Top PDF ANALISIS PENAWARAN EKSPOR CPO (CRUDE PALM OIL) INDONESIA

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR CPO (CRUDE PALM OIL) INDONESIA

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR CPO (CRUDE PALM OIL) INDONESIA

Keywords: penawaran, ekspor , CPO, regresi ABSTRAK Kelapa sawit di Indonesia merupakan komoditas primadona , dimana salah satu produknya adalah CPO. Peluang pasar CPO di pasar internasional dari sisi konsumsi diperkirakan masih tumbuh sekitar 3,5% – 4,5% per tahun, sedangkan dari segi perdagangan sekitar 3,8% per tahun. Ekspor CPO Indonesia pada dekade terakhir meningkat dengan laju antara 7 – 8% per tahun.

2 Baca lebih lajut

Analisis Determinan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa

Analisis Determinan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa

1. Vent For Suplus Teori Vent for Suplus pada intinya lebih menekankan pada sisi penawaran dengan dasar pemikiran yang sama dengan pemikiran yang melandasi teori penawaran. Teori ini menyatakan bahwa suatu Negara akan mengekspor produk-produk yang dibuat apabila terjadi kelebihan supply dipasar dalam negeri. Kelebihan stok dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya konsumsi dalam negeri berkurang karena berbagai hal, sementara volume produksi tetap tidak berubah. Teori tersebut mengatakan bahwa suatu Negara akan mengekspor produk yang dibuatnya apabila terjadi exces supply (kelebihan stok) di dalam negeri. Kelebihan stok bisa terjadi karena berbagai hal misalnya, konsumsi dalam negeri berkurang, pendapatan masyarakat, atau karena produk tersebut sudah tidak diminati di dalam negeri, atau kelebihan stok akibat kondisi panen raya.
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA PERIODE

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA PERIODE

Saran yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: (1) Pelaku usaha CPO diharapkan dapat memanfaatkan keadaan ini, karena berapapun tingkat harga CPO di pasaran internasional, tidak mempengaruhi tingkat kebutuhan konsumen akan CPO Indonesia, (2) Pelaku usaha CPO diharapkan mampu memanfaatkan keadaan ini dengan menambah volume penawaran CPO, (3) Pemerintah dan pelaku usaha CPO diharapkan memperhatikan dan menjadikan kurs sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan volume ekspor CPO Indonesia, dan (4) Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan tidak perlu memperhatikan bagaimana pergerakan GDP dunia dalam menentukan volume ekspor CPO Indonesia.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Analisis penawaran crude palm oil (CPO) Indonesia: Pendekatan error correction model

Analisis penawaran crude palm oil (CPO) Indonesia: Pendekatan error correction model

meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2007 dari 17,65 juta ton produksi CPO, sebesar 11,88 juta ton diekspor atau sekitar 67,30 persen dan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Gambar 4.5 menunjukkan bahwa pada tahun 1998 ekspor CPO Indonesia mengalami penurunan, padahal saat itu harga CPO dunia naik yaitu mencapai rata-rata US$ 672/ton. Hal ini terjadi akibat adanya penetapan pajak ekspor hingga mencapai 60 persen yang diberlakukan oleh pemerintah untuk menjamin ketersediaan minyak sawit dalam negeri, karena lambannya proses penyesuaian produksi CPO untuk mengimbangi tingginya permintaan impor dari dunia, sehingga jika dilihat pada Gambar 4.1, terjadi penurunan ekspor, sedangkan konsumsi domestik meningkat.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Analisis Volatilitas Dan Hubungan Harga Spot-Futures Dengan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia

Analisis Volatilitas Dan Hubungan Harga Spot-Futures Dengan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia

Besarnya ekspor ini tidak terlepas dari pergerakan harga CPO. Adanya pergerakan harga yang berfluktuasi akan berdampak pada kinerja ekspor CPO terutama untuk penawaran ekspor. Seiring dengan semakin pentingnya peran komoditi CPO bagi perekonomian Indonesia, pemerintah perlu menjaga bahkan meningkatkan kontribusi dari komoditi CPO. Kestabilan dan peningkatan harga CPO menjadi penting untuk menjadi perhatian Pemerintah, karena selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yaitu sebagai bahan baku utama dari industri minyak goreng, CPO juga memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara melalui kegiatan ekspor. Oleh karena itu perlu memperhatikan bagaimana pengaruh harga dan variabel lain seperti produksi CPO, nilai tukar dan harga minyak dunia terhadap ekspor CPO. Bila produksi meningkat maka penawaran ekspor juga akan meningkat. Variabel nilai tukar sangat penting karena harga barang-barang ekspor di pasar internasional dihitung dengan menggunakan satuan mata uang asing. Ekspor CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak bumi, karena selain minyak bumi merupakan faktor produksi penting dalam industri, peran minyak nabati sebagai sumber bahan bakar alternatif di masa datang juga semakin meningkat.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran Ekspor CPO Indonesia ke India (Periode Analisis Tahun 1989-2010)

Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran Ekspor CPO Indonesia ke India (Periode Analisis Tahun 1989-2010)

DOBI (Deterioration Of Bleachability Index) merupakan salah satu ketentuan dalam menentukan kualitas CPO. DOBI merupakan rasio dari kandungan karoten dan produk oksidasi sekunder pada CPO. Nilai DOBI berkorelasi dengan daya pemucatan, semakin rendah nilai DOBI, maka semakin sulit CPO untuk dipucatkan warnanya (bleaching) dan dihilangkan baunya (deodorisasi). Hal ini menyebabkan proses dan biaya pemurnian (refinery) yang dibebankan kepada industri di Negara pembeli menjadi lebih tinggi ketika nilai DOBInya rendah. Saat ini nilai DOBI Indonesia dibawah 2,5 dan masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan malaysia, yakni sebesar 2,8 (Siregar, 2009 6 ). Berdasarkan fakta-fakta tersebut posisi CPO Indonesia di dunia menjadi lemah. Sehingga, meskipun harga CPO di pasar internasional tinggi, Indonesia tidak dapat meningkatkan volume ekspornya. Hal ini dikarenakan kualitas CPO Indonesia tidak dapat memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh konsumen luar negeri.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR KAKAO INDONESIA

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR KAKAO INDONESIA

cukup lemah. Realisasi ekspor hanya bertumpu pada pasar yang terbatas dengan jumlah permintaan yang terbatas pula. Faktor lain yang barangkali turut memberikan andil dalam hal ini adalah tidak piawainya eksportir, pengusaha dan petani kakao Indonesia untuk meningkatkan kualitas kakao ekspor Indonesia, karena pada umumnya pengelolaan tanaman kakao di Indonesia umumnya belum dilakukan secara profesional, disamping proses pengolahan biji kakao yang masih bersifat tradisonal seperti pengeringan hanya dengan penyinaran matahari di alam terbuka sehingga kadar kandungan lemak sebagai suatu syarat seringkali tidak terpenuhi. Karenanya diakui bahwa besar volume ekspor kakao Indonesia setiap tahun hampir bisa dikatakan sebagai suatu yang bersifat statis dan bukan sebagai pemenang kompetisi di pasar persaingan dunia.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Determinan Ekspor CPO Indonesia

Determinan Ekspor CPO Indonesia

Data perkembangan ekspor komoditas subsektor perkebunan terus mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Neraca perdagangan internasional Indonesia untuk subsektor perkebunan mengalami surplus yang besar setiap tahunnya. Minyak kelapa sawit merupakan komoditi andalan utama ekspor perkebunan selain itu kapasitas ekspormya terus menunjukkan peningkatan selama periode tahun 2002-2005 dan nilainnya cukup tinggi. Penurunan permintaan ekspor produk pertanian Indonesia terjadi karena negara-negara tujuan ekspor terhadap komoditas pertanian Indonesia mengalami kontraksi dalam perekonomian. Penurunan dalam perekonomian ini menyebabkan turunnya daya beli masyarakat di negara tujuan ekspor terhadap produk ekspor Indonesia. Fluktuasi kurs dan kecenderungan mengalami pelemahan nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing dunia terutama dollar Amerika Serikat tidak mampu menjadi stimulus bagi kemajuan ekspor komoditas Indonesia terutama komoditas pertanian khususnya Crude Palm Oil. Melihat efek yang dapat ditimbulkan oleh krisis ekonomi terhadap perekonomian nasional, terutama permintaan ekspor Indonesia dan khususnya komoditas subsektor perkebunan terutama ekspor Crude Palm Oil maka kebijakan dan penanganan yang tepat serta kemampuan dalam memprediksi perekonomian nasional khususnya dan perekonomian global secara umum menjadi mutlak untuk diperhatikan dengan serius.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR KOPI DI INDONESIA TAHUN

ANALISIS PENAWARAN EKSPOR KOPI DI INDONESIA TAHUN

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekspor kopi di Indonesia. Data yang digunakan adalah data time series tahun 1984-2012. Alat analisis yang digunakan adalah metodel Error Correction Model Engle Granger (ECM-EG). Variabel dependen penelitian ini adalah volume ekspor kopi Indonesia sedangkan variabel independennya meliputi produksi kopi Indonesia, harga ekspor kopi Indonesia, harga kopi internasional, harga teh internasional, dan kurs (Rupiah/USD). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah produksi kopi Indonesia berpengaruh positif, harga ekspor kopi Indonesia berpengaruh positif, harga kopi internasional berpengaruh positif, harga teh internasional berpengaruh negatif, dan kurs berpengaruh negatif terhadap volume ekspor kopi Indonesia dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis Dampak Black Campaign Minyak Kelapa Sawit (CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia

Analisis Dampak Black Campaign Minyak Kelapa Sawit (CPO) Terhadap Volume Ekspor CPO Indonesia

Indonesia adalah salah satu produsen dan pengekspor CPO terbesar di dunia. Energi biodiesel adalah salah satu energi alternatif pengganti energi tidak terbaharui, dimana bahan baku utamanya adalah minyak mentah kelapa sawit atau lebih dikenal dengan nama Crude Palm Oil (CPO). Hal ini dapat merupakan salah satu faktor paling berpengaruh penyebab tingginya permintaan kelapa sawit di pasar dunia. Namun, dalam perdagangan internasional, konsumen yang memilih untuk membeli CPO sensitif terhadap berbagai isu negatif atau kampanye hitam (black campaign). Isu yang mengemuka adalah produksi kelapa sawit yang terus mengalami peningkatan di Indonesia dan Malaysia telah menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, antara lain konversi lahan dari hutan tropis, pemusnahan beberapa spesies, efek rumah kaca dan perubahan iklim. Isu-isu ini berdampak pada tidak stabilnya harga CPO dunia (Syaukat 2010; Widodo et al. 2010). Mulai tahun 2011, Uni Eropa (EU) memberlakukan EU Directive mengenai ketentuan emisi rumah kaca. Dalam aturan ini disebutkan bahwa EU tidak boleh mengimpor CPO untuk biofuel karena komoditas ini dianggap tidak memenuhi ketentuan pembatasan emisi, akibatnya CPO tidak bisa masuk ke pasar Uni Eropa (ICN 2009a).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

ANALISIS EKSPOR CPO SUMATERA UTARA.

ANALISIS EKSPOR CPO SUMATERA UTARA.

Hasil penelitian menunjukkan harga relative berpengaruh negatif terhadap ekspor CPO Sumatera Utara adalah inelastis yaitu sebesar -0,356, PDB Luar Negeri mempunyai respon [r]

25 Baca lebih lajut

ANALISIS EKSPOR MINYAK KELAPA SAWIT (CPO) INDONESIA KE BEBERAPA NEGARA TUJUAN EKSPOR TAHUN JURNAL

ANALISIS EKSPOR MINYAK KELAPA SAWIT (CPO) INDONESIA KE BEBERAPA NEGARA TUJUAN EKSPOR TAHUN JURNAL

10 KAJIAN PUSTAKA Jhon (2015), melakukan penelitian yang berjudul Analisis Determinan Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Adapun variabel yang dipakai dalam penelitian tersebut adalah nilai tukar rupiah, produksi CPO domestik, harga CPO dunia, harga ekspor CPO, pendapatan perkapita UE, produksi minyak makan UE, harga minyak mentah dunia. Dengan menggunakan analisis regresi dengan panel data, hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa harga ekspor CPO tidak signifikan terhadap ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa, hal ini disebabkan perubahan nilai tukar dapat terjadi setiap harinya yang tidak dapat diprediksi pastinya setiap nilai perubahan, tetapi untuk harga ekspor CPO sudah ditentukan sebelumnya dan dalam periode kedepannya karena telah diorder terlebih dahulu meliputi harga ekspor maupun volume ekspor. Maka berapapun nilai tukar yang terjadi tidak mempengaruhi harga ekspor.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

EKSPOR CRUDE PALM OIL CPO INDONESIA

EKSPOR CRUDE PALM OIL CPO INDONESIA

Di sisi lain, sedikitnya penyaluran kredit di bidang pertanian, khusunya di sektor perkebunan kelapa sawit ini pun turut mempengaruhi besarnya ekspor CPO. Di tahun 2005 saja, rata-rata jumlah kredit pertanian hanya sebesar 5.94 % dari total kredit nasional. Itu berarti, ketersediaan modal kerja untuk jangka panjang sangatlah terbatas. Sedikit sulit bagi pengusaha kelapa sawit untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya, hingga pada akhirnya jumlah ekspor pun bisa menurun. Hambatan lain yang dihadapi oleh pengusaha maupun eksportir adalah rumitnya birokrasi, khususnya menyangkut hal perizinan usaha atau proses ekspor. Tidak sedikit terjadi pungutan retribusi yang dilakukan oleh petugas terkait, yang pada akhirnya akan menambah biaya dan mengakibatkan harga kelapa sawit Indonesia kurang kompetitif. Di sisi lain, isu lingkungan atau eco-labelling pun turut menjadi penghambat bagi peningkatan ekspor CPO Indonesia. Beberapa negara maju seperti negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat saat ini menjadi sangat efektif dalam mengimpor komoditas ini. Mereka tidak menginginkan terjadinya perusakan hutan yang kemudian dijadikan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit. Saat ini negara- negara kawasan Eropa menggalakkan Black Campaign dimana kampanye ini mengatakan atau menyatakan bahwa Crude Palm Oil dari Indonesia merupakan CPO yang tidak ramah lingkungan. Black campaign terhadap CPO Indonesia di Eropa menyebabkan pemerintah Indonesia memfokuskan ekspor ke pasar Asia. Kendala dan hambatan-hambatan diatas merupakan faktor-faktor yang dapat mengurangi volume ekspor CPO Indonesia namun Kebutuhan Eropa terhadap minyak nabati masih tinggi sehingga ekspor CPO Indonesia masih akan mendominasi pasar CPO Uni Eropa.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ANALISIS DAYA SAING DAN TREND EKSPOR CPO INDONESIA DI PASAR INDIA DAN CHINA

ANALISIS DAYA SAING DAN TREND EKSPOR CPO INDONESIA DI PASAR INDIA DAN CHINA

Hasil analisis yang telah dilakukan pada ekspor turunan CPO di Pasar India menunjukkan Indonesia dan Malaysia telah memiliki daya saing berdasarkan keempat indeks, [r]

13 Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) DI INDONESIA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) DI INDONESIA

21 Sehingga ketika harga CPO mengalami penurunan maka jumlah CPO yang diminta juga akan mengalami kenaiakan. Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya yang dijelaskan pada tinjauan emperik, beberapa penelitian menggunakan variabel barang substitusi dari CPO seperti harga minyak kelapa, harga soybean, dan harga PKO, namundalm penelitian ini variabel yang digunakan sebagai barang substitusi dari CPO. Kopra merupakan komoditas dagang yang sangat penting sejak tahun 1880-an. Sejak tahun tersebut pula bangsa Eropa menggunakan kopra sebagai bahan utama pembuatan sabun dan mentega. Kopra hampir memiliki manfaat yang sama denga CPO dan kopra juga merupakan komoditas utama ekspor di Indonesia sehingga kopra dapat digunakan sebagai barang pengganti (substitusi) CPO, Jadi dalam penelitian ini akan diteliti bagai mana pengaruh antara barang pengganti (substitusi) terhadap ekspor CPO di Indonesia.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

ANALISIS DETERMINAN EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA KE UNI EROPA

ANALISIS DETERMINAN EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA KE UNI EROPA

Abstract : European Union (UE) is one of strategic alternative markets for Indonesia products especially for forest products and Crude Palm Oil (CPO). European Union is one of strategic alternative markers compared with other existing markets. Thus, the market can be expanded to other countries widely. Based on data of Oil World Annual & MBOP, the export of Indonesia on CPO (Crude Palm Oil) to some destination countries from 2002 until 2009 indicates that Indonesia's main exporting markets are namely European Union, India and China. In 2002 and 2007 the European Union is the second largest market for Indonesia, but starting from 2008, the EU (European Union) market has become a major market of Indonesia though Europe Union applies restricted policies on CPO (Crude Palm Oil) importing. The used data is secondary data which is obtained form Oil World Annual & MPOB, Statistical Centre, Bank of Indonesia (BI), World Bank, EBB of European Union (EU) and supporting data sources in 2000 until 2009. This research applies similarity structure known as Path Analysis which is equipped by AMOS Application or Analysis of Moment Structure. The result of this research indicates that exchange rate impacts possitively but not significantlly, domestic production of CPO impacts negativelly and insignificantly and world CPO prices impact possitvelly and significantlly towards export price of CPO. The export price of CPO impacts positively but insignificantly, exchange rate impacts positively and significantly, domestic production of CPO impacts positively and significantly, world price of CPO impacts negatively and insignificantly, per capita income impacts negatively and significantly, production of edible oil impacts positively and significantly, and World Crude Oil prices impacts negatively and significantly towards CPO exports of Indonesia.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis Respon Penawaran Ekspor Serat Sabut Kelapa Indonesia

Analisis Respon Penawaran Ekspor Serat Sabut Kelapa Indonesia

Potensi tersebut menurut Sudirman (2003) dilihat dari analisis keuangannya. Berdasarkan hasil analisis keuangan diketahui ternyata dengan modal sebesar Rp 100,50 juta dengan kapasitas produksi 500 Kg bahan baku kulit kelapa, maka pengusaha sabut kelapa akan menghasilkan produksi berupa serat sabut kelapa dan gabus. Keuntungan bersih yang diterima pengusaha sabut kelapa adalah sebesar Rp 5,13 juta per bulan. Menurut Nuraida (2003) apabila dilihat dari aspek keuangannya, pengelolaan usaha yang baik dan terarah dapat memberikan dampak usaha yang cukup likuid, solvable dan profitable. Hal ini berarti mencerminkan bahwa usaha serat sabut kelapa merupakan usaha yang memiliki prospek cerah dan wajar untuk dikembangkan.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Analisis Respon Penawaran Ekspor Serat Sabut Kelapa Indonesia

Analisis Respon Penawaran Ekspor Serat Sabut Kelapa Indonesia

Potensi tersebut menurut Sudirman (2003) dilihat dari analisis keuangannya. Berdasarkan hasil analisis keuangan diketahui ternyata dengan modal sebesar Rp 100,50 juta dengan kapasitas produksi 500 Kg bahan baku kulit kelapa, maka pengusaha sabut kelapa akan menghasilkan produksi berupa serat sabut kelapa dan gabus. Keuntungan bersih yang diterima pengusaha sabut kelapa adalah sebesar Rp 5,13 juta per bulan. Menurut Nuraida (2003) apabila dilihat dari aspek keuangannya, pengelolaan usaha yang baik dan terarah dapat memberikan dampak usaha yang cukup likuid, solvable dan profitable. Hal ini berarti mencerminkan bahwa usaha serat sabut kelapa merupakan usaha yang memiliki prospek cerah dan wajar untuk dikembangkan.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor kopi indonesia

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor kopi indonesia

Masalah rendahnya mutu kopi Indonesia yang diekspor merupakan masalah jangka panjang. Para petani harus diberikan pengarahan agar kopi yang dipanen merupakan kopi yang memiliki kualitas baik sehingga nilai tambah dari penjualan kopi tersebut bisa tinggi. Masukan-masukan itu bisa diberikan oleh instansi pemerintah yang berkeliling ke daerah penghasil kopi atau melalui agen pengumpul, karena mereka berinteraksi langsung dengan para petani kopi. Selain masalah kopi biji yang belum matang, masalah cacat kopi biji, serangga mati dan batu kerikil yang terdapat pada kopi biji Indonesia yang diekspor juga perlu mendapatkan perhatian. Apabila di dalam setiap karung kopi terdapat cacat dan benda-benda seperti itu, maka kopi Indonesia dikatakan bermutu rendah. Kopi biji bermutu rendah sangat merugikan perkopian Indonesia di pasar internasional.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

ANALISIS RESPON PENAWARAN EKSPOR SERAT SABUT KELAPA INDONESIA

ANALISIS RESPON PENAWARAN EKSPOR SERAT SABUT KELAPA INDONESIA

Menurut Gonarsyah (1987), perdagangan internasional mulai terjadi bilamana rasio harga domestik dari komoditas-komoditas yang berbeda di negara- negara yang bersangkutan tidak sama akibat dari adanya perbedaan dalam kurva kemungkinan produksi, bagaimanapun biaya produksinya. Suatu negara akan mengekspor (mengimpor) komoditas yang relatif (dibandingkan dengan komoditas lain) lebih murah (mahal) di dalam negeri daripada di luar negeri. Selain itu, faktor- faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional (ekspor - impor) suatu negara dengan negara lain adalah bersumber dari keinginan memperluas pemasaran komoditi ekspor, memperbesar penerimaan devisa bagi kegiatan pembangunan, adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara, tidak semua negara mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya dan karena adanya faktor selera dan pendapatan.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...