WAYANG DURANGPO

Top PDF WAYANG DURANGPO:

ANALISIS WACANA KRITIS “WAYANG DURANGPO”

ANALISIS WACANA KRITIS “WAYANG DURANGPO”

Wayang Durangpo adalah wacana kritik karya Sujiwo Tejo yang menyoroti fenomena yang berkembang di masyarakat, khususnya tentang politik. Untuk memahami wacana tersebut, teori yang digunakan adalah teori analisis wacana kritis van Dijk yang terdiri atas 3 tingkatan/dimensi, yakni teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Masing-masing dimensi terdiri atas elemen-elemen yang lebih spesifik. Berdasarkan gejala dominan yang ditemukan pada penelitian awal, penelitian ini menganalisis gejala dominan tersebut, yakni topik, skema, strategi semantik, strategi retoris, ideologi, dan konteks sosial pada Wayang Durangpo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data pada penelitian ini adalah teks Wayang Durangpo yang bersumber dari Jawa Pos, serta dari buku berjudul Lupa Endonesa, Ngawur Karena Benar, dan Lupa Endonesa Deui karya Sujiwo Tejo. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam 3 tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa topik yang ditemukan antara lain: 1) kritik terhadap tindakan korupsi dan kinerja KPK dalam memberantas korupsi, 2) kepentingan politik dalam penegakan hukum di Indonesia, 3) peran politik pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dan 4) kritik terhadap politik ekonomi di Indonesia. Skema yang ditemukan terdiri atas 4 jenis yang tersusun atas cerita rekaan, cerita wayang/serat/panji, paparan masalah, dan solusi alternatif yang dimanfaatkan untuk memberikan penekanan kritik. Strategi semantik yang ditemukan adalah latar, detil, dan praanggapan yang dimanfaatkan untuk membangun makna dari peristiwa atau pihak tertentu yang sedang dikritik. Strategi retoris yang ditemukan terdiri atas 7 kategori dan berfungsi sebagai penekanan kritik. Ideologi yang ditemukan meliputi: ideologi Pancasila, ideologi Islam, ideologi berlandaskan filsafat Jawa, dan ideologi berlandaskan filsafat Jawa dalam wayang. Konteks sosial yang ditemukan meliputi: konteks politik, konteks hukum, konteks pendidikan, dan konteks ekonomi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

INTERFERENSI AFIKSASI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA SURAT KABAR JAWA POS RUBRIK “WAYANG DURANGPO” EDISI JANUARI – JUNI 2010

INTERFERENSI AFIKSASI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA SURAT KABAR JAWA POS RUBRIK “WAYANG DURANGPO” EDISI JANUARI – JUNI 2010

Sebagai satu bangsa yang multietnik, dapat diperkirakan sebagian besar warga Negara Indonesia pada umumnya paling sedikit menggunakan dua bahasa yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur yang besar. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bilingual atau dwibahasa, yaitu masyarakat yang menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi. Interferensi merupakan fenomena penyimpangan kaidah kebahasaan yang terjadi akibat penguasaan dua bahasa atau lebih. Interferensi morfologi bahasa Jawa diangkat sebagai kajian dalam penelitian ini karena, interferensi morfologi bahasa Jawa sering dilakukan oleh kalangan masyarakat jawa dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, terutama dalam berbicara. Seperti halnya pada rubrik wayang durangpo dalam surat kabar Jawa Pos, bahasa yang digunakan merupakan bahasa lisan dari seorang dalang yaitu Sujiwo Tejo yang disampaikan dalam bentuk bahasa tulis. Interferensi yang terdapat dalam rubrik wayang durangpo terjadi karena dalam tradisi mendalang tidak mungkin melupakan penggunaan bahasa daerah yang menjadi ciri dari mendalang yang tujuannya agar lebih menarik pembaca.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS WACANA KRITIS “WAYANG DURANGPO” KARYA SUJIWO TEJO PADA RUBRIK “SENGGANG” DI SURAT KABAR “JAWA POS”

ANALISIS WACANA KRITIS “WAYANG DURANGPO” KARYA SUJIWO TEJO PADA RUBRIK “SENGGANG” DI SURAT KABAR “JAWA POS”

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul „Analisis Wacana Kritis “ Wayang Durangpo ” Karya Sujiwo Tejo pada Rubrik “ Senggang ” di Surat Kabar “ Jawa Pos ”‟ adalah benar -benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

20 Baca lebih lajut

INTERFERENSI AFIKSASI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA SURAT KABAR JAWA POS RUBRIK “WAYANG DURANGPO” EDISI JANUARI – JUNI 2010

INTERFERENSI AFIKSASI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA SURAT KABAR JAWA POS RUBRIK “WAYANG DURANGPO” EDISI JANUARI – JUNI 2010

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini disajikan gambaran objektif kata yang mengalami proses afiksasi yang merupakan interferensi afiksasi bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada surat kabar Jawa Pos rubrik Wayang Durangpo edisi Januari- Juni 2010.

16 Baca lebih lajut

ANALISIS KRITIK SOSIAL PADA RUBRIK WAYANG DURANGPO KARYA SUJIWO TEJO DALAM SURAT KABAR HARIAN JAWA POS EDISI OKTOBER-DESEMBER 2011

ANALISIS KRITIK SOSIAL PADA RUBRIK WAYANG DURANGPO KARYA SUJIWO TEJO DALAM SURAT KABAR HARIAN JAWA POS EDISI OKTOBER-DESEMBER 2011

Cerita pewayangan Durangpo karya Sujiwo Tejo dalam surat kabar harian Jawa Pos yang terbit setiap hari Minggu selalu memberikan gambaran-gambaran yang terjadi terhadap kehidupaan, pendidikan, sosial, kemasyarakatan, budaya, dan lain-lain. Pada saat ini contohnya saja marak korupsi dan penyimpangan lainnya di negeri ini sehingga menimbulkan inspirasi oleh Sujiwo Tejo untuk mengemasnya ke dalam cerita pewayangan Durangpo. Jadi secara langsung Sujiwo Tejo memberikan kritik dan mengungkapkan perasaannya terhadap korupsi yang terjadi dengan mengapesiasikannya menjadi sebuah cerita yang di tulis dalam wayang Durangpo dalam surat kabar harian Jawa Pos.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB IV PENYAJIAN ANALISIS DATA - REPRESENTASI IDENTITAS NASIONAL WAYANG DURANGPO DALAM SURAT KABAR HARIAN JAWA POS - Digilib IAIN Jember

BAB IV PENYAJIAN ANALISIS DATA - REPRESENTASI IDENTITAS NASIONAL WAYANG DURANGPO DALAM SURAT KABAR HARIAN JAWA POS - Digilib IAIN Jember

Narasi juga dapat dilihat dari hubungan antara isi narasi dengan pembaca. Apakah dalam isinya dia ingin menempatkan pembacanya sebagai pengamat atau mengajaknya terjun kedalam cerita. Wayang Durangpo episode Anakmu Bukan Ankmu termasuk jenis narasi subjektif. Sujiwo Tejo dibagian awal mengisahkan salah satu karakter tokoh utama yaitu pemuda yang saban hari berganti kostum wayang dan melakukan pertunjukan dari satu tempat ke tempat lain. Dia mengatakan ‗ Aku dewe lebih yakin versi yang ini: Ndak pathe‟en wong lanang itu

86 Baca lebih lajut

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

Gagasan awal penciptaan Wayang Wahyu berasal dari seorang biarawan gereja, dan dalam proses visualisasi dan pelaksanaan pakelirannya ditangani oleh para seniman pedalangan, karena kesenian wayang tidak pernah berkait langsung dengan gereja. Wayang Wahyu adalah hasil kolaborasi gereja dengan seniman dalam menciptakan perangkat wayang yang mempunyai fungsi utama sebagai alternatif pewartaan iman , yang membawa aturan-aturan gerejani sekaligus konsep-konsep pakem pakeliran; dengan kata lain adalah mengangkat kisah dalam Kitab Suci untuk dilakonkan dalam pakeliran. Untuk menyikapi segala kemungkinan kesalahan tafsir, maka fihak gereja membuat batasan; mulai dari proses perupaan wayang hingga bentuk pakelirannya, dengan pola standar kontrol atau kendali bentuk yang disebut nihil obstat. Dalam tataran perkembangan budaya, fenomena wayang wahyu merupakan wilayah yang menarik untuk dijadikan objek penelitian; dengan harapan akan memunculkan sebuah wacana atau diskursus baru dalam perkembangan pakeliran di Tanah Air; setidaknya penelitian ini dapat mengangkat ke ranah akademik tentang fenomena pakeliran baru tersebut.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

diemplementasikan dalam bentuk seni pertunjukan wayang. Kita sadari bahwa cerita wayang berasal dari India, tetapi terdapat perbedaan yang hakiki dalam pertunjukan wayang. Cerita Mahabarata di India dianggap benar-benar terjadi dalam mitos, legenda dan sejarah, sedangkan di Indonesia cerita Mahabarata atau Ramayana mengiaskan perilaku watak manusia dalam mencapai tujuan hidup, baik lahir maupun batin. Dengan demikian dalam pertunjukan wayang tidak hanya penampilan luarnya atau visualnya saja, tetapi yang paling hakiki adalah nilai-nilai yang tersirat atau tersurat dalam pertunjukan wayang yang disampaikan oleh dalang, dan seberapa jauh nilai-nilai itu dapat ditangkap oleh penonton atau penghayat. Nilai-nilai itu bilamana dapat dihayati maka terjadilah komunikasi sambung rasa antara penonton dan penyaji, terjadilah komunikasi estesis yang dapat mengangkat harkat dan martabat manusia dan pada giliran nya akan meningkatkan kualitas hidup serta memperkaya pengalaman jiwa dan memperluas persepsi serta dapat meningkatkan kedewasaanya. (Soetarno dan Sarwanto, Wayang kulit dan perkembangannya, 2010: 3).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

Penciptaan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat oleh norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang kulit purwa. Dengan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, maka pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah ditangkap oleh penonton. Isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat masa kini, baik yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, merupakan sumber inspirasi penyusunan cerita yang disajikan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB I  MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

BAB I MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

Perkembangan Wayang Kulit di luar negeri sangat cepat, dimulai dari ditetapkannya Wayang sebagai salah satu pusaka dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 7 November 2003. Pada tanggal 16 April 2008 di Jenewa, Swiss dalang cilik Wahyu Hanung Anindita serta dalang wanita Sri Rahayu Setiawati mengadakan pagelaran Wayang Kulit dengan menyertakan dialog dalam bahasa Inggris dimarkas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal tersebut membuktikan bahwa orang-orang di Eropa juga mencintai Wayang Kulit.

12 Baca lebih lajut

s sdt 0802981 chapter5

s sdt 0802981 chapter5

Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan Wayang Rumput (Wayang Suket) adalah tanaman rumput, terutama rumput yang berukuran panjang dan telah dikeringkan atau dijemur dahulu sebelum digunakan. Jenis rumput dengan ciri seperti itu dipilih karena lebih mudah dibentuk dan dianyam, sehingga tidak mudah terputus dan tidak perlu adanya sambungan di tengah- tengah anyaman. Jenis rumput yang biasa digunakan dalam membuat Wayang Rumput (Wayang Suket) diantaranya rumput gajah, rumput mendong, serta jerami. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan Wayang Rumput (Wayang Suket) hanya berupa alat potong, dapat berupa gunting, cutter, ataupun pisau.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

teks eksposisi bahasa Jawa

teks eksposisi bahasa Jawa

Wayang wong utawi Wayang uwong menika salah satunggalipun jenis teater tradhisional Jawa. Wayang Wong menika gabungan antawisipun seni drama ingkang ngrembaka ing negeri kilen (Eropa) kaliyan seni pagelaran wayang ingkang ngrembaka ing pulo Jawa. Lakon wayang ingkang dipungelar menika saking crita-crita wayang purwa. Wayang uwong utaminipun ngrembaka ing kraton lan golongan priyayi utawi bangsawan. Miturut nami wayang kasebut, wayang wong ugo boten dipagelarke dening boneka-boneka wayang, anamung manungsa-manungsa ingkang ngganteni boneka-boneka wayang kasebut. Wong kang mainake wayang iki ugo ngagem pakaian ingkang sami kalian hiasan-hiasan ingkang diagem wayang kulit. Pasuryan para pemain wayang wong iki ugo diubah lan dihias supados mirip kalian aslinipun.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Asal Muasal Wayang kali (1)

Asal Muasal Wayang kali (1)

disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para

2 Baca lebih lajut

Wayang Potehi ke Wayang Thithi Ngesti

Wayang Potehi ke Wayang Thithi Ngesti

Salah satu kawasan yang melesarikan wayang Potehi di Semarang adalah di “Klenteng Tay Kak Sie” sebuah klenteng tertua ke-3 yang didirikan pada tahun 1771 Masehi dan terkenal dengan sebutan Klenteng Besar Semarang 9. Pada waktu klenteng tersebut mulai didirikan , daerah Gang Lombok boleh dikatakan masih berupa kebun yang banyak ditanami lombok, sehingga dikenal dengan sebutan Gang Lombok. Di wilayah inilah tersimpan berbagai warisan budaya Cina , bahkan replika kapal Cheng Ho juga berada di depan Klenteng Tay Kak Sie. Demikian pula ketika akan diadakan pemilihan Gubernur Jawa Tengah di wilayah ini juga ditayangkan kethoprak dari Yogyakarta yang mengambil tema yang berkaitan dengan peristiwa 13 Mei 1998 yang merupakan peristiwa penting di era reformasi , namun sampai saat ini tidak ada penyelesainnya. 10 . Acara tersebut merupakan peringatan 10 tahun reformasi yang digelar di depan Klenteng Tay Kak Sie , gang Lombok. Pentas seni tersebut baru-baru ini ditayangkan ulang di stasiun Televisi di Semarang.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

Pertama kali Slamet Gundono memainkan kesenian Wayang Suket yaitu pada tahun 1997 di Riau. Pada saat itu tiba-tiba ia dituntut harus mementaskan kesenian wayang. Padahal, di sana sama sekali tidak ada alat-alat yang menunjang untuk mementaskan kesenian wayang. Kebetulan kakaknya mempunyai studio lukis yang terletak ditengah alang-alang sawah, maka muncullah pengalaman pada masa kecilnya tentang suket. Akhirnya ia pun mempunyai ide dan memutuskan untuk memakai suket untuk dijadikan wayang, suket itu ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk yang kemudian ia mainkan. Gamelannya hanya menggunakan mulut, ala kadarnya dengan lakon “ Kelingan Lamun Kelangan ” sebagai pertunjukan Wayang Suket pertamanya. “ Kelingan Lamun Kelangan ” adalah lakon cer ita tentang Banjaran Karno. Lakon ini menggambarkan bahwa orang itu baru sadar setelah kehilangan. Contohnya pada cerita ketika Dewi Kunthi lebih memilih membuang anaknya (Karno) ke sungai, ketimbang harus menanggung rasa malu sebagai perempuan yang dihamili. Ia pun baru merasa memiliki anaknya ketika anaknya sudah berubah menjadi seorang senopati.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Indonesia De No Wayang Kulit No Rekishi

Indonesia De No Wayang Kulit No Rekishi

Wayang kulit merupakan salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang punya ciri khas diantara banyak karya budaya lainnya. Wayang kulit meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Pertunjukkan Wayang kulit terus berkembang dari zaman ke zaman, sehingga menjadi media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

18 Baca lebih lajut

Jantra jurnal sejarah dan budaya Vol.I No.1 - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Jantra jurnal sejarah dan budaya Vol.I No.1 - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

religius yang terkandung dalam wayang tampak pada peran dalang dalam memainkan wayang. Dalam pertunjukan wayang, dalang akan memainkan tokoh wayang sesuai dengan perannya. Misalnya dalam lakon “Petruk dadi Ratu”, dalang pasti akan memainkan tokoh Petruk sebagai raja, walaupun tokoh Petruk itu sebenarnya hanya abdi dari golongan ksatria. Dalam hal ini, para tokoh ksatria tidak boleh protes walaupun Petruk hanyalah abdi mereka. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam budaya Jawa sering ada ungkapan “E, ya karang lagi dadi lakon” (E, dasar memang sedang menjadi pelaku cerita) atau “urip mung saderma nglakoni, manungsa mung kinarya ringgit kang winayangake dening Hyang kang murbeng dumadi” (hidup hanya sekedar menjalani, manusia hanya sebagai wayang yang dimainkan oleh Tuhan Sang Pencipta). Ungkapan tersebut biasanya muncul apabila seseorang sedang mengalami nasib yang kurang beruntung. Dengan ungkapan tersebut manusia berusaha menetralisir dan menenangkan jiwa untuk menerima dan menghadapi dengan
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

B.DAERAH UJIKO 5 GENAP SDN PASRUJAMBE 01

B.DAERAH UJIKO 5 GENAP SDN PASRUJAMBE 01

Wayang iku salah sawijining seni kang diduweni dening wong Jawa. Saking adiluhunge seni wayang, ora mung tinemu ing masyarakat Jawa.Nanging uga tinemu ing masyarakat liya, kayata Sunda, Sasak, Banjar, Minang, malah tekan jaba negara. Seni wayang iku akeh banget jinise, kayata wayang beber, wayang krucil, wayang wong, wayang gedhog, wayang kancil, wayang suluh, wayang wahyu, lan liya – liyane. Salah sijine seni wayang kang moncer dhewe nganti saiki yaiku wayang kulit purwa.

4 Baca lebih lajut

HASIL KEBUDAYAAN DARI WAYANG KULIT

HASIL KEBUDAYAAN DARI WAYANG KULIT

9 unsure punakawan didalamnya. Bahkan di beberapa tempat di Jawa diberi nama tempat yang mengesankan seolah-olah kejadian cerita Mahabharata itu memang betul-betul terjadi ditanah Jawa. Sebagai contoh: Didaerah yang sekarang dijadikan waduk Sempor, Gombong, Jawa -Tengah, nama asli desa tersebut adalah Cicingguling. Penduduk setempat percaya tempat tersebut adalah tempat Bhima berperang melawan Duryudana dengan menghantamkan gadanya di bagian pahanya sehingga Duryudana terpaksa menyisingkan kainnya (celananya) – bahasa Jawanya menyisingkan adalah cicing – juga berguling- guling karena kesakitan, oleh karena itu desa tersebut diberi nama Cicingguling. Begitu juga di daerah pegunungan Dieng di Jawa Tengah maupun di puncak gunung Lawu di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama-nama tempatnya diberi kesan seolah-olah tempat tersebut adalah tempat keberadaan para dewa dalam cerita Mahabharata. Ketika agama Islam datang ke Indonesia, bahkan oleh salah satu wali sanga (sembilan wali) – Sunan Kalijaga – wayang dijadikan alat untuk penyebaran agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata. Sebagai contoh: Yudhisthira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat (pusaka) yang bernama “Jamus Kalimasada” yang merupakan pegangan atau lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai “Kalimat Sahadat” yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Produksi Program Dokumenter menelusuri masterpiece budaya dalam `Cerita Dibalik Kantong Potehi`.

Produksi Program Dokumenter menelusuri masterpiece budaya dalam `Cerita Dibalik Kantong Potehi`.

Untuk lebih jauh membahas tentang wayang potehi maka dibuat sebuah program dokumenter dengan judul Cerita Dibalik Kantong Potehi. Dokumenter ini menggunakan konsep dokumenter konvensional bergaya tutur santai dengan teknik flash back layaknya dairy perjalanan si pembawa acara. Dalam dokumenter ini penulis berperan sebagai penulis naskah. Sebagai seorang penulis naskah harus memperhatikan point-point penting seperti bahasa, gambar, sound dan narasi.

9 Baca lebih lajut

Show all 1141 documents...