Top PDF Agama dalam Perspektif Sosiologis

Agama dalam Perspektif Sosiologis

Agama dalam Perspektif Sosiologis

disatu sisi berfungsi sebagai pemersatu, dan di sisi lain agama sebagai pemecah belah, Kondisi masyarakat tipe ini disebabkan: Pertama, dalam masyarakat pra industri dan masyarakat yang sedang berkembang, dimana perangkat organisasi keagamaan dan struktur kekuatan politik bisa menimbulkan bentrok politik keagamaan dalam masyarakat. Benturan-benturan itu bisa dianggap sebagai usaha mempersatukan, karena benturan itu telah berfungsi menyatukan bersama masing-masing masyarakat. Kedua, timbulnya benturan- benturan yang meruncing antara kepentingan organisasi keagamaan dan organisasi politik, hal ini disebabkan masing-masing organisasi mempunyai cakupan wilayah masing-masing, struktur dan sikap dasar sendiri-sendiri. Sedangkan setiap organisasi menuntut kesetiaan anggotanya. Sehingga timbullah bentrokan diantara organisasi keagamaan dengan organiasasi pemerintahan. Sebagaimana kondisi dan peristiwa pada pilkada DKI Jakarta tahun 2017. kemudian organisasi memiliki bentuk dan obyek operasinya yang sama, sehingga menimbulkan benturan antara kedua porganiisasi tersebut. Secara umum, hal ini sering terjadi pada waktu pemilihan Presidien dan wakil Presiden, pemilihan Gubernur /Wakilnya dan Pemilihan Bupati/ wakilnya serta Pemilihan Wali Kota/Wakilnya.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PERSPEKTIF SOSIOLOGIS KONSEP KEBIJAKAN GERAKAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT ISLAMI (GERBANGSALAM) DI KABUPATEN PAMEKASAN (Jawaban Terhadap Wacana Pemisahan Agama dengan Politik)

PERSPEKTIF SOSIOLOGIS KONSEP KEBIJAKAN GERAKAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT ISLAMI (GERBANGSALAM) DI KABUPATEN PAMEKASAN (Jawaban Terhadap Wacana Pemisahan Agama dengan Politik)

menuju Allah melalui jalur ibadah, muamalah dan etika. 35 Dalam keseharian syariat sering dipahami sebagai ketentuan atau hukum yang berasal dari Tuhan sehingga perlu diaktualisasikan dalam kehidupan. Syariat selalu dipahami sebagai fikih yakni pemahaman atau ilmu tentang hukum Islam. Syariat dan fiqih merupakan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan dan saling berkaitan, 36 yaitu fokus kepada persoalan ibadah dan mu’amalah . Ibadah mengatur hubungan manusia dengan Tuhan-Nya seperti ketentuan shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan sebagainya. Sedangkan mu’amalah mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam lingkungannya. Oleh karena itu, tujuan syariat Islam adalah melindungi agama (hifz} al-di>n) , melindungi jiwa (hifz} al-nafs) , melindungi akal (hifz} al- ‘aql) , melindungi kehormatan (hifz} al-‘irdh) , melindungi harta (hifz} al-ma>l) 37 dan keseimbangan lingkungannya. 38 Dengan demikian Islam dalam perspektif syari’at adalah kaffah, karena Syariat Islam yang kaffah
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Perspektif Sosiologis Tentang Kekerasan terhadap Perempuan dalam Rumah Tangga

Perspektif Sosiologis Tentang Kekerasan terhadap Perempuan dalam Rumah Tangga

Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga adalah masalah keluarga yang sulit terekspos dirana publik, sebagai akibat dari adanya anggapan masyarakat bahwa masalah tersebut adalah suatu hal yang wajar dan dapat diselesaikan secara intern dalam suatu keluarga. Budaya Patriarki dan Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama dan kepercayaan serta Peniruan seorang anak laki-laki terhadap karakter ayahnya, adalah faktor-faktor dominan penyebab terjadi kekerasan tersebut. Oleh sebab itu, pendekatan-pendekatan secara idologis seperti kampanye untuk menghentikan pelbagai bentuk ketidak adilan gender serta mempelajari berbagai teknik oleh kaum perempuan dalam menghentikan kekerasan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN TEORI TENTANG GERAKAN KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS DAN MOTIVASI KEAGAMAAN

BAB II KAJIAN TEORI TENTANG GERAKAN KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS DAN MOTIVASI KEAGAMAAN

17 berkenaan dengan proses-proses adaptif. Pendekatan ini telah diterapkan untuk menunjukan berapa banyak ritual (seperti divinasi dan totemisme) yang ditemukan di dalam agama-agama dan orang-orang yang tuna aksara ternyata memiliki relevansi ekologis. Pendekatan ini juga dipakai untuk menjelaskan kepercayaan dan nilai-nilai di dalam beberapa agama besar, semisal perilaku ritual Hindu dan perlakuan terhadap lembu telah ditafsirkan sebagai sebuah perkembangan yang menguntungkan secara ekologis yang telah berkontribusi terhadap adaptasi dan keberlangsungan hidup masyarakat di India. Dalam hal inilah gerakan-gerakan keagamaan baru dapat menjadi cara dengan mana manusia bisa beradaptasi dengan lingkungan sosio kultural. Dari kelima fungsi di atas dapat dilihat bahwa semakin menurunnya fungsi agama dalam kehidupan setiap individu-individu maupun dalam kehidupan sosial masyarakat maka gerakan keagamaan hadir.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Paradigma dan Teori Ilmu Dakwah: Perspektif Sosiologis

Paradigma dan Teori Ilmu Dakwah: Perspektif Sosiologis

Menurut penulis, ilmu dakwah mempunyai paradigma atau pandangan mendasar dari para ahli di bidang ilmu dakwah dan juga memiliki teori dalam konteks prinsip-prinsip teoretik, yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan teori dakwah sebagai ilmu yang profetik. Ilmu dakwah bukan sekedar ilmu yang nomotetik atau menjelaskan gejala-gejala alam atau sosial berbasis pada pengukuran dan komputasi, dan bukan hanya ilmu yang idiografis menggambarkan realitas sosial apa adanya tanpa justifikasi untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Tetapi ilmu dakwah adalah ilmu yang profetik mengandung dimensi perubahan kepada kebaikan, baik dalam bidang moralitas, perbaikan kehidupan masyarakat, dan relasi sosial kemasyarakat yang ideal berbasis pada nilai-nilai agama yang diyakini kebenarannya.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERILAKU MENYIMPANG DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS suyato

PERILAKU MENYIMPANG DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS suyato

Tindakan korupsi bisa dijelaskan dengan logika t er sebut . Sebelum m elakukan, orang membandingkan ant ara keunt ungan dan kerugiannya. Kit a lihat, misalnya para pelayan public di dalm birokt asi. Sebagimana diket ahui, par a pelayan public dalam bir okrasi t idak dapat hidup ‘ layak’ dengan penghasilan yang pas-pasan. Keunt ungan dengan melakukan korupsi menjadi jelas, yait u menambah penghasilan. Bagaimana dengan kerugian? Di luar perspekt if agama, karena t he rule of law t idak efekt if , sehingga kerugian berupa dipenjara bisa dikesampingkan karena ket idakef ekt ifsn hukum, maka orang akan cenderung unt uk melakukan korupsi demi m enambah penghasilan mer eka.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Homoseksual dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Homoseksual dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Perkawinan dalam agama Hindu tidak menghendaki beda agama melainkan seagama dan juga tidak menghendaki perkawinan lawan jenis karena tidak akan menurunkan keturunan dan kebahagian. Bahkan ajaran agama Hindu tidak menganggap homoseksual atau LGBT sebagai kejahatan melainkan sebagai perbuatan dosa yang harus ditanggung oleh pribadi masing-msing. Dalam hal ini, Shri Sri Ravi Shankar menyatakan bahwa homoseksual tidak pernah dianggap sebagai kejahatan dalam ajaran agama Hindu. Akan tetapi agama Hindu tidak membenarkan perkawinan antara pria dengan pria [gay], wanita dengan wanita [lesbi]. Penyimpangan pelaku seks ini tidak diberikan hak untuk mendapatkan upacara perkawinan dengan puja mantra Veda. 22 Walhasil, bahwa ajaran agama Hindu tidak menerima perkawinan sesama jenis walaupun tidak dibahas secara rinci namun agama ini membahas tentang karma yang akan mereka dapatkan balasannya atas perbuatan yang dilakukan karena hal itu merupakan penyimpangan dari nilai-nilai moral.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Homoseksual dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Homoseksual dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Adapun solusinya, bagi homoseksual atau LBGT ini adalah kembali kepada agama yang diyakini karena Tuhan Yang Maha Esa akan mengampuni kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat. Sebab Tuhan yang menciptakan manusia itu sesuai dengan fitrahnya kalau manusia melanggar fitrah itu maka akan bertentangan dengan ajaran Tuhan yang telah disampaikan kepada utusannya. Di samping itu, semua agama melarang perbuatan homoseksual atau LGBT dan melarang melegalkan pernikahan sesama jenis. Kemudian masyarakat harus menerima dengan baik dan membimbingnya kejalan yang lebih baik dan jangan dikucilkan apalagi dibenci dan diusir. Bahkan keluarganya harus menjaga dan mencintainya. Dan pemerintah harus mengayomi dan membinanya dengan adil dan yang tidak sehat harus diobati karena pada hakikatnya mereka itu adalah sakit mental dan sakit spiritual.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Kerukunan dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Kerukunan dalam Perspektif Agama-Agama di Indonesia

Aqlania, Vol. 08, No. 02 (Juli-Desember) 2017 ISSN: 2087-8613 memunculkan ketidak toleransian dalam beragama. Dalam persoalan ini, wajar para tokoh agama dan intelektual menganggap bahwa kerukunan itu sudah usang dan membosankan hingga perlu diganti namanya bukan kerukunan umat beragama karena tidak dapat menyelesaikan persoalan hingga kini. Bahkan Nurcholish Madjid menyatakan bahwa ungkapan ³NHUXNXQDQ DJDPD´ WHUDVD VHSHUWL DJDN usang, boleh dikata, tiap hari orang membincangkannya, baik kalangan umum maupun para pejabat. Perbincangan tentang kerukunan agama hampir-hampir membosankan, bagaikan jalan yang banyak ditempuh. Begitu pula, Abd. Rohim Ghazali menegaskan bahwa tema klasik kerukunan antar umat beragama agaknya akan menjadi agenda nasional yang tak kunjung usai. Ini harus dipandang karan adanya disintegrasi yang menjadi momok bagi bangsa kita yang majemuk dan biasanya terpicu gara-gara kesalahpahaman antar umat beragama.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Konsep Keluarga Dan Perempuan Dalam Perspektif Jamaah Tabligh: Analisa Normatif-Sosiologis

Konsep Keluarga Dan Perempuan Dalam Perspektif Jamaah Tabligh: Analisa Normatif-Sosiologis

Dalam perspektif teori struktural fungsional, kasus tersebut akan menimbulkan goncangan hubungan suami-istri dalam sebuah rumah tangga. Namun kenyataan sepertinya menunjukkan hal yang berbeda, sejauh ini hubungan dalam rumah tangga anggota Jamaah Tabligh menunjukkan hal yang biasa, tanpa gejolak, bahkan sebaliknya. Struktur sosial dalam lembaga sosial bernama keluarga tidak terusik dengan timpangnya fungsi salah satu elemennya yang tidak berjalan semestinya. terlebih jika hal ini dikaitkan dengan konsep keluarga pada komunitas muslim tradisonal penganut doktrin Islam konvensional, Jamaah Tabligh yang memiliki slogan kembali pada tradisi atau Sunnah Rasulullah.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Makna keselamatan dalam perspektif agama-agama.

Makna keselamatan dalam perspektif agama-agama.

Ignatia Esti Sumarah memaparkan pemahaman tentang keselamatan dari perspektif agama Katolik sebagai kesejahteraan dalam arti yang sangat komprehensif. Artinya, orang sungguh mengalami keselamatan bila ia bebas dari penindasan, kecemasan dan ketakutan, serta menikmati kesehatan, kemakmuran, dan rasa aman. Pengalaman seperti ini sudah mulai terjadi sekarang dan di sini. Ini semua merupakan hasil dari kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus dalam seluruh hidup dan karya-Nya, yang memuncak pada kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian. Pengalaman keselamatan seperti ini terus-menerus dipupuk dan dikembangkan, antara lain, lewat perayaan- perayaan keagamaan. Menurut F.X. Dapiyanta, melalui perayaan- perayaan umat Katolik menempatkan diri dalam arus rahmat Allah yang tidak pernah berhenti. Akibatnya, perayaan keagamaan dimaknai sebagai penghayatan atau perwujudan karya keselamatan Allah, yang mendorong mereka yang merayakannya untuk hidup bersatu, sehati, dan saling memperhatikan kebutuhan satu sama lain. Selain itu, mereka juga akan berupaya untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian dalam segala situasi, serta mencari jalan untuk mengatasi salah satu bentuk kemiskinan yang masih merajalela dalam masyarakat kita.
Baca lebih lanjut

174 Baca lebih lajut

PERSPEKTIF SOSIOLOGIS DALAM PENANGGULANGAN BENCANA SOCIOLOGICAL PERSPECTIVES IN DISASTER MANAGEMENT

PERSPEKTIF SOSIOLOGIS DALAM PENANGGULANGAN BENCANA SOCIOLOGICAL PERSPECTIVES IN DISASTER MANAGEMENT

Dari aspek teknis (Bolt, et al., 1977; El- Sabh dan Murty, 1988) menitikberatkan pada geofisik bencana, antara lain aspek seismologi geomorfologi, volkanologi, hidrologi, bangunan, dan aspek teknis lainnya, serta mencari solusi teknis dalam menghadapi bencana dan dampaknya. Pendekatan studi pembangunan (Davis, 1978; Knott, 1987) mendiskusikan permasalahan distribusi bantuan dan relief ke negara dunia ketiga dan menitikberatkan pada manajemen pengungsi, pelayanan logistik, kesehatan, dan mengurangi kelaparan. Pendekatan medis dan epidemiologi (Beinin, 1985) menitikberatkan pada manajemen kecelakaan masal, termasuk perawatan trauma fisik dan psikis serta penyakit-penyakit lain yang terjadi setelah bencana. Pendekatan sosiologis (Drabek, 1986) mendiskusikan kerentanan dan dampak bencana pada pola perilaku manusia dan pengaruhnya atas fungsi struktur masyarakat dan organisasi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM (Ditinjau Dari Perspektif Yuridis Dan Sosiologis)

PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM (Ditinjau Dari Perspektif Yuridis Dan Sosiologis)

Dari variable diatas ada sisi sosiologis yang seringkali diabaikan oleh pem buat undang­undang yakninya kurang memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat disebabkan produk hukumnya bersifat represif yang me­ mentingkan golongan atas, kemudian dari sisi dimensi keadilanpun harus di­ kedepankan artinya makna fungsi sosial terjadi karena keseimbangan antara kepentingan umum dan kepentingan perorangan. Tegasnya hak­hak yang sah dari subyek hak atas tanah harus dilindungi dan dihargai. Di sisi lain, keikhlasan pemegang hak demi kepentingan masyarakat yang lebih luas juga sepantasnya dihargai oleh pemerintah/pemda dan panitia pengadaan tanah.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Fungsi Sosiologis Agama (Studi Profan dan Sakral Menurut Emile Durkheim)

Fungsi Sosiologis Agama (Studi Profan dan Sakral Menurut Emile Durkheim)

Tampaknya seluruh pemikiran dan pandangan Durkheim tentang agama terpusat pada klaimnya bahwa agama adalah ”sesuatu yang amat bersifat moral”. Ini berarti dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang paling berharga dari seluruh kehidupan sosial. Agama melayani masyarakat dengan menyediakan ide, ritual dan perasaan- perasaan yang akan menentukan seseorang dalam hidup bermasyarakat. Tentu saja pemikiran Durkhein memiliki kelemahan dan kelebihan, dan untuk mengetahuinya perlu dibandingkan dengan pemikiran yang dikemukakan E.B. Tylor, ditulis setengah abad sebelum teori Durkheim muncul dan berkembang. Posisi Tylor, lebih membicarakan agama masyarakat primitif dan Ia menganggap agama tersebut hanyalah buah pikiran dari ”filosofis liat” yang menemukan ide-ide tentang kekuatan supernatural seperti ”roh” dan ”dewa-dewa”. 26 Pandangan Durkheim juga berbeda dengan Freud, karena Freud lebih menelaah pentingnya keluarga dan masyarakat serta yang menjadi titik tekan dari pandangan Freud adalah ”kepribadian-kepribadian individu”. Jadi apabila dicermati pandangan Durkheim sangat berbeda dengan pemikir-pemikir yang lain. Apabila terdapat kesamaan, tentu kesamaannya sangat tipis sekali. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Durkheim dengan semua pandangannya tentang agama dan fakta sosialnya, bukan satu-satunya dan bukan pula orang pertama yang memperhatikan kekuatan sosial dalam kehidupan manusia. Tetapi yang perlu diperhatikan dan dicermati adalah adanya keunikan yang terdapat pada teori Durkheim yaitu terletak pada pemahamannya terhadap ”arti penting kekuatan sosial” dan penekanan serta sumbangan yang berikan Durkheim adalah ”sebuah perspektif sosiologi” yang dapat digunakan dan diterapkan dalam studi- studi sosial, antropologi, dan agama di masa datang.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Perspektif Sosiologi Agama

Perspektif Sosiologi Agama

Sosiologi agama menurut Hendropuspito (dalam Nur Syam. 2005:33) oleh para ahli disepakati disiplin ilmu yang membahas hubungan interaksional timbal balik masyarakat. Atau dengan kata lain, sosiologi agama mempelajari bagaimana realitas kehidupan masyarakat berpengaruh terhadap perubahan– perubahan ajaran agma. Jadi penafsiran atau interprestasi para ahli agama pada suatu ketika memberikan legitimasi bagi perubahan ajaran agama. Karena agama melibatkan interprestasi atau penafsiran penganutnya, maka tak jarang agama yang sama memiliki sekat – sekat membedakan pemahaman penganutnya. Studi tentang agama selalu berada dalam dua kawasan yang terpilah – pilah. Pertama, agama dalam kawasan teologi atau doktrin, yang berupa seperangkat ajaran yang bersifat tetap dan tak berubah. Kedua, agama dalam kawasan interprestasi. yaitu dimensi ajaran yang dupahami manusia sehingga akan terdapt perubahan (Nur Syam. 2005:34).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS POS BANTUAN HUKUM PRO JUSTISIA

DALAM MELAYANI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF

ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN

(Tinjauan Yuridis Sosiologis di Pengadilan Agama Blitar)

EFEKTIVITAS POS BANTUAN HUKUM PRO JUSTISIA DALAM MELAYANI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN (Tinjauan Yuridis Sosiologis di Pengadilan Agama Blitar)

Adanya kerja sama antara Yayasan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Pro Justisia dengan Pengadilan Agama Blitar seharusnya mampu meningkatkan efektivitas pelayanan kepada masyarakat. Melalui kerja sama tentu akan menghasilkan suatu nota kesepahaman antara kedua lembaga tersebut sehingga akan terbentuk norma-norma yang dijadikan pedoman dalam memberikan bantuan hukum yang efektif dan efisien kepada masyarakat. Efektivitas peran pos bantuan hukum tidak hanya terbatas pada sistemnya saja, tetapi juga kepada petugas dan praktisi hukum yang memberikan jasa layanan bantuan hukum. Mereka harus berintegritas, netral, dan tidak mempunyai konflik kepentingan apapun dalam memberikan bantuan hukum kepada seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan bantuan hukum agar terwujud asas peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Ketuhanan dalam perspektif Pancasila dan agama-agama di Indonesia

Ketuhanan dalam perspektif Pancasila dan agama-agama di Indonesia

Dengan berjejak nilai-nilai moralitas ketuhanan seperti yang dinyatakan dalam sila pertama Pancasila, segera terbentang misi profetik yang diemban oleh agama sipil, yang mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuanm konsensus secara bijaksana, serta keadilan sosial yang mengatasi tirani perseorangan atau golongan. Seruan sejarah atas revitalisasi peran positif agama dalam menyehatkan kehidupan politik menimbulkan gagasan liberalisme radikal yang menghendaki privatisasi agama yang bersifat kontra produktif. Hal tersebut yang terkadang tidak jarang membuat kehidupan publik hampa secara moral-spiritual, tetapi juga memberikan peluang bagi elemen-elemen revivalis untuk memdedahkan agama di ruang publik dalam ekspresinya yang bengis. Namun sebaliknya, seruan fundamentalisme keagamaan yang memperjuangkan penyatuan agama, negara yang bersifat ahistoris. Hal tersebut bukan saja dapat menimbulkan aneka represi serta
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Upaya Yuridis Dan Sosiologis Kantor Urusan Agama Dalam Pencegahan Pernikahan Usia Dini

Upaya Yuridis Dan Sosiologis Kantor Urusan Agama Dalam Pencegahan Pernikahan Usia Dini

Selanjutnya dalam Peraturan Menteri Agama No.11 tahun 2007 Tentang Pencatatan Nikah Bab IV pasal 8, “Apabila seorang calon suami belum mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan seorang calon isteri belum mencapai umur 16 (enambelas) tahun, harus mendapat dispensasi dari pengadilan”. Pasal-pasal tersebut diatas sangat jelas sekali hampir tak ada alternatif penafsiran, bahwa usia yang diperbolehkan menikah di

14 Baca lebih lajut

PROBLEMATIKA PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG (DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS)

PROBLEMATIKA PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG (DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS)

Pilkada langsung mengindikasikan belum memberikan hasil Kepala Daerah yang ideal, dalam hal ini ditengarai adanya beberapa Kepala Daerah yang tersandung kasus hukum korupsi. Hal yang demikian dapat terjadi karena proses demokrasi dalam pilkada diawali dengan tolak tarik kepentingan antara calon kepala daerah dengan partai politik pengusungnya pada satu sisi, dan antara calon kepala daerah dengan para pemilihnya pada sisi yang lain. Implikasi dari kondisi demikian menyebabkan biaya pilkada secara langsung cukup mahal. Dengan jumlah partai politik yang cukup besar dan belum adanya kesadaran para pemilih menentukan pilihan berdasar hati nurani tidak dapat dihindari dalam pilkada selalu memunculkan money politics (politik uang)/politik dagang sapi, kemudian akan memunculkan pemimpin berpikir aji mumpung. Kondisi demikian masih saja selalu terjadi dalam pesta demokrasi pemilihan kepala daerah secara langsung. Hal yang demikian akan ditelaah dari aspek sosiologis dengan memunculkan tiga permasalahan, yaitu: proliferasi partai politik, money poitics (politik uang)/politik dagang sapi dan sifat aji mumpung.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kemahiran Employability Dari Perspektif sosiologis suyato

Kemahiran Employability Dari Perspektif sosiologis suyato

Keputusan ujian t dinyatakan dalam jadual 4 menunjukkan terdapat perbezaan yang signifikan antara pelajar lelaki dan perempuan dengan tahap KE kemahiran komunikasi, kemahiran kepimpinan,[r]

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...