Wanita Karo

Top PDF Wanita Karo:

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hardiness pada penyintas wanita lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria di masyarakat Karo. Populasinya adalah semua para penyintas Gunung Sinabung yang berada di posko pengungsian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling yaitu accidental sampling. Skala yang digunakan adalah skala hardiness yang disusun oleh peneliti dengan beberapa perubahan berdasarkan teori dari Kobasa (1979). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan fasilitas SPSS 18 for windows, dengan teknik analisis t-test, ditemukan bahwa hardiness pada penyintas wanita Karo lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria Karo. Hasil diskusi dalam penelitian ini adalah wanita Karo lebih tangguh dalam menghadapi suatu masalah karena dalam budaya Karo, wanita dituntut untuk lebih kuat karena banyak dan beratnya tugas dan tanggung jawab yang harus dijalani daripada tugas dan tanggung jawab seorang pria Karo dalam kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hardiness pada penyintas wanita lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria di masyarakat Karo. Populasinya adalah semua para penyintas Gunung Sinabung yang berada di posko pengungsian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling yaitu accidental sampling. Skala yang digunakan adalah skala hardiness yang disusun oleh peneliti dengan beberapa perubahan berdasarkan teori dari Kobasa (1979). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan fasilitas SPSS 18 for windows, dengan teknik analisis t-test, ditemukan bahwa hardiness pada penyintas wanita Karo lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria Karo. Hasil diskusi dalam penelitian ini adalah wanita Karo lebih tangguh dalam menghadapi suatu masalah karena dalam budaya Karo, wanita dituntut untuk lebih kuat karena banyak dan beratnya tugas dan tanggung jawab yang harus dijalani daripada tugas dan tanggung jawab seorang pria Karo dalam kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Wanita Karo menurut Ny. Wallia Keliat (dalam Sembiring, 2008) merupakan wanita yang tangguh tetapi cenderung menerima keadaan sebagai sosok yang lebih rendah dan kurang percaya diri. Hal ini terjadi karena dalam keluarga, wanita hanyalah sebagai pelengkap dan pendengar serta tidak dapat menyampaikan pendapat pribadi, jikalau ingin memberikan pendapat, wanita harus menyampaikan kepada pria sehingga pria juga yang mendapat pujian. Menurut Tamboen (1952) wanita yang sudah menikah, mereka tetap mengurusi urusan yang membutuhkan kekuatan dan kesabaran sekaligus.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Perilaku Menyirih Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Yang Dirasakan Wanita Karo Di Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Tahun 2009

Perilaku Menyirih Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Yang Dirasakan Wanita Karo Di Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo Tahun 2009

