pH 5,5 ± 0,2. Analisa padatan (TS, VS, TSS, dan VSS), COD dan VFA dilakukan untuk mengkaji perubahan senyawa organik yang berubah menjadi VFA pada asidogenesis. Pembentukkan VFA total tertinggi dicapai pada variasi laju pengadukan 200 rpm yakni 6.721,685 mg/L dengan konsentrasi asam asetat, asam propionat dan asam butirat masing-masing sebesar 3.192,605 mg/L, 1.309,477 mg/L, dan 2.219,604 mg/L, dengan degradasi VS dan COD masing-masing sebesar 29,5960 % dan 3,5714 % dan rasio VFA/Alkalinitas 2,4006.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Proses asidognesis merupakan tahap pertama dalam proses digestasi anaerobik. Proses asidognesis menghasilkan volatile fatty acid (VFA) yang menjadi substrat untuk tahap metanognesis dalam memproduksi biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh variasi laju pengadukan serta mendapatkan kondisi laju pengadukan terbaik dengan menggunakan reaktor semi batch dalam proses asidogenesis menggunakan Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit (LCPKS) pada keadaan ambient. Proses dilakukan dengan memvariasikan laju pengadukan fermentor Reaktor Semi Batch, yaitu 200 rpm, 250 rpm dan 300 rpm dengan kondisi pH 5,5 ± 0,2. Analisa padatan (TS, VS, TSS, dan VSS), COD dan VFA dilakukan untuk mengkaji perubahan senyawa organik yang berubah menjadi VFA pada asidogenesis. Pembentukkan VFA total tertinggi dicapai pada variasi laju pengadukan 200 rpm yakni 6.721,685 mg/L dengan konsentrasi asam asetat, asam propionat dan asam butirat masing-masing sebesar 3.192,605 mg/L, 1.309,477 mg/L, dan 2.219,604 mg/L, dengan degradasi VS dan COD masing-masing sebesar 29,5960 % dan 3,5714 % dan rasio VFA/Alkalinitas 2,4006.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Penentuan Bilangan Volatile Fatty Acid (VFA) Dalam Lateks Kebun Pada Pembuatan Karet Remah

Penentuan Bilangan Volatile Fatty Acid (VFA) Dalam Lateks Kebun Pada Pembuatan Karet Remah

Bilangan VFA adalah bilangan yang menggambarkan asam-asam lemak yang menguap yang terbentuk karena adanya kegiatan mikroorganisme sehingga akan menyebabkan prakoagulasi. Jika prakoagulasi terjadi maka gumpalan karet remah yang dihasilkan tidak akan homogen dan keelastisitasan produk juga akan berkurang. Prakoagulasi yang terjadi akibat adanya volatile fatty acid ini juga akan menyebabkan penguraian pada zat bukan karet yang terdapat pada serum. Terjadinya prakoagulasi ini akan mengakibatkan kerugian ekonomis baik untuk pihak produsen maupun konsumen.

25 Baca lebih lajut

Pengaruh Nilai Ph Dan Nilai Volatile Fatty Acid (VFA) Terhadap Kemantapan Lateks Pekat

Pengaruh Nilai Ph Dan Nilai Volatile Fatty Acid (VFA) Terhadap Kemantapan Lateks Pekat

Kadar Volatile Fatty Acid (VFA) pada lateks pekat pada tangki penyimpanan dapat berubah- ubah disebabkan oleh adanya bakteri (mikroorganisme). Salah satu parameter yang harus dipenuhi dalam meningkatkan kualitas lateks dan karet remah yang dihasilkan adalah kadar Volatile Fatty Acid (VFA) yang memiliki standar <0,070. Apabila lebih dari itu maka dapat menurunkan mutu dari lateks pekat yang dihasilkan sehingga dapat merugikan pihak

43 Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

rendah (asam) mengharuskan pengolahan LCPKS sehingga sesuai dengan standar baku mutu untuk limbah cair pabrik kelapa sawit. Pengolahan LCPKS dapat dilakukan dengan proses digesti anaerobik dua tahap yang akan menghasilkan produk berupa biogas, pada proses pengolahan dua tahap yang pertama hidrolisis dan asidogenesis yang menghasilkan produk berupa VFA( Volatile Fatty Acid ), sedangkan pada tahap kedua yaitu asetogenesis dan metanogenesis yang menghasilkan produk berupa biogas [25]. Sesuai peraturan Kementrian Lingkungan Hidup dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP 51-/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri, Nilai baku mutu COD adalah 500 mg/l dan pH 6-9 [21]. Selain itu, pengolahan LCPKS dibutuhkan untuk aplikasinya sebagai pupuk pada perkebunan disekitar pabrik.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PRODUKSI VFA (Volatile Fatty Acid) DAN KONSENTRASI NH3 JERAMI PADI SECARA IN-VITRO DENGAN PEMBERIAN ISOLAT MIKROBALIGNOLITIK PADA WAKTU FERMENTASI YANG BERBEDA

PRODUKSI VFA (Volatile Fatty Acid) DAN KONSENTRASI NH3 JERAMI PADI SECARA IN-VITRO DENGAN PEMBERIAN ISOLAT MIKROBALIGNOLITIK PADA WAKTU FERMENTASI YANG BERBEDA

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dua perlakuan yaitu jenis isolat dan waktu fermentasi, rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial, variabel yang diukur adalah produksi VFA dan konsentrasi NH3. Data yang diperoleh akan dilanjutkan dengan AN AVA apabila terdapat pengaruh dilanutkan dengan Uji Duncan.

1 Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Proses asidogenesis merupakan tahap pertama dalam proses digestasi anaerobik. Proses asidogenesis menghasilkan volatile fatty acid (VFA) yang menjadi substrat untuk tahap metanogenesis dalam memproduksi biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh variasi pH serta mendapatkan kondisi pH terbaik dengan menggunakan reaktor batch berpengaduk dalam proses asidogenesis menggunakan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada kondisi ambient . Proses dilakukan dengan memvariasikan pH fermentor reaktor batch , yaitu 5; 5,5 dan 6 dengan kecepatan pengadukan 250 rpm. Analisa padatan (TS, VS, TSS, dan VSS), COD dan VFA dilakukan untuk mengkaji perubahan senyawa organik yang berubah menjadi VFA pada asidogenesis. Pembentukan VFA total tertinggi dicapai pada variasi 5,5 yakni 4.141,416 mg/L dengan konsentrasi asam asetat, asam propionat, dan asam butirat masing masing sebesar 1.444,329 mg/L; 712,5267 mg/L dan 1.984,5602 mg/L, dengan degradasi VS dan COD masing masing sebesar 30,39 % dan 27,78 % dan rasio VFA/Alkalinitas sebesar 1,7623
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Pada penelitian yang dilakukan oleh Margarita Andreas, Dareioti, Aekaterini Ioannis Vavouraki, Michael Kornaros (2014), melaporkan dengan menggunakan air limbah industri pertanian (55% olive mill wastewater, 40% cheese whey dan 5% liquid cow manure), operasi batch dengan volume reaktor 1 L, rentang pH 4,5-7,5, temperatur mesofilik (37°C) dan kecepatan pengadukan 150 rpm. Hasil produk akhir yang teridentifikasi adalah asetat, propionat, butirat, laktat, dan etanol. Konsentrasi VFA maksimum (13,43 g/L) pada pH 6,5. Hal yang sama juga dilaporkan oleh Jianguo Jiang, Yujing Zhang, Kaimin Li, Quan Wang, Gong Changxiu, Menglu Li (2013). Menggunakan limbah makanan (35% beras, 45% kubis, 16% daging babi dan 4% tofu), operasi batch dengan volume 4,5 L, variasi pH 5, 6, 7 dan tidak dikontrol 35°C, kecepatan pengadukan 250 rpm. VFA terdiri dari asetat, propionat, iso-butirat, n- butirat, iso-valerat dan n-valerat. Dihasilkan yields VFA tertinggi.Oleh karena itu perlu dilakukan variasi pH pada proses konversi LCPKS menjadi VFA menggunakan reaktor batch pada kondisi ambient.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch Chapter III V

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch Chapter III V

Pada penelitian ini proses digestasi anaerobik dua-tahap dibatasi hanya pada tahap pertama (proses asidogenesis) saja yang dilangsungkan pada reaktor semi batch dan menghasilkan VFA sebagai produk. Pengaruh laju pengadukan pada proses asidogenesis dipelajari dengan memvariasikan laju pengadukan yakni 200, 250, dan 300 rpm, pada keadaan ambient dan pH diatur 5,5 ± 0,2. Pengaturan pH dilakukan dengan menambahkan NaHCO 3 pada umpan. Kinerja dari proses ini

Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi Laju Pengadukan Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Semi Batch

Beberapa masalah yang perlu diselesaikan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh variasi laju pengadukan dan laju pengadukan terbaik pada proses konversi LCPKS menjadi VFA mmenggunakan reaktor semi batch berpengaduk (RBB) pada temperatur ambient, dan bagaimana data kinetika pada proses konversi LCPKS menjadi VFA menggunakan reaktor semi batch pada kondisi ambient.

Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

[37] Kaushalya C. Wijekoon, Chettiyappan Visvanathan, Amila Abeynayaka, “Effect of organic loading rate on VFA production, organic matter removal and microbial activity of a two-stage th ermophilic anaerobic membrane bioreactor”, Bioresource Technology 102 (2011): hal 5353 – 5360.

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN ZEOLIT BERAMONIUM DAN MINERAL ORGANIK TERHADAP KADAR AMONIA (NH3) dan VOLATILE FATTY ACID (VFA) CAIRAN RUMEN PADA SAPI PERANAKAN ONGOLE

PENGARUH PEMBERIAN ZEOLIT BERAMONIUM DAN MINERAL ORGANIK TERHADAP KADAR AMONIA (NH3) dan VOLATILE FATTY ACID (VFA) CAIRAN RUMEN PADA SAPI PERANAKAN ONGOLE

Menurut Blakely dan Bade (1994), saat mikroorganisme bekerja terhadap pakan di dalam saluran pencernaan, maka akan dihasilkan produk sampingan berupa asam lemak terbang atau volatile vatty acid (VFA). VFA diserap melalui dinding rumen melalui penonjolan-penonjolan yang menyerupai jari yang disebut vili, serta menghasilkan energi. Sutardi (1980) menyatakan bahwa energi yang terbuang dalam bentuk gas metan (CH 4 ) dan panas fermentasi, kemudian protein

59 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN MINERAL MIKRO ORGANIK TERHADAP KADAR AMONIA (NH3) dan VOLATILE FATTY ACID (VFA) CAIRAN RUMEN PADA SAPI PEDAGING

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN MINERAL MIKRO ORGANIK TERHADAP KADAR AMONIA (NH3) dan VOLATILE FATTY ACID (VFA) CAIRAN RUMEN PADA SAPI PEDAGING

VFA rumen merupakan sumber utama energi dan karbon untuk pertumbuhan ternak inang dan mempertahankkan mikroorganisme dengan rumen (Hungate, 1966). Sebanyak 70--80% kebutuhan energi ternak ruminansia dipenuhi oleh produksi VFA rumen (Ensminger et al., 1990). Banyaknya VFA yang dihasilkan di dalam rumen sangatlah bervariasi yaitu sebesar 200--1500 mg/100 ml cairan rumen. Hal ini tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi. Jumlah produksi VFA yang baik untuk memenuhi sintesis mikroba rumen yaitu sekitar 70--150 mM (Mc Donald, 1995). VFA merupakan sumber energi utama yang berasal dari hasil fermentasi karbohidrat di dalam rumen. VFA dapat menggambarkan
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Proses asidogenesis merupakan tahap pertama dalam proses digestasi anaerobik. Proses asidogenesis menghasilkan volatile fatty acid (VFA) yang menjadi substrat untuk tahap metanogenesis dalam memproduksi biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh variasi pH serta mendapatkan kondisi pH terbaik dengan menggunakan reaktor batch berpengaduk dalam proses asidogenesis menggunakan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada kondisi ambient. Proses dilakukan dengan memvariasikan pH fermentor reaktor batch , yaitu 5; 5,5 dan 6 dengan kecepatan pengadukan 250 rpm. Analisa padatan (TS, VS, TSS, dan VSS), COD dan VFA dilakukan untuk mengkaji perubahan senyawa organik yang berubah menjadi VFA pada asidogenesis. Pembentukan VFA total tertinggi dicapai pada variasi 5,5 yakni 4.141,416 mg/L dengan konsentrasi asam asetat, asam propionat, dan asam butirat masing masing sebesar 1.444,329 mg/L; 712,5267 mg/L dan 1.984,5602 mg/L, dengan degradasi VS dan COD masing masing sebesar 30,39 % dan 27,78 % dan rasio VFA/Alkalinitas sebesar 1,7623
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Asidogenesis merupakan proses penguraian substrat organik kompleks menggunakan bantuan mikroba menjadi Volatile Fatty Acid (VFA) yang terdiri dari asam asetat, asam propionat dan asam butirat pada kondisi anaerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konversi LCPKS menjadi VFA pada proses asidogenesis menggunakan variasi Hydraulic Retention Time (HRT) dan variasi laju pengadukan dengan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada temperatur 45 o C. Fermentor yang digunakan yaitu Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) dengan pH fermentor dijaga konstan 6 ± 0,2 dengan menambahkan natrium bikarbonat (NaHCO 3 ). Proses loading up dilakukan dengan variasi HRT yang dimulai dari HRT
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Asidogenesis merupakan proses penguraian substrat organik kompleks menggunakan bantuan mikroba menjadi Volatile Fatty Acid (VFA) yang terdiri dari asam asetat, asam propionat dan asam butirat pada kondisi anaerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konversi LCPKS menjadi VFA pada proses asidogenesis menggunakan variasi Hydraulic Retention Time (HRT) dan variasi laju pengadukan dengan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada temperatur 45 o C. Fermentor yang digunakan yaitu Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) dengan pH fermentor dijaga konstan 6 ± 0,2 dengan menambahkan natrium bikarbonat (NaHCO 3 ). Proses loading up dilakukan dengan variasi HRT yang dimulai dari HRT
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Pengaruh Hydraulic Retention Time (HRT) dan Laju Pengadukan pada Proses Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada Temperatur 45oC

