Top PDF Analisis Pembelajaran Karakter Cinta Tanah Air Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Analisis Pembelajaran Karakter Cinta Tanah Air Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Analisis Pembelajaran Karakter Cinta Tanah Air Pada Anak Usia 5-6 Tahun

dalam penelitian berdasarkan hasil penelitian guru menggunakan metode: a) Demonstrasi, b) Pemberian tugas c) Bercakap- cakap. Alat (Media). Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat dalam penelitian ini yaitu berupa poster gambar pahlawan serta buku cerita tentang pahlawan. 2) Evaluasi (Evaluation). Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapasitas anak guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar anak yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan anak. Perencanaan pembelajaran karakter cinta tanah air pada anak usia 5-6 tahun di TK Cita Sahabat Mulia Pontianak Tenggara antara lain: menentukan tema dan sub tema, menentukan kompetensi dan hasil belajar, membuat rencana kegiatan harian, adapun materi pembelajaran tentang karakter cinta tanah air, menyiapkan pedoman observasi anak, menyiapkan media pembelajaran seperti video, gambar serta buku cerita.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Penanaman Karakter Anak Usia 5-6 Tahun Pada Masyarakat Samin

Penanaman Karakter Anak Usia 5-6 Tahun Pada Masyarakat Samin

bangan, dan dasar-dasar yang tetap (Dewantoro, 2004: 25). Pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan karakter antara lain: (1) Pendidikan watak (karakter) bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional, yang diberikan sejak umur 4-21 tahun; (2) Pendi- dikan karakter membentuk mental atau sikap yang baik dan meng- hilangkan mental atau perilaku buruk (sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, demokratis, tidak mementing- kan diri sendiri, berani, rela berkor- ban, tidak merusak, tidak menyakiti orang lain, hidup sehat dan bersih, hormat kepada orang tua, toleran, empati, dan cita tanah air); (3) Pendi- dikan karakter bagi anak usia dini dapat dilakukan terutama oleh orang tua dan guru melalui pembiasaan atau percontohan dalam berbagai kegiatan pembelajaran bercerita, menggambar, bermain dengan alat permainan tradisional, menyulam, bernyanyi (Masnipal, 2004: 247).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Penerapan Pembelajaran Tematik Terhadap Perkembangan Sosial   Anak Usia 5-6 Tahun Di RA Al Barkah Cinta Rakyat Tahun Ajaran 2018/2019

Pengaruh Penerapan Pembelajaran Tematik Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia 5-6 Tahun Di RA Al Barkah Cinta Rakyat Tahun Ajaran 2018/2019

1. Penelitian yang dilakukan oleh I. W. Jiwa, N. Dantes, A.A.I.N. Marhaeni Jurusan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia, Tahun 2013 dengan judul Pengaruh Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Prestasi Belajar Ditinjau Dari Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas IV Gugus Empat di Kecamatan Gianyar. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah dalam hal tujuan jika penelitian saya ingin melihat pengaruh pembelajaran tematik terhadap perkembangan sosial anak penelitian ini justru melihat pengaruh implementasi pembelajaran tematik terhadap prestasi belajar anak. Jenis penelitiannya yaitu eksperimen semu menggunakan rancangan rancangan “post test only control group design” dengan melibatkan kovariat motivasi belajar. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians dua jalur dengan uji-F. Hasilnya Dapat disimpulkan bahwa implemetasi pembelajaran tematik berpengaruh terhadap prestasi belajar pada siswa kelas IV Gugus Empat Di Kecamatan Gianyar. 61
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

Pengaruh Pembelajaran Tematik Kelautan Terhadap Penanaman Karakter Kebaharian Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di TK Hang Tuah 12 Surabaya

Pengaruh Pembelajaran Tematik Kelautan Terhadap Penanaman Karakter Kebaharian Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di TK Hang Tuah 12 Surabaya

kurang dan tidak peduli terhadap lingkungan kelautan. Anak-anak usia 5-6 tahun TK Hang Tuah 12 belum memahami ekosistem laut, belum memahami dan tidak peduli menjaga lingkungan laut, belum mampu menjaga kelestarian alam wilayah laut, belum memahami cara memanfaatkan potensi laut dan rendahnya karakter kebaharian kecintaan terhadap laut. Oleh karena itu perlunya pembelajaran tematik kelautan dalam penanaman karakter kebaharian di TK Hang Tuah 12 Surabaya. Berdasarkan permasalahan ini penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran tematik kelautan terhadap anak usia 5-6 tahun di TK Hang Tuah 12 dan menjelaskan karakter anak usia 5-6 tahun di TK Hang Tuah 12 Surabaya sebelum dan sesudah pembelajaran tematik kelautan sehingga dari pembelajaran yang diterapkan dapat menanamkan rasa cinta bahari sejak dini.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN OUTDOOR MENINGKATKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK SUSTER PONTIANAK

PEMBELAJARAN OUTDOOR MENINGKATKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK SUSTER PONTIANAK

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses belajar mengajar guru dalam meningkatkan hasil belajar anak. Metode deskriptif. Bentuk penelitian tindakan kelas (PTK Penggumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik studi dokumentasi. Penggumpulan data panduan observasi, panduan wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yaitu interaktif model dengan tahap-tahap reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan / verifikasi. Subjek penelitian guru dan anak yang berusia 5-6 tahun. Pengumpul data teman sejawat. Secara khusus menyimpulkan (1) kemampuan merencanaankan pembelajaran siklus I sebesar 70 kategori baik; pada siklus II sebesar 88.75 kategori sangat baik. (2) kemampuan melaksanakan pembelajaran siklus I sebesar 75 katergori baik; pada siklus II sebesar 80 kategori sangat baik. (3) Peningkatan karakter peduli lingkungan pada anak usia 5-6 tahun pada siklus I sebesar 70.83% kategori baik; siklus II sebesar 87.5% kategori berkembang sangat baik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peningkatan Perilaku Cinta Lingkungan pada Anak Usia 5-6 Tahun Melawi di Taman Kanak-kanak Yosi Kabupaten Melawi

Peningkatan Perilaku Cinta Lingkungan pada Anak Usia 5-6 Tahun Melawi di Taman Kanak-kanak Yosi Kabupaten Melawi

Abstrak: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Berdasarkan hasil penelitian dan diadakan analisis data, secara umum dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa: 1) Perencanaan pembelajaran dalam peningkatan perilaku cinta lingkungan PHODOXL NHJLDWDQ PHUDZDW WDQDPDQ KLDV GHQJDQ NDWHJRUL ³EDLN´ Pelaksanaan pembelajaran dalam peningkatan perilaku cinta lingkungan melalui kegiatan merawat tanaman KLDV GHQJDQ NDWHJRUL ³EDLN´ 'DODP KDO ini langkah-langkah yang dilakukan guru berdasarkan perencanaan yang telah dibuat yang meliputi pijakan lingkungan, pijakan sebelum main, pijakan saat main dan pijakan setelah main. 3) Perilaku cinta lingkungan terhadap kegiatan merawat tanaman hias pada anak usia 5-6 tahun berkembang sangat baik.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perancangan Buku Pendidikan Karakter Toleransi dan Cinta Damai untuk Anak Usia 3-5 Tahun

Perancangan Buku Pendidikan Karakter Toleransi dan Cinta Damai untuk Anak Usia 3-5 Tahun

Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan sejak usia dini mencakup empat aspek, yaitu : Aspek spiritual, Aspek kepribadian, Aspek sosial, dan Aspek lingkungan. Pendidikan karakter berkaitan dengan nilai-nilai dasar yang dipandang baik. Berdasarkan Pedoman Pendidikan Karakter Pada Pendidikan Anak Usia Dini, nilai-nilai yang dianggap sangat penting untuk dikenalkan dan ditanamkan sejak dini mencangkup : Kecintaan terhadap Tuhan YME; Kejujuran; Disiplin; Toleransi dan Cinta damai; Percaya diri; Mandiri; Tolong menolong, kerjasama, dan gotong royong; Hormat dan sopan santun; Tanggung jawab; Kerja keras; Kepemimpinan dan keadilan; Kreatif; Rendah hati; Peduli lingkungan; Cinta bangsa dan Tanah Air. [3]
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengembangan Buku Bergambar Berbasis Multikultural untuk Menstimulasi Karakter Cinta Tanah Air Anak Usia 5-6 Tahun.

Pengembangan Buku Bergambar Berbasis Multikultural untuk Menstimulasi Karakter Cinta Tanah Air Anak Usia 5-6 Tahun.

5. Pertanyaan penguatan dari diskusi tadi seperti: “Ciri-ciri 6 anak Indonesia dalam Bahan ajar buku?” . “Apa agama ya dianut?” “Dimana anak beribadah?” “Bolehkah kita mengejek teman yang berbeda agama?” dan “Bagaimana sikap yang ditunjukkan apabila memiliki teman yang memiliki agama berbeda?”

241 Baca lebih lajut

Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif berbasis Permainan untuk Menstimulasi Karakter Kerjasama dan Tanggung Jawab Anak Usia 5-6 Tahun.

Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif berbasis Permainan untuk Menstimulasi Karakter Kerjasama dan Tanggung Jawab Anak Usia 5-6 Tahun.

Anak sering bermain sendiri. Kondisi ini terjadi sebelum pembelajaran di mulai atau saat anak baru datang ke sekolah. Masih ada anak yang sibuk bermain sendiri. Saat anak-anak yang lain bermain ayunan, ada beberapa anak yang tidak ingin bergabung. Saat proses pembelajaran juga ada anak yang memilih bermain sendiri dari pada bermain dengan teman. Saat bermain puzzle, anak tidak ikut menyusun puzzle bersama temannya dan hanya melihat saja. Selain itu, sikap kerjasama anak yang belum berkembang terlihat dari tidak maunya anak berbagi makanan dan minuman pada temannya. Dibuktikan pada waktu istirahat yaitu saat anak memakan bekal atau jajanan yang dibelinya, anak cenderung memakan makanannya sendiri. Anak belum mau berbagi dengan teman yang tidak membawa makanan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Peran Pembelajaran Regulasi Diri dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Usia 5-6 Tahun

Peran Pembelajaran Regulasi Diri dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Usia 5-6 Tahun

Dalam mendidik, sering dijumpai pemasalahan-permasalahan yang dapat menghambat anak untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita. Salah satu permasalahan tersebut adalah karena rendahnya motivasi belajar. Motivasi dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu kegiatan tertentu. Menurut Darmawan motivasi diartikan sebagai suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar (Darmawan, 2008: 1). Sedangkan menurut Hamzah (2008: 3) motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Dari beberapa pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa motivasi didasari oleh pemenuhan kebutuhan, artinya seseorang akan terpacu melakukan suatu usaha dalam bentuk perilaku tertentu untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peran Pembelajaran Regulasi Diri dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Usia 5-6 Tahun

Peran Pembelajaran Regulasi Diri dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Usia 5-6 Tahun

Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mendukung proses pelaksanaan pembelajaran regulasi diri, hal ini karena proses dapat mempengaruhi keberhasilan belajar [r]

11 Baca lebih lajut

Peningkatan Pembelajaran Pengenalan Bahasa Inggris Melalui Bernyanyi Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Peningkatan Pembelajaran Pengenalan Bahasa Inggris Melalui Bernyanyi Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Adapun aspek-aspek yang menunjang program penelitian tindakan kelas yaitu pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini meliputi: a. Perencanaan pembelajaran., b. Pelaksanaan pembelajaran. c. Evaluasi pembelajaran berupa respon anak. C. Rumusan Masalah. , 1.Masalah Umum. Berdasarkan identifikasi yang telah dikemukakan di atas. Masalah penelitian ini dapat dirumuskan yakni ³%DJDLPDQD PHQLQJNDWNDQ SHPEHODMDUDQ SHQJHQDODQ EDKDVD ,QJJULV PHODOXL kegiatan bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun di TK Mazmur 21 Pontianak 6HODWDQ"´. 2. Masalah khusus, Berdasarkan masalah umum diatas, maka dijabarkan menjadi masalah khusus sebagai berikut: a. Bagaimana perencanaan pembelajaran pengenalan bahasa Inggris dengan bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun? b. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran pengenalan bahasa Inggris dengan bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun? c. Bagaimana respon anak 5-6 tahun pada pembelajaran pengenalan bahasa Inggris melalui bernyanyi? D. Tujuan Penelitian, 1. Tujuan Umum. Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui pembelajaran pengenalan bahasa Inggris melalui bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun di TK.Mazmur 21 Pontianak Selatan. 2. Tujuan Khusus, Berdasarkan pada masalah penelitian, maka tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: a. Perencanaan pembelajaran pengenalan bahasa Inggris melalui bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun. b. Pelaksanaan pembelajaran pengenalan bahasa Inggris melalui bernyanyi pada anak usia 5-6 tahun. c. Respon anak 5-6 tahun terhadap pembelajaran pengenalan bahasa Inggris melalui bernyanyi. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengembangan wawasan/pengetahuan mengenai teori anak usia prasekolah tentang peningkatan pembelajaran pengenalan dalam bahasa Inggris melalui bernyanyi. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Bagi guru TK dapat memberikan pengetahuan dalam proses pembelajaran yang menerapkan prinsip bermain sambil belajar dan membimbing anak agar bahasa Inggrisnya dapat berkembang secara optimal. 2. Bagi anak akan memperoleh pembelajaran yang lebih menarik, menyenangkan dan memungkinkan bagi dirinya untuk mengenal bahasa asing yakni bahasa Inggris yang berguna dimasa dewasanya. 3. Bagi lembaga penyelenggaraan program PAUD khususnya di TK MAZMUR 21 untuk meningkatkan proses pembelajaran pengenalan bahasa Inggris dengan adanya ketersediaan fasilitas yang memadai.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengembangan Modul Pendidikan Multikultural Berbasis Karakter Cinta Tanah Air dan Nasionalis pada Pembelajaran Tematik

Pengembangan Modul Pendidikan Multikultural Berbasis Karakter Cinta Tanah Air dan Nasionalis pada Pembelajaran Tematik

sendiri self-instructional. Selanjutnya, Depdikbud (Susilo, Peserta didikndari, & Bandi, 2016) memaparkan bahwa modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Modul disebut juga media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran merupakan bahan ajar cetak yang di dalamnya telah dirancang untuk peserta didik agar dapat belajar secara mandiri. Modul juga memiliki beberapa karakteristik antara lain berbentuk unit pengajaran terkecil dan lengkap, berisi rangkaian kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis, berisi tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan khusus, memungkinkan peserta didik belajar mandiri, dan merupakan realisasi perbedaan individual serta perwujudan pengajaran individual (Pantiwati, 2016). Ada beberapa point dari pengertian di atas bahwa modul yang di rancang harus sistematis, serta dirumuskan secara jelas agar nantinya peserta didik dapat belajar secara mandiri.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

CINTA TANAH AIR (1) CINTA TANAH AIR (1)

CINTA TANAH AIR (1) CINTA TANAH AIR (1)

Di dalam pancasila pun menyebutkan yang terdapat pada sila pertama bahwa KETUHANAN YANG MAHA ESA, yang dimaksud bahwa Negara kita adalah Negara yang beragama dan kuat akan ajaran-ajaran baik dari agama kita masing-masing, tidak menganut paham komunis dan brutal, tetapi Negara kita yang tercinta ini sudah mengatur sebagaimana rupanya menjadi Negara yang bersahaja yang percaya bahwa semua yang ada didunia ini ada yang menciptakannya dan kita patut bersyukur akan hal itu. Ini adalah salah satu bukti mengapa kita perlu mencintai tanah air kira secara sepenuh hati. Sila ke dua dari pancasila lebih mengena lagi di dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB, maksudnya pun kita ketahui bahwa di Indonesia ini menjungjung tinggi sikap rasa keadilan dan saling mengasihi antar manusia. Tidak buat sewenang-wenang semena-mena, karena masyarakat Indonesia mempunyai hak keadilan yang sama. Tidak menganut paham komunis, gangster atau ataupun yang membuat peradaban manusia di Indonesia menjadi Negara yang tidak mempunyai rasa keadilan yang tidak beradab. Ini adalah contoh kedua bagaimana kita lebih bisa menghargai dan mencintai tanah air kita Indonesia.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Karakter Tanggung Jawab Anak Usia 5-6 Tahun

Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Karakter Tanggung Jawab Anak Usia 5-6 Tahun

Teknologi dalam pembelajaran pendidikan anak usia dini masih jarang digunakan, dan pembelajaran karakter dilakukan masih menggunakan metode ceramah maupun dengan metode bercakap-cakap, sehingga contoh teladan masih dirasakan kurang, (Black, 2014:3) “Video or film has become a part of our everyday life”. Sudah tidak dapat kita pungkiri bahwa video atau film sudah sering kita jumpai dan bahkan tidak menjadi barang yang langka buat saat ini, dan sudah menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sehar-hari dan penggunaan video atau media audio visual di sekolah cocok untuk mengajarkan suatu proses, seperti halnya dalam pembelajaran anak usia dini yang masih meniru apa yang mereka liat, dan belum bisa menyaring informasi yang baik atau buruk bagi anak, maka pembelajaran dengan menggunakan video cukup efektif.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Profil Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun

Profil Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun

Menurut Sternberg (2006), kreativitas membutuhkan kerjasama dari kemampuan intelektual, pengetahuan, gaya berpikir, kepribadian, motivasi, dan lingkungan. Kreativitas anak menurut penelitian Peningkatan Kreativitas melalui Pendekatan Brain Based Learning (Kusumawardani 2015) adalah “Proses kognitif yang muncul dari aspek 4P, yaitu pribadi, pendorong, proses dan produk. Keempat aspek itu adalah (1) aspek pribadi, yaitu menggambarkan aspek kelancaran (fluency), kelenturan (flexibility), orisinalitas (originality), kerincian (elaboration), dan kepekaan (sensitivity) dengan karakteristik anak bertanya, tertarik dengan banyak kegiatan, mencoba hal-hal baru, menjelajah lingkungan sekolah, mudah beradaptasi dengan perubahan situasi, terlihat bebas dalam melakukan berbagai hal, terbuka terhadap hal baru, melakukan kegiatan dengan cara yang berbeda dari temannya, memiliki banyak jawaban terhadap satu pertanyaan, mencoba hal-hal sulit, mengungkapkan pendapat terhadap sebuah masalah, dan memperlihatkan selera humor; (2) aspek pendorong, yaitu anak melakukan kegiatan atas keinginan sendiri, dan terlihat bersemangat dan antusias dalam melakukan berbagai kegiatan di sekolah; (3) aspek proses, yaitu
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Peningkatan Percaya Diri Melalui Bercerita Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Peningkatan Percaya Diri Melalui Bercerita Pada Anak Usia 5-6 Tahun

0HQXUXW +DNLP GDODP 5DKD\X PHQ\DWDNDQ EDKZD µSHUFD\D diri adalah keyakinan sesorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya GDQ PHPXDW NHPDPSXDQ XQWXN PHQFDSDL EHUEDJDL WXMXDQ KLGXS¶ $QDN GDSDW dikatakan percaya diri jika anak berani melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan diri. Gadner (dalam Brawer, 2007:1) menyatakan µSHRSOH DUH GUDZQ WR LQGLYLGXDOV ZKR KDYH D JRRG XQGHUVWHQGLQJ RI WKHP VHOYHV EHFDXVH WKH\ WHQG WR EH FRQILGHQW DQG VXFFHVVIXO¶ Adapun ciri-ciri anak yang mempunyai percaya diri yaitu: anak yakin akan dirinya (optimis), berani mengambil keputusan untuk melangkah, menyukai pengalaman atau tantangan baru, bertanggung jawab, memiliki rasa toleransi (bekerja sama) dan senantiasa gembira. Rahayu (2014:78) karakter anak yang percaya diri adalah berani berbicara di depan orang banyaktanpa perasaan malu dan takut dikritik, mudah bergaul di lingkungan yang baru, berkurangnya ketergantungan anak pada orang lain, dan jika anak diberi tugas oleh guru, anak dapat melakukannya dengan biak tanpa meminta bantuan orang lain.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

LINGUISTIK ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK ISLAMIYAH

LINGUISTIK ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK ISLAMIYAH

2. Peranan guru sebagai pendidik Peranan guru sebagai pendidik dalam mengembangkan kecerdasan linguistik anak, guru mengajarkan anak berinteraksi atau berkomunikasi dengan mengucapkan kata-kata yang sopan, guru mendidik dengan memberi tahu kepada anak didik kita harus berbahasa dengan sopan baik itu dengan orang tua, guru, teman dan lainnya. Guru melakukan komunikasi dengan anak dengan menggunakan bahasa yang sopan, ramah, berbicara dengan nada yang rendah dan berbicara tidak menyinggung perasaan orang lain baik teman maupun guru. Guru juga harus bertutur kata dengan baik agar anak didik dapat mencontohnya, sehingga mengakui bahwa guru patut diteladani memberikan contoh kepada anak didik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PERCAYA DIRI MELALUI BERCERITA PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

PENINGKATAN PERCAYA DIRI MELALUI BERCERITA PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Menurut Hakim (dalam Rahayu, 2013:63) menyatakan bahwa ‘percaya diri adalah keyakinan sesorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan memuat kemampuan untuk mencapai berbagai tujuan hidup’. Anak dapat dikatakan percaya diri jika anak berani melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan diri. Gadner (dalam Brawer, 2007:1) menyatakan ‘people are drawn to individuals who have a good understending of them selves because they tend to be confident and successful’. Adapun ciri-ciri anak yang mempunyai percaya diri yaitu: anak yakin akan dirinya (optimis), berani mengambil keputusan untuk melangkah, menyukai pengalaman atau tantangan baru, bertanggung jawab, memiliki rasa toleransi (bekerja sama) dan senantiasa gembira. Rahayu (2014:78) karakter anak yang percaya diri adalah berani berbicara di depan orang banyaktanpa perasaan malu dan takut dikritik, mudah bergaul di lingkungan yang baru, berkurangnya ketergantungan anak pada orang lain, dan jika anak diberi tugas oleh guru, anak dapat melakukannya dengan biak tanpa meminta bantuan orang lain.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peran Orangtua Terhadap Kepercayaan Diri  Anak Usia 5-6 Tahun

Peran Orangtua Terhadap Kepercayaan Diri Anak Usia 5-6 Tahun

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menumbuh kembangkan kepercayaan diri anak, maka orang tua sebaiknya menerapkan pola asuh pelatih emosi dimana orang tua banyak membangun kedekatan pada anak, memberi perhatian dan mendukung apa yang dilakukan anak namun masih memberikan arahan dan menentukan batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak dalam menyelesaikan masalah. Orang tua juga sebaiknya memberikan pengalaman yang baik dan kebiasaan yang sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya, seperti membiasakan anak untuk mengerjakan tugasnya sendiri, menyampaikan pendapat, dan tampil didepan dalam suatu kegiatan. Hal ini diperkuat oleh Teori Behavioristik dalam Jahja (2011) merupakan teori yang menekankan pada tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku (respon). Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Adapun respon adalah akibat atau dampak, berupa reaksi terhadap stimulus. Stimulus dalam penelitian ini adalah pola asuh pelatih emosi sedangkan respon adalah kepercayaan diri anak.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects