warisan budaya dunia

Top PDF warisan budaya dunia:

Peran UNESCO dalam Perlindungan Angkor Wat Sebagai Warisan Budaya Dunia Tahun 2009-2013.

Peran UNESCO dalam Perlindungan Angkor Wat Sebagai Warisan Budaya Dunia Tahun 2009-2013.

Kajian pustaka pertama yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah tulisan Somuncu & Yigit (2010) yang berjudul World Heritage Sites in Turkey: Current Status and Problems of Conservation and Management. Tulisan Somuncu dan Yigit (2010) memaparkan mengenai status dari Warisan Budaya Turki dan masalah dalam konservasi dan manajemennya. Tulisan ini memfokuskan pada Warisan Budaya Turki yang mengalami kekurangan dalam hal manajemen dan pelestarian dan isu-isu dari alih fungsi lahan mulai menimbulkan dampak terhadap Warisan Budaya Dunia di Turki. Tulisan ini juga menjelaskan permasalahan dalam kurangnya kerjasama dalam pelestarian dan manajemen Warisan Budaya Dunia antara pemerintah Turki dan UNESCO.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Sosialisasi Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia kepada Siswa SMU di Kecamatan Tampak Siring Kabupaten Gianyar.

Sosialisasi Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia kepada Siswa SMU di Kecamatan Tampak Siring Kabupaten Gianyar.

Subak sebagai warisan budaya dunia juga terdapat di Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar yaitu Subak Kulub Atas, Subak Kulub Bawah, dan Subak Pulagan. Melihat hal tersebut , sangat penting untuk diadakan sosialisasi tentang Subak sebagai warisan dunia terutama tentang definisi dan pengelolaannya kepada masyarakat sekitar lokasi umumnya dan para siswa Sekolah Menengah Atas yang ada di Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar.

5 Baca lebih lajut

Partisipasi Petani Dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Partisipasi Petani Dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Pengelolaan yang efektif membutuhkan pengawasan didalamnya.Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pelanggaran dalam pelestarian dan pengelolaan Kawasan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru adalah dengan mengusulkan agar ada sanksi tegas dari pemerintah baik secara pidana maupun perdata.Walaupun masing-masing subak memiliki awig-awig , peraturan tradisional, seluruh responden sepakat bahwa sulit melawan ijin yang dikeluarkan oleh pemerintah yang bertentangan dengan upaya pelestarian dan pengelolaan kawasan.Pekaseh merupakan kunci dalam pengelolaan dan pengawasan sistem pertanian dalam subak.Pekaseh sebagai ketua subak harus mampu mengkoordinasi krama (anggota) subaknya dan menjembatani komunikasi antara subak, desa, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya. Berbagai tantangan yang ada dalam pelestarian dan pengelolaan subak bisa diatasi kalau melibatkan pemerintah daerah, desa (kepala desa), desa adat (bendesa adat), pekaseh, krama subak, pura (pemangku), puri, dan pihak lain yang harus dilibatkan.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PARTISIPASI PETANI DALAM PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DUNIA CATUR ANGGA BATUKARU.

PARTISIPASI PETANI DALAM PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DUNIA CATUR ANGGA BATUKARU.

Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata dunia yang terkenal akan keindahan alam dan keunikan budaya masyarakatnya. Bentang alam Bali banyak dihiasi oleh pemandangan sistem sawah berundak yang merupakan hasil dari budaya pengairan tradisional Bali yang dikenal dengan nama subak. Badan Dunia yang menangani pendidikan dan kebudayaan, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), bahkan mengakui keunikan budaya pertanian Bali dengan mencantumkan Lanskap Budaya Bali ke dalam Daftar Situs Warisan Budaya Dunia di tahun 2012. The Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy merupakan nama dari Situs Warisan Budaya Dunia di Bali yang terdiri dari empat kawasan, yaitu: Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, Pura Taman Ayun, Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan, dan Catur Angga Batukaru. Keempat kawasan tersebut dianggap mampu merefleksikan filosofi Tri Hita Karana yang merupakan landasan dalam sisem pengairan tradisional yang diberlakukan dalam bidang pertanian di Bali.Akan tetapi, sistem pengairan tradisional yang sudah berlangsung selama berabad-abad di Bali tersebut terancam keberadaannya oleh derasnya arus pembangunan dan pariwisata di Bali.Masuknya sistem pengairan subak yang direpresentasikan oleh empat kawasan diatas ke dalam Daftar Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO merupakan salah satu upaya untuk melindungi dan melestarikan budaya pertanian yang ada di Bali.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Salah satu upaya yang dilakukan UNESCO dalam memperkenalkan pentingnya budaya dalam pembangunan berkelanjutan adalah dengan memberikan status Warisan Budaya Dunia.Status ini diberikan kepada kawasan-kawasan maupun bentuk-bentuk kebudayaan yang dianggap memiliki nilai luar biasa dan universal (Outstanding Universal Value) dan terancam hilang atau punah sehingga perlu untuk dilindungi dan dilestarikan.Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO (2010:5) mampu memberikan penghasilan tambahan dari kunjungan wisatawan, penjualan kerajinan tangan, musik, dan produk-produk budaya lokal, termasuk juga memberikan lapangan pekerjaan baru kepada masyarakat setempat. Di Kolumbia misalnya, 650.000 wisatawan memberikan penghasilan ekonomi sebesar USD 800 juta. Sebesar USD 400 juta dari pendapatan Kolombia tersebut berasal dari penjualan kerajinan tangan (UNESCO, 2010:8). Di Australia, 15 kawasan yang masuk ke dalam Situs Warisan Budaya Dunia mampu memberikan pendapatan sebesar lebih dari AUSD 12 trilyun dengan lebih dari 40.000 lapangan pekerjaan (UNESCO, 2010:8).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DALAM PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DUNIA SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA DI BALI.

IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DALAM PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DUNIA SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA DI BALI.

Data yang digunakan dalam artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim penulis artikel ini, yang didanai oleh Universitas Udayana pada tahun anggaran 2015. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui teknik observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan dengan menggunakan pedoman wawancara, dan terhadap 60 responden dengan menggunakan kuesioner. R esponden dalam hal ini terdiri atas wisatawan mancanegara dan nusantara, yang ditentukan secara kebetulan (accidental sampling) pada saat pengumpulan data. Responden tersebut terdiri atas 30 orang wisatawan mancanegara dan 30 orang wisatawan nusantara. Jumlah responden di masing-masing lokasi penelitian yakni di Pura Taman Ayun dan Pura Tirta Empul adalah 30 orang, yang terdiri atas 15 orang wisatawan mancanegara dan 15 orang wisatawan nusantara. Data yang dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data seperti ini adalah data tentang implementasi THK dalam pengelolaan warisan budaya dunia Pura Taman Ayun dan Pura Tirta Empul sebagai daya tarik wisata. Melalui penyebaran kuesioner kepada responden, secara khusus digali data tentang persepsi mereka terhadap atraksi, aksesibilitas, fasilitas, dan manajemen/organisasi yang terkait dengan pengelolaan warisan budaya dunia Pura Taman Ayun dan Pura Tirta Empul dilihat dari perspektif nilai-nilai THK.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Partisipasi Petani dalam Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru.

Lanskap Budaya Provinsi Bali merupakan Situs Warisan Budaya Dunia yang diakui oleh UNESCO di tahun 2012. Lanskap Budaya Provinsi Bali dianggap mampu merefleksikan filosofi Tri Hita Karana dalam sistem pengairan tradisional, subak, pada sistem pertanian di Bali. Penerapan filosofi Tri Hita Karana dalam sistem pertanian di Bali telah berlangsung selama berabad-abad dan mampu menciptakan tidak saja keindahan bentang alam sawah berundak, akan tetapi juga kebudayaan pertanian yang kuat. Akan tetapi, derasnya arus pembangunan dan pariwisata di Bali mengancam keberadaan dan keberlangsungan sistem pengairan tradisional subak. Diakuinya Lanskap Budaya Provinsi Bali sebagai Situs Warisan Budaya Dunia merupakan salah satu upaya pemerintah untuk melindungi dan melestarikan sistem pengairan subak di Bali. Penelitian ini hendak melihat partisipasi masyarakat lokal, terutama petani, dalam pengelolaan Situs Lanskap Budaya Provinsi Bali dengan memfokuskan penelitian pada kawasan Catur Angga Batukaru yang terletak di Kabupaten Tabanan. Kawasan ini dipilih karena merupakan kawasan terluas dengan tingkat kompleksitas ekologi paling lengkap dibandingkan dengan kawasan lainnya dalam Lanskap Budaya Provinsi Bali. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan pengelolaan berbasis masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pelestarian Situs Warisan Budaya Dunia di Bali.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PELESTARIAN FLORA DI LINGKUNGAN PURA TAMAN AYUN MENUNJANG ATRAKSI NOMINASI WARISAN BUDAYA DUNIA.

PELESTARIAN FLORA DI LINGKUNGAN PURA TAMAN AYUN MENUNJANG ATRAKSI NOMINASI WARISAN BUDAYA DUNIA.

Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang aspek lainnya dari Pura Taman Ayun, misalnya aspek fauna atau satwa liarnya. Data yang terkumpul akan dapat melengkapi data yang sudah ada di dalam pengusulan Taman Ayun sebagai warisan budaya dunia ( World Cultural Heritage). Di samping itu, data ini cukup penting didokumentasikan dalam sebuah perpustakaan sehingga pengunjung bisa mengakses informasinya dengan mudah.

9 Baca lebih lajut

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JATILUWIH, POTENSI WARISAN BUDAYA DUNIA.

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JATILUWIH, POTENSI WARISAN BUDAYA DUNIA.

2) Model manajemen berbasis masyarakat dan budaya lokal yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam pengelolaan Subak Jatiluwih adalah yang manajemen yang berlandaskan para filsafat Tri Hita Karana serta konsep-konsep yang sejalan dengan filsafat tersebut dan merupakan kearifan lokal masyarakat Bali. Pada intinya konsep-konsep tersebut menekankan betapa pentingnya keharmonisan dalam hubungan manusia – Tuhan, manusia-manusia, dan manusia-lingkungan alam. Selain itu konsep-konsep tersebut menekankan pentingnya kebenaran (dharma) untuk menuntun langkah mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan, namun tetap dengan sikap yang luwes sesuai dengan konteks waktu dan ruang. Hal ini perlu dijadikan acuan utama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembangunan Subak Jatiluwih guna mencapai tujuan penetapan subak tersebut sebagai warisan budaya dunia.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Persepsi Masyarakat Jatiluwih Terhadap Ditetapkannya Jatiluwih Sebagai Warisan Budaya Dunia di Kabupaten Tabanan.

Persepsi Masyarakat Jatiluwih Terhadap Ditetapkannya Jatiluwih Sebagai Warisan Budaya Dunia di Kabupaten Tabanan.

Tujuan penelitian ingin mengetahui persepsi masyarakat Jatiluwih terhadap ditetapkannya Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia dan mengetahui partisipasi masyarakat Jatiluwih dalam Warisan Budaya Dunia. Dalam penelitian ini dikaji d u a variabel, yaitu persepsi masyarakat dan partisipasi masyarakat di Desa Jatiluwih terhadap Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia. Penelitian ini mengambil lokasi di D e sa J a tilu wih , Ke c a m a tan P e n eb e l, Ka b up a ten Ta b an an . Jumlah responden yang dijadikan sampel sebanyak 150 orang. Pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan Quota Sampling mengacu pada Rumus Slovin. Yang dijadikan responden adalah masyarakat Desa Jatiluwih. Analisis Likert dan Matriks SWOT digunakan dalam penelitian ini. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa dengan Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia beberapa dari masyarakat Jatiluwih tidak merasakan manfaat yang signifikan dari status tersebut, sehingga apabila tidak ada langkah-langkah perbaikan dari instansi terkait dikhawatirkan masyarakat Jatiluwih akan acuh tak acuh atau tidak mendukung secara penuh penetapan Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia dan kekhawatiran lainnya adalah status Warisan Budaya Dunia tersebut tidak dapat dipertahankan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PERAN DIPLOMASI HIBRIDA DALAM MEMPROMOSIKAN BATIK INDONESIA SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA

PERAN DIPLOMASI HIBRIDA DALAM MEMPROMOSIKAN BATIK INDONESIA SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA

Perkembangan dunia yang semakin tanpa batas membuat jaringan antar manusia di dunia semakin rapat. Karena itu, peranan pemerintah juga akan semakin berkurang dengan semakin kuatnya peran aktor non pemerintah. Dalam kaitannya dengan diplomasi, maka saat ini teknologi internet pada dasarnya sangat penting dalam menunjang nilai jual atau nilai tawar yang dimiliki oleh suatu negara. Suatu negara dapat memasarkan dirinya secara efektif melalui media internet ini. Masalah kebijakan, peluang investasi, pariwisata, promosi budaya dan lain – lain sebenarnya dapat dilakukan melalui internet. Karena perkembangan dunia saat ini menuntut masing -masing negara untuk berkompetisi menjadi yang terbaik. Dalam kompetisi ini, masing -masing Negara memiliki kesempatan untuk menunjukkan kelebihannya (state branding) melalui berbagai sarana. 6
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Tantangan dalam Melestarikan Sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Bali.

Tantangan dalam Melestarikan Sistem Subak sebagai Warisan Budaya Dunia di Bali.

Subak, yang merupakan sistem irigasi tradisional di Bali, telah dianugerahi status Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. Keberadaan subak di Bali diperkirakan sebelum abad ke IX dan sejak saat itu subak telah berhasil menjaga keberlangsungan tradisi pengelolaan sumber daya air untuk keperluan irigasi dan UNESCO telah menetapkan subak sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2012. Walaupun subak sangat dikenal dalam hal pengeloaan sistem irigasi dan keindahan alamnya, namun ada indikasi subak sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutannya. Kondisi subak saat ini sebagian cukup mempihatinkan antara lain: kondisi jaringan dan bangunan sebagian masih dalam keadaan rusak, keterbatasan dalam pemeliharaan baik dari pemerintah maupun petani, organisasi subak masih berjalan cukup baik, namun sejak tahun 2000an, Sedahan maupun Sedahan Agung sebagai aparat pemerintah pembina subak tidak jelas keberadaanya. Ritual keagamaan tersebut hingga saat ini masih terus dilaksanakan oleh para anggota dan prajuru/pengurus subak, walaupun rangkaian, jenis dan besarnya ritual sangat berbeda atara satu subak dengan subak yang lain. Tantangan dalam pelestarian subak dimasa yang datang meliputi: penyusutan area subak yang terjadi akibat alih fungsi lahan, para petani tidak mampu hidup layak bila menggantungkan hidup dari pertanian karena kepemilikan lahan yang sempit, menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air akibat kerusakan hutan dan kawasan hulu serta pencemaran, usia para petani anggota subak rata-rata di atas 40 tahun, beban finansial yang dipikul petani sangat berat, tidak jelasnya regulasi ditingkat nasional sejak dicabutnya UU 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air berserta peraturan pelaksanaannya. Langkah strategis yang harus dilakukan dalam menjaga keberlanjutan subak antara lain: nama dan fungsi sedahan dan dan sedahan agung sebagai wadah koordinasi pengelola subak dari unsur pemerintah perlu dikembalikan melalui peraturan daerah, dukungan pemerintah masih terus diperlukan dalam upaya meringankan beban finansial subak, fasilitasi kemitraan antara subak dengan stakeholders lain, alternatif komuditas diluar padi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, mencegah dan memperbaiki kerusakan kawasan hulu (kawasan hutan dan kawasan budidaya) serta mengendalikan pencemaran sumber daya air, pembentukan wadah koordinasi penelolaan sumber daya air baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota maupun pada tingkat daerah aliran sungai, membangun sistem informasi subak yang ada di seluruh Bali, menyediakan mekanisme pembinaan lembaga subak dan mendorong para akademisi untuk menjadikan subak sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Tantangan Dalam Melestarikan Sistem Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Di Bali.

Tantangan Dalam Melestarikan Sistem Subak Sebagai Warisan Budaya Dunia Di Bali.

