Top PDF ANALISIS UMPAN DAN WAKTU PENANGKAPAN BOTTOM GILL NET TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus sp.) DI PERAIRAN BEDONO, KABUPATEN DEMAK

ANALISIS UMPAN DAN WAKTU PENANGKAPAN BOTTOM GILL NET TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus sp.) DI PERAIRAN BEDONO, KABUPATEN DEMAK

ANALISIS UMPAN DAN WAKTU PENANGKAPAN BOTTOM GILL NET TERHADAP HASIL TANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus sp.) DI PERAIRAN BEDONO, KABUPATEN DEMAK

Pengaruh perbedaan umpan pada alat tangkap bottom gill net dengan pemberian umpan petek asin dan petek essens sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan Rajungan dengan panjang karapas yang telah disesuaikan oleh PERMEN KP No. 1 tahun 2015 dimana petek essens mendapatkan hasil terbanyak dengan panjang karapas mencapai 11,1 – 13 cm dibandingkan dengan petek asin. kandungan kimia pada petek essens sangat disukai pada Rajungan dewasa dimana umpan petek essens aroma yang dikeluarkan lebih kuat dibandingakan dengan petek asin, aroma yang ditimbulkan pada umpan petek essens memicu datangnya Rajungan kedalam alat tangkap dimana Rajungan dewasa menyukai aroma yang dikeluarkan oleh petek essens, essens yang digunakan adalah umpan essens udang, udang sendiri merupakan jenis ikan yang hidup didasar perairan selain itu aroma yang ditimbulkan pada petek essens lebih disukai pada Rajungan dibandingan hanya memakan udang segar. Rajungan sendiri adalah pemakan ikan-ikan dasar dimana biasanya Rajungan lebih terangsang untuk memakan hewan-hewan dasar. Hal ini diperkuat oleh Baskoro dan efendi (2005) dalam Fitri (2011), pada umunya jenis ikan nocturnal mempunyai umpan dengan bau yang kuat, hal tersebut mengindikasikan bahwa jenis ikan noctornal memiliki sense organ yang dominan digunakan dalam aktivitasnya adalah organ penciuman dan organ penglihatan. Menurut Kangas (2000), Rajungan merupakan organisme oportunistik, karnivora pemakan ikan dasar dan scavenjer.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbedaan Umpan dan Kedalaman Perairan pada Bubu Lipat terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) di Perairan Betahwalang, Demak

Perbedaan Umpan dan Kedalaman Perairan pada Bubu Lipat terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) di Perairan Betahwalang, Demak

Potensi perikanan di Desa Betahwalang yaitu produksi budidaya ikan laut dan tambak. Jenis ikan yang diproduksi antara lain: rajungan 253 ton/tahun, tengiri 25 ton/tahun, tongkol 20 ton/tahun, dan kepiting 8,5 ton/tahun (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, 2012). Rajungan merupakan salah satu komoditi perairan yang mempunyai nilai jual tinggi, yang sampai saat ini produksinya sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan. Nelayan di Desa Betahwalang sebagian besar menggunakan 3 alat tangkap yaitu bubu lipat, arad, dan gill net. Alat tangkap yang mendominasi adalah bubu lipat. Alat tangkap bubu lipat merupakan alat penangkap ikan yang dipasang secara tetap (pasif) di dalam air untuk jangka waktu tertentu yang memudahkan ikan masuk dan mempersulit keluarnya. Bubu lipat menangkap rajungan yang masih dalam keadaan segar, hidup, serta utuh bagian tubuhnya, sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Analisis Perbandingan Hasil Tangkapan Bottom Set Gill Net Dengan Umpan Ikan Petek Segar Dan Asin (Leiognathus SP.) Di Perairan Jepara Jawa Tengah

Analisis Perbandingan Hasil Tangkapan Bottom Set Gill Net Dengan Umpan Ikan Petek Segar Dan Asin (Leiognathus SP.) Di Perairan Jepara Jawa Tengah

Dari gambar diatas menujukkan hasil tangkapan per jenis dan berat ikan demersal dari ketiga perlakuan. Hasil tangkapan yang dominan adalah Ikan kerapu (Epinephelus tauvina), Ikan beloso (Saurida tumbil) dan Ikan kurisi (Holocentrus ruber). Untuk jenis ikan lebih banyak tertangkap pada umpan ikan petek asin. Rajungan (Portunus pelagicus) dan Udang ronggeng ronggeng (Paneus sp) lebih banyak tertangkap pada umpan ikan petek asin. Untuk jenis ikan lebih banyak tertangkap pada umpan ikan petek asin dikarenakan umpan ikan petek asin memiliki bau yang menyengat pada saat direndam dan juga ikan lebih cepat mendeteksi
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BIOLOGI DAN PARAMETER POPULASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus)  DI PERAIRAN BONE DAN SEKITARNYA

BIOLOGI DAN PARAMETER POPULASI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BONE DAN SEKITARNYA

Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a local as well as export commodity which has high price. Study on biology and population parameters of blue swimming crab is rare. Therefore, a study in order to maintenance the potential yield of blue swimming crab resource is needed. Study on biology and population parameters of blue swimming crab has been conducted in the Bone and adjacent waters, based on carapace width frequencies data which was collected since February to December 2011. Population paremeters of the blue swimming crab were analysed by using FISAT (FAO-Iclarm Stock Assessment Tool) II. The result showed that carapace width at first maturity (CWm) of the crab was 71,63 mm at the range between 69,36–73,97 mm. The sex ratio of male and female showed an unequal. Spawning season of the crab occurred all year round with a spawning peak in May and December. The male and female carapace width asymtotic (CW”) was 159 mm and 154 mm, total mortality (Z) 1,27/year and 1,08/year, natural mortality (M) 1,33/year and 1,21/ year, fishing mortality (F) 7,88/year and 5,69/year, respectively. Exploitation rate (E) for male and female was 0,82 and 0,78, respectively which indicated the over-exploitation, so that a management of the crabs to maintenance its potential yield shoud be applied.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Keragaan reproduksi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Lampung Timur

Keragaan reproduksi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Lampung Timur

Nisbah kelamin jantan dan betina secara keseluruhan selama bulan Juni sampai Oktober adalah 1:0.79 sehingga diperoleh hasil bahwa rasio kelamin jantan dan betina secara keseluruhan tidak seimbang setelah diuji dengan uji “Chi - Square” pada taraf nyata 0 .05. Berdasarkan Effendie (2002) perbandingan nisbah kelamin di alam tidak akan mutlak yang dapat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, keseimbangan rantai makanan dan kepadatan populasi. Menurut Potter dan de Lestang (2000) rajungan betina sebelum memijah tidak menetap di perairan pantai sehingga dapat menyebabkan rajungan betina tidak mudah tertangkap dibandingkan jantan. Pernyataan dari Thomson (1951); Weng (1992) memyatakan bahwa rajungan (P. pelagicus) betina lebih sering ditemukan di daerah yang memiliki substrat berpasir.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG DAN SEKITARNYA

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN BETAHWALANG DAN SEKITARNYA

Betahwalang merupakan wilayah pesisir dengan mayoritas penduduk yang memanfaatkan sumberdaya rajungan. Oleh karena itu untuk menjaga kelestarian jenis kepiting rajungan diperlukan pengelolaan berkelanjutan dan konservasi, sehingga dibutuhkan informasi yang cukup tentang perkembangan produksi tangkapan nelayan dan ukuran rajungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan dan hubungan morfometrik rajungan, sex rasio, hubungan morfometrik terhadap fekunditas, serta tingkat kematangan dan indeks kematangan gonad rajungan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014-Februari 2015 di Perairan Betahwalang, Demak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Ukuran sampel untuk pengamatan morfometri dan TKG rajungan betina diambil sebesar 10% dari total jumlah rajungan yang didaratkan (917 ekor rajungan jantan dan 1013 ekor rajungan betina dari total jumlah tangkapan sebesar kurang lebih 9170 ekor rajungan jantan dan 10.130 ekor rajungan betina). Sampel untuk pengamatan fekunditas dan IKG diambil sebesar 10% dari total jumlah rajungan betina yang tertangkap (102 ekor). Sampling dilakukan per minggu secara berurutan di Perairan Betahwalang dengan tujuan mendapatkan data yang berurutan dan berkesinambungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan rajungan (Portunus pelagicus) memiliki nilai b sebesar 3,166, artinya pertumbuhan rajungan bersifat alometrik positif dengan sex rasio 1:1,1. Ukuran rajungan pertama kali tertangkap adalah 122 mm. Hasil analisa regresi menunjukkan bahwa fekunditas rajungan berbanding lurus dengan bertambahnya ukuran berat dan lebar karapas. Hasil pengamatan tingkat kematangan gonad selama bulan November 2014-Februari 2015 mengindikasikan telur rajungan berada pada kondisi ovigerous dan non-ovigerous dengan nilai indeks kematangan gonad yang cukup tinggi dan ukuran pertama kali matang gonad sebesar 136 mm.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) dengan Bubu Lipat di Perairan Bungko, Kabupaten Cirebon - Effect Of Bait Type Different Against Catch Crab (Portunus Pelagicus) By Folding Traps In Bungko Waters, Cirebo

Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) dengan Bubu Lipat di Perairan Bungko, Kabupaten Cirebon - Effect Of Bait Type Different Against Catch Crab (Portunus Pelagicus) By Folding Traps In Bungko Waters, Cirebo

Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis ini melalui pengelolaan sumberdaya rajungan dengan jalan membatasi penangkapan dan mengusahakan pembudidayaannya. Rajungan tergolong hewan dasar laut/benthos dan dapat berenang ke dekat permukaan laut pada malam hari untuk mencari makan. Hewan ini juga sering disebut swimming crab yang artinya kepiting berenang. Beberapa ciri untuk membedakan jenis kelamin rajungan adalah warna bintik, ukuran dan warna capit dan apron atau bentuk abdomen. Karapas betina berbintik warna abu- abu atau cokelat. Capitnya berwarna abu-abu atau cokelat dan lebih pendek dari jantan. Karapas jantan berwarna biru terang, dengan capit berwarna biru. Apron jantan berbentuk T. Pada betina muda yang belum dewasa, apron berbentuk segitiga atau triangular dan melapisi badan, sedangkan pada betina dewasa, apron ini membundar secara melebar atau hampir semi- circular dan bebas dari ventral cangkang (Fish, 2000).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

POLA MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP (Season And Patterns of Catching Swimming Crab (Portunus pelagicus) in Pangkep Waters Regency)

POLA MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN KABUPATEN PANGKEP (Season And Patterns of Catching Swimming Crab (Portunus pelagicus) in Pangkep Waters Regency)

Pemanfaatan sumberdaya rajungan merupakan sebuah tantangan besar yang memerlukan solusi tepat, sehingga diperlukan suatu pengelolaan tepat. Salah satu dianta- ranya adalah memahami faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada sum- berdaya rajungan yakni dinamika daerah penangkapan rajungan dan pola musim raju- ngan. Menurut Fauzi dan Anna, (2002) bahwa keberlanjutan merupakan kata kunci dalam pembangunan perikanan yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi sumberdaya dan kesejahteraan masyarakat perikanan itu sendiri. Pola musim rajungan dipengaruhi oleh jumlah rekruitmen yang dihasilkan oleh setiap individu rajungan di daerah penangkapan. Setiap daerah penangkapan rajungan tidak ada yang bersifat tetap, selalu berubah, pergeseran dan berpindah mengikuti pergerakan kondisi lingkungan, yang secara alamiah rajungan akan memilih habitat yang lebih sesuai. Sedangkan habitat tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi atau parameter oseonografi perairan seperti suhu permukaan laut, salinitas, oksigen, pH dan kedalaman dan sebagainya (Laevastu and Hayes 1981; Butler et al. 1988; Zainuddin et al. 2006). Hal ini berpengaruh pada dinamika atau pergerakan air laut baik secara horizontal maupun vertikal yang pada gilirannya mempe- ngaruhi distribusi dan kelimpahan rajungan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

META ANALISIS PENGARUH TEKANAN PENANGKAPAN TERHADAP UKURAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK BANTEN

META ANALISIS PENGARUH TEKANAN PENANGKAPAN TERHADAP UKURAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI TELUK BANTEN

Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is an important economical fishery commodity for fishermen in Banten Bay that are caught using gill nets and collapsible traps. The increasing of fishing pressure has highly potential to reduce the quality of the catch as exposed in previous studies. However, the comprehensive, and time series analysis of the previous research results have not been conducted. The purpose of this study is to analyze the variations of blue swimming crab caught in Banten Bay through a combination of meta-analysis techniques, fishing trials and field obser- vations to determine the effect of fishing activities on swimming crab sizes, and evaluate the status of swimming crab fisheries in Banten Bay. Standard mean difference from 10 different studies was used as a meta-analysis parameter. The results of the meta-analysis showed that fishing activities were conducted from 2004 to 2018 had a significant effect on the decreasing of the swimming crab size. The average of swimming crab carapace width caught in 2019 approximately 121.66 mm. The proportion of legal swimming crabs in 2014, 2015 and 2019 was more than 80%, so that the status of swimming crab fisheries in Banten Bay is still environmentally friendly.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Studi Pengaruh Perbedaan Konstruksi  Mulut Bubu Lipat Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Perairan Karangsong, Indramayu

Studi Pengaruh Perbedaan Konstruksi Mulut Bubu Lipat Terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Perairan Karangsong, Indramayu

merupakan komoditas perikanan ekonomis tinggi yang telah lama diminati oleh masyarakat baik di dalam maupun luar negeri dengan harga relatif mahal (Rp. 35.000– 50.000/kg daging). Negara tujuan ekspor rajungan antara lain Jepang, Singapura dan Amerika (Aminah 2010). Permintaan rajungan yang begitu besar harus sejalan dengan peningkatan jumlah produksi rajungan. Rajungan memiliki daerah penyebaran yang luas meliputi seluruh perairan Indonesia dari Samudra Hindia sampai Samudra Pasifik. Rajungan juga banyak ditemukan pada daerah dengan kondisi perairan yang sama dengan kepiting bakau (Scylla serrata). Habitat rajungan menurut Moosa et al. (1980) bermacam-macam seperti pantai berpasir, pantai pasir berlumpur dan sekitar bakau, namun lebih menyenangi perairan yang mempunyai dasar pasir berlumpur. Rajungan seringkali ditemui di beberapa daerah di Indonesia yang sesuai dengan habitatnya, salah satunya di perairan Karangsong Indramayu. Perairan Karangsong Indramayu merupakan perairan dengan substrat lumpur atau pasir berlumpur yang merupakan habitat dari rajungan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Karakteristik bioekologi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Laut Kabupaten Brebes

Karakteristik bioekologi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Laut Kabupaten Brebes

Tubuh bagian dorsoventral rata dan lebih lebar daripada panjangnya. Bentuk tubuh ini memungkinkan sebagian besar jenis crab termasuk rajungan dapat berjalan kesamping bahkan jenis rajungan dapat berenang dengan baik. Menurut Barnes (1987) jenis kepiting dari famili Portunidae memiliki kemampuan berenang paling baik jika dibandingkan krustacea lainnya meskipun termasuk organisme bentik. Di bagian anterolateral terdapat duri-duri yang berjumlah sembilan buah. Duri ke-9 merupakan duri terbesar yang terletak di sisi karapas. Seperti umumnya ordo decapoda rajungan memiliki 5 pasang kaki jalan (periopod), dan satu diantaranya berubah menjadi cheliped atau capit yang berfungsi menangkap mangsanya. Kaki jalan ke-5 dimodifikasi menjadi kaki pendayung yang berfungsi untuk berenang (Barnes,1987; Webber dan Thurman 1991) (Gambar 4). Pada Seksi Brachiura, uropoda biasanya tidak ada, abdomennya direduksi dan menempel dengan kuat di bawah torak atau dada (Hegner dan Engemann, 1970; Barnes,1987; Oemarjati dan Wardhana, 1990; Webber dan Thurman 1991). Tepat dibawah karapasnya terdapat beberapa organ penting seperti gonad, insang, kelenjar pencernaan dan jantung.
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Analisis Teknis Dan Finansial USAha Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Dengan Alat Tangkap Bubu Lipat (Traps) Di Perairan Tegal

