wereng coklat

Top PDF wereng coklat:

UJI PENGGUNAAN MINYAK ANGIN 1001 TERHADAP PENGENDALIAN POPULASI WERENG COKLAT

UJI PENGGUNAAN MINYAK ANGIN 1001 TERHADAP PENGENDALIAN POPULASI WERENG COKLAT

Sebagaimana telah disebutkan dari hasil sebelumnya, bahwa Minyak Angin 1001 menyebabkan kematian (menghambat perkembangan embrio) pada telur wereng coklat dan wereng hijau. Sifat penghambat ini kemungkinan karena adanya Methylis salicylas 54,8% yang merupakan salah satu komposisi dari minyak angin tersebut. Zat ini jumlahnya paling besar dibandingkan dengan komposisi lainnya. Rumus molekul Methylis salicylas tersebut adalah C 6 H 4 (OH)C))CH 3 yang merupakan metil ester asam salisinil (Anonim,2005). Hal

14 Baca lebih lajut

Karakterisasi fenotip kultivar padi tahan dan rentan wereng coklat, Nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae).

Karakterisasi fenotip kultivar padi tahan dan rentan wereng coklat, Nilaparvata lugens Stål. (Hemiptera: Delphacidae).

Ketahanan varietas padi terhadap wereng coklat bersifat genetik, sehingga kajian mekanisme ketahanan padi tahan wereng coklat perlu di- lakukan pada aspek genetik, termasuk pada aras molekuler. Penelitian terkait genom padi telah dilakukan cukup maju, termasuk identifkasi gen marker terkait sifat tahan terhadap wereng coklat (Jena & Mackill 2008). Penelitian terkait ekspresi protein total tanaman tahan yang diinvestasi wereng coklat juga telah dilakukan oleh Wei et al. (2009). Sementara itu, penelitian ini mengidentiikasi ekspresi genetik berdasar pola pita protein total terhadap kultivar padi yang memiliki tingkat ketahanan berbeda terhadap wereng coklat pada keadaan tidak diinfestasi wereng coklat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mempelajari fenotipe, yakni keberadaan rambut separation on SDS-Page. Co-variants analysis was adopted to identify the groups of resistant cultivars based on protein banding patterns. The results showed that plant hair on resistant rice cultivars are different with susceptible cultivars (resistance to Pelita I/1). The plant hair on resistant cultivars are larger/longer, more abudant and grew tighter than on susceptible cultivar (resistance to Pelita I/1). However the number of plant hair have no correlation with resistance level. In the absence of brown plant hopper infestation, the expression of protein total of resistant and susceptible cultivars are not clearly separated. The susceptible Pelita I/1 varieties showed a similar banding pattern to IR 26 (biotype 1), IR 42 (resistance to biotype 2) and IR IR 74 (resistance to biotype 3), but the four cultivars are not similar to the resistant cultivar IR 36 varieties (resistance to biotype 2). Our research showed that both plant hair and protein banding patterns can not be used to identify the plant resistance.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Rancang Bangun Alat Pengendali Hama Wereng Coklat tanpa Pestisida Yang ramah Lingkungan

Rancang Bangun Alat Pengendali Hama Wereng Coklat tanpa Pestisida Yang ramah Lingkungan

Pada periode 1970-1980, luas serangan wereng coklat mencapai 2,5 juta ha. Periode 1980-1990, luas serangan menurun menjadi 50.000 ha, dan dalam periode 1990-2000 meningkat hingga sekitar 200.000 ha. Pada tahun 2005 serangan wereng coklat terpusat di Jawa dengan menyerang 56.832 ha tanaman padi [4]. Berbagai metode telah dilakukan petani untuk mengendalikan hama tersebut baik secara fisik dan mekanik [5]. Selain itu juga dilakukan pengendalian biologis dengan memanfaatkan musuh alami. Pengendalian ini dianggap paling aman dan mampu menjaga keseimbangan ekosistem, namun dampak yang dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Cara-cara pengendalian tersebut dianggap kurang efektif. Kemudian cara pengendalian hama yang lebih praktis dan cepat mulai dilakukan yaitu secara kimiawi menggunakan pestisida [6]. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan sangat banyak [7]. Penggunaan pestisida ini juga tidak sejalan dengan sistem pertanian organik yang digalakan pemerintah. Bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Alat yang akan dikembangkan adalah berupa mesin yang memanfaatkan teknologi ramah lingkungan untuk mengendalikan hama yang didasarkan kepada konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mempertimbangkan ekosistem [8].
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pengembangan Alat Pengendali Hama Wereng Coklat Otomatis dengan Motion Sensor

Pengembangan Alat Pengendali Hama Wereng Coklat Otomatis dengan Motion Sensor

Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) tergolong hama yang sangat berbahaya bagi tanaman padi. Hama ini sangat sulit diberantas atau dikendalikan karena memiliki berbagai keunggulan yaitu mudah beradaptasi dan mampu membentuk biotipe baru. Hama ini juga memiliki kemampuan mempertahankan generasi yang sangat baik. Berbagai metode telah dilakukan petani untuk mengendalikan hama tersebut baik secara fisik dan mekanik. Namun cara-cara pengendalian tersebut dianggap kurang efektif. Kemudian cara pengendalian hama yang lebih praktis dan cepat mulai ditemukan yaitu secara kimiawi menggunakan pestisida. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan sangat banyak. Penggunaan pestisida ini juga tidak sejalan dengan sistem perta nian organik yang digalakan pemerintah. Tak bisa dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat, terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi ramah lingkungan yang dikembangkan untuk mengendalikan hama yang didasarkan kepada konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mempertimbangkan ekosistem, stabilitas dan kesinambungan produksi. Target khusus penelitian ini adalah mengembangkan prototipe alat pengendali hama wereng coklat tanpa pestisida yang ramah lingkungan dengan baling-baling mekanik dan corong penyedot dengan harapan mampu menekan populasi hama. Tujuan penelitian ini adalah merancang bangun alat pengendali hama wereng coklat dengan mekanik vacuum berisi dinamo 12 volt dan baling-baling kipas aluminium. Mekanik tersebut dihubungkan dengan pipa paralon yang ujungnya diberi corong penyedot. Dimana pada corong penyedot dipasang lampu searah dengan bentuk corong. Pada ujung corong penyedot dipasang motion sensor yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan/gerakan hama wereng coklat
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MANIPULASI HABITAT SEBAGAI SOLUSI TERJADINYA OUTBREAK WERENG COKLAT.

MANIPULASI HABITAT SEBAGAI SOLUSI TERJADINYA OUTBREAK WERENG COKLAT.

Kestabilan suatu ekosistem ditunjukkan dengan indeks keragaman. Makin tinggi indeks keragaman menunjukkan makin stabil ekosistem tersebut. Dari table diatas terlihat bahwa indeks keragaman untuk kedua perlakuan relative sama baik hasil metode mutlak maupun metode relatif. Indeks keragaman keduanya relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem tersebut relatif stabil. Lebih tingginya populasi musuh alami dibanding wereng coklat (Tabel 1) juga mengindikasikan bahwa ekosistem cukup stabil. Kestabilan ekosistem ini kemungkinan karena selama percobaan tidak dilakukan aplikasi pestisida kimia. Aplikasi pestisida merupakan salah satu bentuk goncangan ekosistem, yang dapat memicu dominasi sutau spesies sehingga berakibat terjadinya ledakana hama. Keberadaan musuh alami yang terdiri dari predator dan parasitoid sangat dipengaruhi oleh aplikasi insektisida kimia. Arifin, et all . (1997) mengemukaan bahwa jenis dan populasi predator pada ekosistem padi sawah tanpa penyemprotan lebih tinggi dibanding dengan penyemprotan. Hal yang berlawanan terjadi pada jenis dan populasi hama yang lebih tinggi pada ekosistem yang disemprot.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Perkembangan Biotipe Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi

Perkembangan Biotipe Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi

cenderung mempengaruhi terjadinya penyimpangan, seolah-olah ada seleksi populasi wereng coklat oleh varietas. Hasil seleksi akan meningkatkan arah dari kemampuan dalam populasi serangga. Keadaan demikian disebut sebagai seleksi terarah (directional selection). Populasi serangga lama pada varietas lama akan mengalami seleksi terarah pada varietas baru yang menghasilkan populasi baru. Populasi baru ada yang memiliki sifat yang sama dengan biotipe yang telah ditetapkan sehingga disebut biotipe asal, atau menyimpang dari biotipe asal yang telah ditetapkan, menjadi biotipe baru, atau populasi tetap berdasarkan ekosistem setempat. Adanya varietas dengan gen tahan tunggal (monogenic resistance) atau vertikal resisten akan menyebabkan hubungan gen untuk gen (gen for gen relationship = GGR) terhadap gen hamanya. Setiap gen mayor untuk ketahanan spesies inang berhubungan erat dengan gen untuk keganasan (virulensi) pada spesies hama. Reaksi tahan dari tanaman inang terjadi jika mempunyai gen tahan dan hama mempunyai gen avirulen pada lokus yang bersesuaian. Jika hama mempunyai gen virulen pada lokus yang sesuai, maka tanaman inangnya akan rentan. Hubungan gen untuk gen disebut sebagai matching gene theory (Panda and Khush 1995).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

UJI PENGGUNAAN MINYAK ANGIN 1001 TERHADAP PENGENDALIAN POPULASI WERENG COKLAT

UJI PENGGUNAAN MINYAK ANGIN 1001 TERHADAP PENGENDALIAN POPULASI WERENG COKLAT

Serangga yang akan digunakan dalam penelitian ini pertama-tama akan dikoleksi dari lapangan. Dalam hal ini dengan menggunakan jala serangga (Stewart, 2002), penangkapan wereng coklat dan wereng hijau akan dilakukan di daerah pertanian sekitar Desa Sambi Rejo Timur Tembung Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan menggunakan aspirator wereng-wereng yang telah tertangkap dalam jala serangga akan disortir dalam keadaan hidup- hidup dan selanjutnya dimasukkan ke dalam tabung-tabung yang telah disediakan. Bagian atas dari tabung-tabung itu akan ditutupi dengan kain kelambu agar serangga tetap mendapat oksigen. Wereng yang sudah tertangkap dan telah berada dalam tabung-tabung selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk disortir dan diidentifikasi lebih lanjut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Efektivitas Limbah Tembakau Untuk Pengendalian Wereng Coklat pada Padi dan Pengaruhnya Terhadap Predator

Efektivitas Limbah Tembakau Untuk Pengendalian Wereng Coklat pada Padi dan Pengaruhnya Terhadap Predator

Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Efektivitas Limbah Tembakau untuk Pengendalian Wereng Coklat pada Padi dan Pengaruhnya terhadap Predator” dengan baik dan lancar.

13 Baca lebih lajut

KAJIAN MORFOMETRI WERENG COKLAT (Nilaparvata Lugens) DAN GULMA PADA EKOSISTEM PADI SAWAH DI KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA.

KAJIAN MORFOMETRI WERENG COKLAT (Nilaparvata Lugens) DAN GULMA PADA EKOSISTEM PADI SAWAH DI KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt, karena atas segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah “Kajian Morfometri Wereng Coklat ( Nilaparvata lugens) dan Gulma pada Ekosistem Padi Sawah di Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara”.

17 Baca lebih lajut

AKTIVITAS INSEKTISIDAL EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYUH (Eupatorium odoratum L.) TERHADAP WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens Stal.).

AKTIVITAS INSEKTISIDAL EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYUH (Eupatorium odoratum L.) TERHADAP WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens Stal.).

Perlakuan dilakukan dengan metode celup daun (leaf dipping method). Disiapkan bibit padi umur 5 hari, dicuci bersih dan dikering-anginkan. Kemudian bibit padi direndam dalam ekstrak etanol daun kirinyuh dengan berbagai konsentrasi uji, akuades (sebagai kontrol negative dan Diazinon 600 EC dengan konsentrasi 0,01% b/v (sebagai kontrol positif). Perendaman dilakukan selama 30 menit. Bibit yang sudah direndam dimasukkan dalam gelas plastik sebanyak 21 buah, untuk 7 kali dan 3 kali ulangan. Nimfa wereng coklat dimasukkan dalam masing-masing gelas plastic sebanyak 10 ekor dimasukkan ked lam wadah plastik. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam perlakuan. Besarnya nilai lethal concentration (LC 50 )
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Bioinsektisida untuk Pengendali Wereng Coklat

Bioinsektisida untuk Pengendali Wereng Coklat

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi cair bioinsektisida berbahan aktif jamur, B. bassiana yang diperbanyak dengan jagung (A) dan Metarhizium yang diperbanyak dengan jagung (B) paling efektif membunuh nimfa wereng coklat. Selain itu, jamur entomopatogen dalam bentuk formulasi cair mampu meningkatkan keefektifan isolat jamur tersebut sehingga LT 50 hanya butuh waktu kurang dari dua hari,

16 Baca lebih lajut

wereng coklat mengancam swasembada beras

wereng coklat mengancam swasembada beras

Solusi terbaik adalah kembali menerapkan prinsip-prinsip PHT secara benar dan tepat seperti diamanatkan oleh Inpres 3/1986 tentang Peningkatan Pengendalian Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi, UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP No 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman. Agar proses pengendalian WBC secara alami dapat berjalan secara efektif, efisien dan ekonomis, penanaman varietas tahan WBC biotipe lokal, pergiliran tanaman, penanaman serentak, serta pembatasan penggunaan pestisida kimia merupakan strategi utama pengendalian WBC. Bila pestisida kimia terpaksa dilakukan karena populasi WBC telah melampaui ambang kendali maka aplikasi harus dilakukan secara tepat guna yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat sasaran, tepat sasaran, tepat waktu dan tepat tempat.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KAJIAN MORFOMETRI WERENG COKLAT (NILAPARVATA LUGENS) DAN GULMA PADA EKOSISTEM PADI SAWAH DI KABUPATEN LANGKAT PROPINSI SUMATERA UTARA.

KAJIAN MORFOMETRI WERENG COKLAT (NILAPARVATA LUGENS) DAN GULMA PADA EKOSISTEM PADI SAWAH DI KABUPATEN LANGKAT PROPINSI SUMATERA UTARA.

Adapun yang menjadi ruang lingkup masalah dalam penelitian ini adalah morfometri wereng coklat (Nilaparvata lugens) serta indeks nilai penting (INP) gulma sebagai salah satu tumbuhan inang Nilaparvata lugens pada ekosistem padi sawah yang berada di Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara.

17 Baca lebih lajut

KEANEKARAGAMAN DAN BIOLOGI REPRODUKSI PARASITOID TELUR WERENG COKLAT Nillaparvata lugens STAL. (HOMOPTERA: DELPHACIDAE) PADA STRUKTUR LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

KEANEKARAGAMAN DAN BIOLOGI REPRODUKSI PARASITOID TELUR WERENG COKLAT Nillaparvata lugens STAL. (HOMOPTERA: DELPHACIDAE) PADA STRUKTUR LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

Dari delapan spesies parasitoid telur wereng batang coklat yang telah dikumpulkan, tiga spesies yaitu Anagrus sp, Gonatocerus spA, dan Olygosita sp. adalah spesies yang umum ditemukan pada lanskap Sungai Sapih dan Kayu Tanduk (kelimpahan relatif > 15%) (Gambar 1 dan 2). Hasil penelitian ini mirip dengan yang dilaporkan Maryana (1994) bahwa Anagrus sp dan Olygosita sp merupakan spesies yang dominan ditemukan memparasit telur wereng batang coklat pada pertanaman padi di Bogor dan Cianjur. Berdasarkan kelimpahan relatif masing-masing spesies yang telah dikoleksi Anagrus sp merupakan spesies parasitoid telur wereng batang coklat yang paling dominan pada lanskap Sungai Sapih dan Kayu Tanduk. Fenomena yang sama sebelumnya juga dilaporkan oleh Miura et al. (1979) di Taiwan dan Maryana (1994) di Jawa barat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 1100 documents...