Top PDF Analisis Yuridis Atas Merger Perseroan Setelah Berlakunya UU RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Analisis Yuridis Atas Merger Perseroan Setelah Berlakunya UU RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Analisis Yuridis Atas Merger Perseroan Setelah Berlakunya UU RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Merger atau penggabungan usaha merupakan salah satu bentuk restrukturisasi perusahaan yang memiliki daya tarik yang cukup kuat dalam lingkaran dunia usaha dan para pengusaha. Merger atau penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. Alasan perusahaan melakukan merger adalah karena merger dianggap menciptakan sinergi dan dapat memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan, dengan tetap memperhatikan kepentingan para pemegang saham minoritas, karyawan perusahaan, dan juga kepentingan masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha. Bagi perseroan yang menerima penggabungan tindakan ini merupakan upaya pembentukan konglomerasi baru yang lebih besar dan kuat, sehingga kadang kala cenderung menimbulkan posisi dominan yang menciptakan kelompok monopoli atau persaingan tidak sehat, yang bertentangan dengan undang-undang. Guna mencegah terjadinya persaingan yang tidak sehat agar terhindar dari perbuatan monopoli, diperlukan adanya batasan-batasan hukum yang secara tegas diatur oleh undang-undang. Maka yang dijadikan permasalahan didalam penelitian ini adalah bagaimana batasan-batasan hukum tentang merger perseroan terbatas menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Bagaimana tata cara merger perseroan terbatas sebelum dan sesudah berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan bagaimana pengaturan tentang merger perseroan terbatas jika dikaitkan dengan monopoli.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (disebut juga UUPT 2007) pasal 1 angka 11 menyebutkan: Pengambilalihan (atau disebut juga akuisisi) adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambilalih saham perseroan yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas perseroan tersebut. Akuisisi tidak mengakibatkan perseroan yang diambil alih sahamnya menjadi bubar atau berakhir dan dapat dilakukan melalui direksi perseroan atau secara langsung oleh pemegang saham, sebelum diputuskan melakukan akuisisi, terlebih dahulu harus diketahui tentang situasi dan kondisi dari perusahaan target yang akan diakuisisi atau disebut dengan due diligence, yang bertujuan untuk memberikan informasi dan fakta material tentang kondisi suatu perusahaan guna menghindari resiko-resiko yang timbul dikemudian hari, dan akuisisi wajib memperhatikan kepentingan perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan perseroan, kreditor dan mitra usaha lainnya dari perseroan, masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha, hal ini untuk mencegah timbulnya kemungkinan terjadinya “monopoli” atau ‘monopsoni”. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menunjuk KPPU selaku lembaga independen sebagai lembaga pengawas terhadap akusisi, pengawasan dimaksud dimulai sebelum akuisisi disahkan, dengan melaksanakan pra notifikasi dan post notifikasi. Akuisisi mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM, setelah dilakukan Akta Pengambilalihan oleh Notaris. Yang menjadi permasalahan dalam Tesis berjudul “Tinjauan Yuridis Atas Akuisisi Perusahaan Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas” ini, adalah bagaimana pengaturan akuisisi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, apakah hambatan-hambatan hukum yang timbul dalam akuisisi perusahaan dan bagaimana solusi hukum dalam akuisisi perusahaan agar terhindar dari perbuatan monopoli. Penelitian ini menggunakan Teori Keadilan karena akuisisi di lakukan oleh dua belah pihak yang berkaitan dengan beberapa pihak yang berkepentingan, seperti stakeholder, masyarakat dan para kreditur, yang harus diperlakukan dengan adil.
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

ERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PERSEROAN TERBATAS ATAS PEMBELIAN KEMBALI SAHAM DI PASAR MODAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

ERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PERSEROAN TERBATAS ATAS PEMBELIAN KEMBALI SAHAM DI PASAR MODAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Hasil peneltian ini bahwa latar belakang Perseroan melakukan aksi korporasi buy back saham karena perseroan berhasil meningkatkan laba dan memelihara kecukupan likuiditas, serta kegiatan usaha yang tumbuh pesat dan arus kas yang signifikan jumlahnya. Di samping alasan tersebut, Perseroan Terbatas memiliki tingkat utang (leverage) yang relatif lebih rendah dibanding perusahaan sejenis, serta dapat meningkatkan harga saham yang ada di bursa. Pemegang saham minoritas dapat memilih tetap mempertahankan sahamnya atau melakukan penjualan kembali (sale back) kepada penjual, jika itu dirasakan dapat membawa keuntungan. Pemegang saham minoritas merupakan salah satu stakeholders disamping stakeholders lainnya, yaitu pemegang saham mayoritas, direksi, komisaris, pegawai dan kreditor. Lebih dari itu, bersama-sama dengan pemegang saham mayoritas, pemegang saham minoritas juga merupakan pihak yang membawa keuntungan bagi pemasukan perusahaan (bagholders). Dalam hal pemegang saham minoritas akan melakukan buy back maka perseroan mengembalikan keputusan berdasarkan RUPS (Pasal 38 ayat (1) UUPT). Akan tetapi apabila tujuan buy back sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Pasal 37 UUPT), tidak ada alasan bagi pemegang saham minoritas untuk tidak menjual kembali sahamnya. Dalam hal terdapat upaya konsolidasi atas perusahaan, maka pemegang saham minoritas (biasanya pihak yang kalah) dapat mengajukan appraisal rights yang merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan oleh Pasal 102 juncto 123 UUPT.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Mekanisme pendirian perseroan terbatas PT.umar power(Pada: Notaris & PPAT Dradjat Darmadji, S.H., di Jakarta)