Subak, yang merupakan sistem irigasi tradisional di Bali, telah dianugerahi status Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. Keberadaan subak di Bali diperkirakan sebelum abad ke IX dan sejak saat itu subak telah berhasil menjaga keberlangsungan tradisi pengelolaan sumber daya air untuk keperluan irigasi dan UNESCO telah menetapkan subak sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2012. Walaupun subak sangat dikenal dalam hal pengeloaan sistem irigasi dan keindahan alamnya, namun ada indikasi subak sangat mengkhawatirkan akan keberlanjutannya. Kondisi subak saat ini sebagian cukup mempihatinkan antara lain: kondisi jaringan dan bangunan sebagian masih dalam keadaan rusak, keterbatasan dalam pemeliharaan baik dari pemerintah maupun petani, organisasi subak masih berjalan cukup baik, namun sejak tahun 2000an, Sedahan maupun Sedahan Agung sebagai aparat pemerintah pembina subak tidak jelas keberadaanya. Ritual keagamaan tersebut hingga saat ini masih terus dilaksanakan oleh para anggota dan prajuru/pengurus subak, walaupun rangkaian, jenis dan besarnya ritual sangat berbeda atara satu subak dengan subak yang lain. Tantangan dalam pelestarian subak dimasa yang datang meliputi: penyusutan area subak yang terjadi akibat alih fungsi lahan, para petani tidak mampu hidup layak bila menggantungkan hidup dari pertanian karena kepemilikan lahan yang sempit, menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air akibat kerusakan hutan dan kawasan hulu serta pencemaran, usia para petani anggota subak rata-rata di atas 40 tahun, beban finansial yang dipikul petani sangat berat, tidak jelasnya regulasi ditingkat nasional sejak dicabutnya UU 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air berserta peraturan pelaksanaannya. Langkah strategis yang harus dilakukan dalam menjaga keberlanjutan subak antara lain: nama dan fungsi sedahan dan dan sedahan agung sebagai wadah koordinasi pengelola subak dari unsur pemerintah perlu dikembalikan melalui peraturan daerah, dukungan pemerintah masih terus diperlukan dalam upaya meringankan beban finansial subak, fasilitasi kemitraan antara subak dengan stakeholders lain, alternatif komuditas diluar padi yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, mencegah dan memperbaiki kerusakan kawasan hulu (kawasan hutan dan kawasan budidaya) serta mengendalikan pencemaran sumber daya air, pembentukan wadah koordinasi penelolaan sumber daya air baik ditingkat provinsi, kabupaten/kota maupun pada tingkat daerah aliran sungai, membangun sistem informasi subak yang ada di seluruh Bali, menyediakan mekanisme pembinaan lembaga subak dan mendorong para akademisi untuk menjadikan subak sebagai tempat untuk melakukan aktivitas pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Tautan Politik antara Pengrajin Batik Pa

Tautan Politik antara Pengrajin Batik Pa

Namun, isu regenerasi batik tidak menjadi perhatian anggota dewan, terlebih partai politik. Bentuk perhatian partai politik dan wakil di parlemen lebih pada konteks nasionalisme bahwa batik merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan bangga bahwa batik telah diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia. Rasa nasionalisme dan kebanggaan akan batik ditunjukkan dengan menjadi konsumen; sebatas memakai busana berbahan batik. Kurangnya perhatian politisi terhadap batik ju- ga dikonfirmasi oleh Ibu Haniwinotosastro dari Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad. Menu- rutnya, politisi tidak tahu banyak mengenai batik dan hanya mengangkat batik dengan cara menggunakan baju batik, yang tidak selalu batik tulis namun batik cap atau printing. Padahal, penghargaan dari Unesco dan World Craft Council diberikan untuk produksi batik tulis, bukan batik cap dan printing. Posisi parlemen sebagai pengambil kebijakan dan menggalang aspirasi rakyat, tidak digunakan oleh anggota dewan untuk membuat kebijakan pemberda- yaan komunitas batik, termasuk kebijakan untuk melindungi eksistensi batik tulis.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Perlindungan Cagar Budaya Warisan Dunia (World Heritage), yang Dipersengketakan oleh Negara-negara Menurut Hukum Internasional (Studi Kasus: Sengketa Angkor Wat)

Kemudian perundingan antara Kamboja dan Thailand mengalami kegagalan untuk mengakhiri sengketa soal Angkor Watt. Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mendesak Thailand dan Kamboja agar menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh dan bisa menahan diri. ASEAN menawrkan diri untuk membantu mengatasi ketegangan diantara mereka. Sekjen ASEAN, Surin Pitsuan, menyatakan Phnom Penh juga membantah mengadu atau minta intervensi Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan sengketa.Kedua pihak mengungkapkan keinginannya untuk merespons niat baik, permintaan, dan desakan kolega-kolega mereka. Mereka berharap kedua pihak menemukan solusi yang baik bagi situasi itu. Kedua Negara dikenal sama-sama memiliki kekayaan warisan budaya dunia berbasis bangunan candi Hindu dan Buddha. Angkor Watt yang sekarang disengketakan merupakan salah satu symbol keagungan budaya masa lalu. Namun sengketa di lahan seluas 4,6 kilometer persegi di Angkor Watt
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Bab II - Bab 2 Pedagang, Penguasa dan Pujangga pada Masa Klasik (Hindu Budha)

Bab II - Bab 2 Pedagang, Penguasa dan Pujangga pada Masa Klasik (Hindu Budha)

Tentu kamu pernah mendengar cerita rakyat yang menceritakan tentang asal mula Candi Prambanan itu. Cerita itu hingga kini masih berkembang di daerah sekitar Prambanan. Roro jonggrang sering kali diwujudkan sebagai arca Durga Mahisasuramawardini yang berada di bilik utara Candi Siwa. Roro jonggrang secara harfiah diartikan sebagai seorang gadis cantik semampai. Pada kompleks percandian, sosok Roro jonggrang diwujudkan pada bangunan paling tinggi dari keseluruhan Candi Prambanan. Dari kondisi itu kita dapat menafsirkan, bahwa legenda Bandung Bondowoso itu muncul sebagai cerita rakyat penduduk Prambanan saat Candi Siwa masih berdiri kokoh. Jadi Candi Prambanan merupakan sebuah karya monumen kejayaan Mataram Kuno yang berdiri tinggi tegak di dataran Prambanan yang subur. Kawasan Candi Prambanan sejak tahun 1991 ditetapkan sebagai situs cagar budaya dunia oleh UNESCO. Bagi bangsa Indonesia pengakuan itu sangat membanggakan.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Bambang Sulistyanto   Warisan dunia Situ

Bambang Sulistyanto Warisan dunia Situ

Artinya, nilai jual fosil terbukti mampu mendukung perekonomian penduduk pencari fosil, oleh karena itu dapat dipahami kegiatan ini telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Rogers dan Shoemaker (1971: 148), pengaruh baru yang mendatangkan keuntungan secara material tersebut merupakan aspek yang memengaruhi secara kuat terjadinya proses pengadopsian suatu inovasi. Dengan perkataan lain, diterimanya persepsi baru tersebut tentang fosil tersebut karena gagasan baru itu dianggap fungsional dalam kehidupan masyarakat yang menerimanya, suatu masyarakat yang masih memiliki pemikiran sederhana dan pengetahuan yang kurang akan nilai dan makna benda bersejarah di lingkungannya. Ketiga, pola baru itu juga tidak dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kultural yang ada pada masyarakat setempat. Jika semula suatu fosil dipandang sebagai benda berharga karena bermanfaat untuk penyembuhan penyakit, maka dalam pola baru fosil itu juga tetap merupakan benda berharga karena nilai jualnya. Perubahan yang terjadi lebih bertumpu pada aspek materialistis. Dalam hal ini, pencarian fosil karena alasan untuk mendapatkan insentif. Peralihan penghargaan atas fosil dari nilai religius-magis menuju nilai ekonomi yang dimiliki oleh fosil itu dalam pasar. Awal perubahan itu terjadi pada generasi ini yang di tahun 1930-an mengalami masa eksplorasi Situs Sangiran oleh Von Koenigswald. Di masa itu orang-orang yang terlibat berumur antara 17 sampai 40 tahun. Bagi generasi itu terbentuk konsep pemikiran bahwa warisan budaya dalam bentuk fosil merupakan sumber yang dapat mendatangkan uang. Mereka kemudian menurunkan konsep pemikiran itu ke generasi berikutnya hingga sekarang ini. Dengan demikian, dapat dikatakan generasi yang hidup di tahun 1930-an ini secara tidak sengaja merupakan generasi peletak dasar dari perubahan nilai atas fosil.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

55 SITUS WARISAN DUNIA BUDDHIS

55 SITUS WARISAN DUNIA BUDDHIS

Banyak situs warisan dunia yang telah hancur atau dihancurkan, tetapi banyak pula yang berhasil dipertahankan dan dilestarikan melalui kepedulian, pengetahuan dan pengakuan. Warisan dunia tak benda (intangible heritage) adalah jenis warisan dunia yang paling rentan akan perubahan dan ketidakpedulian. Tetapi sama halnya dengan warisan dunia berwujud, warisan dunia tak benda ini juga turut membentuk identitas kita. Contoh warisan dunia tak benda ini adalah tradisi, tarian, musik, dan local wisdom (kebijaksanaan setempat). Bahkan warisan dunia tak benda inilah yang lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari kita dan membentuk cara berpikir kita. Arus perubahan dan globalisasi dapat dengan mudah mengikis warisan dunia tak benda ini sehingga yang paling utama dibutuhkan adalah kepedulian dari masyarakat pewarisnya untuk terus mempelajari dan melestarikannya agar tetap menjadi sebuah tradisi dan seni budaya yang terus hidup dalam masyarakat mereka.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Dari Samudra untuk Dunia: Penominasian Arsip Tsunami Samudera Hindia sebagai Memory of The World (Mow) UNESCO | Pambudi | Khazanah: Jurnal Pengembangan Kearsipan 22714 43938 1 PB

Dari Samudra untuk Dunia: Penominasian Arsip Tsunami Samudera Hindia sebagai Memory of The World (Mow) UNESCO | Pambudi | Khazanah: Jurnal Pengembangan Kearsipan 22714 43938 1 PB

Dalam pengajuan Arsip Tsunami Samudera Hindia sebagai MoW, ANRI melakukan koordinasi dengan Komite MoW Indonesia dan KNIU. Pada tahun 2016, Komite MoW Indonesia mengadakan berbagai pertemuan dengan ANRI dan lembaga lainnya yang juga mengajukan warisan dokumenter Indonesia sebagai MoW . Pembahasan kelayakan Arsip Tsunami S a m u d e r a H i n d i a u n t u k dinominasikan sebagai MoW dilakukan dengan melibatkan para pakar MoW dari berbagai disiplin keilmuan di Indonesia seperti Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Dr. Mukhlis Paeni, Prof. Taufik Abdullah, dan lain- lain. Formulir Arsip Tsunami Samudera Hindia sebagai MoW dikirimkan ke Sekretariat MoW Paris melalui Komite MoW Indonesia dan KNIU pada akhir Mei 2016.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Ardiles Akyuwen1 Rezki Tanrere2

Ardiles Akyuwen1 Rezki Tanrere2

Abstrak: Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dapat mempertahankan budaya leluhur yang dihasilkan dari cipta, rasa, dan karsa individu-individu di dalamnya. Budaya terse- but tetap lestari, terlihat dari perilaku manusianya yang masih berpegang teguh pada aja- ran Karuhun (Leluhur). Meski begitu, tidak berarti masyarakat Kasepuhan Ciptagelar me- nutup diri sepenuhnya terhadap pengaruh dari luar. Mereka justru telah mengekspresikan diri dan menunjukkan terjadinya keintiman antara dua hal, yaitu tradisi yang beririn- gan dengan modernitas dalam bentuk sebuah kompromi. Di satu sisi, mereka memeliha- ra warisan budayanya, namun terbuka untuk masuknya integrasi dari keseluruhan mas- yarakat dunia yang akhirnya memberi nuansa baru dan membangun budaya popular. Perekaman budaya visual masyarakat Kasepuhan Ciptagelar lewat media fotografi dapat didasarkan sebagai suatu medium ‘penyampaian pesan’ (message carrier) untuk menu- turkan Ciptagelar dalam kisah terkini. Dirancang dengan konsep foto yang ekspresif dan dihadirkan sebagai luapan ekspresi untuk memberi interpretasi baru. Untuk mencerita- kan cara hidup yang ekspresif, mengekspresikan unsur tradisi berpadu dengan modernitas.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...