Asidogenesis merupakan proses penguraian substrat organik kompleks menggunakan bantuan mikroba menjadi Volatile Fatty Acid (VFA) yang terdiri dari asam asetat, asam propionat dan asam butirat pada kondisi anaerobik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konversi LCPKS menjadi VFA pada proses asidogenesis menggunakan variasi Hydraulic Retention Time (HRT) dan variasi laju pengadukan dengan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) pada temperatur 45 o C. Fermentor yang digunakan yaitu Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) dengan pH fermentor dijaga konstan 6 ± 0,2 dengan menambahkan natrium bikarbonat (NaHCO 3 ). Proses loading up dilakukan dengan variasi HRT yang dimulai dari HRT
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Asidogenesis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Kondisi Ambient : Pengaruh Variasi pH Terhadap Pembentukan Volatile Fatty Acid (VFA) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk

Pada langkah kedua adalah asidogenesis (juga disebut sebagai fermentasi), Setelah bahan baku terdegradasi menjadi molekul yang lebih kecil, yaitu asam lemak rantai panjang ( Long Chain Fatty Acids ), alkohol, gula sederhana dan asam amino dari tahap hidrolisis , bakteri Acidogenic mampu menyerap molekul tersebut dan mendegradasi lebih lanjut menjadi asam lemak volatil (VFA) [23].

Baca lebih lajut

THE EFFECT OF LACTIC ACID BACTERIA AND DIFFERENT LEVEL OF CARBOHYDRATE SOURCES ADDITION ON TOFU WASTE INDUSTRY FERMENTATION | Bachruddin | Buletin Peternakan 23677 61481 1 PB

THE EFFECT OF LACTIC ACID BACTERIA AND DIFFERENT LEVEL OF CARBOHYDRATE SOURCES ADDITION ON TOFU WASTE INDUSTRY FERMENTATION | Bachruddin | Buletin Peternakan 23677 61481 1 PB

Based on the result presented in Table 3, it can be concluded that the proportion of dissolved carbohydrate in tofu curd silage did not give effect on the level of lactic acid (P<0.05), but the three treatments gave different result of lactic acid production. The proportion of tofu curd and pollard (55:45) produced lactic acid with the highest average which is 3.54% BK. However, other results present that the addition of LAB significantly affected the levels of lactic acid (P<0.05). High content of BETN was more susceptible to degradee resulting in a higher lactic acid production. The result showed that the proportion BETN tofu curd and pollard (55:45) by 60.17% higher lactate production compared to (70:30) by 53% and (60:40) by 58.10%. Hartadi et al. (1999) reported that the extract without nitrogen-containing mono-, di- , tri- and tetra-saccharides and starch added by some material substances includes hemicellulose. Molin (2008) reported that L. plantarum is a homo-fermentative bacteria which is able to utilize 100% of carbohydrates in the form of glucose or other simple sugar. The more complex sugar bonding that occurs in carbohydrate, the lower capability of L. Plantarum to utilize these carbohydrate.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Dampak Kebijakan Penurunan Tingkat Suku Bunga dan Peningkatan Penawaran Minyak Sawit terhadap Produksi Fatty Acid di Indonesia

Dampak Kebijakan Penurunan Tingkat Suku Bunga dan Peningkatan Penawaran Minyak Sawit terhadap Produksi Fatty Acid di Indonesia

Hasil estimasi model dalam penelitian ini ditunjukkan secara lengkap pada Lampiran 3 sampai Lampiran 7, dapat dijelaskan bahwa secara umum variable penjelas yang dimasukkan ke dalam persamaan struktural mempunyai besaran dan tanda parameter estimasi yang sesuai dengan harapan dari sudut pandang teori ekonomi. Kriteria-kriteria statistika yang umum digunakan dalam mengevaluasi hasil estimasi model cukup menyakinkan. Nilai koefisien determinasi (R 2 ) dari masing-masing persamaan struktural berkisar antara 0.33 sampai 0.93. Sebagian besar persamaan memilik nilai R 2 di atas 0.5 dan hanya persamaan harga riil fatty acid domestik (HFACID) yang memiliki nilai R 2 di bawah 0.4. Berdasarkan nilai R 2 tersebut menunjukan bahwa secara umum variabel endogen dapat dijelaskan dengan baik oleh variabel-variabel eksogen dalam persamaan struktural.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

Show all 2414 documents...