Top PDF ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

NIM : 201120390211013 Program Studi : MAGISTER AGRIBISNIS Dengan ini menyatakan dengan sebenar benarnya bahwa : 1. Tesis dengan judul ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI adalah hasil karya saya, dan dalam naskah tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi dan terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, baik sebagian ataupun keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebut dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

NIM : 201120390211013 Program Studi : MAGISTER AGRIBISNIS Dengan ini menyatakan dengan sebenar benarnya bahwa : 1. Tesis dengan judul ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI adalah hasil karya saya, dan dalam naskah tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik disuatu perguruan tinggi dan terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, baik sebagian ataupun keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebut dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI

Peran kebijakan pemerintah dalam hal perdagangan sangat mempengaruhi dinamika perkembangan komoditas bawang merah lokal di tengah kondisi perdagangan bebas dan persaingan dengan bawang merah impor. Pada tahun 2005, Indonesia melakukan Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk dengan menerapkan tarif yang relatif tinggi untuk beberapa produk pertanian termasuk hortikultura yaitu sebesar 10-40 persen. Program tersebut dikenakan atas barang impor yang masuk ke Indonesia dari negara lain, kecuali negara yang memiliki perjanjian khusus dengan Indonesia seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN China Free Trade Area (AC-TFA), dan ASEAN Korea Free Trade Area (AK-TFA). Keputusan pemerintah tentang harmonisasi tarif diterbitkan dalam Permenkeu Nomor 591/PMK.010/2004 tanggal 21 Desember 2004. Tarif impor yang dikenakan untuk bawang merah konsumsi adalah sebesar 25 persen pada tahun 2005-2010. Berdasarkan Permenkeu Nomor 90/PMK.011/2011 tarif impor tersebut turun menjadi sebesar 20 persen mulai tahun 2011 (Kementerian Keuangan, 2012). Tarif impor bawang merah yang berasal dari negara anggota ASEAN dan China pada tahun 2006 telah dihapuskan atau nol persen. Keputusan tersebut tertulis dalam Permenkeu Nomor 28/PMK.010/2005 serta Kepmenkeu Nomor 355/KMK.01/2004 dan 356/KMK.01/2004. Kemudian pemerintah menanggapi adanya AK- TFA dengan menerbitkan Permenkeu Nomor 236/PMK.011/2008 tanggal 23 Desember 2008. Peraturan tersebut mengemukakan bahwa tarif impor bawang merah dari Korea tahun 2009- 2011 adalah sebesar lima persen dan akan turun menjadi nol persen pada tahun 2012 (Kementerian Keuangan, 2012). Peraturan tersebut menunjukkan adanya penurunan tarif impor terhadap bawang merah dirnana hal ini diduga akan semakin mengurangi daya saing bawang merah lokal. Untuk menganalisis dampak kebijakan pemerintah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai daya saing bawang merah di salah satu lokasi pengembangan komoditas bawang merah di Indonesia, yaitu Kabupaten Kediri yang terletak di Provinsi Jawa Timur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Kediri

Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Kediri

The aim of this research is to analyze the level of competitiveness of local commodities red onion for onions imported. This research uses analysis of price parity analysis and sensitivity analysis. This research use purposive sampling to determine respondents, ie commodity marketing agencies red onion imports in Kediri, among others, wholesalers and importers red onion imports. The result of this research is the analysis of price parity of local red onion commodities uncompetitive against imported red onion commodities. This is proven by the results of the calculation which price parity analysis shows that the local red onion prices (Rp.7418.75/ kg) is higher than the price of red onion imports (Rp. 3309.98/kg) so we will get the value of the price parity of 0,446. While the result of the sensitivity analysis shows that the local red onion commodity price are competitive when event of any change (increase) in price of imported red onion commodities and policy import tax of 250%, a change of 200% on the change in the rupiah against the dollar, while the change in the cost of the transportation did not give effect to the competitiveness of local red onion.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI COMPETITIVENESS ANALYSIS OF RED ONION IN KEDIRI REGENCY

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS BAWANG MERAH DI KABUPATEN KEDIRI COMPETITIVENESS ANALYSIS OF RED ONION IN KEDIRI REGENCY

The aim of this research is to analyze the level of competitiveness of local commodities red onion for onions imported. This research uses analysis of price parity analysis and sensitivity analysis. This research use purposive sampling to determine respondents, ie commodity marketing agencies red onion imports in Kediri, among others, wholesalers and importers red onion imports. The result of this research is the analysis of price parity of local red onion commodities uncompetitive against imported red onion commodities. This is proven by the results of the calculation which price parity analysis shows that the local red onion prices (Rp.7418.75/ kg) is higher than the price of red onion imports (Rp. 3309.98/kg) so we will get the value of the price parity of 0,446. While the result of the sensitivity analysis shows that the local red onion commodity price are competitive when event of any change (increase) in price of imported red onion commodities and policy import tax of 250%, a change of 200% on the change in the rupiah against the dollar, while the change in the cost of the transportation did not give effect to the competitiveness of local red onion.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Komunikasi Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Majalengka

Komunikasi Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Komoditas Bawang Merah di Kabupaten Majalengka

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai PCR kurang dari satu menunjukkan komoditas tersebut memiliki keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif terbesar dicapai pada musim hujan, jika dibandingkan dengan kedua musim lainnya di musim hujan harga bawang merah lebih tinggi yaitu sebesar Rp 15 454.55/kg. Sementara itu, pada musim kemarau I dan II masing-masing sebesar Rp 14 812.50/kg dan Rp 10 690.91/kg. Hal tersebut bebeda dengan hasil analisis Rachman et al. (2004) menyatakan usahatani bawang merah di Kabupaten Majalengka pada musim kemarau II lebih berdayasaing ditunjukkan dengan nilai PCR yang lebih kecil dari 1 yaitu sebesar 0.31. Pendekatan untuk mengukur dayasaing suatu komoditas selain keunggulan kompetitif adalah keunggulan komparatif. Secara keseluruhan nilai DRCR besar dari satu artinya komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif baik pada musim hujan, musim kemarau I maupun musim kamarau II, artinya usahatani bawang merah tersebut tidak efisien dalam penggunaan sumber daya domestik.Dengan kata lain, memproduksi bawang merah di Kabupaten Majalengka lebih mahal daripada mengimpor bawang merah dari luar negeri. Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Fatori (2015) juga menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di Kabupaten Tegal, Cirebon dan Brebes juga tidak memiliki keunggulan komparatif karena memiliki nilai DRCR lebih besar dari 1. Hal ini menunjukkan bahwa petani bawang merah di ketiga lokasi tersebut tidak efisien dalam menggunakan sumber daya domestik. Sementara itu, hasil analisis Rachman et al.(2004) melaporkan bahwa di Kabupaten Majalengka pada musim kemarau I dan musim kemarau II justru memiliki keunggulan komparatif dengan nilai DRCR masing-masing sebesar 0.71 dan 0.54. Dari kajian yang sama dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa usahatani bawang merah di Kabupaten Brebes memiliki keunggulan komparatif (Saptana et al. 2001; Purmiyati 2002).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Komoditas Kelapa di Kabupaten Flores Timur

Penelitian ini bertujuan menganalisis divergensi dan dampak kebijakan (distorsi pasar) pada input dan output dari komoditas kelapa di Kabupaten Flores Timur. Metode analisis data penelitian menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan (1) Dampak dari instrumen kebijakan pemerintah dalam subsidi input saat ini memberikan perlindungan terhadap input domestik. Kondisi ini mengakibatkan petani di Kabupaten Flores Timur sebagai produsen kelapa tidak dapat memperoleh input domestik lebih murah daripada harga sosialnya (biaya domestik tinggi), sementara keuntungan diperoleh produsen input domestik. (2) Dampak dari instrumen kebijakan pemerintah dalam harga dan mekanisme pasar output kelapa saat ini telah memberi perlindungan terhadap pembentukan harga kelapa, sehingga pendapatan yang diterima petani lebih tinggi daripada harga sosial yang seharusnya. (3) Dampak dari instrumen kebijakan pemerintah dan mekanisme pasar input- output yang berlaku saat ini kurang memberi rangsangan (disinsentif) terhadap petani produsen kelapa di Kabupaten Flores Timur, sehingga nilai tambah atau keuntungan yang diperoleh petani lebih rendah daripada keuntungan sosial yang seharusnya diterima petani.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Dayasaing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Bawang Merah Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat

Analisis Dayasaing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Bawang Merah Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat

Beberapa penggunaan input yang belum tepat ini terjadi pada penggunaan sarana produksi pertanian, seperti penggunaan benih, pupuk dan obat-obatan. Benih merupakan salah satu input produksi yang sangat penting di dalam usahatani bawang merah. Salah satu faktor utama yang dapat menentukan keberhasilan usahatani bawang merah ini adalah ketersediaan benih bermutu yang menjadi langkah awal untuk meningkatkan produksi. Tetapi petani bawang merah pada lokasi penelitian ini sebagian besar menggunakan benih yang dibeli di pasar yang pada umumnya berasal dari varietas jawa dan Brebes atau berasal dari hasil panen sebelumnya dengan cara menyimpan hasil panen tersebut selama 2 sampai 3 bulan. Penggunaan umbi bibit hasil panen sebelumnya menurut Triharyanto et al (2012) banyak kelemahan, karena kualitasnya semakin menurun di antaranya karena infeksi virus. Apalagi tanaman bawang merah umumnya dibudidayakan secara vegetatif sehingga penyebaran virus selalu berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya (Lot et al 1998; Dovas et al 2001). Virus yang umumnya menyerang tanaman bawang merah ada tiga macam yaitu onion yellow dwarf virus (OYDV), leek yellow stripe virus (LYSV) dan shallot latent virus (SLV) (Dovas et al 2001; Shiboleth et al 2001; Pappu et al 2005). Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gunaeni et al (2011) yang melaporkan bahwa varietas bawang merah asal Jawa Barat dan Jawa Tengah terinfeksi virus OYDV dan LYSV. Hal ini disebabkan belum ada atau belum dilakukannya program sertifikasi benih untuk bawang merah, sehingga kebutuhan benih bawang merah yang berkualitas tinggi lebih banyak didatangkan dari impor. Lebih lanjut Purmiyati (2002) menyatakan bahwa untuk menunjang produksi dari segi penggunaan bibit, maka petani bawang merah dapat mengoptimalkan jarak tanam di lahan. Sedangkan Triharyanto et al (2013) melaporkan
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Menurut Novianto (2012) dan Ugochukwu dan Ezedinma (2011), pengurangan penerimaan petani akibat tidak adanya kebijakan Pemerintah yang melindungi output bisa disebabkan oleh lemahnya posisi tawar petani dalam menentukan harga. Dari hasil observasi dan wawancara dengan responden pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa harga jual kentang di Kabupaten Banjarnegara memang lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul dibandingkan oleh petani, sehingga posisi petani dalam penentuan harga kentang menjadi lemah. Petani cenderung tidak mau repot untuk mencari pasar sehingga menjual ke pedagang pengumpul yang dikenal dan juga terdapat petani yang sudah memiliki hutang terlebih dahulu kepada pedagang pengumpul (tengkulak) di awal musim tanam sehingga berpengaruh kepada harga hasil produksi kentang yang dijual tersebut biasanya lebih murah karena dalam hal ini petani kecenderungan tidak memiliki posisi tawar. Untuk mengatasi kurangnya permodalan petani, maka sebaiknya digerakkan kelembagaan tani (kelompok tani, koperasi dan sebagainya) untuk dapat membantu petani dalam memperkuat permodalan mereka melalui aktivitas kelembagaan petani yang ada serta membantu petani untuk dapat meningkatkan pengetahuan mengenai informasi dan perkembangan mengenai teknologi yang terkait dengan usahatani maupun industri kentang agar melalui hal ini terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani dalam meningkatkan keuntungan usahataninya.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kedelai Di Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur.

Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kedelai Di Kecamatan Sukaluyu Kabupaten Cianjur.

Dampak kebijakan yang diterapkan terbagi menjadi dua bagian yaitu positif dan negatif. Pajak dan subsidi komoditas pertanian mengakibatkan transfer antara anggaran publik, produsen dan konsumen. Pajak mentransfer sumber daya kepada pemerintah sedangkan sunsidi mentransfer sumber daya ke masyarakat, misalnya, subsidi input produksi mentransfer sumber daya dari anggaran pemerintah kepada produsen pertanian. Subsidi akan membantu petani untuk mengurangi biaya usahatani sehingga keuntungan yang diperoleh meningkat serta kesejahteraan petani terwujud. Kebijakan yang diterapkan dapat berupa restriksi perdagangan internasional yaitu pajak atau kuota yang membatasi impor atau ekspor. Dengan membatasi perdagangan, instrumen kebijakan harga ini mengubah tingkat harga domestik. Pembatasan impor menaikkan harga dalam negeri di atas harga dunia, sedangkan pembatasan ekspor harga domestik yang lebih rendah di bawah harga dunia. Adapula kebijakan yang bersifat merugikan seperti perdagangan bebas (Free Trade Area) yang menyebabkan semakin banyak arus kedelai impor yang masuk kedalam domestik. Tidak terdapat proteksi pada output usahatani sehingga persaingan dengan output impor semakin besar.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi lokal di Jawa Barat

Analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi lokal di Jawa Barat

Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan, asumsi skenario yang digunakan yakni perubahan harga susu akibat penurunan tarif impor dan kenaikan harga pakan ternak secara umum pengusahaan susu sapi perah ternyata akan menurunkan daya saing pengusahan sapi perah di Provinsi Jawa Barat. Sehingga demikian untuk tetap memberikan keuntungan dan insentif bagi peternak sebaiknya pemerintah mengambil kebijakan untuk menetapkan tarif impor susu lebih besar dari lima persen (kondisi sekarang), yakni 15 persen. Penetapan subsidi pada input usahaternak, terutama pakan dan obat-obatan; (1) penetapan kembali BUSEP (Bukti Serap), dimana IPS memiliki kewajiban membeli dengan proporsi jumlah impor susu yang adil; (2) pengurangan atau penghapusan pajak dan biaya lainnya yang tidak terkait dengan pengusahaan susu segar sapi perah sehingga ekonomi biaya tinggi dapat dihilangkan; dan (3) memfasilitasi penelitian dan penyediaan teknologi yang mampu meningkatkan kualitas susu segar serta mampu melakukan pengolahan susu menjadi produk turunan yang memberikan nilai tambah bagi peternak.
Baca lebih lanjut

386 Baca lebih lajut

Daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas jagung hibrida unggul Madura

Daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas jagung hibrida unggul Madura

Keywords : competitiveness, comparative advantage, comparative advantage, Madura’s hybridal maize Abstrak . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas jagung hibridra unggul Madura. Lokasi penelitian usahatani jagung di Desa Duko Tambin dan Desa Banyubeseh Kecamatan Tragah Kabupaten Bangkalan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan di kedua desa tersebut merupakan wilayah pengembangan varietas jagung hibrida unggul Madura. Metode analisis menggunakan matriks PAM (Policy Analysis Matrix). Hasil analisis menunjukkan komoditas jagung hibridra unggul Madura memiliki daya saing yang cukup tinggi, yaitu memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. Kebijakan pemerintah berdampak nyata terhadap pendapatan usahatani jagung hibrida unggul Madura, khususnya pada keuntungan privat .
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kedelai Vs Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kedelai Vs Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

Tenaga kerja dalam usahatani kedelai terbagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga umumnya digunakan pada saat proses pengolahan tanah, penyem- protan, pemeliharaan dan panen. Sedangkan untuk tenaga kerja dalam keluarga umumnya mengikuti semua tahapan dalam proses budidaya terutama pemupukan dan pemeliharaan. Tenaga kerja dibedakan berdasarkan jenis kelamin yaitu tenaga kerja wanita dan pria dikarenakan berbedanya curahan tenaga yang diberikan dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Untuk tenaga kerja wanita umumnya digunakan pada saat musim tanam dan panen karena tenaganya yang lebih kecil dibandingkan pria. Sedangkan tenaga kerja pria umumnya digunakan pada saat proses pengolahan tanah, pemeliharaan, dan panen. Perbedaan berdasarkan tenaga yang dicurahkan dan jenis pekerjaan yang dilakukan menjadikan upah yang diberikan pun berbeda antara pria dan wanita. Upah tenaga kerja wanita lebih rendah dibandingkan upah tenaga kerja pria atau jika dikonversikan sebesar 0,70 dari upah tenaga kerja pria. Tabel input- output ini akan menjadi dasar dalam penghitungan analisis PAM. Berdasarkan tabel input-output ini akan dikalikan dengan harga privat dan sosial untuk mengukur keuntungan finansial dan ekonomi usahatani kedelai. Setelah mengukur keuntungan finansial dan ekonomi usahatani kedelai, selanjutnya akan dilakukan pengukuran status daya
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Usaha Tani Bawang Putih di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Usaha Tani Bawang Putih di Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar

Septarisco, Y.K.N.J. dan Prihtanti T.M. 2019. Daya saing usaha tani padi di Kecamtan Susukan Kabupaten Semarang menggunakan metode PAM (Policy Analysis Matrix). Jurnal Ilmiah Agrineca 19(1) : 1-13. Sinuhaji, I.E.S. 2017. Pengaruh Bea Masuk dan Pajak Pertambahan Nilai Pupuk dan Obat-obatan terhadap Daya Saing Komoditas Jeruk Siam di Kabupaten Karo Sumatera Utara. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

6 Baca lebih lajut

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah)

Berdasarkan peraturan menteri pertanian No. 06/Permentan/SR.130 /2/2011, pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisika dan atau biologi, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Pupuk yang digunakan dalam usahatani kentang terdiri dari beberapa jenis pupuk, diantaranya pupuk Urea, TSP/SP-36, KCL, Za dan NPK. Berdasarkan pertimbangan dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 06/Permentan/SR.130/2011, bahwa untuk meningkatkan kemampuan petani dalam penerapan pemupukan berimbang diperlukan adanya subsidi pupuk. Jenis pupuk yang mendapat subsidi dari pemerintah yakni, pupuk Urea, SP-36, Za, dan NPK. Penentuan harga bayangan pupuk anorganik didasarkan pada pendekatan harga internasional. Hal ini dikarenakan besarnya subsidi masing-masing pupuk tersebut tidak diketahui. Asumsi lain yang digunakan dalam perhitungan harga bayangan pupuk anorganik yakni, harga paritas impor di tingkat pedagang akan ditambah dengan biaya ditribusi hingga ke tingkat petani. Namun pada pupuk Urea harga paritas yang digunakan adalah harga paritas ekspor di tingkat pedagang dikurangi dengan biaya distribusi ketingkat petani karena Indonesia telah mampu mengekspor pupuk Urea ke negara lain. Penentuan harga bayangan pupuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.
Baca lebih lanjut

262 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

ANALISIS DAYA SAING AGRIBISNIS BAWANG MERAH DI KABUPATEN PROBOLINGGO

Gambar 1. Perkembangan Produktivitas Bawang Merah Di Kabupaten Probolinggo, Tahun 2004-2008 Namun selama periode 2004-2008 tersebut luas areal komoditas bawang merah di Probolinggo justru menunjukkan perkembangan yang menurun sebesar minus 3.9 persen per tahun dengan rata-rata luas areal sebesar 6,899 hektar. Pada hal pada tahun 2004 luas areal bawang merah di Probolinggo mencapai 7.510 hektar, dan tahun 2008 turun menjadi hanya 6.354 hektar. Bahkan pada tahun 2001 luas areal panen komoditas bawang merah mampu mencapai 8.351 hektar. Hal ini mengundang pertanyaan, yaitu apakah usahatani bawang merah di Probolinggo sudah tidak atau kurang menguntungkan. Bertolak dari fakta tersebut maka kajian mengenai analisis keuntungan dan daya saing bawang merah akan memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengatasi permasalahan guna meningkatkan gairah petani beragribisnis komoditas tersebut untuk mengatasi kebutuhan bawang merah dalam negeri dalam upaya mengurangi impor.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Pengembangan Produksi Kopi di Kabupaten Jember

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Pengembangan Produksi Kopi di Kabupaten Jember

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “ Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Pengembangan Produksi Kopi di Kabupaten Jember ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...