membahas perilaku menyirih pada wanita karo karena pada dasarnya setting budaya Karo itu sendiri adalah menyirih. Namun dari tradisi ini hal itu sampai sekarang telah bergeser karena pada wanita Karo khususnya dalam mengkonsumsi sirih tidak lagi pada acara- acara adat istiadat saja tapi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Selain itu, sirih telah berabad-abad dikenal oleh nenek moyang kita sebagai tanaman obat berkhasiat dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Sirih juga digunakan untuk pengobatan disertai dengan jampi dan mantra oleh dukun. Hal ini yang membuat sulit untuk meninggalkan kebiasaan menyirih yang telah melekat di masyarakat, karena segala sesuatu yang bersifat sosial dan berakar budaya sulit untuk dihilangkan. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi lain, disebut superorganik (http://en.wikipedia.org/wiki/Culture.2008).
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hardiness pada penyintas wanita lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria di masyarakat Karo. Populasinya adalah semua para penyintas Gunung Sinabung yang berada di posko pengungsian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling yaitu accidental sampling. Skala yang digunakan adalah skala hardiness yang disusun oleh peneliti dengan beberapa perubahan berdasarkan teori dari Kobasa (1979). Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan fasilitas SPSS 18 for windows, dengan teknik analisis t-test, ditemukan bahwa hardiness pada penyintas wanita Karo lebih tinggi daripada hardiness pada penyintas pria Karo. Hasil diskusi dalam penelitian ini adalah wanita Karo lebih tangguh dalam menghadapi suatu masalah karena dalam budaya Karo, wanita dituntut untuk lebih kuat karena banyak dan beratnya tugas dan tanggung jawab yang harus dijalani daripada tugas dan tanggung jawab seorang pria Karo dalam kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.Dengan judul Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (KWK-GBKP) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo.Penelitian ini dilakukan sebagai syarat untuk memenuhi syarat gelar Sarjana Sosial pada Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial.Penulis mengucapkan terimakasih yang tiada batas kepada kedua orang tua, Ayah Penulis yaitu Alm. Setia Bangun dan Ibu Penulis Karolina Karo-Karo, S.Th, karena telah membesarkan dan mendidik penulis seorang diri, berjuang semaksimal mungkin sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dan tidak lupa juga kepada kakak penulis, Henny Gloria Bangun, A.Mddan adik penulis, Handi Soma Bangun, serta seluruh keluarga yang selalu memberi semangat dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini, yakni :
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (KWK-GBKP) merupakan salah satu tempat yang ditentukan Pemerintah Kabupaten (PemKab) sebagai tempat pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung dari sejumlah desa termasuk Desa Payung. KWK-GBKP mempunyai program pemberdayaan perempuan bagi perempuan pengungsi erupsi Sinabung yang meliputi 5 bagian, yakni: kebutuhan minimum (sandang dan pangan), pelayanan kesehatan, keterampilan, psikososial, dan ekonomi.

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Wanita Karo dari kecil terbiasa untuk mengurus rumah tangga seperti membantu ibu menyuci, memasak, membersihkan rumah, mengurus adik. Wanita Karo yang sudah menikah memiliki tugas yaitu mulai dari pagi, mengurus kehidupan rumah tangga mulai dari memasak, menyapu, mencuci, mengambil air ke pancuran (tempat mandi terbuka yang jaraknya jauh dari perkampungan), mengurus anak dan suami, setelah pekerjaan rumah selesai, ia akan berangkat untuk berladang, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, bekerja mulai dari pagi hingga sore atau siang hari. Selain berladang, wanita Karo juga sering juga berjualan atau berdagang di pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan beban berat yang harus dijalani oleh wanita Karo, membuat wanita Karo dituntut untuk lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi masalah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

39 titik pengungsian. Terdapat titik pengungsi baru yaitu di Maka Jl.Samura sebanyak 122 jiwa (42 KK) yang berasal dari Desa Gung Pinto. 9 Februari 2014 tercatat jumlah pengungsi erupsi Gunung Sinabung mencapai 33.126 jiwa (10.297 KK) yang terletak di 41 titik pengungsian yang statusnya masih skala bencana kabupaten, dimana artinya Pemerintah Daerah Karo masih mampu mengatasi bencana tersebut yang dibantu Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara yang didampingi oleh Pemerintah Pusat. Adanya usulan agardijadikan skala nasional tidak memenuhi persyaratan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 51 ayat 2, dimana disebutkan penetapan skala nasional ditetapkan oleh presiden, skala provinsi oleh gubernur, dan skala kabupaten/kota oleh bupati/walikota. Pemerintah Daerah Karo masih berjalan normal.Selain itu juga tidak ada korban jiwa banyak dan terjadi eskalasi bencana yang luas. Berbeda dengan erupsu Gunung Merapi tahun 2010, dimana presiden memerintahkan kendali operasi tangap darurat dalam satu komando berada di tangan kepala BNPB dibantu Gubernur DIY, Gubernur Jawa Tengah, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jawa Tengah dan DIY pada tanggal 05 September 2010. Keputusan presiden saat itu didasarkan bertambahnya korban dan pengungsi. Pada 4 September 2010 korban jiwa 44 tewas, 119 luka-luka, 82.701 mengungsi, kemudian ketika erupsi besar 05 September 2010 korban meningkat 114 tewas, 218 luka-luka dan 300.000 mengungsi (Pusat data Informasi dan Humas BNPB).
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

The Relationship of Hardiness and Social Support to Student Appraisal of Stress in an Clinical Nursing Station.. Williamsport: Lycoming College.[r]

6 Baca lebih lajut

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

Perbedaan Hardiness Antara Pria dan Wanita Karo Penyintas Bencana Gunung Sinabung

saya tetap bisa berfikir positif walaupun keadaan sulit yang terjadi selama berada di posko ini.. Saya yakin ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian meletusnya Gunung Sinabung.[r]

29 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

39 titik pengungsian. Terdapat titik pengungsi baru yaitu di Maka Jl.Samura sebanyak 122 jiwa (42 KK) yang berasal dari Desa Gung Pinto. 9 Februari 2014 tercatat jumlah pengungsi erupsi Gunung Sinabung mencapai 33.126 jiwa (10.297 KK) yang terletak di 41 titik pengungsian yang statusnya masih skala bencana kabupaten, dimana artinya Pemerintah Daerah Karo masih mampu mengatasi bencana tersebut yang dibantu Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara yang didampingi oleh Pemerintah Pusat. Adanya usulan agardijadikan skala nasional tidak memenuhi persyaratan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal 51 ayat 2, dimana disebutkan penetapan skala nasional ditetapkan oleh presiden, skala provinsi oleh gubernur, dan skala kabupaten/kota oleh bupati/walikota. Pemerintah Daerah Karo masih berjalan normal.Selain itu juga tidak ada korban jiwa banyak dan terjadi eskalasi bencana yang luas. Berbeda dengan erupsu Gunung Merapi tahun 2010, dimana presiden memerintahkan kendali operasi tangap darurat dalam satu komando berada di tangan kepala BNPB dibantu Gubernur DIY, Gubernur Jawa Tengah, Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jawa Tengah dan DIY pada tanggal 05 September 2010. Keputusan presiden saat itu didasarkan bertambahnya korban dan pengungsi. Pada 4 September 2010 korban jiwa 44 tewas, 119 luka-luka, 82.701 mengungsi, kemudian ketika erupsi besar 05 September 2010 korban meningkat 114 tewas, 218 luka-luka dan 300.000 mengungsi (Pusat data Informasi dan Humas BNPB).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

119 Sumber lainnya Asian Disaster Reduction Center 2003 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka Inpres No.9 tahun 2000 Inter[r]

3 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Bencana alam apapun bentuknya memang tidak dapat dihindari dan dapatterjadi kapan saja. Bukan hanya itu, bencana juga berdampak pada resiko kerugian yang sangat tinggi.Kerugian tersebut melingkupi kerusakan infrastruktur, akses informasi dan komunikasi, kehilangan tempat tinggal dan harta benda, sampai jatuhnya korban meninggal yang mengakibatkan korban kehilangan sanak saudara mereka.Salah satu korban yang paling membutuhkan perhatian khusus saat bencana adalah perempuan pengungsi dari bencana itu sendiri.Bencana erupsi Gunung Sinabung yang terjadi di Kabupaten Karo telah meninggalkan kesan yang dapat dilupakan oleh para korban.Berpuluh ribu orang menjadi korban keganasan erupsi Gunung Sinabung yang menyebabkan mengungsi, pemukiman penduduk yang hancur, tertutup debu, ternak dan tanaman mati sekejap. Gunung yang telah tidur 400 tahun lamanya aktif kembali membuat mata masyarakat Indonesia bahkan dunia internasional tergerak untuk membantu para korban yang selamat dari erupsi Gunung Sinabung. Akibat letusan Gunung Sinabung akses ekonomi sosial penduduk terhenti, banyak desa-desa menjadi daerah mati, hilangnya harta benda, dan lain-lain meskipun tidak banyak menelan korban jiwa.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Program Pemberdayaan Perempuan Kursus Wanita Karo Gereja Batak Karo Protestan (Kwk-Gbkp) Pada Perempuan Pengungsi Sinabung Kecamatan Payung Kabupaten Karo

Apakah saudara tahu tentang program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan oleh KWK-GBKP?. Darimana saudara tahu program tersebut6[r]

4 Baca lebih lajut

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Kapur yang digunakan dalam mengkonsumsi sirih mengandung zat kitin, produk kitin yang digunakan dalam menyirih berbentuk serbuk kapur yang dapat merusak jaringan periodonsium secara mekanis dengan cara pembentukan kalkulus yang akan menyebabkan peradangan jaringan periodontal dan kegoyangan gigi. Gigi-gigi menjadi aus dan berwarna kemerahan. Proses mengunyah sirih diakhiri dengan menyusur tembakau yakni menggosokkan segumpalan tembakau pada gigi untuk meratakan hasil mengunyah sirih. Tekanan tembakau pada waktu menyusur dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya resesi gingiva. Silikat yang terdapat di dalam daun tembakau dan pengunyahan dalam waktu yang lama berangsur-angsur akan mengikis elemen gigi sampai ke gingiva. Durasi dan frekuensi menyirih dapat mempengaruhi dari penurunan tulang alveolar. Umur juga dapat mempengaruhi cepatnya penurunan tulang alveolar sebagai contohnya di penelitian ini wanita berumur 35 tahun termasuk kategori berat karena frekuensinya menyirih dalam sehari lebih dari 5 kali, ini dapat menyebabkan penurunan tulang alveolar yang berat. 25
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Menyirih merupakan proses meramu campuran dari bahan – bahan yang telah dipilih dan dibungkus kemudian dikunyah kurang lebih 30 menit. Bahan menyirih ini terdiri dari berbagai macam mulai dari tembakau, pinang, gambir, sirih dan tembakau. Kebiasaan menyirih tidak beda dengan merokok, minum teh atau kopi. Kebiasaan ini sangat sulit untuk dihilangkan dan menimbulkan kecanduan. Efek negatif dari menyirih terhadap gigi dan gingiva dapat menimbulkan stein selain itu dapat menyebabkan penyakit periodontal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran kehilangan tulang alveolar pada masyarakat Tanah Karo yang ditinjau secara radiografi panoramik.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Hubungan kehilangan tulang alveolar terhadap kebiasaan menyirih pada wanita karo pengungsi Sinabung ditinjau secara radiografi panoramik

Jenis penelitian adalah analitik cross-sectional . Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 40 wanita terdiri dari umur 30 – 40 tahun frekuensi menyirih lebih dari 10 tahun. Data penelitian diolah menggunakan uji chi square .

1 Baca lebih lajut

Persepsi Dan Pengalaman Perempuan Karo Yang Ditinggal Mati Suami Terhadap Harta Warisan (Studi kasus masyarakat Karo di Desa Penen Kec.Biru-biru)

Persepsi Dan Pengalaman Perempuan Karo Yang Ditinggal Mati Suami Terhadap Harta Warisan (Studi kasus masyarakat Karo di Desa Penen Kec.Biru-biru)

Dari lima bagian daerah Karo ini, sedikit banyaknya ada terdapat perbedaan, yaitu dari segi adat-istiadat, bahasa, dan norma kebiasaan masyarakatnya. Desa Penen, sesuai dengan wilayahnya disebut Karo Jahe. Selama ini masyarakat Karo baik yang tinggal di Kabupaten Karo atau yang tinggal di perantauan masih menghormati eksistensi hukum adat dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Demikian halnya dengan masyarakat Karo yang bertempat tinggal di Desa Penen. Adat istiadat masih dipegang teguh sebagai jiwa suatu masyarakat yang mampu menciptakan kesejahteraan. Jiwa gotong-royong 5 yang masih tetap dijaga semakin mempererat persaudaraan antar sesamanya. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak perubahan yang terjadi di Desa Penen ini dalam hal pembagian warisan terhadap perempuan dan warisan terhadap wanita Karo yang ditinggal mati suaminya. Dimana perempuan sudah dianggap berhak untuk mendapatkan warisan.
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

Daliken Si Telu Masyarakat Batak Karo: Satu Kajian Sistem Kekerabatan Sebagai Sarana Pengendalian

Daliken Si Telu Masyarakat Batak Karo: Satu Kajian Sistem Kekerabatan Sebagai Sarana Pengendalian

kerugiannya (a). bagi wanita non karo yang menikah dengan pria karo, si wanita tidak mempunyai beru, maka keluarganya tidak mempunyai kalimbubu sierkimbang, dan anaknya tidak mempunyai kalimbubu daerah berdasarkan konsep daliken si telu, karena anak-anaknya yang dilahirkan tidak mempunyai kalimbubu daerah, dia tidak berhak mendapatkan harta warisanadat hal ini karena pembagian harta warisan ada melibatkan pihak daliken si telu. Bila ada acara-acara adat Karo, tidak ada yang mengosei (meminjamkan dan memakaikan pakaian adat) kepada suaminya. Bila timbul sengketa didalam keluarga yang mereka bina, tidak dapat diselesaikan menurut adat istiadat (Karo). Bila ada acara-acara adat, si istri (wanita) menjadi canggung karena tidak mengetahui dimana posisinya dalam acara adat tersebut, kalaupun tahu posisinya, tetap tidak sah menurut adat istiadat Karo. Kalau si istri meninggal dunia, dia tidak berhak dimakamkan dipekuburan keluarga suaminya, demikian pula anak-anak yang dilahirkannya. Si istri tidak berhak mengelola harta warisan marga suaminya, demikian pula dengan anak-anak yang dilahirkannya walaupun mereka memiliki anak laki-laki. Kerugian bagi anak kandungnya, anak kandungnya tidak mempunyai marga/beru dalam struktur adat Karo, si anak tidak memiliki struktur yang lengkap menurut adat karo, apakah sebagai kalimbubu, anak beru, senina/sembuyak. (b). bagi pria non karo yang menikah dengan wanita karo, bila timbul sengketa dalam rumah tangga mereka, tidak dapat diselesaikan menurut adat istiadat Karo, bila ada acara-acara adat dalam keluarga istrinya si suami akan menjadi canggung karena tidak mengetahui posisinya dalam acara adat tersebut, kalaupun tahu posisinya, tetap tidak sah menurut adat istiadat karo, si pria tidak mempunyai klen (marga), maka keluarga yang mereka bina tidak mempunyai anak beru berdasarkan daliken si telu. Demikian pula dengan anak-anak yang mereka lahirkan tidak mempunyai anak beru berdasarkan adat istiadat karo. Bagi anak kandungnya, anak kandungnya tidak mempunyai anak beru dalam struktur adat Karo, si anak tidak memiliki struktur yang lengkap dalam adat karo, apakah sebagai kalimbubu, anak beru, sembuyak/senina. Pemberian klen ini sifatnya seumur hidup untuk wanita, karena begitu siwanita meninggal dunia, klen yang diterimanya tidak dapat diwariskan kepda anak- anak yang dilahirkannya. Berbeda dengan pria selamanya (abadi), hal ini disebabkan masyarakat Karo berdasarkan sistem patrilineal, pria yang menurunkan garis keturunan. Bila kepada seorang pria telah diberikan klen, klen yang telah diterimanya, dapat disandang (diwariskan) sampai ke anak cucunya, dengan tetap bersandarkan sistem kekerabatan orang yang memberinya klen tersebut.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...