Top PDF ANALISIS RANGKAIAN RLC SERI DAN PARALLEL DENGAN MENGGUNAKAN METODE EULER DAN RUNGE KUTTA.

ANALISIS RANGKAIAN RLC SERI DAN PARALLEL DENGAN MENGGUNAKAN METODE EULER DAN RUNGE KUTTA.

ANALISIS RANGKAIAN RLC SERI DAN PARALLEL DENGAN MENGGUNAKAN METODE EULER DAN RUNGE KUTTA.

Ada beberapa persoalan fisika yang cukup rumit jika dikerjakan secara analitik dapat disederhanakan penyelesaiannya dengan menggunakan metode komputasi. Karena itu, metode komputasi sangat membantu dalam mempelajari gejala fisika. Salah satu permasalahan fisika yang membutuhkan ketelitian dalam perhitungannya adalah dalam menganalisis rangkaian RLC seri dan parallel. Analisis rangkaian RLC seri dan parallel dapat dilakukan dengan menggunakan model matematika dan menerapkan metode numerik untuk menyederhanakan penyelesaian matematisnya. Solusi persamaan diferensial pada rangkaian RLC seri dan parallel tersebut akan menghasilkan osilasi yang tidak teredam, kurang teredam, teredam kritis dan sangat sangat teredam seperti pada system pegas yang selama ini ditentukan dengan berbagai metode analitik yang relatif sulit.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis Rangkaian Resistor, Induktor Dan Kapasitor (RLC) Dengan Metode Runge Kutta Dan Adams Bashforth Moulton

Analisis Rangkaian Resistor, Induktor Dan Kapasitor (RLC) Dengan Metode Runge Kutta Dan Adams Bashforth Moulton

KATA SAMBUTAN . .................................................................................................................. iii KEPANITIAAN . .......................................................................................................................... iv DAFTAR ISI . ............................................................................................................................... vi Aplikasi Metode Analisis Homotopi (HAM) pada Sistem Persamaan Diferensial Parsial Homogen (Fauzia Anisatul F, Suharsono S, dan Dorrah Aziz) . ................................................. 1 Simulasi Interaksi Angin Laut dan Bukit Barisan dalam Pembentukan Pola Cuaca di Wilayah Sumatera Barat Menggunakan Model Wrf-Arw (Achmad Raflie Pahlevi) . ............................................................................................................. 7 Penerapan Mekanisme Pertahanan Diri (Self-Defense) sebagai Upaya Strategi Pengurangan Rasa Takut Terhadap Kejahatan (Studi Pada Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung yang Menduduki Peringkat Crime Rate Tertinggi) (Teuku Fahmi) . ..................................................... 18 Tingkat Ketahanan Individu Mahasiswa Unila pada Aspek Soft Skill
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI RANGKAIAN RLC DENGAN METODE RUNGE KUTTA ORDE 4 Weni Setia Murjannah S1 Fisika, MIPA, Universitas Negeri Surabaya,

IMPLEMENTASI RANGKAIAN RLC DENGAN METODE RUNGE KUTTA ORDE 4 Weni Setia Murjannah S1 Fisika, MIPA, Universitas Negeri Surabaya,

Rangkaian RLC memiliki persamaan differensial derajat kedua dan membutuhkan prosedur yang panjang jika dikerjakan secara analitik. Sehingga dilakukan penelitian berbasis komputer dengan metode numerik untuk mempermudahnya. Metode numerik yang dipilih yaitu metode runge kutta orde 4 dengan alasan tidak perlu mencari turunan fungsi terlebih dahulu sehingga lebih mudah serta lebih akurat dengan iterasi yang relatif kecil. Visualisasinya menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan rangkaian RLC dengan metode numerik Runge Kutta orde 4 dan mempermudah analisis rangkaian RLC terhubung secara seri dan paralel serta menganalisis grafik waktu terhadap tanggapan alaminya. Metodenya dengan study literature , penyelesaian secara analitik dan numerik, membuat diagram alir dan merancang program, menyelesaikan dan mengoreksi program, pengambilan data. Penelitian ini dilakukan pada rangkaian RLC tanpa sumber yang memiliki tanggapan alami. Tanggapan alami terjadi karena adanya penyimpanan muatan di kapasitor dan penyimpanan energi di induktor. Penelitian ini memanipulasi nilai R pada keadaan awal rangkaian. Dari data dan grafik tanggapan alami diperoleh hubungan R dan α yang dapat menentukan jenis redaman rangkaian karena jenis redaman akan berubah sesuai dengan perbandingan α dan ω 0. Pada rangkaian RLC seri, penambahan R mengakibatkan peningkatan α. Peningkatan α menurunkan derajat osilatoris dan magnitudo maksimum. Dimana sifat osilatoris tanggapan semakin terlihat seiring dengan mengecilnya nilai α. Pada rangkaian paralel, penambahan R mengakibatkan penurunan α. Penurunan α meningkatkan derajat osilatoris dan magnitudo maksimum. Sifat osilatoris kedua rangkaian ini semakin terlihat saat keadaan kurang-teredam dengan α yang semakin kecil. Keadaan teredam-kritis merupakan suatu keadaan transisi dari teredam- berlebih ke kurang-teredam atau sebaliknya. Dan pada keadaan teredam-berlebih, tanggapan alami akan semakin cepat meluruh pada nilai S 1 dan S 2 yang kecil.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

METODE NUMERIK PADA RANGKAIAN RLC SERI MENGGUNAKAN VBA EXCEL | Qomariyatuzzamzami | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 4923 10792 1 SM

METODE NUMERIK PADA RANGKAIAN RLC SERI MENGGUNAKAN VBA EXCEL | Qomariyatuzzamzami | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 4923 10792 1 SM

Program ini dirancang dengan menggunakan metode numerik dan metode analitik. Perhitungan secara numerik dan analitik akan dibandingkan. Dalam hal ini, perhitungan numerik dilakukan untuk menentukan tegangan pada induktor dan tegangan pada kapasitor.

8 Baca lebih lajut

Menentukan Karakteristik Osilasi Nonlinear Dengan Metode Runge-Kutta Menggunakan Pemrograman Borland Delphi Riri Safitri

Menentukan Karakteristik Osilasi Nonlinear Dengan Metode Runge-Kutta Menggunakan Pemrograman Borland Delphi Riri Safitri

Menentukan solusi suatu persamaan diferensial menggunakan metode Runge- Kutta lebih mudah menggunakan pemro- graman delphi. Delphi merupakan bahasa pemrograman berorientasi obyek. Konsep pemograman berorientasi objek ini dapat dikatakan meniru kehidupan nyata, dimana sebuah objek selalu mempunyai dua elemen yaitu data dan metode. Data merupakan sesuatu yang menentukan karakteristik suatu objek dan metode merupakan perlakuan

9 Baca lebih lajut

Kuantisasi energi pada rangkaian RLC.

Kuantisasi energi pada rangkaian RLC.

Anggapan bahwa ada kesetaraan atau kemiripan antara energi rangkaian RLC dengan energi dari osilator harmonik dapat dilihat pada persamaan (4.8). Energi kinetik dari rangkaian RLC yaitu IA merupakan energi kinetik yang mirip dengan energi kinetik dari osilator harmonik, sedangkan energi potensial dari rangkaian RLC yaitu 1/2CQ 2 mirip dengan energi potensial dari osilator harmonik

42 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN SOLUSI METODE THOMAS DAN METODE RUNGE KUTTA DALAM MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL.

PERBANDINGAN SOLUSI METODE THOMAS DAN METODE RUNGE KUTTA DALAM MENYELESAIKAN PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL.

Matematika lebih banyak mengajarkan manusia mengenal dan menjelaskan fenomena di sekelilingnya. Fenomena-fenomena pada perkembangan sains dan teknologi dapat dirumuskan dalam persamaan diferensial, seperti halnya dalam persamaan gelombang, getaran, pegas, pertumbuhan sel dan lain sebagainya. Persamaan diferensial merupakan suatu persamaan yang mengandung turunan fungsi. Berdasarkan jumlah variabel bebas, persamaan diferensial dibagi menjadi dua, yaitu (1). Persamaan diferensial biasa (mengandung satu variabel bebas). Ada beberapa metode yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial biasa diantaranya metode Heun, metode metode Thomas, metode Adam Bashfort, metode Runge Kutta,dan sebagainya. (2). Persamaan diferensial parsial (mengandung lebih dari satu variabel), metode yang digunakan adalah metode Karakteristik dan metode Beda Hingga.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ANALISIS SOLUSI NUMERIK MODEL PREDATOR-PREY DENGAN METODE RUNGE-KUTTA ORDE EMPAT DAN GILL

ANALISIS SOLUSI NUMERIK MODEL PREDATOR-PREY DENGAN METODE RUNGE-KUTTA ORDE EMPAT DAN GILL

Dalam subbab ini, disimulasikan model Predator-Prey dengan metode Runge- Kutta orde empat dan Gill. Simulasi interaksi Predator-Prey yang diselesaikan menggunakan metode Runge-Kutta orde empat dan Gill dilakukan dengan memvariasikan parameter-parameter yang mempengaruhi interaksi Predator-Prey. Beberapa parameter yang akan divariasikan yaitu laju kelahiran mangsa ( ), laju kematian pemangsa ( ), penurunan pada jumlah populasi mangsa ( ) dan peningkatan pada jumlah populasi pemangsa ( ). Untuk menganalisis pengaruh parameter-parameter tersebut terhadap interaksi Predator-Prey, maka variasi parameter akan dilakukan dengan cara merubah nilai empat parameter, yaitu yaitu laju kelahiran mangsa ( ), laju kematian pemangsa ( ), penurunan pada jumlah populasi mangsa ( ) dan peningkatan pada jumlah populasi pemangsa ( ) yang diperoleh dari perhitungan tabel kehidupan.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

ANALISIS SOLUSI MODEL PENYEBARAN PENYAKIT INFLUENZA MELALUI TRANSPORTASI ANTAR DUA KOTA DENGAN METODE RUNGE-KUTTA

ANALISIS SOLUSI MODEL PENYEBARAN PENYAKIT INFLUENZA MELALUI TRANSPORTASI ANTAR DUA KOTA DENGAN METODE RUNGE-KUTTA

Influenza merupakan salah satu jenis penyakit menular ringan yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang saluran pernafasan. Memodelkan proses penyebaran penyakit akan mempermudah dalam mengerti dinamika penyebaran penyakit dalam suatu populasi. Salah satu model yang biasa digunakan dalam dinamika penyakit adalah model SIRS. Tujuan dari penelitian ini adalah menyelesaikan solusi numerik dari model penyebaran penyakit Influenza melalui transportasi antar dua kota dengan menggunakan metode Runge-Kutta orde empat sehingga diperoleh profil dari penyebaran penyakit influenza melalui transportasi antar dua kota.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANALISIS MODEL GETARAN PEGAS TEREDAM DENGAN METODE ADAMS-BASFORTH-MOULTON DAN RUNGE-KUTTA

ANALISIS MODEL GETARAN PEGAS TEREDAM DENGAN METODE ADAMS-BASFORTH-MOULTON DAN RUNGE-KUTTA

Pada Gambar 4.6 dan Gambar 4.7 dapat dijelaskan bahwa dengan memberikan nilai redaman sama dengan 0, grafik yang dihasilkan menunjukkan bahwa sistem berosilasi dengan amplitudo getaran yang tetap pada interval waktu yang sama. Sedangkan untuk variasi nilai redaman yaitu 0,2; 0,5; 0,9; 1,2; 2,2; 2,9; 4,2 dan 5,7 dapat dijelaskan bahwa dengan memberikan nilai redaman yang terus bertambah, grafik yang dihasilkan menunjukkan bahwa sebelum mencapai posisi kesetimbangan sistem berosilasi dengan amplitudo getaran yang terus berkurang seiring dengan bertambahnya waktu sampai akhirnya berhenti. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar nilai redaman yang diberikan kedalam sistem maka akan semakin cepat pegas untuk mencapai posisi kesetimbangan. Waktu komputasi yang dibutuhkan dengan menggunakan metode RK4 adalah 0,0020269 detik. Sedangkan waktu komputasi yang dibutuhkan dengan menggunakan metode ABM adalah 0,18192 detik.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Penerapan Jaringan Saraf Runge Kutta Fun

Penerapan Jaringan Saraf Runge Kutta Fun

Sebuah benda jatuh dari ketinggian 200x10 3 kaki dengan kecepatan awal 16x10 3 . Lintasan yang dibentuk oleh benda tersebut selanjutnya diprediksi dengan menggunakan RKFBR. Training untuk kasus ini menggunakan RKFBR yang diberi bias. Time step/h = 0.09 serta η untuk teknik gradien descent = 0.2. RMSE yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 2. Sementara lintasan hasil training dapat dilihat pada gambar 5.

8 Baca lebih lajut

Metode Runge-Kutta dan blok rasional untuk menyelesaikan masalah nilai awal.

Metode Runge-Kutta dan blok rasional untuk menyelesaikan masalah nilai awal.

, nilai �+ yang telah diperoleh dari penghitungan sebelumnya digunakan untuk menghitung nilai �+ dan �+ . Proses penghitungan yang sama dilakukan pada blok-blok selanjutnya hingga mencapai titik akhir dari interval pengintegralannya, yaitu = . Jadi metode blok ra- sional mempunyai penghitungan numeris yang lebih cepat karena dalam satu iterasi, metode Blok Rasional mampu menghitung nilai dari dua titik secara bersamaan.

91 Baca lebih lajut

Penerapan Metode Runge-Kutta Orde Empat Pada Model Infeksi Hiv Sel +

Penerapan Metode Runge-Kutta Orde Empat Pada Model Infeksi Hiv Sel +

HIV (Human Immunodeficiency Virus) is a virus that attacks the human immune system and then causing AIDS (Acquied Immune Deficiency Syndrome). HIV attacks some particular cells in the immune system, namely the T-cell or + cell. + cell is the cell which has central role in immune system and becomes the main indicator to measure HIV infection spread. In this paper, a HIV infection model against + cell is presented to determine the level of HIV infection. After that, the stability analysis is performed and the numerical solution is obtained using the fourth order Runge-Kutta method. The solution shows a decline of + cell concentration with respect to time. Therefore, it identifies the period when the decline is either fast or slow. By considering this time range, it is feasible to determine the appropriate treatment step for HIV/AIDS patients. Keywords: + cell, + cell HIV Infection model, fourth order Runge-
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Pengaruh Perubahan Parameter Terhadap Nilai Error Pada Metode Runge-Kutta Ordo-2

Pengaruh Perubahan Parameter Terhadap Nilai Error Pada Metode Runge-Kutta Ordo-2

Metode Runge-Kutta merupakan suatu metode numerik yang digunakan untuk mencari solusi dari suatu persamaan. Metode ini berusaha mendapatkan derajat ketelitian yang lebih tinggi, dan sekaligus menghindarkan keperluan mencari turunan yang lebih tinggi dengan jalan mengevaluasi fungsi f x y ( , ) pada titik terpilih dalam setiap selang langkah. Dalam tulisan ini dibahas tentang pengaruh perubahan nilai parameter ( a 1 ) terhadap nilai error pada metode Runge-Kutta Ordo-2 dengan

123 Baca lebih lajut

Metode Runge Kutta dan blok rasional untuk menyelesaikan masalah nilai awal

Metode Runge Kutta dan blok rasional untuk menyelesaikan masalah nilai awal

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah nilai awal, yaitu secara analitis dan numeris. Penyelesaian masalah nilai awal secara analitis tidak selalu mudah didapatkan. Ada beberapa bentuk persamaan diferensial yang sulit diselesaikan secara analitis. Jika masalah nilai awal sulit diselesaikan secara analitis, maka masalah nilai awal terse- but dapat dicoba diselesaikan secara numeris. Dalam tugas akhir ini akan dibahas penyelesaian masalah nilai awal suatu persamaan diferensial biasa secara numeris dengan menggunakan metode Euler, metode Heun, dan metode blok rasional.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

Kaedah Min Geometri Runge Kutta Peringka

Kaedah Min Geometri Runge Kutta Peringka

pun andaian terhadap batas untuk f dan terbitan separanya adalah berbeza daripada yang dimaksudkan dalam (3.8). ini adalah disebabkan yang kaedah Runge kutta itu adalah kaedah tak tersirat satu langkah seperti yang dijelaskan oleh Lambert[2]. Maka kita boleh tuliskan sebagai pilihan (3.11)

11 Baca lebih lajut

PEMODELAN PRODUKSI BIOGAS PADA REAKTOR BATCH MENGGUNAKAN METODE RUNGE KUTTA GILL MODELING OF BIOGAS PRODUCTION IN BATCH REACTOR USING RUNGE KUTTA GILL METHOD

PEMODELAN PRODUKSI BIOGAS PADA REAKTOR BATCH MENGGUNAKAN METODE RUNGE KUTTA GILL MODELING OF BIOGAS PRODUCTION IN BATCH REACTOR USING RUNGE KUTTA GILL METHOD

metana yang dihasilkan pada proses simulasi sesuai dengan rata-rata metana yang dihasilkan pada proses eksperimen rujukan. Selanjutnya pada perhitungan MAPE menunjukkan bahwa metode Runge Kutta Gill mempunyai hasil yang lebih akurat jika dibandingkan dengan Runge Kutta Orde 4. Selain itu, aspek komputasi yang digunakan adalah jika nilai pembagi interval yang digunakan semakin besar, maka simulasi produksi biogas akan semakin lama.

7 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN REAKTANSI SALURAN TERHADAP TRANSIENT STABILITY OF MULTIMACHINE DENGAN METODE RUNGE-KUTTA FEHLBERG

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN REAKTANSI SALURAN TERHADAP TRANSIENT STABILITY OF MULTIMACHINE DENGAN METODE RUNGE-KUTTA FEHLBERG

Perilaku atau perubahan sudut rotor pada mesin/generator diamati dengan melakukan pengujian melalui perubahan reaktansi saluran dan variasi gangguan besar (transient stability). Perubahan reaktansi saluran yang dilakukan yaitu dengan menerapkan pemberian kompensasi saluran/pemasangan kompensator kapasitor seri dan penambahan jumlah saluran transmisi. Untuk variasi gangguan besar yang diterapkan adalah gangguan 3 fasa simetris pada salah satu saluran dan pelepasan beban. Perubahan reaktansi saluran dan variasi dari jenis gangguan besar ini dilakukan untuk melihat pengaruh yang terjadi pada sudut rotor dan pengaruhnya terhadap waktu pemutusan kritis gangguan (Critical Clearing Time) yang diperlukan oleh sistem tenaga agar tetap dapat mempertahankan kestabilan sistem secara transien. Analisis ini dilakukan dengan membuat program m-file pada software MATLAB, yaitu program simulasi penyelesaian numerik dari persamaan ayunan masing-masing mesin/generator.
Baca lebih lanjut

164 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects