Top PDF AKTIVITAS ENZIM KATEPSIN DAN KOLAGENASE PADA KULIT IKAN BANDENG (Chanos chanos, Forskal) SELAMA PERIODE KEMUNDURAN MUTU

AKTIVITAS ENZIM KATEPSIN DAN KOLAGENASE PADA KULIT IKAN BANDENG (Chanos chanos, Forskal) SELAMA PERIODE KEMUNDURAN MUTU

AKTIVITAS ENZIM KATEPSIN DAN KOLAGENASE PADA KULIT IKAN BANDENG (Chanos chanos, Forskal) SELAMA PERIODE KEMUNDURAN MUTU

Kulit ikan bandeng merupakan salah satu bagian pada ikan bandeng yang banyak dimanfaatkan selain dagingnya. Kulit ikan bandeng bisa didapat dari pengolahan ikan bandeng yang memisahkan kulit dengan dagingnya. Kulit ikan memiliki unsur utama protein kolagen yang banyak digunakan untuk bahan baku kulit olahan serta bahan perekat (Adawyah 2007; Huo dan Zhao 2009). Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku kulit olahan, perkembangan saat ini juga menunjukkan bahwa kulit ikan diketahui mengandung enzim-enzim seperti kolagenase yang dapat dimanfaatkan pada industri untuk memisahkan kulit ikan dengan daging (Shahidi dan Kamil 2001). Kulit ikan sebagaimana ikan secara keseluruhan merupakan bahan yang cepat mengalami kemunduran mutu. Kemunduran mutu yang terjadi pada ikan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang mengakibatkan cepatnya kemunduran mutu ikan, seperti spesies, jenis kelamin, kondisi biokimiawi ikan, dan faktor eksternal, seperti kondisi penanganan, cara kematian, suhu penyimpanan, pengemasan, dan faktor-faktor lainnya (Hastuti et al. 1997). Salah satu hal yang menyebabkan cepatnya kemunduran mutu ikan adalah enzim-enzim proteolitik yang mendegradasi jaringan pada tubuh ikan setelah mati (Delbarre-Ladrat et
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Kolagenase adalah enzim yang dapat menghidrolisa kolagen, yaitu protein yang berbentuk serabut, terdapat hanya pada hewan, misalnya otot achilles dan pada kulit. Aktivitas kolagenase pada post mortem ikan menyebabkan kerusakan tekstur daging ikan, yaitu terpisahnya jaringan ikat daging ikan (gaping). Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pada ikan bandeng (Chanos chanos, Forskal) terdapat aktivitas kolagenase pada fase post rigor. Namun letak kolagenase di dalam organ dalam, aktivitas serta sifat-sifat katalitiknya belum diketahui. Hal ini diperlukan untuk mempelajari kemunduran mutu ikan bandeng. Selain itu, sebagai produk bioteknologi, kolagenase dapat digunakan sebagai alternatif sumber enzim baru, sebab sumber-sumber enzim baru masih diperlukan. Dalam penelitian ini dilakukan purifikasi dan karakterisasi kolagenase dari organ dalam ikan bandeng.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

PURIFIKASI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal) DAN IKAN PATIN (Pangasius sp.

PURIFIKASI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal) DAN IKAN PATIN (Pangasius sp.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sumber inhibitor katepsin dari bagian ikan bandeng dan ikan patin, yaitu kulit, daging, dan organ dalam, serta untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai metode purifikasi dan karakteristik inhibitor katepsin alami dari ikan. Hasil penelitian ini kedepannya dapat dimanfaatkan sesuai dengan sifat dan karakteristiknya tersebut baik untuk bidang kesehatan maupun untuk mencegah proses kemunduran pada daging ikan dan produk berbasis surimi. Untuk memperoleh inhibitor katepsin yang mempunyai aktivitas yang tinggi, perlu dilakukan proses purifikasi dan karakterisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan purifikasi dan karakterisasi adalah pemilihan sumber inhibitor katepsin, penggunaan substrat enzim dan pemilihan metode yang tepat pada setiap tahapan purifikasi seperti pemilihan metode ekstraksi, pemilihan presipitan pada tahap presipitasi, pemilihan jenis kantong dialisis dan pemilihan jenis gel kromatografi.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp)

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp)

Proses penurunan mutu ikan segar terutama diawali dengan proses perombakan oleh aktivitas enzim yang secara alami terdapat di dalam ikan. Salah satu jenis enzim yang berperan penting dalam proses kemunduran mutu ikan adalah enzim-enzim pengurai protein seperti katepsin, calpain dan kolagenase. Enzim proteolitik ini dapat menyebabkan timbulnya akumulasi metabolit, perubahan citarasa, dan pelunakan tekstur, terbentuknya komponen volatil serta peningkatan jumlah bakteri yang akhirnya menimbulkan kebusukan. Katepsin merupakan kelompok dari sistein proteinase diantaranya katepsin B dan L yang dapat menyebabkan terjadinya pelunakan daging (softening) pada ikan. Interaksi antara sistein protease dan inhibitornya telah menjadi tujuan beberapa penelitian pada dua dekade ini. Inhibitor spesifik dari sistein protease yang berupa molekul protein, sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya proteolisis yang destruktif. Inhibitor protease pada ikan diperkirakan dapat melakukan perlindungan dari mikrooganisme, proses embriogenesis pada regulasi pertumbuhan awal embrio. Saat ini terdapat permintaan yang kuat terhadap protease inhibitor alami yang dapat digunakan untuk mencegah proses kemunduran pada daging ikan dan produk berbasis surimi. Beberapa inhibitor protease telah dicoba ditambahkan ke dalam daging ikan untuk menjelaskan peranan enzim pada proses pelunakan daging saat post mortem.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp.)

Purifikasi dan Karakterisasi Inhibitor Katepsin dari Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal) dan Ikan Patin (Pangasius sp.)

Proses penurunan mutu ikan segar terutama diawali dengan proses perombakan oleh aktivitas enzim yang secara alami terdapat di dalam ikan. Salah satu jenis enzim yang berperan penting dalam proses kemunduran mutu ikan adalah enzim-enzim pengurai protein seperti katepsin, calpain dan kolagenase. Enzim proteolitik ini dapat menyebabkan timbulnya akumulasi metabolit, perubahan citarasa, dan pelunakan tekstur, terbentuknya komponen volatil serta peningkatan jumlah bakteri yang akhirnya menimbulkan kebusukan. Katepsin merupakan kelompok dari sistein proteinase diantaranya katepsin B dan L yang dapat menyebabkan terjadinya pelunakan daging (softening) pada ikan. Interaksi antara sistein protease dan inhibitornya telah menjadi tujuan beberapa penelitian pada dua dekade ini. Inhibitor spesifik dari sistein protease yang berupa molekul protein, sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya proteolisis yang destruktif. Inhibitor protease pada ikan diperkirakan dapat melakukan perlindungan dari mikrooganisme, proses embriogenesis pada regulasi pertumbuhan awal embrio. Saat ini terdapat permintaan yang kuat terhadap protease inhibitor alami yang dapat digunakan untuk mencegah proses kemunduran pada daging ikan dan produk berbasis surimi. Beberapa inhibitor protease telah dicoba ditambahkan ke dalam daging ikan untuk menjelaskan peranan enzim pada proses pelunakan daging saat post mortem.
Baca lebih lanjut

156 Baca lebih lajut

Pemurnian dan karakterisasi enzim katepsin dari ikan bandeng (Chanos chanos Forskall)

Pemurnian dan karakterisasi enzim katepsin dari ikan bandeng (Chanos chanos Forskall)

Ikan merupakan salah satu komoditas yang cepat mengalami kemunduran mutu. Kemunduruan mutu ini diakibatkan oleh adanya aktivitas bakteri dan kerja dari enzim proteolitik. Enzim ini bekerja menghidrolisis ikatan peptida pada protein. Salah satunya ialah enzim katepsin. Enzim katepsin dipercaya berperan dalam proses pelunakan daging pada ikan selama proses kemunduran mutu. Karakterisasi enzim katepsin perlu dilakukan untuk melihat faktor lingkungan apa saja yang berpengaruh terhadap aktivitas enzim katepsin, selain itu juga dengan mengkarakterisasi akan diperoleh informasi kondisi optimum enzim katepsin bekerja sehingga pada rantai penanganan ikan dapat dihindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan kerja enzim katepsin.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Kulit Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Kulit Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Fase rigormortis (Gambar 8) adalah fase yang terjadi ketika ikan mengalami kekakuan (kekejangan). Morkore (2006) menyatakan bahwa pada fase ini terjadi akumulasi asam laktat yang menyebabkan terjadinya penurunan pH serta mulainya proses autolisis atau penghancuran diri sendiri akibat aktivitas enzim. Hasil pengamatan sajian histologi kulit ikan bandeng pada fase rigormortis menunjukkan warna merah yang lebih pekat dibandingkan dengan fase prerigor. Hal ini diduga disebabkan jaringan ikan menyerap pewarna eosin secara dominan karena jaringan bersifat asam. Cormack (1994) menyatakan bahwa kedalaman warna asidofil sangat tergantung pada pH yang dipakai selama pewarnaan. Pada pH asam tersedia lebih banyak ion bermuatan positif untuk menyerap eosin.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Purifikasi dan Karakterisasi Kolagenase dari Organ Dalam Ikan Bandeng (Chanos chanos, Forskal)

Kolagenase adalah enzim yang dapat menghidrolisa kolagen, yaitu protein yang berbentuk serabut, terdapat hanya pada hewan, misalnya otot achilles dan pada kulit. Aktivitas kolagenase pada post mortem ikan menyebabkan kerusakan tekstur daging ikan, yaitu terpisahnya jaringan ikat daging ikan (gaping). Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pada ikan bandeng (Chanos chanos, Forskal) terdapat aktivitas kolagenase pada fase post rigor. Namun letak kolagenase di dalam organ dalam, aktivitas serta sifat-sifat katalitiknya belum diketahui. Hal ini diperlukan untuk mempelajari kemunduran mutu ikan bandeng. Selain itu, sebagai produk bioteknologi, kolagenase dapat digunakan sebagai alternatif sumber enzim baru, sebab sumber-sumber enzim baru masih diperlukan. Dalam penelitian ini dilakukan purifikasi dan karakterisasi kolagenase dari organ dalam ikan bandeng.
Baca lebih lanjut

162 Baca lebih lajut

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

Aktivitas inhibitor alami di dalam tubuh ikan diduga dipengaruhi oleh jenis makanan yang dimakan ikan tersebut. Ikan pemakan tumbuhan dan hewan (omnivora) diduga memiliki aktivitas inhibitor enzim proteolitik yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan pemakan tumbuhan (herbivora). Ikan patin adalah komoditi yang termasuk ke dalam kelompok ikan omnivora. Inhibitor katepsin yang berasal dari ikan patin diduga memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan ikan bandeng yang termasuk tergolong ikan. Aktivitas inhibitor katepsin alami dari ikan patin yang tinggi diharapkan berpotensi untuk menghambat kemunduran mutu ikan bandeng. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh inhibitor katepsin dari ikan patin dengan suhu ekstraksi yang tepat, serta mengaplikasikan inhibitor katepsin ikan patin dengan konsentrasi yang efektif guna menghambat kemunduran mutu ikan bandeng yang disimpan pada suhu chilling (0-4 ºC).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

PERANAN INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) UNTUK MENGHAMBAT KEMUNDURAN MUTU IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

Hasil penelitian Zaenuri (2010) menunjukkan bahwa inhibitor katepsin dari ikan bandeng (aktivitas inhibisi 80,50%) mampu menghambat kemunduran mutu ikan bandeng pada penyimpanan suhu chilling (0-4 ºC) sampai dengan 624 jam (26 hari). Hasil ini lebih lama 48 jam (2 hari) dibandingkan dengan ikan bandeng yang direndam dengan inhibitor katepsin dari ikan patin (aktivitas inhibisi 85,29%), diduga karena inhibitor katepsin dari ikan patin mengandung pigmen daging (mioglobin) dan hemoglobin yang lebih banyak dibandingkan inhibitor dari ikan bandeng. Proses kemunduran mutu ikan diantaranya disebabkan karena adanya aktivitas enzim, mikroba, dan oksidasi. Mioglobin dan hemoglobin yang masih terdapat pada larutan inhibitor ini diduga dapat mempercepat proses kemunduran mutu ikan melalui proses oksidasi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Gracilaria sp. terhadap Mutu Sosis Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Pengaruh Penambahan Gracilaria sp. terhadap Mutu Sosis Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Gracilaria sp. secara umum diekstrak menjadi agar sebelum dimanfaatkan menjadi berbagai produk olahan, salah satunya ditambahkan sebagai bahan penstabil dan pengemulsi pada pembuatan sosis ikan. Daging ikan memiliki kekuatan gel yang cukup rendah, karena protein myofibril yang mudah larut dalam larutan garam saat proses pembuatan. Penambahan agar meningkatkan daya ikat air sehingga tekstur sosis ikan menjadi lebih kompak (Kharisma et al., 2016). Sosis ikan mengandung protein tinggi yang dapat bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Sosis ikan dapat dikombinasikan dengan sumber gizi lain untuk meningkatkan nilai gizinya, salah satunya adalah upaya peningkatan zat besi untuk mengatasi stunting dan anemia defisiensi besi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI DAN PENGGUNAAN GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal) SEBAGAI EMULGATOR DALAM FORMULASI SEDIAAN EMULSI

EKSTRAKSI DAN PENGGUNAAN GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal) SEBAGAI EMULGATOR DALAM FORMULASI SEDIAAN EMULSI

Permasalahan yang timbul adalah apakah gelatin dari limbah tulang ikan bandeng tersebut mempunyai efektifitas sebagai emulgator dalam formulasi sediaan emulsi yang stabil. Berkaitan dengan hal tesebut, maka telah dilakukan pene- litian untuk penentuan konsentrasi dan efektivitas gelatin dari limbah tulang ikan bandeng sebagai emulgator dalam formulasi sediaan emulsi dengan tujuan identifikasi gelatin secara kualitatif dan kuantitatif pada penggunaannya sebagai emul- gator dalam sediaan formulasi sebagai emulsi.

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Jarak, Suhu, Lama Pengasapan Terhadap Kemunduran Mutu Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forks) Asap Selama Penyimpanan Suhu Ruang

Pengaruh Jarak, Suhu, Lama Pengasapan Terhadap Kemunduran Mutu Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forks) Asap Selama Penyimpanan Suhu Ruang

Kadar air dalam ikan erat sekali hubungannya dengan kemampuan mikroorganisme untuk hidup dan berkembangbiak, maka perlu diamati kadar air ikan bandeng asap. Berbagai faktor proses pengasapan berpengaruh terhadap banyaknya asap yang kontak dengan ikan sehingga berpengaruh pula terhadap panas yang diberikan dan banyaknya air yang hilang dari ikan. Menurut Damongilala (2009), suhu dan lama pengasapan memiliki peranan penting dalam penurunan kadar air produk. Kadar air ikan bandeng Kedua kombinasi mengalami peningkatan selama penyimpanan, yang masih berada di bawah batas maksimal SNI (60%) pada K 1 hanya H0: 56,91±0,57, pada K 2 sampai H2: 59,60±0,12. Lama penyimpanan ikan bandeng
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Jeroan (Usus, Hati,Ginjal) Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Analisis Deskriptif Kemunduran Mutu Jeroan (Usus, Hati,Ginjal) Ikan Bandeng (Chanos chanos) selama Penyimpanan Suhu Chilling melalui Pengamatan Histologis

Fase prerigor ditunjukkan dengan nilai organoleptik 9 dengan ciri-ciri susunan organ-organ jeroan masih teratur, kompak, cemerlang, amis segar, selaput hitam mengkilat, lekat erat, dinding perut berwarna merah muda cemerlang. Fase rigormortis jeroan ikan bandeng dengan nilai organoleptik 7-8. Pada kondisi ini susunan jeroan masih teratur, belum ada kerusakan yang berarti namun mulai mengalami penurunan mutu seperti mulai munculnya lendir. Fase postrigor ditunjukkan dengan nilai organoleptik 5 dengan ciri-ciri susunan jeroan sudah tidak teratur, dinding lembek dan terjadi perubahan warna menjadi pucat. Fase busuk ditunjukkan dengan nilai organoleptik 3. Pada fase ini susunan organ berantakan, dinding perut lembek dan mudah rusak, bau amis sangat kuat, serta warna yang pucat. Pada penelitian ini diperoleh bahwa sampel jeroan yang disimpan pada suhu chilling masih layak digunakan sampai penyimpanan 17 hari (396 jam). Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Wibowo dan Yunizal (1998), yang menyatakan bahwa ikan bandeng utuh yang disimpan dalam es pada kondisi kenyang mampu bertahan selama 11 hari.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

IMPLANTASI VITAMIN E UNTUK MEMACU PEMATANGAN GONAD INDUK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

IMPLANTASI VITAMIN E UNTUK MEMACU PEMATANGAN GONAD INDUK IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskal)

Hasil pengamatan implan vitamin E dosis lb0 pg terhadap perkembangan sel telur maupun sperma diketahui mulai berkembang satu bulan setelah implantasi yaitu betina dengan[r]

8 Baca lebih lajut

Isolasi Bakteri Probiotik Resisten Merkuri (Hg) Asal Usus Ikan Bandeng Chanos chanos Forskal

Isolasi Bakteri Probiotik Resisten Merkuri (Hg) Asal Usus Ikan Bandeng Chanos chanos Forskal

beberapa isolat karena diduga merkuri bersifat toksik bagi sel bakteri tersebut sehingga membunuh sel bakteri sedangkan isolat lain yang tumbuh pada medium MRSB yang mengan[r]

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects