Top PDF AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BUAH PAPRIKA MERAH (Capsicum annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BUAH PAPRIKA MERAH (Capsicum annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA BUAH PAPRIKA MERAH (Capsicum annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul Aktivitas Antioksidan Pada Buah Paprika Merah (Capsicum annum) Dengan Metode DPPH Secara In Vitro. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang.

28 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH PAPRIKA KUNING (Capsicum Annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH PAPRIKA KUNING (Capsicum Annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

Radikal bebas merupakan salah satu bentuk senyawa oksigen reaktif yang memiliki elektron yang tidak berpasangan. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. Serangan radikal bebas terhadap molekul sekelilingnya akan menyebabkan kerusakan sel atau jaringan, penyakit autoimun, penyakit degeneratif, hingga kanker. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, menghambat atau mencegah terjadinya proses oksidasi lipid (membran) atau molekul lain dengan menghambat inisiasi atau propagasi dari serangkaian reaksi oksidasi oleh senyawa radikal bebas. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan alternative antioksidan alami adalah paprika kuning (Capsicum annum).Tanaman ini memiliki senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, vitamin C, dan β-karoten.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH PAPRIKA KUNING (Capsicum Annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH PAPRIKA KUNING (Capsicum Annum) DENGAN METODE DPPH SECARA IN VITRO

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah paprika kuning yang tumbuh di Agrowisata Batu.Waktu dan tempat penelitian dilaksanakan selama 3 bulan (April – Juni 2014) di Laboratorium Sintesa dan Laboratorium Kimia Terpadu II Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang.Alat-alat yang digunakan adalah evaporator, timbangan digital, pipet mikro, desikator, oven, spektrofotometer UV-Vis, kertas saring, alat- alat gelas lainnya. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah paprika kuning, pelarut etanol 96% teknis, aquades, methanol p.a, butanol teknis, HCl pekat teknis, potongan magnesium, NaCl teknis, FeCl 3 teknis, gelatin teknis, HCl 2N teknis, DPPH, dan vitamin C pharmaceutical grade.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

AKTIVITAS PENANGKAPAN RADIKAL 2,2 DIFENIL 1 PIKRILHIDRAZIL (DPPH) OLEH EKSTRAK METANOL PAPRIKA MERAH (Capsicum annuum, L.)

AKTIVITAS PENANGKAPAN RADIKAL 2,2 DIFENIL 1 PIKRILHIDRAZIL (DPPH) OLEH EKSTRAK METANOL PAPRIKA MERAH (Capsicum annuum, L.)

Paprika merah (Capsicum annum L.) banyak mengandung β–karoten (provitamin A), likopen, vitamin E serta vitamin C telah diuji aktivitasnya sebagai penangkap radikal 2,2–difenil–1–pikrilhidrazil (DPPH). Sampel diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan metanol. Ekstrak yang diperoleh dilakukan analisis aktivitas antioksidannya secara kualitatif dengan larutan DPPH 0,4 mM dan reagen ferri tiosianat. Identifikasi terhadap senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan dilakukan dengan spektrofotometer UV–Vis. Aktivitas penangkapan radikal DPPH oleh ekstrak metanol paprika merah ditetapkan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 517 nm. Dari hasil analisis diperoleh nilai IC 50 paprika merah sebesar 0,299 ± 4,98x10 -3 mg/mL. Aktivitas paprika
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SECARA IN VITRO

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SECARA IN VITRO

Serbuk simplisia halus ini yang kemudian nantinya akan dilakukan proses maserasi. Proses pembentukan simplisia halus kulit buah naga merah dapat dilihat pada Lampiran I.1 poin f sampai i. Serbuk simplisia halus kemudian dilakukan proses ekstraksi dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. Metode maserasi dipilih untuk menghindari kerusakan komponen senyawa yang tidak tahan terhadap spemanasan karena komponen aktif pada penelitian ini belum diketahui. Serbuk simplisia halus dimasukkan ke dalam stoples kaca dan ditambahkan pelarut etanol 96% sebanyak 846 ml dengan perbandingan 1 : 7,5. Perendaman dilakukan selama 3 hari dan dilakukan pengadukan 2 kali sehari. Proses maserasi dapat dilihat pada Lampiran I.1 poin j sampai m.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

6. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ANTOSIANIN BUAH DUWET (Syzygium cumini) SECARA IN VITRO

6. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ANTOSIANIN BUAH DUWET (Syzygium cumini) SECARA IN VITRO

Minuman model dibuat dari bufer sitrat (0,1 M; asam sitrat-natrium sitrat) pada pH 3 yang mengandung ekstrak antosianin buah duwet. Penambahan pigmen dilakukan sehingga diperoleh pembacaan nilai absorbans pada kisaran nilai ~0,6 (λvis-maks , 516 nm). Campuran didiamkan selama 60 menit pada suhu ruang untuk mencapai kesetimbangan dan disebut sebagai minuman model tanpa kopigmentasi (native). Selain itu, minuman model yang mengandung antosianin buah duwet juga ditambahkan kopigmen asam sinamat (asam sinapat, asam kafeat, asam ferulat) dan ekstrak polifenol rosemary, masing- masing dengan konsentrasi 1 mg/mL. Larutan campuran diaduk dan diinkubasi selama 60 menit pada suhu ruang agar terjadi reaksi dan disebut sebagai minuman terkopigmentasi intermolekular. Minuman model (tanpa kopigmentasi dan terkopigmentasi intermolekular) dianalisis kandungan total polifenol (metode folin-ciocalteau; Slinkard & Singleton 1977), total antosianin monomerik (metode perbedaan pH; Giusti & Wrolstad 2001), serta aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuan scavenging radikal DPPH (Chen et al. 2006). Total polifenol dinyatakan sebagai ekuivalen asam galat dan antosianin sebagai ekuivalen sianidin-3-glukosida. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai nilai kapasitas antioksidan AEAC, ascorbic acid equivalent antioxidant capacity, (μg AA/mL).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK PIGMEN KAROTENOID DAN SITRULIN PADA KULIT BUAH BLEWAH (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK PIGMEN KAROTENOID DAN SITRULIN PADA KULIT BUAH BLEWAH (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

Blewah merupakan buah dari keluargaCucurbitaceae, termasuk juga dengan beberapa spesies seperti semangka, melon, dan labu.Buah ini diidentifikasi sebagai makanan sehat karena tinggi karotenoid, yaitu β- karoten.Selain itu, blewah juga mengandung antioksidan lain, seperti lutein, zea-xantin, dan cryptoxanthin.Selain β-karoten, kelompok karotenoid lain yaitu likopen banyak dijumpai pada buah-buahan dan sayuran yang berwarna merah seperti pada wortel, papaya, tomat, dan semangka. Menurut Khonsarn et al. (2014),sebanyak 100 gram jenis cantaloupe mengandung 58,75 mg likopen, yang dapat terkandung dalam warna kemerahan blewah [4]. Likopen berkhasiat sebagai antioksidan yang dapat menangkal senyawa radikal bebas yang merusak sel-sel dalam tubuh.Kekuatan likopen sebagai penangkap radikal bebas adalah dua kali lipat dari β-karoten dan sepuluh kali lipat dari α-tokoferol [5].Struktur kimia likopen mengandung sebelas ikatan rangkap, likopen termasuk antioksidan yang kuat dan peredam radikal bebas. Selain sifat antioksidan, likopen telah dikemukakan untuk mengurangi kadar kolesterol dengan penekanan sintesis kolesterol, peningkatan degradasi LDL, dan penghambatan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SECARA IN VITRO DENGAN METODE DPPH PADA EKSTRAK ETANOL RIMPANG EMPON- EMPON DARI DAERAH JUMAPOLO KARANGANYAR JAWA TENGAH

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SECARA IN VITRO DENGAN METODE DPPH PADA EKSTRAK ETANOL RIMPANG EMPON- EMPON DARI DAERAH JUMAPOLO KARANGANYAR JAWA TENGAH

Jl Ir Sutami 36A, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 57126 * Untuk korespondensi:Telp. 082137723769, e-mail: : sriretnodwiariani@yahoo.co.id ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi empon-empon yang dihasilkan da- ri Desa Bakalan, Kecamatan Jumapolo Karanganyar Jawa Tengah sebagai bahan baku obat- obatan khususnya sebagai antioksidan. Empon-empon merupakan salah satu jenis komoditas pertanian dan perkebunan unggulan di daerah Jumapolo. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dan kajian pustaka. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, penyediaan sampel berupa rimpang kunir putih, temu kunci, lengkuas, temu mangga, temu ireng, jahe emprit, lempuyang emprit, temu glenyeh, dan temu lawak dari Desa Bakalan, Kecamatan Jumapolo Karanganyar Jawa Tengah, penyiapan sampel mulai dari sortasi, pencucian dan penghancuran sampel, ekstraksi sampel dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70% yang dilanjutkan dengan penguapan pelarut menggunakan rotary vacuum evaporator, pengeringan ekstrak dengan oven pada suhu 50 0 C selama 5 jam dan uji aktivitas
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanolik buah cabai rawit merah dengan metode DPPH  dan penetapan kadar kapsaisin secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)   densitometri

Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanolik buah cabai rawit merah dengan metode DPPH dan penetapan kadar kapsaisin secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) densitometri

Proses ekstraksi dilakukan selama sekitar 8 jam, sampai cairan dalam tabung yang berisi simplisia berwarna bening, yang menunjukkan bahwa senyawa telah terekstraksi. Hasil ekstraksi yang didapatkan berupa larutan berwarna merah. Larutan tersebut kemudian dibuat menjadi ekstrak kental. Pemekatan ekstrak dilakukan dengan menguapkan pelarut dalam ekstrak. Pengupan pelarut dilakukan dengan menggunakan Vacuum Rotary Evaporator pada suhu 60°C. Prinsip dari alat tersebut adalah penguapan dengan mengurangi tekanan udara sehingga akan menurunkan titik didihnya. Penurunan titik didih akan mepercepat penguapan etanol karena pelarut akan mendidih dibawah titik didih normal (78,5°C). Adanya rotary, yaitu pemutar labu alas bulat yang berisi ekstrak, akan memperluas luas permukaan ekstrak, sehingga proses penguapan akan menjadi lebih cepat.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI BUAH Areca vestiaria Giseke DAN FRAKSINYA DENGAN METODE DPPH

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BIJI BUAH Areca vestiaria Giseke DAN FRAKSINYA DENGAN METODE DPPH

Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat oksigen reaktif dan radikal bebas dalam tubuh dengan cara memberikan satu atau lebih elektron kepada radikal bebas sehingga menjadi molekul yang normal kembali dan menghentikan kerusakan yang ditimbulkan (Sasikumar, et al., 2009). Pada keadaan normal (saat istirahat) sistem pertahanan antioksidan di dalam tubuh dapat secara mudah mengatasi radikal bebas yang terbentuk (Capelli & Cysewski, 2006). Namun, ketika produksi radikal bebas melebihi kemampuan pertahanan antioksidan maka akan terjadi kerusakan oksidatif dan menyebabkan menurunnya imunitas terhadap penyakit dan cidera. Oleh sebab itu dibutuhkan asupan vitamin sebagai zat antioksidan tambahan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Uji aktivitas antioksidan bayam merah (alternanthera amoena voss.) segar dan rebus dengan metode DPPH

Uji aktivitas antioksidan bayam merah (alternanthera amoena voss.) segar dan rebus dengan metode DPPH

Radikal bebas merupakan atom atau molekul elektron yang tidak berpasangan sehingga mengakibatkan sifatnya sangat tidak stabil. 11 Hal ini karena radikal bebas mempunyai satu elektron atau lebih yang tidak berpasangan pada kulit luar. Elektron pada radikal bebas sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau asam deoksiribonukleat (DNA) sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi sel. Jika radikal bebas sudah terbentuk dalam tubuh, maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru. Reaksi ini dapat berakhir jika ada molekul yang memberikan elektron yang dibutuhkan oleh radikal bebas tersebut atau dua buah gugus radikal bebas membentuk ikatan non-radikal. 12
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Penentuan Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dengan Metode DPPH

Penentuan Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Dengan Metode DPPH

Salah satu uji aktivitas antioksidan dapat menggunakan metode DPPH. Metode ini sering digunakan karena bersifat sederhana, mudah, cepat, dan peka serta hanya memerlukan beberapa sampel.Metode penangkapan radikal DPPH didasarkan pada perubahan warna larutan radikal DPPH akibat pemberian senyawa yang bersifat sebagai antioksidan. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH akan menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH. Jika semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang. Perubahan warna ini akan teramati dalam bentuk penurunan absorbansiDPPH. Uji ini menghasilkan λmaksimal DPPH dengan spektrofotometer UV-VIS pada 520 nm.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah Daerah Pelaihari, Kalimantan Selatan Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah Daerah Pelaihari, Kalimantan Selatan Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

Antioksidan adalah zat penghambat reaksi oksidasi akibat radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan asam lemak tak jenuh, membran dinding sel, pembuluh darah, basa DNA, dan jaringan lipid sehingga menimbulkan penyakit (Widaystuti, 2010). Suatu tanaman dapat memiliki aktivitas antioksidan apabila mengandung senyawa yang mampu menangkal radikal bebas seperti antosianin yang terdapat pada buah naga. Tanaman buah naga berasal dari Amerika Tengah yang baru dikembangkan di Indonesia (Anonim, 2009; Cahyono, 2009). Buah naga berasal dari daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh kelembaban udara, suhu, keadaan tanah dan curah hujan (Kristanto, 2008). Jika tempat tumbuh buah naga tersebut berbeda, maka ada kemungkinan besar nutrisi didalamnya juga berbeda, seperti halnya kandungan tanah didaerah Jawa dengan Kalimantan. Diketahui struktur dan unsur hara kedua tempat tersebut sangat berbeda dan akan mempengaruhi kualitas pertumbuhan buah naga di Indonesia. Penelitian terkait manfaat buah naga sudah banyak dilakukan, khususnya didaerah Jawa. Namun untuk didaerah Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan belum banyak dilakukan. Terutama, jika melihat kesuburan tanah didaerah Kalimantan yang merupakan lahan Gambut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL BUAH NAGA MERAH

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL BUAH NAGA MERAH

Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH sesuai dengan penelitian Ping di Tahun 2011. Ekstrak dibagi menjadi 6 konsentrasi yaitu 500, 600, 700, 800, 900, dan 1.000 ppm. Sebanyak 1 ml ekstrak ditambahkan dengan 1 ml larutan DPPH 0,1 mM, kemudian diinkubasi selama 30 menit dalam suhu ruang (37°C). Vitamin C merupakan kontrol positif dan larutan metanol yang dicampur dengan DPPH sebanyak masing-masing 1 ml adalah kontrol negatif, serta aquadest sebagai blanko. Pengukuran absorbansi dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer UV- Vis pada panjang gelombang 517 nm.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAGING BUAH ASAM PAYA (Eleiodoxa conferta Burret) DENGAN METODE DPPH DAN TIOSIANAT

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAGING BUAH ASAM PAYA (Eleiodoxa conferta Burret) DENGAN METODE DPPH DAN TIOSIANAT

Asam paya merupakan sejenis palma dari famili Arecaceae yang memiliki rasa buah yang sangat asam. Secara tradisional, konsumsi daging buah asam paya dikenal dapat mengatasi sariawan yang mengandung senyawa antioksidan yang dapat menjaga kekebalan tubuh. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan maserasi daging buah asam paya menggunakan pelarut metanol dilanjutkan partisi dengan menggunakan kloroform dan n-heksana. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa pada daging buah asam paya. Selain itu uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dan metode tiosianat pada masing-masing fraksi. Uji fitokimia ekstrak kasar metanol buah asam paya mengandung flavonoid, fenol dan saponin, sedangkan fraksi metanol mengandung flavonoid dan saponin. Pada fraksi kloroform dan n-heksana tidak mengandung alkaloid, flavonoid, fenol, dan saponin. Aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak kasar metanol buah asam paya memiliki IC 50 sebesar 26,828 μg/mL dan fraksi metanol memiliki aktivitas antioksidan kuat yaitu
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Lactobacillus Rhamnosus FBB Secara in Vitro. Antioxidant Activity of Lactobacillus rhamnosus FBB in Vitro

Aktivitas Antioksidan Lactobacillus Rhamnosus FBB Secara in Vitro. Antioxidant Activity of Lactobacillus rhamnosus FBB in Vitro

Penelitian ini diuji aktivitas antioksidan primer pada berbagai strain L. rhamnosus FBB yang diisolasi dari feses bayi sehat yaitu L. rhamnosus FBB nomor 21, 26, 52, 59, 75, dan 81 dengan menggunakan metode penelitian peredaman radikal bebas DPPH dengan subjek penelitian yang diuji antara lain: supernatant, intact cell dan cell lysate. Pengujian yang dilakukan pada supernatant bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antioksidan dari hasil metabolit dari L.

7 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Buah Merah (Pandanus conoideus Lam.) dengan Metode FRAP

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Buah Merah (Pandanus conoideus Lam.) dengan Metode FRAP

Pada penelitian ini digunakan sampel buah merah. Sampel buah merah yang telah dipetik terlebih dahulu dilakukan sortasi basah dengan tujuan membersihkan kotoran yang menempel pada buah baik berupa debu, serangga ataupun kotoran lain, dengan tujuan agar sampel buah merah tersebut dapat bertahan lama pada saat penyimpanan (pengiriman). Kemudian sampel buah merah tersebut dirajang, dengan tujuan untuk memperbanyak luas permukaan sehingga memudahkan buah tersebut kering pada saat proses pengeringan. Proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air pada buah, sehingga dapat mencegah pembusukan oleh jamur ataupun bakteri. Sampel buah merah yang telah kering kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender, lalu ditimbang sebanyak 100 g dan diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 1 L. Maserasi dilakukan sebanyak tiga kali. Digunakan etanol 96% karena lebih terjangkau, kapang sulit tumbuh dalam etanol diatas 20%, tidak beracun, netral, absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan, memerlukan panas yang lebih sedikit pada proses pemekatan, dan zat pengganggu yang larut terbatas. 12 Hasil maserasi yang diperoleh kemudian disaring untuk
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK KULIT BUAH KIWI (Actinidia deliciosa) DENGAN METODE 1,1-DIFENIL-2-PIKRILHIDRAZIL (DPPH)

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK KULIT BUAH KIWI (Actinidia deliciosa) DENGAN METODE 1,1-DIFENIL-2-PIKRILHIDRAZIL (DPPH)

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang terkandung dalam kulit buah kiwi menggunakan metode DPPH. Sampel dipreparasi dengan cara melakukan maserasi 3 kali menggunakan etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan analisis secara kuantitatif dengan pereaksi DPPH 0,4mMol. Pengujian dilakukan pada vitamin C dan ekstrak etanol kulit buah kiwi tersebut menunjukkan adanya aktivitas antiradikal bebas DPPH.

24 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kloroform Buah Lakum (Cayratia Trifolia) Dengan Metode Dpph (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kloroform Buah Lakum (Cayratia Trifolia) Dengan Metode Dpph (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

kedua berwarna hijau dengan noda lebih besar. Pengamatan selanjutnya adalah dengan menggunakan sinar UV. Pengamatan UV dengan menggunakan panjang gelombang 366 nm akan menghasilkan noda bercak yang berpendar, dengan latar belakang yang gelap, sehingga spot yang dapat berpendar (berflourosensi) dapat terlihat secara visual. Hal tersebut disebabkan oleh adanya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom pada spot. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan hasil emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron tereksitasi dari tingkat dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi dan kemudian kembali semula sambil melepaskan energi. Hasil yang diamati menunjukkan warna merah muda pada kedua spot tersebut. Bercak disinari UV menghasilkan berflouresensi merah jambu, maka dapat diperkirakan senyawa tersebut adalah antosianin 5 . Berdasarkan pernyataan diatas diduga senyawa yang ada pada kedua bercak tersebut merupakan golongan flavonoid yaitu antosianin. Uji selanjutnya dilakukan dengan penyemprotan larutan DPPH 0,2%. Setelah disemprot dengan larutan DPPH 0,2%, uji aktivitas antioksidan secara kualitatif ini menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan terbentuknya warna kuning dengan latar ungu. Terbentuknya bercak kuning setelah penyemprotan DPPH 0,2 % disebabkan oleh adanya senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen di dalam ekstrak kloroform buah lakum, sehingga dapat mengakibatkan molekul DPPH tereduksi yang diikuti dengan menghilangnya warna ungu dari larutan DPPH. Struktur DPPH dan DPPH tereduksi hasil reaksi dengan antioksidan dapat dilihat pada gambar 2 berikut 9 .
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Kloroform Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Lemairei Britton Dan Rose) Menggunakan Metode Dpph (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil)

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Kloroform Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Lemairei Britton Dan Rose) Menggunakan Metode Dpph (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil)

Uji pendahuluan pada fraksi kloroform kulit buah naga merah sebagai penangkap radikal dilakukan sesuai metode Demirezer dkk, dengan sedikit modifikasi 11 . Uji pendahuluan diawali dengan mengaktifkan plat KLT pada oven dengan suhu 105°C selama 10 menit. Plat KLT selanjutnya ditotolkan fraksi kloroform dengan konsentrasi 1% sebanyak 5 μL menggunakan mikropipet 1 µL, pada jarak 0,5 cm dari batas bawah plat. Penotolan sampel dilakukan secara perlahan dengan volume yang ditotolkan sebanyak 1 μL sebanyak lima kali penotolan. Tiap-tiap penotolan, bercak dibiarkan hingga kering kemudian dielusi menggunakan fase gerak kloroform : metanol (1,9 : 0,1) sebanyak 2 mL. Jarak elusi 9 cm, setelah dikembangkan sampai batas pengembangan, elusi dihentikan, lalu lempeng diangin-anginkan sampai kering. Lempeng KLT kemudian diamati pada sinar tampak, sinar UV 366 nm, dan disemprotkan dengan larutan DPPH 0,2%. Bercak diperiksa 30 menit setelah penyemprotan. Senyawa aktif penangkap radikal bebas akan menunjukkan bercak berwarna kuning pucat dengan latar belakang ungu.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...