Top PDF Analisis Tentang Penahanan dalam Perspektif Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Analisis Tentang Penahanan dalam Perspektif Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Analisis Tentang Penahanan dalam Perspektif Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Uraian mengenai perawatan atau pengobatan masih berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk meminta lebih dahulu izin persetujuan dari instansi yang bedrtanggung jawab secara yuridis atas penahanan. Sekarang timbul peristiwa yang mendadak sehingga Kepala Rutan tidak mungkin meminta izin lebih dahulu karena sedemikian rupa penyakit yang tiba-tiba menyerang tahanan, sehingga mesti segera dibawa ke rumah sakit atau seseorang tanahan tiba-tiba sakit parah dan dokter Rutan menasehatkan agar secepatnya dibawah kerumah sakit, sedang waktu itu hari minggu, tidak mungkin meminta izin lebih dahulu dari instansi yang menahan., apakah tanahan yang demikian dibiarkan mati katena tidak ada izin dari instansi yang menahannya ? tidak boleh dibiarkan Kepala Rutan dapat bertindak membawahnya ke rumah sakit . Tindakan ini di atur dalam Pasal 9 ayat (3) PMK yang disebut “ dalam keadaan terpaksa” asal jangan Kepala Rutan memanipulasi pengertian dalam keadaan terpaksa itu untuk tujuan tertentu yang berlatar belakang penyelewengan hukum dan komersialisasi jabatan. Apabila Kepala Rutan bertindak membawa ke rumah sakit dalam keadaan terpaksa:
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

Wewenang Hakim Komisaris yang tercantum di dalam BAB IX Pasal 111 RUU KUHAP Tahun 2009 jelas lebih luas dari pada wewenang hakim pra peradilan. Bukan saja tentang sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, penyadapan, tetapi juga pembatalan atau penangguhan penahanan, begitu pula tentang penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan yang tidak berdasarkan asas oportunitas, Hakim Komisaris juga memutus atau menetapkan tentang ganti kerugian dan rehabilitasi, diatur tentang pembatasan waktu pemeriksaan oleh hakim komisaris sesuai dengan asas peradilan cepat sebagaimana disebutkan dalam Pasal 112 RUU KUHAP Tahun 2009 bahwa Hakim Komisaris memberikan keputusan dalam waktu paling lambat 2 (dua) hari terhitung sejak menerima permohonan, ditegaskan pula dalam Pasal 122 RUU KUHAP Tahun 2009, terhadap putusan atau penetapan Hakim Komisaris tidak dapat diajukan upaya hukum banding maupun kasasi (Andi Hamzah, 2006: 361).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

Perubahan penting yang terdapat di dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah diperkenalkannya lembaga baru, yaitu hakim komisaris untuk menggantikan praperadilan. Lembaga praperadilan ternyata kurang efektif karena bersifat pasif menunggu gugatan para pihak. Andi Hamzah mengatakan, pra peradilan bukan lembaga yang berdiri sendiri tetapi melekat pada pengadilan negeri. Sebab, ketua pengadilan negerilah yang menunjuk seorang hakim menjadi hakim praperadilan jika suatu permohonan masuk ke pengadilan. Ide hakim komisaris berbeda dengan praperadilan akan tetapi tidak sama dengan rechtercommissaris di Belanda dan juge d'instruction di Perancis karena hakim komisaris versi RUU KUHAP sama sekali tidak memimpin penyidikan. "Jadi merupakan revitalisasi praperadilan yang sudah ada di dalam KUHAP," katanya. Andi Hamzah mengatakan, hakim komisaris versi RUU KUHAP mirip dengan lembaga baru di Italia, Giudice per le indagini preliminary (hakim pemeriksa pendahuluan) yang tugasnya mengawasi jalannya penyidikan dan penuntutan. Ada sebagian wewenang hakim pengadilan negeri seperti izin penggeledahan, penyitaan, penyadapan dan perpanjangan penahanan berpindah ke hakim komisaris agar proses menjadi cepat, tidak mengganggu hakim pengadilan negeri yang sibuk menyidangkan perkara pidana, perdata dan sebagainya. Selain itu, lanjutnya, ada wewenang jaksa yang berpindah ke hakim komisaris, seperti perpanjangan penahanan 40 hari berpindah ke hakim komisaris menjadi 25 hari. Sementara itu pengajar program pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji mengatakan, berdasarkan Pasal 111 RUU KUHAP Tahun 2009, hakim komisaris memiliki kewenangan yang cukup luas. Antara lain dapat menilai perlu atau tidaknya penahanan atau sah tidaknya penahanan berdasarkan pendekatan obyektif maupun subyektif.
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