Analisis Teknis Dan Finansial USAha Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Dengan Alat Tangkap Bubu Lipat (Traps) Di Perairan Tegal

Usaha penangkapan ikan merupakan kegiatan ekonomi yang dipengaruhi oleh faktor produksi dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Usaha penangkapan dikatakan berhasil apabila mendapatkan keuntungan yang maksimal bagi pelaku usahanya. Bubu lipat adalah alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Tegal untuk menangkap rajungan. Rajungan merupakan komoditi perikanan yang memiliki nilai jual tinggi, baik sebagai komoditi lokal maupun komoditi ekspor. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk menganalisa aspek teknis alat tangkap bubu lipat (Traps) di Perairan Tegal, menganalisa pendapatan, biaya dan keuntungan usaha penangkapan, menganalisa tingkat kelayakan finansial usaha penangkapan rajungan dengan alat tangkap bubu lipat (Traps) di Perairan Tegal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 hingga Januari 2014 di Desa Suradadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan metode pengambilan sampel snowball sampling. Model analisis data menggunakan analisis kelayakan usaha dengan menggunakan beberapa indikator diantaranya NPV, B/C Ratio, IRR, dan payback period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pendapatan usaha penangkapan menggunakan bubu lipat sebesar Rp 73.867.733 per tahun dan keuntungan rata-rata sebesar Rp. 12.971.844 per tahun. Usaha penangkapan tersebut layak untuk dijalankan, karena nilai NPV usaha tersebut bernilai positif dengan nilai NPV Rp 34.025.723 ± Rp 52.554.963 (rata-rata Rp. 42.178.564); IRR 53 % - 66 % (rata-rata 61 %); payback period 3,7 ± 5,0 tahun (rata-rata 4,4 tahun); dan B/C Ratio 0,13 ± 1,18 (rata-rata 1,15). Hal ini membuktikan bahwa usaha penangkapan tersebut layak dijalankan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pola Musim Dan Daerah Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Di Perairan Kabupaten Pangkep (Season and Patterns of Catching Swimming Crab (Portunus Pelagicus) in Pangkep Waters Regency)

Pola Musim Dan Daerah Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Di Perairan Kabupaten Pangkep (Season and Patterns of Catching Swimming Crab (Portunus Pelagicus) in Pangkep Waters Regency)

Analisis data yang dilakukan adalah menganalisis pola musim penangkapan raju- ngan. Dalam pola musim penangkapan diten- tukan dengan menggunakan teknik analisis deret waktu (time series) terhadap hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan kuartalan rajungan selama enam tahun terakhir. Penentuannya menggunakan metode rata-rata bergerak (moving average), sebagaimana diutarakan oleh Wiyono (2001) dikutip Ramang (2011) sebagai berikut: 1) Menyusun data de- ret waktu CPUE kuartal pertama tahun ke (n) hingga kuartal ke (n) tahun (n), ; b) Menyusun rata-rata bergerak CPUE (n) kuartalan (RG) ; c) Menyusun rata-rata bergerak CPUE terpusat (RGP); c) Menghitung rasio rata-rata untuk tiap kuartal (Rb) dan d) Menyusun nilai rata-rata dalam satu matrik berukuran j x i yang disusun untuk setiap kuartal dimulai Kuartal III - I, kemudian menghitung rata-rata atau variasi musim dan selanjutnya menghitung indeks musim penangkapan antara lain: 1) Rasio rata- rata untuk kuartal ke-i (RRB); 2) Jumlah rasio rata-rata kuartalan (JRRB) dan 3) Indeks Musim Penangkapan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kajian Stok Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Analisis Frekuensi Ukuran di Perairan Pesisir Lampung Timur

Kajian Stok Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Analisis Frekuensi Ukuran di Perairan Pesisir Lampung Timur

Nilai L ∞ menunjukkan bahwa ukuran rajungan lebar karapas maksimum secara teoritis sepanjang hidup alaminya yaitu sebesar 191.00 mm. Nilai K menunjukkan kecepatan pertumbuhannya untuk mencapai ukuran maksimal dan diperoleh dari nilai dL/dt pada ukuran maksimal. Semakin besar nilai K maka semakin capat pertumbuhan rajungan untuk mencapai ukuran maksimalnya. Hasil penelitian Sawusdee dan Songkrak (2009) dengan menggunakan fungsi pertumbuhan von Bertalanffy menunjukkan nilai L ∞ sebesar 167.00 mm untuk rajungan jantan dan 165.00 mm untuk rajungan betina dengan berdasarkan pada lebar karapas rajungan. Nilai-nilai L ∞ dan K menjadi acuan dalam perhitungan umur teoritis dan perumusan formula pertumbuhan von Bertalanffy. Nilai lebar maksimun secara teoritis rajungan jantan yang lebih besar dibandingkan dengan betina dipengaruhi oleh aktifitas reproduksi rajungan betina. Rajungan betina yang telah matang gonad akan menggunakan energi dalam tubuhnya untuk reproduksi sehingga pertumbuhannya mulai berkurang (Hui-Hua dan Chien-Chung 2003).
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat Yang Didaratkan Di TPI Tanjung Sari Kabupaten Rembang

Hasil Tangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Dengan Menggunakan Alat Tangkap Bubu Lipat Yang Didaratkan Di TPI Tanjung Sari Kabupaten Rembang

Bubu merupakan jenis alat tangkap ikan yang dioperasikan secara pasif di dasar perairan. Secara umum bubu dapat digolongkan sebagai alat penangkap yang berbentuk seperti kurungan atau berupa ruangan tertutup dimana ikan- ikan tidak dapat keluar lagi. Materi yang digunakan dalam penelitan adalah alat tangkap bubu lipat dan rajungan hasil tangkapan diukur berat untuk analisis struktur ukuran berat,produksi harian untuk menganalisis CPUE harian. Materi tersebut di dapat dari hasil melaut selama 1 bulan di Perairan Jawa Kabupaten Rembang. Metode yang digunakan dalam Penelitian ini adalah dengan metode deskriptif dan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sistematik random sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jumlah, jenis, dan kelimpahan rajungan yang tertangkap dengan alat tangkap bubu lipat di TPI Tanjung Sari,Rembang, mengetahui Catch Per Unit Effort (CPUE) rajungan dengan menggunakan alat tangkap bubu lipat di TPI Tanjung Sari, mengetahui strukur ukuran berat rajungan dengan menggunakan bubu lipat, mengetahui status atau tingkat pemanfaatan optimal produksi rajungan harian per satuan upaya penangkapan (CPUE). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa spesies rajungan yang didapat selama penelitian adalah Portunus sp. produksi alat tangkap bubu rajungan sebesar 591,76 kg, struktur ukuran berat dan frekuensi rajungan yang tertangkap dengan bubu didominasi oleh kelas kelas 161.1-187.9 gr yaitu frekuensi sebanyak 736 ekor dan terendah oleh kelas 300-326.8 gr dengan jumlah frekuensi sebanyak 27 ekor rajungan ,dan CPUE yang tertinggi pada hari ke-26 yaitu sebanyak 5,75 kg/trip dengan total dan CPUE terendah terjadi pada hari ke-7 yaitu sebesar 4,22 kg/trip dengan CPUE rata-rata 4,55 kg/tri dengan rata-rata total produksi 19,73kg/hari dan rata-rata CPUE 3,95kg/trip/hari. Dalam penyusunan konsep pengelolaan perlu diadakan pendataan produksi dan trip hasil tangkapan bubu sehingga perkembangan eksploitasinya dapat terus di pantau pada setiap tahunnya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

51. (C) ika istikasari   ANALISIS BIOEKONOMI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) MENGGUNAKAN PENDEKATAN SWEPT AREA DAN GORDON SCHAEFER DI PERAIRAN DEMAK

51. (C) ika istikasari ANALISIS BIOEKONOMI RAJUNGAN (Portunus pelagicus) MENGGUNAKAN PENDEKATAN SWEPT AREA DAN GORDON SCHAEFER DI PERAIRAN DEMAK

Model konsep Gordon-Schaefer kondisi Maximum Ekonomi Yield (MEY), pemanfaatan sumberdaya rajungan mencapai tingkat tangkapan 5.114 kg/tahun dengan tingkat upaya yang efisien 124 trip/tahun. Tingkat upaya tersebut tidak melebihi tingkat pengelolaan sumberdaya rajungan optimal, kondisi MSY yaitu mencapai 128 trip/tahun dengan tingkat tangkapan mencapai 5.120 kg/tahun. Tingkat upaya penangkapan pada kondisi MEY hasil tangkapan lebih kecil dibandingkan dengan kondisi saat MSY ataupun OAE namun menghasilkan keuntungan terbesar, yaitu sebesar Rp. 280.672.768,-. Dari segi ekonomi pendapatan maksimal terjadi pada kondisi Maximum Economic Yield (MEY) dengan tingkat upaya paling sedikit. Sedangkan kondisi yang paling tidak menguntungkan secara ekonomi yaitu pada level Open Access Equilibrium (OAE) dimana total pendapatan sama dengan total pengeluaran.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Studi Pertumbuhan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Perairan Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten

Studi Pertumbuhan Rajungan (Portunus pelagicus) Di Perairan Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten

Semua metode pendugaan stok pada intinya memerlukan masukan data komposisi umur. Beberapa metode numerik telah dikembangkan yang memungkinkan dilakukannya konversi atas data frekuensi panjang dalam komposisi umur. Analisis data frekuensi panjang bertujuan untuk menentukan umur terhadap kelompok-kelompok panjang tertentu. Analisis tersebut bermanfaat dalam pemisahan suatu distribusi frekuensi panjang yang kompleks kedalam sejumlah umur (Sparre & Venema 1999). Iversen (1996) in Sharif (2009) menyebutkan bahwa terdapat faktor pembatas dalam analisis frekuensi panjang yaitu penentuan umur mempersyaratkan banyak contoh dengan selang waktu yang lebar dan umur pada saat pertama kali tertangkap seharusnya diketahui untuk menditeksi kelompok umur pertama. Menurut Lagler (1997) in Sparre & Venema (1999), perbedaan ukuran antar jenis kelamin kemungkinan disebabkan oleh adanya faktor genetik.
Baca lebih lanjut

135 Baca lebih lajut

Studi Beberapa Aspek Reproduksi Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat

Studi Beberapa Aspek Reproduksi Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat

(2003) menemukan bahwa pada bulan Desember 2001-November 2002 nilai nisbah kelamin di periran Purirano adalah 1,06 : 1 dengan uji “Chi-square” pada taraf nyata 0,05 secara keseluruhan seimbang atau mendekati nisbah kelamin teoritis 1 : 1. Menurut Aslan et al. (2003) jumlah hasil tangkapan rajungan jantan yang lebih banyak dibandingkan betina sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Yanti (1999) in Aslan et al. (2003) di perairan pulau Saungi, Sulawesi Selatan. Hal ini disebabkan karena rajungan betina pada saat-saat tertentu sebelum memijah tidak menetap di perairan pantai atau muara- muara sungai seperti rajungan jantan (Potter dan de Lestang 2000), sehingga kalaupun tertangkap kemungkinan jumlahnya tidak sebanyak rajungan jantan. Nilai nisbah kelamin pada tiap bulan berkisar antara 0,31-1,91 dengan rata-rata nisbah kelamin 0,93. Perubahan komposisi kelamin dapat dilihat pada Gambar 2. Nilai nisbah kelamin terkecil terdapat pada bulan September (0,31) dan nilai terbesar terdapat pada bulan Desember (1,91). Jika melihat hasil uji “Chi-square” pada taraf nyata 0,05 diperoleh hasil bahwa nisbah kelamin setiap bulannya tidak seimbang. Menurut Hill (1982) komposisi nisbah kelamin akan mengikuti perubahan musim pemijahannya. Pada Gambar 2 terlihat perubahan komposisi mulai bulan Februari, yaitu komposisi betina di perairan mulai menurun
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Distribusi Geospasial Parameter Lingkungan Dan Analisis Kesesuaian Daerah Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Di Perairan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu

Distribusi Geospasial Parameter Lingkungan Dan Analisis Kesesuaian Daerah Penangkapan Rajungan (Portunus Pelagicus) Di Perairan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu

Konsentrasi MPT di musim peralihan 1 (2014) berada pada selang 26.5 - 182.4 mg/l. Musim peralihan 1 masih dipengaruhi oleh angin musim Barat dimana angin bergerak dari Utara Barat Daya yang memiliki tekanan udara yang tinggi dari pada arah Selatan dan membawa uap-uap air. Kondisi ini berpotensi turun hujan yang dikenal juga sebagai musim hujan bagi penduduk Indonesia. Dimusim berikutnya (musim Timur) konsentrasi MPT berada pada selang 27.3- 76.5 mg/l. Terlihat ada perbedaan interval kedua musim ini, ini dikarenakan musim Timur sudah dipengaruhi oleh angin musim Timur. Pada angin musim Timur, angin bertiup dari arah Selatan ke Tenggara dengan sedikit uap air. Ini dikenal dengan musim kemarau oleh penduduk Indonesia. Diduga hubungan curah hujan terhadap naiknya konsentrasi MPT di perairan Pulau Lancang akibat dorongan air sungai yang bermuara ke laut di sekitar Teluk Jakarta yang membawa sampah-sampah organik maupun anorganik yang tertahan di mulut sungai. Kebiasaan umumnya masyarakat sekitar pantai menjadikan sungai sebagai “tempat sampah bersama”. Sampah -sampah yang tertahan di mulut-mulut di musim kemarau kemudian kemudian terdorong akibat debit air yang lebih besar di musim hujan. Pola naik dan turunnya konsentrasi MPT dilihat dari interval masing-masing, hampir menunjukkan pola yang sama. Di musim peralihan 2 (2014) interval MPT pada 37-112.2 mg/, selang konsentrasi MPT menyerupai konsentrasi di musim Timur karena masih sama-sama dipengaruhi angin musim Timur. Selanjutnya di musim Barat 2015, interval konsentrasi MPT naik pada interval 46-432,735.2 mg/l. Kemungkinan tingginya angka tersebut adalah sampah-sampah yang menutupi permukaan laut yang dibaca oleh sensor satelit yang mengakibatkan tingginya nilai refrektansi. Memasuki musim Barat-Timur 2015, prediksi nilai MPT dari satelit menunjukkan penurunan mendekati normal di angka 17- 91.5 mg/l. Kemudian dimusim berikutnya (musim Timur 2015), sebaran MPT kembali normal pada 28-109 mg/l (Gambar 20).
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN JARING INSANG DASAR (BOTTOM GILLNET) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK

ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN DENGAN JARING INSANG DASAR (BOTTOM GILLNET) DI PERAIRAN BETAHWALANG, DEMAK

Konstruksi jaring rajungan pada bagian badan jaring (webbing) terbuat dari bahan PA monofilament berwarna putih transparan dengan panjang 60 meter, lebar 1 meter dan berdiameter 0,2 mm. Besar mata jaring (mesh size) berkisar 3 inchi atau 7,4 cm dalam keadaan renggang. Mata jaring vertikal sebanyak 1680 mata sedangkan horizontal sejumlah 11 mata jaring. Pelampung tanda yang digunakan sejenis sterofoam dengan tambahan bendera. Sedangkan pada pemberat yang digunakan yaitu timah dengan jarak antar pemberat berkisar 21 cm, dengan jumlah pemberat timah sebanyak 375 buah.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects