wereng batang cokelat

Top PDF wereng batang cokelat:

Efisiensi Wereng Hijau Dan Wereng Batang Cokelat Sebagai Vektor Virus Pada Tanaman Padi

Efisiensi Wereng Hijau Dan Wereng Batang Cokelat Sebagai Vektor Virus Pada Tanaman Padi

Selain penyakit tungro, penyakit kerdil juga menjadi kendala peningkatan produksi padi nasional. Penyakit kerdil hampa pada padi dilaporkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1976 (Hibino et al.1977). Tanaman padi yang terserang penyakit kerdil hampa mengalami pengerdilan, daun menjadi berwarna gelap dengan tepi bergerigi atau ujung memutar, dan tulang daun mengalami pembengkakan atau benjolan di bagian bawah helai daun dan bagian luar permukaan pelepah daun (Cabautan at al. 2009). Penyakit kerdil rumput dilaporkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1971 dan disebut sebagai kerdil rumput tipe I, kemudian pada tahun 2006 ditemukan penyakit kerdil rumput tipe II. Gejala penyakit kerdil rumput diantaranya tanaman menjadi sangat kerdil, anakan banyak, daun hijau pucat sampai kuning atau daun-daun sempit berwarna kuning sampai oranye, daun sempit dengan bintik-bintik karat kecil (IRRI 2002). Dilaporkan oleh Nurbaeti et al. (2010) dan Romadhon (2007) bahwa daerah endemik serangan wereng batang cokelat di Propinsi Jawa Barat meliputi Kabupaten Cirebon, Bekasi, Majalengka, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Subang, Karawang dan Indramayu; sedangkan insidensi penyakit kerdil dilaporkan masih terbatas di Kabupaten Subang dan Cirebon (Maulana dan Abdurahman 2014).
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Kerentanan Wereng Batang Cokelat, Nilaparvata lugens Stål dari Enam Lokasi di Pulau Jawa terhadap Tiga Jenis Insektisida

Kerentanan Wereng Batang Cokelat, Nilaparvata lugens Stål dari Enam Lokasi di Pulau Jawa terhadap Tiga Jenis Insektisida

Fase nimfa WBC terdiri atas lima instar. Instar awal tidak dapat dibedakan antara nimfa wereng batang cokelat dan wereng punggung putih. Nimfa kedua spesies wereng tersebut mulai dapat dibedakan pada instar 3. Lamanya perkembangan nimfa bervariasi antara 9 dan 15 hari (Baco 1984; Subroto et al. 1992b). Seperti halnya telur, lama perkembangan nimfa juga bervariasi bergantung pada suhu lingkungan mulai 15 hari pada 30 ºC sampai 70 hari pada 10 ºC (Wilson dan Claridge 1990). Nimfa yang baru keluar tidak banyak bergerak, setelah ganti kulit baru berpindah tempat. Nimfa lebih menyukai tanaman padi berumur 24 hari setelah tanam (HST) dan 70 HST dibandingkan dengan tanaman padi 100 HST, yang menunjukkan bahwa nimfa WBC lebih menyukai tanaman muda. Nimfa WBC lebih memilih melakukan aktivitas makan pada seludang daun daripada helai daun. Embun madu yang dihasilkan tidak berbeda pada berbagai umur tanaman padi yang berbeda. Rata-rata periode makan nimfa WBC adalah 1 jam (Baco 1984). Nimfa biasanya terdapat pada pangkal batang tanaman padi (Subroto et al. 1992b).
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas aplikasi Beauveria bassiana dalam menekan populasi wereng batang cokelat maupun walang sangit pada tanaman padi dan untuk mengetahui produksi tanaman padi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Oktober 2016 di Desa Campursari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.

12 Baca lebih lajut

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

ini sebanyak 48 kurungan. Tanaman padi berumur 14 hari setelah tanaman diinfeksi masing-masing 20 ekor wereng batang cokelat dan saat padi matang susu diinfeksi 20 ekor walang sangit sesuai dengan perlakuan, selanjutnya disemprot dengan larutan Beauveria bassiana sesuai dengan dosis dan waktu aplikasi perlakuan. Aplikasi ini dilakukan pada pagi hari (pukul 06.00 WIB).

6 Baca lebih lajut

Kemampuan Pemangsaan dan Konsumsi Kepik Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter (Hemiptera: Miridae) terhadap Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae)

Kemampuan Pemangsaan dan Konsumsi Kepik Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter (Hemiptera: Miridae) terhadap Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae)

Cyrtorhinus lividipennis (Reuter) (Hemiptera: Miridae) merupakan salah satu predator penting dalam menekan populasi wereng batang cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) pada pertanaman padi. Pengetahuan ekologi perilaku termasuk perilaku kemahiran mendapatkan mangsa (foraging behaviour), variasi jumlah, jenis individu dan jenis instar yang dimangsa merupakan faktor penentu preferensi dalam proses seleksi penerimaan mangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perilaku dan mengukur kemampuan pemangsaan serta tingkat konsumsi setiap stadia pertumbuhan kepik terhadap stadia pertumbuhan WBC. Nimfa dan imago wereng serta kepik predator dipelihara pada tanaman padi varietas Pelita 1-1. Pengamatan perilaku memangsa kepik digunakan nimfa dan imago kepik dengan mangsa nimfa instar tiga wereng. Perilaku memangsa kepik diamati dari pukul 06:00 sampai 18:00. Pada uji pemangsaan seekor nimfa atau imago kepik dilepaskan ke dalam cawan petri berisi seekor nimfa, imago atau sekelompok telur wereng. Lama penemuan, penanganan, dan penghisapan mangsa dihitung menggunakan stopwatch. Tingkat konsumsi kepik diuji dengan cara memasukkan nimfa atau imago kepik ke dalam tabung gelas yang berisi tanaman padi dan 10 ekor wereng (nimfa atau imago) atau sekelompok telur wereng. Pengamatan dilakukan 24 jam setelah kepik dilepaskan kemudian jumlah mangsa yang dikonsumsi dihitung dan dicatat.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Petani Dalam Penggunaan Insektisida Untuk Pengendalian Wereng Batang Cokelat Di Kabupaten Lamongan Jawa Timur

Pengetahuan, Sikap, Dan Tindakan Petani Dalam Penggunaan Insektisida Untuk Pengendalian Wereng Batang Cokelat Di Kabupaten Lamongan Jawa Timur

Wereng batang cokelat (WBC) merupakan salah satu hama utama padi di Indonesia. Peledakan WBC sering terjadi pada pertanaman padi disebabkan oleh penggunaan insektisida yang tidak tepat karena pengetahuan dan keterampilan petani yang rendah dalam penggunaan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan menganalisis pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam penggunaan pestisida untuk mengatasi WBC di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan metode survei langsung dengan menggunakan kuisioner terstruktur untuk mendapatkan data primer, sedangkan data sekunder diperoleh dari beberapa instansi setempat dan studi literatur. Pemilihan lokasi dilakukan secara terpilih (purposive). Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif dengan aplikasi Microsoft Excel 2010. Pengetahuan, sikap, dan tindakan petani di Kecamatan Laren, Sekaran, Maduran, Sukodadi, dan Babat dalam penggunaan pestisida sintetik menunjukkan beberapa perbedaan sesuai dengan karakteristik masing-masing petani. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peledakan WBC antara lain intensitas aplikasi penyemprotan pestisida, penggunaan pestisida yang terlarang, dosis atau konsentrasi yang tidak sesuai dengan dosis anjuran.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keparahan Serangan Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stal. (Hemiptera: Delphacidae) pada Pertanaman Padi di Kabupaten Klaten

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keparahan Serangan Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stal. (Hemiptera: Delphacidae) pada Pertanaman Padi di Kabupaten Klaten

Berdasarkan uji khi-kuadrat diketahui bahwa ada pengaruh yang nyata antara populasi WBC dengan keparahan serangan WBC (nilai-p = 0,01). Data penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat keparahan serangan WBC maka akan semakin banyak ditemukan petak contoh yang populasi WBCnya lebih dari atau sama dengan 20 ekor/rumpun, nilai tersebut merupakan batas ambang ekonomi untuk WBC dapat menimbulkan kerugian ekonomis sehingga perlu dilakukan tindakan pengendalian (BPTP Jawa Barat 2010). Tetapi walaupun keberadaan WBC kurang dari 20 ekor/rumpun, tetap harus dilakukan pengamatan populasinya secara intensif dikarenakan serangga WBC memiliki kemampuan perkembangan populasi yang tinggi dan daya adaptasi yang cepat. Peledakan populasi WBC yang merupakan peningkatan populasi secara eksplosif ada hubungannya dengan berubahnya lingkungan eksternal seperti perubahan cuaca, perubahan iklim dan penyemprotan pestisida (Heong & Hardy 2009). Wereng batang cokelat adalah serangga bertipe strategi-r yang memiliki karakteristik kemampuan bermigrasi yang tinggi dari lahan yang telah dirusak ke lahan baru yang belum dirusaknya dan memiliki kemampuan berkembang biak yang cepat sehingga dapat menimbulkan kehilangan hasil panen yang tinggi dengan gejala yang ditimbul kan berupa “ hopper burn ” dan merupakan vektor virus kerdil rumput dan kerdil hampa (Pathak & Khan 1994).
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Tanggap fungsional predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter (Hemiptera: Miridae) terhadap hama wereng batang cokelat nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae)

Tanggap fungsional predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter (Hemiptera: Miridae) terhadap hama wereng batang cokelat nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae)

Nilaparvata lugens Stål. lebih dikenal dengan nama wereng batang cokelat (WBC) yang merupakan hama penting pada pertanaman padi. Serangga ini termasuk ke dalam ordo Hemiptera, subordo Auchenorrhycha, famili Delphacidae. Imago WBC mempunyai dua bentuk morfologi yaitu wereng bersayap normal (makroptera) dan wereng bersayap pendek (brakhiptera) (Baehaki 1992). Munculnya WBC dengan morfologi brakhiptera disebabkan berlebihnya ketersediaan pakan pada stadium nimfa dan juga didorong oleh kisaran suhu optimal yang sesuai bagi perkembangannya, sedangkan penyebab timbulnya bentuk makroptera disebabkan tingginya populasi saat stadium nimfa serta penurunan kualitas serta kuantitas sediaan pakan. Imago brakhiptera mendominasi populasi sebelum fase pembungaan dan imago makroptera pada saat tanaman tua dan tanaman setengah rusak (IRRI 1995).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Kerentanan Wereng Batang Cokelat, Nilaparvata Lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae), Dari Enam Lokasi Di Pulau Jawa Terhadap Tiga Jenis Insektisida

Kerentanan Wereng Batang Cokelat, Nilaparvata Lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae), Dari Enam Lokasi Di Pulau Jawa Terhadap Tiga Jenis Insektisida

Fase nimfa WBC terdiri atas lima instar. Instar awal tidak dapat dibedakan antara nimfa wereng batang cokelat dan wereng punggung putih. Nimfa kedua spesies wereng tersebut mulai dapat dibedakan pada instar 3. Lamanya perkembangan nimfa bervariasi antara 9 dan 15 hari (Baco 1984; Subroto et al. 1992b). Seperti halnya telur, lama perkembangan nimfa juga bervariasi bergantung pada suhu lingkungan mulai 15 hari pada 30 ºC sampai 70 hari pada 10 ºC (Wilson dan Claridge 1990). Nimfa yang baru keluar tidak banyak bergerak, setelah ganti kulit baru berpindah tempat. Nimfa lebih menyukai tanaman padi berumur 24 hari setelah tanam (HST) dan 70 HST dibandingkan dengan tanaman padi 100 HST, yang menunjukkan bahwa nimfa WBC lebih menyukai tanaman muda. Nimfa WBC lebih memilih melakukan aktivitas makan pada seludang daun daripada helai daun. Embun madu yang dihasilkan tidak berbeda pada berbagai umur tanaman padi yang berbeda. Rata-rata periode makan nimfa WBC adalah 1 jam (Baco 1984). Nimfa biasanya terdapat pada pangkal batang tanaman padi (Subroto et al. 1992b).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Interaksi Populasi Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae) dengan Kepik Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter. (Hemiptera: Miridae) pada Padi Varietas Ciherang

Interaksi Populasi Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae) dengan Kepik Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter. (Hemiptera: Miridae) pada Padi Varietas Ciherang

ZULFIRMAN EROSWIKA SUTAN. Interaksi Populasi Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae) dengan Kepik Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter. (Hemiptera: Miridae) pada Padi Varietas Ciherang. Dibimbing oleh ENDANG SRI RATNA dan ALI NURMANSYAH

10 Baca lebih lajut

Ketahanan Lima Kultivar Padi Lokal ( Oryza sativa L.) terhadap Wereng Batang Cokelat ( Nilaparvata lugens Stål, Hemiptera) | Noviany | Vegetalika 25349 51484 1 PB

Ketahanan Lima Kultivar Padi Lokal ( Oryza sativa L.) terhadap Wereng Batang Cokelat ( Nilaparvata lugens Stål, Hemiptera) | Noviany | Vegetalika 25349 51484 1 PB

Perakitan kultivar tahan wereng batang cokelat sangat sulit, terutama untuk mendapatkan kultivar dengan gen ketahanan horizontal atau poligenik, karena untuk menghambat perubahan biotipe wereng batang cokelat diperlukan pengendalian dengan pergiliran kultivar yang berbeda ketahanannya untuk menunda seleksi terarah. Oleh karena itu salah satu alternatif untuk perakitan kultivar baru adalah menggunakan kultivar lokal yang telah teruji ketahanan biotik dan abiotiknya. Kultivar lokal ini dapat digunakan sebagai tetua utama maupun sebagai tetua donor gen ketahanan dalam perakitan kultivar baru (Baehaki, 2012). Penelitian ini bertujuan menguji ketahanan lima kultivar padi lokal (Tebidah, Irik, Gadjah Rante, Boyan, dan Gadung Mlati) terhadap hama wereng batang cokelat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Serangan Wereng Batang Cokelat di Provinsi Jambi dan Strategi Pengendaliannya

Serangan Wereng Batang Cokelat di Provinsi Jambi dan Strategi Pengendaliannya

Wereng Batang Cokelat (WBC) merupakan hama utama pada beberapa wilayah pertanaman padi di Indonesia terutama di jalur pantura Pulau Jawa. Saat ini juga sudah mengancam beberapa pertanaman padi di Provinsi Jambi. Tulisan ini bertujuan untuk menginformasikan tingkat serangan wereng batang cokelat di Provinsi Jambi dan strategi pengendaliannya. Penelitian dilaksanan dengan cara desk study dan survei lapang. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serangan Wereng Batang Cokelat pada awal tahun 2016 terjadi pada 3 (tiga) Kabupaten yaitu Tebo, Bungo dan tanjung Jabung Timur. Jumlah desa yang mengalami serangan WBC berturut-turut di Tebo, Bungo dan Tanjung Jabung Timur adalah 5, 3, dan 7 desa. Luas serangan tertinggi terjadi di Kabupaten Tebo yaitu 242 ha dan luas terancam 260,5 ha yang terjadi di Kecamatan Tebo Uu dan VII Koto. Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur luas serangan 52,5 ha dengan luas terancam 310,55 ha terjadi di Kecamatan Berbak dan Sabak Barat. Di kabupaten Bungo serangan paling sedikit yaitu 13,75 ha dan terancam 56,25 ha di Kecamatan Jujuhan Ilir, Pelepat dan Tasep Lintas. Intensitas serangan ada yang mencapai 100%, dan jumlah populasi WBC mencapai lebih dari 100 per rumpun. WBC ditemukan pada padi fase vegetatif dan generatif. Varietas yang diserang adalah Mekongga, Batang Piaman, Ciherang dan lokal. Serangan WBC telah mengakibatkan minimal 7 ha pertanaman padi menjadi puso. Strategi pengendalian yang direkomendasikan adalah penanaman padi serentak, penggunaan varietas tahan dan pergiliran varietas, pemasangan lampu perangkap, penyesuaian waktu persemaian, pengamatan populasi sedini mungkin, pengendalian dengan menuntaskan WBC generasi 1 (satu), dan penggunaan insektisida dengan cara bijaksana.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)

Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)

Wereng batang cokelat (WBC) Nilaparvata lugens Stål merupakan salah satu hama penting yang dapat menurunkan produksi padi di Indonesia. Tingkat serangan hama yang cukup tinggi dapat mengakibatkan tanaman puso. Di lapangan, musuh alami yang berpotensi menurunkan populasi WBC di antaranya cendawan entomopatogen dan kumbang Paederus fuscipes Curtis. Penelitian ini bertujuan menguji infektivitas cendawan entomopatogen Metarhizium sp. dalam menekan populasi hama WBC dan implikasinya terhadap kumbang predator P. fuscipes. Uji pendahuluan dilakukan dengan mengisolasi dan mengidentifikasi virulensi cendawan yang berasal dari WBC terinfeksi dari pertanaman padi petani Muara Bogor. Isolat murni cendawan infektif terpilih diujikan pada WBC untuk diamati tingkat keefektifannya terhadap WBC dan tingkat infeksinya terhadap kumbang P. fuscipes. Tiga konsentrasi suspensi cendawan yaitu 10 6 , 10 7 , dan 10 8 konidia/ml akuades disemprotkan pada setiap 20 ekor imago WBC yang baru eklosi, dan dua konsentrasi 10 6 dan 10 8 konidia/ml akuades disemprotkan pada setiap 20 ekor imago P. fuscipes. Perlakuan masing-masing diulang empat kali. Mortalitas WBC diamati pada hari pertama sampai 6 hari setelah perlakuan (HSP) dan mortalitas kumbang diamati sampai 10 HSP. Hasil pengujian menunjukkan bahwa cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara efektif menekan populasi WBC ditunjukkan dengan nilai mortalitasnya pada LC 50 berkisar antara 1.1 x 10 5
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Serangan wereng batang cokelat sangat berpotensi mengganggu kestabilan produksi beras (Untung, 2007). Wereng batang cokelat hidup di pangkal batang atau pelepah tanaman padi, dan merusak dengan cara menghisap cairan batang tanaman. Gejala kerusakan wereng batang cokelat pada rumpun dapat terlihat dari daun-daun yang menguning, kemudian tanaman mengering dengan cepat seperti terbakar (Rai, 2006). Gejala ini dikenal dengan istilah hopperburn. Dalam suatu hamparan, gejala hopperburn terlihat sebagai bentuk lingkaran, yang menunjukkan pola penyebaran wereng batang cokelat dimulai dari satu titik, kemudian menyebar ke segala arah dalam bentuk lingkaran. Dalam keadaan demikian, populasi wereng batang cokelat biasanya sudah sangat tinggi (Baehaki, 2005). Hama wereng batang cokelat dapat menularkan penyakit virus kerdil rumput (Grassy stunt) dan kerdil hampa (Melhanah, 2002). Tanaman yang terserang kerdil rumput akan menjadi kerdil, beranak banyak, daun menjadi pendek tidak bermalai, tanaman menjadi kerdil daunnya pendek, anakan bercabang dan malainya hampa (Untung, 2007).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Efektivitas Aplikasi Beauveria bassiana sebagai Upaya Pengendalian Wereng Batang Cokelat dan Walang Sangit pada Tanaman Padi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Tanaman padi merupakan komoditas strategis yang tetap mendapat prioritas penanganan dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Beras menjadi salah satu sumber karbohidrat yang mengandung nilai gizi cukup tinggi. Kebutuhan beras setiap tahun semakin bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, namun produksi beras menurun. Penurunan produksi beras diantaranya disebabkan oleh serangan hama wereng batang cokelat dan walang sangit yang mengakibatkan kehilangan hasil mencapai 50% (Badan Pusat Statistik dan Pusdatin, 2005).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Analisis hubungan faktor iklim dengan tingkat serangan wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) sebagai landasan prediksi serangan: studi kasus pada 3 Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah

Analisis hubungan faktor iklim dengan tingkat serangan wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) sebagai landasan prediksi serangan: studi kasus pada 3 Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah

Hama adalah suatu organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman dan dapat merugikan secara ekonomi. Padi merupakan tanaman penting untuk makanan pokok di Indonesia. Hama yang sering merusak tanaman padi dan dapat menurunkan produksi padi adalah wereng batang coklat (WBC). Salah satu pemicu peningkatan luas serangan wereng batang coklat adalah faktor iklim. Faktor iklim dapat mempengaruhi tinggi rendahnya serangan wereng batang coklat. Oleh karena itu perlu diketahui analisis pengaruh iklim terhadap luas serangan WBC. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor iklim dengan luas serangan wereng batang coklat sebagai landasan prediksi serangan WBC. Wilayah kajian yang dianalisis meliputi tiga kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yaitu Cilacap, Pekalongan, dan Tegal. Metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode regresi linier sederhana untuk curah hujan, regresi kuadratik sederhana untuk faktor iklim lainnya, dan regresi linier berganda untuk semua faktor iklim yang dianalisis. Analisis hubungan faktor iklim dengan luas serangan WBC dilakukan pada berbagai waktu tunda (time lag) yaitu tanpa lag, lag 1, dan lag 2. Hasil regresi tertinggi antara luas serangan wereng batang coklat dan semua faktor iklim yang dianalisis adalah 20.2 %. Hasil ini didapat saat dilakukan analisis di wilayah tegal pada lag 1 dengan persamaan LS = - 38 + 90.2 T rata
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Respon biologi wereng batang cokelat nilaparvata lugens stål (hemiptera: delphacidae) terhadap tujuh varietas tanaman padi

Respon biologi wereng batang cokelat nilaparvata lugens stål (hemiptera: delphacidae) terhadap tujuh varietas tanaman padi

tahan PTB33. Respon tersebut diduga berkaitan erat dengan ukuran ovipositor WBC yang nyata lebih kecil pada WBC biotipe 2 dibandingkan biotipe 3. Sebaliknya, jumlah trikhoma pada permukaan tanaman dan ketebalan jaringan epidermis batang tidak berpengaruh terhadap perilaku hinggap dan peletakan telur. Respon kemampuan makan WBC ditunjukkan dengan luasan bercak embun madu yang nilainya 23.1 dan 2.2 mm 2 /ekor berturut-turut dihasilkan oleh WBC biotipe 3 dan 2 pada varietas standar tahan PTB33 dibandingkan 132.3 dan 99.1 mm 2 /ekor pada varietas standar rentan TN1. Kematian WBC sebagian besar terjadi pada individu muda, dan mortalitas rendah pada umur lebih tua. Terjadi penundaan peneluran pada varietas tahan IR74, yaitu puncak peneluran dicapai pada hari ke-25 sebanyak 14,4 butir telur/induk, sedangkan pada varietas inang biotipe 3 yaitu IR42 terjadi pada hari ke-21 sebanyak 16 butir/induk, Kemampuan tumbuh dan berkembang WBC yang lebih tinggi pada TN1 diduga berkaitan erat dengan tingginya kadar sukrosa sebagai sumber nutrisi pakan dan rendahnya kadar asam oksalat sebagai bahan penghambat makan yang terkandung di dalam jaringan tanaman. Semua respon tersebut di atas diekspresikan lebih lanjut pada neraca kehidupan WBC. Pada tanaman standar rentan TN1, WBC memiliki laju pertumbuhan intrinsik dan laju reproduksi bersih yang tinggi, serta waktu penggandaan populasi relatif lebih pendek daripada varietas tahan IR74.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Respon biologi wereng batang cokelat nilaparvata lugens stål terhadap tujuh varietas tanaman padi

Respon biologi wereng batang cokelat nilaparvata lugens stål terhadap tujuh varietas tanaman padi

tahan PTB33. Respon tersebut diduga berkaitan erat dengan ukuran ovipositor WBC yang nyata lebih kecil pada WBC biotipe 2 dibandingkan biotipe 3. Sebaliknya, jumlah trikhoma pada permukaan tanaman dan ketebalan jaringan epidermis batang tidak berpengaruh terhadap perilaku hinggap dan peletakan telur. Respon kemampuan makan WBC ditunjukkan dengan luasan bercak embun madu yang nilainya 23.1 dan 2.2 mm 2 /ekor berturut-turut dihasilkan oleh WBC biotipe 3 dan 2 pada varietas standar tahan PTB33 dibandingkan 132.3 dan 99.1 mm 2 /ekor pada varietas standar rentan TN1. Kematian WBC sebagian besar terjadi pada individu muda, dan mortalitas rendah pada umur lebih tua. Terjadi penundaan peneluran pada varietas tahan IR74, yaitu puncak peneluran dicapai pada hari ke-25 sebanyak 14,4 butir telur/induk, sedangkan pada varietas inang biotipe 3 yaitu IR42 terjadi pada hari ke-21 sebanyak 16 butir/induk, Kemampuan tumbuh dan berkembang WBC yang lebih tinggi pada TN1 diduga berkaitan erat dengan tingginya kadar sukrosa sebagai sumber nutrisi pakan dan rendahnya kadar asam oksalat sebagai bahan penghambat makan yang terkandung di dalam jaringan tanaman. Semua respon tersebut di atas diekspresikan lebih lanjut pada neraca kehidupan WBC. Pada tanaman standar rentan TN1, WBC memiliki laju pertumbuhan intrinsik dan laju reproduksi bersih yang tinggi, serta waktu penggandaan populasi relatif lebih pendek daripada varietas tahan IR74.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Perkembangan Populasi dan Pembentukan Makroptera Tiga Biotipe Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål pada Sembilan Varietas Padi

Perkembangan Populasi dan Pembentukan Makroptera Tiga Biotipe Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål pada Sembilan Varietas Padi

Dari hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa brakhiptera berpotensi meningkatkan populasi pada tanaman dan penyebab kerusakan tanaman, sedangkan makroptera berfungsi untuk migrasi sebagai infestan penerus keturunan di habitat baru. Berdasarkan hasil uraian di atas diketahui bahwa jumlah imago brakhiptera lebih dominan dibandingkan makroptera. Banyaknya jumlah brakhiptera pada generasi pertama akan menentukan jumlah populasi generasi yang kedua namun pada penelitian ini karena sumber daya pakan yang terbatas maka jumlah populasi generasi kedua menurun seiring habisnya pakan (Baehaki & Widiarta 2008). Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan populasi pada suatu varietas tanaman terjadi karena meningkatnya jumlah brakhiptera. Walaupun populasi betina makroptera rendah, wereng ini memiliki kemampuan memencar dengan jarak tempuh yang relatif untuk menemukan inang baru dan berpotensi sebagai penerus keturunan serta membentuk pertumbuhan populasi awal pada tanaman inang yang dihinggapinya (Baehaki & Widiarta 2008).
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

Musuh Alami Hama Padi Sawah

Musuh Alami Hama Padi Sawah

Hama mempunyai kemampuan berkembang biak yang tinggi guna mengimbangi adanya tingkat kematian tinggi pula dalam menghadapi alam. Misalnya satu induk wereng batang cokelat padi sebetulnya dapat menghasilkan banyak keturunan, tetapi karena bekerjanya preator, parasit dan penyakit, sehingga hanya 1 atau 2 dewasa yang dapat hidup setelah satu generasi. bukanlah sesuatu yang luar biasa bila terjadi mortalitas sebesar 98 - 99%. Kalau tidak demikian tingkat kepadatan hama akan terjadi ledakan.

4 Baca lebih lajut

Show all 7633 documents...