Hasil Penyadapan KPK Sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

Hasil Penyadapan KPK Sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik

dalam hal ini Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa hak-hak yang terdapat dalam Pasal 28 G ayat (1) dan Pasal 28 D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak termasuk hak-hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun sebagaimana ditentukan dalam Pasal 28 I Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian hak-hak tersebut dapat dibatasi oleh undang-undang sebagaimana diatur dalam ketentuan yang tersebut dalam Pasal 28J ayat (2). Pembatasan itu diperlukan sebagai tindakan luar biasa untuk mengatasi korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa. Lagipula pembatasan itu tidak berlaku bagi semua orang tapi terbatas kepada mereka yang diduga terlibat korupsi yang menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.0000,- (satu milyar rupiah) sebagaimana ditentukan dalam Pasal 11 huruf C juncto Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang KPK. Namun demikian, untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan kewenangan dalam penyadapan dan perekaman, Mahkamah Konstitusi berpendapat perlu ditetapkan perangkat peraturan yang mengatur syarat dan tata cara penyadapan dan perekaman dimaksud.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PENERAPAN PASAL 282 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA MELANGGAR KESUSILAAN DI MEDIA TERKAIT KETENTUAN PASAL 153 (3) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

ANALISIS YURIDIS PENERAPAN PASAL 282 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA MELANGGAR KESUSILAAN DI MEDIA TERKAIT KETENTUAN PASAL 153 (3) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

1. Penerapan Pasal 282 KUHP terhadap tindak pidana melanggar kesusilaan dapat diterapkan jika perbuatan menyebarkan atau mempertunjukkan gambar gambar atau objek tertentu yang sifanya melanggar kesusilaan atau isinya yang memuat kecabulan di muka umum. Perbuatan yang dimaksud harus dilakukan langsung pada benda gambarnya diatas kertas atau semacamnya. Selain itu dampak dari tulisan atau gambar tersebut antara lain menimbulkan keresahan, ketidaknyamanan dan rasa tidak menyenangkan bagi masyarakat karena dapat mengancam kebobrokan moral dan mengandung kata-kata atau kalimat-kalimat yang termasuk kategori melanggar kesopanan dan kesusilaan, cabul/perbuatan cabul, pornoaksi dan pornografi.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Penerapan Pasal 1 Ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Dalam Perspektif Kontemporer

Penerapan Pasal 1 Ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Dalam Perspektif Kontemporer

Dalam perkara ini, penuntut umum menempatkan orang perorangan dan badan hukum secara sekaligus sebagai terdakwa. Tindak pidana yang didakwakan kepada keduanya adalah tindak pidana pengambilan air tanpa izin sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 94 ayat (3) huruf b UU No. 7/2004. Sebelum persidangan dimulai, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 85/PUU-XI/2013 menyatakan UU No. 7/2004 tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dan memberlakukan kembali UU No. 11/1974. Dalam putusannya, Pengadilan Negeri Sumedang menyatakan bahwa dakwaan penuntut umum tidak dapat diterima. Namun demikian, tulisan ini akan mencoba memberikan analisis terhadap keadaan fiksional, yaitu: bagaimana jika pada akhirnya Pengadilan Negeri Sumedang memutuskan untuk menerapkan Pasal 1 ayat (2) KUHP dalam perkara tersebut—khususnya sehubungan dengan unsur “ketentuan yang paling menguntungkan”?
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

ANALISIS FORMULASI TINDAKAN AWAL DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG INTELIJEN DITINJAU BERDASARKAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP)

