Top PDF Analisis Perubahan Penutupan Lahan Sebagai Salah Satu Indikator Kualitas Daerah Aliran Sungai pada Sub DAS Malino DAS Jeneberang

Analisis Perubahan Penutupan Lahan Sebagai Salah Satu Indikator Kualitas Daerah Aliran Sungai pada Sub DAS Malino DAS Jeneberang

Analisis Perubahan Penutupan Lahan Sebagai Salah Satu Indikator Kualitas Daerah Aliran Sungai pada Sub DAS Malino DAS Jeneberang

Lestari (2009) mendefinisikan alih fungsi lahan atau yang umumnya disebut sebagai konversi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang menjadi dampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan juga dapat diartikan sebagai perubahan untuk penggunaan lain disebabkan oleh faktor - faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Proses alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Ada tiga faktor penting yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah yaitu: (1) Faktor Eksternal, merupakan faktor yang disebabkan oleh adanya dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi; (2) Faktor Internal, faktor ini lebih melihat sisi yang disebabkan oleh kondisi sosial-ekonomi rumah tangga; (3) Faktor Kebijakan, yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian. Dari faktor kebijakan kelemahannya terletak pada aspek regulasi atau peraturan itu sendiri terutama terkait dengan kekuatan hukum, sanksi pelanggaran, dan akurasi objek lahan yang dilarang dikonversi. Menurut Rauf (2010) alih fungsi lahan berdampak pada kondisi ekonomi, peran sosial, orientasi nilai budaya, stratifikasi sosial, dan kesempatan kerja serta kesempatan berusaha masyarakat.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Identifikasi Daerah Resapan Air di Sub Daerah Aliran Sungai Malino Hulu Daerah Aliran Sungai Jeneberang Kabupaten Gowa

Identifikasi Daerah Resapan Air di Sub Daerah Aliran Sungai Malino Hulu Daerah Aliran Sungai Jeneberang Kabupaten Gowa

Salah satu hal yang dipertimbangkan untuk menentukan apakah daya dukung suatu DAS dipertahankan atau dipulihkan adalah kualitas, kuantitas dan kontinuitas air. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas air saat ini telah mengalami gangguan disebagian besar wilayah Indonesia. Hal ini dicirikan oleh sungai yang semakin keruh, rasio perbedaan antara debit maksimum dan minimum yang sangat besar dan ketersediaan kebutuhan air setiap tahun tidak terjamin. Kondisi seperti itu oleh Triweko (2014) menyatakan bahwa ketahanan air telah terganggu. Ketahanan air yang dimaksudkan adalah kemampuan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan dalam pemenuhan kebutuhan air dalam hal jumlah yang mencukupi. Jumlah penduduk yang semakin bertambah menyebabkan kebutuhan akan lahan juga meningkat, dan ini berdampak pada hutan yang akan diubah menjadi lahan pertanian, dan selanjutnya lahan pertanian akan berubah menjadi permukiman. Perubahan tata guna lahan tersebut pada akhirnya berdampak pada meningkatnya limpasan permukaan, menurunnya kualitas air akibat pencemaran oleh limbah rumah tangga, perkotaan dan industri.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pola Penggunaan Lahan Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan di Sub-sub DAS Kunisi Hulu DAS Jeneberang Kabupaten Gowa

Pola Penggunaan Lahan Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan di Sub-sub DAS Kunisi Hulu DAS Jeneberang Kabupaten Gowa

Berdasarkan hasil analisis citra tahun 2008 oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan dalam Millang (2010), luas lahan kritis di Sulawesi Selatan adalah 682.784 ha yang terdiri atas 369.965 ha didalam kawasan hutan dan 312.828 ha diluar kawasan hutan sedangkan laju rehabilitasi lahan kritis hanya 20.000 ha/tahun. Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas Daerah aliran Sungai (DAS), dimana salah satu penyebabnya adalah kesalahan penggunaan lahan. Penggunaan lahan pertanian pada daerah-daerah yang terjal tanpa diiringi penerapan teknologi konservasi tanah dan air (Harjianto dkk., 2016).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan terhadap Karakteristik Hidrologi Sub DAS Ciliwung Hulu

Pengaruh Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan terhadap Karakteristik Hidrologi Sub DAS Ciliwung Hulu

Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan di permukaan bumi yang bersifat dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual. Penggunaan lahan dapat dikelompokan ke dalam dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan atas penyediaan air dan komoditas diusahakan dan dimanfaatkan atau atas jenis tumbuhan atau tanaman yang terdapat di atas lahan tersebut. Berdasarkan hal ini dikenal macam penggunaan lahan seperti tegalan (pertanian lahan kering atau pertanian pada lahan tidak beririgasi), sawah, kebun kopi, kebun karet, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, padang alang-alang, dan sebagainya. Penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan ke dalam lahan kota atau desa (pemukiman), industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya (Arsyad, 2006).
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Kajian Perubahan Tutupan Lahan Sub DAS Citanduy Hulu terhadap Kualitas Air Sungai Citanduy Hulu

Kajian Perubahan Tutupan Lahan Sub DAS Citanduy Hulu terhadap Kualitas Air Sungai Citanduy Hulu

Gambar 5 Peta sebaran industri dan peternakan di Sub DAS Citanduy Hulu. Sumber pencemar lainnya yaitu berasal dari limbah industri yang biasanya bertempat di pinggir sungai seperti indutri tepung tapioka dan industri tahu tempe yang jumlahnya 5 dan 21. Industri tepung tapioka hanya berada di Hulu Sub DAS Citanduy Hulu yaitu di Kecamatan Pagerageung dan Kecamatan Panumbangan, sedangkan industri tahu dan tempe berada di Kecamatan Ciawi. Kebanyakan industri tahu dan tempe berkumpul pada satu wilayah atau kecamatan (Gambar 5). Industri-industri yang ada membuang limbah cairnya ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar limbahnya sehingga dapat meningkatkan kualitas air terutama parameter zat padat terlarut, DO, BOD, nitrat dan pH Donal (W. S dan H. E Klei 1979 diacu dalam Taufik 2003). Berdasarkan hasil wawancara, setiap harinya setiap industri rata-rata menghasilkan ampas kering sekitar 150 kg dari rata-rata 50 kg bahan yang digunakan. Ampas dari industri tersebut dijual dan bisa digunakan untuk pakan ternak tetapi limbah cair yang mengandung bahan organik dan anorganik yang berbahaya ataupun beracun yang dihasilkan oleh industri tersebut tidak diolah dan langsung dibuang ke sungai. Biaya pengolahan dan pembuangan limbah yang semakin mahal menyebabkan jarangnya industri-industri tersebut membuat unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Penyebaran peternakan sapi dan ayam berada hampir di sepanjang aliran Sungai Citanduy Hulu (Gambar 5). Limbah yang berasal dari peternakan seperti kotoran, urin ataupun sisa pakan dapat menjadi sumber pencemaran air Sungai Citanduy Hulu. Menurut Donal W. S dan H. E Klei (1979) diacu dalam Taufik (2003) limbah tersebut dapat meningkatkan kualitas air terutama parameter suhu, pH, BOD, nitrat dan fosfat. Limbah peternakan tersebut hanya sebagian yang dibuang ke aliran Sungai Citanduy Hulu, ada beberapa peternakan yang menjadikan limbah tersebut sebagai pupuk organik untuk tanaman.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Ketersedian Air Di Daerah Aliran Sungai (Das ) Siak, Provinsi Riau

Analisis Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Ketersedian Air Di Daerah Aliran Sungai (Das ) Siak, Provinsi Riau

rata-rata kemiringan (SLSUBBSN), ( vi ) aliran alpha untuk penyimpanan air dalam memberikan kontribusi aliran ke saluran utama (ALPHA_BNK ), (vii) kedalaman ambang batas air di akuifer dangkal (GWQMN) , dan (viii) air tanah "koefisien revap" yaitu air keluarkan dari batas kapiler yang diganti oleh air akuifer dasar (GW_REVAP). Hasil analisa sensitifitas ditampilkan dalam Tabel 6. secara berurutan mulai dari yang paling sensitif berdasarkan nilai p-value. Semakin kecil nilai p-value maka semakin signifikan parameter tersebut dimana nilai terkecil adalah nol (Neitsch et al.,2002). Analisis Ketersediaan Air
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Ketersedian Air Di Daerah Aliran Sungai (DAS ) Siak, Provinsi Riau

Analisis Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Ketersedian Air Di Daerah Aliran Sungai (DAS ) Siak, Provinsi Riau

Perubahan luasan hutan primer dan hutan tanaman industri terjadi karena meningkatnya luas perkebunan sawit dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 luas perkebunan sawit adalah 76249,60 ha walaupun terjadi penurunan menjadi 75960,26 pada tahun 2007 tetapi meningkat sampai 79347,24 ha pada tahun 2012 atau meningkat sebesar 1,82 % dari tahun 2002. Selain itu pertambahan jumlah penduduk juga mempengaruhi perubahan tata guna lahan pada sub DAS Tapung ini. Hal ini dididentifikasi dengan semakin bertambahnya areal pemukiman dari 1310,54 ha dan meningkat sampai 3386,98 ha pada tahun 2012atau meningkat sebesar 1,22 % dari tahun 2002. Perubahan yang cukup signifikan juga terlihat pada luas semak belukar dan tanah terbuka, semak belukar pada tahun 2002 memiliki luasan sebesar 11369,36 ha dan menurun pada tahun 2007 menjadi 6416,54 ha, meningkat kembali ssampai 13939,38 ha pada tahun 2012 dengan total peningkatan luas sebesar 1,51%, sedangkan perubahan luas tanah terbuka pada tahun 2002 adalah 2553,00 ha, meningkat pada tahun 2007 menjadi 6331,44 ha dan menurun 3778,44 ha pada tahun 2012 namun tetap meningkat sebesar 0,72% dibanding tahun 2002. Peningkatan luas tanah terbuka dan semak belukar ini dikarenakan pembukaan lahan untuk lahan perkebunan oleh masyarakat maupun industri.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penilaian Status Daerah Aliran Sungai (Studi Kasus Sub DAS Serang)

Penilaian Status Daerah Aliran Sungai (Studi Kasus Sub DAS Serang)

Pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak memperhatikan konservasi sumberdaya alam DAS akan meningkatkan bencana alam seperti: tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Untuk mencegahnya pemerin­ tah dan masyarakat perlu mengelola kawasan DAS sehingga sumberdaya alam bisa lestari. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi pengelolaan DAS dari parameter hidrologi, lahan dan sosial ekonomi dan menentukan status DAS sub DAS Serang. Data yang dikumpulkan adalah data hidrologi (koefesien regim sungai, koefesien variasi debit, kandungan sedimen, kualitas air permukaan dan air tanah), lahan (erosi dan tata guna lahan) serta sosial ekonomi (kelembagaan dan sosial ekonomi). Berdasarkan hasil penelitian dari parameter hidrologi, lahan dan sosial ekonomi bahwa sub DAS Serang memiliki koefisien regim sungai (69) termasuk kategori sedang dan koefisien variasi debit air (0,48) termasuk kategori buruk, indeks penggunaan air (0,07) termasuk kategori baik, laju sedimentasi (0,03 mm/th) termasuk kategori baik, kualitas air dari segi fisik termasuk kategori sedang sampai baik, kualitas air dari segi kimia dan biologi termasuk kategori baik serta fluktuasi muka air termasuk kategori sedang. Erosi dengan memperhatikan kelas lereng, solum tanah, morfoerosi dan kualitas konservasi tanah termasuk kategori normal. Sedangkan faktor so­ sial ekonomi dengan indikator ketergantungan lahan termasuk kategori sedang, status pemilikan lahan, kelembagaan DAS, norma dan adopsi konservasi termasuk kategori baik serta pendapatan penduduk termasuk kategori buruk. Dengan memperhatikan faktor hidrologi, lahan dan sosial ekonomi maka status Sub DAS Serang dengan nilai 2,705 adalah masuk kategori baik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Teknologi Pemanfaatan Lahan Berbasis Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Teknologi Pemanfaatan Lahan Berbasis Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Sistem surjan adalah sistem pertanian yang umum diterapkan pada lahan yang selalu tergenang (rawa) atau lahan dengan muka air dangkal yang meninggikan (menimbun) lahan pada satu bagian dengan jalan mendalamkan lahan pada bagian lainnya (sebelahnya). Dengan demikian terbentuk bagian lahan menyerupai benteng/bedeng yang lebarnya tergantung keinginan (biasanya 2 meter lebar dan panjang tergantung panjang lahan) yang dapat ditanami tanaman lahan kering, dan bagian yang dalam dengan dimensi yang sama dengan bedengnya dan selalu tergenang air, yang dapat berfungsi sebagai kolam ikan (Gambar 12). Dengan demikian terjadi sistem pertanian campuran (terpadu) antara tanaman lahan kering dengan pemeliharaan ikan atau tanaman lahan basah (padi sawah), jika air genangan tidak terlalu dalam. Sistem ini dapat dilakukan di lahan pekarangan, baik di pedasaan maupun di perkotaan (urban farming).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Daerah Aliran Sungai (DAS) didefenisikan sebagai suatu wilayah daratan yang

TINJAUAN PUSTAKA. Defenisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Daerah Aliran Sungai (DAS) didefenisikan sebagai suatu wilayah daratan yang

Erosi terjadi sebagai akibat aliran radiasi, angin atau air, dan seringkali karena kombinasi ketiga-tiganya. Tanah sangat peka terhadap radiasi, khususnya di daerah beriklim kering. Ketika suhu tanah terlalu tinggi atau tanah terlalu kering, misalnya setelah terjadi penggundulan dari vegetasi atau penutup mulsa, kehidupan tanah menjadi terancam, pertumbuhan dan berfungsinya akar menjadi tidak optimal, dan humus pada lapisan atas terurai. Sebagai akibatnya permukaan tanah liat akan tertutup karena terpaan air hujan, sedangkan tanah pasir akan kehilangan ikatannya. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan meningkatnya erosi oleh air dan angin. Pengaruh negatif radiasi dan suhu yang tinggi dapat dikurangi dengan mencegah cahaya matahari agar tidak langsung mengenai permukaan tanah. Ini bisa dilakukan dengan menutup tanah langsung dengan vegetasi atau mulsa, atau dengan memberi naungan (Reijntjes et al, 1999).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Sistem Online Penentuan Tingkat Kerawanan Longsor Lahan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Logawa

Sistem Online Penentuan Tingkat Kerawanan Longsor Lahan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Logawa

Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Logawa berhulu di lereng Gunungapi Slamet dan bermuara pada Sungai Serayu. Sub DAS ini dapat dilihat dari kondisi geomorfologi terbagi atas bentukan vulkanik dan struktural. Sifat dari material lepas seperti lahar dan batuan sedimen yang berumur tersier tersebut merupakan kondisi yang mudah terjadi longsorlahan. Faktor penyebab terjadinya longsor tersebut adalah kemiringan lereng, curah hujan yang tinggi, litologi, tanah, jenis penggunaan lahan, dan aktifitas manusia [2].
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Studi Komparasi Pemetaan Penggunaan/Penutupan Lahan Melalui Citra Landsat dan Citra Quickbird. Studi kasus: Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu, Bogor.

Studi Komparasi Pemetaan Penggunaan/Penutupan Lahan Melalui Citra Landsat dan Citra Quickbird. Studi kasus: Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung Hulu, Bogor.

Fusi citra adalah proses dimana dua atau lebih gambar digabungkan menjadi satu gambar dengan mempertahankan fitur penting dari masing-masing gambar asli (Hill et al, 2002). Sedangkan menurut Liu dan Mason (2009), fusi citra adalah perpaduan citra komposit warna yang memiliki resolusi spasial lebih rendah dengan citra pankromatik yang memiliki resolusi lebih tinggi sehingga menghasilkan citra komposit warna beresolusi tinggi. Tujuan utama untuk fusi citra adalah untuk mengingkatkan kualitas informasi yang terkandung pada gambar output dalam proses yang dikenal sebagai sinergi. Sebuah studi dilakukan oleh Michell (2010) tentang teknik fusi citra dan aplikasi yang ada menunjukkan bahwa fusi citra dapat memberikan kita dengan gambar output dengan peningkatan kualitas. Dalam hal ini, manfaat dari fusi citra meliputi:
Baca lebih lanjut

133 Baca lebih lajut

PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP DEBIT ALIRAN SUNGAI (Studi Kasus di Sub DAS Ciliwung Hulu, Jawa Barat)

PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP DEBIT ALIRAN SUNGAI (Studi Kasus di Sub DAS Ciliwung Hulu, Jawa Barat)

Perubahan fungsi lahan di sekitar Sub DAS Ciliwung Hulu dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat yang merasa kekurangan lahan untuk aktivitas kegiatan sehari-hari. Perubahan fungsi lahan untuk berbagai keperluan seperti pemukiman dan lain-lain diambil sebagai jalan pintas solusi masyarakat memenuhi kebutuhan lahannya. Akibatnya kondisi DAS Ciliwung semakin memburuk sehingga akan berdampak pada hilangnya fungsi DAS sebagai penyangga dan pelindung. Pencarian pemecahan masalah banjir dan kekeringan yang efektif dan efisien telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, pemodelan merupakan salah satu cara yang banyak dilakukan. Dengan menggunakan pemodelan, perilaku sungai di masa depan dapat diduga berdasarkan kecenderungan yang terjadi saat ini dan di masa lampau, sehingga pengaruh perlakuan terhadap sungai dapat diketahui tanpa perlu benar-benar diterapkan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Upaya Pengelolaannya

Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Upaya Pengelolaannya

Dalam ilmu manajemen dikenal istilah “POAC & E” (planning, organizing, actuating, controlling and evaluating). Dan penerapan istilah “POAC & E” sebagai sebuah metode pengelolaan menjadi model yang cukup tepat untuk dikaji sebagai bahan diskusi dan wacana yang diharapkan dapat dirumuskan menjadi alternatif upaya pengelolaan DAS. Perencanaan (planning) dalam ilmu manajemen diindikasikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyiapkan segala sesuatu yang bertalian dengan suatu program di masa mendatang. Dalam upaya pengelolaan DAS perlu ditentukan beberapa hal yang berkaitan dengan proses perencanaan program/kegiatannya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENENTUAN INDIKATOR KUNCI KUALITAS TANAH PADA LAHAN AGROFORESTRI SUB-DAS KEDUANG WONOGIRI.

PENENTUAN INDIKATOR KUNCI KUALITAS TANAH PADA LAHAN AGROFORESTRI SUB-DAS KEDUANG WONOGIRI.

4. Dr. Ir. Supriyadi, M. P. selaku pembimbing akademik penulis pada semester 4 hingga semester 9 yang telah memberi arahan selama penulis masih aktif dalam kegiatan perkuliahan, selaku ketua proyek yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk bergabung dalam tim penelitian sub-DAS hulu Bengawan Solo, dan selaku pembimbing utama yang telah mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi.

15 Baca lebih lajut

Ayo Belajar Tentang Daerah Aliran Sungai atau DAS!

Ayo Belajar Tentang Daerah Aliran Sungai atau DAS!

KITA AKAN MEMBAHAS MENGENAI MASALAH BELAKANGAN INI YAITU LONGSOR DAN EROSI ITU LHO, TANAH YANG BERGESER ATAU BERGERAK DAN SEBAGIAN MASUK KE SUNGAI... DI SUATU SORE, REMBUG ANTAR BEBE[r]

44 Baca lebih lajut

Analisis Peruntukan Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Belawan Kaitannya Dengan Perencanaan Tata Ruang

Analisis Peruntukan Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Belawan Kaitannya Dengan Perencanaan Tata Ruang

Sedangkan di Kota Medan secara geografis terletak diantara 2 27'-2 47' Lintang Utara dan 98 35'-98 44' Bujur Timur. Posisi Kota Medan ada di bagian Utara Propinsi Sumatera Utara dengan topografi miring ke arah Utara dan berada pada ketinggian tempat 2,5-37,5 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Medan adalah 265,10 km 2 secara administratif terdiri dari 21 kecamatan dan 151 kelurahan. Sarana dan prasarana perhubungan di Kota Medan terdiri dari prasarana perhubungan darat, laut, udara. Transportasi lainnya adalah kereta api. Di samping itu juga telah tersedia prasarana listrik, gas, telekomunikasi, air bersih dan Kawasan Industri Medan (KIM) I. Sebagai daerah yang berada pada pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi strategis.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penutupan lahan - Evaluasi perubahan penutupan lahan di DAS Babalan

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penutupan lahan - Evaluasi perubahan penutupan lahan di DAS Babalan

Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. Oleh karena itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat, yaitu : sangat sesuai (S1), sesuai (S2), sesuai marjinal (S3) dan tidak sesuai (N). Sub Klas pada klasifikasi kesesuaian lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. Ada tujuh jenis penghambat yang dikenal, yaitu e (erosi), w (drainase), s (tanah), a (keasaman), g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (iklim). Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. Dengan demikian seluruh hambatan yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan yang mudah (seperti a, w, e, g dan sd) atau sebaliknya hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan Klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. Untuk itu maka unit lahan yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya ( Azis dkk , 2005)
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects