Top PDF ANALISIS LAJU PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII YANG DITANAM PADA BERBAGAI KEDALAMAN

ANALISIS LAJU PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII YANG DITANAM PADA BERBAGAI KEDALAMAN

ANALISIS LAJU PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII YANG DITANAM PADA BERBAGAI KEDALAMAN

Depth affect the level of intensity of light coming into the waters, so it is necessary to study to analyze the rate of growth of seaweed Kappaphycus alvarezii planted in different depths. This study was conducted in March-June 2013, which took place in the village of the District Laikang Mangarabombang KabupatenTakalar with 50o35.644'LS position and 119o155.565'BT. Equipment used includes fittings cultivation longline systems such as ris nylon rope (polyethylene Ø No. 10, 8, 5 and 2 mm), and a float ball. Other equipment includes an electric scales for weighting seaweed, In this study used a method of planting with long line system. Initial weight of seeds in one clump 50 grams. Spacing seaweed one to the other is 30 cm. Depth treatment consists of A = 20 cm, 50 cm and B = C = 100 cm with 3 repetitions. Measurement of seaweed growth is done by weighing the wet weight of seaweed in every seven days. To determine the effect of treatment on the growth of seaweed K. alvarezii analysis of variance (ANOVA). The average daily growth rate at a depth of 50 cm (4.750%), higher than the daily growth rate at a depth of 20 cm (4.427%), and at a depth of 100 cm (3.892%). Tukey's test results further show that the treatment depth of 20 cm differ significantly by treatment with a depth of 50 cm, and a depth of 100 cm, 50 cm depth treatment also significantly different from the treatment depth of 100 cm. The high growth rate in the treatment depth of 50 cm due to the depth of planting is expressly mempangaruhi seaweed growth on aspects of lighting (photosynthesis) and aspects of the supply of nutrients. Water quality parameters such as temperature, salinity, pH and CO2 is still in ideal conditions for the growth of seaweed K alvarezii.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERUBAHAN SEL RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIBUDIDAYAKAN PADA KEDALAMAN BERBEDA

PERUBAHAN SEL RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIBUDIDAYAKAN PADA KEDALAMAN BERBEDA

Perbedaan laju fotosintesis berpengaruh pada pertumbuhan thallus yang merupakan ukuran pertumbuhan rumput laut. Pertumbuhan thallus merupakan pertambahan ukuran sel atau perubahan dari keadaan sejumlah sel membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Pola pertumbuhan menyebabkan terjadinya penambahan jumlah massa sel penyusun thallus. (Hayashi, et.al., 2007). Selanjutnya ditambahkan bahwa kecukupan sinar matahari sangat menentukan kecepatan rumput laut

5 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN DAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIPELIHARA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PUNTONDO TAKALAR

PERTUMBUHAN DAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIPELIHARA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PUNTONDO TAKALAR

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut yang dipelihara dengan berbagai metode pada ekosistem padang lamun. Dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2011 di perairan Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Analisis kandungan karaginan rumput laut akan dilakukan di Laboratorium Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Wadah budidaya yang digunakan adalah keranjang plastik berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 45 x 32 x 17 cm berjumlah 15 buah ditempatkan pada berbagai kedalaman dari permukaan perairan pada kawasan padang lamun sesuai dengan metode budidaya yaitu 20 cm (permukaan), 100 cm (lepas dasar) dan 250 cm (dasar). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan metode budidaya dengan masing-masing 5 ulangan yaitu: (A) permukaan; (B) lepas dasar dan (C) dasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan kandungan karaginan tertinggi dihasilkan metode budidaya lepas dasar yakni masing-masing 1,54%/hari dan 44,8%, sedangkan terendah metode budidaya dasar masing-masing 1,14%/hari dan 39,9%.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PERENDAMAN DENGAN DETERJEN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) PADA SISTEM RAKIT APUNG

PENGARUH PERENDAMAN DENGAN DETERJEN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) PADA SISTEM RAKIT APUNG

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui laju pertumbuhan rumput laut Kappapicus alvarezii yang direndam dengan deterjen bubuk, deterjen krim, deterjen batangan dan kontrol. Penelitian ini menggunakan rakit apung yaitu terdiri dari 4 petak, masing-masing petak diisi dengan bibit rumput laut K. Alvarezii yang direndam dengan deterjen bubuk, deterjen krim, deterjen batangan dan perlakuan kontrol masing-masing 6 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah kualitas air, pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (LPS). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai hasil parameter kualitas air dapat mendukung pertumbuhan rumput laut K. Alvarezii sedangkan nilai rata-rata pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik dari semua perlakuan deterjen dapat memperlambat pertumbuhan rumput laut, pertumbuhan spesific tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 7,34 %.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Regenerasi Kalus Berfilamen Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Pada berbagai Perbandingan Zat Pengatur Tumbuh Auksin (Indole Acetic Acid) dan Sitokinin (Kinetin, Zeatin)

Regenerasi Kalus Berfilamen Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Pada berbagai Perbandingan Zat Pengatur Tumbuh Auksin (Indole Acetic Acid) dan Sitokinin (Kinetin, Zeatin)

Interaksi auksin-sitokinin dianggap penting untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan dalam jaringan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi auksin dan sitokinin yang tepat untuk regenerasi filamen kalus rumput laut K. alvarezii. Kultur filamen kalus dilakukan pada media cair dengan formulasi ZPT indole acetic acid (IAA) : kinetin : zeatin, dengan komposisi konsentrasi sebagai berikut : A (0,4:0:1) ppm; B (0,4:0,25:0,75) ppm; C (0,4:0,5:0,5) ppm; D (0,4:0,75:0,25) ppm; E (0,4:1:0) ppm; kontrol (tanpa ZPT). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan pengulangan masing-masing perlakuan 3 kali. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan harian, sintasan, kecepatan regenerasi, panjang tunas dan perkembangan morfologi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa formula ZPT terbaik adalah formula A dengan laju pertumbuhan harian 1,929%/hari, sintasan 83,33%, kecepatan regenerasi 41,67% dan rata-rata panjang tunas 44,59 µm. Tunas mulai terbentuk pada 15 hari masa kultur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

FREKUENSI PERENDAMAN TIRISAN RUMPUT LAUT SEBAGAI PUPUK CAIR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT LAUT (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) PADA WADAH TERKONTROL

FREKUENSI PERENDAMAN TIRISAN RUMPUT LAUT SEBAGAI PUPUK CAIR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT LAUT (KAPPAPHYCUS ALVAREZII) PADA WADAH TERKONTROL

Hasil penelitian sebelumnya melaporkan bahwa beberapa produk pupuk cair berbahan baku rumput laut yang beredar di beberapa negara, seperti Seasol di Australia (Tay ,dkk., dalam Sunarpi, dkk.,2011), Kelpak di Eropa (Beckett dan Van Staden dalam Sunarpi , dkk., 2011), SM3, SM6 dan Maxicrop di Amerika Serikat (Hankins dan Hockey 1990), Algaenzims di Meksiko (Sanchez et al. 2003) dan Algifert, Goemar GA14, Seaspray, Cytec dan Seacorp di India (Sivasankari,dkk., 2006), telah terbukti meningkatkan serapan unsur hara, sehingga dapat memacu pertumbuhan, perkembangan. Rumput laut mempunyai kandungan protein tinggi (4,4%-26% bobot kering), serat yang tinggi (31%-64,6% bobot kering), dan kaya akan kandungan mineral. Rumput laut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, antara lain: sebagai bahan makanan, obat-obatan dan sebagai pupuk tanaman (Waryat dan Kurniasih, 2002 dalam Kurniayu, 2007). Rumput laut mengandung bahan kimia seperti: kalium, klor, natrium, magnesium dan belerang (Winarno, 1990) .
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Respon Pertumbuhan Dan Warna Tallus Rumput Laut (Akmal) 30 RESPON PERTUMBUHAN DAN WARNA TALLUS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DI BUDIDAYAKAN BERBAGAI KEDALAMAN DI PERAIRAN LAIKANG TAKALAR

Respon Pertumbuhan Dan Warna Tallus Rumput Laut (Akmal) 30 RESPON PERTUMBUHAN DAN WARNA TALLUS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DI BUDIDAYAKAN BERBAGAI KEDALAMAN DI PERAIRAN LAIKANG TAKALAR

Hasil pengukuran parameter kualitas air budidaya rumput laut K. alvarezii pada setiap kedalaman budidaya di perairan Laikang ka- bupaten Takalar pada Tabel 2. Parameter pH perairan yang diperoleh selama penelitian berkisar 7,55-7,59. Kisaran pH air laut ini ternyata masih berada dalam ambang batas toleransi mendukung pertum-buhan rumput laut K. alvarezii. Hal ini sesuai dengan pernyataan Trono (1989), pH perairan terhadap pertumbuhan dan perkembangan rumput laut K. alvarezii 7,5–8,4. Kisaran sa- linitas yang didapatkan selama penelitian rata- rata 30,4 ppt. Nilai salinitas cenderung kon- stan karena diduga adanya aliran arus yang sedang dan merata sehingga memperlihatkan bahwa salinitas perairan ini cukup menunjang pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Suhu yang diperoleh selama penelitian berkisar 29,0-31,0 0C. Kisaran yang di-
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis laju pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam pada kedalaman berbeda

Analisis laju pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam pada kedalaman berbeda

Parameter lainnya yang juga penting dalam menentukan kualitas karaginan adalah viskositas. Viskositas merupakan faktor kualitas yang penting untuk zat cair dan semi cair (kental) atau produk murni. Viskositas merupakan ukuran dan kontrol untuk mengetahui kualitas dari produk akhir. Viskositas karaginan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi, suhu, tingkat dispersi kandungan sulfat, inti elektrik, keberadaan elektrolit dan non elektrolit, teknik perlakuan, tipe dan berat molekul. Rata-rata nilai viskositas yang diperoleh dalam penelitian ini berkisar dari 14.13 hingga 42.94 cP (Tabel 6). Nilai viskositas karaginan yang dihasilkan cenderung menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman tanam, namun kembali meningkat pada kedalaman 200 cm. Namun demikian, secara keseluruhan nilai viskositas yang diperoleh dari penelitian ini telah sesuai dengan baku mutu FAO yaitu ≥ 5 cP (FAO 2007). Penurunan nilai
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Analisis laju pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam pada kedalaman berbeda

Analisis laju pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang ditanam pada kedalaman berbeda

Nutrien utama yang dibutuhkan oleh alga untuk pertumbuhan dan perkembangannya adalah nitrogen dan fosfor. Ketersediaan unsur-unsur ini di laut terutama dikontrol oleh proses biogeokimia seperti produksi dan dekomposisi bahan organik biogenik (aktivitas biologis) dan laju penenggelaman bahan partikulat (Hirose dan Kamiya 2003). Dalam penelitian yang dilakukan, ditemukan kadar fosfat, ortofosfat dan amonium di lokasi budidaya yang meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman (Tabel 5). Mizuta et al. (2002) menyebutkan, ada korelasi positif antara peningkatan nitrogen di perairan dengan konsentrasi klorofil-a dan fikoeritrin pada alga merah. Oleh karena itu, diduga pada kedalaman 100 dan 150 cm merupakan lapisan air yang terbaik bagi alga K. alvarezii untuk menerima intensitas cahaya dan menyerap nutrien yang tersedia, sehingga produksi pigmen klorofil-a yang dihasilkan tinggi. Tingginya konsentrasi pigmen pada K. alvarezii juga dapat terlihat dari morfologi (warna)
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Pengaruh pencampuran kappa dan iota karagenan terhadap kekuatan gel dan viskositas karagenan campuran

Pengaruh pencampuran kappa dan iota karagenan terhadap kekuatan gel dan viskositas karagenan campuran

Karagenan merupakan salah satu hasil ekstrak rumput laut yang cukup penting. Karagenan adalah suatu zat yang dihasilkan oleh rumput laut dari kelas Rhodophyceae dan umumnya berbentuk tepung. Dalam industri, peranan karagenan tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan agar-agar maupun algin, terutama pada industri farmasi. Berdasarkan sifat-sifatnya, karagenan dapat digunakan sebagai pengemulsi, penstabil, pengental dan bahan pembentuk gel (Food Chemical Codex 1981). Karagenan dalam industri makanan dan minuman biasa digunakan sebagai dietic food dalam bentuk jeli. Susu kental manis dan yoghurt menggunakan karagenan sebagai pensuspensi, sedangkan dalam industri milk-gel (puding, custard, minuman kaleng) dan antacid-gel berfungsi sebagai gelling agent, demikian pula dalam water-gel, fish dan meat-geal dan gel pengharum ruangan berfungsi sebagai pembentuk gel. Pengunaan lain dari karagenan adalah sebagai binder pada pasta gigi, sebagai bodying agent pada cream lotion dan saus tomat, dan sebagai penstabil lemak dalam makanan ternak (Anggadiredja et al. 1993). Penggunaan karagenan akan bertambah makin luas dan makin banyak di masa yang akan datang, sehingga permintaan terhadap produksi rumput laut ini akan terus meningkat di masa mendatang.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK KIMIAWI PRODUK STIK RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii)

KARAKTERISTIK KIMIAWI PRODUK STIK RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii)

Kajian-kajian yang melaporkan tentang pemanfaatan rumput laut sebagai produk penganan stik, atau tentang formulasi bahan baku stik dari rumput laut yang dapat menghasilkan stik rumput laut yang terbaik dilihat dari karakteristiknya belum banyak dilakukan. Produk stik yang telah beredar di pasaran Gorontalo belum memiliki informasi mengenai karakteristik produk stik rumput laut K .alvarezii. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang karakteristik produk stik dari rumput laut K. alvarezii yang sebagai penganan ringan fortifikasi yang ditinjau dari karateristik organoleptik dan kimia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KULTUR PROTOPLAS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI LABORATORIUM

ISOLASI DAN KULTUR PROTOPLAS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI LABORATORIUM

IAA dan kinetin hanya mencapai 23 um dan 27 um pada hari ke delapan (Gambar 4). Zat pengatur tumbuh pada tanaman umumnya diperlukan sebagai komponen medium dan pertumbuhan diferensiasi kalus. Tanpa penambahan zat pengatur tumbuh daam medium pertumbuhan akan terhambat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali, pengaruh rangsangan auxin terhadap pertumbuhan protoplas menunjukkan adanya indikasi adanya tekanan osmotik, meningkatkan sintesa protein, meningkatkan permiabilitas sel terhadap air, dan melunakkan dinding sel yang diikuti dengan menurunnya tekanan pada dinding sehingga air dapat masuk kedalam sel dan meningkatkan volume sel, maka dengan demikian dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan (Hendaryono & Wijayani, 1994).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Transformasi Gen Kappa(Κ) Carrageenase Pada Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii

Transformasi Gen Kappa(Κ) Carrageenase Pada Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii

Tahap pertama dalam penelitian ini, adalah pembuatan vektor ekspresi gen dan penyediaan bakteri transforman sebagai kendaraan/biotransport (Muladno 2002). Gen κ -Carrageenase (sekitar 1300 bp) dikonstruksi pada vektor pMSH (pMSH/ κ -Car) dikendalikan oleh promoter 35S CaMV (sekitar 300 bp) di bagian depan dan terminator Nos (tNos; sekitar 400 bp) di bagian left border, sehingga total ukuran dari promoter 35S, gen κ -Car, sampai dengan tNos adalah sekitar 2.000 bp. Kesuksesan transformasi pMSH/ κ -Car ke Escherchia coli DH5α (vektor kloning) dan ke Agrobacterium tumefaciens (agen transformasi), dibuktikan hasil uji pada media selektif menunjukkan koloni bakteri transforman dapat tumbuh pada media selektif, sedangkan koloni non transforman tidak dapat tumbuh. Kemampuan koloni bakteri untuk tumbuh pada media selektif menunjukkan bahwa bakteri tersebut mengandung pMSH/ κ -Car (bakteri transforman). Hal tersebut sejalan dengan Muladno (2002); Tsen et al. (2002), dan Tu et al. (2005) bahwa apabila sel bakteri transforman yang membawa DNA rekombinan (DNA plasmid dan gen insersi) ditumbuhkan pada media dengan antibiotik marka seleksi, akan mampu berkembang biak membentuk koloni, sebaliknya sel bakteri yang tidak membawa plasmid gen insersi akan mati. Hasil uji dengan PCR koloni E. coli maupun A. tumefaciens transforman menggunakan primer 35S-Forward dan Tnos-Reverse menghasilkan fragmen sekitar 2.000 bp, sesuai ukuran mulai 35S, gen κ -Carrageenase, sampai tNos. Hal ini menunjukkan transformasi gen κ -Carrageenase (pMSH/ κ -Car) ke biotranspor E. coli dan A. tumefaciens telah berhasil dilakukan dan siap digunakan lebih lanjut untuk transformasi pada K. alvarezii.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii pada Kawasan S1 (Sesuai) di Teluk Gerupuk, NTB Berdasarkan Penginderaan Jauh dan SIG

Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii pada Kawasan S1 (Sesuai) di Teluk Gerupuk, NTB Berdasarkan Penginderaan Jauh dan SIG

Berdasarkan hal tersebut dan berdasarkan wawancara dengan narasumber di lapangan, maka seharusnya penanaman pada bulan Juli termasuk musim kemarau dan angin tidak betiup kencang. Namun ternyata saat kegiatan dilakukan terjadi angin yang cukup kencang. Hal ini diduga disebabkan oleh perubahan cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini. Neish (2003) menyatakan bahwa saat ini, permasalahan yang umumnya dihadapi dalam budidaya rumput laut jenis K. Alvarezii antara lain sulitnya memperoleh bibit yang berkualitas, kondisi cuaca yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi, kurangnya nutrien di perairan, serta serangan hama, penyakit ice-ice dan ikan-ikan pemakan rumput laut. Kecepatan arus merupakan faktor penentu lama waktu keberadaan substansi gas, unsur hara terlarut dan padatan partikel berada pada suatu habitat dan kolom air. Kecepatan arus secara tidak langsung menjadi penentu suplai unsur hara, pembersih/pengengkut padatan partikel yang dapat menempel pada rumput laut dan mengatasi kenaikan temperatur air laut yang tajam (Masita 2007).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Kelayakan Usaha Budi Daya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan Metode Longline dan Strategi Pengembangannya di Perairan Karimunjawa

Kelayakan Usaha Budi Daya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii dengan Metode Longline dan Strategi Pengembangannya di Perairan Karimunjawa

Bibit rumput laut jenis K. alvarezii yang digunakan oleh responden di Karimunjawa berasal dari Karimunjawa sendiri, yaitu dari pengembangbiakan secara vegetatif (83%), introduksi dari strain Phillipina yang berukuran lebih besar (14%) dan dari pembibit luar daerah seperti Ambon (3%). Harga bibit rumput laut di Karimunjawa sekitar Rp1,200.00 - Rp1,700.00 per kg sedangkan bibit dengan kualitas baik adalah Rp3,000.00 per kg. Kualitas baik yang dimaksud adalah ukuran bibit lebih besar dan penampakan warna dan bentuknya sangat segar dibanding rata-rata bibit yang beredar. Dalam mendapatkan bahan baku/bibit, baik responden perorangan (tidak ikut kelompok usaha) maupun yang menjadi anggota kelompok usaha tidak mendapatkan kendala. Bibit diperoleh dari Karimunjawa karena jumlah penjual bibit cukup banyak sehingga ada kebebasan bagi para responden untuk membeli. Responden membeli bibit dari penjual bibit secara tunai dan sebagian lagi ada yang dengan perjanjian dibayar kemudian dengan tenggang waktu tertentu. Akan tetapi tidak ada kesepakatan untuk menjual hasil produksinya ke penjual bibit walaupun tidak menutup kemungkinan jika harganya cocok mereka juga menjual produknya ke penjual bibit. Adanya sistem pembayaran dengan tenggang waktu tersebut dimungkinkan oleh penjual bibit karena tenggang waktu yang disepakati juga tidak terlalu lama. Bibit digunakan secara terus menerus bahkan hingga 3 tahun masa usaha budi daya.
Baca lebih lanjut

165 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK KUE TRADISIONAL SEMPRONG RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii

KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK KUE TRADISIONAL SEMPRONG RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii

Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa konsentrasi rumput laut yang sedikit (7,5% ) lebih disukai dibandingkan dengan penambahan rumput laut yang banyak (12,5% ) diduga karena tekstur pada perlakuan 7,5% lebih renyah jika dibandingkan dengan tekstur perlakuan 12,5%. Tekstur kue semprong berhubungan dengan kadar air dan karbohidrat golongan pati yang kadarnya menurun seiring dengan penambahan rumput laut , semakin tinggi kadar air maka semakin rendah pula tingkat kerenyahan dan semakin tinggi kadar karbohidrat maka semakin renyah tekstur kue semprong (Gambar 14). Kadar air kue semprong umtuk kontrol (3,03) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 7,5% (3,72%), perlakuan 10% (4,08%), dan pada perlakuan 12,5% (4,66%). Karbohidrat pada perlakuan 12,5% (75,19%) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 7,5% (75,98%) dan 10% (75,46%). Semakin tinggi kadar air maka
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...