ANALISIS FORMULASI TINDAKAN AWAL DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG INTELIJEN DITINJAU BERDASARKAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP)

mengancam keamanan nasional dapat dicegah sedini mungkin, untuk hal ini diperlukan landasan hukum dan dasar hukum bagi intelijen negara, untuk melakukan upaya hukum yaitu tindakan represif. Sedangkan Ketentuan tindakan awal tidak sesuai dengan fungsi intelijen karena fungsi intelijen selaku penyelidikan, pengamanan dan penggalangan dan hubungan antara Rancangan Undang-Undang Intelijen Negara dengan KUHAP yaitu Rancangan Undang- undang akan mengatur sesorang yang diperiksa oleh BIN, jika memenuhi bukti permulaan, dapat digunakan untuk proses penegakkan hukum berdasarkan KUHAP, hubungan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik dengan Rancangan Undang-Undang Intelijen ialah sesuatu yang berkaitan dengan intelijen merupakan pengecualian dari informasi yang diatur dalam Undang- Undang Keterbukaan Infomasi Publik, dan hubungan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan Rancangan Undang-Undang Intelijen ialah laporan intelijen dapat dipergunakan sebagai bukti permulaan untuk penyidikan selanjutnya, setelah memperoleh pengesahan dari Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Minimum Pembuktian untuk Penangkapan, Penahanan dan Penyelesaian Berkas Perkara Menurut Pasal 183 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Minimum Pembuktian untuk Penangkapan, Penahanan dan Penyelesaian Berkas Perkara Menurut Pasal 183 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Dengan menggunakan istilah "cukup bukti", orang dapat menyimpulkan bahwa dalam hal ini sudah harus ada bukti-bukti yang setara dengan bukti-bukti dapat dijadikan dasar oleh jaksa penuntut umum untuk melakukan penuntutan dan juga sudah setara dengan bukti-bukti yang dapat dijadikan dasar oleh Hakim untuk menyatakan terbuktinya suatu tindak pidana. Dengan demikian dapat pula disimpulkan bahwa seharusnya sudah ada sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah sebagaimana di kehendaki oleh pasal 183 KUHAP. 12

7 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PENAHANAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP)

(Studi Di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat)

PELAKSANAAN HAK-HAK TERSANGKA DALAM PENAHANAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) (Studi Di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat)

Konsep dasar Hak Asasi Manusia adalah ketentuan yang pada mulanya hanya berada dalam perdebatan sebagai bagian hukum alam. Kemudian dipositifkan dalam ketentuan normatif sebagai Ilmu Hukum Murni (Kelsen) atau sebagai Ilmu Hukum positif (Mewissen). Telah mempengaruhi sistem peradilan pidana mulai dari tingkat penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan.

20 Baca lebih lajut

Peranan Jaksa Terhadap Penanganan Tindak Pidana Menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Kuhap)

Peranan Jaksa Terhadap Penanganan Tindak Pidana Menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Kuhap)

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peranan Jaksa terhadap penanganan tindak pidana dalam tahap penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta bagaimana peranan Jaksa sebagai penuntut umum dalam penanganan tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif maka dapat disimpulkan, bahwa: 1. Peranan Jaksa dalam penanganan tindak pidana menurut KUHAP adalah : Melakukan pemanggilan saksi, saksi ahli atau tersangka; Melakukan penggeledahan/penyitaan; Melakukan pemeriksaan surat, rekapan komunikasi telepon dan rekapan rekening keuangan Negara. Melakukan penangkapan dan penahanan dan Melakukan pemberkasan perkara. 2. Dalam melakukan penuntutan, Jaksa dapat melakukan prapenuntutan. Dalam melaksanakan putusan pengadilan dan penetapan hakim, kejaksaan memperhatikan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan peri kemanusiaan berdasarkan Pancasila tanpa mengesampingkan ketegasan dalam bersikap dan bertindak.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pokok-Pokok Pikiran. tentang RUU KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA DALAM PERSPEKTIF HAM

Pokok-Pokok Pikiran. tentang RUU KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA DALAM PERSPEKTIF HAM

berurusan dengan hokum seringkali mengalami penyiksaan dan ditahan bersama-sama dengan orang dewasa serta seringkali tidak bisa dijenguk oleh keluarganya dan tanpa pendampingan hokum. Seharusnya perlakuan terhadap anak yang berurusan dengan hokum ini mendapatkan perlakuan khusus dan upaya penahanan hanya merupakan upaya paling akhir dalam proses penyidikan dan harus disesuaikan dengan pasal 16 Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dimana setiap anak harus memperoleh perlindungan dari penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi dan penangkapan dan penahanan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir dari tindakan hukum, hal ini seyogyanya diatur lebih lanjut dalam RUU KUHAP. Yang paling rentan terhadap kasus penahanan yang mengalami kekerasan selain anak adalah perempuan, seringkali perempuan menjadi obyek penderita seperti pada saat memperoleh keterangan seringkali mengalami pelecehan seksual dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian dan tidak jarang mengakibatkan korban menjadi depresi berat serta kesulitan bukti untuk melaporkan kasus pelecehan ini karena menyangkut institusi kepolisian yang akhirnya tahanan perempuan mengalami penderitaan ganda karena merupakan delik aduan yang harus dilaporkan sendiri oleh korban sedangkan korban ini sendiri berada dalam tahanan yang bersama-sama dengan pelaku. Penahanan yang dilakukan bagi anak dan perempuan seharusnya merupakan upaya terakhir yang dilakukan karena perempuan dan anak rentan terhadap kekerasan, dampak buruk pertama akibat penahanan anak yang bermasalah dengan hokum ditahan adalah anak akan mendapat ancaman kekerasan di tahanan baik oleh petugas atau tahanan lain. Perlu ditambahkan pengaturan dalam pasal 59 mengenai “Penahanan terhadap anak dan perempuan harus merupakan upaya akhir dari proses hokum dan harus bebas dari intimidasi dan penyiksaan”.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Permintaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (3) KUHAP diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada pengadilan yang berwenang, selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari setelah putusan mengenai sah tidaknya penangkapan atau penahanan diberitahukan kepada pemohon.

17 Baca lebih lajut

Tindakan Isolasi dalam Penahanan Tersangka Ditinjau dari Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana

Tindakan Isolasi dalam Penahanan Tersangka Ditinjau dari Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana

Dalam teori penegakan hukum, menjelaskan bagaimana sebenarnya penegakan hukum yang dilakukan oleh para penegak hukum itu sendiri, oleh karena itu akan dikemukakan beberapa teori tentang penegakan hukum. Penegakan hukum sebagai sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan penerapan diskresi yang menyangkut membuat keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi. Dengan mengutip pendapat Rouscou Pound, maka LaFavre menyatakan, bahwa pada hakikatnya diskresi berada di antara hukum dan moral (etika dalam arti sempit). 2
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS TERHADAP HUKUM PEMBUKTIAN DALAM RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (RUU-KUHAP)

ANALISIS TERHADAP HUKUM PEMBUKTIAN DALAM RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA (RUU-KUHAP)

Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan, bahwa pengaturan dan prosedur pengajuan hukum pembuktian dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah sebagai berikut. Pengaturan hukum pembuktian, alat bukti yang sah, barang bukti, surat-surat, bukti elektronik, keterangan seorang ahli, keterangan seorang saksi, keterangan seorang terdakwa, dan pengamatan hakim. Alat bukti yang sah harus diperoleh secara tidak melawan hukum, dan hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. Prosedur pengajuan hukum pembuktian, pertama surat dibuat berdasarkan sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, kedua keterangan ahli yaitu segala hal yang dinyatakan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus disidang pengadilan, ketiga keterangan saksi sebagai alat bukti adalah segala hal yang dinyatakan saksi disidang pengadilan, keempat keterangan terdakwa adalah segala hal yang dinyatakan oleh terdakwa di dalam sidang pengadilan tentang perbuatan yang dilakukan atau diketahui sendiri atau dialami sendiri, kelima pengamatan hakim selama sidang adalah didasarkan pada perbuatan, kejadian, keadaan, atau barang bukti yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri yang menandakan telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Pengaturan hukum pembuktian dan prosedur pengajuan hukum pembuktian terdapat pada bagian keempat tentang pembuktian dan putusan dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Hukum Acara Pidana (RUU-KUHAP), Pasal 177 sampai Pasal 195.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

ANALISIS KEBIJAKAN FORMULASI HAKIM KOMISARIS DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA

Pra peradilan yang selama ini telah diatur dalam KUHAP menuai banyak kritikan dari praktisi hukum. Di dalam prakteknya, ternyata pra peradilan kurang memberikan rasa keadilan bagi para pencari keadilan khususnya tersangka dalam proses peradilan pidana. Sehubungan dengan hal itu, pemerintah dan DPR telah membuat suatu Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) yang salah satu isinya mengganti lembaga pra peradilan dengan Hakim Komisaris. Latar belakang yang mendasari munculnya Hakim Komisaris adalah untuk lebih melindungi jaminan hak asasi manusia dalam proses pemidanan dan menghindari terjadinya kemacetan oleh timbulnya selisih antara petugas penyidik dari instansi yang berbeda. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah alasan yang menjadi dasar adanya kebijakan formulasi Hakim Komisaris dalam RUU KUHAP Tahun 2009? Dan Apakah akibat hukum dari penetapan dan putusan Hakim Komisaris tentang pelanggaran hak-hak tersangka selama tahap penyidikan dan upaya khusus yang dapat dilakukan apabila Hakim Komisaris berhalangan?
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Eksistensi Asas Legalitas dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Eksistensi Asas Legalitas dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Aplikasi asas legalitas dimaksudkan untuk melindungi sejumlah hak-hak fundamental warga negara, seperti hak atas harta benda, kebebasan individu. kebebasan berekspresi, kebebasan untuk berpindah, hak atas lingkungan yang sehat, dan akses pada peradilan. 15 Agar aplikasi asas ini sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia, ada dua hal yang perlu diperhatikan legislator dan hakim. Pertama, legislator hanya diperbolehkan mengintervensi hak-hak warga negara melalui undang-undang yang dirumuskan secara jelas, dan tidak menggunakan bahasa atau kalimat yang bermakna umum. Kedua, hakim hanya diperbolehkan melakukan penafsiran hukum sepanjang sesuai dengan maksud dan tujuan yang dikehendaki oleh legislator. 16
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN STELSEL PIDANA MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) DAN RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (RKUHP) 2012

PERBANDINGAN STELSEL PIDANA MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) DAN RANCANGAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (RKUHP) 2012

11 Unifikasi hukum adalah kesatuan hukum sebagaimana telah diwujudkan dalam konvensi hak cipta 1886 dan general postal convention, 1984 dan konvensi internasional lainnya. Perkembangan mengenai terhadap perbandingan hukum yang dimulai sejak tahun 1990 menunjukkan perubahan tujuan yaitu dari tujuan hendak mencapai unifikasi hukum kemudian hanya merupakan upaya mempersiapkan tujuan uniformasi azas-azas umum dari berbagai sistem hukum. Harmonisasi hukum terdapat dienam pasaran bersama Eropa tersebut dapat menentukan pedoman- pedoman. Yang dimaksud dengan mencegah chauvinisme hukum nasioanal, bahwa dengan mempelajari hukum asing dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai hukum nasional yang berlaku. Sedangkan memahami hukum asing disini tampak jelas jika dihubungkan dengan Pasal 5 ayat (1) sub ke 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yakni Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi warga negara yang diluar Indonesia melakukan salah satu perbuatan yang oleh suatu peraturan perundang-undangan Indonesia dipandang sebagai kejahatan sedangkan menurut peraturan perundang-undangan dimana kejahatan itu dilakukan diancam dengan pidana.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Kedudukan Keterangan Ahli Sebagai Alat Bukti Menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Kedudukan Keterangan Ahli Sebagai Alat Bukti Menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana

Dalam KUHAP, peraturan pokok mengenai sistem pembuktian adalah Pasal 183 KUHAP yang menentukan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Pasal ini menentukan syarat yang harus dipenuhi oleh setiap hakim untuk dapat menjatuhkan pidana kepada terdakwa. Kedua syarat yang disebutkan pada Pasal 183 KUHAP itu adalah adanya sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan adanya keyakinan hakim yang diperolehnya berdasarkan alat-alat bukti. Dengan demikian, pertama-tama harus ada sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. Tetapi, sekalipun sudah ada dua alat bukti yang sah, hakim tidak dapat
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects