wayang wahyu

Top PDF wayang wahyu:

PENERAPAN NILAI – NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN WAYANG WAHYU DI SANGGAR BHUANA ALIT DESA KANUTAN KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA TAHUN 2017

PENERAPAN NILAI – NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN WAYANG WAHYU DI SANGGAR BHUANA ALIT DESA KANUTAN KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA TAHUN 2017

The objectives of this research are to describe (1) the implementation of character values of Wayang Wahyu at Bhuana Alit studio (2) learning process of Wayang Wahyu which includes goals, method, media, material, and evaluation of the Wayang Wahyu at Bhuana Alit studio.

11 Baca lebih lajut

ARTIKEL GARAP PERTUNJUKAN WAYANG WAHYU LAKON NABI ELLIA - Institutional Repository ISI Surakarta

ARTIKEL GARAP PERTUNJUKAN WAYANG WAHYU LAKON NABI ELLIA - Institutional Repository ISI Surakarta

3 Wayang Wahyu telah menjadi bagian dari keanekaragaman jenis pertunjukan wayang di Indonesia. Pada awalnya wayang wahyu merupakan pertunjukan wayang kulit tetapi cerita yang disajikan diambil dari kisah-kisah dalam Al Kitab. Pentas pertama wayang dengan cerita yang bersumber dari Al Kitab, yaitu tanggal 13 Oktober 1957 di gedung HBS (Himpunan Budaya Surakarta). Dalang yang menyajikan, yaitu M.M Atmowiyono (Guru SGB Negeri II Surakarta) dengan mengambil lakon ”Dawud Mendapat Wahyu Kraton”. Lakon tersebut bersumber dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Pada pentas tersebut, tokoh wayang yang dipakai meminjam dari tokoh wayang kulit. Misalnya, boneka wayang Bambang Wijanarko digunakan untuk tokoh Dawud dan boneka wayang Kumbakarna dipinjam untuk tokoh Goliat. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul gagasan dari tokoh-tokoh agama Katholik untuk membuat boneka wayang yang khusus untuk memenuhi kebutuhan pertunjukan wayang wahyu.

37 Baca lebih lajut

Wayang Wahyu Sebagai Media Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah.

Wayang Wahyu Sebagai Media Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan : (1) Wayang wahyu resmi berdiri pada tanggal 2 Februari 1960 sebagai sebuah media pewartaan iman Katolik di Surakarta. (2) Saat ini wayang wahyu masih memiliki eksistensi sebagai sebuah karya seni meski dihadapkan pada masalah regenerasi pengelola, pendanaan dan publikasi; (3) Wayang wahyu dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter dalam pendidikan sejarah karena ada nilai-nilai kebajikan pada lakon yang dimainkan, nilai universal serta nilai historis dari Wayang Wahyu itu sendiri.

16 Baca lebih lajut

\PESAN-PESAN MORAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki  Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Winangun

\PESAN-PESAN MORAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Winangun

Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang luhur, salah satunya yang menonjol dan telah ada sejak berabad-abad silam adalah tradisi dan kesenian wayang. Wayang merupakan karya seni yang mengandung beragam nilai mulai dari falsafah hidup, etika, spiritual, musik hingga estetika. Cerita wayang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk di Indonesia. Menurut Fanani (1996:1) cerita wayang merupakan karya sastra Melayu atau sastra Indonesia lama yang mendapat pengaruh Hindu kedalam sastra Indonesia melalui suatu masa yang sangat lama dengan cara damai. Wayang kulit adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang sangat populer dan disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat di Jawa khususnya diwilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wayang kulit merupakan salah satu jenis wayang yang ada di Jawa yang masih bertahan sampai sekarang (Soetarno dan Sarwanto,2010:5). Menurut Yasasusastra (2011:11) jenis wayang yang ada dalam kehidupan masyarakat indonesia adalah wayang kulit, wayang golek, wayang klithik, wayang suluh, wayang krucil, wayang wahyu, wayang wong, wayang topeng dan wayang beber.

14 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Winangun, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan dalam Acara Bersih Desa).

PENDAHULUAN Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Winangun, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan dalam Acara Bersih Desa).

bersentuhan dengan merasa, berpikir dan bertindak baik dalam tataran realitas personal maupun realitas sosiokultural”. Menurut Yasasusastra (2011:11) jenis wayang adalah “wayang kulit, wayang golek, wayang klithik, wayang suluh, wayang krucil, wayang wahyu, wayang wong, wayang topeng dan wayang beber” Wayang kulit salah satu jenis wayang yang mengandung komponen cerita dan dalang. Menurut Soedarsono sebagaimana yang dikutip oleh Markhamah (2006:22) menyatakan bahwa seorang dalang harus mengetahui tambo (sejarah cerita kuno), gendhing (musik), gendheng (menyanyi), bahasa (menguasai bahasa jawa), ompak-ompak (bisa bercerita dengan kata-kata yang kuat hingga menemui

8 Baca lebih lajut

B.DAERAH UJIKO 5 GENAP SDN PASRUJAMBE 01

B.DAERAH UJIKO 5 GENAP SDN PASRUJAMBE 01

Wayang iku salah sawijining seni kang diduweni dening wong Jawa. Saking adiluhunge seni wayang, ora mung tinemu ing masyarakat Jawa.Nanging uga tinemu ing masyarakat liya, kayata Sunda, Sasak, Banjar, Minang, malah tekan jaba negara. Seni wayang iku akeh banget jinise, kayata wayang beber, wayang krucil, wayang wong, wayang gedhog, wayang kancil, wayang suluh, wayang wahyu, lan liya – liyane. Salah sijine seni wayang kang moncer dhewe nganti saiki yaiku wayang kulit purwa.

4 Baca lebih lajut

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

Pakeliran Wayang Wahyu dirancang untuk bergerak di luar lingkungan gereja, yaitu kalangan umat Katolik khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sebuah harapan yang dibawanya adalah akan menekan image lama untuk melahirkan image baru (yang sudah dirintis sebelumnya), bahwa keimanan Katolik dapat dekat dengan kebudayaan Jawa, dan agama Kristen (Katolik) bukan hanya agama orang Barat, karena ajaran Kristus adalah ajaran universal yang dapat dianut oleh masyarakat belahan dunia manapun. Tidak ada kesenjangan dalam Katolik untuk menjadi agama masyarakat Jawa, dan ajaran-ajaran dalam Alkitab dapat berarti wewayangan (gambaran kisah sebagai tuntunan) seperti apa yang mereka dapatkan dari Wayang Purwa (Haryanto, 1995: 177-181). Wayang Wahyu merupakan realisasi dari keinginan gereja untuk mendekatkan ajaran Kristiani dengan muatan lokal (kesenian tradisional); tetapi tidak pernah berharap akan melahirkan paradigma baru sebagai bentuk akulturasi budaya, melainkan usaha membumikan keimanan Katolik. Wayang Wahyu bukanlah fenomena Jawanisasi dari ajaran Kristus ke dalam kosmologi masyarakat Jawa; bukan usaha untuk mengolah ajaran Kristus menjadi sebuah agama atau kepercayaan yang sesuai dengan pola kehidupan Jawa, melainkan mengajarkan cara

17 Baca lebih lajut

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

Wayang Suket merupakan bentuk tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang Suket ini biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa dataran Jawa. Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) hingga membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya dari rumput, maka Wayang Suket ini biasanya tidak dapat bertahan lama. Salah seorang seniman asal Tegal yaitu Slamet Gundono, dikenal sebagai tokoh yang berusaha mengangkat kesenian Wayang Suket pada tingkat pertunjukan panggung.

50 Baca lebih lajut

Hari Wayang 2016 “Wayang Cermin Kehidupan” | ISI Solo

Hari Wayang 2016 “Wayang Cermin Kehidupan” | ISI Solo

6. melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan wayang sebagai aset budaya bangsa Indonesia dan dunia sesuai dengan keputusan UNESCO. Berkaitan dengan itu, Panitia Penyelenggara Hari Wayang 2016 mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sebagai berikut.

2 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: “Wahyu Cakraningrat” Sebuah Komposisi Wayang A Capella (untuk SATB dan Paduan Suara Anak)

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: “Wahyu Cakraningrat” Sebuah Komposisi Wayang A Capella (untuk SATB dan Paduan Suara Anak)

Wayang is a masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, which is belongs to Indonesia. The influence of the modern culture is getting stronger. While wayang as a traditional culture is shove a side by the society. However, wayang has a good existence and an ability to develop in a high level of flexibility.

12 Baca lebih lajut

PESAN-PESAN MORAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko  Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Win

PESAN-PESAN MORAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Pesan-Pesan Moral Pada Pertunjukan Wayang Kulit (Studi Kasus Pada Lakon “Wahyu Makutharama” dengan Dalang Ki Djoko Bawono di Desa Harjo Win

Pola kepemimpinan yang menjadi nilai-nilai luhur dan patut menjadi teladan bagi siapapun yang menjadi pemimpin bangsa ini dan mampu memimpin negara dengan adil dan bijaksana sesuai dengan ajaran Hasta Brata ( delapan sifat alam yang dapat menjadi teladan bagi seorang pemimpin) yang terdiri dari watak bumi, watak baruna, watak api, watak angin, watak matahari, watak rembulan, watak bintang dan watak mendung, yang masing-masing watak memiliki makna yang berbeda. Pesan moral dalam lakon Wahyu Makutharama terletak pada adegan limbuk dan cangik serta pada adegan gara-gara yaitu memberikan kritikan kepada semua masyarakat bahkan kepada para generasi muda untuk melestarikan tradisi bersih desa dan tetap melestarikan kebudayaan jawa agar tidak punah dalam perubahan zaman globalisasi. Mengingatkan kepada semua masyarakat untuk tidak melupakan tugas dan tanggung jawabnya dan harus selalu bergotong royong dalam setiap kegiatan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa harus selalu bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan dan tidak melupakan semua pemberian nikmat yang sudah dianugerahkan

17 Baca lebih lajut

WAYANG “KAMPUNG SEBELAH” Kajian Tentang Boneka Wayang Kulit Kreasi Baru (Sebuah Pendekatan Kritik Holistik)

WAYANG “KAMPUNG SEBELAH” Kajian Tentang Boneka Wayang Kulit Kreasi Baru (Sebuah Pendekatan Kritik Holistik)

Karya-karya boneka Wayang Kampung Sebelah menurut status sosialnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: tokoh pemimpin (Lurah Somad), tokoh sesepuh (Eyang Sidik Wacono), tokoh pemimpin ritual keagamaan (Mbah Modin), tokoh pelindung masyarakat (Sodrun dan Parjo), tokoh ayah (Karyo), tokoh ibu (Blegoh dan Mbah Keblak), tokoh wanita Pekerja Seks Komersial (Silvy), tokoh pemuda (Kampret dan Jhony), serta tokoh-tokoh yang berfungsi sebagai tokoh hiburan yang bersifat netral dari alur cerita wayang kampung sebelah (Cak Dul, Minul Darah Tinggi, dan Koma Ramari-mari). Adapun boneka Wayang Kampung Sebelah secara umum memiliki wujud yang sederhana, baik dari aspek bentuk maupun pewarnaan serta penggarapannya cenderung ekspresif. Penonjolan watak wayang secara visual dicapai dengan aksentuasi pada bagian wajah, pakaian yang dikenakan, serta gesture wayang.

119 Baca lebih lajut

BAB I  MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

BAB I MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

Di Indonesia baru memiliki empat museum Wayang. Salah satu dari museum Wayang Kulit adalah Padepokan Pak Bei Tani, lokasinya berada di Wuryantoro, JL.Wonogiri-Pracimantoro, Km 13,Wonogiri, Jawa Tengah. Bangunannya didirikan M.Ng.Prawirowihardjo yang menjadi Mantri Tani di daerah Wuryantoro pada tahun 1987. Museum ini meyimpan Wayang buatan dari daerah Surakarta dan Yogyakarta. Padepokan ini dibangun diatas tanah seluas 631 m 2 , dulunya dikelola Keluarga Cendana (Jakarta) dan Dalem Kalitan (Solo) kemudian diserahkan kepada Pemerintah Daerah Wonogiri. Selain dijadikan museum tempat ini juga untuk berlatih Seni Karawitan. Pada tanggal 1 September 2004, Museum Wayang Indonesia Wonogiri diresmikan Presiden Megawati Soekarno Putri. Museum ini sepi pengunjung karena jauh dari jalur wisata dan terletak diluar kota sehingga kurang dikenal. Selain faktor jarak juga bangunannya berupa padepokan rumah Joglo Jawa yang bisa terlihat dari luar bangunan.

12 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI WAYANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAYDI KELAS VA SDN KRAPYAK WETAN.

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI WAYANG MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAYDI KELAS VA SDN KRAPYAK WETAN.

Sementara ketika wawancara tidak terstruktur dengan guru berinisial L pada 3 Februari 2017, guru mengatakan bahwa pada materi wayang siswa masih belum bisa membedakan tokoh pewayangan . Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa hasil belaja rsiswa kelas VA di SDN Krapyak Wetan pada materi wayang rendah .Faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa kelas V A SDN Krapyak Wetan adalah model pembelajaran yang digunakan kurang bervariatif sehingga siswa bosan dan siswa tidak tertarik lagi dengan pembelajaran. Selain itu kegiatan pembelajaran di kelas dilakukan secara klasikal, yaitu guru memberikan materi pembelajaran dengan cara ceramah sementara siswa hanya mendengarkan saja atau dapat dikatakan bahwa siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran. Sementara itu pembelajaran materi wayang bersifat pemahaman konsep, apabila siswa hanya melakukan pembelajaran secara pasif maka banyak siswa yang tidak paham dengan materi wayanng.

141 Baca lebih lajut

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

Perkembangan pesat kota Magelang saat ini tidak bisa dilepaskan oleh suatu budaya kesenian. Kesenian itu menjadi penting untuk membentuk jati diri warga masyarakatnya. Melalui suatu budaya dan kesenian, warga masyarakat kota Magelang juga dapat belajar serta memahami akan pentingnya menjaga, melestarikan dan mengembangkan budaya kesenian yang saat ini telah terlupakan oleh para generasi muda. Dengan mengangkat tema “Kesenian wayang Onthel”, penulis berharap warga masyarakat kota Magelang pada khususnya, dan warga masyarakat Indonesia pada umumnya bisa mengetahui Budaya Kesenian Wayang terbaru, yang mungkin bagi sebagian orang atau warga masyarakat belum mengetahuinya. Disusun dengan format alur cerita dan bahasa serta sarana musik yang berbeda dengan wayang-wayang sebelumnya, yang memungkinkan dapat menjadi suatu ketertarikan tersendiri bagi para penikmatnya atau generasi muda saat ini yang buta akan suatu kesenian tradisional. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan menentukan narasumber. Metode Studi Pustaka, yaitu mengumpulkan data dengan membaca dan mempelajari leteratur mengenai sejarah singkat pewayangan.

20 Baca lebih lajut

teks eksposisi bahasa Jawa

teks eksposisi bahasa Jawa

karcis. Wayang wong kang komersil ngerembaka lan puncakipun nalika wonteng pekempalan “Ngesti Pandowo” ingkang dipunpandegani dening Sastrosabdo. Abad XVIII ingkang dipunpandegani dening Mangkunegera I, wekdal punika ingkang dipungelar namung lakon-lakoninpun wayang purwa. Sasampunipun menika pagelaran seni tradisional wayang wong wiwit boten subur maneh ing Surakarta. Ananing teng Yogyakarta taksih wonten pagelaran wayang wong ngantos taun 1881. Kanthi pembiyantunipun Mangkunegara V, wayang wong ngerembaka maling nanging taksih winetes ing daerah Yogyakarta lan Surakarta kemawon.

13 Baca lebih lajut

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

Penciptaan pertunjukan Wayang Kampung Sebelah ini berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana untuk mengangkat kisah realitas kehidupan masyarakat sekarang secara lebih lugas dan bebas tanpa harus terikat oleh norma-norma estetik yang rumit seperti halnya wayang kulit purwa. Dengan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia, maka pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah ditangkap oleh penonton. Isu-isu aktual yang berkembang di masyarakat masa kini, baik yang menyangkut persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, merupakan sumber inspirasi penyusunan cerita yang disajikan.

12 Baca lebih lajut

NILAI-NILAI KARAKTER RELA BERKORBAN TOKOH ARJUNA PADA PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM CERITA  Nilai-Nilai Karakter Rela Berkorban Tokoh Arjuna Pada Pagelaran Wayang Kulit Dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo” (Analisis Isi Video Untuk Media Pembelajaran Ppkn).

NILAI-NILAI KARAKTER RELA BERKORBAN TOKOH ARJUNA PADA PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM CERITA Nilai-Nilai Karakter Rela Berkorban Tokoh Arjuna Pada Pagelaran Wayang Kulit Dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo” (Analisis Isi Video Untuk Media Pembelajaran Ppkn).

Alhamdulilah, dengan ridho Allah SWT penuh dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik, yang berjudul ”Nilai-Nilai Karakter Rela Berkorban Tokoh Arjuna Pada Pagelaran Wayang Kulit Dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo”, Analisis Isi Video untuk Media Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”. Penyusunan skripsi ini bukan hanya usaha dan do’a dari penulis semata, namun tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini dengan rasa hormat penulis mengucapkan terimakasih kepada:

20 Baca lebih lajut

Indonesia De No Wayang Kulit No Rekishi

Indonesia De No Wayang Kulit No Rekishi

Pertunjukan Wayang Kulit menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan Wayang kulit, dan penonton dibalik kelir. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan Wayang kulit melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang kulit hanya diiringi oleh seperangkat gamelan dan pesiden pada masa itu diduga masih belum ada.

18 Baca lebih lajut

NILAI-NILAI KARAKTER RELA BERKORBAN TOKOH ARJUNA PADA PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM CERITA  Nilai-Nilai Karakter Rela Berkorban Tokoh Arjuna Pada Pagelaran Wayang Kulit Dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo” (Analisis Isi Video Untuk Media Pembelajaran Ppkn).

NILAI-NILAI KARAKTER RELA BERKORBAN TOKOH ARJUNA PADA PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM CERITA Nilai-Nilai Karakter Rela Berkorban Tokoh Arjuna Pada Pagelaran Wayang Kulit Dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo” (Analisis Isi Video Untuk Media Pembelajaran Ppkn).

Media pembelajaran merupakan perantara untuk menyampaikan suatu informasi bagi peserta didik untuk mempermudah dalam proses pembelajaran berlangsung. Video pada Pagelaran Wayang Kulit dalam cerita “Wahyu Makutho Romo” ini merupakan contoh media yang dapat dijadikan contoh untuk mempermudah pembelajaran khususnya dalam nilai-nilai karakter rela berkorban. Rela berkorban merupakan bersedia dengan ikhlas, senang hati, dengan tidak mengharapkan imbalan, dan mau memberikan sebagian yang dimiliki sekalipun penderitaan bagi dirinya sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, melalui adegan-adegan yang diperankan oleh tokoh Arjuna di Video pada Pagelaran Wayang Kulit dalam Cerita “Wahyu Makutho Romo” yang tedapat nilai-nilai karakter rela berkorban akan dijabarkan menggunakan analisis isi secara deskriptif. Analisis isi menggambarkan karakteristik isi pesan melalui pergerakan pemain atau tokoh, setting, dan amanat dalam cerita video tersebut.

12 Baca lebih lajut

Show all 3140 documents...

Related subjects