Mekanisme pendirian perseroan terbatas PT.umar power(Pada: Notaris & PPAT Dradjat Darmadji, S.H., di Jakarta)

PERSEROAN TERBATAS PT. UMAT POWER pada Notaris & PPAT Dradjat Darmadji, S.H., di Jakarta. Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1436 H/2015 M. xi + 97 halaman + halaman lampiran. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan mekanisme pendirian perseroan terbatas pada notaris. Latar belakang penelitian ini adalah pesatnya usaha yang diminati dalam bentuk Perseroan Terbatas di Indonesia. Dengan pendiriannya yang dianggap mudah melalui notaris, hal ini sering di selewengkan oleh para pendiri yang beritikad tidak baik. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian library research, yang mengkaji berbagai dokumen yang terkait dengan penelitian. Metode yang digunakan penulis adalah metode penulisan yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang- undangan (statute approach) dan pendekatan data dengan menggunakan akta pendirian perseroan terbatas. Selanjutnya ada tiga bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini, yakni bahan hukum primer, bahan hukum skunder, dan bahan hukum tersier. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa pendirian Perseroan Terbatas PT. Umat Power sudah sesuai atau tidak ada yang bertentangan dengan peraturan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Meski penulis menganggap adanya ketidaksesuaian dengan apa yang tersirat dalam Undang-Undang tersebut.
Baca lebih lanjut

139 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Perseroan Terbatas, menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2007 Pasal 1 angka 1, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan Terbatas (PT) sebagai badan hukum, dia memiliki status, kedudukan dan kewenangan yang dapat dipersamakan dengan manusia sehingga disebut sebagai artificial person, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya Perseroan Terbatas ini merupakan subjek hukum yang menyandang hak dan/ atau kewajiban yang diakui oleh hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan yang ada di dalam suatu karya ilmiah berupa skripsi dengan judul: “KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Due Diligence dalam Akuisisi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Due Diligence dalam Akuisisi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

2. Proses dan tahapan akuisisi perseroan terbatas dilakukan dengan cara melakukan pengambilalihan saham melalui Direksi Perseroan atau dari Pemegang Saham secara langsung. Pengambilalihan saham tersebut harus didasarkan pada Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS tersebut harus dihadiri oleh ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah keseluruhan saham dengan hak suara hadir/diwakili dalam RUPS. RUPS ini baru akan sah apabila rencana akuisisi tersebut disetujui paling sedikit oleh ¾ (tiga perempat) bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan, kecuali jika anggaran dasar mengatur kuorum yang lebih besar. Dalam hal pengambilalihan dilakukan oleh Direksi maka pihak akan yang mengambilalih dan perseroan yang akan diambilalih dengan persetujuan komisaris masing-masing Perseroan menyusun Rancangan Pengambilalihan. Sedangkan pengambilalihan saham perseroan langsung dari Pemegang Saham tidak perlu membuat Rancangan Pengambilalihan namun tetap wajib memperhatikan Anggaran Dasar Perseroan yang akan diambilalih tersebut.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Perseroan Terbatas, menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2007 Pasal 1 angka 1, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan Terbatas (PT) sebagai badan hukum, dia memiliki status, kedudukan dan kewenangan yang dapat dipersamakan dengan manusia sehingga disebut sebagai artificial person, yaitu sesuatu yang diciptakan oleh hukum guna memenuhi kebutuhan perkembangan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya Perseroan Terbatas ini merupakan subjek hukum yang menyandang hak dan/ atau kewajiban yang diakui oleh hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan yang ada di dalam suatu karya ilmiah berupa skripsi dengan judul: “KAJIAN YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM DAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Corporate Social Responsibility 1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) - PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT TIGA PUTRA ABADI PERKASA PURBALINGGA - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Corporate Social Responsibility 1. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) - PELAKSANAAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT TIGA PUTRA ABADI PERKASA PURBALINGGA - repository perpustakaan

Pendekatan tanggung jawab sosial yang ditandai dengan perusahaan hanya memnuhi persyaratan hukum secara minimum atas komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya. Sikap difensif (defensive stance) organisasi akan melakukan apa saja yang dipersyaratkan oleh peraturan hukum tetapi tidak lebih dari itu. Para manager yang mengambil sikap defensif itu merasa pekerjaan mereka adalah untuk menghasilkan laba. Perusahaan seperti itu, akan memasang peralatan pengendali polusi sesuai dengan yang disyaratkan oleh undang-undang, tetapi tidak akan memasang peralatan yang berkualitas tinggi walaupun alat tersebut dapat lebih membatasi polusi.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Mergen konsonlidasi dan akuisisi dan

Mergen konsonlidasi dan akuisisi dan

Pada umumnya tujuan dilakukannya merger adalah mendapatkan sinergi atau nilai tambah. Keputusan untuk merger harus menjadikan dua tambah dua sama dengan lima. Nilai tambah yang dimaksud adalah lebih bersifat jangka panjang dibanding nilai tambah yang bersifat sementara saja. Oleh karena itu, ada tidaknya sinergi suatu merger tidak bisa dilihat sesaat setelah merger itu terjadi, tetapi diperlukan waktu yang cukup panjang. Sinergi yang terjadi sebagai akibat dari penggabungan usaha bisa berupa turun naiknya skala ekonomis, maupun sinergi keuangan yang berupa kenaikan modal. Adapun beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan melalui merger, yaitu:
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:” AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG- UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS”. Penulisan skripsi ini merupakan tugas akhir sebagai syarat untuk menyelesaikan kuliah pada program studi Ilmu Hukum dan guna mencapai gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Jember.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Salah satu tujuan utama dari pendirian perseroan adalah untuk memperoleh keuntungan dan roda perseroan tetap dapat berjalan dengan baik, karenanya diantara para pemilik perseroan atau pemegang saham dengan pengurus dan karyawan perseroan harus tetap terjalin kekompakan dan kerja sama yang baik agar perkembangan dan roda perseroan tetap dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Tujuan tersebut di atas tidak selamanya dapat tercapai dengan baik, bahkan suatu perseroan yang sebelumnya berkembang dan berjalan dengan baik serta telah menghasilkan suatu keuntungan yang besar kepada para pemegang saham, pada akhirnya mengalami suatu kerugian dan kemerosotan yang menyebabkan perseroan menjadi bubar. Penyebab dari bubarnya suatu Perusahaan Perseroan Terbatas (P.T.) secara umum bisa terjadi karenanya adalah pertentangan diantara pemegang saham sendiri, pertentangan antara pemegang saham dengan pengurus perseroan, pertentangan perseroan dengan pihak ketiga ataupun bisa juga karena suatu keadaan memaksa yang tidak bisa dihindarkan oleh perseroan, seperti karena terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan yang pada akhirnya menyebabkan perseroan mengalami kerugian yang sangat besar dan menyebakan pembubaran dalam perseroan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis ingin mengkaji dalam suatu karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul ”AKIBAT HUKUM PEMBUBARAN PERSEROAN TERBATAS DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Kajian Yuridis Terhadap Koperasi Apabila Berubah Menjadi Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Prinsip koperasi bersifat gotong royong, kerja sama dan mempunyai solidaritas yang kuat. Didalam perkoperasian secara langsung mendidik anggotanya untuk hidup hemat, suka menabung, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, menjauhi sifat boros, dan tidak bergaya hidup mewah. Pengertian organisasi ekonomi dalam UUD 1945 dan UU Koperasi menggariskan bahwa koperasi adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial. Pengertian organisasi ekonomi dalam undang-undang tersebut dimana koperasi diberikan kebebasan berusaha dan mencari keuntungan yang wajar bagi kepentingan anggotanya dengan tidak mengabaikan fungsi sosial sebagai watak asli koperasi. Hal ini tercermin dalam pembagian keuntungan melalui dana-dana pembangunan, dana sosial, dana pendidikan, dan lain-lain. Semakin besar keuntungan yang diperoleh koperasi, semakin besar pula dana yang disediakan untuk pembangunan kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat wilayahnya.
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

BAB III PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Karakteristik Badan Hukum Rumah Sakit di Indonesia

BAB III PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Karakteristik Badan Hukum Rumah Sakit di Indonesia

suatu Yayasan visi merupakan pandangan ke depan di mana suatu organisasi akan diarahkan. Dengan mempunyai visi, yayasan dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin di wujudkan suatu Yayasan. Sebelum Yayasan menentukan tujuannya, misi atau maksud Yayasan harus ditetapkan terlebih dahulu. Misi adalah suatu pernyataan tentang maksud Yayasan. Misi suatu Yayasan adalah maksud khas dan mendasar yang membedakan organisasi lainnya dan mengidentifikasi ruang lingkup operasi. Dapat dikatakan bahwa misi merupakan suatu yang diemban atau dilaksanakan oleh suatu Yayasan sebagai penjabaran atas visi yang telah ditetapkan. Dengan pernyataan misi tersebut, maka seluruh unsur Yayasan dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui serta mengenal keberadaan dan peran Yayasan.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Pembubaran Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

Tinjauan Yuridis Pembubaran Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007

kewenangan dalam memberikan keputusan pada kasus yang diajukan kepadanya, sehingga benar-benar orang yang tidak bersalah dapat terlindungi. Sebab apabila seorang direksi dapat membuktikan hal tersebut bukan merupakan kesalahannya, ia bisa dibebaskan dari tanggung jawab pribadi. Hal ini dikarenakan seorang direksi dalam pelaksanaan tugasnya tidak hanya terikat pada apa yang secara tegas dicantumkan dalam maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan, tetapi dia juga dapat mengambil prakarsa guna mewujudkan kepentingan perseroan dengan melakukan perbuatan (sekunder) yang menunjang dan memperlancar tugas-tugasnya. Bila masih berada dalam batas-batas yang diperkenankan atau masih dalam ruang lingkup tugas dan kewajibannya (masih dalam kewenangan perseroan atau (intra vires), dia dapat bertindak asalkan sesuai dengan kebiasaan, kewajaran dan kepatutan (dan tidak bersifat ultra vires).
Baca lebih lanjut

141 Baca lebih lajut

MAKALAH CSR DAN IMPLIKASINYA PADA IKLIM

MAKALAH CSR DAN IMPLIKASINYA PADA IKLIM

Di Indonesia sendiri aturan mengenai CSR sudah dibukukan dan masuk kedalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan UU No 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) Pasal 74 UU PT yang menyebutkan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jika tidak dilakukan, maka perseroan tersebut bakal dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

UU 40 2007 Perseroan Terbatas

UU 40 2007 Perseroan Terbatas

(1) Selain penyelenggaraan RUPS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76, RUPS dapat juga dilakukan melalui media telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta RUPS saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat. (2) Persyaratan kuorum dan persyaratan pengambilan keputusan adalah persyaratan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dan/atau sebagaimana diatur dalam anggaran dasar Perseroan.

42 Baca lebih lajut

Kajian Hukum Kedudukan Preliminary Merger Negotiation Perusahaan Publik Dalam Kaitannya Dengan Kewajiban Keterbukaan Di Dalam Pasar Modal

Kajian Hukum Kedudukan Preliminary Merger Negotiation Perusahaan Publik Dalam Kaitannya Dengan Kewajiban Keterbukaan Di Dalam Pasar Modal

Jika peraturan batasan mengenai fakta material dalam merger di pasar modal Indonesia dibandingkan dengan peraturan pasar modal yang berlaku di Singapura, maka terdapat perbedaan yang menyolok. Peraturan yang berlaku di Pasar Modal Singapura, menentukan bahwa rencana merger yang tidak jadi dan telah disampaikan kepada publik dikenakan sanksi. Rencana merger pasar modal di Singapura jelas dikatakan sebagai fakta material. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman seorang pengusaha Indonesia, dengan inisial JK, sebagaimana ditulis di berbagai media cetak. Ia membuat pernyataan bahwa perusahaan yang diakuisisi di Singapura akan digabungkan dengan sebuat perusahaan besar Indonesia. Akibat pernyataan tersebut harga saham perusahaan yang disebutkan akan merger tersebut di Singapura naik cukup signifikan. Setelah beberapa lama ternyata rencana merger tidak terealisasi, sehingga harga sahamnya turun kembali. Akibatnya ia dikenakan sanksi karena Singapore Stock Exchange menganggap ia telah memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta material. 115
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Perseroan membentuk cadangan wajib dan cadangan lainnya. Cadangan yang dimaksud pada ayat (1) adalah cadangan wajib. Cadangan wajib adalah jumlah tertentu yang wajib disisihkan oleh Perseroan setiap tahun buku yang digunakan untuk menutup kemungkinan kerugian Perseroan pada masa yang akan datang. Cadangan wajib tidak harus selalu berbentuk uang tunai, tetapi dapat berbentuk aset lainnya yang mudah dicairkan dan tidak dapat dibagikan sebagai dividen. Sedangkan yang dimaksud dengan “cadangan lainnya” adalah cadangan di luar cadangan wajib yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan Perseroan, misalnya untuk perluasan usaha, untuk pembagian dividen, untuk tujuan sosial, dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Bentuk bentuk Perusahaan pptx 1

Bentuk bentuk Perusahaan pptx 1

Perseroan Terbatas / PT  Dasar Hukum: UU No 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas  Pengertian: Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan hukum yang mer[r]

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...